My Lifestyle, My Journey, My Happiness

February 19, 2020

Kutipan-kutipan Berkesan dari K-Drama "Crash Landing on You"

by , in
IG: @withhyunbin


Drama Korea Crash Landing on You baru saja menyelesaikan episode ke-16 alias episode terakhirnya pada hari Ahad kemarin (16/02/20). Jagad twitter Indonesia sempat ramai dengan trending topic #CrashLandingOnYouFinale, pertanda bahwa drama-nya tvN ini termasuk idaman kaum pecinta drakor yang ada di sini. Kalau di jagad Facebook, katanya sih banyak yang nyinyir. Biasalah itu...

Saya termasuk yang mengikuti Crash Landing On You saat masih on-going sampai finished. Padahal biasanya saya termasuk tim woles untuk urusan dunia perdrakoran. Saya lebih suka menonton drakor yang sudah selesai tayang, yang episode-nya sudah lengkap. Itu pun biasanya butuh waktu agak lama bagi saya untuk menamatkannya. Iya lah. Menyelesaikan 16 episode drakor itu kira-kira sama dengan menonton 8 judul film atau ibarat membaca 16 bab novel, gitu...

Impian Hyun Bin dan Kreativitas Penulis Naskah

Adalah adu akting antara Hyun Bin dan Son Ye Jin yang membuat saya mantap menonton Crash Landing On You yang tayang di Netflix setiap Sabtu dan Ahad ini. Saya pernah menonton film action yang melibatkan keduanya, The Negotiation (2018) dan sedikit mengikuti berita mereka. Setelah proyek film berakhir, Hyun Bin amat berharap agar dia bisa bermain drama bareng Son Ye Jin, aktris cantik berjuluk The Melo Queen itu. Ehem... kabar kaburnya, keduanya sedang deketan saat itu.

Kabar rencana "duet" mereka pada pertengahan 2019

Akhirnyaaa... Setelah menunggu puluhan purnama, cita-cita Hyun Bin itu terlaksana. Selamat, Bang! Dia dan Son Ye Jin pun resmi menjadi pemain utama Crash Landing On You yang menceritakan kisah cinta tak biasa antara konglomerat cewek dari Korea Selatan dan tentara dari Korea Utara. Wah, berani juga nih si penulis naskah drama mengangkat isu yang cukup sensitif ini.



Terbukti, di kemudian hari saat Crash Landing On You sedang asyik mengudara, ada sebuah partai politik Korea Selatan yang melaporkan drama ini ke kepolisian karena dianggap melanggar Undang-undang Keamanan Nasional yaitu terlalu mengagungkan Korea Utara. Maksud yang saya tangkap sih: mana ada tentara Korea Utara dan warga sana yang baik dan suka menolong? Aih, si partai kok baper amat! 🙄 Bukankah berbuat baik itu adalah hak segala bangsa?

Hoho, ternyata writernim-nya adalah Park Ji Eun. Jangankan perjodohan antara orang Korsel-Korut, penulis ini bahkan pernah menjodohkan manusia dengan alien, juga manusia dengan putri duyung. 😛 Yes, dia juga lah yang menulis naskahnya My Love From The Star (2013) dan Legend of The Blue Sea (2016). Sungguh manusia yang berimajinasi tinggi!

Kutipan-kutipan Tak Terlupakan

Apa yang menarik dari Crash Landing On You? Hampir semuanya bagus; akting pemain, alur cerita, latar tempat, dan juga Original Soundtrack-nya. Saya bisa menangis, merasakan ketegangan, lalu tertawa geli saat menyaksikannya. Paket komplit! Rekomendid buat mereka yang menyukai genre komedi romantis dipadukan dengan intrik di dunia militer.

Nah, sebagai pecinta quotes alias kutipan, saya ingin mengulas Crash Landing On You dari segi kutipan yang berasal dari dialog ataupun monolog para pemainnya. Teman-teman yang tidak/belum menonton drakor ini, saya kira tetap bisa mengambil pelajaran kehidupan yang mungkin hampir serupa. Ini dia!

"Kenapa angin bertiup? Angin bertiup untuk bergerak, bukan tetap diam. Angin harus tetap bergerak agar aku bisa terbang." (Yoon Se Ri)



Yoon Se Ri adalah putri ketiga pemilik kerajaan bisnis The Queens yang dikenal cerdas, pemberani, dan tidak ingin dikalahkan. Suatu hari, dia ingin menguji coba sendiri pakaian sport yang diproduksi perusahaannya (Seri's Choice) dengan melakukan paralayang. Asisten pribadinya sempat mencegah karena khawatir akan cuaca buruk, tapi Se Ri mengucapkan kalimat optimis seperti di atas.

"Aku sudah berjanji pada Kapten Selatan bahwa kita akan melakukan investigasi ini. Aku ingin memegang janji." (Ri Jeong Hyeok)



Ri Jeong Hyeok sebagai kapten kompi lima Polisi Militer Korea Utara yang saat itu bertugas di area perbatasan dekat dengan Demilitary Zone (DMZ) melaporkan hasil operasi yang dilakukan pasukannya pada atasannya, Letnan Cho Cheol Gang. Ada komplotan pencuri artefak yang menyusup ke selatan yang awalnya ingin dieksekusi oleh pasukan militer Korsel, tapi Ri Jeong Hyeok meyakinkan pasukan militer Korsel agar kasus itu ditangani di Korut saja karena pelakunya adalah warga negaranya. Cho Cheol Gang bilang agar "jangan galak-galak" dengan warga sendiri, sementara Ri Jeong Hyeok tetap ingin kasus pencurian itu ditangani secara hukum. Bertanggung jawab sekali nih, Kapten Ri!

"Kapanpun aku terkejut atau ketakutan, aku akan menyebut kata ini: Ibu! Lucu sekali 'kan? Padahal aku tidak punya ibu." (Yoon Se Ri)



Rencana ujicoba Se Ri gagal total karena angin tornado menerbangkannya keluar dari Korea Selatan dan dia malah nyangkut di sebuah pohon di kawasan hutan perbatasan yang saat itu dijaga oleh Ri Jeong Hyeok dan pasukannya. Se Ri bertemu Ri Jeong Hyeok, terjadi dialog. Se Ri meyakinkan Si Kapten bahwa dia bukan mata-mata dan ingin kembali ke negaranya. Terjadi kesalahpahaman sehingga Se Ri diburu oleh para tentara. Dia pun berusaha melarikan diri. Dalam pelariannya, tanpa sadar dia menyebut ibunya.

