My Lifestyle, My Journey, My Happiness

April 22, 2019

6 Tips Berbelanja Menyenangkan dan Menentramkan ala Saya

by , in

Berbelanja adalah aktivitas yang identik dengan para perempuan. Setuju, bukan? Hal tersebut mulai tertanam dalam benak saya sejak kecil karena kegiatan rutin ibu saya setiap pagi adalah berbelanja di pasar. Tidak berbelanja berarti tidak ada masakan yang terhidang untuk hari itu.

Begitu juga saat awal bulan tiba -saat ibu menerima sebagian besar gaji ayah- aktivitas rutinnya adalah berbelanja bulanan. Saya selalu diajak ke toko kelontong langganan ibu. Pastinya sih untuk membantu membawakan belanjaan seperti: gula, minyak, sabun, pasta gigi, deterjen, mie, dan teman-temannya.

Sudah kodratnya perempuan, pikir saya saat itu. Maka saat saya mulai bekerja dan memiliki gaji sendiri, aktivitas yang langsung saya lakukan adalah berbelanja. Horeee! Senang rasanya bisa membeli ini-itu dengan hasil keringat sendiri. Pastinya saya menyisihkan sebagian uang untuk ditabung juga sebelumnya.

Aktivitas berbelanja itu pun terus berlanjut hingga kini. Saya akhirnya bisa merasakan apa yang ibu saya rasakan dulu: harus hemat, cermat, dan bersahaja agar berbelanja menjadi agenda yang menyenangkan dan menentramkan.


Menyenangkan; salah satu me time perempuan adalah dengan berbelanja. Sebuah pemandangan yang lazim terjadi saat seorang istri lebih kuat berkeliling mall dibanding suaminya, hehe.

Menentramkan; jangan sampai aktivitas berbelanja kita menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Gara-gara terlalu bernafsu memborong barang-barang, lupa kalau ada batasan anggaran yang harus dipatuhi.

Nah, di bawah ini adalah tips berbelanja ala saya, berdasarkan pengalaman saya sehari-hari:

1. Membuat Daftar Belanja

Baik itu berbelanja kebutuhan bulanan atau berbelanja kebutuhan harian, catatan belanja bisa meminimalisir lupa. Namanya juga manusia, ya. Dulu, ini sering saya alami saat saya tidak membuat catatan belanja. Saat sampai di rumah, tepuk dahi sekeras-kerasnya. Hiks.


Menulis barang apa saja yang hendak saya beli juga membuat waktu berbelanja menjadi lebih efisien. Ini menjadikan saya memprioritaskan barang yang saya tuju daripada melihat-lihat dulu. Cuci mata tidak salah, sih. Tapi kebanyakan cuci mata bisa perih. 😉

2. Mendukung Warung Sebelah dan Pasar Tradisional

Seperti yang saya sebutkan di atas, ibu saya pergi berbelanja setiap hari. Tempat yang dituju beliau adalah Pasar Pakisaji, pasar tradisional terbesar di wilayah kami. Jaraknya lumayan dekat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kebiasaan itu saya teruskan. Ya, jarang sekali ada tukang sayur bergerobak yang lewat di kampung saya karena orang-orang lebih memilih berbelanja di pasar. Sudah dekat, harga di pasar pun lebih bersahabat.


Selain itu, beberapa orang tetangga saya dan warga kampung sebelah membuka warung. Keberadaan warung itu lumayan membantu saya jika ada barang ini-itu yang ingin dibeli tapi pasar tradisional sudah tutup. Tak seperti pasar induk, Pasar Pakisaji biasanya tutup sekitar jam 14.00 WIB.

Warung tetangga juga menjadi salah satu sarana saya bersilaturrahmi. Sambil membeli tepung, sambil ngobrol dari A-Z. Tetangga senang, saya pun riang. Btw, saya tim anti ngerumpi dan anti utang warung lho, ya. 😁

3. Membatasi Diri Berbelanja Online

Zaman kiwari membuat aktivitas belanja pun bisa dimulai dari ujung jari. Transaksi perdagangan yang awalnya harus bertatap muka bisa beralih menjadi transaksi online atau e-commerce. Tak harus menempuh jarak jauh lagi. Tinggal klik, barang pesanan pun datang sendiri.


Iklan dari marketplace dan online shop pun membanjiri ponsel kita hari ini. Saya sendiri kadang tergoda untuk melihat-lihat iklan yang berseliweran itu. Seringnya sih hanya melihat saja, membeli hanya sesekali. Hanya ada satu aplikasi marketplace di ponsel saya, sih.

Yang lumayan sering berbelanja online di marketplace justru suami saya. Saya yang tergolong anteng dalam urusan belanja online semoga membuatnya bersyukur. Tidak anti, hanya sedikit membatasi. Agar kantong tidak jebol lebih dini. Hehe...

4. Memanfaatkan Waktu Promo Toko Waralaba

Toko waralaba seperti Ind*mar*t dan Alf*m*t pun terletak tidak begitu jauh dari tempat saya. Secara umum, harga barang pada keduanya lebih mahal dari harga di pasar tradisional. Bisa dimaklumi, sih. Ada kenyamanan, ada harga lebih.

Pernah ada seruan boikot pada keduanya, namun saya tidak sepenuhnya setuju. Menurut saya, keberadaan toko waralaba itu juga membuka lapangan kerja. Lagipula, barang-barang yang dijual pun tidak terlalu lengkap sehingga banyak orang tetap memadati pasar tradisional.


Nah, saya sendiri sering memanfaatkan waktu promo kedua toko waralaba tersebut. Biasanya di akhir pekan dan di awal bulan. Harga barang saat promo itu lumayan, lho. Beli 2 gratis 1 juga kadang saya pertimbangan. Asyik-asyik aja, sih.

