It's My World Full of Words

May 15, 2018

Meraih 5 Sumber Kekayaan Ramadan. Siapa Tahu Ini Adalah Ramadan Terakhirku

by , in


Love is everywhere

So much peace fills up the air

Ramadan month of the Quran

I feel it inside of me, strengthening my iman

But how I wish you’d be here with me all year around 

(Ramadan by Maher Zain)


Tidak terasa sebentar lagi bulan Ramadan 1439 Hijriyah akan segera tiba. Waktu begitu cepat berlalu. Seakan baru kemarin kita menangis tersedu karena berpisah dengan bulan Ramadan tahun lalu. Seolah-olah baru beberapa saat saja kita melantunkan doa agar umur kita disampaikan pada Ramadan tahun berikutnya. Sekarang, saat-saat indah itu akan segera tiba. Segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan kesempatan sekali lagi bagi kita untuk memasuki gerbang bulan suci itu.

Saat menulis ini, Ramadan tinggal dua hari lagi. Doa saya terus terlantun agar umur saya disampaikan hingga nikmat berpuasa Ramadan tahun ini saya rasakan. Ya, siapa yang bisa menjamin panjang usia seseorang? Tiga orang kerabat saya yang Ramadan tahun lalu berpuasa, saat ini sudah terbaring abadi di pemakaman. Beberapa bulan yang lalu mereka dipanggil oleh Allah Swt sehingga Ramadan tahun lalu adalah Ramadan terakhir mereka. Duh, bagaimana jika hal itu terjadi kepada saya tahun depan? Apakah tahun ini akan menjadi Ramadan terakhir bagi saya?

Setiap pertemuan pasti berpasangan dengan perpisahan. Itulah sunatullah, ketetapan Allah Swt yang pasti terjadi. Seperti yang saya tuliskan di atas, kita akan sangat berat berpisah dengan Ramadan yang sebulan penuh dihadirkan Allah Swt dalam keseharian kita. Mengapa? Karena kita mencintai Ramadan, merasakan nikmat beribadah di dalamnya, dan merasa masih kurang menjalaninya. Karena kita cinta, maka kita bersedih saat harus kehilangan. Sebuah kewajaran pada sisi kemanusiaan kita. Kewajaran pada sisi seorang hamba yang memperoleh karunia berupa kesempatan mendulang pahala di bulan mulia.

Perpisahan dengan Ramadan akan terjadi selama-lamanya saat kita ditakdirkan menghadap-Nya. Jujur saja, yang saya takutkan bukan tentang kematiannya karena itu pasti dialami setiap makhluk yang bernyawa. Saya takut karena merasa masih banyak dosa. Saya takut jika beberapa Ramadan yang telah saya lalui ternyata tidak menghapuskan dosa-dosa saya. Saya memang memasuki Ramadan tapi keluar dengan tangan hampa. Menjadi hamba yang merugi karena dosa saya tidak diampuni. Astaghfirullah...

“Dari Ramadan ke Ramadan berikutnya menjadi pengampun dosa-dosa selama dia tidak melakukan dosa besar.” (HR. Ahmad)

Menyimak Ramadan Terakhir Rasulullah
Sebagai hamba Allah Swt yang biasa, kita pasti tidak diberikan tanda-tanda menjelang tutup usia. Kita tidak tahu Ramadan yang manakah yang menjadi Ramadan terakhir bagi kita. Sedangkan tanda-tanda perpisahan diperlihatkan oleh Allah Swt pada diri Rasulullah Saw di Ramadan terakhir beliau. Saat itu, ada yang tidak biasa pada bulan Ramadan tahun 10 Hijriyah. Malaikat Jibril mengetes bacaan Alquran Rasulullah dua kali, padahal pada Ramadan-Ramadan sebelumnya hanya sekali. Lalu, Rasulullah beri’tikaf pada dua puluh hari terakhir Ramadan. Padahal biasanya beliau melakukannya hanya di sepuluh hari terakhir saja.

Saat itu, para sahabat tidak memahami isyarat perpisahan itu. Mereka tidak menyadari bahwa pada Ramadan tahun berikutnya, Rasulullah tidak akan lagi bersama mereka. Bahkan pada bulan Zulhijjah saat Rasulullah berhaji wada’, para sahabat -selain Abu Bakar- masih saja belum menyadari hal itu. Rasulullah berkata, “Aku tidak tahu pasti, boleh jadi aku tidak akan bisa  bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini.”

