My Lifestyle, My Journey, My Happiness

November 16, 2018

Dengan 3R, Pengelolaan Daur Ulang Sampah di Kota Malang menjadi Gemilang

by , in

Bagi saya, rezeki tidak hanya berupa uang semata. Pada hari Selasa, tanggal 13 November 2018 yang lalu, saya memperoleh rezeki berupa kesempatan bersilaturahmi dan menimba ilmu. Alhamdulillah. Saya berkesempatan menghadiri sebuah acara bertajuk Advokasi Peran Masyarakat dalam Pengelolaan Lingkungan Melalui Pelatihan Daur Ulang Sampah di Kota Malang. Acara tersebut diselenggarakan di Ruang Majapahit, Hotel Santika Premiere Malang, Jalan Letjen Soetoyo No. 79 Lowokwaru, Kota Malang.

Kegiatan di atas terselenggara atas kerjasama Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang dengan:

✅Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta
✅Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA).
Dalam hal ini, KPPPA memiliki perpanjangan tangan yaitu serempak.id. Ada yang belum tahu? Nah, serempak.id adalah media interaktif yang diinisiasi oleh KPPPA sebagai wadah kerjasama multi-stakeholder, untuk meningkatkan akses perempuan pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). Lebih lengkapnya, langsung cuzzz ke website-nya, ya.
✅IWITA (Indonesia Women Information Technology Awareness) atau Perempuan Indonesia Tanggap Teknologi Informasi. Ini adalah sebuah organisasi berbadan hukum yang memiliki positioning mencerdaskan perempuan Indonesia melalui Teknologi Informasi. Monggo, berkenalan lebih lanjut dengan IWITA di iwita.id


Nah, saya beserta 9 orang teman blogger lain hadir pada acara tersebut sebagai perwakilan dari IWITA. Sementara itu, ada 65 orang peserta lain yang merupakan anggota binaan Bank Sampah Malang (BSM) dan mahasiswa Universitas Ma Chung. Saya tentu saja bersemangat menghadiri acaranya walaupun terlambat hadir, hehe. Yuk, ikuti ulasan saya tentang keseruan acara ini!


Pembukaan Acara

Setelah menyanyikan lagu Indonesia Raya, acara dibuka oleh Ibu Niken Kiswandari selalu Asisten Deputi Kesetaraan Gender dari KPPPA. Ibu Niken mengatakan bahwa perempuan juga harus ambil bagian di dalam pembangunan, termasuk dalam bidang sosial, ekonomi dan lingkungan hidup. Pelatihan daur ulang sampah adalah salah satu cara berperan, untuk kemudian dipraktikkan dalam keseharian. Sudah saatnya para perempuan, khususnya ibu rumah tangga, berperan aktif di ranah publik sebagai agent of change. Siap, Moms?




Sambutan selanjutnya adalah dari Bapak Sulton dari Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang. Beliau memaparkan persoalan sampah di Kota Malang yang jika dikumpulkan mencapai 664,62 ton per hari. Wow! Bayangkan jika sampah-sampah itu tidak diolah atau dikelola secara konvensional saja. Pastinya banyak dampak negatif yang ditimbulkannya. Maka diperlukan pengelolaan daur ulang sampah secara kreatif yang bertujuan memberdayakan semua komponen masyarakat dan hasil akhirnya memiliki nilai ekonomi dan bisnis. Yang terakhir disebut itu dimaksudkan untuk memperoleh tambahan pendapatan bagi setiap keluarga.

Lalu, bagaimana caranya?
Sabar… Kami dipersilakan untuk melakukan coffee break dulu. ^_^


Bank Sampah adalah Kuncinya

Yuk, lanjut lagi! Setelah mengganjal perut sejenak, acara inti pun dimulai. Ada dua topik tentang Bank Sampah yang disampaikan oleh dua pembicara di sesi pertama, yaitu:

Kebijakan dan Implementasi Pengelolaan Sampah di Kota Malang

Topik ini disampaikan oleh Bapak Rahmat Hidayat, selalu pendiri/pengawas Bank Sampah Malang (BSM) sekaligus Kepala Bidang Bina Kemitraan dan Pengendalian Lingkungan Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang.




