My Lifestyle, My Journey, My Happiness

January 12, 2020

Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi Bandung, The Campus of Technology

by , in

Salah satu momen paling membahagiakan dan ditunggu-tunggu bagi para mahasiswa adalah momen wisuda. Itu adalah saat belajar dan kerja keras mereka menampakkan hasil akhirnya. Lega dan bahagia. Pasti itu yang dirasakan oleh para wisudawan Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STT Bandung) yang menghadiri momen spesial mereka yaitu Wisuda XIV di awal tahun 2020 ini.

Agenda Wisuda XIV Sekolah Tinggi Teknologi Bandung dilaksanakan pada hari Minggu, 11 Januari 2020 kemarin. Acara tersebut bertempat di Harris Hotel & Conventions, Jalan Peta No. 241, Bojongloa Kaler, Kota Bandung, Jawa Barat. Ada sejumlah 209 wisudawan yang menghadiri momen indah mereka tersebut.

Venue acara Wisuda XIV STT Bandung

Nah, para narablog dari Joeragan Artikel (JA) juga mendapatkan undangan khusus untuk hadir meliput agenda wisuda STT Bandung seperti tahun kemarin. Teman-teman narablog JA yang di Bandung tentu saja bisa hadir di sana, sedangkan kami yang di luar Bandung tetap bisa bertugas meliput secara online via siaran langsung di akun instagram @sttbandung. Tak kalah seru, lho!

Kampus Teknologi yang Terus Meningkatkan Prestasi


Tepat pukul 08.00 WIB, acara wisuda pun dibuka. Para wisudawan yang mengenakan toga berpadu warna biru segera memasuki venue megah yang didominasi warna ungu dan keemasan tersebut. Mereka, 209 wisudawan itu terdiri dari:

1. Wisudawan Prodi Teknik Industri sebanyak 113 orang

2. Wisudawan Prodi Teknik Informatika sebanyak 70 orang

3. Wisudawan Prodi Desain Komunikasi Visual sebanyak 26 orang

Setelah pembacaan aturan wisuda selama lebih kurang 5 menit, Senat Perguruan Tinggi, undangan VVIP, Keynote Speaker, dan Pasukan Penari pun memasuki tempat wisuda. Selanjutnya selama sekitar 10 menit, tergelarlah Tarian Selamat Datang yang merupakan persembahan dari Unit Seni Tari STT Bandung. Keren!

Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom, M.T melakukan Pembukaan Rapat Senat Terbuka

Acara dilanjutkan dengan Pembukaan Rapat Senat Terbuka oleh Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., M.T. Berlanjut lagi dengan agenda menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Mengheningkan Cipta yang diisi oleh Unit Paduan Suara STT Bandung yang diikuti juga oleh segenap hadirin. Ditampilkan pula Mars STT Bandung yang dibawakan dengan cukup apik oleh paduan suara kampus yang berdiri sejak tahun 1991 itu.

Tim paduan suara STT Bandung

Selanjutnya, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., M.T. menyampaikan laporannya selaku Ketua STT Bandung. Beliau merasa bangga terhadap keberhasilan 209 wisudawan yang hadir kemarin. Bapak Naseer juga menyampaikan laporan tentang prestasi para dosen STT Bandung yang saat ini berjumlah 170 orang.

Menurut beliau, para dosen STT Bandung yang sudah bergelar S2 dan S3 sudah mencapai 96%. Ini berarti sesuai dengan kualifikasi yang ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Ditambah lagi, ada 10 orang dosen tetap yang sedang menempuh pendidikan doktoral serta beberapa dosen yang berhasil menerima hibah penelitian sejumlah ratusan juta rupiah. Great!


Tak heran, setiap tahun selalu ada peningkatan jumlah mahasiswa baru. Untuk tahun 2019 kemarin, jumlah mahasiswa baru mencapai 1500 orang. Dari jumlah tersebut, 75% adalah mahasiswa yang berasal dari Jawa Barat. Sedangkan sisanya berasal dari luar Jawa Barat, termasuk dari luar negeri.

Dua sambutan berturut-turut lainnya disampaikan oleh Ketua Yayasan LPBIB, Bapak Dr. Dadang Hermawan. Juga sambutan dari perwakilan Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IV.

Wisuda Istimewa Dihadiri Ilham Habibie


Salah satu agenda istimewa yang dinantikan adalah orasi ilmiah yang disampaikan oleh putra sulung Alm. BJ Habibie, Dr. Ing. Ilham Habibie, M.B.A. Beliau yang saat ini menjabat sebagai Ketua Pelaksana Dewan TIK Nasional (Wantiknas) Republik Indonesia itu memaparkan tentang "Peranan Generasi Muda dalam Penerapan Teknologi dan Inovasi di Era 4.0".


Masya Allah. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Sebuah kesempatan emas bagi saya nih untuk ikut menyerap ilmu yang disampaikan oleh Chairman PT. Ilthabi Rekatama yang kecerdasan dan wajahnya amat mirip dengan ayahnya tersebut.

Ya, dunia saat ini sudah memasuki era revolusi industri 4.0 yang menekankan pada pola digital economy, artificial intelligence, big data, robotic, dan lain-lain. Hal ini disebut juga dengan dengan fenomena disruptive innovation.

Nah, terkait dengan pola ekonomi digital, Bapak Ilham menyebutkan bahwa ekonomi di masa depan harus mengandalkan inovasi. Keharusan mengandalkan inovasi ini merupakan satu diantara empat hal yang dipersiapkan oleh semua negara dalam menyambut tantangan masa depan.

Lengkapnya, semua negara di dunia ini hendaknya menitikberatkan pada:

1. Berinvestasi ke Human Capital
2. Berinvestasi ke Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK)
3. Membina dan mendukung inovasi dan kewirausahaan
4. Meminimalkan kemiskinan

Poin ke-4 akan bisa tercapai jika target pada poin 1, 2, dan 3 tercapai dengan baik.

Ilham Habibie, like father like son

Menurut Bapak Ilham, ekonomi di masa mendatang akan dipengaruhi dan dibentuk oleh teknologi, inovasi, dan kewirausahaan sebagai jawaban atas timbulnya lima megatrends yang mengubah dunia. Apa saja megatrends itu?

1. Urbanisasi cepat
2. Perubahan iklim dan kelangkaan sumber daya 
3. Pergeseran kekuatan ekonomi global
4. Perubahan demografi dan sosial
5. Gebrakan teknologi 

Proses inovasi ini diwujudkan melalui ide yang akhirnya melahirkan produk atau jasa yang baru. Di sinilah inovasi berperan sebagai penghubung antara teknologi dan kewirausahaan. Nah, generasi muda yang biasanya kaya ide adalah para inovator itu!


So, para wisudawan STT Bandung yang berjuluk Campus of Technology ini diharapkan bisa ambil bagian dalam barisan yang aktif di UKM rintisan (Start-Up) yang diberdayakan dengan Teknologi (Informasi & Komunikasi).

Tentunya proses inkubasi perusahaan rintisan itu akan menghadapi berbagai tantangan sehingga memerlukan SDM unggul (terutama di bidang teknologi) dan perlunya kesabaran akan kurang adanya mentor dan pendanaan di fase awal.


Ya, pendidikan berkualitas adalah kunci untuk melahirkan SDM unggul. Sungguh, Indonesia berharap banyak pada SDM unggul yang mengerti dan menguasai rincian dan proses Teknologi - Inovasi - Kewirausahaan. Jadi wahai para wisudawan STT Bandung, inilah saat yang tepat untuk menunjukkan kiprah Anda semua!

