My Lifestyle, My Journey, My Happiness

January 16, 2019

Menikmati Kopi di Zaman Kiwari

by , in

Coffee is the gasoline of life.
-Unknown

Bicara tentang kopi adalah bicara tentang sejarah. Ya, karena kopi adalah salah satu komoditi perkebunan yang paling banyak diperdagangkan sejak dahulu secara legal. Keuntungan yang menggiurkan dalam perdagangan kopi itu dimanfaatkan dengan baik oleh Belanda yang saat itu menjajah Indonesia.

Belanda mulai menanam pohon-pohon kopi di Batavia. Berlanjut dengan meluaskan areal perkebunan kopi di Bogor dan Sukabumi pada abad ke-17 dan 18. Sejak saat itulah, kopi menjadi teman akrab anak bangsa hingga hari ini. 

Saat ini, Indonesia merupakan negara penghasil kopi terbesar ke-4 di dunia. Di atas Indonesia ada Brasil, Vietnam, dan Kolombia. Luas perkebunan kopi secara nasional sekitar 1,24 juta hektar, terbagi atas 933 hektar perkebunan Robusta dan 307 hektar perkebunan Arabika. Hasil perkebunan kopi yang diekspor membuahkan devisa terbesar ke-4 untuk Indonesia setelah minyak sawit, karet dan kakao.

Kopi dan Sejarah Hidup Saya

Kopi juga memiliki nilai sejarah yang menempati sebagian hati saya. Sekitar tahun 80-an, kakek dan nenek yang tinggal dekat rumah adalah petani. Beliau berdua menanam pohon kopi di sebagian ladang dan kebun mereka. Saya sering ikut memanen kopi. Kadang menyesap-nyesap biji kopi yang sudah berwarna merah. Lupa sih rasanya :)

alamtani.com

Jadi, sejak kecil saya akrab dengan bau kopi yang disangrai oleh nenek. Saya ingat, nenek mencampurkan irisan kelapa dalam bijih kopi yang disangrai dengan menggunakan wajan kreweng. Beliau mengolah kopi itu di atas luweng, tentu saja bahan bakarnya adalah kayu. Hmm... harum dan khas sekali baunya. 

Nenek juga menumbuk sendiri biji kopi yang telah disangrai itu di sebuah lumpang. Duk...duk... duk! Bertalu-talu sampai kopinya menjadi bubuk halus. Terakhir, kopi itu masih diayak lagi agar benar-benar menjadi bubuk kopi halus. Lalu, bubuk kopi itu disimpan dalam sebuah toples kaca. Siap diseduh setiap hari.

unsplash.com

Saya tentu saja belum tertarik meminumnya. Hanya sesekali mencicip sedikit saat kakek menuangkan kopi panasnya di atas tatakan gelas. Huh, sedikit pahit. Bukan minuman untuk anak-anak, nih.

Saya baru jatuh cinta pada kopi saat kelas 5 SD. Sekitar tahun 1992. Saat itu, saya mulai bertugas menyuguhkan kopi untuk Bapak setiap beliau pulang kantor. 

"Nih, Bapak bawain M*x Creamer. Ini kalau dicampurkan ke kopi, nanti kopinya jadi berwarna coklat dan rasanya jadi gurih," ucap Bapak suatu hari.

Itulah kali pertama saya mengenal krimer. 'Bubuk ajaib' yang membuat saya jadi menyukai kopi. Tidak meminumnya setiap hari, sih. Namanya anak-anak, minuman kesukaan saya dulu adalah seduhan susu kental manis. Pastinya saat itu belum ada ribut-ribut tentang kandungan susunya.


Saya baru benar-benar menyukai kopi hitam saat sudah bekerja. Biasanya, saya menyeduhnya saat jam makan siang hampir berakhir, di kantin perusahaan. Efeknya: segar kembali! Yeah, coffee was the gasoline of my life.

Kopi adalah Sahabat Penulis?

Teman-teman penulis atau blogger boleh mengiyakan atau menolaknya. Ya, ya. Persahabatan antara penulis dan kopi tentu saja tidak mutlak. Setidaknya itu berlaku untuk saya sendiri. Juga untuk banyak penulis yang pada biodatanya menyebut diri mereka adalah pecinta atau penikmat kopi. Sounds familiar, right?