"Kenapa kita punya dua mata di depan? Karena kita harus terus menatap ke depan. Lupakan masa lalumu dan pikirkan masa depan." (Jenderal Go Myeong Sok)


Ig: @tvndrama.official

Ada luka di masa lalu Ri Jeong Hyeok yang masih belum sembuh: kehilangan kakak tercintanya, Ri Moo Hyeok. Kakaknya adalah tentara yang tewas dalam sebuah kecelakaan mobil di area tempat Ri Jeong Hyeok bertugas sekarang. Jenderal Go Myeong Sok yang mengenal Ri Jeong Hyeok menyuruhnya untuk melupakan kasus itu tapi Ri Jeong Hyeok merasa kecelakaan itu tidak wajar dan sampai sekarang terus berusaha menyelidikinya.

"Koleksi buku seseorang biasanya mengungkap kepribadian, sifat, dan selera seseorang." (Yoon Se Ri)

Se Ri tersesat dalam pelariannya dan malah "terdampar" di sebuah desa yang menjadi pemukiman militer Korea Utara. Dia hampir tertangkap mobil patroli tapi Ri Jeong Hyeok menyelamatkannya, masuk ke rumah dinasnya. Membiarkan Se Ri tertangkap atau menyembunyikannya sama-sama berisiko. Ri Jeong Hyeok memilih pilihan kedua. Rahasia itu hanya diketahui oleh empat orang anak buahnya: Pyo Chi Su, Kim Ju Meok, Park Gwang Beom, dan Geum Eun Dong.


Se Ri sungguh ingin pulang. Ri Jeong Hyeok ingin membantu kepulangannya secara aman. Se Ri harus tinggal sementara di rumah Si Kapten. Di sana, Se Ri menjumpai rak buku milik Ri Jeong Hyeok dan berkas-berkas yang menunjukkan bahwa Si Kapten dulunya pernah belajar piano di Swiss.

"Hanya ada dua tipe orang dengan rambut berantakan: orang asing atau wanita gila." (Ri Jeong Hyeok)


Ig: @crashlandingonyou

Keberadaan Se Ri akhirnya diketahui Cho Cheol Gang dan warga desa karena adanya geledah rumah secara mendadak. Terpaksa Ri Jeong Hyeok berbohong dengan mengatakan bahwa Se Ri adalah tunangannya yang berprofesi sebagai mata-mata yang baru kembali dari penugasan ke Korsel. Ri Jeong Hyeok lantas menjelaskan kebiasaan perempuan di desanya yang wajib menguncir rambutnya, tidak boleh tergerai. Ini tergolong budaya umum di Korea Utara.

"Kesepian lebih baik daripada kesakitan." 
(Yoon Se Ri)



Se Ri menolong seorang anak desa bernama Jung U Pil yang mengalami perundungan. U Pil memilih diam karena manut dengan titah ayahnya. Sementara Se Ri menyarankan agar U Pil berani melawan jika diganggu. Itu adalah prinsip hidup yang dijalani Se Ri selama ini. Perlawanannya membuat dia dijauhi orang, tetapi Se Ri jadi terhindar dari rasa sakit alias aman dari gangguan.

Tanpa diketahui oleh Se Ri, U Pil yang ditolongnya itu adalah anak dari "musuh" yang tidak disadarinya, Jung Man Bok.

"Saat segalanya tidak sesuai dugaanku, aku jadi kecewa." (Ri Jeong Hyeok)



Usaha kepulangan Se Ri gagal. Ri Jeong Hyeok berusaha membantu lagi dengan rencana kedua yang mengharuskan Se Ri membuat paspor. Dia harus ke Pyongyang untuk membuat foto paspor, ditemani Ri Jeong Hyeok. Keduanya menaiki kereta api yang ternyata "mogok" selama lebih dari sepuluh jam. Para penumpang harus tinggal di tempat sampai malam hari dan mereka memilih menghangatkan diri di luar kereta dengan membuat api unggun. Di sana, Ri Jeong Hyeok jadi mengingat cita-cita masa kecilnya yang tidak tercapai karena sebuah musibah.

"Terkadang kereta yang salah membawamu ke stasiun yang tepat." (Yoon Se Ri)



Se Ri menghibur Ri Jeong Hyeok dengan kata mutiara dari India seperti tersebut di atas. Dia berharap agar Ri Jeong Hyeok yang kecewa dengan rencana hidupnya yang gagal tetap memikirkan masa depannya. Se Ri membandingkan dengan dirinya sendiri yang salah mendarat di negeri orang tetapi jadi bisa banyak mengambil pelajaran hidup yang belum pernah dirasakannya. Felt the same, they smiled together. 🙂

"Kita tidak perlu saling mengingat atau menyimpan kenang-kenangan." (Ri Jeong Hyeok)


Mereka akhirnya tiba dengan selamat di Pyongyang dan segera menuju Hotel Pyongyang, tempat resmi yang ditunjuk untuk pengambilan foto paspor. Se Ri menyarankan agar Ri Jeong Hyeok mau berfoto berdua dengannya sebagai kenang-kenangan karena mereka tidak akan bertemu lagi. Ri Jeong Hyeok menolaknya dengan mengatakan hal di atas. Are you serious, Captain Ri? 😉

"Saat kau muak dengan kompetisi, kau berharap kompetitormu menghilang." (Yoon Se Ri)


Tak seperti Ri Jeong Hyeok yang sangat dekat dengan mendiang kakaknya, Se Ri dan kedua kakaknya (Yoon Se Jun dan Yoon Se Hyung) justru tidak akur. Mereka adalah keluarga pebisnis yang kompetitif. Ketiganya jadi harus berlomba menjadi yang terbaik di mata orang tuanya. Persaingan itu bahkan pernah membuat Se Ri ingin bunuh diri. Maka Se Ri menganggap hilangnya dirinya justru adalah kabar gembira bagi kedua kakaknya. Ri Jeong Hyeok meyakinkan bahwa Se Ri pasti sangat dirindukan kakaknya. Bagaimanapun, mereka adalah keluarga.

"Kau akan aman selama kau dalam pandanganku." (Ri Jeong Hyeok)



Tak disangka, Se Ri bertemu dengan Gu Seung Jun di lobi hotel. Dia adalah orang yang melarikan uang perusahaan The Queens dan sedang bersembunyi di Korea Utara. Se Ri dan Seung Jun nyaris bertunangan di masa lalu, namun Se Ri menolaknya. Ri Jeong Hyeok yang tak paham situasi tentu saja ingin melindungi Se Ri dari orang asing. Se Ri kali ini berbohong pada Seung Jun bahwa Ri Jeong Hyeok adalah bodyguard-nya.

"Ini salju pertama? Astaga. Kita dalam masalah. Ini gawat. Melihat salju pertama dengan seseorang, cintamu akan terwujud." (Yoon Se Ri)

Keberadaan Se Ri dan Ri Jeong Hyeok ternyata juga diketahui oleh Seo Dan, tunangan Ri Jeong Hyeok yang baru kembali dari belajar di Rusia selama tujuh tahun. Mereka dulu bertunangan karena dijodohkan. Seo Dan marah dan memaksa untuk mengadakan pertemuan keluarga di restoran hotel. Pertemuan itu membahas rencana pernikahan Ri Jeong Hyeok dan Seo Dan. Ri Jeong Hyeok tidak menolak rencana itu, tapi juga tidak gembira. Hmm...