Calon-calon SDM Unggul dari STT Bandung


Setelah orasi ilmiah mengesankan dari keynote speaker di atas, tibalah pada acara inti yaitu pelantikan wisudawan yang dilakukan oleh Ketua STT Bandung, Pembantu Ketua I, beserta Ketua Program Studi. Saya bisa membayangkan kelegaan para wisudawan yang maju satu per satu untuk menyandang gelar sarjana mereka secara resmi itu.

Pengumuman Wisudawan Terbaik

Selanjutnya adalah agenda pemberian penghargaan kepada wisudawan dan skripsi terbaik dari masing-masing Program Studi. Mereka adalah:

Prodi Teknik Industri

Wisudawan terbaik diraih oleh Dheyu Laksmi Wulandari, S.T

Skripsi terbaik diraih oleh:

1. Virgiawan Chandra Bakti, S.T
Judul skripsi: Perancangan dan Pengembangan Hospital Transfer Bed dengan Pendekatan Karakuri

2. Indra Rukmana, S.T
Judul skripsi: Optimasi Produksi Dyeing Finishing dengan Metode Integer Linear Programming

3. Zaenal Uyun, S.T
Judul skripsi: Perbaikan Produk Meja Belajar Lipat Multifungsi Ergonomis untuk Meningkatkan Motivasi dan Semangat Belajar Menggunakan Metode Kansei Engineering

Prodi Teknik Informatika

Wisudawan terbaik diraih oleh Muhammad Rizal Mutaqin, S.Kom

Skripsi terbaik diraih oleh:

1. Deri Hermawan, S.Kom
Judul skripsi: Aplikasi 3D Virtual Reality sebagai Media Bantu Terapi Acrophobia Berbasis Android

2. Regina Sukma Citra, S.Kom
Judul skripsi: Klasifikasi Ujaran Kebencian dengan Metode Naive Bayes Classification di Sosial Media Facebook Berbasis Web

3. Yasti Aisyah Primianjani, S.Kom
Judul skripsi: Rancang Bangun Sistem Pemutus Aliran Listrik KWH Meter Pascabayar Berbasis Web Menggunakan Mikrokontroler

Prodi Desain Komunikasi Visual

Wisudawan terbaik diraih oleh Tiffani Zeta, S.Ds

Skripsi terbaik diraih oleh:

1. Andri Setiawan, S.Ds
Judul skripsi: Perancangan Aplikasi Rencana Anggaran Biaya Membangun Rumah

2. Bagus Arya Suseno, S.Ds
Judul skripsi: Perancangan Sistem Informasi Pelayanan Publik dan Peta Wilayah RT 07 RW 08 Baleendah Kab. Bandung

3. Luthfi Alfaritzi, S.Ds
Judul skripsi: Perancangan Boardgame Pengenalan Permainan Tradisional Jawa Barat Untuk Anak (usia 8-12 tahun) di Kota Bandung

Selamat dan sukses untuk calon-calon SDM unggul di atas dan segenap wisudawan, ya! Kalian keren!


Setelahnya, dilakukan pula penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara STT Bandung dan para mitra yaitu PT. Dirgantara Indonesia, Jasa Marga, dan Biofarma.

Wisuda Bukan Garis Finish!


Acara dilanjutkan dengan penyampaian kesan yang disampaikan oleh perwakilan wisudawan, dilanjutkan dengan janji wisudawan. Momen mengharukan terjadi kemudian karena pembacaan apresiasi dan puisi untuk orang tua. Ya, keberhasilan para wisudawan pasti tidak terlepas dari kerja keras dan doa orang tua. Tanpa mereka, kita memang bukan siapa-siapa.

Tim paduan suara kampus kembali hadir dengan membawakan lagu Bagimu Negeri dan Syukur. Menunjukkan bahwa kiprah para wisudawan sedang dinanti untuk kemajuan negeri ini. Sungguh, momen wisuda bukanlah garis finish tetapi justru adalah garis start yang harus segera dilewati.

Selanjutnya adalah pembacaan doa, sebagai wujud rasa syukur dan penuh harap kepada Allah Yang Maha Kuasa. Tanpa izin-Nya, keberhasilan itu hanyalah angan-angan semata. Tanpa takdir baik-Nya, senyum dan kelegaan pada momen wisuda tidak akan terwujud nyata.

Penutupan Rapat Senat Terbuka pun dilakukan oleh Ketua STT Bandung, pertanda agenda wisuda sudah menjelang berakhir. Ya, acara hiburan penutup segera menyusul kemudian yang kembali dibawakan oleh tim paduan suara. Dilanjutkan dengan persembahan dari tim kesenian angklung. Bagus sekali!


Sekitar pukul 12.30, Senat Perguruan Tinggi meninggalkan tempat wisuda. Agenda Wisuda XIV STT Bandung pun selesai dengan baik dan lancar sesuai rencana.

Sekali lagi, selamat dan sukses kepada para wisudawan dan panitia penyelenggara!



Salam,
Tatiek Purwanti





Sekolah Tinggi Teknologi Bandung
Jl. Soekarno Hatta No.378 Bandung 40235 
Phone. (+6222) 522 4000 
Fax. (+6222) 520 9272 
Hp. +6281 2222 55 777 
Email: info@sttbandung.ac.id
Instagram: @sttbandung
November 20, 2019

Merawat Museum Monumen Jogja Kembali, Cagar Budaya Indonesia Bernilai Historis Tinggi

by , in

Candi Borobudur sudah belasan meter terlewati. Bus yang saya tumpangi bersama rombongan wisata sekolah Afra -putri sulung saya- melaju kembali menuju Sleman, Yogyakarta. Saat itu menjelang pukul sebelas siang. Matahari di luar sana sedang bersemangat menyengat bumi.

"Memangnya Ummi belum pernah ke Monumen Jogja Kembali?" tanya Afra tentang destinasi wisata kami selanjutnya.

"Belum. Padahal Ummi sudah beberapa kali ke Yogya. Baru sadar kalau belum pernah ke Monjali," jawab saya sambil nyengir. 

Museum Monumen Jogja Kembali atau biasa disingkat dengan Monjali. Ini adalah sebuah museum penting yang berisi jejak sejarah tentang berfungsinya kembali pemerintahan Republik Indonesia pasca ditarik mundurnya tentara Belanda dari Yogyakarta pada tanggal 29 Juni 1949. Menyusul kemudian, Presiden Soekarno, Wakil Presiden Mohammad Hatta dan para pejabat lainnya yang sebelumnya diasingkan, juga dikembalikan ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949.

Sungguh, ini adalah destinasi wisata sejarah yang seharusnya saya kunjungi sejak dulu. Seharusnya, sih...

"Monjali itu termasuk Cagar Budaya, lho. Sama seperti Museum Radya Pustaka Surakarta yang pernah kita kunjungi dan dulu Ummi jadikan tulisan," jelas saya pada Afra.

Afra manggut-manggut. Sepertinya dia teringat saat saya pernah bercerita tentang keikutsertaan lomba menulis Cagar Budaya dengan setting museum yang terletak di Solo tersebut.

"Oh, makanya sekarang Ummi senang bisa ke Monjali. Jadi ada bahan tulisan dong, ya?" tebak Afra.