Kita bisa belajar tentang melipat gandakan amalan dari peristiwa Ramadan tahun 10 Hijriyah itu. Ya, Rasulullah beribadah lebih banyak dari Ramadan sebelumnya. Maka bagi kita yang hanya bisa berharap-harap cemas akan jatah Ramadan terakhir kita, bukankah seharusnya memaksimalkan amal ibadah kita di bulan Ramadan? Sambil menulis ini, saya berniat akan memperbaiki kualitas amal ibadah saya di bulan Ramadan nanti. Ramadan ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya karena siapa tahu ini adalah Ramadan terakhir saya.



Meraih 5 Sumber Kekayaan di Bulan Ramadan
Ramadan adalah bulan penuh sumber kekayaan dan kita diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk meraihnya begitu memasukinya. Tapi untuk meraihnya, kita memang memerlukan persiapan di bulan-bulan sebelumnya agar terbiasa. Maka kesungguhan kita mempersiapkan diri sejak Rajab dan Sya’ban akan melatih kita siap bertempur saat Ramadan tiba. Alangkah beruntungnya orang-orang yang beriman yang mampu meraih kelima sumber kekayaan Ramadan berikut ini:

1. Kunuzu Alquran (Sumber Kekayaan Alquran)
Nama lain dari Ramadan selain Syahru Shiyam adalah Syahrul Quran atau bulannya Alquran. Sebagaimana yang tercantum pada awal surat Al Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ


“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”


Lantunan kalamullah biasanya terdengar lebih sering di bulan ini. Bersahutan dari masjid ke masjid atau musala ke musala. Banyak pula yang membacanya di rumah saja. Alangkah syahdunya suasana Ramadan yang dihiasi ayat-ayat suci itu. Suasana tersebut membuat muslimin yang di luar bulan Ramadan jarang membaca Alquran, menjadi lebih rajin berinteraksi dengannya. Sudah lazim terjadi mereka meng-khatamkan bacaan Alquran di bulan Ramadan, bahkan lebih dari sekali.



Saya bertekad untuk bisa meng-khatamkan Alquran dua kali pada Ramadan kali ini. Di luar Ramadan saya terbiasa membaca setengah juz sampai satu juz sehari. Tinggal mengatur ulang jadwal harian dan mengefektifkan kegiatan selama Ramadan agar bisa menyelesaikan dua juz dalam sehari. Penyemangatnya adalah suami saya yang -Insya Allah- adalah pecinta Alquran, juga putri saya yang bertekad untuk ber-one day one juz. Sungguh saya tidak ingin menunda-nunda kesempatan bermesraan dengan Alquran, karena siapa tahu inilah kesempatan terakhir saya menikmati Ramadan.

2. Kunuzu Tarawih (Sumber Kekayaan Tarawih)
Ibadah khas yang mewarnai Ramadan adalah salat Tarawih. Makna dari tarawih adalah istirahat sejenak. Jadi salat tarawih adalah salat sunnah yang ditunaikan setelah beristirahat sejenak selepas melaksanakan sunnah bakdiyah Isya. Maka tujuan dari salat tarawih adalah mengistirahatkan tubuh, membersihkan hati, dan meninggikan jiwa. Boleh memilih 11 rakaat atau 23 rakaat asalkan tujuan salat Tarawih bisa dicapai. Tidak sekadar melaksanakan tapi bisa menikmati ketenangan yang ditimbulkannya. Karena pada dasarnya salat Tarawih adalah salat tahajjud yang ‘dimajukan’ waktunya pada bulan Ramadan.

Kekhasan dari salat Tarawih inilah yang menggembirakan bagi saya. Apalagi tahun ini insya Allah saya akan mencoba membawa serta si kecil ke musala untuk melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Maksud saya tentu saja mengenalkan padanya akan suasana salat berjamaah. Ramadan tahun lalu belum bisa karena dia masih terlalu kecil. Strateginya, saya bergantian dengan ibunda saya untuk menjaganya. Kami akan salat bergantian nantinya. Pastinya saya jadi tidak full melaksanakan 23 rakaat tarawih di musala. Insya Allah bisa saya lengkapi di rumah jika si kecil sudah tidur.



Seorang muslimah lebih baik salat di rumah. Tentu saja tidak dilarang untuk pergi salat berjamaah di musala atau masjid, asalkan dia bisa menjaga batasan-batasan yang ditentukan oleh syariat. Bagi saya, salat tarawih akan terasa lebih afdhal jika dilaksanakan berjamaah. Sebagaimana awal mula salat tarawih ini terjadi karena para sahabat menyaksikan Rasulullah melakukan salat tahajjud di bulan Ramadan. Lalu mereka pun menjadi makmum dan Rasulullah mengimami salat tahajjud tersebut yang di kemudian hari disebut sebagai salat tarawih.