Nah, izinkan saya bicara eh... menulis tentang persahabatan antara kopi dan penulis. Kopi memang tidak memberikan energi, tetapi meminum segelas kopi dapat menunda efek lelah yang melanda otak kita. Otak 'cling', proses kreatif menulis dan menuangkan segala isi kepala pun lancar jaya.

unsplash.com

Kafein yang terkandung di dalam kopi-lah yang menghalangi kinerja adenosine, sebuah senyawa dalam sel otak kita. Jika adenosine terikat dengan receptor di otak, aktivitas sel-sel tubuh kita pun melambat. Ngantuk, deh. 

Saat kafein masuk ke sistem saraf melalui saluran darah dan akhirnya mencapai otak, receptor akan sibuk 'menghadapi' kafein dan tidak menggubris si adenosine. Perintah adenosine agar kita mengantuk pun... lewaaat. Ngantuk hilang, konsentrasi pun datang. Deadline pun diterjang. Hehe...

Ada teman yang bilang, "Minum kopi gak ngefek tuh buatku. Tetap aja ngantuk!"

Entah apa sebab seseorang bisa 'kebal kopi' seperti itu. Ada yang tahu? 

Nah, saya sendiri punya trik agar kopi yang saya minum punya efek meningkatkan konsentrasi. Saat ada niat menulis atau menyelesaikan bacaan di malam hari, saya sempatkan untuk merebahkan tubuh sejenak di siang hari. Lima belas menit pun jadilah.

unsplash.com

Malam harinya, saya dapati aroma kopi yang menenangkan sekaligus rasanya yang khas. Ya, segelas kopi hitam sekali sehari atau saat ingin lebih berkonsentrasi adalah kunci!

Berkenalan dengan DeKofie

Di zaman kiwari ini, hadirnya berbagai kopi dalam kemasan sachet merupakan bentuk kreatifitas dalam industri kopi. Banyak yang menyebutnya 'kopi-kopian' karena kandungan kopinya sedikit sekali. Tapi banyaknya brand yang menjual produk ini menunjukkan bahwa kopi jenis ini juga banyak diminati.

unsplash.com

Pun dengan banyak kafe yang menjadikan kopi sebagai sajian andalan dalam bentuk Espresso, Americano, Cappuccino, Latte, Mocha Latte, Machiato, dan Affogato. Tentu saja ini menjadikan kopi lebih 'berwarna' sehingga bisa kopi bisa dinikmati siapa saja dengan berbagai variannya.

Nah, ada yang tak kalah kreatif, nih. Namanya DeKofie. Produk Usaha Kecil Menengah (UKM) Sejahtera Sentosa dari Malang ini menyajikan kopi dalam bentuk selai kopi dan cokelat kopi. Unik, nih! Itulah komentar saya saat kali pertama mengenalnya. 


Bagi saya, sarapan tak harus nasi. Kadang saya sekeluarga sarapan buah atau roti tawar. Berbagai varian selai pernah saya coba sebagai olesan roti tawar. Sekarang ada pilihan baru: selai kopi DeKofie. Menyantap roti tawar pun menjadi sensasi tersendiri.

Selai kopi dan cokelat kopi DeKofie terbuat dari bubuk kakao, kopi murni Robusta, gula, dan margarin. Tak heran jika rasa kopinya cukup kuat, ada campuran gurih, dan tidak terlalu manis. Mirip-mirip rasa 67% dark chocolate yang ditambah gula sedikit saja. 

Saat kali pertama membuka jar selai kopi, tekstur selainya masih agak padat. Beberapa menit kemudian, teksturnya menjadi mirip margarin yang biasa kita oleskan di atas roti tawar itu. 



Ternyata efek tidak mengantuk juga saya rasakan setelah menyantap dua helai roti tawar yang diolesi selai kopi DeKofie. Mantap! Lanjut nulis, yuk! Seperti halnya saat meminum segelas kopi, saya memilih untuk secukupnya saja mengkonsumsi selai kopi DeKofie ini.