"Iya, dong. Hehe..."

Ya, disamping alasan pribadi itu, saya memang merasa lega karena agenda rekreasi sekolah anak saya tetap menyertakan kunjungan ke museum. Di tengah maraknya pilihan destinasi wisata Yogya yang kekinian, kunjungan ke museum ternyata tidak dilupakan. 

"Mi, aku lupa. Cagar Budaya itu apa, ya?" kali ini Afra yang nyengir.

Saya tersenyum, "Cagar budaya itu warisan budaya yang bersifat kebendaan. Bentuknya bisa berupa museum seperti yang akan kita kunjungi ini, bisa juga berupa benda, struktur, situs, atau kawasan."


Sumber foto: IG @monjaliyogyakarta

Beberapa saat kemudian, bus yang kami tumpangi pun tiba di tujuan, di area samping kanan Museum Monumen Jogja Kembali. Begitu pintu bus dibuka, hawa panas langsung menyergap. Matahari benar-benar memanggang Yogyakarta siang itu. Untungnya "senjata" saya sejak di Borobudur tadi selalu saya bawa: payung.

"Monggo salat zuhur dulu dan makan siang, sebelum kita masuk museum, ya!" Koordinator bus memberikan arahan seraya membagi-bagikan nasi kotak.

Oke, deh!

Catatan Berharga tentang Monjali untuk Anak Negeri


Tiket masuk seharga sepuluh ribu rupiah per orang sudah diserahkan di pintu masuk. Rombongan kami berjalan beriringan di bawah terik matahari menuju pelataran Monjali di sebelah barat, menuju pintu masuk yang mengarah ke lantai satu. 

Hawa sejuk langsung terasa ketika saya tiba di lantai satu tersebut. Peluh yang tadi membanjir mulai mengering, tubuh pun lebih bersemangat untuk menyambut rasa ingin tahu tentang keseluruhan isi museum. 

Maka inilah catatan untuk direnungkan yang saya peroleh selama berada di Monjali:

1. Atap Monjali dan Filosofi Kokohnya


Saya terkesima menyaksikan bentuk Monumen Jogja Kembali yang mengerucut seperti gunung dengan tinggi 31,8 meter itu. Bentuk atap Monjali itu ternyata ada maksudnya. Dimana ada gunung, biasanya tanah di sekitarnya subur. Atap gunung itu seakan mengingatkan bahwa Yogyakarta itu "subur" akan warisan sejarah dan budaya.

Suasana khas Yogyakarta memang tiada duanya. Atmosfer langsung terasa berbeda begitu menapak tanahnya: njawani dan ngangeni! Begitulah yang saya rasakan setiap kali berada di Yogyakarta.

Saya berpose di sebelah barat Monjali, berlatar atap Monjali yang berbentuk seperti gunung

Selain itu, gunung yang melambangkan kekokohan itu seakan mengatakan bahwa kondisi Yogyakarta -yang saat itu adalah ibukota negara Indonesia- tetap kokoh tak tergoyahkan. Belanda menyerang, pahlawan Indonesia tak gentar berjuang. Kemerdekaan Indonesia harus terus dipertahankan!

Ya, Monjali seakan mengingatkan saya bahwa Indonesia pernah berpindah ibukota -dari Jakarta ke Yogyakarta- pada tanggal 4 Januari 1946. Saat itu, Yogyakarta adalah tempat yang dinilai paling aman dari segi keamanan, politik, dan ekonomi. Situasinya memang sedang darurat setelah Jakarta dikuasai oleh Belanda yang ingin terus berkuasa walaupun kemerdekaan Indonesia sudah diproklamirkan.

2. Pembangunan Monjali yang Penuh Perhitungan


Monumen yang dibangun di atas lahan seluas 5,6 hektar di Dusun Jongkang, Kelurahan Sariharjo, Kecamatan Ngaglik, Kapubaten Sleman itu terletak pada sebuah "sumbu imajiner" yang disebut Poros Makrokosmos atau Sumbu Besar Kehidupan. Ini adalah perwujudan keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, dan manusia dengan alam. Seimbang. Bukankah memang seharusnya kita demikian dalam menjalani kehidupan?

Jadi, jika ditarik sebuah garis imajiner dari Monjali yang berada di bagian utara Yogyakarta itu akan mengarah pada empat tempat penting yang terletak di sebelah selatan yaitu Tugu Yogyakarta, Keraton Yogyakarta, Panggung Krapyak, dan Pantai Parang Tritis. Juga mengarah pada satu tempat penting lain yang berada di sebelah selatan yaitu Gunung Merapi.


Sumber: tripadvisor.com (daru222)

Ya, pembangunan Monjali yang berawal dari ide Walikota Yogyakarta saat itu, Kolonel Sugiarto, memang didirikan dengan penuh perhitungan. Ada ritual penanaman kepala kerbau sebagai tanda dimulainya pembangunan monumen pada tanggal 29 Juni 1985. Adalah Sri Sultan Hamengkubuwono IX dan Sri Paduka Paku Alam XIII yang melakukan peletakan batu pertamanya. Setelah selesai pembangunannya, pada tanggal 6 Juli 1989 Presiden Soeharto pun meresmikan Monjali dengan penandatanganan prasasti.

3. Lantai Satu, Ruangan Penuh Pesan Kehidupan


Ruangan luas berlantai cokelat di lantai satu itu menyambut saya dan rombongan dengan beragam kutipan dari para pahlawan. Misalnya saja perkataan dari Cut Nyak Dien berikut ini: "Kita tidak akan menang bila kita masih mengingat semua kekalahan." Jlebb! Sebuah pesan yang berlaku sepanjang masa agar kita tidak lelah berjuang. Sempat limbung? Cepat bangkit lagi dan move on! 

Tampak juga replika Tugu Yogya yang silih berganti didatangi pengunjung untuk diabadikan bersama. Saya jadi teringat salah satu filosofi tugu yang juga disebut sebagai Tugu Pal Putih itu: barangsiapa berfoto dengan Tugu Yogya, dia akan kembali lagi mengunjungi Yogyakarta. Percaya gak nih?

Patung Teuku Umar, Tuanku Imam Bonjol, Kutipan, dan replika Tugu Yogya (dok. pribadi)

Perhatian saya segera teralihkan oleh aba-aba agar rombongan kami segera memasuki ruangan auditorium. Akan ada pemutaran film dokumenter tentang perjuangan para pahlawan Yogyakarta melawan Belanda di sana. Setelah semua peserta masuk, ruangan auditorium menjadi gelap seperti suasana di bioskop. Saya yang terus berada di samping Afra, merasakan kebanggaan bercampur keharuan sepanjang pemutaran film bersejarah yang berlangsung sekitar 15 menit tersebut.

Ruang auditorium, tempat pemutaran film dokumenter (dok. pribadi)

Usai menyaksikan film, kami beralih ke ruangan lain di lantai satu itu yaitu museum yang menyimpan koleksi bersejarah yang digunakan selama tahun 1945 hingga 1949. Ada beragam benda antik dan kuno milik para pahlawan, beraneka senjata, seragam para pejuang, kumpulan foto yang merekam peristiwa penting, dan replika benda-benda di masa perang. Sungguh bukan benda-benda biasa, pasti ada cerita pengorbanan yang menyertainya.