Beliau memulai dengan fakta lapangan tentang kebiasaan masyarakat yang masih  suka membuang sampah sembarangan. Masih banyak yang menganggap bahwa sampah itu adalah sumber masalah dan menangani sampah adalah pekerjaan yang hina. Termasuk kita nggak, Moms? ^_^

Dulu, penanganan sampah masih memakai pola lama yaitu sumber sampah dikumpulkan dalam suatu wadah, diangkut oleh tukang sampah, dan dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Ini jelas tidak menyelesaikan masalah karena sampahnya tetap saja menggunung dan bercampur baur. Apalagi jika di dalamnya ada plastik, pasti akan mencemari tanah karena sulit terurai.

Untuk itulah, sejak tahun 2008 mulai ada peraturan pengelolaan sampah baik dari pemerintah pusat maupun Pemkot Malang sendiri, yaitu:


  • UU No. 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah
  • Perda Kota Malang No. 10 Tahun 2010 tentang pengelolaan sampah
  • PP No. 81 Tahun 2012 tentang pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis rumah tangga
  • Permen LH No. 13 Tahun 2012 tentang pedoman pelaksanaan 3R melalui Bank Sampah
  • Perpres No. 97 Tahun 2017 tentang kebijakan dan strategi nasional dalam pengelolaan sampah rumah tangga dan sejenis sampah rumah tangga


Inti dari semua peraturan di atas menyebutkan bahwa substansi pengelolaan sampah itu harus dilakukan oleh dua pihak yaitu masyarakat dan pemerintah. Iya, dong. Permasalahan sampah tidak akan langsung cling tanpa kerja sama kita sebagai anggota masyarakat dengan pemerintah.




Nah, sebagai anggota masyarakat kita bertugas untuk mengurangi volume sampah dengan melakukan pembatasan (Reduce), pemanfaatan (Reuse), dan pendaur ulangan (Recycle). Inilah yang biasa disebut dengan 3R. Sudah familiar dengan akronim ini, kan?

Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang mentargetkan pengurangan sampah berbasis masyarakat dengan konsep 3R bisa mencapai 30%, dimulai dari tahun 2018-2025. Rinciannya sebagai berikut:

Reduce
Secara regulasi, Dinas LH Kota Malang menekankan pada pembatasan penggunaan kantong plastik, pembatasan plastik sekali pakai, dan bebas plastik di kantin sekolah.

Reuse
Adanya anjuran tentang memfungsikan kembali sampah untuk kegiatan bermanfaat, misalnya: tong sampah dari kaleng bekas dan hidroponik memakai median sampah.

Recycle
Konsep recycle inilah yang kemudian mendorong lahirnya Bank Sampah Malang (BSM) sejak tahun 2011 sebagai Bank Sampah Induk (BSI). Saat ini, BSM sudah memiliki anggota binaan sebanyak 30.000 orang dan menerima 70 jenis sampah untuk didaur ulang. Lalu, BSM mentargetkan adanya Bank Sampah Unit (BSU) di tiap RW.


BSM melakukan pembinaan dalam bentuk:
  • Pembuatan kompos dengan sistem komposter dan biopori
  • Tempat Pembuangan Sampah (TPS) 3R berbasis masyarakat
  • Pengembangan biogester
  • Pemilahan sampah oleh sektor informal (petugas gerobak sampah di RT/RW & pemulung)
  • Kerajinan daur ulang sampah

Menurut data Dinas LH Tahun 2018, rangkaian kegiatan pengurangan sampah di atas berhasil mengurangi penumpukan sampah sebanyak 124,60 ton per harinya.


Sedangkan penanganan sampah berbasis institusi/pemerintah daerah ditargetkan mencapai 70% dengan melakukan tindakan sebagai berikut:



Hasilnya, sejumlah 527,30 ton sampah berhasil ditangani setiap harinya. Alhamdulillah, ya...