Selanjutnya, cokelat kopi DeKofie. Wah, ini enak juga. Walaupun bagi penyuka cokelat manis, rasa cokelat kopi ini mungkin tidak sesuai ekspetasinya. Hei, bukankah sebenarnya yang bagus untuk kesehatan adalah cokelat murni? 



Jadi, jika cokelat dan kopi berkolaborasi, akan kita dapatkan manfaat yang baik untuk tubuh. Seperti tersebut di atas, kopi membuat kita lebih berkonsentrasi. Sementara itu cokelat mengandung antioksidan dan bisa mempelancar tekanan darah seseorang. Nah, ini namanya ngemil bermanfaat.



Yuk, ah cobain! 
Kalau mampir ke Malang, bisa langsung ke outlet DeKofie di Jalan Maninjau Raya No.125 Sawojajar, Kota Malang.
Atau bisa pesan via online melalui WhatsApp 081931566296 (Erny)
Instagram: @dekofie.id


Salam,






Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.
#ODOPEstrilookCommunity
#ODOPJanuary2019
#Day6


Sumber:
https://www.indonesia-investments.com
https://majalah.ottencoffee.co.id

January 12, 2019

Cantiknya Hotel Villa Victoria

by , in

Malang Raya adalah salah satu destinasi wisata andalan Jawa Timur. Sebutan Malang Raya merujuk pada tiga wilayah Daerah Tingkat II yaitu Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu. Ketiganya terus berbenah dalam sektor pariwisata, termasuk tersedianya hotel, villa maupun guest house yang dijadikan tempat menginap para wisatawan.

Menurut pegipegi(dot)com, saat ini ada 233 tempat menginap di Malang Raya. Yuk, berkenalan dengan salah satunya yaitu Villa Victoria Boutique Residences, yang baru saja saya kunjungi. Boutique Hotel itu berlokasi di Jalan Ciujung nomor 7 Kota Malang. Jaraknya sekitar 3,3 kilometer dari Alun-alun Kota Malang, ke arah utara.

Pada hari Ahad, tanggal 6 Januari 2019 yang lalu, saya dan teman-teman blogger Malang Raya berkesempatan untuk melakukan hotel tour di hotel cantik yang berkonsep kolonial modern itu.

Satu Tahun Berdiri, Banyak Diminati

Kedatangan kami disambut dengan ramah oleh Public Relations Hotel Villa Victoria, Mas Alexander Wiebisono Soegio, M.Bus. Kami menempati Jaya Meeting Room, sebuah ruang pertemuan di lantai dua yang berkapasitas sekitar 60 orang. Saat itu ruangan ditata secara konvensional; kursi-kursi ditata menghadap meja di depan. Tapi mini meeting room ini juga bisa dikondisikan sebagai ruang pertemuan butik yang elegan, dengan penataan meja-kursi yang melingkar atau juga square.

Jaya Meeting Room

Mas Alex menjelaskan bahwa Villa Victoria ini baru didirikan pada bulan Januari 2018 yang lalu. Sejauh ini, respon wisatawan cukup positif. Mayoritas adalah wisatawan domestik, biasanya mereka yang ingin ke Bromo memilih singgah di sini. Salah satu rujukan ulasan bisa dibaca di Traveloka Review, katanya. Tak lain karena konsep hotel ini unik; kolonial modern.

Alexander Wiebisono Soegio, M.Bus
Public Relations Villa Victoria Boutique Residences

Serius menyimak, nih!

Ya, bangunan Hotel Villa Victoria memang bergaya ala Belanda tahun 1920-an. Dirancang oleh konsultan arsitektur internasional yang cukup terkenal, lho. Dindingnya yang mayoritas putih, jendela-jendela besar, ditambah ornamen seperti lampu gantung, hiasan dinding, dan foto-foto bersejarah juga menguatkan kesan jadul ini.


Selain itu, hotel ini juga menyediakan menu-menu tradisional yang diolah dengan resep keluarga. Para tamu bisa menikmatinya di Resto de Colonial yang letaknya di sebelah kiri lobi. Restoran tersebut menyajikan menu masakan tradisional seperti: Gado-gado Kejawen, Nasi Goreng Ijo Iwak Asin, Rawon Ireng Malang, Mie Goreng/Rebus Ndeso, Patin Bumbu Rujak, dll.