5. Tidak Pergi ke Supermarket di Hari Minggu

Sedangkan supermarket dan hypermarket terletak di Kota Malang sana. Yang paling dekat sih Giant Ekstra Kebonsari. Selain yang itu, saya sekeluarga harus menempuh jarak yang lumayan jauh. Kemacetan biasanya kami temui jika berangkat di hari Minggu, apalagi jika bertepatan dengan agenda besar yang diselenggarakan di pusat kota.


Ya, ya. Sebenarnya itu adalah sebuah pemandangan yang biasa terjadi untuk Kota Malang saat ini. Tapi belajar dari pengalaman, saya sekeluarga lebih suka berbelanja di supermarket/hypermarket di hari Sabtu. Bebas macet, waktu untuk berbelanja pun tidak 'terbuang percuma' di jalanan. Biasanya, pengunjung pun tidak begitu membludak.

Lho, kok tidak berbelanja pada weekdays?

Karena eh karena... suami saya hanya ada di rumah saat weekend saja. Berbelanja tanpa ditemani suami itu kurang seru, ah.

6. Berbelanja di Toko Grosir

Toko grosir dikenal sebagai pusat perkulakan para pedagang eceran. Tapi banyak juga konsumen biasa yang berbelanja langsung di toko grosir. Harapannya tentu saja mendapatkan harga barang yang lebih murah dan biasanya berbagai macam promo sedang menunggu.

Beberapa kali saya mencoba berbelanja di toko grosir, baik di Kepanjen atau Kota Malang. Terakhir, saya sekeluarga mengunjungi Indogrosir Malang pada hari Sabtu, tanggal 30 Maret 2019 yang lalu.


Indogrosir adalah jaringan pusat perkulakan dengan format distribusi ke pedagang retail/pedagang eceran tradisional dan modern. Toko Indogrosir ini sudah berdiri sejak tahun 1993, lho. Tapi asli... saya baru tahu ketika Indogrosir cabang Malang resmi dibuka pada tanggal 22 Maret 2019. Saat masih dalam proses pembangunan dan tertutup, saya kira akan dibangun mall, gitu.

Selain di Malang, ada 21 gerai Indogrosir lain yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu: Cipinang, Surabaya, Bandung, Tangerang, Yogyakarta, Medan, Bekasi, Palembang, Kemayoran, Pekanbaru, Samarinda, Semarang, Bogor, Pontianak, Banjarmasin, Manado, Makassar, Jambi, Kendari, Ciputat, dan Karawang. Kotanya teman-teman yang mana, nih?

Area parkir mobil, tepat di depan gerai.
Luas dan gratis, tapi tanpa atap.

Jarak Indogrosir Malang lumayan dekat dengan rumah yaitu sekitar 6,3 kilometer. Sekitar 15-20 menit saja kami sekeluarga sudah tiba di sana siang itu. Berbelok ke kiri, tampak area parkir yang luas itu sudah dipenuhi beraneka kendaraan roda empat. Bebas biaya parkir, kok. Hanya dicatat dan diberi tiket parkir oleh pihak security.

Lokasi Indogrosir Malang (IG @indogrosir_mlg)

Langsung saja kami memasuki arena. Lumayan banyak juga pengunjungnya. Tempat penitipan barang yang ada di sebelah kiri pintu masuk tampak ramai. Beberapa karyawan Indogrosir tampak melayani penitipan barang, penukaran bonus, dan juga pendaftaran member baru.


Rupanya, setiap pengunjung baru disarankan untuk menjadi member Indogrosir. Ada dua jenis sebutan untuk member, yaitu member merah (Anggota Khusus) dan member biru (Anggota Umum). 

Anggota Khusus Indogrosir yaitu pelanggan Indogrosir yang bergerak dibidang retailer, misalnya: toko kelontong, pengecer di pasar, pengecer di perumahan, koperasi, warung/kantin, restoran/rumah makan, Rumah Sakit, apotik, dan hotel. Pastinya, Anggota Khusus ini akan mendapatkan harga khusus dari Indogrosir.

Member Biru dengan kartu berwarna biru (IG @indogrosir_mlg)

Sedangkan Anggota Umum itu ya seperti saya ini; konsumen biasa yang tidak punya toko, tapi pasti punya cinta, hohoho... Syarat pendaftarannya sebenarnya mudah. Hanya mengisi formulir dan menunjukkan KTP. Tapi karena saat itu cukup crowded di bagian pendaftaran, saya menunda dulu menjadi member. Bulan depan saja, insya Allah.

Cuzz... ambil troli belanja dan bareng-bareng masuk ke dalam arena pertempuran. Tidak ada AC di sana, jadi udaranya tidak begitu dingin. Sepertinya yang dipasang adalah kipas angin besar atau blower. Rak-rak tinggi tampak berdiri kokoh dengan penataan barang yang padat.


Tidak seperti di supermarket/hypermarket, barang yang dijual di Indogrosir ditata berikut kardusnya. Ada label harga yang menunjukkan harga beli satuan, beli 3 pcs, 6 pcs, dst. Semakin berkelipatan barang yang dibeli, harganya semakin murah.

Koleksi barangnya cukup lengkap, lebih lengkap dari toko grosir lain yang pernah saya kunjungi. Memang pantas jika Indogrosir ini disebut sebagai pusat perkulakan. Ibunda saya yang cukup hapal harga barang-barang di pasar pun mengakui jika harga di situ lebih murah. Cuzz keliling terusss... kira-kira satu jam lamanya. Alhamdulillah, Si Adek anteng dan terlihat nyaman duduk di troli belanjaan.