Pengembangan Bank Sampah Ramah Lingkungan Berbasis Teknologi Informasi  di Provinsi DKI Jakarta


Pembicara kedua di sesi pertama adalah Bapak Rahmat Bayangkara dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi DKI Jakarta. Mengapa dari DKI Jakarta? Karena DKI Jakarta adalah salah satu contoh pemerintah daerah yang berinovasi melalui Sistem Informasi Bank Sampah (SiBAS).




SiBAS dikembangkan agar dapat meningkatkan efisiensi serta efektivitas dalam pengelolaan bank sampah serta pelaporan aktivitas Bank Sampah kepada pemerintah daerah dengan media smart card dan berbasis komputasi awan (cloud). Singkatnya, mereka lebih maju selangkah lah. Keren, nih…

Contoh lain lagi, DKI Jakarta sudah memakai 5R dalam hal pengurangan sampah berbasis masyarakat. Selain Reduce, Reuse, dan Recycle, ada tambahan berupa konsep Replace dan Replant.




Seperti di Kota Malang, DKI Jakarta pun mulai membentuk Bank Sampah di seluruh wilayahnya pada tahun 2015. Saat itu baru terbentuk 376 Bank Sampah dan bertambah menjadi 2.729 Bank Sampah di tahun 2018 ini.


Nah, Bank Sampah Induk (BSI) DKI Jakarta telah menerapkan aplikasi e-Bank Sampah berbasis Android. Berbekal ponsel, Bank Sampah Unit (BSU) bisa melakukan registrasi dan menginput data sesuai jenis sampah. Aplikasi tersebut akan memberikan pilihan tentang titik lokasi dan waktu penjemputan Sampah, lalu truk penjemput sampah akan datang untuk menyetorkan sampah tersebut ke Bank Sampah Induk (BSI).

BSI DKI Jakarta juga telah bekerja sama dengan pihak perbankan sehingga anggotanya yang menyetor sampah juga nantinya tercatat sebagai nasabah bank tersebut. Ada juga kerja sama dengan korporasi yang bersedia membeli sampah plastik dengan harga yang disepakati, misalnya: PT. Danone.

Sebuah pencapaian yang patut dicontoh, bukan?


Pentingnya Strategi Branding, Packaging, Teknik Foto Produk, dan Social Media Marketing


Setelah sesi pertama selesai dan peserta dipersilakan ishoma, acara dilanjutkan kembali. Pada sesi kedua ini yang menjadi speaker adalah Ibu Martha Simanjuntak selaku founder IWITA. Sebagaimana peran yang telah dilakukan IWITA selama ini, beliau menekankan pentingnya penerapan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam memasarkan produk hasil Bank Sampah.



Dalam acara itu, para anggota binaan BSM memang membawa hasil daur ulang sampah dalam berbagai bentuk seperti: tas, topi, bunga, sampai baju yang terbuat dari sampah plastik. Bu Martha mengatakan perlunya para pelaku UKM tersebut untuk memperkenalkan produknya kepada khalayak ramai, misalnya bekerja sama dengan blogger seperti kami :D



Bu Martha menunjukkan logo seperti tersebut di atas. Para peserta langsung terbayang produk di balik logo yang memang sudah dikenal di pasaran itu. Itulah strategi branding. Dimana ada 7 komponen pentingnya yang perlu diperhatikan agar strategi branding berhasil baik, yaitu:

1. Tujuan
Setiap brand pasti memiliki visi dan tujuan yang ingin dicapai.

2. Konsistensi
Ini berhubungan dengan brand awareness yang akan berdampak pada loyalitas pelanggan.

3. Emosi
Pastikan strategi branding akan melibatkan emosi konsumen pada akhirnya.

4. Fleksibilitas
Ini adalah saran yang utama saat menyusul strategi branding.

5. Keterlibatan Karyawan
Seluruh karyawan harus tahu bagaimana cara mereka berpartisipasi.

6. Loyalitas
Semakin loyal konsumen, semakin bisa mendongkrak penjualan.

7. Kesadaran akan Kompetisi
Selalu mempelajari strategi yang digunakan oleh kompetitor.


Langkah selanjutnya adalah packaging product atau kemasan produk. Harus dipikirkan tentang kemasan produk yang bisa membuat konsumen tertarik sehingga bisa mendongkrak target pemasaran produk tersebut. Inilah 5 prosesnya:



Kemudian yang tidak kalah pentingnya adalah product photography atau fotografi produk sebagai bagian dari advertising. Foto produk yang ditampilkan harus mampu membangun image positif tentang produk yang ditawarkan. Kuncinya sebenarnya sederhana yaitu sang fotografer harus bisa mengatur lighting dan angle yang baik.