Yang paling menarik perhatian saya adalah tandu yang pernah dipakai oleh Jenderal Soedirman selama beliau memimpin perang gerilya dalam rangka mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Dalam kondisi sakit, Jenderal Soedirman tetap memimpin gerilya dengan ditandu mulai dari wilayah Gunungkidul hingga Jawa Tengah. Sekitar 1.009 kilometer telah ditempuh beliau bersama pasukan dengan memakan waktu selama 7 bulan. Masya Allah!

Tandu Jendral Soedirman (dok. pribadi)

Tandu itu memang hanya sederhana: kursi biasa yang diikatkan pada bambu dan atasnya diberi selimut. Namun, ada pesan luar biasa bahwa tidak ada alasan berhenti berjuang walaupun berada dalam keterbatasan. Hormat padamu, Wahai Jenderal Soedirman! Pantaslah namamu abadi dan dijadikan nama jalan-jalan utama di negeri ini. Namamu besar, sebesar jiwamu.

4. Lantai Dua, "Buku Sejarah" Berbentuk Relief dan Diorama


Naik ke lantai dua bagian luar, saya dan rombongan disambut oleh berbagai relief di sepanjang sisi tembok. Tercatat, ada 40 relief yang menggambarkan peristiwa bersejarah mulai dari proklamasi kemerdekaan hingga diakuinya kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia pasca bebasnya Yogyakarta dari cengkeraman Belanda.

Relief perjuangan dan tulisan tangan Bung Karno (wikipedia.org)

Relief-relief itu cukup jelas terbaca walaupun bukan berbentuk buku sejarah. Saya kira, Afra dan teman-temannya amat menikmati "cara membaca" seperti ini. Cukup melangkahkan kaki searah jarum jam dan "mambaca" peristiwa yang tergambar berikut keterangan singkatnya, saya semakin memahami beratnya perjuangan fisik dan diplomasi saat itu demi meraih dan mempertahankan kemerdekaan.

Afra dan temannya di depan diorama yang menggambarkan pertemuan Jenderal Soedirman dan Bung Karno (dok. pribadi)

Sedangkan pada lantai dua bagian dalam, "cara membacanya" lebih menyenangkan lagi. Saya melewati lorong-lorong yang suasananya cenderung temaram dan menyaksikan berbagai diorama berikut narasi yang diperdengarkan terkait peristiwa yang disajikan. Benar-benar terasa hidup dan nyata. Seakan-akan saya sedang berada di sana saat perjuangan kemerdekaan itu terjadi.

5. Lantai Tiga, Mari Mendoakan Pahlawan Bangsa


Setelah puas "membaca" diorama, saya dan rombongan naik lagi ke lantai tiga. Ada ruangan bernama Garbha Graha dengan keterangan: "Ruang hening, ruang khusus untuk mendoakan arwah pahlawan".

dok. pribadi

Saya mendapati sebuah ruangan luas bernuansa putih yang merupakan puncak dari monumen. Suasana hening di ruangan itu memang sesuai untuk merenung setelah menyaksikan berbagai lintasan peristiwa bersejarah di dua lantai sebelumnya. Hening. Jika kita berbicara di sana, niscaya akan timbul gema.


Di bawah "kepalan tangan raksasa" (dok. pribadi) 

Saya menengadah ke atas, ke langit-langit. Di sana ada relief berbentuk kepalan "tangan-tangan raksasa" dan memegang senjata serta bendera. Ada kesan yang tak terlukiskan. Seakan-akan para pahlawan itu sedang "mengawasi" saya dari atas langit sana dan berkata: "Kami sudah berjuang dan mewariskan semangat juang itu padamu. Sekarang adalah giliranmu!" 

Bendera di tengah ruangan, titik tengah Monjali (dok. pribadi)

Ada juga tiang bendera yang terdapat tepat di tengah ruangan, tepat juga berada di titik tengah monumen. Tentu saja Sang Merah Putih melekat pada puncak tiang bendera itu. Ruangan lantai tiga yang menyampaikan pesan tentang perjuangan yang telah mencapai puncaknya, berhadiah kemerdekaan atas jasa para pahlawan, dan tentu saja atas izin dari Tuhan Yang Maha Esa.

Saya merenung cukup lama di sana. Saya lantunkan Al Fatihah untuk para pahlawan bangsa.

6. Pahlawan Kadang Tidak Dikenal Namanya


Agenda merenung saya yang agak lama membuat saya, Afra, dan seorang temannya tertinggal rombongan. Rupanya sebagian besar sudah keluar Monjali lewat pintu depan bagian selatan. Kami pun buru-buru menyusul mereka.

Begitu keluar dari pintu lantai tiga bagian selatan itu, hawa panas dan angin kencang kembali menyambut kami. Saya menatap lurus ke depan dan mendapati prasasti di dinding yang lebar itu. Nun jauh di sana, terukir abadi nama 422 orang pahlawan yang gugur dalam rentang waktu 19 Desember 1948 sampai 29 Juni 1949. Di situ terdapat pula puisi legendaris "Karawang-Bekasi" karya Chairil Anwar yang dipersembahkan untuk para pahlawan yang tak dikenal namanya.

Saya berpose dengan latar belakang prasasti nama pahlawan nun jauh di depan sana (dok. pribadi)

Mereka -yang namanya terukir itu dan yang tak tersebut- mungkin tidak seterkenal Soekarno-Hatta, tidak punya nama besar seperti Jenderal Soedirman, ataupun pahlawan nasional lainnya. Namun kontribusi mereka untuk kemerdekaan negeri ini jelas tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka telah mengajarkan tentang ketulusan berjuang dengan nyawa sebagai taruhan. 

Merawat Monjali, Cagar Budaya Bernilai Historis Tinggi


Enam catatan di atas hanya sebagian kecil dari hasil pengamatan saya yang terbatas pasca kunjungan ke Monjali. Pastinya banyak hal lain yang bisa digali dan diambil manfaatnya jika kita berkunjung ke salah satu Cagar Budaya kebanggaan Yogyakarta itu. Pelajaran dan manfaat tersebut seharusnya juga dirasakan oleh anak cucu kita sebagai generasi penerus bangsa ini.

Agar manfaat itu terus dirasakan, maka adalah tugas kita bersama untuk merawat Cagar Budaya seperti Monjali yang berupa bangunan dan berisi  benda-benda bernilai sejarah tinggi ini. Adapun upaya perawatan yang harus dilaksanakan oleh pengelola museum dan kita sebagai pengunjung adalah sebagai berikut:

1. Petugas perawat museum yang andal dengan jumlah memadai


Merawat museum itu ternyata lumayan rumit dan butuh ketelatenan. Petugas yang merawat benda-benda museum harus paham betul tentang pengaturan suhu ruangan, pengaturan kelembapan, dan penyinaran yang tepat.

Tepatnya, suhu di dalam museum harus berkisar antara 20-25 derajat celcius. Jika suhunya lebih panas dari itu, koleksi lukisan atau foto bisa cepat mengalami kerusakan karena mengalami pengeringan lebih cepat. Sedangkan kelembapan museum idealnya adalah sekitar 65 % RH. Jika lebih dari itu, jamur akan lebih cepat tumbuh pada benda-benda yang ada.

Higrometer, alat ukur kelembapan udara
Adapun penyinaran pada ruangan museum harus berada pada angka 50 lux dengan ultraviolet 30. Penyinaran yang terlalu tinggi akan membuat benda-benda koleksi museum lebih pudar warnanya dan lebih cepat rapuh seratnya. Hmm, makanya di beberapa bagian ruangan di Monjali memang terkesan suram penerangannya. Ternyata itu ada maksudnya.