Perjuangan mengantre pun dimulai saat saya berniat menuju kasir. Waah, terlihat banyak orang membeli dalam jumlah besar, bahkan berkardus-kardus. Sabaaar, pasti nanti juga kelar. Daaan... akhirnya tiba juga giliran saya.


Saya membayar secara non tunai, menggunakan aplikasi i-Saku. Aplikasi ini memang sudah saya pakai sebelumnya saat berbelanja di Ind*m*r*t. Lumayan, lho. Ada potongan harga jika membayar memakai i-Saku, plus memperoleh tambahan poin di MyPoin. Sekecil apapun, kan harus saya manfaatkan. 😉 

IG @indogrosir_mlg

Dalam rangka pembukaan gerai baru Indogrosir ini, ada undian berhadiah yang bisa diikuti pembeli. Setiap pembelian senilai Rp 250.000 akan mendapatkan kupon undian (berlaku kelipatan). Boleh juga, nih. 

Setelah barang lunas saya bayar, masih diadakan re-checker oleh karyawan Indogrosir. Kirain bisa langsung ngacir bersama troli ke parkiran. Katanya, ini adalah wujud cek manual sekaligus mengingatkan pembeli jika ada bonus atau hadiah yang harus diambil di bagian penitipan barang. Ya, sebenarnya sama sih dengan aturan di toko grosir 'sebelah'.


Alhamdulillah, selesai sudah acara belanja bulanan saya di akhir bulan Maret kemarin. Mungkin akhir bulan ini saya sekeluarga akan kembali lagi ke Indogrosir. Tetap 'berbagi rezeki' dengan berbagai pilihan tempat belanja seperti di atas juga, dong. Insya Allah.

Bagaimana dengan teman-teman semua? Tips berbelanjanya ada yang sama dengan saya, kah?



Salam,






Tulisan ini disertakan dalam program Collabs Pasukan Blogger Joeragan Artikel kelompok 3 putaran ke-3.

Sumber gambar: pexels dan dok. pribadi.










April 15, 2019

Bersiap Melepasmu, Anakku

by , in

“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” 
[QS. Luqman: 17]

Pada hari Jumat sore (5/4/19) diadakan doa bersama di musala SDN Pakisaji 02, sekolah anak sulung saya, Afra. Agenda tersebut dihadiri oleh seluruh siswa kelas 6 beserta orang tua mereka untuk menyambut Ujian Nasional (UN) Sekolah Dasar yang akan dilaksanakan pada tanggal 22-24 April 2019 mendatang.

Beberapa menit sebelum agenda dimulai, terjadi perbincangan diantara saya dan beberapa ibu.

"Anak saya besok sekolah di SMP Negeri saja."

"Iya, nih. Belajar dari pengalaman tetangga sebelah. Sudah mahal-mahal bayar uang masuk pesantren 10 juta, eh anaknya tidak kerasan."

Saya tersenyum saja mendengarnya. Kenyataannya memang seperti itu; tidak semua anak cocok dengan pendidikan di pesantren.

Orang tuanya kurang mempersiapkan, kali!

Ssst... Tidak semudah itu, Marimar! Eh, maksudnya... Tidak semua orang tua memang bercita-cita mem-pesantren-kan anaknya. 

Tidak ada paksaan, Rosalinda! Saya sendiri selama 6 tahun bergaul dengan mereka amat bisa memahami perbedaan pola pikir diantara kami. Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan Anakku Anak Negeri ini.

"Kalau anak saya masuk Madrasah Tsanawiyah yang dekat rumah neneknya. Afra sudah pasti masuk pesantren ya, Mbak?" tanya seorang ibu yang anaknya adalah sahabat Afra.

"Insya Allah, Mbak. Alhamdulillah sudah tes, diterima, dan daftar ulang," sahut saya.

Begitulah. Insya Allah Afra akan menjadi salah satu santriwati sebuah pesantren di Kota Malang begitu dia lulus SD nanti. Sebuah pilihan yang persiapannya jauh-jauh hari sudah kami lakukan. Ya, tidak hanya setahun-dua tahun belakangan tapi sejak awal kehidupannya.

Saat awal menjadi orang tua, kami sebenarnya belum mengenal konsep Fitrah Based Education (FBE) alias Pendidikan Berbasis Fitrah. Tapi kalau disinkronkan, apa yang kami terapkan pada Afra ternyata nyambung dengan FBE.

Berikut persiapan jauh-jauh hari kami sebagai orang tua untuk mempersiapkan Afra menjadi seorang santriwati:

1. Mengenal Allah lewat Alam Sekitar

Fase mengenalkan Allah SWT pada anak sebenarnya sejak anak kita berada di dalam kandungan dengan rajin membaca Alquran untuk si janin. Bahkan jika ditarik mundur lagi, sebenernya sejak kita memilih pasangan hidup.

Nah, kami terbiasa mengajak Afra berjalan-jalan pagi sejak dia masih kecil. Cukup berkeliling kampung dan ke kampung-kampung sebelah yang pemandangannya masih asri.

Kami bergantian mengajaknya mengamati matahari yang mulai terbit, rumput yang menghijau, cericit burung-burung, sampai sejuknya angin yang berhembus.

Bukan kampanye, lho. Kan ini foto jadul saat Afra masih berusia 4 tahun

"Matahari terbit dari timur karena tunduk pada Allah lho, Nak. Padahal matahari sebesar itu."

"Yang memberi warna rumput itu Allah. Hebat, ya?"

"Tuh burung-burung bisa terbang karena Allah yang ciptakan ada sayapnya. Sambil menyanyi pula. Gemeees..."