Usai pertemuan, Ri Jeong Hyeok kembali mencari Se Ri. Keduanya sepakat untuk makan malam di sebuah resto di tepi Sungai Taedong. Tiba-tiba salju turun.

"Jangan ukir cintamu di hati. Ukirlah di otakmu. Jika kau ukir di hati, kau tak bisa hidup. Itu menyakitkan." (Ma Young Ae)


Seiring waktu, Se Ri jadi akrab dengan empat orang ibu-ibu tetangga di kawasan pemukiman militer: Ma Young Ae, Na Wol Suk, Hyun Myun Suk, dan Yang Ok Geum. Keempat ibu itu akhirnya tahu bahwa Ri Jeong Hyeok sebenarnya sudah bertunangan dengan Seo Dan. Keempatnya mengira Se Ri (menyamar dengan nama Choi Sam Suk) sedang patah hati sehingga Young Ae pun berusaha menghiburnya.

"Tapi karena kau akan pergi, tolong lakukan ini. Jagalah dirimu, jangan sampai terluka.
Hiduplah dengan bahagia. Jangan lupakan kami." (Pyo Chi Su)



Keempat anak buah Ri Jeong Hyeok pun terlanjur akrab dengan Se Ri. Sebelum rencana kepergian Se Ri yang kedua, keempatnya pergi berpiknik bersama Se Ri tanpa ditemani Ri Jeong Hyeok. Pyo Chi Su walaupun biasanya tampak sinis pada Se Ri, sebenarnya sedih juga saat Se Ri hendak pergi. Dia membacakan puisi yang membuat suasana jadi haru.

"Mungkin kau tak merasa tapi kukira aku akan merindukanmu. Terkadang aku akan mengingatmu. Tidak. Aku akan memikirkanmu. Tapi kita tidak bisa menanyakan kabar satu sama lain. Itu agak menyedihkan." (Yoon Se Ri)


Hari-H kepergian pun tiba. Se Ri akan pergi ke bandara dengan ditemani anak buah Ri Jeong Hyeok, Park Gwang Beom. Se Ri jujur tentang apa yang dirasakannya selama ini karena begitu baiknya Ri Jeong Hyeok padanya.

"Begitu kau pergi dari tempat ini, semoga kau melupakan tempat ini dan aku. Kembalilah jalani hidupmu sebelumnya dan tetap jaga kesehatan. Anggaplah kau sedang bermimpi buruk." (Ri Jeong Hyeok)


Sebenarnya Ri Jeong Hyeok juga merasa sedih tapi dia terlihat berusaha realistis. Bagaimanapun Se Ri harus benar-benar pergi kali ini. Perpisahan mengharukan pun terjadi di sebuah pagi yang masih buta.

"Biasanya aku tidak mudah merasa ketakutan, tapi kini aku agak takut. Aku takut terjadi sesuatu padamu. Apakah berarti kau telah menjadi orang yang spesial bagiku?" (Yoon Se Ri)



Ternyata usaha kepergian Se Ri yang kedua juga tidak berjalan mulus. Ada orang yang berusaha mencegahnya agar tidak bisa pulang ke Korsel. Diam-diam, Ri Jeong Hyeok tetap mengawal kepergian Se Ri dari jarak jauh. Ri Jeong Hyeok terkena tembakan demi melindungi Se Ri. Sebuah pilihan berat bagi Se Ri: ke bandara atau membawa Ri Jeong Hyeok ke rumah sakit? Se Ri memilih yang kedua.

"Kau harus menangkap hatinya sebelum menetapkan tanggalnya." (Gu Seung Jun)



Gu Seung Jun akhirnya berkenalan dengan Seo Dan pada pertemuan ketiga mereka di rooftop Hotel Pyongyang. Seung Jun bisa menebak bahwa Seo Dan sedang dikecewakan seorang pria. Seo Dan tidak peduli. Baginya, yang penting akhirnya dia bisa menikah dengan Ri Jeong Hyeok. Itu adalah jawaban yang dianggap lucu oleh Seung Jun: kok bisa cepat menetapkan tanggal pernikahan padahal calon suami Seo Dan sama sekali tidak mencintainya?

"Kukira bisa menikahimu walaupun aku tidak punya perasaan padamu. Tapi kurasa kita tidak bisa menikah jika aku menyukai orang lain." (Ri Jeong Hyeok)


Ri Jeong Hyeok dioperasi dan dirawat di Rumah Sakit Sariwon. Se Ri yang khawatir menungguinya sampai siuman pasca operasi. Seo Dan akhirnya juga tahu kondisi Ri Jeong Hyeok dan mengunjunginya di rumah sakit. Di sanalah Ri Jeong Hyeok berterus terang pada Seo Dan bahwa sebenarnya dia menyukai Se Ri.

"Kau menyukainya? Silakan, tentu saja. Saat dia pergi, perasaan itu akan menghilang." (Seo Dan)

Seo Dan masih teguh pendirian dan tetap ingin melanjutkan rencana pernikahannya. Pengakuan Ri Jeong Hyeok bukan sebuah masalah baginya karena toh sebentar lagi Se Ri akan pergi dan Ri Jeong Hyeok pasti akan melupakannya.


Kalau diteruskan, niscaya saya baru selesai menulis ini sampai akhir bulan, hehe. So, rasanya kutipan-kutipan di atas sudah cukup untuk mewakili sebagian alur cerita drama yang tidak membuat saya menyesal mengikuti kelanjutannya setiap akhir pekan.


Ig: @nicoleashley.design

Kok bisa Ri Jeong Hyeok dan Yoon Se Ri saling menyukai dalam waktu yang cukup singkat? Bagaimana nasib Seo Dan? Apa rencana Gu Seung Jun sebagai penipu yang tengah bersembunyi? Bagaimanakah cara Se Ri agar bisa pulang kembali ke Korsel? Berhasilkah misi Ri Jeong Hyeok dalam mengungkap misteri kematian kakaknya? Happy ending kah?

Semua akan terjawab jika teman-teman menontonnya sendiri. 😉


ig: @kdramanews.id

Selamat untuk para pemain Crash Landing On You dan seluruh kru yang terlibat. Drama ini akhirnya mencatat sejarah sebagai drama yang tayang di tvN dengan rating tertinggi. Akan lebih bagus lagi kalau Hyun Bin dan Son Ye Jin beneran jadi real couple di dunia nyata, hehe. Aamiin.