Resto de Colonial, dipenuhi gambar bersejarah tentang Kota Malang

Sedangkan kesan modern bisa dilihat pada penampakan lobi hotel ini. Tidak terlalu luas, tapi tetap nyaman. Juga adanya kafe seperti hotel pada umumnya. Pasar Rakyat Cafe, namanya. Dinamakan seperti itu karena snack yang disajikan di sana adalah jajan pasar alias penganan tradisional. Kita bisa mencicipi klepon, lupis, cenil, pethulo, lumpia, dan semacamnya. Yummy... Snack modern tetap ada, sih. Don't worry.

Salah satu sudut Pasar Rakyat Cafe


Disebut sebagai Boutique Hotel karena lokasinya yang tidak di pinggir jalan raya provinsi. Justru ini membuat suasananya damai dan tenang. Pengunjung seakan sedang berada di rumahnya sendiri. It's such a homey place. Tak heran ada julukan "surga tersembunyi di tengah hiruk-pikuk dan keramaian Kota Malang" untuk hotel ini. 

Catatan Ringan tentang Villa Victoria

Mas Alex mengisahkan sebuah kejadian unik yaitu saat seorang tamu melakukan check-in. Tamu itu tidak mau kamar yang di bagian belakang karena takut. Dikiranya, Villa Victoria adalah bangunan lama peninggalan Belanda yang direnovasi, hehe. Sik anyar iki, Rek!

Ada juga tamu yang mempertanyakan tentang 'sesuatu di dalam besek' yang diletakkan di setiap sudut kamar. Dikiranya itu sesajen, hehe. Padahal itu adalah arang dan kopi yang berfungsi untuk menyerap lembab dan bau secara tradisional. Ini juga salah satu keunikannya.

Ini bukan sesajen, tapi penyerap lembab dan bau tradisional yang terbuat dari arang dan kopi.

Seperti saya sebutkan di atas, Villa Victoria tidak terletak di pinggir jalan utama. Tapi sebenarnya tidak terlalu jauh juga dengan Jalan Letjen S. Parman yang merupakan jalan raya provinsi yang membelah Kota Malang. Hotel ini dekat juga dengan Jalan Ciliwung yang merupakan pusat kuliner dan Jalan Tumenggung Suryo yang merupakan pusat oleh-oleh lokal Kota Malang.

By the way, pemilik Hotel Villa Victoria adalah seorang pengusaha perkebunan kopi di daerah Dampit (Malang Selatan). Kopi yang digunakan itu adalah hasil perkebunannya sendiri. Ada juga bubuk kopi dalam kemasan besar yang di-display di lobi yang bisa dibeli sebagai oleh-oleh. 


Oh, ya. Teman-teman tahu tentang film YoWis Ben, bukan? Nah, sekuel kedua film ini tentu saja tetap mengambil lokasi di Malang. Bayu Skak, Joshua Suherman, Brandon Salim, dkk memilih menginap di Hotel Villa Victoria selama dua pekan. Tampak di instagram @villavictoria.id ada perayaan hari jadi Joshua yang ke-26 di sana. 

*Out of The Topic dikit. Jadi inget lagu 'Cit-Cit-Cuit' saat si Joshua masih balita dulu. Hiks, saya jadi ngitung umur sendiri.

Kamar-kamar yang Penuh Kesan

Setelah mendengarkan pemaparan Mas Alex, Kami dipersilakan ber-lunch ria. Kami  mencicipi beberapa menu andalan hotel yang disajikan dalam wadah yang klasik. Rasanya? Sedaaap. Seperti masakan rumahan. Disajikan pula es buah dan kopi murni hasil dari perkebunan Sang Pemilik. Langsung melek, deh.

Enak semua pokoknya :-)

Agenda dilanjutkan dengan mengelilingi setiap sudut hotel yang instagrammable itu. Dengan dipandu oleh para pegawainya yang ramah, mulai lah kami menjelajahi beberapa kamarnya.