"Gak gerah lagi kalau ada semilir angin begini, kan? Allah juga yang menciptakan angin, lho."

Dan seterusnya...

Pun setiap kali kami bepergian yang lebih jauh, berusaha kami selipkan kebesaran Allah yang bisa ditangkap oleh indera. Pelan-pelan diiringi dengan pengenalan kalimat thayyibah seperti: Allahu Akbar, Masya Allah, Astaghfirullah, Subhanallah, Innalillahi, dll.

Di dalam konsep FBE, ini yang dinamakan menanamkan Fitrah Keimanan. Sebaiknya dilakukan sejak anak berusia 0-7 tahun. Jika lewat dari usia 7 tahun, akan memerlukan 'perjuangan lebih' karena biasanya anak mulai memasuki fase argumentatif.

Afra saat kelas 1 SD

Bermain dan belajar di alam sekaligus juga memenuhi Fitrah Fisik dan Indera-nya. Di sini, motorik sensornya sudah terpenuhi dengan menyentuh, meraba, dan merasa secara langsung obyek di alam sekitar.

2. Menamatkan Sirah Nabi

Sejak usia satu tahun, kami menyediakan board book dan buku bantal untuk Afra. Tidak banyak, memang. Tapi itu menjadikannya terbiasa dengan buku. Jika sudah terbiasa melihat dan memegang, akan lebih mudah lagi mengajaknya membaca buku.

Ya, saya dan suami bergantian membacakan cerita di dalam buku sebelum dia terlelap. Saya belajar menguasai berbagai macam suara orang dan suara binatang, agar cerita yang saya bacakan terdengar lebih menarik. Saya bisa meniru suara sapi sampai suara nenek-nenek, lho. Hihi...

Sekitar usia 8 tahun, dia mulai kami lepas untuk membaca sendiri. Koleksi buku bacaannya kami tambah. Yang paling spesial adalah paket bacaan Sirah Nabi atau Sejarah Rasulullah yang terdiri atas 13 jilid.

Khatam Sirah Nabi sebagai landasan belajar adab dan akhlak

Saya dan suami ikut mendampingi Afra membaca Sirah Nabi tersebut sampai tamat dan berulang-ulang. Prinsip kami, diantara beragam buku yang dimilikinya, Sirah Nabi harus jadi bacaan favoritnya. 

Pas banget. Bahasa yang mudah dimengerti dan ilustrasi yang menarik di dalam buku Sirah itu menjadikannya sebagai buku yang lovable. Di dalam konsep FBE, ini termasuk pengenalan Fitrah Bahasa dan Estetika.

3. Anak Dekat dengan Kedua Orang Tua

Saya resign dari pekerjaan sejak pertengahan 2014. Jujur, saya mengakui jika sebelumnya quantity time saya untuk anak sangat kurang. Iya, dong. Sebelumnya, ibu saya yang jagain Afra saat kecil dan mengantar jemput Afra saat masih TK. 

Sebagian ibu bekerja bercerita bahwa mereka bisa menebus kekurangan quantity time dengan quality time. Ya, ya. Sah-sah saja berpendapat seperti itu. Tapi saya baru menyadari bahwa quantity time juga penting begitu saya berhijrah dari kantor ke rumah. Alhamdulillah, belum terlambat.

So, sejak Afra naik kelas 2 SD, saya full berada di sampingnya dari pagi sampai malam. Dia begitu senang karena kesempatan ber-cooking class dengannya jadi lebih banyak. Pun saya mulai berbincang dengannya tentang kedudukan wanita di dalam Islam sesuai dengan yang saya alami. 

Saya katakan padanya bahwa kelak dia boleh bercita-cita menjadi apa saja asal halal, tapi profesi utamanya setelah menjadi istri adalah mengabdi kepada suami. Ini mudah saya jelaskan karena mengambil contoh memakai diri saya sendiri.

Saya pun bisa melakukan salat berjamaah di rumah dengan Afra lebih sering. Mengimami anak perempuan itu membuat kedekatan dengannya lebih istimewa, lho. Lalu pelan-pelan Afra tergerak untuk mulai berjilbab ke sekolah saat dia naik kelas 3 SD. Insya Allah ini juga lebih mudah karena saat saya menjelaskan tentang jilbab, saya sudah mempraktikkannya terlebih dahulu.

Qadarullah, di akhir 2014 Si Abi mendapat pekerjaan di Surabaya sehingga membuat kami menjalani Long Distance Marriage. Alhamdulillah, sejauh ini kedekatan Afra dengan Si Abi tetap terjaga dengan baik. Saya membantu menjelaskan bahwa Si Abi adalah sosok ayah pejuang dan pekerja keras; a real family man.

Once upon a time; Abi and little Afra.
Suer! Bukan kampanye, kok

Jumat malam sampai Senin dini hari selalu dimanfaatkan Si Abi untuk dekat dengan Afra. Saya sering membiarkan mereka mengaji bareng, jalan-jalan, dan belajar bareng. Kami berbagi tugas; Si Abi mengajari matematika, saya yang mengajari Bahasa Inggris dan pelajaran lain. Ini pas karena sesuai dengan mapel favorit kami masing-masing, hehe...

Beberapa kali, saya memberi kesempatan pada Si Abi untuk hadir pada rapat wali murid atau pengambilan rapor. Predikat beliau 'kan Kepala Sekolah di rumah, jadi perlu banget tahu tentang sekolah formal anaknya. Terakhir, Si Abi-lah yang mengantar Afra mengikuti tes masuk pesantren walaupun sebenarnya saat itu pekerjaannya sedang sibuk. Rela izin demi anak perempuan, dong.

