My Lifestyle, My Journey, My Happiness

March 29, 2020

Ekowisata Kopi Ambaidiru, Potensi Wisata Hijau Kopi Robusta dari Papua

by , in

Apa yang teman-teman pikirkan tentang Papua? Mungkin jawabannya adalah di sana terdapat permasalahan di bidang pendidikan, infrastruktur, eksploitasi sumber daya alam, akses ekonomi, dan pengelolaan hutan adat. Itu semuanya benar. Nah, saya akan mengerucutkan pembahasan tentang Papua dari segi potensi ekowisatanya yang nantinya akan berpengaruh terhadap penguraian masalah sumber daya alam dan ekonomi. Lebih tepatnya adalah potensi ekowisata Kopi Ambaidiru. Sudah pernah mendengar ini?

Sebagai seorang pecinta kopi, membahas tentang salah satu dari 8 kopi khas Indonesia ini sungguh menyenangkan. Indonesia sebagai negara ke-4 penghasil kopi terbesar di dunia memiliki Kopi Toraja, Kopi Aceh, Kopi Sumatera, Kopi Jawa Barat, Kopi Flores, Kopi Bali, Kopi Luwak, dan Kopi Papua. Nah, Kopi Papua yang akan saya bahas di sini adalah Kopi Ambaidiru yaitu spesies Kopi Robusta yang berasal dari Pegunungan Ambaidiru, Kabupaten Kepulauan Yapen. Yuk, simak!

Mengenal Kabupaten Kepulauan Yapen


Provinsi Papua yang merupakan provinsi terluas di Indonesia ini terdiri dari 28 Kabupaten. Satu di antaranya adalah Kabupaten Kepulauan Yapen yang beribukota di Serui. Kabupaten ini terletak di wilayah Teluk Cendrawasih yaitu di bagian Utara Pulau Papua. Daerah pesisir yang ada di wilayah ini memiliki tinggi 3 sampai 10 meter di atas permukaan laut.


Dulunya, kabupaten seluas 2. 432,49 kilometer persegi dengan penduduk sebanyak 97.412 jiwa ini bernama Kabupaten Yapen Waropen. Setelah dikeluarkannya Peraturan Pemerintah No. 40 tahun 2008, nama kabupaten tersebut resmi berubah menjadi Kabupaten Kepulauan Yapen. Ini sesuai dengan letak geografisnya yang terdiri dari gugusan pulau. Nah, pulau-pulau kecil yang ada di wilayah ini tidak kalah eksotis dengan Raja Ampat yang terletak di Provinsi Papua Barat, lho.


Tidak mengherankan, sektor pariwisata menjadi salah satu sektor unggulan dari Kabupaten Kepulauan Yapen. Ada Pantai Sarwandori yang terkenal karena lautnya yang berwarna hijau tosca dan memiliki terumbu karang yang menakjubkan. Di area daratan, ada Telaga Tondijat yang mempunyai pemandangan indah dan menawarkan wisata berperahu mengelilingi telaga. Juga ada keindahan Air Terjun Mariarotu yang mencurahkan air sejuknya dari ketinggian 30 meter. Ah, benar-benar surga dunia. Mau banget lah pergi ke sana.

Selain pariwisata, sektor unggulan lainnya adalah sektor kelautan dan perikanan, sektor kehutanan (kayu dan rotan), sektor pertanian holtikultura, dan sektor perkebunan (kakao, kopi, dan vanili). Nah, salah satu komoditas unggulan dari sektor perkebunan yang sedang kita bicarakan sekarang adalah Kopi Ambaidiru. Dari namanya sudah jelas, kopi ini dihasilkan dari perkebunan kopi yang ditanam di kawasan Pegunungan Ambaidiru.


Pegunungan Ambaidiru terletak di Distrik Kosiwo, salah satu dari 16 distrik di Kabupaten Kepulauan Yapen yang paling luas wilayahnya. Pegunungan indah berhawa sejuk ini berada di ketinggian sekitar 800 meter dari permukaan laut. Ia sudah banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik dari Papua ataupun luar Papua. Konon, kesejukannya setara dengan kesejukan di Puncak, Bogor atau di Batu, Malang Raya. Wah, asyik nih!

Kopi Ambaidiru, Kopi Robusta Unggulan dari Papua


Berdasarkan buku The World Atlas of Coffee yang ditulis oleh James Hoffman, ada sekitar 120 spesies kopi yang telah teridentifikasi di seluruh dunia. Namun, yang banyak dikenal secara komersial hanya ada 3 jenis yaitu Arabika (Coffea arabica), Robusta (Coffea caniphora), dan Liberika (Coffea liberica). Lebih mengerucut lagi, Arabika dan Robusta lah yang paling populer. Teman-teman yang punya hobi ngopi, lebih suka Robusta atau Arabika, nih?

Kalau saya sih lebih menyukai Robusta. Tak lain karena aroma Robusta ini cukup kuat, mirip aroma cokelat dan teh hitam yang dicampur, gitu. Sungguh menenangkan saat menghirup aromanya. Memang rasa Robusta ini lebih pahit dari Arabika karena kandungan kafeinnya yang lebih tinggi. Alhasil, saya bisa lebih berkonsentrasi begitu selesai meminum Robusta. Bye, sleepy!

Nah, Kopi Ambaidiru ini adalah satu-satunya jenis Robusta yang ditanam di Papua. Ya, spesies kopi yang ditanam di wilayah lain di Papua adalah jenis Arabika. Tentunya ini menjadi sebuah kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Kepulauan Yapen. Hal unik lain dari Kopi Ambaidiru adalah cita rasanya yang 'misterius' yaitu perpaduan rasa antara Arabika dan Robusta. Aih, saya jadi penasaran seperti apa rasanya.


Kopi Ambaidiru ini pernah mencatat prestasi saat digelar Festival Kopi Papua ke-1 pada tanggal 3-4 Agustus 2018 di Kota Jayapura yaitu menyabet juara ke-2. Keren! Festival yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia ini bertujuan untuk mendorong budaya minum kopi di Papua. Juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yakni kesejahteraan petani kopi dan pengelolaan lahan perkebunan kopi secara lebih baik.

Menyusul sukses tersebut, Kopi Ambaidiru akhirnya diundang secara khusus ke Istana Negara pada perayaan HUT Republik Indonesia ke-73 (17/08/2018). Pada pameran itu, Kopi Ambaidiru yang menempati stand di bagian belakang Istana Negara mendapatkan sambutan yang antusias dari para pengunjung. Ini tentunya menjadi ajang promosi yang bagus agar Kopi Ambaidiru lebih dikenal masyarakat sehingga membuka peluang pemasaran yang lebih luas lagi.


Bupati Kabupaten Kepulauan Yapen, Tonny Tesar, pun dengan bangga membawa Kopi Ambaidiru di setiap agenda kerjanya. Sang Bupati ikut mempromosikan produk unggulan daerahnya itu kepada siapapun yang ditemuinya. Harganya? Kopi Ambaidiru dibanderol seharga Rp 100 ribu untuk kemasan 250 gram. Cukup terjangkau untuk sebuah kenikmatan kopi unggulan, bukan?

“Kopi Ambaidiru ini enak. Pemandangan di kebun kopinya juga bagus sekali. Kami akan mendukung perbaikan infrastruktur ke Kampung Ambaidiru agar wisatawan bisa menikmati kopi sekaligus menikmati segarnya alam Ambaidiru,” ujar Bupati Tonny Tesar.