Selain andal, petugas yang merawat museum harus berjumlah memadai. Jika jumlah koleksi museum cukup banyak tapi petugas yang merawat sedikit, bisa jadi sebagian koleksi museum menjadi "terlantar" karena dirawat sekadarnya saja.

2. Perlunya digitalisasi museum


Merawat museum tidak hanya mempertahankan benda-benda koleksinya agar tetap terjaga, namun juga menambah "sesuatu" sebagai daya tarik pada koleksi benda-benda museum itu. Ya, digitalisasi. Di zaman serba digital ini, museum pun seharusnya juga mengikuti perkembangan zaman.

Sumber: tempo.co

Misalnya, di samping benda koleksi museum dipasang banner yang terdapat QR Code yang berisi informasi lengkap tentang benda koleksi tersebut. Pengunjung jadi bisa lebih mudah mengakses informasinya melalui gawai yang saat ini dimiliki oleh hampir semua orang. Generasi milenial dan generasi Z pastinya akan lebih tertarik dengan kemudahan ini sehingga tujuan akhir agar mereka lebih peduli pada Cagar Budaya seperti Monjali ini bisa tercapai.

3. Aktif dalam gerakan cinta museum dan Cagar Budaya


Kali ini adalah upaya merawat Cagar Budaya berupa museum yang harus kita lakukan. Merawatnya dimulai dengan mencintai dan mencintai itu dibuktikan dengan sering mengunjungi.

Di Yogyakarta sendiri telah ada komunitas yang bernama Malamuseum yang bergerak di bidang sejarah museum dan Cagar Budaya. Komunitas ini terbentuk sejak tahun 2012 dengan tujuan mengajak masyarakat mencintai tempat bersejarah. Salah satu kegiatan positifnya adalah berwisata edukasi dengan mengunjungi museum di malam hari. Unik, bukan?

Nah, kalau yang ini pas dengan Monjali karena di pelataran Monjali sebelah barat terdapat Taman Pelangi yaitu taman berisi beraneka lampion cantik yang tentunya hanya menyala saat malam hari. Sambil ke Taman Pelangi, sambil ke Monjali. Tentunya "kunjungan khusus" pada malam hari ini harus berkoordinasi dengan pengelola museum karena jam operasional normal Monjali adalah pada pagi sampai siang hari.

Taman Pelangi dengan beragam lampion saat siang hari (dok. pribadi)

Semakin sering kita mengunjungi museum sebagai salah satu Cagar Budaya, semakin banyak pendapatan museum yang didapat dari tiket masuk. Ini tentunya akan menambah anggaran operasional yang berpotensi meningkatkan kualitas dan pelayanan museum tersebut.

4. Menjadi pengunjung museum yang selalu mematuhi aturan


Jika para pengelola museum sudah merawat koleksi museum dengan baik, kita pun harus mendukung upaya mereka dengan selalu mematuhi aturan yang ada. Jangan sampai kunjungan kita malah membawa masalah, apalagi sampai merusak koleksi museum baik secara sengaja atau tidak.

Hal paling utama adalah jangan membawa makanan dan minuman ke dalam lokasi museum. Makanya seperti tersebut di atas, saya dan rombongan makan siang terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam Monjali. Memang perlu stamina yang kuat untuk mengelilingi area museum tanpa diselingi dengan ngemil. Saya saat itu begitu menikmati agenda berkeliling Monjali sehingga seperti lupa akan rasa haus.

Merokok, menggunakan flash, dan berteriak juga merupakan larangan yang berpotensi mengganggu pengunjung lain. Selain itu, asap rokok pastinya bisa meninggalkan aroma tak sedap di ruangan dan pada benda koleksi yang dipajang. Belum lagi kemungkinan timbul percikan api, hiks.

Replika perahu yang dibingkai kaca di ruangan lantai satu Monjali (dok. pribadi)

Di Monjali ada benda-benda yang di tempatkan di ruangan kaca dan ada juga yang dibatasi dengan rantai. Itu semua adalah "rambu-rambu" yang berkata bahwa benda koleksinya cukup dilihat dan dibaca keterangannya saja. Jangan melampaui batas!

Corat-coret? Hoho, big no! Jejak aksi corat-coret ini biasa ditemukan pada destinasi wisata lain seperti pada bangku taman atau tempat duduk. Jangan pernah lakukan hal yang sama pada benda-benda Cagar Budaya! Mereka itu sungguh berharga dan tak tergantikan.

5. Sebarkan melalui tulisan dan media sosial


Hari ini, media sosial turut berperan penting pada kecepatan informasi yang sampai kepada kita. Maka gerakan untuk mencintai dan merawat Cagar Budaya yang telah kita lakukan sebaiknya kita sebarkan juga melalui media sosial yang kita punya. Kampanyekan!

Seperti yang saya lakukan sekarang yaitu menuliskan pengalaman pribadi di blog saat berkunjung ke Monjali berikut menyebarkan link-nya melalui akun media sosial saya. Berharap agar aksi sederhana ini turut membawa dampak positif dalam upaya merawat dan menjaga Cagar Budaya.



Suatu hari nanti, saya ingin mengunjungi lagi Museum Monumen Jogja Kembali dengan durasi yang lebih lama. Bagaimana dengan teman-teman semua?

Yuk, ikutan juga Kompetisi “Blog Cagar Budaya Indonesia: Rawat atau Musnah!”






Salam pecinta Cagar Budaya,

Tatiek










Referensi:

https://www.kompas.com/travel/read/2010/05/30/17052138/Rumitnya.Merawat.Museum

https://www.ui.ac.id/tim-arkeolog-ui-lakukan-digitalisasi-museum-puro-mangkunegaran-surakarta/

http://wargajogja.net/komunitas/mengenal-museum-dan-cagar-budaya-dengan-malamuseum.html

Sumber foto cover: kompas.com
October 24, 2019

Bicara Gizi: Deteksi Dini Penyakit Jantung Bawaan dan Cegah Malnutrisi

by , in

"Tidak selalu ada jawaban untuk pertanyaan mengapa, atas apa yang Tuhan ciptakan. Hanya Tuhan yang tahu dan aku hanya mampu berusaha untuk mencari tahu, tanpa pernah benar-benar tahu."
(Hingga Detak Jantungku Berhenti, Nurul F. Huda, halaman 34)

Penyakit Jantung Bawaan (PJB). Hmm... Saat ada orang yang mengucapkan itu, tiba-tiba saja saya teringat tentang kisah hidup dan perjuangan salah seorang penulis fiksi Islami yang namanya cukup tenar di sekitar tahun 2000-an, Mbak Nurul F. Huda. Ya, di balik keaktifan beliau menulis, berorganisasi, berbisnis, dan mengurus dua buah hatinya, ternyata ada perjuangan panjang terkait dengan salah satu organ penting dalam tubuhnya: jantung.

Sejak kecil, Mbak Nurul F. Huda adalah anak yang lincah bergerak dan ceria. Namun, ada yang berubah padanya saat beliau berusia 11 tahun alias duduk di kelas 5 SD. Beliau jadi merasa cepat sekali lelah, napasnya sering memburu, tubuhnya semakin kurus, dan bibirnya membiru. Kondisi itu pun diperiksakan ke dokter dan ternyata Mbak Nurul divonis menderita Penyakit Jantung Bawaan (PJB).