“Barangsiapa bangun malam untuk menjalankan salat pada bulan Ramadan, disertai iman dan karena ingin memperoleh perkenan (ridha) ilahi, dosanya akan diampuni.” (HR. Bukhari)

3. Kunuzul Fajr Ila Dhuha (Sumber Kekayaan Pagi hingga Dhuha)
Seorang muslim yang selesai salat Subuh lalu tetap duduk di tempatnya sampai waktu Dhuha untuk berzikir, pasti akan mendapatkan limpahan pahala yang sangat besar. Apalagi jika itu dilakukan di bulan Ramadan. Bagi saya, Ramadan memberi kesempatan bagus untuk itu karena kesibukan menyiapkan sarapan atau memasak di pagi hari teralihkan ke sore hari. Nikmat kesempatan untuk lebih fokus berzikir itu mulai saya dapatkan setelah saya memutuskan untuk ‘bekerja’ di rumah. Alhamdulillah…

Allah Swt Maha Baik. Tetap ada limpahan pahala yang sama bagi mereka yang harus bersegera melakukan aktivitas setelah salat subuh dan tidak memungkinkan untuk duduk berzikir sampai Dhuha. Rasulullah mencontohkan untuk mengucapkan kalimat thayyibah ini sebanyak tiga kali di waktu pagi: “Subhanallah, wabihamdihi adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midada kalimaatihi.” Maka saya ingin rutin mengucapkan itu setiap pagi di bulan Ramadan ini. Semoga amalan ringan tapi berpahala besar itu bisa menjadi bekal baik saya.

4. Kunuzul Masajid (Sumber Kekayaan di Masjid)
Bulan Ramadan menjadikan keramaian masjid meningkat dari sebelumnya. Membuka peluang bagi kaum muslimin untuk berlomba memakmurkan masjid dengan berbagai aktivitas keislaman. Tidak hanya salat berjamaah tapi juga kajian-kajian seputar Ramadan yang menjanjikan kesejukan bagi hati yang merindukan nasihat dan ilmu. Keramaian yang mengingatkan akan sabda Rasulullah tentang salah satu golongan yang akan mendapat naungan dari Allah Swt di hari akhir yaitu para pecinta masjid.



Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, biasanya masjid penuh oleh kaum muslimin yang ingin beri’tikaf. Tahun lalu saya tidak bisa melakukannya, semoga tahun ini bisa walaupun sepertinya tidak bisa full sepuluh hari. Tantangannya adalah letak masjid yang menggelar i’tikaf cukup jauh dari tempat saya, sementara suami saya yang bekerja di luar kota baru datang di akhir pekan. Saya tidak mungkin memaksakan diri. Saya tetap bisa mencurahkan kecintaan kepada masjid dengan beberapa kali salat tarawih di sana, bergantian dengan kehadiran di musala. Juga menghadiri beberapa kajian yang diselenggarakan. Insya Allah.

“Berilah kabar gembira kepada mereka yang berjalan dalam kegelapan ke masjid, bahwa mereka akan memperoleh cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Abu Daud)

5. Kanzul Istighfar (Sumber Kekayaan Istighfar)
Ramadan adalah bulan ampunan. Ini adalah saat yang tepat untuk banyak-banyak memohon ampunan-Nya atas segala dosa yang telah kita lakukan. Saya sendiri bertekad untuk memperbanyak istighfar di bulan ini. Mengucapkan “astaghfirullah” sembari merenungi maknanya semoga bisa melunturkan dosa-dosa yang saya khawatirkan akan terbawa hingga akhir kehidupan.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Anas bin Malik mencontohkan waktu terbaik di bulan Ramadan untuk berdoa dan memohon ampunan yaitu menjelang berbuka puasa. Beliau biasanya memanggil anak dan cucunya untuk berdoa bersama di waktu itu. Pelajaran berharga bagi kita agar tidak sekadar mementingkan hidangan untuk berbuka dan malah melalaikan waktu mustajabnya doa tersebut.



Alangkah bahagianya saya jika bisa optimal meraih kelima sumber kekayaan Ramadan di atas sehingga saya pantas berpredikat hamba yang bertakwa. Kewaspadaan bahwa Ramadan ini adalah yang terakhir kali dalam hidup semoga bisa memacu semangat saya agar bisa istiqamah setelah Ramadan berlalu. Sulit memang karena iman ini biasanya berfluktuasi. Hanya rahmat Allah Swt yang bisa menyelamatkan saya. Duhai Allah, hamba memohon kasih sayang-Mu selalu. Aamiin.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1439 Hijriyah.