Permasalahan di Balik Kepopuleran Kopi Ambaidiru


Pegunungan Ambaidiru memang sungguh indah. Walaupun saya belum pernah ke sana, keindahan itu sudah saya lihat dari unggahan beberapa akun instagram dan channel YouTube yang mengulas pegunungan ini berikut perkebunan kopinya. Di Pegunungan Ambaidiru terdapat 3 area perkebunan kopi yang berada di Kampung Ambaidiru (area Kitun), Kampung Manainin (area Paputum), Kampung Numaman, dan Kampung Ramangkurani (area Kakupi).


Perkebunan kopi tersebut sudah berusia sekitar 50 hingga 60 tahun yang berarti pohon kopinya sudah ditanam sejak masa penjajahan Belanda. Pengelolaan perkebunan itu diwariskan ke anak cucu petani kopi secara turun-temurun. Mereka menebang pohon kopi yang sudah tua, juga membersihkan pohon kopi yang sudah tidak berbuah lagi. Lalu, tunas-tunas pohon kopi yang baru mereka pelihara hingga sekarang.

Para petani kopi tersebut berusaha mempertahankan kualitas Kopi Ambaidiru, salah satunya dengan cara tradisional yaitu melakukan pemupukan organik. Sayangnya, itu belum cukup. Sejak tahun 2003, hama bubuk kerap menyerang perkebunan kopi sehingga produksi Kopi Ambaidiru pun menurun. Padahal permintaan pasar akan Kopi Ambaidiru cukup tinggi. 


Permasalahan lainnya adalah belum ada standar pengolahan pasca panen yang dilakukan oleh para petani kopi. Seharusnya, ada standar baku sejak proses pemetikan buah, pengupasan kulit, sirkulasi udara, suhu di rumah jemur, hingga proses sangrai. Tanpa adanya standar yang baku itu, penurunan kualitas cita rasa dan aroma kopi pasti terjadi. 

Solusinya?

Yayasan Ekosistim Nusantara Berkelanjutan (EcoNusa Foundation) -organisasi nirlaba yang bertujuan mengangkat pengelolaan sumber daya alam yang berkeadilan dan berkelanjutan di Indonesia- membuat pelatihan panen kopi pada tanggal 20-23 November 2019 yang lalu. Pelatihan tersebut dihadiri oleh perwakilan dari 4 kelompok tani dari Desa Ambaidiru, Desa Manainin, Desa Numaman, dan Desa Ramangkurani, pengurus Badan Usaha Milik Desa (BumDes) Manainin, pemerintah Desa Manainin, serta petugas Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD).


Kontribusi Yayasan EcoNusa tersebut diikuti oleh aksi bantuan dari Kementerian Desa dan Daerah Tertinggal pada hari Rabu, 22 Januari 2020. Paket bantuan diberikan kepada 5 kampung di Distrik Kosiwo yaitu Kampung Ambaidiru, Kampung Manainin, Kampung Ramangkurani, Kampung Numaman, dan Kampung Mambo. Paket bantuan tersebut terdiri dari: mesin genset, mesin sangrai kopi, mesin pulper kupas basah, huller kupas kulit ari, grinder kopi, seller pengemasan, dan kemasan aluminium foil. Sip!


Paket bantuan yang diberikan oleh pemerintah itu sejalan dengan pendapat Staf Pengelolaan Sumber Daya Alam Yayasan EcoNusa, Vanji Dwi Prasetyo. Dia berkata bahwa industri Kopi Ambaidiru perlu mendapat intervensi lebih lanjut dari pemerintah daerah. Menurut Vanji, selain sebagai sumber penghasilan masyarakat desa, keberadaan kebun Kopi Ambaidiru berfungsi sebagai kawasan penyangga Cagar Alam Yapen Tengah.

Ekowisata Kopi Ambaidiru, Impianku!


Luas wilayah Provinsi Papua adalah 319.036 kilometer persegi dan sekitar 90%-nya masih tertutup hutan. Sangat mungkin, flora fauna yang ada di dalamnya masih dalam kondisi utuh. Papua juga diketahui memiliki tipe ekosistem terlengkap di dunia, mulai dari ekosistem pantai sampai ekosistem pegunungan alpin. Dengan kondisi demikian, siapa sih yang tidak tergiur untuk mencoba menikmati wisata hijau di Papua?

Perkebunan Kopi Ambaidiru yang berdekatan dengan Cagar Alam Yapen Tengah tidak luput menjadi sasaran kunjungan wisatawan. Walaupun agenda minum kopi bisa dilakukan di rumah atau di kafe-kafe, menikmati langsung kopi di habitat aslinya pasti lebih mengasyikkan. Itu rupanya tujuan banyak wisatawan yang berkunjung ke Pegunungan Ambaidiru: tak sekadar ngopi tapi juga menyatu dengan alam.

Di sinilah berbagai kepentingan lantas bertemu: wisatawan ingin terpuaskan, petani kopi dan masyarakat setempat berharap memperoleh tambahan penghasilan, pemerintah daerah mendapatkan pemasukan untuk meningkatkan Pendapatan Domestik Regional Bruto (PDRB), dan lingkungan alam diharapkan tetap terjaga kelestariannya.

Maka menurut saya, konsep wisata yang sesuai untuk perkebunan Kopi Ambaidiru adalah ekowisata!


Jadi, ekowisata adalah suatu bentuk wisata yang sangat erat hubungannya dengan prinsip konservasi. Bahkan, strategi pengembangan ekowisata juga menggunakan strategi konservasi. Maka ekowisata ini tepat dan berdayaguna dalam mempertahankan keutuhan dan keaslian ekosistem di kawasan yang masih alami. Dengan ekowisata, pelestarian alam bahkan bisa ditingkatkan kualitasnya karena desakan dan tuntutan dari para eco-traveler.

Di daerah saya sendiri terdapat Ekowisata Kebun Kopi Amadanom, Kecamatan Dampit, Kabupaten Malang. Di sana, disuguhkan konsep menanam pohon kopi organik dari hulu sampai hilir sekaligus sebagai tempat edukasi kepada masyarakat yang akan melakukan kegiatan berwisata sambil belajar. Pengelola ekowisata tersebut adalah kelompok tani setempat yang didukung penuh oleh pemerintah daerah. Saya kira, perkebunan Kopi Ambaidiru yang juga organic oriented pun bisa melakukannya.

Konsep ekowisata Kopi Ambaidiru hendaknya bisa dijalankan sesuai dengan 9 prinsip ekowisata berikut ini:

Sumber: Pelatihan Ekowisata di Bali
(3-5 September 2002) oleh Kantor Kementerian Lingkungan Hidup

Merujuk pemberitaan www.kepyapenkab.go.id, pada awal November 2019 yang lalu telah dilakukan pengaspalan jalan dari Tatui ke Ambaidiru sepanjang 13 kilometer. Diharapkan, perbaikan infrastruktur ini akan memangkas waktu dan ongkos perjalanan dari dalam Ambaidiru ke luar kawasan itu. Pemasaran hasil pengolahan kopi pastinya lebih lancar. Para wisatawan pun saya kira akan lebih antusias datang jika jalanan di sana lebih layak dilewati. Saya juga yakin, seiring berjalannya waktu, perwujudan Ekowisata Kopi Ambaidiru niscaya bukan hanya mimpi.


