Read, Write, Think, Thankful

October 17, 2018

Siang Penuh Makna di Museum Radya Pustaka

by , in

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 12 Oktober, ada seorang rekan di grup WhatsApp yang membagikan video  tentang Hari Museum Indonesia 2018. Di dalamnya, ada himbauan dari Pak Hilmar Farid selaku Direktur Jendral Kebudayaan untuk generasi milenial. Kata beliau, “Ke museum, yuk!”

Duh, saya jadi ingat bahwa saya punya PR untuk menceritakan kunjungan ke Museum Radya Pustaka, Surakarta. Saya sekeluarga mengunjunginya saat mudik ke Solo pada lebaran yang lalu. Sebelumnya, saya pernah menceritakan rencana itu pada postingan Museum Radya Pustaka dan Sebuah Kenangan Bersahaja



Akhirnya ke Radya Pustaka

Siang itu matahari bersinar cukup terik. Hawa Solo Raya yang biasanya memang panas menjadi semakin panas saja rasanya. Entahlah, mungkin karena saya terbiasa tinggal di daerah yang suhunya lebih rendah dari tempat asal suami saya itu. Tapi, the show must go on!

Biarlah terasa gerah. Kami telah membulatkan tekad untuk mengunjungi Museum Radya Pustaka setelah sekian lama tertunda-tunda. Padahal jarak museum tersebut dari rumah mertua saya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 10 kilometer saja. Pada libur lebaran sebelumnya kami malah melanglang buana sampai ke Karanganyar yang letaknya lebih jauh. Duh…

Suasana jalan raya yang tidak terlalu ramai membuat perjalanan kami lancar jaya. Karena terdapat larangan parkir di halaman museum, suami saya memarkirkan mobil di pinggir jalan raya Brigjen Slamet Riyadi. Letaknya berseberangan dengan Kompleks Taman Sri Wedari, lokasi Museum Radya Pustaka berada.

Seorang petugas parkir yang memakai baju warna biru cerah  melayani dengan ramah. Wah, baju seragam parkirnya baru, pikir saya waktu itu. Belakangan saya baru tahu bahwa baju lurik tidak lagi menjadi seragam para juru parkir di Solo. Mungkin Anda sudah cukup familiar dengan bentuk baju ini. Ya, baju lurik adalah baju khas Solo berwarna coklat dengan garis-garis vertikal berwarna hitam. Biasanya dipakai berpasangan dengan blangkon.

Dari situ, kami segera menyeberang ke sasaran. Gerbang Radya Pustaka yang megah menyambut kami. Saya menggandeng si sulung, Afra, sementara suami saya dengan sigap menggendong si kecil Akmal. Kami melangkah menapaki halaman museum yang tertutup paving itu. Di sana, patung kepala Rangga Warsita seakan mengucapkan, “Sugeng rawuh!” alias selamat datang.

“Mi, ayo foto dulu,” ucap Afra yang terlihat antusias.

Dia segera mengambil posisi di depan kiri patung kepala Rangga Warsita. Di sana ada papan beton lebar berwarna abu-abu tua yang bertuliskan huruf besar berwarna kuning, Museum Radya Pustaka.



Saya mengiyakan dan segera mengambil ponsel dari dalam tas. Ah, saya baru tersadar bahwa baterai ponsel sedang low. Duh, teledornya saya! Untungnya saya masih membawa si kamera digital tua. Alhamdulillah.

Setelah selesai bergaya di sana, kami bergegas menyusul si Abi dan adek yang sudah terlebih dahulu menuju teras museum. Sudah tidak sabar rupanya mereka.

Di depan teras museum, di sisi sebelah kiri, seorang petugas menyambut kedatangan kami. Saya dipersilakan mengisi buku tamu. Oke, done! Saat saya tanyakan berapa harga tiket masuknya, si petugas menjawab: gratis. Lho? Padahal menurut informasi, HTM-nya sebesar lima ribu rupiah untuk pengunjung lokal.

Saya tidak sempat bertanya kenapa, sih. Mungkin saja karena hari itu adalah hari pertama museum-nya dibuka pasca libur lebaran. Ya, saat itu hari Kamis, tanggal 21 Juni 2018. Pengunjungnya masih relatif sepi. Asyik juga, nih. Bisa lari-larian di dalam. Hehe… Enggak ding.

Saya dan Afra bergegas menuju teras. Si Abi yang sudah nyelonong duluan melambai-lambaikan tangannya, menyuruh kami mendekat. Dia berdiri di dekat sebuah meriam tua yang diletakkan di sana, masih menggendong si kecil. Ada juga patung Ganesha, si lambang ilmu pengetahuan. Pas ini. Kami pergi ke sana karena ingin tahu lebih banyak.

Kami pun bersama-sama menuju pintu masuk yang berwarna putih dihiasi biru muda. Saya menengok sejenak ke sebelah kanan. Ada sesosok patung wanita. Oh, ini rupanya patung Dewi Durga, istri Dewa Siwa. Sepengetahuan saya, banyak patung peninggalan kerajaan Hindu di abad ke-7 yang tersimpan di situ.

Lanjut ke dalam, yuk!

Dari Kotak Musik sampai Makam Para Raja

Benda pertama yang kami jumpai begitu melewati pintu masuk adalah patung kepala sang pendiri museum yaitu Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV. Berkat ide cemerlang beliau, warisan sejarah yang terbentang di hadapan kami bisa dinikmati dari generasi ke generasi. Ngaturaken sembah nuwun nggih, Kanjeng. Harus diabadikan, nih.