Salam pemanen tomat, 🍅



Tatiek





Credit pict: Ig @tukkatamickie
January 12, 2020

Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, The Campus of Technology

by , in

Salah satu momen paling membahagiakan dan ditunggu-tunggu bagi para mahasiswa adalah momen wisuda. Itu adalah saat belajar dan kerja keras mereka menampakkan hasil akhirnya. Lega dan bahagia. Pasti itu yang dirasakan oleh para wisudawan Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STT Bandung) yang menghadiri momen spesial mereka yaitu Wisuda XIV di awal tahun 2020 ini.

Agenda Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi Bandung dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Januari 2020 kemarin. Acara tersebut bertempat di Harris Hotel & Conventions, Jalan Peta No. 241, Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat. Ada sejumlah 209 wisudawan yang menghadiri momen indah mereka tersebut.

Venue acara Wisuda XIV STT Bandung

Nah, para narablog dari Joeragan Artikel (JA) juga mendapatkan undangan khusus untuk hadir meliput agenda wisuda STT Bandung seperti tahun kemarin. Teman-teman narablog JA yang di Bandung tentu saja bisa hadir di sana, sedangkan kami yang di luar Bandung tetap bisa bertugas meliput secara online via siaran langsung di akun instagram @sttbandung. Tak kalah seru, lho!

Kampus Teknologi yang Terus Meningkatkan Prestasi


Tepat pukul 08.00 WIB, acara wisuda pun dibuka. Para wisudawan yang mengenakan toga berpadu warna biru segera memasuki venue megah yang didominasi warna ungu dan keemasan tersebut. Mereka, 209 wisudawan itu terdiri dari:

1. Wisudawan Prodi Teknik Industri sebanyak 113 orang

2. Wisudawan Prodi Teknik Informatika sebanyak 70 orang

3. Wisudawan Prodi Desain Komunikasi Visual sebanyak 26 orang

Setelah pembacaan aturan wisuda selama lebih kurang 5 menit, Senat Perguruan Tinggi, undangan VVIP, Keynote Speaker, dan Pasukan Penari pun memasuki tempat wisuda. Selanjutnya selama sekitar 10 menit, tergelarlah Tarian Selamat Datang yang merupakan persembahan dari Unit Seni Tari STT Bandung. Keren!

Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom, M.T melakukan Pembukaan Rapat Senat Terbuka

Acara dilanjutkan dengan Pembukaan Rapat Senat Terbuka oleh Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., M.T. Berlanjut lagi dengan agenda menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta yang diisi oleh Unit Paduan Suara STT Bandung yang diikuti juga oleh segenap hadirin. Ditampilkan pula Mars STT Bandung yang dibawakan dengan cukup apik oleh paduan suara kampus yang berdiri sejak tahun 1991 itu.

Tim paduan suara STT Bandung

Selanjutnya, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., M.T. menyampaikan laporannya selaku Ketua STT Bandung. Beliau merasa bangga terhadap keberhasilan 209 wisudawan yang hadir kemarin. Bapak Naseer juga menyampaikan laporan tentang prestasi para dosen STT Bandung yang saat ini berjumlah 170 orang.

Menurut beliau, para dosen STT Bandung yang sudah bergelar S2 dan S3 sudah mencapai 96%. Ini berarti sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ditambah lagi, ada 10 orang dosen tetap yang sedang menempuh pendidikan doktoral serta beberapa dosen yang berhasil menerima hibah penelitian sejumlah ratusan juta rupiah. Great!


Tak heran, setiap tahun selalu ada peningkatan jumlah mahasiswa baru. Untuk tahun 2019 kemarin, jumlah mahasiswa baru mencapai 1500 orang. Dari jumlah tersebut, 75% adalah mahasiswa yang berasal dari Jawa Barat. Sedangkan sisanya berasal dari luar Jawa Barat, termasuk dari luar negeri.

Dua sambutan berturut-turut lainnya disampaikan oleh Ketua Yayasan LPBIB, Bapak Dr. Dadang Hermawan. Juga sambutan dari perwakilan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV.

Wisuda Istimewa Dihadiri Ilham Habibie


Salah satu agenda istimewa yang dinantikan adalah orasi ilmiah yang disampaikan oleh putra sulung Alm. BJ Habibie, Dr. Ing. Ilham Habibie, M.B.A. Beliau yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pelaksana Dewan TIK Nasional (Wantiknas) Republik Indonesia itu memaparkan tentang "Peranan Generasi Muda dalam Penerapan Teknologi dan Inovasi di Era 4.0".


Masya Allah. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sebuah kesempatan emas bagi saya nih untuk ikut menyerap ilmu yang disampaikan oleh Chairman PT. Ilthabi Rekatama yang kecerdasan dan wajahnya amat mirip dengan ayahnya tersebut.

Ya, dunia saat ini sudah memasuki era revolusi industri 4.0 yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain-lain. Hal ini disebut juga dengan dengan fenomena disruptive innovation.

Nah, terkait dengan pola ekonomi digital, Bapak Ilham menyebutkan bahwa ekonomi di masa depan harus mengandalkan inovasi. Keharusan mengandalkan inovasi ini merupakan satu diantara empat hal yang dipersiapkan oleh semua negara dalam menyambut tantangan masa depan.

Lengkapnya, semua negara di dunia ini hendaknya menitikberatkan pada:

1. Berinvestasi ke Human Capital
2. Berinvestasi ke Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
3. Membina dan mendukung inovasi dan kewirausahaan
4. Meminimalkan kemiskinan

Poin ke-4 akan bisa tercapai jika target pada poin 1, 2, dan 3 tercapai dengan baik.

Ilham Habibie, like father like son

Menurut Bapak Ilham, ekonomi di masa mendatang akan dipengaruhi dan dibentuk oleh teknologi, inovasi, dan kewirausahaan sebagai jawaban atas timbulnya lima megatrends yang mengubah dunia. Apa saja megatrends itu?

1. Urbanisasi cepat
2. Perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya 
3. Pergeseran kekuatan ekonomi global
4. Perubahan demografi dan sosial
5. Gebrakan teknologi 

Proses inovasi ini diwujudkan melalui ide yang akhirnya melahirkan produk atau jasa yang baru. Di sinilah inovasi berperan sebagai penghubung antara teknologi dan kewirausahaan. Nah, generasi muda yang biasanya kaya ide adalah para inovator itu!


So, para wisudawan STT Bandung yang berjuluk Campus of Technology ini diharapkan bisa ambil bagian dalam barisan yang aktif di UKM rintisan (Start-Up) yang diberdayakan dengan Teknologi (Informasi & Komunikasi).

Tentunya proses inkubasi perusahaan rintisan itu akan menghadapi berbagai tantangan sehingga memerlukan SDM unggul (terutama di bidang teknologi) dan perlunya kesabaran akan kurang adanya mentor dan pendanaan di fase awal.


Ya, pendidikan berkualitas adalah kunci untuk melahirkan SDM unggul. Sungguh, Indonesia berharap banyak pada SDM unggul yang mengerti dan menguasai rincian dan proses Teknologi - Inovasi - Kewirausahaan. Jadi wahai para wisudawan STT Bandung, inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kiprah Anda semua!