Jadi, jika ada pertanyaan: maukah ke Papua? Saya akan menjawab: mau sekali! Tepatnya, saya ingin mengunjungi Ekowisata Kopi Ambaidiru. Sebuah perjalanan wisata yang tidak hanya tentang indahnya destinasi namun juga kaya akan filosofi. Mungkin perjalanan ke sana akan berat dan lama, tapi di situlah letak filosofinya. Di situlah tercatat kepedulian terhadap lingkungan dan alam; sebuah makna asli dari wisata hijau. I want to be a real eco-traveler!


Bagaimana dengan teman-teman semua? Yuk, berwisata hijau ke Papua!




Salam,
Tatiek







Tulisan ini diikutsertakan dalam kompetisi blog "Wonderful Papua" dengan tema: Papua, Destinasi Wisata Hijau

#BeradatJagaHutan #PapuaBerdaya #PapuaDestinasiHijau #EcoNusaXBPN #BlogCompetitionSeries

Referensi:

https://penghubung.papua.go.id/5-wilayah-adat/saereri/kabupaten-kepulauan-yapen/
https://www.econusa.id/id/ecostory/ambaidiru-coffee-plot-as-buffer-zone-for-yapen-nature-preserve-
https://www.kumparan.com/amp/bumi-papua/3-destinasi-wisata-alam-di-serui-yang-layak-dikunjungi-1549943376433256500
https://www.kepyapenkab.go.id/index.php/2019/12/01/bupati-tonny-tesar-ayo-ke-ambaidiru-nikmati-alam-pegunungan-kepulauan-yapen/amp/
https://kabarpapua.co/coba-kopi-robusta-papua-di-sini-tempatnya/
https://jubi.co.id/asa-petani-kopi-ambaidiru/
https://www.lintaspapua.com/2018/08/19/kopi-ambaidiru-asal-kepulauan-yapen-masuk-istana-negara/amp/
https://www.academia.edu/5188123/Ekowisata_PENGERTIAN_DAN_KONSEP_DASAR_EKOWISATA
http://ecotourismnovi.blogspot.com/2010/01/prinsip-prinsip-ekowisata-1.html?m=1

March 18, 2020

Menikmati Social Distancing bersama 'Bilal: A New Breed of Hero'

by , in

Sejak tanggal 15 Maret 2020 kemarin, Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengimbau segenap lapisan masyarakat agar lebih memusatkan kegiatan di dalam rumah. Ya, social distancing. Ini adalah strategi pembatasan interaksi dengan orang lain dalam rangka mencegah penyebaran Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) yang sedang menggemparkan dunia.

Alhasil, sekolah dan kampus diliburkan, PNS bisa melakukan Work from Home, dan kegiatan semacam Car Free Day ditiadakan sampai akhir bulan ini. Di perusahaan tempat suami saya bekerja pun dibuat sistim rotasi agar tidak semua karyawan masuk kerja. Intinya, jika tidak perlu-perlu amat untuk pergi, lebih baik di rumah saja. Hestek populer di jagad twitter mewakili hal ini: #DiRumahAjaDulu

Untuk ibu rumah tangga seperti saya, imbauan social distancing ini tidak sulit untuk dilakukan. Lha wong memang keseharian saya lebih banyak di rumah. Walaupun sebenarnya ada agenda pameran buku di Kota Malang yang ingin saya kunjungi di awal pekan ini, sih. Tapi sebagai warga negara yang baik, patuh, dan tidak sombong, saya menahan diri untuk tidak pergi dulu.

sumber: Ig @kumparan

Ada banyak hal yang bisa kita lakukan bersama keluarga selama imbauan social distancing ini diberlakukan. Inilah saat yang tepat untuk lebih memperkuat bonding antar anggota keluarga. Kita bisa lebih banyak ngobrol dan melakukan kegiatan bersama di dalam rumah tanpa harus menunggu hari Minggu tiba. Rindu piknik? Di halaman rumah pun jadi! Kuncinya: usir rasa bosan saat berada di rumah dengan cara terbaik kita.

Nah, salah satu agenda saya bersama suami di awal pekan kemarin adalah nonton film bareng di rumah. Cukup lama kami tidak melakukannya karena biasanya kami menonton film sendiri-sendiri. Suami saya apalagi. Dia mah menonton film sesempatnya saja karena dia akan lebih memilih mengurus tanaman bonsainya saat hari libur. Kali ini kami kompak untuk menonton film animasi yang tertunda terus untuk kami saksikan yaitu Bilal: A New Breed of Hero.

'Bilal: A New Breed of Hero', Film Animasi Uni Emirat Arab 'Rasa Disney'


Dari judulnya -walaupun teman-teman yang muslim belum menonton- pasti paham kalau film ini berkisah tentang salah satu sahabat Rasulullah yang cukup terkenal: Bilal bin Rabah. Selain para Khulafaur Rasyidin, sosok Bilal bin Rabah termasuk yang mudah diingat: berasal dari Habasyah/Ethiopia, awalnya adalah budak, dan menjadi pengumandang azan pilihan Rasulullah.

Karena kami menonton daring di rumah via home theater (baca: laptop yang dihubungkan dengan loudspeaker 😛), pastinya film animasi ini bukan film baru. Film ini pernah ditayangkan di jaringan bioskop Indonesia pada tanggal 15 Mei 2019. Tepatnya saat bulan Ramadan tahun lalu. Sebelumnya, film ini berhasil masuk ke pasar Amerika pada tanggal 2 Februari 2018.

Source: rottentomatoes.com

Jika hanya menyaksikan trailernya tanpa membaca informasinya, pasti banyak orang mengira bahwa Bilal: A New Breed of Hero ini adalah film animasi besutan Disney atau rumah produksi lain di Hollywood sana. Lha penampakannya sekualitas Tangled atau Frozen, sih. Tapi itu salah! Film animasi ini asli buatan Uni Emirat Arab yang rilis pertama kali pada 9 Desember 2015 pada saat Dubai Film Festival. Wah, ternyata butuh waktu lama bagi film ini untuk menembus Hollywood dan akhirnya sampai di sini.


Jadi, Bilal: A New Breed of Hero ini adalah film animasi dengan biaya paling mahal yang pernah dibuat di Uni Emirat Arab. Tepatnya, untuk memproduksi film ini dibutuhkan sejumlah 250 orang animator, dengan proses produksi selama 8 tahun, dan menelan biaya sebesar USD 30 juta atau sekitar Rp 433 miliar. Masya Allah! Indonesia sanggup?

'Social Distancing' pada 'Bilal: A New Breed of Hero'


Lho, kok ada social distancing-nya? Hehe, ini istilah saya sendiri, sih. Social distancing ala Bilal: A New Breed of Hero terjadi karena adanya perbedaan golongan di Mekah yang membuat segolongan manusia merasa lebih agung dari yang lainnya. Karenanya, golongan budak tidak bisa sembarangan bergaul dengan golongan pembesar atau orang kaya. Kedua golongan ini harus berjarak! Ini adalah sebuah potret kesenjangan sosial yang sengaja diciptakan dan ingin terus dilestarikan.