Tulisan ini diikutsertakan dalam program Postingan Tematik Spesial Sambut Ramadan yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia dengan tema: Jika Ini Ramadan Terakhirku

#PostinganTematik
#PosTemSpesialRamadan
#BloggerMuslimahIndonesia

Sumber bacaan: Majalah Tarbawi edisi 72/ November 2003
Sumber gambar: pixabay
April 07, 2018

Hadiah Ulang Tahun yang Berharga untuk Afra

by , in


Umur anak sulung saya, Afra, bertambah satu setiap tanggal 7 Maret. Rasanya baru kemarin saya melahirkan dia, ehh tahu-tahu sekarang sudah sebelas tahun usianya. Orang-orang biasanya berkata, “Wah, anake wis perawan.” Artinya: wah anaknya sudah gadis. Saya langsung ingin menghitung jumlah uban di kepala, hehe.

Ada suasana yang berbeda pada tanggal 7 Maret 2018 yang lalu. Afra ‘merayakan’ ulang tahun di sebuah momen yaitu Olimpiade Matematika dan IPA (MIPA) tingkat SD/MI se-Kabupaten Malang. Ini adalah lanjutan dari lomba OSN tingkat kecamatan yang sebelumnya diikuti Afra. Setelah menjalani ‘masa karantina’ selama kurang lebih sebulan, Afra beserta tiga orang anak lainnya harus mewakili Kecamatan Pakisaji untuk berlomba di ajang ini bersama perwakilan 32 kecamatan lain yang ada di Kabupaten Malang. Sebuah kesempatan berharga untuk anak desa seperti dia. Alhamdulillah.


Dua piala yang diperoleh Afra di tingkat kecamatan

Baca juga: Anak Desa yang Berbahagia

Beberapa hari sebelum hari-H, saya memperoleh informasi dari pihak sekolah dan guru pembina di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) agar pihak orang tua ikut mendampingi Afra saat mengikuti Olimpiade tersebut. Tujuannya agar si anak merasa nyaman dan rileks saat berjuang.
    “Kita harus berangkat dari rumah jam 5 pagi lho, Mi,” kata Afra, senada dengan yang disampaikan oleh gurunya.
Saya yang awalnya berpikir tentang jadwal yang sepagi itu akhirnya memaklumi karena tempat penyelenggaraannya berada di Lawang. Itu adalah sebuah kecamatan yang terletak di bagian paling utara, berbatasan dengan Kabupaten Pasuruan. Biasanya sering terjadi kemacetan di sana sehingga berangkat lebih pagi adalah usaha untuk meminimalisir keterlambatan.

Setelah berunding dengan suami yang sedang berada di Surabaya, akhirnya saya lah yang ‘bertugas’ mendampingi Afra. Bagaimana dengan si adek Akmal? Eyang Utinya bersedia menjaganya, alhamdulillah. Maka ini adalah momen pertama kali saya berjauhan dengan Akmal dengan durasi yang cukup lama. Kami pun berangkat pagi-pagi sekali sesuai instruksi. Ada mobil yang menjemput kami, berisi dua orang guru dari sekolah Afra dan Ibu Kepala Sekolah-nya. Awalnya saya mengira mobil tersebut adalah taksi online, ternyata yang jadi sopirnya adalah mantan kepala desa saya yang merupakan kakak dari gurunya Afra, hehe. Gelap, sih. Ngapunten nggih, Pak.


Afra (kanan) bersama Zulma, perwakilan kecamatan Pakisaji dari SDN Kebonagung 06

Rombongan kami bergabung dulu dengan rombongan dari UPTD dan rombongan tiga peserta yang lainnya. Saya sempat berbincang-bincang dengan salah seorang ibu dari teman baru Afra. Ya, saat menjalani karantina sebulan lamanya, Afra tentu saja mendapat teman-teman baru yang berasal dari sekolah dasar lain. Uniknya, ada salah seorang temannya itu yang namanya sama dengan si adek yaitu Akmal. Wah, calon nama populer ini, hehe. Beberapa saat kemudian rombongan kami pun berangkat beriringan menembus pagi menuju sasaran, SDN Kalirejo 02, Lawang.

Perjalanan kami cukup lancar jaya, tidak sampai bermacet-macet lama. Baliho dan spanduk besar ucapan selamat datang  dipasang di jalan masuk sampai ke gerbang sekolah yang letaknya berdekatan dengan PT. Otsuka -produsennya Pocari Sweat- itu. Puluhan mobil sudah memenuhi lahan parkir yang disediakan panitia. Tampak grup drum band anak-anak sedang bersiap-siap tampil. Rombongan dari berbagai sekolah pun berdatangan, mulai memadati sekolah dasar yang lumayan luas kawasannya itu. Hmm, sudah lama saya tidak merasakan atmosfer seperti itu. Terakhir kali saya menghadiri keramaian yang hampir sama adalah saat ada pameran pendidikan di Stadion Kanjuruhan, saat saya masih bekerja di luar dulu.


