My Lifestyle, My Journey, My Happiness

September 14, 2019

Pada Sebuah Musim di Borobudur

by , in

Goodbye to you my trusted friend
We've known each other since we were nine or ten
Together we've climbed hills and trees
Learned of love and ABC's
Skinned our hearts and skinned our knees
("Seasons in The Sun" by Westlife)


"Ummi berdendang apaan, sih?" Afra bertanya sambil sedikit heran saat mulut saya berkomat-kamit tidak jelas.

"Hehe... Ada, deh. Ummi jadi teringat perpisahan dengan teman-teman SMP dulu saat kami ke Borobudur," jawab saya.

Putri sulung saya itu manggut-manggut tapi tidak bertanya lebih lanjut. Dia melanjutkan mengedarkan pandangan keluar jendela bus yang saat itu sudah memasuki area Candi Borobudur. Tampak deretan bus pariwisata berjajar rapi tapi tanpa isi. Pastinya para penumpangnya sudah turun dan tengah menjelajah situs warisan dunia UNESCO tersebut.

Bus yang pagi-pagi sudah membawa kami dari Restoran Pringsewu, Sleman, Yogyakarta itu lantas bergabung dengan bus lain di parkiran. Matahari mulai meninggi. Teman-teman Afra terdengar riuh ingin segera keluar dari bus. Tenang. Saya memberikan isyarat pada Afra dan Reva -teman Afra yang duduk bareng kami- untuk tenang. Tidak perlu berjejalan, berbaris santai saja menuju pintu keluar bus. 

Diiringi suara merdu Nissa Sabyan :) 

Ah, Borobudur. Akhirnya saya menjumpainya lagi setelah sekian lama. Seperti penggalan covered song by Westlife di atas; di Borobudur untuk kemudian berpisah dengan teman-teman saya karena kami lulus dari SMP.

Good bye to you my trusted friend...

Saat itu saya berpikir: sebentar lagi Afra dan teman-temannya yang akan merasakannya.

By the way, teman-teman yang tahu lirik lagu di atas pastinya se-zaman dengan saya ;) Isi lagunya tak sepenuhnya tepat dengan suasana perpisahan, sih. Aslinya, lagu lawas milik Terry Jacks yang dinyanyikan ulang oleh Westlife tersebut adalah tentang seseorang menjelang ajalnya yang mengingat kenangan bersama teman yang justru mengkhianatinya. Hiks.

Konser 20 Tahun Westlife 😍

Yaa... maknanya menyerempet sedikit boleh lah. Apalagi saat itu saya berada di kawasan Borobudur yang dijadikan tempat konsernya Westlife pada akhir bulan Agustus 2019 kemarin. Tuh, pas bukan? Terjawab sudah hubungan antara Borobudur dan Westlife, hehe.

Borobudur yang Kian Teratur

Selepas dari parkiran, kami semua menuju arah pintu masuk Borobudur yang amat ramai. Matahari mulai menyengat. Para penjual topi dan ojek payung menawarkan dagangan serta jasa mereka. Alhamdulillah, saya sudah siap dengan payung sendiri. Tak perlu beli topi atau sewa payung lagi.

Tak lama kemudian, dua orang guide yang memandu rombongan kami membagi-bagikan tiket masuk. Seperti biasa, ada perbedaan harga antara harga tiket dewasa dan anak-anak.

Saya lupa berapa HTM untuk anak-anak :D

Salah seorang guru yang menjadi koordinator mempersilakan anggota rombongan untuk pergi ke toilet dulu sebelum menuju pintu masuk. Dia juga mengingatkan salah seorang anak yang memakai celana di atas lutut. It was forbidden! Borobudur adalah tempat suci yang harus dihormati, termasuk dari segi berpakaian.

Akhirnya, si anak tersebut segera berlari untuk membeli celana batik panjang di deretan lapak yang berada tidak jauh dari situ. Hu-uh. Dari awal sudah dibilangin, kok. Bisa juga sih tidak usah membeli celana panjang tapi cukup menyewa kain yang nantinya dikenakan seperti memakai sarung. Ada stand tersendiri yang menyediakannya.

Padatnya pintu masuk

Beres urusan persiapan, kami beriringan menuju pintu masuk. Barisan anak-anak dan dewasa dibedakan jalurnya. Ada proses scanning tiket QR code dan pengecekan barang bawaan. Seingat saya, para pengunjung hanya diperbolehkan membawa minuman. No snacking during walking there.

Hal di atas bertujuan untuk menjaga kebersihan Borobudur, sih. Bagus juga, pikir saya. Borobudur memang kian teratur. Terlihat sejak di parkiran, deretan lapak, para penjual cinderamata resmi, hingga pintu masuk. Harus, dong. Level ketenaran Borobudur 'kan sudah tingkat dunia.

Begitu lepas dari antrian pintu masuk, kami para orang tua tertinggal di belakang. Anak-anak melesat jauh di depan. Tak apa. Ada guru-guru yang mengawal mereka yang sengaja "berseragam" jaket biru agar mudah dikenali.

I love walking 💪

Saya pun berjalan santuy bersama para emak pengawal anak. I love walking. Borobudur semakin nampak dari kejauhan. Lanjuuut... Entah berapa kilometer jarak dari pintu masuk ke area candi. Saat itu hari Rabu, working day, sehingga suasana tidak terlalu padat. Ramai, sih. Tapi tidak sepadat saat libur lebaran atau liburan sekolah.