Hamama dan Bilal kecil

Dikisahkan, Bilal hidup tentram bersama Hamama -ibunya- dan Ghufaira -adik perempuannya- di sebuah desa di kawasan Habasyah. Walaupun sudah tak berayah, Hamama melimpahi Bilal dan Ghufaira dengan kasih sayang dan didikan penuh prinsip kebaikan. Bilal pun tumbuh menjadi anak yang percaya diri dengan mimpinya untuk menjadi seorang prajurit yang kuat. Salah satu ucapan Hamama yang terus diingat Bilal adalah "Untuk menjadi seorang laki-laki yang hebat, engkau harus hidup tanpa belenggu."

Umayya, majikan Bilal yang angkuh

Bagi Bilal, ucapan ibunya yang awalnya indah itu akhirnya hanya tinggal kenangan. Dia harus hidup dalam belenggu kemiskinan sebagai seorang budak bersama Ghufaira pasca sebuah peristiwa berdarah di desanya. Ibunya dibunuh oleh kawanan prajurit dari Bizantium, lalu Bilal dan Ghufaira pun dijual ke Arab sebagai budak. Mereka akhirnya menjadi budaknya Umayya (Umayyah bin Khalaf), salah seorang pembesar Quraisy yang kaya raya dan disegani.

Bilal mengalahkan Safwan

Suatu hari, Bilal yang saat itu masih remaja membela Ghufaira yang hendak dirundung oleh Safwan (Shafwan bin Umayyah), anak dari majikannya yang sebaya dengannya. Safwan yang saat itu memegang anak panah berhasil dikalahkan oleh Bilal yang bertangan kosong. Kejadian itu sampai ke telinga Umayya. Bilal dihukum cambuk, sementara Safwan dimarahi ayahnya yang merasa terhina: bisa-bisanya anaknya kalah oleh seorang budak.

Bilal merasa bahwa nasibnya tidak akan pernah berubah. Ghufaira pernah menyarankan agar Bilal membuat permohonan pada para berhala -yang diletakkan di sekitar Ka'bah- dengan mempersembahkan sekeping uang dirham. Semua orang di Mekah melakukannya dengan harapan agar keinginan mereka dikabulkan oleh para berhala. Bilal sama sekali tidak meyakini hal itu. Tapi untuk melawan tradisi, dia tidak tahu caranya.

Saad, si pemanah jitu

Dalam keseharian, Bilal bersahabat dengan Saad (Saad bin Abi Waqqash) yang pandai memanah. Saad adalah orang merdeka yang mendorong Bilal agar lebih sering menunggang kuda yang dijaganya. Sebagai ajang latihan, gitu. Selama ini Bilal lebih sering menuntun kuda itu. Membeli kuda sendiri? Hoho, mana mampu? Tapi Saad berkata, "Butuh lebih dari sekadar uang untuk menjadi mahir yaitu sebuah tekad yang kuat."

Abu Bakr, bijak dan penuh ketenangan

Suatu hari, Bilal bertemu dengan Abu Bakr (Abu Bakar Ash-Shiddiq) yang bisa melihat sisi baik Bilal saat Bilal memberi makanan pada seorang anak kecil yang kelaparan. Mereka berbincang di sekitar Kabah. Abu Bakr yang berwajah teduh itu berkata dengan bijak bahwa Ka'bah sebenarnya dibangun bukan untuk 'ajang pemalakan' via para berhala yang disebar para pembesar Quraisy. Ka'bah seharusnya adalah tempat dimana manusia bisa hidup berdampingan dan sejajar untuk kemudian menghamba hanya pada Satu Pencipta.

Abu Al Hakam, 11-12 sifatnya dengan Umayya

Saat itu Nabi Muhammad mulai melakukan dakwahnya tentang kesetaraan hidup manusia yang membuat banyak penduduk Mekah mengikutinya. Tentu saja sosok Rasulullah tidak ditampakkan. Hanya lewat perbincangan antara Abu Al Hakam (Abu Jahal) dan Umayya serta para pembesar Quraisy lainnya. Bilal mendengar perbincangan itu dan mulai timbul banyak pertanyaan di benaknya.

Soheib, budak pemberani sahabat Bilal

Di hari berikutnya, Bilal berani membela Soheib (Suhaib bin Sinan Ar-Rumi), seorang budak yang ahli sebagai pandai besi yang juga sahabat Bilal. Saat itu Soheib dan beberapa budak dicambuk oleh Abu Al Hakam dan prajuritnya karena para budak mengambil air dari sebuah sumur. Tiba-tiba datanglah Hamza (Hamzah bin Abdul Muthalib) memukul Abu Al Hakam. Hamza berkata, "Sejak kapan sumur ini tidak berlaku untuk semua orang? Sekarang aku menilai berhala dari perilaku para pemujanya. Kebrutalanmu hari ini menunjukkan apa yang menjadi keyakinanmu. Jadi, lawan aku atau pergi dari hadapanku!"

Hamza, berjuluk Sang Singa Allah

Rangkaian peristiwa itu kemudian menjadi titik balik kehidupan Bilal. Dia akhirnya berani memilih dan melawan 'social distancing' yang berlaku padanya dengan mengikuti jejak Rasulullah. Konsekuensinya memang berat, tidak hanya hukum cambuk. Bilal dihukum oleh Umayya di hadapan orang banyak: dijemur di pasir panas dan dadanya ditindih batu besar. Bilal tak gentar dan ucapannya dikenang sepanjang masa, "Ahad... Ahad... Ahad." Ya, tak ada lagi belenggu yang bisa menghalanginya, tepat seperti doa ibunya.

Bilal, Pahlawan Kesetaraan Penuh Inspirasi


Nah, tentu saja di film ini ada beberapa hal yang tidak pernah saya jumpai saat membaca kisah Bilal pada shirah sahabat. Misalnya, Ghufaira adalah sosok tambahan untuk memperkuat alur cerita. Sedangkan Hamama sebenarnya tidak mati terbunuh, melainkan sejak awal sudah menjadi budak di Mekah. Begitu pula peristiwa saat Hamza memukul Abu Al Hakam, sebenarnya itu terjadi karena Hamzah bin Abdul Muthalib marah karena Rasulullah disakiti. Juga adegan saat Bilal kembali ke Mekah dengan amarah karena mengira adiknya terbunuh. Padahal saat itu kaum muslimin sudah hijrah ke Madinah. Ini adalah adegan rekaan, untuk memperkaya alur cerita. Apalagi? Nonton sendiri, deh. Hehe...

Ya, walaupun diangkat dari kisah nyata, sah-sah saja untuk menyelipkan hal-hal rekaan seperti di atas. Ini adalah film animasi yang berusaha dikemas secara profesional: dalam waktu 105 menit saja harus bisa ditangkap pesannya dengan baik oleh seluruh dunia. Saya kira film yang meraih predikat The Best Inspiring Movie pada momen Animation Day saat Festival Film Cannes 2016 ini cukup berhasil melakukannya.

Sosok Ali bin Abi Thalib dalam adegan Perang Badar

Oh ya, walaupun ini adalah film keluarga, ratingnya adalah PG-13 alias Parents Strongly Cautioned. Sebaiknya tidak ditonton oleh anak di bawah usia 13 tahun dan saat menontonnya harus ada pendampingan orang tua. Di sini memang ada umpatan, adegan pemukulan, juga adegan peperangan saat terjadi Perang Badar. Kalau versi saya sih: sebelum menyaksikan film ini, anak-anak sudah harus dipahamkan dahulu tentang kisah Rasulullah dan para sahabatnya.