Piala-piala ini dipajang di tengah lapangan, siap diperebutkan

Sayangnya, acara pembukaannya memakai ‘jam karet’. Rupanya Kepala Dinas Pendidikannya sedang ada kendala. Saat beliau dan rombongan datang, acara segera dimulai dengan tarian sambutan yang diiringi gending Jawa. Seingat saya itu adalah Kebo Giro, gending yang biasa digunakan saat ‘temu manten’ dalam tradisi Jawa. Dilanjutkan dengan drum band (saya lupa dari SD mana) yang merupakan juara se-Kabupaten. Uniknya, di tengah performance-nya, beberapa pemain drum band-nya menampilkan tari Topeng Bapang. Yups, itu adalah tari topeng khas Malang yang terkenal itu. Boleh juga tuh kreatifitasnya. Penampilan terakhir adalah aksi polisi cilik, mirip-mirip dengan aksi serupa di istana negara saat upacara tujuh belas Agustus-an tahun lalu. Baru deh setelah itu masuk ke upacara pembukaannya. Wah, saya tidak mengira jika ada rangkaian acara seperti itu menuju ke jam ujiannya.

Saat kumpulan balon dilepas ke udara sebagai tanda dimulainya Olimpiade, Afra dan peserta lain sudah bersiap di dalam kelas sekitar satu jam sebelumnya. Mereka mendapat pengarahan sekaligus dipersilakan sarapan di sana. Masing-masing kelas terdiri dari dua puluh dua peserta. Deretan kelas bagian barat untuk peserta Olimpiade IPA, sedangkan yang di bagian timur untuk Matematika. Begitu tes tulis dimulai, giliran bapak ibu guru pendamping beserta orang tua yang dipersilakan sarapan di tenda besar yang terletak di bagian selatan. Ternyata walaupun hanya jadi penonton, saya merasa lapar juga, hehe. Apalagi anak-anak yang sedang mengerjakan soal di dalam kelas sana, ya. Hmm, kerjakan saja dengan bahagia ya, Nak.


Kartu peserta Afra

Sarapan selesai ditunaikan. Lalu para guru dari berbagai penjuru Malang itu memanfaatkan waktu menunggu dengan saling sapa sana-sini. Rupanya di sana banyak teman lama yang bersua kembali. Reuni, deh. Saya tentu saja hanya berbincang dengan beberapa orang tua, kadang dimintai tolong para guru untuk memotret mereka yang reuni itu. Lha tengok kanan-kiri, tidak ada teman guru SD yang saya kenal dan hadir di sana. Ah, saya lupa tidak membawa buku saat guru dan kepala sekolah Afra berbaur dengan teman-temannya. Saat percakapan dengan mereka habis, lumayan sebenarnya jika saya bisa membaca buku sembari menunggu selama 90 menit itu.

Menit demi menit pun berlalu. Bel tanda selesai tes tulis akhirnya berbunyi. Para peserta pun keluar ruangan satu per satu. Saya dan guru-guru Afra menyambutnya. Wajah anak saya itu tampak biasa-biasa saja, hanya jilbabnya agak naik ke atas. Mungkin itu tanda ia selesai berpikir keras. Ternyata...
   “Bener kata Ummi, soal-soalnya tidak sesulit yang aku kira,” bisiknya santai. 
Saya hanya tersenyum. Ya, ia harus berlatih dengan soal-soal IPA yang cukup sulit selama karantina. Pernah saat soalnya dibawa pulang ke rumah, kening saya dan Abi-nya jadi berkerut-kerut karenanya. Saat itu saya bilang padanya bahwa lebih baik berlatih dengan soal yang sulit agar tidak kaget saat menghadapi tes yang sesungguhnya. Alhamdulillah, anak saya akhirnya bisa memahami maksud saya saat itu.