Segala bentuk kedekatan saya dan Si Abi masing-masing kami tujukan agar dia mengerti sisi peran perempuan dan peran laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Ini masuk dalam Fitrah Seksualitas dalam konsep FBE.

4. Belajar Alquran dengan Senang Hati

Afra mulai saya daftarkan di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di kampung saya sejak dia duduk di bangku TK. Sebut saja TPA A. Saya memilih TPA ini karena sistimnya cukup bagus; anak akan naik jilid Iqra jika benar-benar menguasai apa yang diajarkan gurunya.

Beberapa anak keluar dari TPA ini karena merasa tidak sanggup mengulang-ulang sampai mahir. Mereka memilih berpindah TPA yang sistimnya 'lebih cepat lulus'. Padahal jika mau bersabar dan orang tuanya memberi pemahaman, justru sistim di TPA A memberi pelajaran untuk berproses secara jujur.

Maka saya memberi pengertian pada Afra agar dia menikmati saja proses mengaji di sana. Tak perlu terburu-buru ingin lulus Iqra jilid 6. Alhamdulillah, setelah dinyatakan lulus jilid 6, terbukti pemahaman tajwid, makharijul huruf, dan hafalan Juz 'Amma Afra cukup bagus.

Afra 'baru' bisa mengkhatamkan Alquran pada Bulan Ramadan saat dia duduk di kelas 4 SD. Bagi sebagian orang tua lain, mungkin itu terlambat. Tapi itu tidak berlaku bagi kami. Yang terpenting, Afra sudah berhasil melewati proses belajarnya dengan menyenangkan.

Afra saat mengikuti sebuah Training Menghafal Alquran kelas 3 SD. (Bukan kampanye juga)

Pernah seorang teman berujar, "Kok tidak diajari ngaji sendiri, sih?"

Hoho, tentu saja saya juga mengajarinya sekaligus mengajaknya mengulang-ulang hafalan Juz 'Amma. Tapi menurut saya, penting bagi Afra untuk mengaji bersama teman-temannya setiap sore bakda Asar. Itulah 'pesantren kecil' dengan beberapa aturan sederhananya, yang kelak akan menjadi kenangan indah saat Afra benar-benar menjadi santriwati.

Dalam konsep FBE, ada Fitrah Sosial dan Kehidupan. Proses belajar Afra di TPA seperti di atas, saya kira masuk dalam konsep ini. Ada nilai kepahlawanan dan kearifan lokal dalam konsep ini. Pengabdian guru ngaji dan keberadaan TPA yang tetap konsisten 'merangkul' anak-anak kampung untuk mengenal Alquran adalah perwujudannya.

Di rumah, kisah kepahlawanan dan kearifan lokal diperoleh Afra melalui buku-buku yang kami belikan untuknya. Ini berkaitan juga dengan poin nomor 5, ya.

5. Memahami Karakter dan Kesukaan Anak

Jauh sebelum kejadian viral tentang bullying sekarang ini, saya pernah berbincang-bincang dengan Afra tentang itu. Mengingat sekolah Afra adalah jenis sekolah yang 'konon katanya' banyak terjadi kasus perundungan di sana. 

"Mbak Afra pernah diejek atau digoda sampai menangis, gak?" tanya saya.

"Enggak, lah. Mana berani teman-temanku," jawabnya enteng.

"Alhamdulillah. Jangan sampai deh, ya. Itu istilahnya bully," tambah saya.

"Enggak ada kayak gituan di kelasku. Paling-paling bercanda, sih," lanjutnya.

Saya mengangguk-angguk. Ya, saya tahu bahwa Afra ini tipe anak yang pendiam di awal-awal mengenal seseorang, tapi bisa berubah menjadi sosok yang ceria jika sudah mulai kenal. Afra biasanya juga cukup cuek jika ada yang jahil padanya.

Selama bersekolah di sekolah negeri tersebut, dia pun bisa mempertahankan prinsipnya. Dia pernah terjaring dalam tim lomba gerak jalan saat kelas 4, tapi syaratnya harus melepas jilbab agar seragam dengan mayoritas anggota yang lain. Afra memang belum baligh, sih. Tapi dia sudah mulai belajar, jadi... Finally, she said no to her teacher!

Awal berjilbab dengan kemauan sendiri di kelas 3; bajunya masih kedodoran :)

Masih banyak kesempatan lain untuk berprestasi, misalnya saat dia terpilih sebagai Duta Siaga Hansaplast dan Juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kecamatan Pakisaji. Yang saya sebut terakhir memang muara dari prestasi akademiknya di kelas.

Sejak bisa membaca, anak sulung saya itu memang menjelma menjadi seorang predator buku cilik. Dia lebih memilih dibelikan buku daripada dibelikan baju. Berbagai genre buku dilahapnya, termasuk tentang kisah-kisah teladan dan kepahlawanan seperti yang saya sebut di poin nomor 4 di atas.

Hobi membaca ditambah daya ingatnya yang cukup kuat itu cukup menunjang prestasi akademiknya. Karena prestasi itu diperoleh dari sebuah proses belajar, maka nilai akademiknya adalah hasil yang sangat saya hargai. Intelligent Quotient tetap diperlukan, walaupun bukan poin paling terdepan!

Afra ini mirip saya saat SD; kurang cerdas kinestetik. Tentu saja tidak bisa saya paksakan agar dia berprestasi di bidang olahraga juga. Saya ambil sisi baiknya saja yaitu setiap hari dia sudah berolahraga jalan kaki pulang pergi dari rumah ke sekolah :)

Ini sih olahraga kesukaannya: sepatu roda

Saya juga terus memberi semangat untuknya agar terus percaya diri walaupun badannya tergolong mungil dibandingkan rata-rata teman sebayanya. Alhamdulillah, tidak pernah terjadi body shaming juga, sih. 