Latar tempat yang keren saat Bilal berbincang dengan Abu Bakr

Menyaksikan film animasi Bilal: A New Breed of Hero ini membuat saya terharu sekaligus bangga. Sahabat Rasulullah ini jelas bukan tokoh pahlawan fiktif. Dia layak jadi teladan bagus untuk semua orang, tidak hanya umat Islam saja. Dimulai dari sering berpikir, bertemu dengan orang-orang yang tepat, dan kemudian berani mengambil risiko untuk sebuah perubahan besar dalam hidupnya. Keadilan dan kesetaraan adalah milik semua orang, hadiah berharga dari Sang Maha Cinta.

"Percaya atau tidak, Bilal. Majikanmu adalah seorang budak juga. Majikannya adalah keserakahan, majikan terburuk sepanjang masa." (Abu Bakr, Bilal: A New Breed of Hero)


Selamat menikmati social distancing.


Salam,
Tatiek


Credit pict: Ig @bilalmovie

March 09, 2020

Berbincang dengan Anakku tentang Film Dua Garis Biru

by , in

Judul Film: Dua Garis Biru
Genre Film: Drama keluarga
Sutradara: Gina S. Noer
Produser: Chand Parwez Servia, Fiaz Servia, Reza Servia (eksekutif)
Penulis: Gina S. Noer
Pemeran: Angga Aldi Yunanda, Adhisty Zara, Lulu Tobing, Cut Mini Theo, Dwi Sasono, Arswendi Nasution, Rachel Amanda
Penata Musik: Andhika Triyadi
Sinematografi: Padri Nadeak
Penyunting: Aline Jusria
Perusahaan produksi: Starvision, Wahana Kreator Nusantara
Distributor: Starvision, iflix
Tayang bioskop: 11 Juli 2019
Durasi: 113 menit


Tanggal 7 Maret kemarin, Afra -putri sulung saya- genap berusia 13 tahun. Yaa Rabb, begitu cepatnya waktu berlalu. Suka duka saat mengandung dan melahirkannya seperti baru terjadi kemarin. Ternyata sekarang Afra sudah menjadi gadis, sudah berbahagia sebagai seorang santriwati yang sedang menjaga kalam ilahi.

Saya jadi teringat momen saat liburan semester pada pertengahan Desember 2019 kemarin. Afra mendapat jatah liburan selama 2 pekan. Selain tetap menjalankan kebiasaan di pondoknya, Afra juga mengisi waktu liburan dengan membaca novel yang dibelikan si Abi di awal tahun ajaran baru: tujuh novel "Serial Bumi"-nya Tere Liye. Novel-novel itu belum sempat dibacanya karena pada semester awal memang dia tidak diperbolehkan membawa buku bacaan dari rumah. 

Setelah tujuh novel itu dilahapnya, saya mengajaknya untuk nobar film. Yups, menonton film bareng memang kebiasaan kami sejak Afra masih SD. Itu adalah salah satu cara saya mengajaknya berdialog dan berdiskusi tentang sebuah tema dalam kehidupan untuk kemudian diambil pelajaran berharganya. Apalagi di usia remajanya seperti ini, ngobrolin film dengannya berarti saya siap menjadi sahabatnya.

Menonton Asyik via Iflix


Nah, film yang kami tonton bareng adalah Dua Garis Biru. Sebelumnya, saya sudah menonton film ini pada bulan November 2019. Tidak di bioskop kok. Di rumah saja via aplikasi iflix. Tahu dong, ya. Ini adalah salah satu platform video streaming yang populer di Indonesia. Cukup unduh aplikasinya yang hanya sebesar 20 MB. Lalu biasanya untuk menghemat kuota, saya mengunduh dulu filmnya dan menontonnya secara offline.

Saya termasuk yang menonton di hari pertama saat tayang di iflix

Melalui iflix, saya bisa menonton film dengan kualitas gambar dan suara yang cukup baik. Biasanya sih saya memakai earphone sehingga tata suara di filmnya benar-benar pas di pendengaran. Pastinya saya menonton film dengan cara mencicil, hehe. Kalau anak tidur atau sedang diajak bermain Si Abi, baru deh saya bisa melanjutkan PR menonton.

By the way, menonton film via iflix seperti ini juga salah satu bentuk dukungan kita untuk dunia perfilman Indonesia. Yups, karena perusahaan produksi filmnya bekerja sama secara resmi dengan iflix untuk memasarkan filmnya secara legal, pasca tayang di bioskop. Kalau tiket bioskop masih dianggap mahal, saya rasa berkorban kuota tak ada salahnya untuk sebuah pengalaman mencermati sisi lain kehidupan via film. Itu prinsip saya, sih.

Sempat Menimbulkan Pro dan Kontra


Film Dua Garis Biru resmi tayang di iflix pada tanggal 22 November 2019. Tidak terlalu lama dengan tayang perdananya di bioskop yaitu tanggal 11 Juli 2019. Saya tidak harus menunggu sampai enam bulan untuk menyerap pesan film drama keluarga yang di awal promonya sempat ditentang oleh sebagian publik Indonesia ini.

Pasca penayangan trailer film Dua Garis Biru pada tanggal 25 Mei 2019, muncul sebuah petisi di change.org.id agar film ini tidak ditayangkan di bioskop karena dianggap menjerumuskan. Ya, ya. Pergaulan bebas yang berujung kehamilan, gitu loh. Apanya yang bisa dipelajari? Mungkin begitu pemikiran si pembuat petisi dan mereka yang menolak mentah-mentah kehadiran film ini.

Baru menyaksikan trailer film dan secepat itu mengambil kesimpulan? Hoho... 


Saya sendiri jadi penasaran saat trailer Dua Garis Biru hadir di YouTube. Hmm... saya langsung teringat dengan sinetron lawas yang pernah dibintangi oleh Agnes Monica dan Syahrul Gunawan, Pernikahan Dini. Yang ngeh dengan sinetron ini, toss... Kita seangkatan. 😉 Seingat saya, dulu tidak ada yang bikin penolakan atas tayangnya sinetron Pernikahan Dini di televisi.

Saya mencoba menerka bahwa para penolak film ini risih dengan adegan awal di trailer dimana dua pemeran utamanya ditampakkan begitu mesra. Pastinya mereka khawatir jika kemesraan ala remaja itu bisa ditiru oleh remaja lainnya.

Tak lama kemudian, ada petisi tandingan agar film Dua Garis Biru tetap tayang di bioskop seperti yang telah dijadwalkan. Mereka yang mendukung Dua Garis Biru tetap tayang pastinya ingin menyerap pesan yang disampaikan oleh film ini. Toh ini adalah film drama keluarga, bukan film bergenre pure romance. Begitu mungkin alasan mereka yang pro dengan film Dua Garis Biru

Saya Tertarik dengan Film Dua Garis Biru 


Saya sendiri tidak menandatangani petisi manapun. Tapi sebagai emak yang agak suka film -apalagi bertema keluarga- saya malah berharap bisa menonton Dua Garis Biru dan menyaksikan sendiri keseluruhan jalan ceritanya. Itu lebih adil. Namun saya memastikan tidak bisa menonton film itu di bioskop. Kenapa? Yeah, si kecil lebih utama, dong. Telinga kecilnya masih belum boleh bersahabat dengan suara menggelegar di gedung bioskop.