Calon-calon SDM Unggul dari STT Bandung


Setelah orasi ilmiah mengesankan dari keynote speaker di atas, tibalah pada acara inti yaitu pelantikan wisudawan yang dilakukan oleh Ketua STT Bandung, Pembantu Ketua I, beserta Ketua Program Studi. Saya bisa membayangkan kelegaan para wisudawan yang maju satu per satu untuk menyandang gelar sarjana mereka secara resmi itu.

Pengumuman Wisudawan Terbaik

Selanjutnya adalah agenda pemberian penghargaan kepada wisudawan dan skripsi terbaik dari masing-masing Program Studi. Mereka adalah:

Prodi Teknik Industri

Wisudawan terbaik diraih oleh Dheyu Laksmi Wulandari, S.T

Skripsi terbaik diraih oleh:

1. Virgiawan Chandra Bakti, S.T
Judul skripsi: Perancangan dan Pengembangan Hospital Transfer Bed dengan Pendekatan Karakuri

2. Indra Rukmana, S.T
Judul skripsi: Optimasi Produksi Dyeing Finishing dengan Metode Integer Linear Programming

3. Zaenal Uyun, S.T
Judul skripsi: Perbaikan Produk Meja Belajar Lipat Multifungsi Ergonomis untuk Meningkatkan Motivasi dan Semangat Belajar Menggunakan Metode Kansei Engineering

Prodi Teknik Informatika

Wisudawan terbaik diraih oleh Muhammad Rizal Mutaqin, S.Kom

Skripsi terbaik diraih oleh:

1. Deri Hermawan, S.Kom
Judul skripsi: Aplikasi 3D Virtual Reality sebagai Media Bantu Terapi Acrophobia Berbasis Android

2. Regina Sukma Citra, S.Kom
Judul skripsi: Klasifikasi Ujaran Kebencian dengan Metode Naive Bayes Classification di Sosial Media Facebook Berbasis Web

3. Yasti Aisyah Primianjani, S.Kom
Judul skripsi: Rancang Bangun Sistem Pemutus Aliran Listrik KWH Meter Pascabayar Berbasis Web Menggunakan Mikrokontroler

Prodi Desain Komunikasi Visual

Wisudawan terbaik diraih oleh Tiffani Zeta, S.Ds

Skripsi terbaik diraih oleh:

1. Andri Setiawan, S.Ds
Judul skripsi: Perancangan Aplikasi Rencana Anggaran Biaya Membangun Rumah

2. Bagus Arya Suseno, S.Ds
Judul skripsi: Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Publik dan Peta Wilayah RT 07 RW 08 Baleendah Kab. Bandung

3. Luthfi Alfaritzi, S.Ds
Judul skripsi: Perancangan Boardgame Pengenalan Permainan Tradisional Jawa Barat Untuk Anak (usia 8-12 tahun) di Kota Bandung

Selamat dan sukses untuk calon-calon SDM unggul di atas dan segenap wisudawan, ya! Kalian keren!


Setelahnya, dilakukan pula penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara STT Bandung dan para mitra yaitu PT. Dirgantara Indonesia, Jasa Marga, dan Biofarma.

Wisuda Bukan Garis Finish!


Acara dilanjutkan dengan penyampaian kesan yang disampaikan oleh perwakilan wisudawan, dilanjutkan dengan janji wisudawan. Momen mengharukan terjadi kemudian karena pembacaan apresiasi dan puisi untuk orang tua. Ya, keberhasilan para wisudawan pasti tidak terlepas dari kerja keras dan doa orang tua. Tanpa mereka, kita memang bukan siapa-siapa.

Tim paduan suara kampus kembali hadir dengan membawakan lagu Bagimu Negeri dan Syukur. Menunjukkan bahwa kiprah para wisudawan sedang dinanti untuk kemajuan negeri ini. Sungguh, momen wisuda bukanlah garis finish tetapi justru adalah garis start yang harus segera dilewati.

Selanjutnya adalah pembacaan doa, sebagai wujud rasa syukur dan penuh harap kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa izin-Nya, keberhasilan itu hanyalah angan-angan semata. Tanpa takdir baik-Nya, senyum dan kelegaan pada momen wisuda tidak akan terwujud nyata.

Penutupan Rapat Senat Terbuka pun dilakukan oleh Ketua STT Bandung, pertanda agenda wisuda sudah menjelang berakhir. Ya, acara hiburan penutup segera menyusul kemudian yang kembali dibawakan oleh tim paduan suara. Dilanjutkan dengan persembahan dari tim kesenian angklung. Bagus sekali!


Sekitar pukul 12.30, Senat Perguruan Tinggi meninggalkan tempat wisuda. Agenda Wisuda XIV STT Bandung pun selesai dengan baik dan lancar sesuai rencana.

Sekali lagi, selamat dan sukses kepada para wisudawan dan panitia penyelenggara!



Salam,
Tatiek Purwanti





Sekolah Tinggi Teknologi Bandung
Jl. Soekarno Hatta No.378 Bandung 40235 
Phone. (+6222) 522 4000 
Fax. (+6222) 520 9272 
Hp. +6281 2222 55 777 
Email: info@sttbandung.ac.id
Instagram: @sttbandung
November 20, 2019

Merawat Museum Monumen Jogja Kembali, Cagar Budaya Indonesia Bernilai Historis Tinggi

by , in

Candi Borobudur sudah belasan meter terlewati. Bus yang saya tumpangi bersama rombongan wisata sekolah Afra -putri sulung saya- melaju kembali menuju Sleman, Yogyakarta. Saat itu menjelang pukul sebelas siang. Matahari di luar sana sedang bersemangat menyengat bumi.

"Memangnya Ummi belum pernah ke Monumen Jogja Kembali?" tanya Afra tentang destinasi wisata kami selanjutnya.

"Belum. Padahal Ummi sudah beberapa kali ke Yogya. Baru sadar kalau belum pernah ke Monjali," jawab saya sambil nyengir. 

Museum Monumen Jogja Kembali atau biasa disingkat dengan Monjali. Ini adalah sebuah museum penting yang berisi jejak sejarah tentang berfungsinya kembali pemerintahan Republik Indonesia pasca ditarik mundurnya tentara Belanda dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Menyusul kemudian, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan para pejabat lainnya yang sebelumnya diasingkan, juga dikembalikan ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949.

Sungguh, ini adalah destinasi wisata sejarah yang seharusnya saya kunjungi sejak dulu. Seharusnya, sih...

"Monjali itu termasuk Cagar Budaya, lho. Sama seperti Museum Radya Pustaka Surakarta yang pernah kita kunjungi dan dulu Ummi jadikan tulisan," jelas saya pada Afra.