"Mbak Afra 'kan belum haid. Jadi badannya masih mungil begitu. Nanti kalau sudah haid, biasanya jadi lebar," canda saya. Tentu, sebelumnya tergelar obrolan tentang haid di antara kami.

Nah, di poin ini sudah terterapkan Fitrah Bakat-nya. Saya dan suami memahami karakternya yang menonjol dan juga 'kekurangannya'. Ini akan membuahkan anak yang percaya diri dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Ada pula Fitrah Kepemimpinan yang diwujudkan dengan mengajaknya merawat tanaman dan memelihara binatang. Si Abi yang hobi berkebun pas banget menjadi gurunya. Lalu, hewan peliharaan mulai dari kelinci, ayam, dan ikan silih berganti hadir di rumah kami sebagai 'anak buah' yang dipimpin Afra.

6. Memfasilitasi Ponsel di Saat yang Tepat

Saya pernah menghadiri sebuah seminar parenting yang menyarankan agar anak diberi ponsel saat sudah duduk di kelas 2 SMP. Itu adalah usia dimana anak sudah dianggap matang dan bisa bertanggung jawab terhadap akses internet yang dipakainya.

"Tapi aku 'kan mau masuk pesantren, Mi. Boleh dong minta ponsel di awal kelas 6 ini. Biar bisa saling simpan nomor teman-teman," Afra mengajukan 'proposal' di awal tahun ajaran kemarin.

Saya pun merundingkannya dengan Si Abi. Hasilnya: yes! Karena selama di pesantren nanti, tentu saja Afra tidak akan memegang ponsel. Dia hanya punya kesempatan berselancar dengan ponsel selama setahun di kelas 6 ini. Why not?

pexels

Kata Afra, beberapa teman sekelasnya sudah mulai memiliki ponsel saat kelas 3 SD. Duh, Afra memang 'ketinggalan zaman' dalam hal ini. Selama ini dia hanya bisa mengakses laptop untuk menonton film-film favoritnya saat senggang. Atau meminjam tablet Si Abi di akhir pekan.

Tentu saja kami tidak menyesal atas 'ketertinggalan' di atas. Prinsip kami: Afra harus 'lulus' dalam hal membaca Alquran dan menjadi kutu buku sebelum punya ponsel sendiri. Karena keduanya sudah terlampaui, maka permintaannya untuk memiliki ponsel sendiri pun kami kabulkan.

Alhamdulillah, ponselnya dipergunakan sesuai kebutuhan. Dia bisa menghubungi Si Abi sendiri saat kangen. Pastinya jadi ada tambahan yang disukainya, misalnya: komik-komik strip di instagram, serta konten-konten YouTube berupa DIY, web series, sains, dan Ria Ricis. Hehe... 

Siapa kiranya Generasi Z hari ini yang tidak terpapar hal di atas? So far, so good. Saya mengamati itu sebagai kelanjutan rasa ingin tahunya. Fitrah Belajar dan Bernalar-nya tidak hanya berhenti di sekolah dan buku, tapi berlanjut juga pada pemakaian ponsel dan laptop yang dipegangnya. 


Kebersamaan Afra dengan ponsel tinggal menghitung hari. Rasa ingin tahunya sudah terpenuhi, semoga itu akan menjadi kelegaan tersendiri baginya. Insya Allah, dia akan mulai mengoptimalkan bakatnya yang lain: daya ingatnya. Ya, dia akan menjadi santriwati sebuah pesantren tahfizh alias penghafal Alquran.

Pesantren mana itu? Nantikan sambungannya pada tulisan saya selanjutnya. Maaf tidak bisa saya lanjutkan sekarang, Maria Mercedes! :D
Postingannya sudah panjang, sih.

Sekali lagi, melepas anak ke pesantren harus dengan menyertakan perbekalan terlebih dahulu. Termasuk 5 langkah meminta maaf dengan benar seperti tulisan Mbak El Lisa Lestari, rekan blogger yang juga seorang guru ini. Banyak juga tulisan menarik beliau tentang dunia parenting di www.dunialisa.com

Ya, di pesantren nanti anak kita akan berinteraksi dengan anak lain secara lebih mendalam dibandingkan dengan jalinan pertemanan di 'sekolah biasa'. Tentunya perlu kelapangan dada yang luar biasa, bukan?

Selamat menjadi madrasah yang bahagia bagi anak-anak kita ya, teman-teman.


Salam,








Tulisan ini disertakan dalam program Collabs Pasukan Blogger Joeragan Artikel kelompok 3 putaran ke-2.
April 09, 2019

6 Hal Penting tentang BPJS Ketenagakerjaan

by , in


Cuaca sedikit mendung ketika saya sampai di depan Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Malang yang beralamatkan di Jalan Dr. Soetomo nomor 1, Kota Malang. Akan ada sosialisasi program Jaminan Sosial Ketenagakerjaan yang dihadiri beberapa blogger Malang, termasuk saya (2/9/19).

Segera saya membuka pintu depan kantor tersebut. Bersih dan sejuk. Saya pernah ke kantor itu pada akhir 2010 yang lalu, saat namanya masih PT. Jamsostek. Penataan ruangannya tentu saja lebih baik yang sekarang. Saat itu saya dan suami melakukan pencairan dana Jaminan Hari Tua (JHT) pasca resign dari pekerjaan di Batam selama 10 tahun.

Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Malang
(Dok. Erny Kusumawati)

Masih teringat, saat itu kami begitu bersyukur karena punya dana cadangan untuk memulai 'hidup baru' di Malang. Ya, memulai lagi dari nol tentu saja butuh biaya. Dana JHT tersebut benar-benar hadir di saat yang tepat.


Setelah sedikit mengenang saat itu, saya bertanya kepada Pak Satpam yang berjaga tentang venue yang digunakan untuk agenda sosialisasi. Dengan ramah, saya diantarkan ke sebuah ruangan di lantai dua. Di sana sudah menunggu beberapa orang teman blogger dan tiga orang pihak dari BPJS Ketenagakerjaan Cabang Malang.


Sekitar jam sepuluh pagi, saat semua blogger sudah berkumpul, acara pun dibuka oleh Mas Roni Setiawan. Beliau adalah staff khusus bagian Account Representative. Diteruskan dengan pemaparan oleh Ibu Cahyaning Indriasari, Kepala Cabang BPJS Ketenagakerjaan Cabang Malang. Penjelasan lanjutan dilakukan oleh Mbak Anysa Isyawari, rekan satu section dari Mas Roni yang ternyata seorang beauty blogger. Keren, euy!

Mas Roni, Bu Cahyaning Indriasari, Mbak Anysa
(Dok. Erny Kusumawati)

Berikut adalah beberapa hal penting yang perlu kita ketahui tentang BPJS Ketenagakerjaan. Cekidot!


1. BPJS Ketenagakerjaan Tidak Sama dengan BPJS Kesehatan

Walaupun berpayung hukum sama yaitu Undang-Undang No. 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial, tapi penyelenggaranya berbeda. Seperti saya sebut di atas, BPJS Ketenagakerjaan dulunya adalah PT. Jamsostek. Sedangkan penyelenggara BPJS Kesehatan dulunya adalah PT. Askes.

Payung hukum

Saya jadi ingat bahwa suami saya yang bekerja di sebuah perusahaan awalnya memperoleh kartu BPJS Kesehatan untuk seluruh anggota keluarga. Baru disusul kemudian dengan kartu BPJS Ketenagakerjaan untuk dirinya sendiri, pada bulan Maret 2015. Ya, BPJS Ketenagakerjaan memang resmi beroperasi sejak 1 Januari 2015.

Kartu peserta milik suami saya.
Belum dilaminating, hihi

Nah, di sini ada letak perbedaannya lagi. Kepesertaan BPJS Kesehatan adalah untuk seluruh masyarakat, sedangkan BPJS Ketenagakerjaan itu untuk seluruh pekerja termasuk pekerja asing. Saya pernah melahirkan via operasi sesar secara gratis karena terdaftar sebagai peserta BPJS Kesehatan. Namun karena saat itu saya sudah resign, saya bukan peserta BPJS Ketenagakerjaan sebagaimana suami saya.


Penggunaan kartu pesertanya jelas berbeda. Jika seorang pekerja mengalami 'sakit biasa' seperti demam, batuk, diare, yang membuatnya harus pergi ke fasilitas kesehatan, maka yang dipakainya adalah BPJS Kesehatan. Tapi jika sakitnya adalah karena kecelakaan, yang dipakai adalah BPJS Ketenagakerjaan.

2. Program BPJS Ketenagakerjaan

Jika BPJS Kesehatan hanya punya 1 program yaitu Jaminan Kesehatan, BPJS Ketenagakerjaan punya 4 program, yaitu: Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), Jaminan Hari Tua (JHT), dan Jaminan Pensiun (JP).

a. Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK)

Saat saya masih bekerja di perusahaan dulu, pernah ada teman yang mata kanannya tidak berfungsi lagi karena terkena mata bor yang patah. Duh, ngeri jika diceritakan detailnya. Yang jelas, dia bisa berobat secara gratis sampai sembuh karena memperoleh manfaat Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK).

Begitulah. JKK adalah jaminan yang memberikan kompensasi dan rehabilitasi bagi pekerja yang mengalami kecelakaan dalam hubungannya kerja. Perlindungannya mulai dari perjalanan dari rumah ke tempat kerja, dan dari tempat kerja sampai pulang lagi. Penyakit yang timbul akibat lingkungan kerja pun tercover oleh JKK ini.



b.Jaminan Kematian (JKM)

JKM diperuntukkan bagi ahli waris pekerja yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan, dimana dia meninggal dunia bukan karena kecelakaan kerja. JKM ini tentunya diperlukan untuk meringankan beban keluarga, meliputi biaya pemakaman dan uang santunan.



c. Jaminan Hari Tua (JHT)

JHT adalah program penghimpunan dana yang bertujuan sebagai simpanan yang kelak bisa dipakai oleh peserta. Penghasilan para peserta bisa saja terhenti, misalnya karena cacat total tetap, telah berusia 56 tahun, meninggal dunia, atau berhenti bekerja (PHK, mengundurkan diri, meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya).



d. Jaminan Pensiun (JP)

Jaminan pensiun adalah jaminan sosial yang bertujuan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi peserta dan atau ahli warisnya dengan memberikan penghasilan setelah peserta memasuki usia pensiun atau mengalami cacat.



3. Pekerja Mandiri Bisa Menjadi Peserta BPJS Ketenagakerjaan

Menurut Bu Cahyaning, pekerja di Kota Malang yang berjumlah 960 ribu sekian, 30%-nya adalah pekerja formal dan lainnya informal. Peserta BPJS Ketenagakerjaan yang kita bahas di atas adalah yang pekerja formal, maka penting juga bagi pekerja informal untuk menjadi peserta. Bukankah keduanya memiliki risiko yang tidak jauh berbeda?