Menuju Arupadhatu

Capek berjalan? Sedikit. Lebih banyak senangnya sih kalau menurut saya. Pun karena amunisi saya tepat: payung, memakai sandal tipis, membawa tas kecil saja, air minum, memakai legging di dalam gamis, dan tentunya niat yang kuat untuk mendaki ke atas.

Beberapa emak memilih untuk berhenti di tingkat kedua saja. Wajah mereka yang tidak memakai topi tampak memerah, ada yang terengah-engah. Baiklah... 

Arupadhatu, puncak tertinggi Borobudur

Tekad saya bulat: saya harus naik ke atas. Ke Arupadhatu. Jika menyebut kata ini, ingatan saya bukan tentang Westlife lagi tapi tentang tulisan awal di sebuah novel favorit saya yaitu Altitude 3676: Takhta Mahameru.

Arupadhatu

It's autumn, uhm?
Path is past
This lost area between us

Seolah sedang musim gugur di Borobudur. Benar-benar langsung mengingatkanku pada bait terakhir salah satu puisi pendekmu itu. Kamu lihatlah, daun-daun pepohonan berserak di sekeliling candi.

Sambil agak bersandar di salah satu stupa, pandanganku jatuh pada dedaunan yang lepas dari ranting-ranting pohon. Guguran itu makin banyak ketika angin berembus sedikit lebih kencang. Aku sadar, sepertinya aku memang sudah sangat terlambat.
...

Tiga paragraf di atas itulah yang menjadi tulisan awal pada novel petualangan karya Azzura Dayana, terbitan Indiva Media Kreasi. Salah satu setting tempatnya adalah Candi Borobudur ini. Ada mirip-miripnya dengan saya, lho.

Kalau di novel itu, Faras -tokoh utamanya- mencari jejak Raja Ikhsan melalui petualangan seru, saya pun saat itu merasa begitu. Bedanya, sambil mendaki candi, saya menoleh kanan-kiri untuk mencari jejak anak saya yang menghilang bersama teman-temannya sejak di pintu masuk tadi. Huuft...


Pastinya, mereka terlalu cepat berjalan hingga ke Arupadhatu, puncaknya Candi Borobudur. Sementara kami, para orang tua yang sejak awal agak lambat keluar antrian pintu masuk, menjadi semakin tertinggal di belakang.

It was okay. Ada beberapa bapak dan ibu guru yang bersama rombongan anak-anak yang kompak memakai jaket biru, khas Arema itu. Saya terus mencari ke atas, mendaki walau panas matahari begitu membakar siang itu. Terik, tetapi Candi Borobudur selalu membuat saya tertarik.

IG: @borobudursunrisetrip

Benar saja. Rombongan anak-anak itu sedang asyik bergaya di atas sana. Sedangkan saya seperti kehilangan kata-kata. Lidah seperti kelu di Arupadhatu. Masya Allah, indah. Dari atas, Borobudur benar-benar seperti bunga teratai yang sedang merekah.

Berjalanlah dan Selamatkan Gajah!

Ya, saya begitu menikmati saat berjalan kaki dan mendaki. Modal pentingnya memang fisik yang prima; kaki harus kuat, euy! Setelah berjalan menuju candi, mendaki hingga ke puncak candi setinggi 35 meter, lalu harus turun kembali. Selanjutnya adalah berkeliling area candi sekaligus menuju pintu keluar yang lumayan jauh juga jaraknya. Alhamdulillah, Afra tak terlihat lelah. Pasti karena adanya teman seperjalanan, tuh.

Sebagai penyuka jalan kaki, saya tetap memilih berjalan kaki walaupun sebenarnya ada sih sarana lain seperti mobil VW, kereta kuda, dan menaiki gajah. Nah, yang saya sebut terakhir itu menuai kontroversi yang puncaknya adalah adanya petisi "Stop Penyiksaan Gajah di Borobudur" di laman change.org.

Gajah di Borobudur (dok. mongabay.co.id) 

Petisi itu diinisiasi oleh Melanie Subono pada tanggal 5 Mei 2019, beberapa hari pasca kunjungan kami ke sana. Alhamdulillah, saya sama sekali tidak tertarik menaiki hewan bertubuh besar itu saat berada di Borobudur.

Nah, menurut Melanie, Gajah sudah dipisahkan dengan habitat alaminya dan dipaksa bekerja sebagai hewan tunggangan. Ditunggangi itu bukan perilaku alami dan pemberian beban di punggung gajah akan merusak jaringan bahkan merusak tulang punggung mereka secara permanen.

Gajah yang ditunggangi telah mengalami trauma psikologis yang disengaja. Teorinya adalah agar binatang itu menurut, mereka harus 'takut' pada manusia. Proses paling umum adalah dengan mengikat gajah muda dan dipukuli berkali kali oleh kelompok penangkapnya sampai “spirit” mereka patah. Dan karena gajah punya ingatan kuat, maka akan melekatlah seumur hidup mereka “ketakutan” mereka pada manusia yang menjadi majikannya. Hiks.

So, jika suatu hari nanti saya sekeluarga pergi ke Borobudur lagi saya tetap akan memilih berjalan kaki. Sehat, dong! Noway for elephant riding! Saya sudah mendukung petisinya. 

Alhamdulillah, petisi yang mendapatkan 82 ribu tanda tangan itu membawa hasil. Pihak PT. Taman Wisata Candi (TWC) sebagai pengelola kawasan wisata Borobudur menyatakan bahwa atraksi tunggang gajah itu tidak akan dilakukan lagi.

Cinderamata dan Cuci Mata

"Haus, Mi," kata Afra ketika kami sudah sampai di pintu gerbang keluar candi. 