Saya pun mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan pertama itu. Terlihat banyak koleksi topeng yang diletakkan di dalam lemari kaca. Penutup wajah dengan berbagai macam warna itu biasanya dipakai dalam tari-tarian khas Jawa. Warna topeng biasanya menggambarkan watak tokohnya. Misalnya, topeng yang berwarna merah biasanya untuk tokoh yang galak. Hiii...

By the way, saya jadi ingat, duluuu pas masih SD pernah belajar menari Topeng Bapang, khas Malang. Cukup gerah juga kalau memakainya lama-lama. Buka dulu topengmuuu… buka dulu topengmuuu...


Agak gelap, nih :P

Lemari kaca yang lain menyimpan koleksi beraneka tutup kepala khas Jawa seperti blangkon, kuluk, dan topi-topi untuk para bangsawan. Ada deretan senjata tradisional  seperti keris, tombak, pedang, dan panah yang menghuni lemari kaca di sebelahnya. Selain itu, terdapat arca-arca kecil peninggalan kerajaan Hindu-Budha juga.

Daan… ini dia dua benda bersejarah yang paling ingin saya lihat: piala porselen dan kotak musik hadiah dari Napoleon Bonaparte. Wah, hubungan bilateral zaman dahulu keren juga, ya. Ada TV Led di sebelahnya yang menerangkan tentang dua benda dari Perancis itu. Tapi saya tidak begitu menyimaknya, sih. Hehe...


Kotak musiknya gede.
Bukan seperti kotak musik yang ada ballerina-nya :D

Piala porselen dari Napoleon Bonaparte
Si Abi dan adek entah sedang beredar dimana setelah itu. Saya tetap berjalan beriringan dengan Afra yang terkagum-kagum dengan koleksi museum itu. Saya menerangkan sedikit padanya saat kami berada di ruangan kedua. Ada satu set lengkap gamelan yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Sementara berbagai macam wayang di lemari kaca mengelilinginya.

“Itu seperti gamelan milik Mbah Buyutmu dulu, Nak. Ummi pernah bilang kan bahwa Ummi sering memainkannya saat Mbah Buyut masih ada dulu ,” jelas saya.



Putri saya itu manggut-manggut. Sambil memotret, sesekali dia bertanya. Saya pun menjelaskan tentang apa yang saya tahu. Termasuk saat kami menyaksikan Canthik Perahu Rajamala,hiasan berupa kepala raksasa Rajamala yang diletakkan di ujung kapal. Canthik itu diletakkan di sebuah kamar tersendiri dengan penerangan remang-remang.

“Bau apa ini, Mi?” tanyanya.
“Oh, ini bau dupa. Si Canthik rupanya masih dianggap keramat. Ada pihak yang masih percaya kalau Canthik itu memiliki kekuatan magis, Nak,” jawab saya.

Terlihat beberapa batang dupa ratus yang dibakar di kamar itu. Saya menjelaskan padanya tentang ritual adat yang memang masih dijalankan oleh beberapa lapisan masyarakat Jawa. Agar dia tidak merasa heran, sih. Begitulah.


Canthik alias hiasan di ujung depan kapal. Berbau mistis.

Angin yang berembus melalui jendela-jendela besar museum lumayan menyejukkan ruangan itu. Kami masih saja asyik menelusuri jejak sejarah yang berharga lewat benda-benda yang ditampilkan. Sayang, ruang pustaka sedang ditutup untuk umum. Di ruangan itu tersimpan ratusan kitab yang sudah usang dari masa lalu. Kabarnya, kitab dan buku-bukunya sedang dalam proses pemilahan dan digitalisasi. Hmm, bagus. Kita tidak boleh kalah dengan rayap!

Di ruangan paling akhir, ada maket makam raja-raja Jawa. Sebuah perwujudan ikatan darah antara Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Mengamatinya membuat saya berpikir: semuanya memang akan berakhir. Ya, sekadar pendapat saya saja, sih. Ruangan-ruangan di depan menunjukkan beraneka kejayaan dan kemegahan. Tapi di sini, orang-orang diajak merenung bahwa kita tidak akan selamanya ada di dunia.

Sebuah suara menyadarkan saya dan Afra untuk bergegas pulang; suara si Abi. Dia dan si adek muncul dari sisi sebelah kanan pintu ruangan belakang itu. Entah waktu itu pukul berapa. Sebenarnya saya masih merasa belum puas, sih. Berharap suatu hari nanti bisa ke sana lagi.

Radya Pustaka, salah satu cagar budaya di Surakarta itu masih terus berbenah sampai sekarang. Masih terus disempurnakan penataannya. Saya sudah ke sana; sudah ke museum dan belajar banyak dari situ. Bagaimana dengan Anda?

Salam pecinta budaya,







Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community

#ODOP_Day5
October 16, 2018

White Lie, Ketika Kebohongan Diperbolehkan

by , in

Judul buku: White Lie
Jenis Buku: Antologi Fiksi Mini
Penulis: Tannia Margaret, dkk
Tahun terbit: Oktober 2017
Penerbit: Jejak Publisher
Jumlah halaman: 276 halaman
ISBN: 978-602-5455-52-0


Dua hari yang lalu saya mengulas buku antologi kesebelas saya yang berjudul Ramadan Penuh Hikmah. Eh, saya jadi teringat bahwa beberapa antologi sebelumnya malah belum saya ceritakan di sini. Salah satunya adalah buku antologi saya yang kelima yang berjudul White Lie.