Tes tulis yang diikuti oleh 132 peserta (66 peserta IPA dan 66 peserta Matematika) itu nantinya akan menyisakan 12 peserta saja. Masing-masing mapel hanya ‘mengambil’ 6 peserta terbaik yang akan menjalani tes praktik sampai sore hari. Sekitar jam 11 siang, pengumuman itu baru dibacakan. Nama Afra tidak termasuk di dalam 12 anak yang disebutkan panitia. Saya memerhatikan ekspresi wajahnya, masih lempeng.
   “Gak papa, kalo aku gak lolos kita jadi bisa pulang lebih awal, Mi,” katanya.
  "Iya, sudah kangen adek nih rasanya,” jawab saya. Memang iya, sampai sesiang itu tidak menggendong si kecil rasanya aneh bagi saya.
  “Pencapaian kamu sudah bagus kok, Fra. Yang terbaik sekecamatan ya kamu itu,” kali ini ibu kepala sekolahnya yang mencoba menghiburnya.
Gurunya pun ikut menimpali dengan kata-kata motivasi yang hampir sama. Terima kasih, Cikgu!


Afra berpose bersama Bu Sholihah, guru agama dan Bu Endang, Kepsek

Kami segera melangkah keluar dari arena tersebut beberapa saat kemudian. Ada beberapa peserta yang terlihat menangis, persis seperti suasana eliminasi Hafizh Indonesia di televisi.
Sambil berjalan, anak saya itu tersenyum tipis dan berbisik,
   “Aku sudah kangen juga sama teman-teman di kelas, Mi. Kalau misalnya aku lolos trus karantina lagi, kapan aku ketemu mereka?”
Ya, ya. Karantina selama sebulan-an itu telah ‘mengambil’ kebersamaannya dengan teman-teman di sekolah. Afra harus belajar bersama calon peserta lainnya selama jam pelajaran di sekolahnya berlangsung. Tentu saja itu menyenangkan baginya karena ia hanya belajar tentang IPA saja. Ia juga bisa mengenal teman-teman barunya cukup baik. Tetapi rupanya ia sudah rindu bercanda dengan teman-teman di kelasnya yang lebih lama menemani belajarnya.

Hari ini, tepat sebulan peristiwa itu berlalu. Sayang rasanya jika saya tidak menuliskan kisah tentang hadiah ulang tahun Afra di sini. Secara hasil, Afra memang tidak maju ke babak selanjutnya. Tapi bagi kami sebagai orang tua, ia sudah memenangkan pelajaran baru di umurnya yang juga baru. Ia menyadari tentang arti kolaborasi saat di karantina. Ia belajar fokus saat memperdalam materi IPA yang disukainya itu. Ia tentu saja terus berdoa dan belajar tentang sebuah ketenangan saat menjalani proses di hari-H. Ia tetap tersenyum saat hasil akhir mengatakan bahwa masih ada langit di atas langit. Yang  dijalaninya adalah tes akademik, tapi ia sekaligus belajar tentang kecerdasan sosial, spiritual, dan emosional.

Syukurlah, Nak. Kamu dengan cepat bisa merenungkan ‘hadiah’ dari Allah Ta’ala pada hari itu. Perjalanan masih panjang. Tetaplah belajar dengan bahagia. Insya Allah, sebuah buku antologi yang Ummi tulis bersama 49 orang teman penulis yang lain akan membersamai belajarmu kelak. Ya, itu adalah antologi tentang 50 percobaan sains sederhana. Semoga buku itu segera terbit dan jadi hadiah indah yang lain bagimu. Aamiin.

Salam,

March 16, 2018

Saat Prive Uri-Cran Memberi Harapan: Cegah dan Atasi Anyang-anyangan

by , in
Sumber: IG @uricran.id

Kisah di bawah ini terjadi saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika jam pulang sekolah tiba, saya bergegas keluar kelas dengan tergesa-gesa. Sepanjang hari, saya terpaksa bolak-balik ke kamar mandi sekolah. Ada sebuah keinginan untuk buang air kecil yang susah ditahan. Begitu sampai di ‘TKP’, urin yang keluar cuma sedikit. Duh!

Begitu tiba di rumah, kamar mandi lah ruang yang pertama saya masuki.
“Kenapa tergesa-gesa seperti itu?” tanya ibu saya setelah saya keluar dari kamar mandi.
“Kebelet pipis, Bu. Dari tadi begitu terus. Tapi yang keluar sedikit,” keluh saya seraya menceritakan rasa perih di area kewanitaan.
“Wah, kamu anyang-anyangan itu. Sini, jempol kakinya diikat pakai ijuk dulu,” ibu saya mengambil sapu ijuk, menarik beberapa helai, dan mempraktikkan apa yang diucapkannya tadi.

Saya yang masih imut-imut tentu saja menurut apa kata beliau. Lalu bagaimana hasilnya? Berangsur-angsur anyang-anyangan itu mereda. Tapiii… sebenarnya menurut saya bukan karena tindakan itu.