Di sana terdapat berderet-deret lapak oleh-oleh yang rupanya lebih banyak daripada di sekitar pintu masuk. Saya jadi teringat lapak oleh-oleh yang bak labirin saat mengunjungi Makam Bung Karno. Penataannya persis dengan yang di Borobudur itu.

Sebuah strategi marketing yang bagus. Begitu para pengunjung merasa capek berjalan, langsung "dihibur" dengan oleh-oleh beraneka warna yang memanjakan mata. Lapak-lapak itu harus dilalui dulu jika ingin menuju parkiran lagi. Tak ada jalan yang lain.

Saya dan seorang ibu memilih beberapa oleh-oleh makanan untuk dibawa pulang, juga setelan kaus untuk si kecil. Walaupun kain kausnya ber-standar "biasa", seperti ada yang kurang gitu jika pulang ke rumah tanpa membawa kaus. Eh, ada yang aneh. Pada sebuah kaus tertulis: Borobudur, Yogyakarta, Indonesia. Waduh!


Tahu 'kan letak kesalahannya? Candi Budha yang termasuk terbesar di dunia, yang konon didirikan pada masa pemerintahan Raja Samaratungga (tahun 825 masehi, wangsa Syailendra) ini terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. 

Memang tidak terlalu jauh dari Yogyakarta -sekitar 40 kilometer- sehingga banyak yang berkata atau mengira bahwa Borobudur itu letaknya di Yogyakarta. Padahal sudah beda provinsi. #RIPGeografi hihi... 


Jadi, kapan teman-teman pergi ke Borobudur lagi? 




Salam, 
Tatiek




Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.


#ODOPDay6
September 10, 2019

Yogyakarta dan Jawa Tengah: pada Sebuah Wisata Sekolah

by , in

Wisata sekolah adalah sebuah hadiah setelah menempuh ujian dengan bersusah-payah. Itu sepertinya yang dirasakan oleh putri sulung saya, Afra, beserta teman-temannya pasca menjalani Ujian Nasional (UN) Sekolah Dasar pada tanggal 22-24 April 2019 yang lalu. Senin sampai Rabu menggebu, tibalah Jumat untuk rehat. Ya, pada Jumat malam (26/04/19) rombongan wisata sekolah dari SDN 02 Pakisaji berangkat ke Yogyakarta dan Jawa Tengah.

By the way, ini memang tulisan latepost. Tertunda setelah bulan Mei-Juni saya fokus ke Ramadan dan mengikuti tantangan ngeblog di BPN Ramadan Challenge. Lanjut libur lebaran, persiapan Afra masuk pondok pesantren, dan saya memutuskan untuk hiatus. Kerempongan A-Z bareng si bungsu yang tak terdefinisikan itu sudah pasti. Hehe...

Sekarang, karena sedang kangen anak, lebih baik saya curahkan dengan menuliskan perjalanan wisata sekolahnya di sini ;) 

Pentingnya Pendampingan Orang Tua

Untuk bisa mendampingi Afra berwisata, saya harus "berbicara baik-baik" pada si bungsu Akmal (saat itu 32 bulan). Itu adalah saat pertama kalinya saya harus pergi jauh tanpa mengajak si kecil. Kalau kata orang Jawa: nilapno.

"Adek, Ummi mau menemani Mbak Afra pergi, boleh?" tanya saya beberapa hari sebelum hari-H.

"Adek?"

"Adek bermain sama Abi dan Yangti, ya? Nanti adek diajak muter-muter pakai motor dan menonton traktor. Oke?"

Bla... bla... bla...

Alhamdulillah, dia mengerti dengan apa yang saya jelaskan. Ditambah lagi, sebenarnya si bungsu memang dekat pula dengan Abi-nya. Walaupun pada bulan April itu kami masih ber-Long Distance Marriage (LDM) dari Senin sampai Jumat, itu tidak membuat renggang hubungan ayah dan anak. Waktu wisatanya pas pula; saat si Abi sudah berada di rumah sehingga ada yang jagain si kecil. Sip.

Alhamdulillah, segala persiapan dan perbekalan pun beres saya siapkan, dengan sedikit dibantu Afra. Ya, menyiapkan perbekalan untuk bepergian jauh adalah "spesialisasi" saya semenjak menjadi istri orang Jawa Tengah dan sering mudik. Beres, pokoke...



Untuk Afra sendiri, dia telah terbiasa pergi jauh lintas provinsi tanpa mabuk perjalanan. Hmm... Mabuk perjalanan adalah problem klasik dimana pun yang dengan berbagai cara berusaha diatasi termasuk dalam rombongan perjalanan wisata sekolah Afra.

Ada yang memakai trik dengan menempel plester di pusar, hehe. Pastinya, semua murid dianjurkan untuk meminum obat anti mabuk perjalanan seperti anti*m* anak. Ya, karena mabuk perjalanan bisa mengacaukan semua rencana indah saat jalan-jalan.

Itu juga yang mendasari aturan sekolah agar setiap anak didampingi oleh orang tua mereka. Saat anak mengalami mabuk perjalanan, misalnya. Bukankah orang tuanya sendiri akan lebih leluasa menangani? Anak pun bisa merasa lebih nyaman dan tidak sungkan karena telah memuntahkan isi perut. Walaupun muntah itu wajar, kita semua tahu lah orang lain pasti ada rasa jijiknya dengan "hasil muntahan". Yekan?

Siap mengawal putri tercinta

Tetap saja sih ada yang orang tua yang memilih tidak ikut dan menitipkan anaknya pada guru atau orang tua lainnya. Ya, ya. Boleh saja, sih. Tapi kalau saya ya sayang banget. Tak lain karena wisata sekolah seperti itu bisa menjadi ajang we time saya bareng Afra. Bisa pula saya jadikan bahan tulisan di blog, hehe... 