Sebutan pekerja informal dalam hal ini adalah pekerja Bukan Penerima Upah (BPU). BPU adalah pekerja yang melakukan kegiatan atau usaha ekonomi secara mandiri untuk memperoleh penghasilan dari kegiatan/usahanya tersebut.

BPU biasanya bekerja secara mandiri, misalnya: tukang ojek, supir angkot, pedagang keliling, pebisnis online, dll. Penulis dan blogger juga termasuk di dalamnya, lho. Maka saat itu saya dan teman-teman yang hadir pun berminat mendaftar menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan.


Lho, kok berani? Berani, dong. Alhamdulillah, jumlah iuran yang harus dibayar per bulan sangat terjangkau. Hanya Rp 36.800 untuk jumlah penghasilan yang paling dasar. Itu sudah meliputi 3 manfaat; Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), Jaminan Kematian (JKM), dan Jaminan Hari Tua (JHT). Bedanya, peserta BPU tidak memperoleh manfaat Jaminan Pensiun (JP).

Saya sendiri meniatkan JHT-nya sebagai tabungan untuk hari tua; menabung dengan cara sederhana, tanpa terasa, dan menyenangkan.

Tidak ada orang yang ingin celaka, tapi berjaga-jaga tidak ada salahnya. Ada seorang tukang ojek online bernama Pak Doel yang sudah merasakan manfaat program JKK untuk BPU ini. Beliau mendapat musibah kecelakaan hingga harus dioperasi dengan biaya mencapai 150 juga rupiah. Semuanya gratis karena ditanggung oleh BPJS Ketenagakerjaan. Masya Allah.

Pak Doel, peserta BPJS Ketenagakerjaan BPU,
Sang Brand Ambassador :)

Sekarang, Pak Doel ini bak Brand Ambassador-nya BPJS Ketenagakerjaan Cabang Malang. Beliau aktif mengajak para pekerja BPU lainnya untuk mendaftarkan diri mereka sebagai peserta. Honest review ini mah.

4. Syarat Pendaftaran dan Cara Pembayaran

Pendaftaran peserta bisa dilakukan secara perorangan maupun kolektif. Bila perorangan, silakan langsung mendatangi Kantor BPJS Ketenagakerjaan terdekat. Siapkan saja Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan KK, dilanjutkan dengan mengisi formulir BPU yang telah disediakan, dan melakukan pembayaran iuran di sana.


Cara pembayaran selanjutnya mudah saja. Tidak harus datang ke Kantor BPJS Ketenagakerjaan-nya, tapi cukup melalui ATM Bank yang bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan, seperti: BRI, BCA, BNI, BTN, Bank Bukopin, dan Bank Mandiri. Bisa membayar secara bulanan/3 bulan/6 bulan/1 tahun sekaligus.

5. Perlindungan untuk Buruh Migran Indonesia (BMI) dan Pekerja Konstruksi

Per 1 Agustus 2017, BPJS Ketenagakerjaan juga dipercaya sebagai 'pelindung' bagi para Buruh Migran Indonesia (BMI) alias TKI/TKW. Para BMI yang menjadi peserta BPJS Ketenagakerjaan mendapatkan 'perlindungan' sebelum berangkat, selama di luar negeri, dan sebulan setelah mereka kembali ke Indonesia. Diharapkan, para BMI tersebut bisa menikmati tabungannya via JHT yang bisa diambil.

Manfaat untuk peserta BMI

Sedangkan kepesertaan dari Jasa Konstruksi diantaranya adalah Pemberi Kerja selain penyelenggara negara pada skala usaha besar, menengah, kecil dan mikro yang bergerak dibidang usaha jasa konstruksi yang mempekerjakan pekerja harian lepas, borongan, dan perjanjian kerja waktu tertentu. Wah, pas ini. Mengingat risiko kecelakaan kerja pada golongan ini tergolong tinggi.



6. BPJS Ketenagakerjaan Bebas Fatwa Haram

Nah, ini juga penting untuk ummat muslim yang masih ragu-ragu menjadi peserta. Aman, kok. Aturan BPJS Ketenagakerjaan tidak ada yang diharamkan oleh MUI. Sampai saat ini MUI hanya memfatwakan haram BPJS Kesehatan karena adanya denda bagi anggota yang terlambat membayar.


Tidak ada denda keterlambatan pada BPJS Ketenagakerjaan. Pun BPJS Ketenagakerjaan menggunakan sistim wali amanah yaitu adanya sistem bagi hasil yang diberikan BPJS Ketenagakerjaan pada penghitungan keuntungan setiap tahunnya. Contohnya, keuntungan yang didapatkan sebesar 1 triliun per tahun, maka akan dibagikan juga sebesar beberapa persen kepada pesertanya.

BPJS Ketenagakerjaan kita halal :)

Tidak terasa sudah hampir pukul satu siang. Agenda sosialisasi berikut tanya jawab pun harus berakhir. Sungguh sebuah agenda menarik yang penuh keakraban. Kami yang selesai mengisi formulir tinggal menunggu kartunya jadi. Asyik.


Setelah turun ke lantai satu dan mengambil foto bareng, saya pun berpamitan dengan teman-teman blogger lain. Sambil melangkah keluar gerbang, saya berpikir: mungkin saya akan ke Kantor BPJS Ketenagakerjaan beberapa tahun lagi untuk mencairkan JHT lagi :) Panjangkan dan berkahi umur hamba, ya Allah. Aamiin.

Yuk, gabung juga sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan!



Salam,






Sumber:

bpjsketenagakerjaan.go.id

https://www.google.com/amp/s/jabar.pojoksatu.id/bekasi/2015/08/04/bpjs-ketenagakerjaan-bebas-fatwa-haram/amp/