Apakah ini berarti saya mendukung remaja untuk berpacaran? Hoho... Saya dulu punya prinsip tidak akan berpacaran sebelum menikah. Prinsip itu juga saya tanamkan dong pada Afra. Prinsip itu tidak akan berubah, insyaallah. Pacaran itu tidak diperbolehkan menurut ajaran Islam.

Menonton film Dua Garis Biru saya niatkan untuk memahami dan belajar mendalami tentang kasus remaja yang terjadi sehari-hari. Bukankah kasus remaja hamil di luar nikah adalah peristiwa pahit yang terus terjadi hingga sekarang?


Ehem, setidaknya di lingkungan tempat tinggal saya ada dua kasus Married by Accident. Rasanya tidak akan nyaman jika saya ngomongin mereka. Ya, ya. Perbuatan mereka salah tetapi siapa tahu mereka sudah bertaubat? Lagipula saya tidak tahu persis kejadian apa yang melatarbelakangi 'kecelakaan' mereka itu. Pastinya mereka juga tidak membuka suara tentang peristiwa kelam tersebut.

So, Dua Garis Biru ini bisa menjadi sarana pembelajaran tentang kasus di atas tanpa saya harus meng-ghibah tetangga. 😉 Film ini tidak mengada-ada dan sebenarnya ingin membicarakan realita dengan cara khas film bekerja: pikirkan dan tangkap pesannya!

Ngomongin Dara dan Bima


"Oh, Dara ini yang dulu meranin Euis di Keluarga Cemara ya, Mi?" tanya Afra.

Saya mengangguk. Yups, Adhisty Zara kembali menunjukkan akting bagusnya lewat film ini sebagai Dara. Sedangkan peran Bima, pacar Dara, dibawakan dengan baik juga oleh Angga Yunanda. Keduanya adalah siswa kelas XII di SMA Budi Pelita yang duduk sebangku.

"See. Pacaran bisa meningkatkan prestasi belajar?" tanya saya pada Afra. Dia langsung menggeleng dan nyengir.

Yups, Dara adalah siswi dengan prestasi akademik yang ciamik, sementara Bima tetap saja memperoleh nilai buruk dalam ulangannya. Yang menenangkan, Dara berusaha membela Bima: yang penting tidak menyontek!

Agaknya, kepribadian Bima yang baik lah yang membuat Dara jatuh hati. Padahal Bima berasal dari keluarga biasa, berbeda dengan Dara yang merupakan anak pertama dari sebuah keluarga berada. Pun, di situ digambarkan sosok Bima yang berkulit sawo matang (pinter juga nih Make-up Artist-nya). Jauh berbeda dengan idola-idola Dara yang berkulit putih: para K-Pop stars.

"Hmm... Sebenarnya mereka anak yang baik," gumam saya.



Awal bencana terjadi saat keduanya hanya berdua saja di rumah Dara. Berawal dari bercanda, bermain-main di kamar Dara, lalu terjadilah perbuatan dosa yang kemudian disesali keduanya. Hanya melakukan sekali tapi bisa 'langsung jadi'. Poin inilah yang kemudian saya tekankan pada Afra.

"Pada saat seorang perempuan berada pada masa suburnya, gairahnya untuk berhubungan badan lebih tinggi daripada biasanya. Ini yang tidak dijaga dengan baik oleh Dara dan tidak disadari sepenuhnya oleh Bima," jelas saya.

Ya, pasti Dara sedang berada dalam masa suburnya yaitu hari ke-10 sampai ke-17 sejak hari haid pertama. Rata-rata jangka waktunya seperti itu untuk mereka yang memiliki jadwal haid teratur. Then my daughter got the point.



"Jam pasir?" gumam Afra.

"Itu menunjukkan kegelisahan Dara karena dia tak kunjung dapat haid," jawab saya.

Pada scene sebelumnya, Dara tampak mual dan muntah saat makan bareng teman-temannya. Dua tanda-tanda kehamilan yang umum terjadi. Kegelisahan yang dilanjutkan dengan adegan membeli test pack yang mengundang senyum. Lalu... Positif!

Bima terguncang, sampai-sampai gelisahnya membuat ibunya (Cut Mini) menyangka bahwa Bima terlibat narkoba. Untunglah ayah Bima (Arswendi Nasution) yang religius itu lebih tenang. Ya, Bima dibesarkan di tengah keluarga yang cukup religius.

Dara apalagi. Impiannya untuk berkuliah di Korea dan berkeliling dunia seakan menuju kehancuran. Tekadnya bulat: aborsi! Bima yang mencarikan 'dukunnya'. Namun saat tiba di tempat itu, tiba-tiba Dara berubah pikiran. Ditunjukkan dengan scene 'stroberi' yang menurut saya keren sekali.

"Bayangkan dosanya jika mereka jadi melakukan aborsi itu," ucap saya. Anak gadis saya terdiam, sedang menghayati adegan mengharukan yang tengah berlangsung.


Mimpi Dara, Perjuangan Bima


"Kamu pikir gampang ya jadi orang tua? Saya aja gagal jadi orang tua!" Mamanya Dara (Lulu Tobing) berbicara dengan nada penuh emosi pada Dara dan Bima.



Mereka akhirnya ketahuan. Walaupun Dara dan Bima merasa siap bertanggung jawab, itu tidak membuat Papa Dara (Dwi Sasono) lebih tenang. Ketegangan terjadi di antara kedua orang tua mereka. Dara dikeluarkan dari sekolah dan diusir dari rumah!

Dimulailah petualangan hidup baru Dara di lingkungan keluarga Bima yang tinggal di sebuah kampung padat penduduk. Dara dan Bima akhirnya merasakan bahwa berumah tangga sangat jauh berbeda dengan berpacaran. Betapa cara komunikasi laki-laki dan perempuan yang berbeda bisa menyebabkan pertengkaran.

Adegan-adegan selanjutnya cukup menguras air mata. Betapa Dara berusaha keras meraih mimpinya dan Bima tak menyerah berjuang dalam keterbatasannya. Walaupun ada selingan adegan lucu juga misalnya via ucapan  Dewi, kakak Bima (Rachel Amanda), tokoh figuran ibu hamil (Asri Welas), maupun celetukan Bima sendiri yang menjadi judul film ini. Kok bisa Dua Garis Biru?

Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi cukup diulas dengan bagus di sini sehingga saya minim menjelaskan pada Afra. Pun bertebaran kutipan jlebb yang berasal dari dialog para pemainnya. Salah satunya adalah ucapan Ibu Bima: "Harusnya kita sering ngobrol kayak gini ya, Bim. Coba aja dari dulu ibu kasih tahu kamu, pasti tidak akan kejadian."



Ya. Berkomunikasilah secara intens dengan anak kita, apalagi jika mereka sudah menjelang aqil baligh, sudah remaja. Jangan sampai  mereka justru mencari tahu sendiri melalui sumber yang salah sehingga mereka pun kebingungan dan salah jalan pula. Saya sudah  melakukannya dan Dua Garis Biru ini sangat membantu.

Dear parents, how about you?


Salam,

Tatiek





Sumber foto : Ig @duagarisbirufilm @iflix.id

March 03, 2020

Juragan Haji: Jalin Kelindan Perempuan, Kepedihan, dan Pesan Kemanusiaan

by , in

Judul Buku: Juragan Haji
Jenis Buku: Kumpulan Cerpen
Penulis: Helvy Tiana Rosa
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku: 181 halaman
Terbit: Agustus 2014
ISBN: 978-602-03-0831-9


"Perih, kamu ini lebih kantoran ya dari orang kantoran! Mana ada orang nyapu ngepel bawa pulpen! Dasar sableng!" serunya.