Sejak saat itu, ada yang berubah dengan hidup beliau. Tentu saja Mbak Nurul harus menjalani rangkaian pengobatan yang panjang. Mulai dari berobat di RSUD Purworejo, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta, hingga harus menjalani operasi pemasangan katup platina di Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta. Efek dari pemasangan katup mekanik ini, Mbak Nurul harus selalu rutin check-up setiap bulan. Juga, beliau harus minum obat koagulan (pengencer darah) seumur hidupnya.

Namun, di balik ujian tersebut, ritme hidupnya seakan tidak berubah. Mbak Nurul memilih tidak menyerah dan terus bergerak dengan segala keterbatasan kondisi kesehatannya. Saya sendiri mengenal beliau sebagai Ketua Forum Lingkar Pena (FLP) Batam yang terus aktif memberi edukasi seputar dunia kepenulisan. Ya, saya beberapa kali menghadiri talkshow Mbak Nurul saat saya masih berdomisili di Batam.

Inilah salah satu pernyataan yang menunjukkan rasa optimis beliau, "Aku hanya mencoba mengambil pelajaran dari kisah yang kudengar tentang perempuan ayan yang datang menemui Rasulullah. Ia datang meminta doa agar sembuh. Rasulullah pun memberikan pilihan, bahwa Rasul bisa mendoakannya agar sembuh. Namun, jika ia bersabar atas sakitnya yang tentu saja menahun, bahkan selamanya, maka Allah menjanjikan surga. Perempuan itu memilih bersabar dan minta didoakan agar ketika ayannya kambuh, tidak tersingkap bajunya sehingga terlihat auratnya. Rasul pun mengabulkannya."

Masya Allah.


Lalu bagaimana kondisi Mbak Nurul F. Huda sekarang? Teman-teman penggemar fiksi Islami di sekitar tahun 2000-an pasti sudah tahu. Allah SWT berkenan "memanggil pulang" penulis kelahiran 5 Oktober 1975 itu pada tanggal 18 Mei 2011. Sudah lama sekali. Tetapi, jejak karya dan semangat hidupnya selama 34 tahun -termasuk saat harus bercerai dengan suaminya- tetap terkenang hingga kini. Bahkan, sebelum menutup mata untuk selamanya, beliau masih sempat menulis buku dengan judul seperti di awal postingan ini: Hingga Detak Jantungku Berhenti.

Kepedulian Danone dengan Menyelenggarakan Agenda Bicara Gizi


Adalah sebuah kesempatan baik saat saya bisa menghadiri agenda "Bicara Gizi" yang diselenggarakan oleh Danone Specialized Nutrition pada hari Sabtu, 19 Oktober 2019 kemarin. Bertempat di Hotel Savana & Convention, Kota Malang, saya bisa mengetahui lebih jauh tentang hal ikhwal Penyakit Jantung Bawaan (PJB) yang telah mewarnai kehidupan Mbak Nurul F. Huda di atas.


Tepat pukul sembilan pagi, saya bersama teman-teman narablog Kota Malang (ada juga yang datang dari beberapa daerah) segera memasuki Ruangan Cempaka, setelah melakukan registrasi. Sambil menunggu acaranya dimulai, para peserta -yang terdiri juga dari awak media dan Komunitas Pejuang Jantung- dipersilakan untuk menikmati snack dan minuman. Saya cukup menyeruput kopi pahit saja, deh ;)

Setelah penyampaian safety briefing oleh pihak Hotel Savana, agenda pun dimulai. Ada pembukaan dari pihak Digital & Internal Communications Danone Indonesia yang diwakili oleh Mbak Indah Tri Novita. Beliau berkata bahwa agenda "Bicara Gizi" adalah program rutin sebagai bentuk kepedulian Danone untuk mengedukasi masyarakat terkait pentingnya peran nutrisi dalam masa-masa penting kehidupan. Ini sesuai dengan portofolio bisnis Danone yang terdiri dari nutrisi awal kehidupan (early life nutrition) dan nutrisi medis khusus (medical nutrition).

Mbak Indah Tri Novita dari Danone Indonesia

Nah, dalam rangka peringatan World Heart Day atau Hari Jantung Sedunia yang jatuh pada tanggal 29 September 2019 yang lalu, Danone Indonesia pun mengadakan agenda "Bicara Gizi" di Kota Malang pada bulan Oktober ini. Istimewa nih karena Malang adalah kota pertama di luar Jakarta yang dipilih untuk menyelenggarakan agenda "Bicara Gizi" ini. Yeay!

Kali ini, tema yang diambil adalah edukasi tentang pentingnya pencegahan malnutrisi untuk anak dengan PJB. Diharapkan, para hadirin bisa mengenali ciri-ciri PJB sebagai langkah deteksi dini sekaligus manajemen nutrisinya, langsung dari ahlinya. Jadi, penanganan PJB ini bukan lagi dari "konon katanya". Mantap!

Tangguhnya Para Ibu di Komunitas Pejuang Jantung


Apa hal paling membahagiakan buat kita para orang tua? Tak lain adalah menyaksikan tumbuh kembang anak secara normal dan melihat tawa canda mereka dalam kondisi sehat wal afiat. Tapi jika kondisinya tidak demikian, apakah lantas hidup kita sudah berakhir?

Jawabannya ada pada kisah nyata yang ditampilkan oleh dua orang ibu yang anak-anaknya diuji dengan PJB sejak lahir. Yang pertama diundang untuk tampil ke atas panggung adalah Ibu Mirna, ibunda dari Aqeila, seorang anak perempuan berusia 2 tahun 5 bulan. Ibu Mirna pun berkisah tentang awal mula Aqeila terdeteksi menderita PJB.

Ibu Mirna (kiri)

Diawali dengan sakit batuk saat Aqeila berusia 2 bulan yang menyebabkan berat badannya menyusut 200 gram. Padahal Aqeila "hanya" lahir dengan berat badan 2,2 kilogram. Setelah dibawa ke dokter, Aqeila harus dirujuk ke Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang. Di sana, Aqeila dinyatakan mengalami kebocoran jantung. Itu adalah sebuah kondisi yang tidak terbayangkan sama sekali oleh Ibu Mirna yang menyangka bahwa permasalahan jantung itu hanya akan "menyerang" orang dewasa.

Ibu Mirna pun disarankan untuk memastikan diagnosa itu dengan menemui seorang dokter spesialis anak yang juga seorang konsultan kardiologi anak. Beliaulah dr. Dyahris Koentartiwi, Sp.A(K). Dokter Dyahris lantas memeriksa Aqeila dan mendapati bahwa ada gejala bising jantung pada si kecil itu. Harus opname besok! Begitu kata dokter Dyahris.

Akhirnya, Aqeila harus dirawat di rumah sakit selama 15 hari untuk perbaikan nutrisi dan menjalani beberapa tindakan medis. Saat itu pertengahan puasa Ramadan sehingga Ibu Mirna harus beribadah puasa sekaligus berlebaran di rumah sakit. Setelahnya, Aqeila dibawa pulang ke rumah namun tak lama kemudian dia rewel lagi. Maka, Aqeila pun kembali menjadi pasien di IGD. Begitu seterusnya, pulang-pergi ke rumah sakit sampai usia Aqeila 1 tahun.