Buku antologi ini berisi kumpulan fiksi mini, hasil dari Lomba Cipta Fiksi Mini Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Jejak Publisher, bulan September 2017. Jejak Publisher ini merupakan salah satu penerbit indie yang bermarkas di Sukabumi, Jawa Barat. Dulu, penerbit ini yang saya pilih untuk menerbitkan novel perdana saya, The Fear Between Us

Dari 253 naskah yang masuk, terpilihlah 88 fiksi mini bertema White Lie ini. Buku antologi ini akhirnya terbit pada bulan berikutnya, Oktober 2017. Nah, anggap saja ulasan saya sekarang adalah dalam rangka ulang tahun si buku yang ke-1. Yeay!




By the way, sudah pada tahu yang dimaksud fiksi mini, belum? Ada yang menyebutnya dengan istilah flash fiction. Ada pula yang berpendapat kalau keduanya berbeda. Saya sudah pernah membahas tentang fiksi mini dan flash fiction pada postingan Resensi Antologi Flash Fiction "Tuhan Telah Berbaik Hati"


Mangga atuh, cekidot! ^^


Berkenalan dengan White Lie


White lie adalah salah satu bentuk idiom dalam Bahasa Inggris. Mengartikannya mudah saja yaitu kebohongan putih. Tapi apa ya maksudnya? Salah satu pendapat dari laman Urban Dictionary bisa mewakili makna idiom ini. Di sana disebutkan bahwa white lie is a lie with good intentions. Yeah, sebuah kebohongan dengan maksud yang baik. Lho, kok bisa?

Di bagian belakang buku berwarna hitam ini ada blurb sebagai penjelasan lengkapnya: 

Pernah mendengar istilah White Lie sebelumnya? Manusia, pada dasarnya, pasti pernah membuat sebuah kebohongan. Baik yang sekecil ujung pensil atau bahkan yang besar, sekali pun baik jika tetaplah kebohongan apapun alasan yang membuat kita berbohong, tidak bisa menghapus fakta bahwa kita sudah membuat kebohongan.

Tetapi, beberapa orang beranggapan, bahwa kebohongan yang dibuat demi kebaikan itu boleh-boleh saja. Dan dari sinilah istilah White Lie muncul; kebohongan yang diperbolehkan demi sebuah kebaikan.

Di masa kini, kebohongan ini semakin sering dijumpai dan semakin banyak dibuat oleh manusia. Namun sebenarnya, untuk kebaikan siapa White Lie itu dibuat? Untuk kebaikan orang lain, atau untuk diri sendiri? Karena dengan adanya istilah ini, manusia jadi lebih sering mengatasnamakan kebohongannya dengan White Lie, demi kepentingan diri sendiri.

Jadi bagaimanakah sebenarnya White Lie itu? Apa memang diperbolehkan karena akan ada kebaikan yang didapat, ataukah yang namanya kebohongan tetaplah kebohongan dan tidak boleh dilakukan apa pun alasannya?

Dalam buku inilah, para penulis mengeksplorasi tema White Lie dengan sebebas-bebasnya menjadi sebuah karya fiksi mini yang renyah!

Selamat menikmati kebohongan… ^^

Ketika Kebohongan Mereka Menjadi Cerita

Nah, inilah dia 88 orang penulis yang berhasil mengemas White Lie dengan warna yang berbeda-beda. Mereka terbagi atas:  

3 Orang Juara


5 Orang Penulis Terbaik


10 Orang Penulis Terfavorit



70 Orang Penulis Terpilih

Saya tidak bisa menampilkan semuanya di sini.
Saya sendiri berada di urutan 41, alhamdulillah. Pastinya harus ditampilkan, dong. Heuheu…

Juara ke-1, Tannia Margaret, namanya berhak terpampang di depan sampul buku ini. Yups, ide fiksi mini-nya yang berjudul Rumah Kehidupan memang anti mainstream. Setting tempat yang diambil adalah di kota Roma, Italia. Saat itu Nazi, Jerman sedang berkuasa pada perang dunia kedua.

Fiksi mini tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang dokter bernama Ignacio Conte bersama rekannya, dokter Andrea Verratti. Keduanya berupaya mengelabui tentara Nazi yang waktu itu memburu orang-orang Yahudi yang tidak bersalah di Roma.



Keduanya sepakat menggunakan ilmunya di bidang kedokteran untuk menghasilkan sebuah penelitian. Fiktif, memang. Mereka menyebarkan hasil penelitian itu bahwa orang-orang Yahudi di kota Roma menderita penyakit Syndrome K. Penyakit itu sangat menular, karenanya semua orang harus menjauh dari orang-orang Yahudi jika tidak ingin terpapar penyakit tersebut.

“Kami mampu berperang dan menyelamatkan orang dengan cara kami sendiri.” (Rumah Kehidupan, halaman 231)

Fiksi mini Monochrome yang menjadi juara ke-2, karya Ogie Munaya, berkisah tentang Harun yang memutuskan untuk membohongi Dely, kekasihnya. Sejatinya, keduanya adalah saudara tiri yang terpisah. Kenyataan pahit itu baru diketahui Harun justru setelah ia benar-benar jatuh cinta kepada Dely.