Ceritanya, setelah ayah saya pulang kerja, beliau menganjurkan saya untuk meminum air putih lebih banyak. Ya, waktu saya memang agak malas minum air putih jika tidak diingatkan. Dan di sekolah, saya sering sekali menahan keinginan buang air kecil karena enggan pergi ke toilet yang waktu itu kondisinya menyedihkan. Jika tidak kebelet bener, mending ditahan-tahan sampai pulang. Padahal hal-hal itulah yang menjadi penyebab sakit saat buang air kecil yang saya alami saat itu. 

Anyang-anyangan, Sebuah Gejala Awal yang Sering Diabaikan

Saya dulu tentu saja tidak tahu bahwa anyang-anyangan itu sebenarnya tidak boleh diabaikan. Ah, hanya sekedar kebelet pipis tapi tidak terlampiaskan. Tidak nyaman sih, karena harus bolak-balik ke kamar mandi. Hoho, padahal anyang-anyangan ini sebenarnya adalah gejala awal dari Infeksi Saluran Kemih (ISK). Saat saya mendengar kata ‘infeksi’ baru lah timbul kewaspadaan. Ngeri juga ternyata.

Sumber: medkes.com

Nah, ISK adalah kondisi ketika organ yang termasuk ke dalam sistem kemih (ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra) mengalami infeksi. Anyang-anyangan masuk ke dalam kategori ISK bagian bawah atau biasa disebut sistitis, dimana yang terinfeksi adalah bagian uretra dan kandung kemih. Sedangkan ISK bagian atas yang disebut pielonefritis itu menyerang ginjal dan ureter yang tentu saja lebih menyiksa rasanya. Selain merasakan anyang-anyangan, seseorang yang menderita pielonefritis biasanya juga mengalami demam dan nyeri pada panggulnya.

Mengutip wikipedia, anyang-anyangan yang mengakibatkan sakit saat buang air kecil ini lebih sering terjadi pada wanita daripada pada laki-laki, lho. Singkatnya, 5 dari 10 perempuan pernah mengalami anyang-anyangan selama hidupnya. Saya sih, iya. Seingat saya -seperti tersebut di atas-saya pernah mengalami anyang-anyangan saat masih SD dan saat awal-awal menikah dulu. Pernah mendengar istilah ‘sistitis bulan madu’? Itu adalah anyang-anyangan yang timbul begitu seorang wanita mulai aktif secara seksual. Juga saat saya hamil besar, maunya bolak-balik ke kamar mandi melulu untuk BAK.

Sumber info: wikipedia


Penyebab Anyang-anyangan pada Wanita

1. Bakteri Escherichia coli atau E. coli
Ini adalah jenis bakteri yang sebenarnya terdapat pada usus besar manusia. Tugas dari E. coli adalah untuk membantu proses pencernaan dan memproduksi vitamin K. Tapi jika ia berpindah tempat, hal itu dapat menimbulkan infeksi.

Perpindahan bakteri E. coli bisa terjadi jika seseorang yang selesai melakukan buang air besar atau buang air kecil salah dalam melakukan cebok. Seharusnya, cebok dilakukan dengan arah yang benar yaitu dari depan ke belakang.

Selain itu, bakteri E. coli bisa ditularkan melalui tangan yang bersentuhan dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi, juga hewan peliharaan. Maka mencuci tangan dengan sabun dan air yang mengalir harus dibiasakan juga agar E. coli-nya tidak ‘menumpang’ pada tangan kita.

2. Menahan Buang Air Kecil dan Dehidrasi
Ini ada hubungannya dengan sebab di atas. Saat E. coli sudah menghuni saluran kemih, ia akan semakin berkoloni jika kita menahan untuk tidak buang air kecil. Penting untuk melakukan buang air kecil secara teratur setiap 3-4 jam. Agar lancar, asupan air putih juga harus cukup. Jangan sampai tubuh mengalami dehidrasi sehingga menyulitkan pembuangan racun tubuh dalam bentuk urin itu.

3. Kebersihan Area Kewanitaan
Jika seorang wanita mengalami keputihan, akan terdapat banyak bakteri dan jamur di area kewanitaannya. Bakteri atau jamur ini bisa masuk ke saluran kemih. Maka ia harus sering mengganti celana dalamnya, yang berarti juga harus sering membasuh area kewanitaannya dengan air yang mengalir. Hindari memakai celana dalam yang ketat dan terbuat dari bahan yang tidak menyerap keringat. Keduanya dapat memperparah kondisi keputihan yang sedang dialami.

Kebersihan area kewanitaan pasca melakukan hubungan intim juga harus diperhatikan baik-baik. Biasakan untuk membasuh area tersebut dengan air mengalir agar bakteri atau jamurnya menjauh dari situ. Jangan langsung tidur, ya!