Hotel Villa Victoria ini memiliki 80 kamar yang terdiri atas:
  • 2 kamar Bunk Bed Room (1 kamar berisi 6 orang, biasanya untuk para backpacker)
  • 73 kamar tipe Deluxe (Terbagi menjadi Deluxe Twin Room, Deluxe Double Room, dan Deluxe Superking Room)
  • 4 kamar tipe Suite Double Room
  • 1 kamar tipe Victoria Suite Room

Kamarnya yang dominan putih itu nyaman dengan AC yang menyejukkan. Springbed bersih dengan handuk angsa di atasnya. Jadi pengen merem, hehe. Ada TV layar datar HD yang terpasang di dindingnya. Mau langsung mandi? Perlengkapan mandi berikut shower air hangat sudah tersedia. Atau mau berselancar di dunia maya dulu? Wi-fi gratis-nya kencang, euy.


Nah, di setiap kamar dipasang gambar bersejarah (diambil dari berbagai sumber) yang dicetak dengan resolusi tinggi dan dibingkai berkaca. Diletakkan di bagian atas springbed-nya. Tentunya ini untuk mendukung colonial theme yang menjadi konsep hotel. Misalnya ada gambar Soekarno-Hatta pada salah satu kamar ini.


Kamar paling istimewa dan satu-satunya adalah Victoria Suite Room. Kamar dengan rate paling mahal ini berada di lantai dua, memiliki jendela lebar menghadap ke timur. Tamu yang menempatinya akan bisa menikmati indahnya mentari pagi di Kota Malang. Tambahan fasilitas lain adalah adanya ruang tamu yang elegan di sudut ruangan. Penghuni kamar ini juga diberi fasilitas antar jemput bandara gratis!


Untuk kali pertama saya bisa melihat penampakan Bunk Bed Room dengan mata kepala sendiri. Ternyata seperti itu, to. Minimalis tapi tetap manis. Para backpacker tetap bisa menikmati kecantikan hotel ini dengan caranya sendiri.

Bunk Bed Room

Nah, ada fasilitas tambahan nih untuk tamu yang menyewa Suite Double Room dan Victoria Suite Room. Mereka bisa menikmati Ala Carte Breakfast untuk 2 orang di Resto de Colonial. Juga Afternoon Snack untuk 2 orang di Pasar Rakyat Cafe. Sedangkan Afternoon Tea disediakan gratis untuk semua tamu setiap hari Jumat dan Sabtu. 

Pilih mana: Sinta, Bagong, atau Parikesit?

Puas berkeliling dan berpose sana-sini, kami berkumpul kembali di Jaya Meeting Room. Sambil berbincang ringan menjelang pulang, ada souvenir yang dibagikan untuk saya dan teman-teman blogger. Masih juga seputar tradisional dan kultur, souvenir berupa gantungan kunci itu berwujud tokoh-tokoh dunia pewayangan. Lucu.

Foto bareng setelah agenda selesai

So, teman-teman yang berencana ke Kota Malang, Villa Victoria Boutique Residences ini bisa jadi pilihan tepat untuk menginap. Yang sudah pernah ke Malang tapi belum pernah ke Villa Victoria, cobain deh sensasi bermalam di sana.


Villa Victoria Boutique Residences
Jalan Ciujung Nomor 7 
Kel. Purwantoro, Kec. Blimbing, 
Kota Malang



Reservation Call:
Phone (0341) 435 2686 
WhatsApp 0857 9144 6830 

Reservation Online: 
@traveloka 
@tiketcom 
@agoda 
@airbnb 
@booking.com




Salam,






Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.

#ODOPEstrilookCommunity
#ODOPJanuary2019
#Day5

Sumber foto: 
koleksi pribadi, Facebook Fanpage Villa Victoria, Laily Fitriani, Eni Rahayu


January 07, 2019

[Sebuah Cerpen] Wasiat Kerinduan

by , in


Seperti janji saya pada postingan sebelumnya,  Resensi Buku Antologi "Serpihan Rindu", inilah cerpen saya bertema rindu itu. Idenya datang dari pengamatan saya pada sebuah kejadian nyata, lalu saya padukan dengan kerinduan  pada almarhumah nenek saya. Ya, nama Sumarmi yang saya sebutkan dalam cerpen ini adalah nama beliau. 