Lighting atau pencahayaan adalah teknik paling penting dalam dunia fotografi. Ini harus menghasilkan penampakan warna produk yang sesuai dengan aslinya serta teksturnya jelas dan tajam. Dukungan background juga bisa mempercantik produk.


Angle adalah sudut pengambilan gambar, yaitu bagaimana fotografer menempatkan kamera di depan produk untuk mengambil foto. Ini perlu diperhatikan karena setiap produk memiliki bentuk yang berbeda, misalnya kotak, bulat, panjang, dll. Salah mengambil angle akan membuat foto produk terlihat tidak menarik.


Nah, para peserta baik dari kalangan UKM maupun blogger dipersilakan mempraktikkan kedua teknik fotografi di atas. Pas banget. Saya dari dulu ingin bisa memotret dengan hasil cantik. Cekrek!




Khususnya untuk peserta dari kalangan UKM, mereka dipersilakan membuat akun dan mengunggah foto produk olahan sampah mereka di serempak.id. Wah, sebuah kesempatan promosi keren, nih. Produk olahan sampah mereka bisa dikenal di seluruh Indonesia.


Next, adalah tentang social media marketing yaitu proses meraih kunjungan pengguna internet ke situs tertentu atau perhatian khalayak ramai melalui situs-situs sosial media. Ya, internet adalah media pemasaran yang potensial. Tercatat pada tahun 2016 saja ada 132,7 juta pengguna internet. Minimal sekali dalam sebulan, 79% diantaranya aktif di media sosial.




Di akhir sesi, Bu Martha memberikan tugas secara kelompok tentang strategi pemasaran produk berikut hambatan dan tantangannya. Para peserta dibagi menjadi tiga kelompok yang nantinya harus melakukan presentasi hasil diskusinya di depan para peserta lain.


Tantangan tersebut akhirnya dimenangkan oleh kelompok 1. Yeay! Selamat, ya! Kelompok 1 berhak menerima hadiah dari Bu Martha seusai acara.


Berpose bersama kelompok 1

Sekitar pukul 15.00 WIB, acara sarat ilmu itu pun berakhir. Saya berpamitan pulang ke rumah pada teman-teman yang lainnya. Sepanjang jalan saya memikirkan tiga
qoutes keren dari tiga pembicara tadi, yaitu:
SAMPAH = Semoga Allah Melimpahkan Pahala Atas Hamba-Nya (Bapak Rahmat Hidayat)

Lebih baik hidup dari sampah daripada hidup jadi sampah. (Bapak Rahmat Bayangkara)

Jangan menunggu untuk sempurna baru memulai, dengan memulailah Anda bisa membuatnya sempurna. (Ibu Martha Simanjuntak)


Sungguh inspiratif. Ya, saya dan Anda harus melakukan perubahan tentang sampah mulai dari diri kita sendiri walaupun sederhana, sekarang juga!


Salam 3R,

November 05, 2018

4 Cara Mencegah Stunting di 1000 Hari Pertama Ananda

by , in

Ada salah satu hal yang menarik perhatian pada penyelenggaraan Annual Meetings IMF-World Bank Group 2018 di Bali, 8-14 Oktober 2018 yang lalu. Permasalahan stunting turut dibahas pada pertemuan itu, tepatnya pada poin Human Capital Development Index.

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat dari kekurangan gizi kronis. Dibahasnya stunting dalam forum internasional tersebut menandakan bahwa stunting adalah juga permasalahan beberapa negara di dunia.