Setelah 1 tahun itu, dokter Dyahris menyarankan agar Aqeila dioperasi jantungnya di Jakarta. Ini adalah tindakan medis yang tepat agar permasalahan jantung Aqeila teratasi sehingga dia bisa tumbuh seperti anak yang lainnya. Awalnya, Ibu Mirna ragu-ragu terhadap saran dokter itu: apakah operasi itu benar-benar akan membawa hasil? Bagaimana kalau gagal?

Di usia 1 tahun itu, Aqeila belum.bisa tengkurap, apalagi duduk. Dengan berat badan hanya 5 kilogram, Aqeila hanya bisa terbaring saja. Akhirnya, Ibu Mirna membulatkan tekad untuk pergi ke Jakarta sebagai upaya kesembuhan buah hatinya. Selama 42 hari kemudian, Ibu Mirna berada di Jakarta untuk mendampingi Aqeila.

Alhamdulillah, pasca operasi jantung tersebut, kondisi Aqeila berangsur membaik bahkan si kecil itu akhirnya bisa duduk sendiri. Sungguh itu adalah sebuah kondisi yang amat menggembirakan Ibu Mirna setelah sebelumnya dilanda kecemasan bertubi-tubi, dan harus berkorban tenaga, pikiran serta biaya.

Menurut Ibu Mirna, selain mendapat advise dari dokter Dyahris, dia juga berkonsultasi ke dokter Anik Puryatni, Sp.A(K) dalam hal pemenuhan nutrisi untuk Aqeila. Dokter Anik menyarankan penyajian menu tinggi kalori untuk perbaikan nutrisi bagi Aqeila dan itu juga sangat membantu proses kesembuhan Aqeila.

Sekarang, Aqeila dinyatakan dalam kondisi sehat. Anak ketiga dari Ibu Mirna itu telah mengajarkan kepada kedua orang tuanya tentang arti bersyukur, bersabar, dan ikhlas. Ketiga senjata yang akhirnya membuat Ibu Mirna bisa lebih tegar menghadapi kehidupan sehari-harinya. 

Kondisi yang sama juga dialami oleh Zhaffran, bocah laki-laki berusia 4 tahun. Melalui kisah Ibu Iis yang juga dipanggil ke atas panggung, kami semua kembali disuguhi sebuah fragmen kehidupan tentang arti terus berjuang.

Ibu Iis (kiri)

Saat masih berusia 7 bulan dalam kandungan, Zhaffran dinyatakan dalam kondisi gawat janin dan kemungkinan besar akan meninggal dunia. Namun, Ibu Iis yakin bahwa anaknya akan bisa bertahan hidup. Benarlah firasat seorang ibu itu. Nyatanya, Zhaffran lahir dengan selamat dan sehat via operasi sesar, dengan berat badan 2,3 kilogram.

Zhaffran yang lahir prematur ini bisa tumbuh seperti bayi-bayi lain dengan normal. Namun, ada gejala tumbuh kembang yang berbeda saat dia berusia 8 bulan. Ibu Iis pun memeriksakan kondisi Zhaffran ke rumah sakit di Surabaya. Menurut dokter yang menanganinya, dengan kondisi seperti itu, Zhaffran hanya tinggal "menunggu waktu". Diagnosa yang sama pun diberikan oleh 5 rumah sakit lain yang didatangi Ibu Iis.

Dalam kondisi pasrah, Ibu Iis dipertemukan dengan dokter Dyahris yang memberikan semangat baru untuknya. Menurut dokter Dyahris, umur itu bukan di tangan dokter dan tugas manusia memang terus berusaha. Alhasil, Ibu Iis seakan mendapatkan suntikan semangat baru. Dia mulai bersabar lagi mengikuti bermacam treatment dari dokter demi kesembuhan anaknya.

Menurut dokter Dyahris, kasus PJB yang terjadi pada Zhaffran itu cukup kompleks dan rumit. Ibu Iis sempat merasa sedih dan terpukul, tapi dia berkata bahwa sedih, menangis, dan merasakan "sakit" karena tahu kenyataan tentang anaknya itu tidak apa-apa. Asal dia jadi tahu hal yang sebenarnya dan tahu harus bertindak apa.

Ya, kasus PJB pada Zhaffran ternyata hanya ditemukan pada 7 anak di seluruh Indonesia. Ada anak yang sudah berpulang, ada yang masih terus bertahan seperti Zhaffran. Ibu Iis sempat juga mendatangi dokter ahli dari Malaysia dan India, tapi jalan keluarnya belum berhasil ditemukan. Satu-satunya harapan adalah berobat ke dokter di Jepang dan itu masih akan terus diusahakannya. 

Lelah lahir batin itu pasti. Tapi menurut Ibu Iis, dia tidak menyesal menjalani itu semua karena telah berusaha melakukan yang terbaik untuk anaknya. Ibu Iis juga berharap kelak anaknya akan bangga memiliki seorang ibu tangguh yang pantang menyerah. Masya Allah!

Benar-benar livingproof yang harus kita teladani, bukan? Dua buah kisah hidup yang menjadikan saya saat itu merenung tentang nikmat sehat dan amanah berupa anak-anak yang tak ternilai harganya.

Mengenal Penyakit Jantung Bawaan beserta Deteksi Dininya


Setelah para hadirin mendapatkan "suntikan" semangat untuk bersyukur dan bersabar, agenda inti pun dimulai dengan menghadirkan dr. Dyahris Koentartiwi, Sp.A(K). Dokter ramah yang biasa disapa dengan dokter Risty ini memulai dengan memperkenalkan tentang definisi PJB.

dr. Dyahris Koentartiwi, Sp.A(K)

Dokter Dyahris menyebutkan bahwa PJB adalah penyakit jantung yang diderita anak yang memiliki kelainan pada struktur jantung atau fungsi sirkulasi jantung. Nah, kelainan ini terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan struktur jantung pada fase awal perkembangan janin yaitu sejak janin berusia 20 bulan. PJB ini merupakan kelainan bawaan yang paling sering terjadi pada bayi baru lahir.

PJB ada lebih dari 34 jenis berdasarkan letak atau tingkat keparahannya. Namun secara umum, PJB bisa dibagi dalam 3 kategori yaitu:
  1. Kelainan pada katup jantung
  2. Kelainan pada dinding jantung
  3. Kelainan pada pembuluh darah

Kelainan pada katup jantung berarti katup di dalam jantung yang bertugas untuk mengalirkan darah mengalami masalah fungsi pembukaan dan penutupan atau mengalami kebocoran sehingga dapat mengganggu aliran darah. 

Kelainan pada dinding jantung terjadi ketika dinding jantung yang ada di antara sisi kiri dan kanan, serta bilik jantung atas dan bawah tidak berkembang dengan semestinya yang menyebabkan darah kembali ke jantung atau menumpuk di tempat-tempat yang tidak semestinya sehingga sirkulasi darah terganggu.

Kelainan pada pembuluh darah terjadi ketika pembuluh arteri dan vena yang membawa darah dari jantung ke seluruh tubuh tidak berfungsi dengan semestinya dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi kesehatan untuk anak.

Menurut konsultan kardiologi anak tersebut, angka kejadian PJB di Indonesia diperkirakan mencapai 43.200 kasus dari 4,8 juta kelahiran hidup. Sederhananya, ada 7-8 bayi yang mengidap PJB diantara 1000 kelahiran setiap tahun. 