4. Kehamilan
Saat seorang wanita sedang hamil tua, kandungannya yang membesar itu akan menekan kandung kemih. Maka ia akan sering terdorong untuk buang air kecil walaupun sudah berkali-kali dan urin yang keluar pun sedikit-sedikit saja. Duh, jadi teringat kenangan indah itu: perut besar dan langganan ke kamar mandi.

5. Menopause
Wanita yang telah mencapai menopause atau berhenti haid akan mengalami kadar estrogen yang menurun. Maka resiko terkena anyang-anyangannya lebih besar karena hilangnya flora vagina yang melindungi area kewanitaannya. Nah, ibu saya pernah juga mengalami ini saat sudah memasuki menopause-nya.

Buah Cranberry: Si Pencegah dan Pembasmi Anyang-anyangan

Mencegah dan mengatasi susah buang air kecil secara alami dan minim efek samping? Mau, dong! Nah, buah cranberry bisa menjadi solusinya. Dari namanya, Cranberry ini tentu saja termasuk keluarga berry-berry-an alias masih bersaudara dengan blueberry, raspberry, dan yang lainnya. Buah yang berwarna merah tua ini memiliki nama latin Vaccinium Oxycoccos. Ia adalah buah yang kaya akan proanthocyanidin yang berfungsi mencegah bakteri E. coli menempel pada saluran kemih.

Sumber: uricran.id

Sayang sungguh sayang, buah ini sangat sulit ditemukan di Indonesia. Ya, karena cranberry ini berasal dari Amerika bagian utara dan Kanada. Jadi gimana, dong? Gampang, kok karena sekarang sudah ada ekstraknya. Namanya: Prive Uri-Cran, sebuah produk suplemen makanan yang mengandung ekstrak Cranberry, vitamin C dan probiotik. Suplemen kesehatan yang diproduksi oleh PT. Combiphar ini adalah jawaban jitu atas pertanyaan: Bagaimana cara mencegah anyang-anyangan? Produk ini adalah pionir alias yang pertama kali ada di Indonesia, lho!

Prive Uri-Cran Plus dalam bentuk sachet (kiri) dan Prive Uri-Cran dalam bentuk kapsul (kanan) / IG @uricran.id


Prive Uri-Cran tersedia dalam bentuk kapsul (Prive Uri-Cran) dan juga dalam bentuk serbuk (Prive Uri-Cran Plus). Tinggal pilih saja mana yang Anda suka, ya.

1 boks Prive Uri-Cran berisi 3 blister yang masing-masing blister berisi 10 kapsul. Aturan minumnya adalah 1-2 kapsul per hari. Komposisinya adalah Vaccinium Macrocarpon (ekstrak Cranberry) 250 mg dan mengandung 18 mg PAC (Proanthocyanidin) Symptoms.


Sedangkan Prive Uri-Cran Plus dalam 1 boks-nya berisi 15 sachet, dengan aturan minum 1-2 sachet per hari. Komposisinya adalah 375 mg Ekstrak Cranberry, 60 mg Vitamin C, 0.1 mg Lactobacillus acidopillus, dan 0.1 mg Bifidobacterium bifidum.

Prive Uri-Cran Plus yang sudah dilarutkan di dalam air (dok. pribadi)

Saya sendiri sudah mencoba Prive Uri-Cran Plus yang dilarutkan dalam segelas air dingin. Rasanya segar, manis bercampur sedikit masam khas buah berry. Seperti yang tersebut di atas, meminumnya setiap hari pun aman bahkan untuk wanita hamil sekali pun. Sedangkan untuk anak-anak, dosisnya adalah setengah dari dosis orang dewasa.




Dengan rutin mengkonsumsi Prive Uri-Cran, kita akan terhindar dari resiko anyang-anyangan dan juga terbebas darinya jika sudah terlanjur ‘kena’. Selain itu, ekstrak cranberry yang terdapat di dalamnya juga bermanfaat untuk meningkatkan kekebalan tubuh, mencegah sariawan, dan sebagai anti oksidan. Wah, lumayan komplit juga ya manfaatnya.


Lalu, di mana sih saya mendapatkan Prive Uri-Cran? Saya yang berdomisili di Malang dapat dengan mudah membeli Prive Uri-Cran di dua apotik berikut ini:

Sumber: uricran.co.id

Anda pun bisa mendapatkan info tentang apotik-apotik yang menyediakan produk ini di website Prive Uri-Cran dan akun instagram Prive Uri-Cran yang sangat informatif.


Salam sehat dan selamat tinggal anyang-anyangan!






Tulisan ini diikutsertakan dalam Uri-Cran SEO & Blog Competition