Ciri-ciri Stunting

1. Anak Bertubuh Pendek
Tinggi tubuh anak terlalu pendek dibandingkan anak lain seusianya.


Sumber: hellosehat.com

2. Kemampuan Kognitif Tidak Optimal
Karena asupan gizi tidak terpenuhi, perkembangan otak juga ikut terganggu. Akhirnya, ia cenderung kesulitan dalam berkonsentrasi dan belajar.

3. Sering Mengalami Sakit
Penderita stunting biasanya memiliki imunitas yang lebih buruk dibandingkan dengan anak sebayanya dengan pertumbuhan normal.

Indonesia Darurat Stunting

World Health Organization (WHO) telah menetapkan batasan permasalahan gizi di sebuah negara tidak boleh lebih dari 20%. Faktanya, permasalahan stunting di Indonesia berada pada angka 33 %. Ada 9 juta lebih balita di Indonesia mengalami stunting. Alhasil, Indonesia berada pada posisi ke-5 sebagai negara dengan kasus stunting terbanyak di dunia. Empat negara di atas Indonesia adalah India, Timor Leste, Kamboja, dan Laos.


Sumber: Kemenkes RI

Kondisi darurat stunting tentu saja tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Sejak 2017, pemerintah Indonesia sudah mencanangkan program Gerakan Nasional Pencegahan Stunting. Gerakan tersebut merupakan bagian dari program  Human Capital Development (HCD) yang bertujuan untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas, sehat, dan produktif. Diharapkan, kemiskinan akan berkurang dan pertumbuhan ekonomi pun bisa meningkat.

Stunting Bisa Dicegah Sejak 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)

1000 Hari Pertama Kehidupan adalah periode percepatan tumbuh kembang yang dimulai sejak terbentuknya janin dalam kandungan (270 hari) hingga anak berusia 2 tahun (730 hari).Maka, pencegahan stunting harus dimulai sejak 1000 hari terbaik ini dengan 4 cara, yaitu:


1. Pemenuhan Kebutuhan Gizi Ibu Hamil

Sebelum terjadi kehamilan, seorang ibu hendaknya memperhatikan berat badannya, jangan terlalu kurus. Seseorang disebut kurus jika memiliki Indeks Massa Tubuh (IMT) di bawah 18,5. IMT didapat dari pembagian berat badan dalam satuan kilogram dengan tinggi tubuh dalam satuan meter kuadrat.
Sumber: pixabay
Seorang ibu dengan IMT di bawah normal disarankan untuk menaikkan bobot tubuh sekitar 12,7–18,1 kg saat hamil. Hal ini untuk menghindarkan resiko keguguran, berat janin tidak sesuai dengan usia kandungan, bayi lahir prematur, dan bayi lahir dengan berat badan rendah.


Sebaliknya, calon ibu hamil tidak boleh mengalami kegemukan atau obesitas. Penambahan berat badan selama hamil juga tidak boleh melebihi batas yang dianjurkan. Ya, pemantauan berat badan ibu hamil sangat penting karena berkaitan erat dengan pertumbuhan janin, plasenta yang sehat, air ketuban, pengiriman makanan untuk janin melalui aliran darah, dan persiapan untuk menyusui setelah melahirkan.

2. Pemberian ASI dan MPASI

Sebagai langkah awal kesuksesan pemberian ASI, hendaknya dilakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD). Proses IMD akan mempercepat rangsangan kolostrum dalam ASI. Zat ini berfungsi sebagai pencegah kematian bayi kerena mengandung protein dan immunoglobulin sebagai antibodi, yang memberikan efek perlindungan pada bayi sampai usia 6 bulan pertama kehidupannya.

Perjuangan selanjutnya adalah pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan. Makanan terbaik bayi ini adalah sumber gizi utama bagi bayi yang belum bisa mencerna makanan padat. Sebaiknya pemberian ASI dilanjutkan sampai bayi berusia 24 bulan.