“Kau tidak perlu tahu jawabannya. Yang jelas, aku sudah tidak mencintaimu. Kau membuatku melihat diriku sendiri dan itu benar-benar membuatku takut.” (Monochrome, halaman 194)

Sedangkan Vanya Salsabila Rofinanda, sang juara ke-3, bercerita tentang sebuah kebohongan yang menyembuhkannya dalam Her Lie Heals Me. Adalah tokoh ‘aku’ yang harus dirawat di rumah sakit pasca kecelakaan parah yang menimpanya dan kedua orangtuanya.

‘Aku’ mendapatkan luka di matanya, tak bisa menemui ayah dan ibunya. Sang adik menyampaikan salam dari kedua orang tua mereka. Berharap si ‘aku’ tetap tenang dan segera sembuh.  Si ‘aku’ pun akhirnya bisa pulih dan bisa bertemu dengan ayah ibunya.

“Dua gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama ayah dan ibuku. Deretan tulisan 29 Februari 2012 terpampang jelas di depan mataku. Hari dimana kecelakaan itu terjadi.” (Her Lie Heals Me, halaman 249)

Kisah-kisah kebohongan putih yang lain juga tidak kalah menariknya. Walaupun singkat, tapi selalu ada pesan kebaikan yang bisa diambil. So, silakan berbohong asal yang putih-putih aja, ya? ^^

Ternyata Pemicu Mom War Itu...

Nah, ini dia fiksi mini saya, Mom War by The Dads. Seingat saya, jumlah katanya hampir mendekati 700 kata. Monggo disimak. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun si buku. ^^

Mom War by The Dads
Oleh: Tatiek Purwanti

Hari kedua puluh satu. Tangisan bayi, aroma minyak telon, dan kesibukan yang lebih padat di pagi hari.

“Abang Hafiz main sama Eyang Uti, yuk.” Bu Rohana membujuk cucunya agar menjauh dari Sabrina.

Bocah lucu berusia dua tahun itu akhirnya digandeng neneknya ke arah taman. Sebuah bola sementara bisa mengalihkan perhatiannya. Di dalam kamar, Sabrina, sang ibunda tengah menyusui adiknya yang sejak tadi rewel.

“Undangan aqiqah sudah beres kan, Yah?” Sabrina bertanya kepada Andy, suaminya. Sore bakda Ashar nanti mereka akan mengadakan hajatan aqiqah anak kedua mereka.

“Alhamdulillah, sudah semua. Termasuk teman-teman di perusahaan,” jawab Andy.

Ia memijit pelan punggung istrinya. Bayi merah di gendongan Sabrina akhirnya tertidur, kenyang.

“Tuh, kesempatan buat ikut tidur sebentar,” Andy menatap mata Sabrina. Masih terdapat ‘mata panda’ di sana.


Sabrina mengangguk. Sedikit tersenyum. Lalu mengambil posisi berbaring di sebelah bayi mereka.

Sesuatu yang sudah pernah dialaminya saat Hafiz masih bayi. Bulan pertama kelahiran adalah masa-masa begadang. Bayi belum mengenal pergiliran pagi dan malam. Maka orang tuanya akan terjaga juga jika si bayi mengajak ‘bercanda’ malam-malam.

Tapi ada yang sedikit berbeda bagi Sabrina kali ini; Baby blues. Sabrina hampir saja tidak kuasa melawannya. Beruntung suaminya cukup siaga. Juga bantuan dari ibu mertuanya yang bersedia menginap sebulan di rumah mereka.

***

“Normal atau sesar?”
Duh, pertanyaan itu lagi.

“Alhamdulillah, normal, Pak,” jawab Sabrina kemudian.
Andy menatap istrinya, diam saja.

“Baguslah,” sahut Pak Sasmito, kepala divisi di tempat Andy bekerja.
Ia dan istrinya berhalangan hadir di acara aqiqah kemarin. Hari ini mereka baru bisa menjenguk bayi Sabrina.

“Tiga anak saya lahir secara normal semua. Ya kan, Ma?” Pak Sasmito menoleh ke arah istrinya, Bu Intan. Perempuan pendiam itu mengangguk sambil tersenyum.

“Istri saya selalu menurut pada saya. Termasuk tentang meminum air rendaman rumput Fatimah, agar lancar ‘pembukaannya’. Pokoknya tidak boleh sampai operasi, agar perjuangan melahirkannya benar-benar sempurna,” lanjut Pak Sasmito.

Sabrina menggigit bibirnya. Andy mengetahui gelagat itu. Cepat dialihkannya pembicaraan ke topik yang lainnya. Tapi tetap saja, Pak Sasmito mendominasi perbincangan. Atasannya itu memang susah dihentikan jika sudah mengemukakan argumen-argumennya.

***

“Seharusnya para bapak itu belajar peka.” Sabrina mengeluh.
Sudah tengah malam. Bayi mereka tertidur beberapa menit yang lalu.

“Di saat para ibu berusaha menghindari Mom War, kenapa justru para bapak  menyulutnya?” Sabrina tidak tahan. Dikeluarkannya segala uneg-uneg terkait kunjungan beberapa tamu mereka.

“Ya, ya... Ayah paham. Mungkin mereka...” Andy berusaha menenangkan istrinya.

“Pintar saja tidak cukup, seorang pria harus juga beradab,” potong Sabrina.

Matanya mulai berkaca-kaca. Andy merangkul istrinya. Dibiarkannya Sabrina melanjutkan keluhnya.

“Bunda menjalani sesar juga karena ada indikasi medis. Memangnya kenapa kalau sesar?” Sabrina bertanya, tapi tidak butuh jawaban Andy.

“Teman ayah yang satunya itu juga sama, si Pras.”