Aku tak menggubris, hanya memelihara senyuman seorang peri. Aku juga selalu menyempatkan diri membeli buku tipis di warung yang dulu. Pada buku kedua belas, aku mulai berpikir untuk menovelkan diri, kehidupan dan mimpi-mimpi yang tak pernah berhenti mengejarku itu!

"Saya ingin menulis buku, Bu," ujarku pelan pada Bu Waduk 2 saat ia kembali menegur melihat pena yang selalu menyembul dari kantong bajuku.

"Ha ha ha..., apa aku tak salah dengar? Seumur hidup aku tak pernah mendengar seorang pembantu menulis buku! Apalagi sekolah saja tak tamat. Jangan bermimpi, Perih! Nanti kamu bisa tambah perih!" katanya seraya cekikikan.

(Peri Biru, halaman 118)


Cuplikan cerpen berjudul Peri Biru di atas langsung terlintas di pikiran ketika membaca berita tentang Mbak Helvy Tiana Rosa pada akhir bulan Januari 2020 yang lalu. Mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) yang juga kakak dari Mbak Asma Nadia itu berhasil meraih gelar Doktor di bidang Pendidikan Bahasa dari Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dengan predikat sangat memuaskan. Nah, judul disertasinya adalah Proses Kreatif Menulis Cerpen Perempuan Pekerja Rumah Tangga.

Pekerja Rumah Tangga yang dimaksud adalah para TKW asal Indonesia yang bekerja di Hongkong. Mereka tak hanya menjalani pekerjaan hariannya saja namun juga bisa menghasilkan tulisan yang baik. Menurut Mbak Helvy, para Pekerja Rumah Tangga tersebut memiliki proses kreatif dalam kepenulisan yang berbeda dibandingkan para penulis pada umumnya. Secara naluriah, para Pekerja Rumah Tangga itu beradaptasi, menyesuaikan diri dengan pendidikan yang terbatas dan tekanan pekerjaan serta lingkungan yang terus-menerus.

Itu adalah kondisi yang nyaris sama dengan apa yang dialami oleh Peri Biru. Bukan. Ini bukan cerpen fantasi. Memang nama tokohnya adalah Peri Biru. Dia bersama beberapa tokoh perempuan lain mengisi buku kumpulan cerpen karya Mbak Helvy yang diberi judul Juragan Haji. Buku kumcer ini terbit pada tahun 2014 yang lalu, bertepatan dengan musim haji tahun itu. Teman-teman ada yang pernah membacanya juga?

Old is gold. Kisah atau cerita lama sesungguhnya menyimpan pesan yang selalu berkesan dan tidak ketinggalan zaman. Bukankah sejarah selalu berulang? Walaupun buku kumcer ini bukanlah sebuah buku baru, tujuh belas cerpen yang ada di dalamnya masih sangat relevan dengan kondisi hari ini. Simak apa kata Los Angeles Times, "Helvy Tiana Rosa has written 35 books including novels that focus on human-rights abuses againts women in conflict zones such as Aceh or Palestine."

Maka tak ada alasan bagi saya untuk tidak mengabadikan Juragan Haji karya Mbak Helvy ini via ulasan berikut. Yuk, simak!

Para Perempuan dalam Lakon Kehidupan


Selain cerita Peri Biru yang gigih mengejar mimpinya menjadi seorang penulis, ada juga sosok Mak Siti yang juga punya impian terpendam: ingin naik haji seperti majikannya yang sudah tiga kali pergi ke tanah suci. Sebuah impian yang bagai pungguk merindukan bulan untuk seorang pembantu rumah tangga sepertinya. Berapa tahun lagi dia bisa melihat Kakbah jika tabungannya hanya satu juta rupiah saja sementara usianya sudah enam puluh tahun?


Mak Siti yang bermimpi tapi yang hendak diajak berangkat haji tahun ini justru Nona Juragan, anak semata wayang majikannya yang doyan berpakaian seksi dan doyan clubbing. Nona Juragan itu sudah diasuhnya sejak kecil tapi Mak Siti terhalang untuk menanamkan ajaran agama padanya.

"Kalau soal agama, biar saya yang ajarkan. Saya dan suami ini haji! Mak Siti kan belum?!" ujar Bu Juragan, saat ia memergoki Mak Siti mengajar Nona Juragan kecil salat atau membaca Juz Amma. (halaman 70)

Ah, Mak Siti. Bukankah sosok sepertinya dan Sang Juragan juga ada di masyarakat kita?

Mari berkenalan dengan Cut Vi, gadis aktivis nan lincah dari Aceh yang sosoknya tampil di halaman buku paling awal. Yang menceritakan gerak-gerik Cut Vi adalah tokoh 'aku' yaitu Agam Faris. Cerita romansa? Ya, tapi nuansa romansanya unik dan terasa gregetnya. Sebagai penyuka cerita romansa, saya suka sekali dengan cerpen Cut Vi ini. 


Aku ingin menjadi istrimu, tulis gadis itu.
Kulipat kembali surat itu. Surat yang telah kusam karena telah terlalu sering kubaca. Bahkan aku masih hafal semua kalimat dalam kertas biru itu.

Aku percaya pada apa yang kulakukan dan tak peduli bila terkesan aku yang melamarmu. Lagi pula apa salahnya meminta pria berbudi menjadi suami? Maka, Agam, sudikah?

Aku melihatnya pertama kali di pinggir jalan raya, dikerumuni beberapa puluh orang. Waktu itu ia sedang menyampaikan orasi mengenai sikap pemerintah dan GAM terhadap wilayah ini. (halaman 1)

Badass Cut Vi! 🙂
Tapi cuplikan kisah selanjutnya membuat saya geli dan bertanya-tanya.

Aku menganggap Cut Vi dan Intan sebagai adik. Adik yang tak pernah kumiliki. Tapi Bang Ismail, kakakku tak percaya.
"Mungkin kau suka pada salah satu di antaranya? Nah yang tak kau suka bolehlah buat Abang. Atau temanmu yang kau ceritakan itu saja yang buat Abang. Yang ada di Jakarta. Siapa? Mawar? Melati? Lupa aku!"

Dasar bujang lapuk. (halaman 4)

Ternyata di hati Agam sudah ada Mawar, gadis cantik dari Jakarta. Kegalauan Agam itu bersamaan dengan datangnya bencana tsunami yang memporak-porandakan Aceh di akhir 2004. Agam kehilangan kontak dengan Cut Vi padahal ia ingin sekali memberi jawaban. Jadi?

Cerita perempuan dan orang yang dikasihinya tentu saja tak selalu semanis madu. Ada tokoh Sih dalam cerpen Pertemuan di Taman Hening, tokoh gadis Dayak dalam cerpen Darahitam, serta tokoh Titin dalam cerpen bergaya kocak Titin Gentayangan. Ketiga cerpen tersebut menggali perasaan perempuan secara mendalam dalam kondisi mereka masing-masing.