Afra manggut-manggut. Sepertinya dia teringat saat saya pernah bercerita tentang keikutsertaan lomba menulis Cagar Budaya dengan setting museum yang terletak di Solo tersebut.

"Oh, makanya sekarang Ummi senang bisa ke Monjali. Jadi ada bahan tulisan dong, ya?" tebak Afra.

"Iya, dong. Hehe..."

Ya, disamping alasan pribadi itu, saya memang merasa lega karena agenda rekreasi sekolah anak saya tetap menyertakan kunjungan ke museum. Di tengah maraknya pilihan destinasi wisata Yogya yang kekinian, kunjungan ke museum ternyata tidak dilupakan. 

"Mi, aku lupa. Cagar Budaya itu apa, ya?" kali ini Afra yang nyengir.

Saya tersenyum, "Cagar budaya itu warisan budaya yang bersifat kebendaan. Bentuknya bisa berupa museum seperti yang akan kita kunjungi ini, bisa juga berupa benda, struktur, situs, atau kawasan."


Sumber foto: IG @monjaliyogyakarta

Beberapa saat kemudian, bus yang kami tumpangi pun tiba di tujuan, di area samping kanan Museum Monumen Jogja Kembali. Begitu pintu bus dibuka, hawa panas langsung menyergap. Matahari benar-benar memanggang Yogyakarta siang itu. Untungnya "senjata" saya sejak di Borobudur tadi selalu saya bawa: payung.

"Monggo salat zuhur dulu dan makan siang, sebelum kita masuk museum, ya!" Koordinator bus memberikan arahan seraya membagi-bagikan nasi kotak.

Oke, deh!

Catatan Berharga tentang Monjali untuk Anak Negeri


Tiket masuk seharga sepuluh ribu rupiah per orang sudah diserahkan di pintu masuk. Rombongan kami berjalan beriringan di bawah terik matahari menuju pelataran Monjali di sebelah barat, menuju pintu masuk yang mengarah ke lantai satu. 

Hawa sejuk langsung terasa ketika saya tiba di lantai satu tersebut. Peluh yang tadi membanjir mulai mengering, tubuh pun lebih bersemangat untuk menyambut rasa ingin tahu tentang keseluruhan isi museum. 

Maka inilah catatan untuk direnungkan yang saya peroleh selama berada di Monjali:

1. Atap Monjali dan Filosofi Kokohnya


Saya terkesima menyaksikan bentuk Monumen Jogja Kembali yang mengerucut seperti gunung dengan tinggi 31,8 meter itu. Bentuk atap Monjali itu ternyata ada maksudnya. Dimana ada gunung, biasanya tanah di sekitarnya subur. Atap gunung itu seakan mengingatkan bahwa Yogyakarta itu "subur" akan warisan sejarah dan budaya.

Suasana khas Yogyakarta memang tiada duanya. Atmosfer langsung terasa berbeda begitu menapak tanahnya: njawani dan ngangeni! Begitulah yang saya rasakan setiap kali berada di Yogyakarta.

Saya berpose di sebelah barat Monjali, berlatar atap Monjali yang berbentuk seperti gunung

Selain itu, gunung yang melambangkan kekokohan itu seakan mengatakan bahwa kondisi Yogyakarta -yang saat itu adalah ibukota negara Indonesia- tetap kokoh tak tergoyahkan. Belanda menyerang, pahlawan Indonesia tak gentar berjuang. Kemerdekaan Indonesia harus terus dipertahankan!

Ya, Monjali seakan mengingatkan saya bahwa Indonesia pernah berpindah ibukota -dari Jakarta ke Yogyakarta- pada tanggal 4 Januari 1946. Saat itu, Yogyakarta adalah tempat yang dinilai paling aman dari segi keamanan, politik, dan ekonomi. Situasinya memang sedang darurat setelah Jakarta dikuasai oleh Belanda yang ingin terus berkuasa walaupun kemerdekaan Indonesia sudah diproklamirkan.

2. Pembangunan Monjali yang Penuh Perhitungan


Monumen yang dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektar di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman itu terletak pada sebuah "sumbu imajiner" yang disebut Poros Makrokosmos atau Sumbu Besar Kehidupan. Ini adalah perwujudan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Seimbang. Bukankah memang seharusnya kita demikian dalam menjalani kehidupan?

Jadi, jika ditarik sebuah garis imajiner dari Monjali yang berada di bagian utara Yogyakarta itu akan mengarah pada empat tempat penting yang terletak di sebelah selatan yaitu Tugu Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Pantai Parang Tritis. Juga mengarah pada satu tempat penting lain yang berada di sebelah selatan yaitu Gunung Merapi.


Sumber: tripadvisor.com (daru222)

Ya, pembangunan Monjali yang berawal dari ide Walikota Yogyakarta saat itu, Kolonel Sugiarto, memang didirikan dengan penuh perhitungan. Ada ritual penanaman kepala kerbau sebagai tanda dimulainya pembangunan monumen pada tanggal 29 Juni 1985. Adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam XIII yang melakukan peletakan batu pertamanya. Setelah selesai pembangunannya, pada tanggal 6 Juli 1989 Presiden Soeharto pun meresmikan Monjali dengan penandatanganan prasasti.

3. Lantai Satu, Ruangan Penuh Pesan Kehidupan


Ruangan luas berlantai cokelat di lantai satu itu menyambut saya dan rombongan dengan beragam kutipan dari para pahlawan. Misalnya saja perkataan dari Cut Nyak Dien berikut ini: "Kita tidak akan menang bila kita masih mengingat semua kekalahan." Jlebb! Sebuah pesan yang berlaku sepanjang masa agar kita tidak lelah berjuang. Sempat limbung? Cepat bangkit lagi dan move on! 

Tampak juga replika Tugu Yogya yang silih berganti didatangi pengunjung untuk diabadikan bersama. Saya jadi teringat salah satu filosofi tugu yang juga disebut sebagai Tugu Pal Putih itu: barangsiapa berfoto dengan Tugu Yogya, dia akan kembali lagi mengunjungi Yogyakarta. Percaya gak nih?

Patung Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Kutipan, dan replika Tugu Yogya (dok. pribadi)

Perhatian saya segera teralihkan oleh aba-aba agar rombongan kami segera memasuki ruangan auditorium. Akan ada pemutaran film dokumenter tentang perjuangan para pahlawan Yogyakarta melawan Belanda di sana. Setelah semua peserta masuk, ruangan auditorium menjadi gelap seperti suasana di bioskop. Saya yang terus berada di samping Afra, merasakan kebanggaan bercampur keharuan sepanjang pemutaran film bersejarah yang berlangsung sekitar 15 menit tersebut.