Andy mengangguk-angguk. Pras yang datang saat acara aqiqah juga melakukan offside. Masih diingatnya saat Pras bertanya apakah Sabrina akan kembali bekerja setelah melahirkan anak keduanya. Sabrina dan Andy sudah jauh-jauh hari bersepakat bahwa Sabrina akan resign dari pekerjaannya.

“Duh, sayang dong kalau Sabrina jadi pengangguran,” celetuk Pras waktu itu.

“Oh, saya berjualan online, kok,” jawab Sabrina.

Hatinya sungguh gusar dikomentari seperti itu. Seorang ibu dengan dua orang anak disebut pengangguran? Oh, come on!

“Nah, boleh juga itu. Istri saya selain bekerja juga hobi berjualan. Bla... bla... bla...” Pras meneruskan kalimatnya. Istri Pras yang duduk di sampingnya mengiyakan perkataan suaminya itu.

Sabrina tersadar dari flashback-nya.
“Ayah paham kan kalau Bunda tidak akan berjualan apapun saat ini?”

“Iya. Tidak apa-apa kok Bunda bilang seperti itu,” Andy mendukung kebohongan yang telah dilakukan istrinya.

Sabrina tidak berminat pada bisnis online sejauh ini. Cita-citanya adalah fokus pada dua buah hati mereka. Khususnya Hafiz yang selama dua tahun terakhir ini kurang mendapatkan perhatiannya.

***

Sabrina menaburkan bunga pada gundukan tanah kecil di hadapannya. Matanya basah. Haliza, putrinya, terbaring abadi di situ. Salah satu bayi kembarnya itu bertahan hidup beberapa jam saja di rumah sakit. Akhirnya, ia dan Andy hanya bisa mendekap Haidar, putra keduanya saat ini.

Masih diingatnya pertanyaan Riko, teman lamanya. Saat itu Sabrina mengunggah foto Haidar yang baru lahir di facebook sebagai profile picture-nya. Tanpa caption.

“Selamat, ya. Cowok apa cewek nih?” tanya Riko.

“Cewek,” balas Sabrina.

Sabrina sadar bahwa ia telah berdusta. Tapi sebenarnya tidak juga. Semata agar Riko tidak melanjutkan komentarnya dengan: “Cowok lagi? Nambah atuh, biar lengkap!”

-Selesai-  




Salah satu yang menginspirasi saya untuk menulis fiksi mini di atas adalah hadits yang berbunyi seperti ini:

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).”
(HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Nah, fiksi mini saya di atas boleh di-krisan, tapi pastinya tidak bisa saya perbaiki. ^^

Thanks for reading,








Tulisan ini disertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community
October 15, 2018

Penyakit Tidak Menular? Cegah dengan 20 Aksi Sehat Ceria Ini

by , in



Kesehatan itu mahal harganya.
Seharusnya dimaknai dengan menjaganya karena bernilai tinggi, bukan karena harus berobat yang berbiaya tinggi.

Matahari sudah hampir tenggelam, saat saya menerima kabar itu dua hari yang lalu. Salah seorang kerabat dari pihak bibi saya telah meninggal dunia. Penyakit diabetes mellitus telah memutus kebahagiaannya, padahal dia baru saja menikmati indahnya menimang cucu. Lebih sedih lagi, suaminya tengah terbaring tak berdaya karena mengidap gagal ginjal. So sad

Tak terhitung berapa kali saya mendengar kabar berpulangnya seseorang karena menderita penyakit diabetes mellitus atau kencing manis. Pun yang menderita penyakit itu seakan tersebar dimana-mana. Ternyata setelah saya cari faktanya, penyakit tersebut memang termasuk ke dalam tiga besar penyakit mematikan di Indonesia. Wah!

Hasil survei itu dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kementerian Kesehatan pada tahun 2014 yang lalu. Survei yang disebut Sample Registration Survey (SRS) itu menghasilkan fakta tentang 10 penyakit mematikan di Indonesia, yaitu:




Mewaspadai Penyakit Tidak Menular (PTM)

Dari hasil survei di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa tiga besar penyakit mematikan di Indonesia adalah karena Penyakit Tidak Menular (PTM). Ya, penyakit tersebut timbul bukan karena ditularkan oleh orang lain. Penyakit Tidak Menular terjadi karena proses penuaan sel yang mempengaruhi kerusakan jaringan atau organ tubuh. Istilah lain dari penyakit ini adalah penyakit degeneratif. Cukup familiar, bukan?


Jadi, PTM diakibatkan oleh kelalaian manusia itu sendiri berupa penerapan pola hidup yang tidak baik, seperti pola makan yang tidak sehat dan kurang berolahraga. Jika hal tersebut dilakukan terus-menerus, wah… bahaya! Diam-diam mematikan namanya. Ya, karena nikmatnya hanya di awal saja dan berlanjut dengan efek menakutkan di kemudian hari.

Makan enak? Siapa yang nolak, ya? Kadang karena terasa enak, jadi nambah teruuuss… Kita jadi lupa bahwa enak dan mengenyangkan itu belum cukup. Tubuh kita sebenarnya lebih membutuhkan kandungan gizinya. Tubuh kita membutuhkan makan itu secukupnya saja, tidak perlu sampai perut kekenyangan.

Duduk-duduk saja memang nyaman. Tidur-tiduran juga. Eits, tapi jangan keterusan alias seperlunya saja. Tubuh kita tetap butuh digerakkan dengan bermacam aktivitas olahraga. Berkeringat itu sehat, karena panas di dalam tubuh kita akan terbuang. Suhu tubuh oun seimbang. Capek setelah berolahraga juga bagus karena artinya jantung kita telah bekerja keras sehingga aliran darah ke seluruh tubuh menjadi lancar.