Ajaran tentang Kesabaran dalam Perjalanan

Seperti halnya manfaat melakukan perjalanan bersama keluarga, perjalanan bersama rombongan sekolah seperti ini juga mengajarkan tentang kesabaran. Mulai dari sabar menunggu keberangkatan karena panitia harus memastikan lebih dulu jumlah siswa berikut orang tuanya yang ikut lalu membaginya ke dalam dua buah bus yang disewa.

Saya sendiri harus bersabar "mengasuh" dua anak karena ada temannya Afra yang dititipkan ke saya, hehe. It's okay. Si anak ini memang sahabat dekat Afra dan saya cukup mengenal orang tuanya. Anaknya baik dan komunikatif sehingga itu bukan beban buat saya. Jadilah kami bertiga duduk dalam satu deret. 

Tepat jam delapan malam, rombongan kami berangkat ke arah barat. Kesabaran yang lain pun dimulai: sopirnya lha kok menyetel lagu dangdut koplo, duh! Ini jelas berbeda bila membawa mobil sendiri karena saya tentu bisa mengatur apa yang mau saya dengarkan. Sabaaar! 

Suasana bus: AC dingin dan full music

Alhamdulillah, itu tidak berlangsung lama karena akhirnya video itu diganti dengan video lagu-lagu pop masa kini. Rupanya anak-anak tidak terlalu suka juga dengan si koplo. Berikutnya lebih menyenangkan lagi karena yang mengisi gendang telinga dan pandangan mata adalah lagu-lagunya Sabyan. Yeay! Dakwah ala Sabyan ini memang mengena banget karena anak-anak muda jadi lebih akrab dengan salawat dan nasihat melalui "bahasa kaum kekinian".

Bus yang melaju baru sampai di Blitar bagian barat sekitar dua jam berikutnya. Waktunya salat dan makan malam di sebuah rumah makan. Ini juga ujian kesabaran berikutnya: mengantri di toilet dan tetap menjalankan salat saat di perjalanan. Sebenernya saat perjalanan panjang seperti itu dibolehkan untuk menjama' dan meng-qashar salat. Tetapi, saya memilih untuk salat Isya seperti biasa karena diberikan waktu ishoma. Lain lagi jika tidak ada kesempatan untuk turun dari bus.

Saya memilih untuk melaksanakan salat duluan daripada makan. Malah lebih nyaman karena antrian salat di musalla jauh lebih sedikit daripada antrian makan. Karena sebenarnya saya juga enggan makan jam segitu, sekitar jam sepuluh. It's too late for me. Tapi karena ini bukan waktu biasa, saya dan anak-anak tetap mengambil jatah makan yang disediakan. Sedikit saja karena di awal perjalanan tadi sebenarnya sudah cukup ngemilnya ;)

Nah, menyantap makanan yang disediakan oleh rumah makan yang bekerja sama dengan armada bus ini juga ada dramanya. Pastinya menunya lebih sederhana dan dijatah, tidak seperti saat kita memesan makanan sendiri. Belum lagi jika rasanya kadang seadanya saja. Kuncinya: sabaar. Etapi, saat itu rasa makanannya lumayan, kok. Alhamdulillah.

Sekitar setengah jam kemudian, rombongan kami pun melanjutkan perjalanan. Latihan kesabaran berikutnya adalah berusaha untuk memejamkan mata. Saat itu saya tidak bisa tidur sampai sekitar jam 12 malam, sementara anak-anak di samping saya sudah pulas. Hmm, tidur dengan posisi duduk seperti itu memang PR sekali.

Resto Pringsewu, jam 3 dini hari sudah tiba di sini.
Saya mengambil gambarnya pas pagi, sih

Alhamdulillah, ternyata saya bisa terlelap juga. Tahu-tahu, menjelang jam 3 dini hari, bus-nya sudah sampai di Sleman, Yogyakarta. Lho, kok cepat sekali? Ternyata saat saya tertidur tadi, si bus melaju cepat lewat jalan tol. Alhamdulillah lagi.

Keberadaan jalan tol terasa sekali manfaatnya saat perjalanan seperti itu: benar-benar bisa memangkas waktu. Seingat saya, butuh waktu sekitar 10 jam dari Malang ke Yogyakarta saat malam hari. Saat itu kami bisa menempuhnya dalam waktu sekitar 7 jam saja. Senangnyaaa.

Butuh Strategi dan Belajar Mensyukuri

Iya, senang. Karena bus yang kami tumpangi langsung menuju sebuah rumah makan yakni Rumah Makan Pringsewu yang saat itu tentu saja belum buka. Sebuah kesempatan yang baik untuk mandi pagi dan mempersiapkan salat subuh lebih awal. Ada juga sih yang memilih melanjutkan tidurnya di dalam bus. 

Saya sih memilih turun dari bus, menghirup udara yang masih segar. Halo, Yogyakarta! Akhirnya bertemu dia lagi setelah 4 tahun. Suasana masih sepi. Saya mengajak Afra dan temannya untuk mengantri mandi lebih awal. Harus punya strategi dalam perjalanan dengan rombongan seperti ini. Alhamdulillah, kamar mandi di Pringsewu cukup banyak dan bersih. Tak perlu mengantri lama jadinya. Airnya pun tidak terlalu dingin seperti di Malang.