Ruang auditorium, tempat pemutaran film dokumenter (dok. pribadi)

Usai menyaksikan film, kami beralih ke ruangan lain di lantai satu itu yaitu museum yang menyimpan koleksi bersejarah yang digunakan selama tahun 1945 hingga 1949. Ada beragam benda antik dan kuno milik para pahlawan, beraneka senjata, seragam para pejuang, kumpulan foto yang merekam peristiwa penting, dan replika benda-benda di masa perang. Sungguh bukan benda-benda biasa, pasti ada cerita pengorbanan yang menyertainya.

Yang paling menarik perhatian saya adalah tandu yang pernah dipakai oleh Jenderal Soedirman selama beliau memimpin perang gerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam kondisi sakit, Jenderal Soedirman tetap memimpin gerilya dengan ditandu mulai dari wilayah Gunungkidul hingga Jawa Tengah. Sekitar 1.009 kilometer telah ditempuh beliau bersama pasukan dengan memakan waktu selama 7 bulan. Masya Allah!

Tandu Jendral Soedirman (dok. pribadi)

Tandu itu memang hanya sederhana: kursi biasa yang diikatkan pada bambu dan atasnya diberi selimut. Namun, ada pesan luar biasa bahwa tidak ada alasan berhenti berjuang walaupun berada dalam keterbatasan. Hormat padamu, Wahai Jenderal Soedirman! Pantaslah namamu abadi dan dijadikan nama jalan-jalan utama di negeri ini. Namamu besar, sebesar jiwamu.

4. Lantai Dua, "Buku Sejarah" Berbentuk Relief dan Diorama


Naik ke lantai dua bagian luar, saya dan rombongan disambut oleh berbagai relief di sepanjang sisi tembok. Tercatat, ada 40 relief yang menggambarkan peristiwa bersejarah mulai dari proklamasi kemerdekaan hingga diakuinya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca bebasnya Yogyakarta dari cengkeraman Belanda.

Relief perjuangan dan tulisan tangan Bung Karno (wikipedia.org)

Relief-relief itu cukup jelas terbaca walaupun bukan berbentuk buku sejarah. Saya kira, Afra dan teman-temannya amat menikmati "cara membaca" seperti ini. Cukup melangkahkan kaki searah jarum jam dan "mambaca" peristiwa yang tergambar berikut keterangan singkatnya, saya semakin memahami beratnya perjuangan fisik dan diplomasi saat itu demi meraih dan mempertahankan kemerdekaan.

Afra dan temannya di depan diorama yang menggambarkan pertemuan Jenderal Soedirman dan Bung Karno (dok. pribadi)

Sedangkan pada lantai dua bagian dalam, "cara membacanya" lebih menyenangkan lagi. Saya melewati lorong-lorong yang suasananya cenderung temaram dan menyaksikan berbagai diorama berikut narasi yang diperdengarkan terkait peristiwa yang disajikan. Benar-benar terasa hidup dan nyata. Seakan-akan saya sedang berada di sana saat perjuangan kemerdekaan itu terjadi.

5. Lantai Tiga, Mari Mendoakan Pahlawan Bangsa


Setelah puas "membaca" diorama, saya dan rombongan naik lagi ke lantai tiga. Ada ruangan bernama Garbha Graha dengan keterangan: "Ruang hening, ruang khusus untuk mendoakan arwah pahlawan".

dok. pribadi

Saya mendapati sebuah ruangan luas bernuansa putih yang merupakan puncak dari monumen. Suasana hening di ruangan itu memang sesuai untuk merenung setelah menyaksikan berbagai lintasan peristiwa bersejarah di dua lantai sebelumnya. Hening. Jika kita berbicara di sana, niscaya akan timbul gema.


Di bawah "kepalan tangan raksasa" (dok. pribadi) 

Saya menengadah ke atas, ke langit-langit. Di sana ada relief berbentuk kepalan "tangan-tangan raksasa" dan memegang senjata serta bendera. Ada kesan yang tak terlukiskan. Seakan-akan para pahlawan itu sedang "mengawasi" saya dari atas langit sana dan berkata: "Kami sudah berjuang dan mewariskan semangat juang itu padamu. Sekarang adalah giliranmu!" 

Bendera di tengah ruangan, titik tengah Monjali (dok. pribadi)

Ada juga tiang bendera yang terdapat tepat di tengah ruangan, tepat juga berada di titik tengah monumen. Tentu saja Sang Merah Putih melekat pada puncak tiang bendera itu. Ruangan lantai tiga yang menyampaikan pesan tentang perjuangan yang telah mencapai puncaknya, berhadiah kemerdekaan atas jasa para pahlawan, dan tentu saja atas izin dari Tuhan Yang Maha Esa.

Saya merenung cukup lama di sana. Saya lantunkan Al Fatihah untuk para pahlawan bangsa.

6. Pahlawan Kadang Tidak Dikenal Namanya


Agenda merenung saya yang agak lama membuat saya, Afra, dan seorang temannya tertinggal rombongan. Rupanya sebagian besar sudah keluar Monjali lewat pintu depan bagian selatan. Kami pun buru-buru menyusul mereka.

Begitu keluar dari pintu lantai tiga bagian selatan itu, hawa panas dan angin kencang kembali menyambut kami. Saya menatap lurus ke depan dan mendapati prasasti di dinding yang lebar itu. Nun jauh di sana, terukir abadi nama 422 orang pahlawan yang gugur dalam rentang waktu 19 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949. Di situ terdapat pula puisi legendaris "Karawang-Bekasi" karya Chairil Anwar yang dipersembahkan untuk para pahlawan yang tak dikenal namanya.

Saya berpose dengan latar belakang prasasti nama pahlawan nun jauh di depan sana (dok. pribadi)

Mereka -yang namanya terukir itu dan yang tak tersebut- mungkin tidak seterkenal Soekarno-Hatta, tidak punya nama besar seperti Jenderal Soedirman, ataupun pahlawan nasional lainnya. Namun kontribusi mereka untuk kemerdekaan negeri ini jelas tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka telah mengajarkan tentang ketulusan berjuang dengan nyawa sebagai taruhan. 

Merawat Monjali, Cagar Budaya Bernilai Historis Tinggi


Enam catatan di atas hanya sebagian kecil dari hasil pengamatan saya yang terbatas pasca kunjungan ke Monjali. Pastinya banyak hal lain yang bisa digali dan diambil manfaatnya jika kita berkunjung ke salah satu Cagar Budaya kebanggaan Yogyakarta itu. Pelajaran dan manfaat tersebut seharusnya juga dirasakan oleh anak cucu kita sebagai generasi penerus bangsa ini.

Agar manfaat itu terus dirasakan, maka adalah tugas kita bersama untuk merawat Cagar Budaya seperti Monjali yang berupa bangunan dan berisi  benda-benda bernilai sejarah tinggi ini. Adapun upaya perawatan yang harus dilaksanakan oleh pengelola museum dan kita sebagai pengunjung adalah sebagai berikut:

1. Petugas perawat museum yang andal dengan jumlah memadai


Merawat museum itu ternyata lumayan rumit dan butuh ketelatenan. Petugas yang merawat benda-benda museum harus paham betul tentang pengaturan suhu ruangan, pengaturan kelembapan, dan penyinaran yang tepat.