Sumber: pixabay

Setelah bayi memasuki usia 6 bulan, ASI saja tidak cukup. Harus diberikan Makanan Pendamping ASi (MPASI) sesuai standar WHO. Prinsipnya mudah saja yaitu bayi boleh makan apa saja dari menu meja makan keluarga, tapi harus memperhatikan: frequency (frekuensi MPASI), amount (jumlah takaran MPASI), thickness (tekstur makanan MPASI), variety (jenis), active/responsive feeding dan higiene.

Pada bayi berusia 6-8 bulan 29 hari, berikan MPASI makanan utama (makan besar) sebanyak 3 kali sehari. Teksturnya adalah makanan lumat/halus (bubur saring, pure atau makanan yang ditumbuk/dihaluskan).

Pada bayi berusia 9-11 bulan 29 hari, berikan MPASI makanan utama (makan besar) sebanyak 3-4 kali sehari. Teksturnya dinaikkan menjadi makanan lembek (nasi tim, bubur tanpa disaring, makanan dicincang halus atau irisan makanan-lunak). Pada usia 8 bulan mulai dikenalkan dengan finger food.

Pada bayi berusia 12-24 bulan, berikan MPASI makanan utama (makan besar) sebanyak 3-4 kali sehari. Pada usia ini, bayi boleh makan makanan keluarga yang dicincang kasar, diiris atau dipegang tangan
.


3. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)

Meliputi akses terhadap air bersih dan fasilitas sanitasi, serta menjaga kebersihan lingkungan.


Sumber: indonesiabaik.id

Penerapan PHBS dalam keluarga dimulai dengan adanya kamar mandi dan jamban sehat di tiap keluarga. Anak mulai dibiasakan untuk Buang Air Besar (BAB) di kamar mandi. Kebiasaan mencuci tangan dengan sabun di bawah air yang mengalir juga harus menjadi gaya hidup sehat di lingkungan keluarga.

Air minum untuk dikonsumsi harus diperoleh dari sumber yang baik seperti saluran PDAM ataupun membeli produk galon yang terjamin kehigienisannya. Bahan makanan yang akan diolah juga harus dicuci bersih di bawah air yang mengalir agar kuman-kumannya hilang, juga meminimalisir kandungan pestisida yang menempel di permukaannya (untuk buah dan sayur).

Sampah rumah tangga yang bisa terurai sebaiknya ditimbun dengan baik jika masih terdapat lahan di belakang rumah. Jika tidak, harus dibuang melalui petugas sampah yang terdapat di tiap kelurahan/desa. Jangan sampai teronggok sehingga menimbulkan bau tidak sedap dan menjadi sumber penyakit. Begitu juga dengan limbah cair rumah tangga harus mempunyai saluran pembuangan yang baik dan tertutup.

Penerapan PHBS di atas dimaksudkan untuk mencegah penyakit yang disebabkan infeksi. Bila anak terkena infeksi, energi yang seharusnya dipergunakan untuk pertumbuhan menjadi teralihkan untuk perlawanan tubuh menghadapi infeksi tersebut. Kondisi sakit juga menyebabkan gizi sulit diserap oleh tubuh, akibatnya pertumbuhan tubuh anak bisa terhambat.


4. Pemantauan Tumbuh Kembang Balita di Posyandu

Gangguan pertumbuhan balita bisa diminimalisir sejak dini dengan pemantauan tumbuh kembang balita di berbagai sarana kesehatan masyarakat. Salah satunya adalah Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu. Layanan ini cuma-cuma dan bisa dijangkau seluruh lapisan masyarakat.

Ada 5 program prioritas yang dijalankan Posyandu yaitu kesehatan Ibu dan Anak melalui penimbangan, KB, imunisasi, gizi, dan penanggulangan diare. Kelima program tersebut sangat mendukung pencegahan stunting karena terdapat penyuluhan dan dorongan untuk menjalankan pola makan, pola asuh, dan sanitasi yang baik pada balita dan keluarga.


Sumber: pixabay


Mari mencegah stunting dimulai dari #1000HariPertamaAnanda. Karena anak-anak kita adalah generasi emas yang berhak hidup sehat dan menjadi manusia unggulan kelak.


Salam,