Pilihan saya itu tepat. Saat kami selesai mandi, orang-orang baru berdatangan ke kamar mandi. Rupanya mereka mengantuk tadi. Sambil menunggu subuh tiba, saya berbincang dengan beberapa orang tua siswa yang juga memilih untuk mandi lebih cepat. Tuh, bisa bersantai jika "rajin" dari awal :) 

Ternyata ada salah seorang siswa yang teler berat. Dia dan ibunya berasal di bus sebelah sehingga saya baru tahu. Di sepanjang perjalanan, dia mabuk terus sampai terlihat pucat. Dia dan ibunya memilih mojok di musalla karena si anak ingin rebahan. Dua orang guru tampak memeriksa kondisinya dan berencana mencari klinik di dekat situ.

Alhamdulillah, bisa menikmati pagi yang cerah di Pringsewu. Berfoto setelah sarapan.

Sungguh, kadang perjalanan itu memang tidak mudah bagi sebagian orang. Kita bisa menikmatinya, belum tentu orang lain berada pada kondisi yang sama. Maka kemudahan dan keselamatan dalam perjalanan adalah sebuah hal yang patut disyukuri. Dalam setiap gaya pada foto-foto perjalanan kita, ada kisah perjuangan di sana.

Nah, kisah lanjutan dari perjalanan ke Yogyakarta dan Jawa Tengah ini akan saya ceritakan pada postingan mendatang saja. Ternyata sudah sepanjang ini celoteh saya ;)

Just wait for the next episode: Going to Borobudur! 



Salam, 
Tatiek


Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.

#ODOPDay5

September 10, 2019

Hari Literasi Internasional dan PR Besar Bangsa

by , in


Literacy is a bridge from misery to hope.
- Kofi Annan

Ada momen spesial untuk seluruh manusia di dunia setiap tanggal 8 September tiba. Yups, ini adalah peringatan Hari Literasi Internasional atau International Literacy Day. Semoga teman-teman tidak lupa, ya. Atau malah baru tahu tentang ini? ;)

Nah, sebutan lain untuk peringatan hari tersebut dalam istilah Bahasa Indonesia adalah Hari Aksara Sedunia atau Hari Melek Huruf Internasional. Penetapannya dilakukan oleh UNESCO saat sesi ke-14 Konferensi Umum UNESCO pada tanggal 26 Oktober 1966.

Apapun itu sebutannya, ini adalah waktu bagi kita semua baik secara individu, masyarakat, atau komunitas untuk mengevaluasi diri dalam hal semangat dan pencapaian belajar. 

Istilah Literasi dan Pentingnya Kemampuan Berbahasa

Ya, belajar. Sesuai dengan istilah awal literasi yang berasal dari Bahasa Latin yaitu literatus yang berarti adalah orang yang belajar. Kita bisa menyebut "manusia pembelajar" sebagai padanan katanya. Sebuah profesi yang aktif dan berlaku untuk kita semua sepanjang masa; dari usia belia hingga manula. Lulus sekolah dan lulus kuliah lalu malas belajar hal-hal baru? Jangan, dong!

Dalam pengertian lebih luas lagi, literasi itu merujuk kepada seperangkat kemampuan dan keterampilan individu dalam membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian tertentu yang diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga, literasi tidak bisa dilepaskan dari kemampuan berbahasa.

Jadi teringat masa sekolah dulu saat banyak teman-teman saya bilang: "Bosen nih belajar Bahasa Indonesia. Gak ngerti-ngerti!"

Atau... "Kalau ujian Bahasa Indonesia kok gitu, ya? Bacaannya banyaaakkk... Males, ah!"

Pernah juga saat saya SMK, hampir semua teman-teman sekelas "memboikot" pelajaran Bahasa Inggris dengan kompak tidak mengerjakan tugas dari guru. Duh. Saya yang seorang English mania dan selalu bersemangat saat pelajaran itu tiba seakan disudutkan. Eh, jadi curcol :D


Hmm... Semoga itu hanya masa lalu yang pahit dan tak terulang pada anak-anak kita, ya ;) Walaupun sebab di balik ketidaksukaan pada pelajaran bahasa itu bisa beragam juga, sih. Misalnya: cara gurunya menyampaikan materi yang kurang pas. Tapiii... menyalahkan faktor eksternal itu enggak banget, ah!

Lagipula, kemampuan berbahasa seharusnya tidak diawali di sekolah dan tidak sekadar tentang nilai pada mata pelajaran semata. Rumah lah yang seharusnya menjadi titik awal seorang anak menguasai dan mencintai bahasa ibu lalu meluas lagi kepada pemahaman akan beragam bahasa lainnya. Ini sungguh penting karena kemampuan berbahasa adalah bagian dari literasi baca tulis yang akan memengaruhi penguasaan literasi yang lain.

6 Jenis Literasi yang Seharusnya Dikuasai

Sejak tahun 2015, World Economic Forum telah menyepakati bahwa ada 6 literasi dasar yang harus dimiliki oleh seluruh lapisan masyarakat, yaitu:

1. Literasi Baca Tulis

Di antara 6 literasi dasar, membaca dan menulis merupakan literasi yang paling awal dalam sejarah peradaban manusia. Keduanya merupakan literasi fungsional dan sangat berguna dalam kehidupan sehari-hari.

2. Literasi Numerasi

Literasi ini adalah kemampuan mengaplikasikan konsep bilangan dan ketrampilan berhitung dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya: menggunakan angka atau simbol yang terkait dengan matematika dan menganalisis grafik, bagan, serta tabel.

3. Literasi Sains

Menurut OECD (2016) literasi sains adalah pengetahuan yang dapat menjelaskan fenomena ilmiah, memahami karakteristik sains serta kemauan untuk terlibat dan peduli terhadap isu-isu yang terkait dengan sains.