Sumber: pixabay

Hmm, ini menjadi pengingat untuk saya sendiri dan keluarga, nih. Sudahkah kami lebih teliti dalam mengkonsumsi makanan dan melawan kemalasan? Penyakit Tidak Menular karena pola hidup tidak sehat? Oh, no!

Pola Hidup Sehat, Mulai Sekarang Juga!

Kematian memang takdir yang pasti terjadi. Tapi sebagai manusia normal, kita pasti memimpikan panjang umur dalam kondisi kesehatan yang prima. Betul, tidak? Jika kita sehat, tentunya kita bisa melakukan tugas-tugas keseharian dengan lancar dan menyenangkan. Dengan itu, kita bisa menginspirasi orang lain agar melakukan hal yang sama. Karena bangsa yang sehat dimulai dari pribadi-pribadi yang sehat pula. Siap?

Nah, di bawah ini adalah contoh pola hidup sehat ala keluarga kami. Menyenangkan dan mudah saja caranya, serta berusaha terus kami lakukan. Kami menyebutnya sebagai #AksiSehatCeria.




1. Bangun Sebelum Subuh

Bangun pagi di saat suasana masih lengang dan udara masih segar itu rezeki sekali. Inilah waktu favorit untuk paru-paru kita karena oksigen masih murni, tanpa polusi. Ini juga waktu yang baik bagi saya jika ada PR menulis. Walaupun tidak lama, biasanya saya mencicil sedikit tulisan di saat seperti ini.

2. Minum Jeruk Nipis Hangat

Saya biasa meminum air jeruk nipis hangat tanpa gula, begitu bangun dari tidur dan sebelum pergi ke kamar mandi. Awalnya, saya melakukan ini ketika menjadi pelaku food combining dan keterusan sampai sekarang. Suami saya pun ketularan meminum ini juga. Jeruk nipis hangat yang diminum saat mulut kering dan perut kosong berguna untuk mempersiapkan sistem pencernaan dan mencegah konstipasi.

Jeruk nipis yang kaya vitamin C ini mudah diperoleh di pasar tradisional di dekat rumah saya. Murmer, tapi berkhasiat untuk meningkatkan imunitas dan menyeimbangkan Ph tubuh. Kadang jika tidak ada jeruk nipis, saya menggantinya dengan lemon yang punya khasiat sama.

3. Makan Buah Saat Perut Kosong

Sekarang saya tidak lagi menjadi pelaku food combining murni, tapi menjadi terbiasa memakan buah di saat perut kosong. Hanya buah, tidak dicampur apapun, minimal satu jam sebelum sarapan. Kebiasaan ini akan membantu mengeluarkan racun dari dalam tubuh, memberikan suplai energi, dan menurunkan berat badan.





Perlu diketahui, jika buah dikonsumsi bersamaan dengan makanan lain, akan timbul produksi gas di lambung sehingga menyebabkan kembung. Ini karena buahnya membusuk saat bercampur dengan makanan tersebut.

4. Makanan Bergizi yang Dimasak Sendiri

Selain lebih hemat, pastinya kita bisa memastikan keamanan makanan yang akan  dikonsumsi. Apalagi untuk anak-anak yang masih dalam masa tumbuh kembang, harus dipastikan makanan mereka mengandung karbohidrat, protein, sayur, dan buah dalam jumlah yang cukup. Selain itu, harus minim sekali mengandung zat-zat pengawet, pewarna, dan perasa.

Ini sebenarnya tidak berlaku ideal di keluarga kami, sih. Karena saya dan suami ber-LDR-an, pastinya selama hari di luar kota, suami saya menyantap masakan luar. Baru pada saat dia pulang, saya siap sedia memasak untuknya dan membawakan bekal saat dia kembali bertugas. Anak-anak pun lebih suka hasil masakan saya sendiri walaupun sederhana.

5. Mengunyah Makanan dengan Baik

Tidak hanya bahan makanan yang baik dan proses memasak yang benar, cara mengunyah makanan pun penting. Makanan yang tidak terkunyah sampai lembut bisa memberatkan kerja organ-organ setelahnya yaitu lambung dan usus. Akibatnya, bisa timbul diare, kembung, konstipasi dan gangguan pencernaan lainnya.

So, tidak usah terburu-buru, ya. Habiskan makanan kita dengan kunyahan yang sempurna.

6. Cukup Minum Air Putih

Air putih adalah minuman favorit saya dan suami, yang berusaha kami tularkan juga kepada anak-anak kami. Selain menyegarkan, pastinya air putih yang dikonsumsi dalam jumlah cukup akan bermanfaat bagi kesehatan. Tubuh akan terhidrasi dengan baik sehingga tidak mengalami gangguan pada fungsi pencernaan dan memudahkan kerja ginjal dalam membuang racun tubuh melalui urine.

Kekurangan asupan air putih akan berefek pada cepat lelahnya tubuh, bibir dan kulit yang kering, serta urine berwarna lebih gelap dari biasanya.

Biasanya kami berusaha meminumnya sejumlah delapan gelas sehari atau sekitar 2 liter. Menjadikan air putih sebagai minuman utama, dengan sendirinya akan meminimalisir keinginan untuk mengkonsumsi minuman lain yang berkadar gula tinggi.