Selamat membaca. 🙂


Wasiat Kerinduan
Oleh: Tatiek Purwanti



Sumarmi
Lahir: 21 April 1958
Wafat: 3 Maret 2017

Intan mengusap percikan tanah cokelat yang menutupi sebagian tulisan pada nisan di depannya. Kemarin hujan turun cukup lebat dan membuat tanah pemakaman basah. Sebagian tanah itu terpercik ke sekitarnya. Sebagian lagi memilih bersatu dengan air dan menghasilkan permukaan yang becek.

Sekarang semua tulisan yang mengabadikan nama, tanggal kelahiran, dan kepergian ibu Intan terlihat lebih jelas. Intan mengusap-usap nisan itu, seakan sedang mengelus-elus tangan ibunya. Sesaat kemudian, dia merasakan keharuan menerobos dinding hatinya. Dia memejamkan matanya. 

Aku kangen saat ibu membelai kepalaku. Setitik air dari kedua mata bulatnya menetes pelan, jatuh ke pipinya, setelah Intan mengucap kalimat itu dalam hatinya.

“Setahun sudah ibu pergi dan aku harus menghadapi kenyataan yang sulit ini. Seandainya ibu masih ada, pasti aku tidak...” Intan menghentikan bisikan lirihnya. Dia baru menyadari tentang sebuah pengandaian yang tidak seharusnya dilakukan; mempertanyakan takdir.

Intan menengadahkan kedua tangannya. Untaian doa mengalun lirih dari bibirnya, mengalihkannya dari berandai-andai yang semula menghiasi kepalanya. Bulir-bulir bening kembali menghangatkan pipinya. Dulu jika ia menangis seperti itu, ibunya akan meraih kepalanya. Intan pun bisa puas menangis di bahu penuh kasih ibunya.

Dentingan kecil terdengar dari balik saku celana panjang Intan. Sebuah pesan dari ponselnya masuk, tepat beberapa detik setelah Intan menyelesaikan doanya. Gadis manis berlesung pipi itu buru-buru mengeluarkan ponselnya. Dia berharap pesan itu datang dari seseorang yang sangat ingin ditemuinya saat ini. Ternyata bukan.



Intan berdiri perlahan, menutup pesan itu dan kembali memasukkan ponselnya ke tempat semula. Tidak ingin dibalasnya pesan yang datang dari ayahnya itu. Pesan yang singkat sebenarnya. Hanya menanyakan keberadaan Intan yang sesore itu belum pulang ke rumah. Intan memang tidak berpamitan ketika keluar rumah sejak jam delapan pagi tadi.

“Ibu, aku pulang dulu, ya. Semoga ibu tidur dengan tenang. Aku sangat kangen padamu. Maafkan aku karena rasanya berat sekali melaksanakan wasiatmu.” Intan berbisik lirih lagi, seakan sedang berbicara pada ibunya. Gundukan tanah di hadapannya tentu saja membisu.

Gadis berusia sembilan belas tahun itu melangkah setapak demi setapak, menjauhi tempat peristirahatan terakhir ibunya itu. Sebuah makam sederhana yang tetap berupa gundukan tanah, tidak dikijing seperti beberapa makam yang lain. Itu adalah salah satu wasiat ibunya yang terlaksana. Ada sebuah wasiat lagi yang sedang memberatkan kepalanya.

***

“Dari mana kamu, Tan?” terdengar suara seseorang berikut deru motor dari belakang tubuh Intan. Intan mengerem langkahnya yang sedikit tergesa. Mendung yang menggantung tampak bersiap tumpah menjadi air.

“Eh... Mas Wiryo.” Intan balas menyapa setelah si pengemudi membuka helm yang menutupi kepalanya. 

Wiryo adalah mantan ketua karang taruna desanya yang sudah lama merantau ke kota. Sebuah kelaziman yang terjadi pada para pemuda di desanya selepas lulus SMP atau SMA. Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu termasuk yang terakhir merantau. Sebelumnya dia menekuni usaha pembuatan batu bata yang akhirnya bangkrut.

“Aku dari makam ibuku,” lanjut Intan.

“Oh, kok tidak Kamis Kliwon?” Wiryo mematikan mesin motornya agar bisa leluasa bercakap-cakap dengan Intan.