4. Literasi Finansial

Literasi ini merupakan pemahaman tentang konsep dan risiko, pengambilan keputusan yang efektif untuk meningkatkan kesejahteraan finansial, baik individu maupun sosial.

5. Literasi Digital

Menurut Paul Gilster (1997) mengartikan literasi digital sebagai kemampuan untuk memahami dan menggunakan informasi dalam berbagai bentuk dari berbagai sumber yang sangat luas dan dapat diakses melalui komputer.

6. Literasi Budaya dan Kewargaan

Literasi ini merupakan kemampuan individu atau masyarakat dalam bersikap terhadap lingkungan sosialnya sebagai bagian dari suatu budaya dan bangsa.

PR Literasi Bagi Bangsa Indonesia

Pada pembukaan UUD 1945 telah tertuang salah satu tujuan pemerintahan negara Indonesia adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Literasi dan pendidikan jelas mengambil peran di situ. Keduanya ibarat dua sisi mata uang dan saling terkait. Khususnya literasi baca tulis sebagai yang paling dasar seperti yang tersebut di atas.

Dari segi baca saja -belum membicarakan yang lain- mungkin teman-teman sudah sering mendengar sekilas tentang hasil riset yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA) pada 2015 yang menunjukkan betapa masih rendahnya tingkat literasi orang Indonesia khususnya pada minat baca. Disebutkan bahwa Indonesia berada pada posisi 62 dari 70 negara yang menjadi obyek survei.

Sudah 4 tahun yang lalu, sih. Semoga setiap tahun ada peningkatan level, ya. Mengingat sebenarnya para founding father bangsa ini sebenarnya adalah orang-orang yang suka membaca walaupun kesempatan belajar pada masa penjajahan jelas tidak seleluasa sekarang. Malu sama beliau-beliau, atuh.


Saya sudah suka baca, kok. Baca-baca status facebok dan caption instagram :D

Ya, ya. Itu termasuk aktivitas membaca, sih. Tapiii.... yakin nih kalau itu dibaca secara mendalam dan dimengerti maksudnya? Sampai saat ini saya sering menemukan tulisan hasil copas-an atau link artikel yang dibagikan seseorang secara terburu-buru. Dibaca judulnya doang?

Mengutip pendapat Nicholas Carr yang menyebutkan tentang penurunan minat baca semenjak mbah google menjadi sahabat kita. Daya tahan membaca kita sepertinya semakin berkurang. Jika dahulu masih bisa membaca 3-4 lembar buku dengan penuh konsentrasi, sekarang? Tulisan 3-4 paragraf pun seenaknya di-skip. Belum lagi jika kita lebih banyak membaca dengan teknik skimming. Sebuah teknik membaca cepat gara-gara terpengaruh kebiasaan membaca portal berita online. Wes-ewes-ewes... Bablas bukuneee!


Iya, sih. Ada sisi positif pada era mbah google ini yaitu kita bisa menikmati efisiensi, kenyamanan, dan kecepatan informasi. Tetapi, nyaman kadang juga merupakan jebakan. Kita jadi kehilangan kemampuan membaca secara mendalam. Lalu berlanjut kepada berkurangnya waktu berkontemplasi dan berpikir. Duh!

Ini adalah PR besar kita di era digital ini, saat kemajuan teknologi begitu pesat. Saat beragam gawai berlomba menawarkan kecanggihannya untuk kita coba. Menurut John Naisbitt, seorang penulis Amerika dalam bukunya "High Tech, High Touch", teknologi yang maju harus diimbangi dengan peradaban maju pula. Kemajuan dan kecanggihan teknologi mesti dikendalikan oleh sentuhan akal dan nilai-nilai kemanusiaan.

Smartphone lebih pintar dari kita? Oh no

Mari kita mulai dari diri sendiri dan keluarga: menjadi manusia beradab yang menguasai kemampuan literasi baca tulis. Saya sendiri berprinsip: pantang membelikan anak saya gawai sebelum dia benar-benar suka membaca buku. Untuk saya sendiri juga demikian yakni menjadikan buku sebagai sahabat baik dan terus berusaha menulis sebagai bukti bahwa saya adalah manusia pembelajar; literatus. InsyaAllah. 


Salam,
Tatiek



Sumber:
instagram: @indoreadgram
https://www.kompasiana.com/amp/robi_kurniawan/inilah-perbedaan-dampak-membaca-di-media-sosial-dan-buku_5743936a23b0bd40048b4569

Sumber gambar:
Canva & instagram

Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.


#ODOPDay4
September 05, 2019

Merajut Ikhlas, Belajar di SMP Tahfidz Khairunnas

by , in

"Saya banyak bertemu dengan lulusan pesantren di tanah air yang ilmunya -bagi sebagian orang- mungkin tampak biasa-biasa saja. Tetapi, keberkahannya sangat terasa melebihi mereka yang belajar di timur dan di barat. Karena ini murni soal keikhlasan dan ketakwaan." 
- Ustaz Aan Candra Thalib

Ini adalah cerita saat saya dan suami mulai melepaskan putri sulung kami, Afra, untuk belajar lagi pada tahun pelajaran baru ini. Jika para orang tua umumnya melepas anak-anak mereka pada hari Senin, 15 Juli 2019, kami sudah melakukannya terlebih dahulu.

Baru sempat saya tuliskan sekarang. Harap maklum, ya. Kalau tidak maklum, ya harap dimaklum-maklumkan. Hehe... 