7. Ngemil Sehat

Alhamdulillah, saya termasuk orang yang tidak begitu nge-fans dengan gorengan. Jika harus ngemil, saya memilih membuat cilok sendiri atau memilih penganan lain yang cukup dikukus atau direbus saja, misalnya: ubi, singkong, dan edamame alias si kedelai Jepang.


Edamame (Sumber: pixabay)

Saya tidak anti gorengan, sih. Tapi jika ingin sekali, saya berusaha membuatnya sendiri dengan minyak goreng yang sering diganti. Yang jelas, ngemil bukan merupakan agenda keseharian. Sesekali saja sebagai hiburan.

8. Selektif Saat Makan di Luar

Mie ayam dan bakso memang enak. Keduanya sebenarnya merupakan makanan favorit saya. Tapi karena kandungan sayurnya kurang sekali, akhir-akhir ini saya lebih memilih gado-gado atau lalapan sayuran jika harus makan di luar. Biasanya, kami menutup wisata kuliner dengan meminum air mineral atau air jeruk hangat.

Kami jarang berwisata kuliner, sih. Paling sebulan sekali. Selain pilihan makanan, tempat yang tertutup dengan fasilitas cuci tangan juga menjadi pertimbangan kami.

9. Berpuasa Tiga Kali dalam Sebulan

Sebagai seorang muslimah, saya berusaha menjalankan anjuran berpuasa sunnah setiap bulannya. Biasanya sih tiga kali dalam sebulan, bisa lebih saat harus membayar hutang puasa Ramadan.

Berpuasa tidak hanya bermanfaat untuk penguatan spiritual tapi juga terbukti berguna bagi kesehatan. Pada saat berpuasa, akan terjadi proses pembersihan tubuh dari racun alias detoksifikasi. Berpuasa dengan benar juga akan memberikan  efek anti penuaan atau antiaging.

10. Rajin Menggosok Gigi

Anak kedua saya yang berusia 26 bulan sedang getol-getolnya belajar menyikat gigi. Kebiasaan ini memang kami ajarkan sejak dini agar dia nantinya memiliki gigi yang sehat dan kuat. Untuk kakaknya yang berusia 11 tahun, mulai kami ajari juga menggunakan mouthwash.


Sumber: pixabay
Saya dan suami sudah pernah menambalkan gigi yang berlubang, dan tidak ingin anak-anak kami nantinya memiliki masalah kesehatan gigi serupa. Lebih jauh lagi, infeksi pada gigi dan gusi yang akut ternyata akan berdampak pada gangguan jantung dan stroke, lho. Ini karena gigi tertanam pada akar gigi yang berhubungan dengan saraf-saraf dan pembuluh darah yang lainnya.

11. Teratur Buang Air Besar (BAB)

Normalnya, setiap orang akan teratur BAB sekali dalam sehari. Walaupun ada juga yang sampai tiga kali dalam sehari. Yang jelas, teratur BAB menandakan pergerakan usus besar yang baik dan lancar untuk mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Perut akan terasa lega dan aktivitas keseharian pun akan nyaman dijalani.

Sedangkan mereka yang tidak teratur BAB-nya atau mengalami konstipasi, akan bersusah payah bahkan sampai mengejan karena kerasnya tinja. Hal ini bisa melukai dubur, wasir, bahkan jika akut bisa menyebabkan kanker usus besar. Duh, kalau sudah begitu harus mengecek kecukupan asupan serat dalam makanan, tuh.

12. Tidur Siang Sejenak

Sejak kecil, saya dibiasakan untuk tidur siang walaupun hanya setengah jam. Ini pun saya terapkan pada anak-anak saya termasuk si kecil. Dengan tidur siang, saya merasa lebih rileks, rasa lelah berkurang, mood menjadi lebih baik, sehingga saat bangun bisa segar kembali.

13. Melakukan Olahraga Kesukaan

Semakin mendekati kepala 4, saya dan suami semakin sadar diri untuk menjaga kebugaran tubuh dengan berolahraga yang kami suka. Sederhana saja tapi rutin dilakukan selama kurang lebih 30 menit. Jika suami suka berolahraga lari, saya lebih suka berjalan kaki atau senam. Jika ada kesempatan untuk berjalan kaki di luar jadwal olahraga, benar-benar saya gunakan untuk membakar kalori.


Sumber: pixabay

Ya, saya sendiri memiliki target untuk menurunkan berat badan, Semenjak ada si kecil, berat badan saya naik beberapa kilo. Wah… PR, nih!

14. Rutin ber-Family Time

Kebersamaan di dalam keluarga menjadi salah satu sumber kebahagiaan saya. Maka, akhir pekan menjadi waktu yang istimewa bagi LDR family seperti kami. Tidak harus bepergian, kadang kami bersenda gurau di rumah saja. Ya, karena bahagia adalah sumber ketentraman pikiran. Itu juga modal berharga bagi kesehatan mental, yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik.

15. Tidur Malam di Awal Waktu

Sebisa mungkin saya mengajak si kecil untuk tidur sekitar jam delapan malam. Kadang memang susah, karena dia maunya bermain terus. Berbeda dengan kakaknya yang sudah mengerti tentang jadwal dan keteraturan.

Tidur di awal waktu adalah anugerah bagi saya untuk merehatkan tubuh. Sebisa mungkin saya tidak begadang. Jika ada target menulis, biasanya saya memilih mengerjakannya di awal pagi. Terlalu sering begadang tentu saja tidak baik bagi kesehatan kulit dan berpotensi mengalami penyakit jantung/stroke.