Sebelumnya selain kepada Gusti Allah, Sih hanya mau bercerita pada bunga, serangga dan burung-burung kecil di sana. Lalu lelaki itu hadir. Ah, ia rindu untuk menimang bayi. Banyak atau satu pun tak apa. Sih terkesiap saat menyadari boleh jadi Kas berpaling karena kerinduan yang mendesak terhadap kehadiran seorang anak. Seorang anak yang hingga kini belum mampu diberikannya. (halaman 15)

Sih berselingkuh setelah diselingkuhi secara menyakitkan oleh Kas, suaminya. Hmm... Anda setuju dengan cara ini?

Tak seorang pun di desanya yang pernah mengeluh tentang lelaki pendatang itu. Ia bagai bulan yang menerangi desa tersebut. Para penduduk selalu membalas senyuman dan jabat eratnya. Berbagai kalangan di desanya seolah berlomba mencintai lelaki itu.

Sebenarnya beberapa kali lelaki itu mencoba menyapanya baik-baik. Bahkan dengan suara yang lebih lembut dari suara ibu mana pun. (halaman 59)

Sosok seperti itulah yang membuat seorang gadis Dayak yang tak disebut namanya itu diam-diam jatuh hati. Perasaannya tertahan. Sebelumnya telah tercipta sejuta luka karena konflik berdarah antara Suku Dayak dan Madura, suku si lelaki yang mengisi hatinya. Ah, cerpen yang satu ini berhasil mengiris-iris hati saya, hiks.

Kasih tak sampai juga terjadi pada Titin, seorang gadis Betawi yang lantas ingin bunuh diri karena ditinggal menikah oleh Ucup, kekasihnya. Meskipun cantik, ia "kalah" oleh gadis pilihan Ucup yang lebih kaya dan terpelajar. Titin ingin mati dan  bertekad akan jadi hantu gentayangan sehingga bisa mengganggu mantannya itu. Hohoho.

Dipejamkan matanya. Sebentar lagi kereta api akan lewat dan akan melindas tubuhnya. Titin berharap ia tak akan merasakan sakit. Ia berharap bisa langsung mati. (halaman 145)

Duh, Titin. Menggelikan di awal namun sebenarnya alur cerpen ini cukup bikin deg-degan. Fiuhhh...

Pesan Kemanusiaan Harus Terus Disuarakan


Selain tentang kisah keseharian dan fenomena sosial perempuan, cerpen yang lain dengan kekuatan diksi dan alur memukaunya memaksa saya untuk merenung bahwa sisi lain dunia sungguh tidak ramah. Kedamaian amat mahal harganya dan konflik berdarah antar manusia seakan sebuah hal yang biasa.

Cerita tentang kepedihan dan masih juga menyertakan perempuan tergambar dari penuturan dua tokoh cerpen yang bukan manusia. Ya, sampai-sampai angin dan danau pun ikut menyuarakannya.

Dalam cerpen Sebab Aku Cinta, Sebab Aku Angin, ada angin yang berkisah tentang mengerikannya tragedi berdarah di Ambon pada awal tahun 1999. Si angin adalah pengagum dan pembela seorang gadis muslimah pemberani yang dipanggilnya "Cinta".

"Cinta, menangislah," kataku dengan suara risau mendesau.
Perempuan itu menatap puing-puing bangunan masjid, di seberang kami. Lama sekali. "Beta seng bisa manangis," suaranya bergetar, rahangnya mengeras.
Tetapi aku sangat ingin, bisikku. Tubuhku berguncang, bergetar. Berputar. Semakin lama semakin kencang. Meliuk-liuk....
(halaman 104)


Sedangkan Danau Kivu yang terdapat di Kota Bukavu, Rwanda, Afrika menceritakan kepedihan yang serupa. Danau yang dulu pernah dipuji keindahannya oleh Ernest Hemingway ini menjadi saksi atas konflik berkepanjangan antara Suku Tutsi dan Suku Hutu. Cerpen Kivu Bukavu bertutur tentang ini.

Sejak dua tahun yang lalu itu, keindahanku mulai memudar. Aku mengharap pelangi, tetapi di dekatku hanyalah mayat-mayat berserakan. Sampah-sampah bertebaran, air mata duka dan riak percikan darah.... (halaman 155)

Cerpen Lorong Kematian menyajikan sebuah kekejian yang dilakukan oleh tentara Serbia kepada warga Bosnia. Membacanya sungguh membuat saya muak; sungguh mereka bukan manusia! Hampir sama dengan cerpen Hingga Batu Bicara yang mengambil latar konflik di Palestina. Pedih. Menariknya, di situ ada penggambaran seorang tentara Israel yang masih punya hati nurani. Ia sering menyaksikan tingkah laku seorang gadis Palestina penggenggam 'senjata' yaitu batu.


Negeri kita juga punya kisah penjajahan yang tak kalah kejam. Cerpen Idis menghadirkan kisah perlawanan Demang Lehman dan rakyat dari tanah Martapura, Banjar, Kalimantan Selatan melawan Belanda. Pilu, karena beberapa orang Banjar berkhianat dengan memihak Belanda demi harta yang fana.

Kini negeri kita sudah merdeka, pun perjuangan hak asasi manusia telah bergaung ke seluruh penjuru dunia. Namun konflik antar manusia dan tragedi kemanusiaan seakan tak jua sirna.

Tragedi mencekam di Aceh tergambar dengan apik dalam cerpen Pulang dan Jaring-jaring Merah. Sementara cerpen Ze Akan Mati Ditembak! menceritakan tentang pemuda dari bumi Lorosae yang ingin menyuarakan perdamaian setelah Timor Timur lepas dari Indonesia.

Sejatinya, semua manusia ingin menghirup suasana damai dan persaudaraan. Namun jika tragedi terus berlangsung, bisa jadi ada manusia tak berhati yang ingin agar kekacauan terus terjadi. Cerpen Lelaki Kabut dan Boneka bertalian dengan cerpen Lelaki Semesta. Siapa sebenarnya 'aktor' di balik tragedi Bom Bali dan juga aksi terorisme yang tak kunjung selesai di negeri ini? Siapa yang harus kita salahkan?

Sisi lain hidup sungguh rumit tetapi pasti kita bisa berbuat walaupun sedikit. Mari mulai dahulu dari diri kita sendiri. Mari sadari hakikat diri; untuk apa kita diciptakan? Seperti pesan dari Danau Kivu yang menjadi kutipan favorit saya dari buku kumcer ini:

"Ya Allah, aku pun menjadi korban atas kebencian para manusia yang tak tahu hakikat diri. Tak bisakah Suku Tutsi dan Suku Hutu bersahabat sebagaimana persahabatanku dengan mentari, rembulan, dan awan? Hidup dalam damai seperti kedamaian yang kurasakan bersama pepohonan dan para satwa di sekitarku?" (halaman 155)

Ya, ya. Segala tragedi dan kekacauan di muka bumi pasti akan tetap hadir sepanjang manusia masih mengedepankan hawa nafsunya. Ia tak akan hilang sama sekali. Kita wajib berusaha lalu jangan lupa untuk menyelipkan rasa syukur di tengah-tengahnya. Jangan sampai kita tak mampu lagi melakukan hal sederhana seperti tersenyum.

"Ya..., aku mencari sesuatu yang sangat berharga, yang tiba-tiba saja tercerabut dari wajah semua orang di kota kami. Sebuah senyuman." (Mencari Senyum, halaman 83)


Salam persaudaraan,


Tatiek