Tepatnya, suhu di dalam museum harus berkisar antara 20-25 derajat celcius. Jika suhunya lebih panas dari itu, koleksi lukisan atau foto bisa cepat mengalami kerusakan karena mengalami pengeringan lebih cepat. Sedangkan kelembapan museum idealnya adalah sekitar 65 % RH. Jika lebih dari itu, jamur akan lebih cepat tumbuh pada benda-benda yang ada.

Higrometer, alat ukur kelembapan udara
Adapun penyinaran pada ruangan museum harus berada pada angka 50 lux dengan ultraviolet 30. Penyinaran yang terlalu tinggi akan membuat benda-benda koleksi museum lebih pudar warnanya dan lebih cepat rapuh seratnya. Hmm, makanya di beberapa bagian ruangan di Monjali memang terkesan suram penerangannya. Ternyata itu ada maksudnya.

Selain andal, petugas yang merawat museum harus berjumlah memadai. Jika jumlah koleksi museum cukup banyak tapi petugas yang merawat sedikit, bisa jadi sebagian koleksi museum menjadi "terlantar" karena dirawat sekadarnya saja.

2. Perlunya digitalisasi museum


Merawat museum tidak hanya mempertahankan benda-benda koleksinya agar tetap terjaga, namun juga menambah "sesuatu" sebagai daya tarik pada koleksi benda-benda museum itu. Ya, digitalisasi. Di zaman serba digital ini, museum pun seharusnya juga mengikuti perkembangan zaman.

Sumber: tempo.co

Misalnya, di samping benda koleksi museum dipasang banner yang terdapat QR Code yang berisi informasi lengkap tentang benda koleksi tersebut. Pengunjung jadi bisa lebih mudah mengakses informasinya melalui gawai yang saat ini dimiliki oleh hampir semua orang. Generasi milenial dan generasi Z pastinya akan lebih tertarik dengan kemudahan ini sehingga tujuan akhir agar mereka lebih peduli pada Cagar Budaya seperti Monjali ini bisa tercapai.

3. Aktif dalam gerakan cinta museum dan Cagar Budaya


Kali ini adalah upaya merawat Cagar Budaya berupa museum yang harus kita lakukan. Merawatnya dimulai dengan mencintai dan mencintai itu dibuktikan dengan sering mengunjungi.

Di Yogyakarta sendiri telah ada komunitas yang bernama Malamuseum yang bergerak di bidang sejarah museum dan Cagar Budaya. Komunitas ini terbentuk sejak tahun 2012 dengan tujuan mengajak masyarakat mencintai tempat bersejarah. Salah satu kegiatan positifnya adalah berwisata edukasi dengan mengunjungi museum di malam hari. Unik, bukan?

Nah, kalau yang ini pas dengan Monjali karena di pelataran Monjali sebelah barat terdapat Taman Pelangi yaitu taman berisi beraneka lampion cantik yang tentunya hanya menyala saat malam hari. Sambil ke Taman Pelangi, sambil ke Monjali. Tentunya "kunjungan khusus" pada malam hari ini harus berkoordinasi dengan pengelola museum karena jam operasional normal Monjali adalah pada pagi sampai siang hari.

Taman Pelangi dengan beragam lampion saat siang hari (dok. pribadi)

Semakin sering kita mengunjungi museum sebagai salah satu Cagar Budaya, semakin banyak pendapatan museum yang didapat dari tiket masuk. Ini tentunya akan menambah anggaran operasional yang berpotensi meningkatkan kualitas dan pelayanan museum tersebut.

4. Menjadi pengunjung museum yang selalu mematuhi aturan


Jika para pengelola museum sudah merawat koleksi museum dengan baik, kita pun harus mendukung upaya mereka dengan selalu mematuhi aturan yang ada. Jangan sampai kunjungan kita malah membawa masalah, apalagi sampai merusak koleksi museum baik secara sengaja atau tidak.

Hal paling utama adalah jangan membawa makanan dan minuman ke dalam lokasi museum. Makanya seperti tersebut di atas, saya dan rombongan makan siang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam Monjali. Memang perlu stamina yang kuat untuk mengelilingi area museum tanpa diselingi dengan ngemil. Saya saat itu begitu menikmati agenda berkeliling Monjali sehingga seperti lupa akan rasa haus.

Merokok, menggunakan flash, dan berteriak juga merupakan larangan yang berpotensi mengganggu pengunjung lain. Selain itu, asap rokok pastinya bisa meninggalkan aroma tak sedap di ruangan dan pada benda koleksi yang dipajang. Belum lagi kemungkinan timbul percikan api, hiks.

Replika perahu yang dibingkai kaca di ruangan lantai satu Monjali (dok. pribadi)

Di Monjali ada benda-benda yang di tempatkan di ruangan kaca dan ada juga yang dibatasi dengan rantai. Itu semua adalah "rambu-rambu" yang berkata bahwa benda koleksinya cukup dilihat dan dibaca keterangannya saja. Jangan melampaui batas!

Corat-coret? Hoho, big no! Jejak aksi corat-coret ini biasa ditemukan pada destinasi wisata lain seperti pada bangku taman atau tempat duduk. Jangan pernah lakukan hal yang sama pada benda-benda Cagar Budaya! Mereka itu sungguh berharga dan tak tergantikan.

5. Sebarkan melalui tulisan dan media sosial


Hari ini, media sosial turut berperan penting pada kecepatan informasi yang sampai kepada kita. Maka gerakan untuk mencintai dan merawat Cagar Budaya yang telah kita lakukan sebaiknya kita sebarkan juga melalui media sosial yang kita punya. Kampanyekan!

Seperti yang saya lakukan sekarang yaitu menuliskan pengalaman pribadi di blog saat berkunjung ke Monjali berikut menyebarkan link-nya melalui akun media sosial saya. Berharap agar aksi sederhana ini turut membawa dampak positif dalam upaya merawat dan menjaga Cagar Budaya.



Suatu hari nanti, saya ingin mengunjungi lagi Museum Monumen Jogja Kembali dengan durasi yang lebih lama. Bagaimana dengan teman-teman semua?

Yuk, ikutan juga Kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”






Salam pecinta Cagar Budaya,

Tatiek










Referensi:

https://www.kompas.com/travel/read/2010/05/30/17052138/Rumitnya.Merawat.Museum

https://www.ui.ac.id/tim-arkeolog-ui-lakukan-digitalisasi-museum-puro-mangkunegaran-surakarta/

http://wargajogja.net/komunitas/mengenal-museum-dan-cagar-budaya-dengan-malamuseum.html

Sumber foto cover: kompas.com