16. Berpikir Positif

Semua manusia pasti menghadapi masalah, besar atau kecil. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah cara kita memandang masalah tersebut. Kadang kita lebih fokus pada rumit masalahnya, bukan cara pemecahannya.


Sumber: pixabay
Biasanya, saya akan berusaha berpikir positif dulu saat masalah datang. Saya yakin pasti ada hikmahnya, nih. Jika perlu curhat, yang paling pertama jadi teman adalah suami, kemudian ibunda. Intinya, tetap rileks sehingga stress yang bisa merugikan kesehatan pun menjauh.

17. Memperbaiki Kualitas Spiritual

Sebagai seorang muslimah, mendekatkan diri kepada Allah Swt dengan berbagai ibadah ritual adalah kewajiban. Saya berusaha menjalankannya sepenuh hati sehingga hadir rasa syukur, pengharapan, dan ketenangan batin yang luar biasa. Hal ini sangat menunjang kesehatan fisik dan mental saya.

18. Bergaul dengan Masyarakat

Saya dan keluarga hidup di tengah masyarakat yang cukup baik. Ini sangat saya syukuri. Walau tidak bertalian darah, tetangga itu ibarat saudara terdekat saya. Mengakrabi mereka menjadikan hidup lebih berwarna. Nah, ini juga salah satu cara saya menjaga kesehatan mental.

19. Menjadi Pendonor Darah

Salah satu cara mencegah Penyakit Tidak Menular adalah dengan mendonorkan darah kita. Ya, karena penelitian kesehatan telah membuktikan manfaat donor darah. Di antaranya, donor darah terbukti dapat membantu mengurangi kelebihan kadar zat besi dalam darah sehingga menjadi stabil. Zat besi yang berlebihan bisa menyebabkan oksidasi kolesterol. Nah, produk oksidasi itu akan menumpuk pada dinding arteri dan ini meningkatkan potensi serangan jantung dan stroke.  

Sumber: DokterSehat

Selain itu, donor darah bermanfaat untuk:
  • Meningkatkan produksi sel darah merah
  • Menurunkan berat badan
  • Merasakan kepuasan psikologis
  • Mendeteksi penyakit
  • Merawat kesehatan organ hati
Saya sendiri belum pernah melakukan donor darah. Tapi suami  saya beberapa kali pernah mendonorkan darahnya. Palang Merah Indonesia (PMI) rutin mengunjungi perusahaan tempatnya bekerja dan menyelenggarakan aksi donor darah di sana.

Kartu peserta donor darah milik suami saya

Menurut suami saya, dia merasa lebih bugar setelah selesai mendonorkan darahnya. Kepercayaan dirinya juga meningkat karena sebelum menjadi donor, dia menjalani tes kesehatan terlebih dahulu dengan hasil baik. Wah, kapan-kapan saya mau juga, ah.

20. Segera Pergi ke Dokter

Saat saya dan keluarga menderita sakit, meminum obat warung sebagai antisipasi awal. Jika berlanjut, pastinya kami memilih untuk pergi ke dokter. Kami sekeluarga menjadi anggota BPJS dan jangkauan untuk menuju faskes tingkat 1 cukup dekat.

Dokter sebagai tenaga ahli di bidang kesehatan tentu lebih mengerti seluk beluk penyakit berikut obatnya. Saya dan suami tak segan bertanya jika dirasa ada yang mengganjal. Dokter  itu biasanya akan melayani pertanyaan kami dengan sabar.

Selain berkonsultasi pada dokter, saya juga sering mendapatkan informasi kesehatan dari DokterSehat. Apa itu DokterSehat?




Ini adalah sebuah website keren yang membahas tentang  dunia kesehatan. Beraneka penyakit dan kanker dibahas tuntas, lengkap! Ada juga ulasan menyeluruh tentang serba-serbi kehamilan, lho.

Nah, jika kita ingin berkonsultasi mengenai masalah kesehatan dari A-Z, di sini nih tempat yang tepat. Para dokter yang baik hati akan menjawab pertanyaan-pertanyaan kita dengan tuntas, layaknya kita berkonsultasi face to face ke dokter keluarga kita. Asyik, kan?

Di sana tersedia juga menu Kalkulator Kesehatan, seperti:
  • Perhitungan BMI
  • Perhitungan Kalori 
  • Menghitung masa subur (Kalkulator Ovulasi/kesuburan)
  • Menghitung usia kehamilan (Kalkulator Usia Kehamilan dan Hari Perkiraan Lahir)
  • Memprediksi kenaikan berat badan dan kondisi janin saat hamil
  • Online Analisa Penyakit
Wah, lengkap sekali, bukan?

Masih ada satu lagi yaitu info tentang Direktori Rumah Sakit yang ada di Indonesia. DokterSehat memiliki info tentang 539 rumah sakit dari seluruh propinsi yang ada di Indonesia. Ini tentunya memudahkan para calon pasien untuk memilih rumah sakit yang sesuai bagi mereka.

Selengkapnya, yuk kunjungi akun sosial media DokterSehat berikut ini:

Dua puluh #AksiSehatCeria yang saya sebutkan di atas mungkin belum mencakup keseluruhan usaha untuk mencegah Penyakit Tidak Menular. Tapi setidaknya kami sudah memulainya dan terus berusaha menjalaninya.

Ya, kesehatan itu mahal. Mari merawat kemahalannya dengan menjadi pribadi yang sehat fisik maupun mental.

Salam sehat,