Ig @nutrisibangsa

Gejala PJB dapat berupa: 

1. Penurunan toleransi aktifitas fisik

Bayi tidak dapat menghisap susu dengan baik, antara lain terlihat capek, napas memburu, dan berkeringat saat mengisap susu sehingga sering berhenti-henti mengisap. Pada anak yang lebih besar, dia terlihat cepat capek atau sesak napas bila bermain, berlari atau berjalan agak jauh.

2. Infeksi saluran pernapasan berulang

Anak/bayi sering mengalami sakit infeksi paru. Hal ini disebabkan oleh aliran darah ke paru-paru yang berlebihan pada jenis PJB tertentu dan daya tahan tubuh yang rendah akibat asupan susu dan makanan yang tidak adekuat.

3. Gagal tumbuh kembang

Pertambahan berat badan anak tergolong lambat atau tidak ada sama sekali akibat asupan susu atau makanan yang tidak adekuat dan kerja jantung yang meningkat. Bila dibandingkan, riwayat perkembangan anak juga lebih lambat daripada anak pada umumnya.

4. Sianosis (kulit, bibir, dan kuku berwarna kebiruan)

Warna kebiruan tersebut menetap sejak lahir atau sejak usia bayi. Kebiruan tersebut mungkin akan bertambah secara progresif dengan bertambahnya usia. Biru akan terlihat makin nyata saat menangis atau melakukan aktivitas fisik. Anak terlihat cepat capek dan napas memburu saat berjalan agak jauh sehingga harus jongkok istirahat beberapa saat.

5. Episode serangan biru akut

Pada PJB biru yang berat dapat terjadi episode serangan biru akut (spelhipoksia) dengan gejala sebagai berikut: anak tiba-tiba terlihat bertambah biru, gelisah, pernapasan cepat dan selanjutnya menjadi lemas, kesadarannya menurun dan kadang disertai kejang. Episode serangan biru akut ini dapat bersifat fatal, baru kemudian setelahnya dapat berjalan atau bermain kembali.



Jika gejala-gejala seperti di atas terdapat pada bayi dan anak-anak kita, segera periksakan ke dokter yang berkompeten, ya. Deteksi dini terhadap PJB itu penting agar bayi/anak segera bisa ditangani dengan baik. Deteksi dini PJB punya andil menyelamatkan nyawa pasien hingga 50% pada bulan pertama kehidupan bayi lho.

Nutrisi untuk Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan


Pembicara selanjutnya adalah seorang konsultan nutrisi dan penyakit metabolik anak yaitu dr. Anik Puryatni, Sp.A(K) yang menyampaikan tentang pentingnya asupan nutrisi yang intensif bagi anak dengan PJB. Ini sangat penting karena anak dengan PJB memiliki resiko gangguan intake sehingga si anak bisa mengalami gangguan pertumbuhan, gagal tumbuh, gizi kurang, gizi buruk, dan mudah terkena infeksi. Maka, anak dengan PJB harus diberi makanan yang sesuai untuk mendukung keberhasilan pengobatannya.

dr. Anik Puryatni, Sp.A(K)

Dokter Anik mengingatkan tentang pentingnya orang tua memperhatikan aspek pertumbuhan, perkembangan, dan kualitas kesehatan di awal kehidupan anak yang menentukan kualitas kesehatannya di masa depan. Nah, nutrisi termasuk faktor yang menyumbang kurang lebih 80% terhadap kualitas kesehatan tersebut.

Seperti disebutkan di awal bahwa anak dengan PJB berpotensi mengalami gangguan pertumbuhan (malnutrisi) karena:
  • Penurunan intake
  • Intake makanan kurang karena kesulitan makan (feeding difficulties)
  • Gangguan penyerapan makanan karena hipoksia lama ke mukosa saluran cerna
  • Cepat kenyang karena pembesaran organ (hepato megali)
  • Cepat lelah saat makan
  • Restriksi cairan membuat kalori tidak mencukupi kebutuhan
  • Gangguan koordinasi mengisap dan menelan makanan
  • Peningkatan kebutuhan energi
  • Penyakit jantung dengan hipoksia lama menyebabkan gangguan metabolisme dan pertumbuhan sel
  • Infeksi paru berulang menyebabkan peningkatan kebutuhan metabolisme
  • Kelainan kromosom/genetika akan mengurangi potensi pertumbuhan
  • Perubahan faktor pertumbuhan dan hormon pertumbuhan

Nah, jika sampai anak dengan PJB mengalami malnutrisi, akan timbul dampak sebagai berikut:
  • Gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang menetap
  • Meningkatkan resiko infeksi tertentu, misalnya: pneumonia
  • Kekurangan vitamin dan mineral, serta gangguan elektrolit akan berefek pada fungsi jantung
  • Sering dirawat di rumah sakit
  • Hasil tindakan operasi kurang optimal
  • Kemampuan sekolah yang buruk dan mengurangi potensi kepandaian
  • Meningkatkan resiko kematian

Hiks, cukup menyedihkan, bukan? Namun -sekali lagi- mengidap PJB bukanlah akhir dunia. Harus ada tindakan nyata berupa tata laksana nutrisi pada anak dengan PJB tersebut.

Ada lima langkah yang bisa diambil dalam rangka asuhan nutrisi, yaitu:
  • Diagnosis (assessment) nutrisi berupa status gizi dan masalah nutrisi
  • Menentukan kebutuhan: kalori, protein, jumlah cairan, dll
  • Menentukan rute pemberian nutrisi
  • Menentukan jenis makanan
  • Monitoring keberhasilan: peningkatan BB, apakah ada muntah, kembung, diare

Nah, pada poin pertama tentang status gizi anak, cara menentukannya harus dipandu oleh dokter, berupa:
  • Pengukuran antropometri (Berat Badan (BB), Panjang Badan/Tinggi Badan (PB/TB), Lingkar Lengan Atas (LILA)
  • Di-plot-kan pada kurva pertumbuhan
  • Status gizi (BB menurut PB/TB)

Sedangkan pada poin kedua tentang menentukan kebutuhan nutrisi, berupa:
  • Nutrisi tinggi kalori dan tinggi protein untuk tumbuh kejar
  • Jenis dan bentuk makanan disesuaikan dengan umur, kemampuan makan, dan kondisi penyakitnya
  • Jumlah cairan perlu ada pembatasan (kecuali TOF)
  • Jumlah garam perlu diperhatikan, terutama saat edema dan hipertensi
  • Kadang diperlukan suplementasi formula tinggi kalori



Sebagai penutup, dokter Anik memberikan kesimpulan bahwa status gizi amat berperan penting dalam penatalaksanaan PJB.

Bergaya bareng Mbak Erny :)

Tak terasa, waktu terus bergulir hingga memasuki tengah hari. Ada sesi tanya jawab juga yang digunakan dengan baik oleh para hadirin untuk bertanya lebih lanjut pada ahlinya. Ini betul-betul agenda padat yang penuh manfaat.

Berfoto bersama di akhir acara

Pun saya senang sekali bisa menyaksikan sendiri semangat para orang tua yang tergabung dalam Komunitas Pejuang Jantung yang tetap menebar senyum sambil membawa anak-anak hebat mereka. Ah, jadi kangen dengan si kecil yang sedang dijagain oleh suami saya di rumah. Jadi ingin membaca ulang buku Mbak Nurul F. Huda lagi.

Terima kasih, Danone!




Salam sehat,
Tatiek