Sekilas tentang SMP Tahfidz Khairunnas

Pada hari Rabu, 10 Juli 2019 yang lalu kami resmi berpisah dengan Afra yang menjadi santriwati baru di Pesantren Tahfidz Khairunnas atau biasa disebut SMP Tahfidz Khairunnas, Malang. Pesantren penghapal Alquran khusus putri tersebut beralamatkan di Perumahan Puri Cempaka Putih 1 Blok DD Nomor 2, Kelurahan Arjawinangun, Kecamatan Kedungkandang, Kota Malang.

Kok di perumahan? 

Gedung Ma'had 1
SMP Tahfidz Khairunnas Malang, dulu khusus untuk yatim/dhuafa

Iya. SMP Tahfidz Khairunnas Malang masih tergolong baru. Lebih tepatnya, pesantren setingkat SMP di bawah Yayasan Nurul Hayat ini dulunya hanya menampung santriwati dari kalangan yatim piatu dan dhuafa untuk mondok secara gratis berkat bantuan donatur. Baru tahun pelajaran 2019/2020 kali ini, pesantren tersebut menerima santriwati "reguler" atau dari masyarakat umum. Menurut pembina pondok, banyak masyarakat sekitar yang meminta agar pesantren ini juga dibuka untuk umum.

By the way, teman-teman sudah tahu tentang Nurul Hayat 'kan? Ini adalah Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) terbaik tahun 2018 yang salah satu programnya memang menyalurkan infaq para donatur di berbagai bidang, termasuk dalam bidang pendidikan. Jadi, adanya pesantren tahfidz dengan beasiswa untuk yatim dan dhuafa menjadi salah satu perwujudan programnya. 

Yayasan Nurul Hayat/Laznas Nurul Hayat masih menjadi yang terbaik juga di tahun 2019 ini. 

Nah, sebenarnya SMP Tahfidz Khairunnas itu pusatnya ada di Tuban, Jawa Timur. Tidak seperti di SMP Tahfidz Khairunnas Malang yang santriwatinya masih sedikit, di Tuban sana menampung lebih banyak santri dan santriwati dari kalangan yatim piatu/dhuafa. Gedungnya lebih besar dan fasilitasnya lebih lengkap. Tetap ada kuota untuk santri/santriwati dari kalangan umum dengan prosentase yang lebih sedikit. 

Memilih SMP Tahfidz Khairunnas Malang

Jauh-jauh hari sebelum memasukkan Afra di SMP Tahfidz Khairunnas Malang, saya banyak menyimak kiprah SMP Tahfidz Khairunnas Tuban melalui akun instagramnya: @pesantrenkhairunnas. Saya mendapatkan info tentang pesantren ini melalui majalah Nurul Hayat yang saya dapatkan setiap bulan karena saya menjadi donatur di Laznas tersebut.

SMP Tahfidz Khairunnas Tuban

Masya Allah, saya ikut bersyukur karena anak-anak yang tanpa orang tua dan yang orang tuanya kurang mampu itu sangat terbantu. Mereka bisa mondok di SMP Tahfidz Khairunnas Tuban dengan fasilitas yang memadai dan mempunyai kesempatan berprestasi sebagaimana anak-anak lainnya.

Saya pun berpikir untuk menawarkan SMP Tahfidz Khairunnas Tuban sebagai pilihan pesantren untuk Afra yang memang sejak kelas 5 SD sudah berniat mondok.

"Aku maunya yang di Malang saja, Mi," jawab putri sulung saya itu.

Baiklah. Saya dan suami saya tidak akan memaksanya. Apalagi sebenarnya Malang memang memiliki banyak pilihan pondok pesantren yang menurut banyak orang cukup bagus. Afra juga bercerita bahwa dia dan teman-temannya yang berniat mondok sedang berdiskusi mengenai calon pondok pesantren yang akan mereka pilih.

Pun mulailah saya dan suami berburu info tentang pondok pesantren yang sesuai dengan apa yang saya pikirkan. Kriteria pertama, saya lebih sreg dengan pondok pesantren yang khusus menampung santriwati atau khusus putri. Ini sesuai juga dengan Afra yang semasa SD-nya memang hanya berteman akrab dengan cewek. Tentunya tidak bermaksud anti cowok karena teman di SD Negeri-nya dulu 'kan juga banyak cowoknya. Cukuplah dulu dia bergaul sewajarnya dengan teman-teman cowok dengan batasan-batasan yang kami ajarkan. Tentang mahram dan non mahram, Afra sudah paham. InsyaAllah.

Kedua, saya dan suami ingin sekali mencari pondok pesantren yang sekaligus bisa menjadi keluarga kecil bagi Afra. Kehangatan keluarga tetap bisa dia rasakan. Tetap ada sosok "Abi dan Ummi pengganti" di sana. Ini sejalan dengan konsep Fitrah Based Education (FBE) bahwa pendidikan anak sampai usia 15 tahun sebaiknya tetap dibimbing orang tuanya. Jika harus dipondokkan, sistemnya sebaiknya berwujud homestay atau diinapkan dengan peran ayah-ibu yang lengkap. Ini penting untuk "kesehatan fitrah"-nya.

Pimpinan SMP Tahfidz Khairunnas Malang, Ustaz Abi Nasir, "ayah" sekaligus guru anak-anak kami

Tapiii... adakah yang demikian di Malang sini? Sistem homestay seperti itu sepertinya agak susah karena jumlah santri/santriwati di berbagai pondok pesantren biasanya cukup banyak. Kyai atau Bu Nyai-nya bisa jadi tidak terlalu dekat secara personal dengan para santri/santriwati karena memang kesempatan bertemu muka yang terbatas. Sebuah kewajaran, sih.