“Lagi kangen berat sama ibu. Lagi pula tidak ada larangan kan kalau aku berziarah di hari biasa?” Intan memberikan alasan, berikut pertanyaan retorisnya.

“Iya, sih.” Wiryo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ditatapnya Intan, gadis yang pernah mengisi ruang hatinya saat dia masih bersekolah dulu itu. Gadis itu terlihat semakin dewasa dan manis. Sudah hampir enam bulan Wiryo tidak pulang kampung. Tak dinyana, gadis pertama yang dilihatnya di jalan desa adalah Intan.

“Wah, mulai hujan, nih…” Intan merasa canggung ditatap Wiryo seperti itu. Dia menemukan kalimat pengalihan saat dirasakannya air hujan mulai menetes di atas rambut hitam panjangnya.

“Eh, iya. Kalau gitu, sini bonceng aku saja.” Wiryo menawarkan tumpangan diiringi senyuman khasnya. Membonceng Intan dalam kondisi darurat pasti tidak akan membuat Pak Kardi, ayah Intan, marah.

Intan terdiam sejenak. Sedetik kemudian dia mengangguk dan bergegas mengambil posisi di belakang Wiryo. Motor matic berwarna biru itu segera melesat, membelah jalanan desa yang tampak lengang sore itu. Tidak banyak yang mereka perbincangkan dalam kondisi hujan yang semakin deras itu. 

Sepuluh menit kemudian, motor itu berhenti tepat di depan rumah Intan. Setelah berterima kasih pada Wiryo, Intan bergegas menapakkan kakinya ke teras rumah. Dia menoleh ke arah pintu depan yang terbuka, belum ingin mengucapkan salam. Dilihatnya Budhe Darmi muncul dari dalam dan mendekat ke arahnya.

“Kamu dari mana, Nduk?” suara Budhe Darmi menandakan kecemasan. 

“Maafkan Intan tadi tidak pamit, Budhe.”  Intan meraih tangan kakak dari ayahnya itu. “Saya dari makam ibu. Saya… mandi dulu, ya.”

Intan merasa beruntung mendapati dirinya yang kehujanan seperti itu. Ada alasan baginya untuk menghindari perbincangan panjang dengan Budhe Darmi. Sebuah kebiasaan baru Intan sejak sepekan terakhir ini. Budhe Darmi tentu saja tidak bisa mencegah Intan yang tergesa pergi ke kamarnya.


“Intan…” suara bariton milik Pak Kardi membuat Intan yang sedang menuju kamar mandi menghentikan langkahnya sejenak. 

Intan memilih untuk tidak menoleh. Bagus jika tadi ayah melihat aku dibonceng Mas Wiryo, pikirnya. Momen tadi dianggap Intan sebagai pelengkap dari aksi menghindarkan diri dari Pak Kardi. Aksi yang dilakukan Intan setelah peristiwa sepekan yang lalu. Sebuah peristiwa mengejutkan yang menjadi jawaban tentang rasa keberatan Pak Kardi jika Intan berdekatan dengan laki-laki.

“Jangan larang saya berpacaran dengan Mas Wiryo, Pak,” ucap Intan tanpa menoleh. Tiba-tiba saja sebuah ide melintas di kepalanya. 

***

Intan, ibu saya mau bertemu kamu. Kangen katanya. Saya jemput besok di depan kantor kecamatan, ya.

Sebuah pesan WA masuk di ponsel Intan. Dari Brian, seorang pemuda yang dikenalnya secara tidak sengaja setahun yang lalu. Pemuda yang seharusnya dibencinya karena menjadi penyebab kematian Bu Sumarmi dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Tapi pertemuan Intan dengan Bu Aziza, ibu Brian, mengubah segalanya.

Intan mengetik cepat,

Boleh, Mas. Jam sembilan pagi saja, ya. Saya juga merindukan beliau.

Gadis itu meletakkan ponselnya di meja, lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu menjadi sasaran lamunannya. Selalu ada wajah ibunya di sana. Wajah yang menyejukkan walaupun kata orang-orang: Sumarmi kuwi ayu atine, senajan ora ayu rupane. Artinya: Sumarmi itu cantik hatinya, walaupun tidak cantik wajahnya.