Ketiga, setelah menyimak Ponpes Khairunnas Tuban, saya berpikir bahwa alangkah baiknya jika Afra juga bisa mondok di tempat yang banyak anak-anak yatim/dhuafa. Dia bisa belajar berempati dan mengenal kehidupan mereka dari dekat. Pun pondok pesantren seperti itu ibarat "rumah paling baik" seperti bunyi hadits berikut ini:

“Sebaik-baik rumah orang Islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim dan diasuh dengan baik. Seburuk-buruk rumah orang islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan jahat.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah)

Keempat, sesuai dengan diskusi antara saya, suami, dan Afra jauh-jauh hari, pesantren tahfidz atau yang lebih fokus untuk menghapal Alquran adalah pilihan kami. Tak lain karena sebenarnya Afra termasuk kuat hapalannya dan kami kira "bakatnya" itu sebaiknya disalurkan di tempat yang tepat, di bawah pembimbing yang ahli, dan dengan metode yang benar. 

Menurut saya, saat aqil baligh adalah saat yang tepat bagi Afra untuk menerima tantangan menghapal kalamullah itu. Ini adalah saat dia berniat secara sadar, tidak sekadar menghapal karena dorongan orang tua dan tidak sekadar untuk mengikuti lomba. 

Tentu, lomba hapalan Alquran untuk anak semacam program Hafizh Indonesia di RCTI itu bagus. Saya juga penonton setianya, kok. Tapi mungkin prioritasnya sedikit berbeda di rumah kami. Yang kami tumbuhkan dulu pada diri Afra adalah fitrah belajarnya, kemauan belajarnya secara sadar saat di sekolah dasar. Alhasil, semangat belajarnya dan semangat membaca bukunya tergolong stabil. 

Kedekatan dengan Alquran selama masa kecil Afra kami tunjukkan dengan lebih sering membacakan tentang hikmah dari isi Alquran dalam buku-buku yang kami hadirkan di rumah. Setelah dia mulai gemar membaca, buku tentang sejarah Rasulullah dan kisah-kisah dari Alquran menjadi buku favoritnya juga selain buku komik. 

Itulah metode dalam rumah kami. Pelan tapi pasti, sesuai dengan fitrah dan tahapan perkembangannya. InsyaAllah kami tidak risau dan percaya bahwa anak yang telah tumbuh baik fitrah belajar dan bernalarnya akan siap menerima tantangan belajar pada tahapan usia berikutnya.

Suasana menghapal Alquran di pagi hari

Alhamdulillah, sebuah anugerah ketika akhirnya kami mendapat info bahwa pada tahun ini SMP Tahfidz Khairunnas juga dibuka di Malang. Tak lain karena keempat hal di atas kami dapatkan pada SMP Tahfidz Khairunnas Malang. Bukan pesantren terkenal atau besar yang kami cari, tetapi yang sesuai dengan visi di keluarga kami dan sesuai dengan anak kami. Ditambah lagi, pesantren ini terbuka untuk semua golongan/ormas Islam. Tentram deh rasanya. 

Belajar dengan Sistem Homeschooling

Sedikit berbeda dengan SMP Tahfidz Khairunnas Tuban, SMP Tahfidz Khairunnas Malang memakai sistem homeschooling untuk kegiatan belajar di SMP-nya. Jadi, pesantren ini bekerja sama dengan pihak Primagama Malang untuk penyelenggaraan belajar akademis/mata pelajaran umum. Asyiknya, mapel yang dipelajari tidak sebanyak di SMP pada umumnya dan tidak ada PR. Efektif dan efisien.

Suasana kelas dengan sistem homeschooling

Homeschooling adalah hal baru untuk Afra dan dia terlihat antusias saat hal itu dijelaskan oleh pimpinan Pesantren Khairunnas Malang, Ustaz Abi Nasir. Tentunya ujian belajar pada kelas homeschooling ini nantinya juga akan setara SMP pada umumnya. Ijazahnya juga diakui oleh negara.

Jika dihubungkan dengan kiprah Yayasan Nurul Hayat yang profesional, SMP Tahfidz Khairunnas Malang mungkin akan menjadi besar suatu hari nanti. InsyaAllah. Untuk tahun pelajaran ini saja, ada dua bangunan baru yang dijadikan ma'had (tempat belajar) alias gedung SMP karena jumlah santriwati yang lebih banyak dari tahun lalu.

Ehem, biayanya?

Kalau dilihat secara nominal, kami harus mengeluarkan biaya lebih banyak dibandingkan dengan biaya masuk sebuah pesantren yang sudah terkenal di Malang. Ini berdasarkan perbincangan saya dengan tetangga yang anaknya mondok di sebuah "pesantren terkenal" itu. Padahal SMP Tahfidz Khairunnas masih baru.

Alhamdulillah, itu tidak memberatkan kami. Sungguh Allah Maha Kaya. Sebenarnya, yang kami keluarkan itu bukan biaya tapi itu adalah hak Afra dan teman-teman yatim/dhuafa yang ada di sana. Merupakan sebuah kebanggaan saat kami bisa ikut berkontribusi dan menyaksikan pesantren ini menghasilkan para hafidzah yang belajar dengan ikhlas; belajar dalam kondisi yang sederhana tapi ceria.

Sudah dibuka pendaftaran untuk santriwati tahun pelajaran 2020/2021, lho


Selamat belajar, Anakku.
Semoga Allah SWT memudahkanmu dalam usaha menjaga kalam-Nya. Aamiin. 



Salam,
Tatiek



Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post (ODOP) September 2019 by Estrilook Community.

#ODOPDay3