Intan mengenang ibunya dengan hati gerimis. Bu Sumarmi, perempuan desa yang memiliki tanda lahir besar berwarna hitam di pipi kanannya itu memang bukan ibu kandung Intan. Dia menemukan Intan yang saat itu masih bayi merah di dekat lapangan sekolah dasar tempatnya mengajar pada suatu pagi. 

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Bu Sumarmi mendapatkan hak pengasuhan bayi perempuan cantik itu. Diberinya nama Intan Berliana. Tentu saja nama yang unik dan langka di desanya. Nama yang menggambarkan bahwa Bu Sumarmi telah menemukan sesuatu yang berharga.

Saat itu Bu Sumarmi sudah berusia empat puluh tahun. Seorang guru yang sedari muda menjadi guru honorer di sebuah SD sampai memasuki masa tuanya. Dia adalah sosok guru penyabar yang disukai murid-muridnya, masih juga melajang. 

Bukannya dia tidak ingin menikah. Sangat ingin malah. Tapi entahlah apa yang ada di pikiran para pemuda yang melihat wajahnya. Tidakkah sebuah kecerdasan dan sifat penyayang seorang perempuan itu bisa menutupi kekurangan fisiknya?



Bu Sumarmi merawat bayi mungilnya dengan penuh kasih sayang. Kedua orang tua sepuhnya yang sudah rindu menimang cucu ikut membantu mengasuh Intan kecil. Sepulang mengajar, perhatiannya tercurah untuk Intan. 

Bu Sumarmi merasa bersyukur sudah meraih gelar sarjana pendidikan di Universitas Terbuka beberapa tahun sebelumnya. Dia tidak lagi harus mengerjakan tugas-tugas kuliah, tapi bisa fokus belajar menjadi ibu.

Suatu hari, Bu Sumarmi menenangkan Intan yang saat itu berusia sembilan tahun. Gadis kecil itu menangis karena diejek teman-temannya. Anak haram, kata mereka. Ah, tidak ada anak haram karena setiap bayi itu terlahir suci. Perbuatan haram lah yang membuat Intan seakan terlahir yatim piatu. Intan kembali merasakan kedamaian dalam dekapan ibunya.

Saat usia Bu Sumarmi menjelang lima puluh tahun, seorang duda yang masih tergolong kerabatnya berniat melamarnya. Dialah Pak Sukardi, duda tampan yang berusia lebih muda lima belas tahun dari Bu Sumarmi. Demi agar melihat kedua orangtuanya yang semakin renta merasa bahagia, Bu Sumarmi menerima lamaran itu. Walaupun sebenarnya keberadaan Intan sudah cukup untuk menutup lubang di hatinya. 

Pak Kardi adalah tipe suami pendiam tapi penyayang. Bu Sumarmi yang merasa terlambat mengenal cinta akhirnya bisa mengecap manisnya berumah tangga. Pak Kardi yang sehari-harinya berdagang di pasar itu memang jarang berbincang-bincang dengan Intan. Tapi Bu Sumarmi tahu bahwa Pak Kardi menyayangi Intan seperti anaknya sendiri. Keluarga itu hidup tenteram dan harmonis. Ada yang berkurang memang; kakek dan nenek Intan dipanggil Ilahi satu per satu.

Kini, ada yang berubah pada diri Pak Kardi. Tatapan matanya pada Intan bukan lagi tatapan seorang ayah kepada anak gadisnya, tapi adalah tatapan romantis lelaki yang penuh cinta. Kalau boleh berkata kasar, Intan ingin berkata bahwa itu sebuah kegilaan. Bayangan Pak Kardi yang mengungkapkan keinginannya dengan penuh ketenangan sepekan yang lalu kembali memasuki kepalanya: Intan, saya ingin menikahimu.

***



Mobil berwarna hitam metalik yang menjemput Intan sudah memasuki halaman rumah megah milik Brian. Mata Intan segera menangkap sosok Bu Aziza yang berdiri menyambut kedatangan Intan dan Brian. Ah, setiap kali Intan menatap Bu Aziza, seakan Intan mendapati ibunya hidup lagi. Seperti ada kemiripan sifat di antara ibunya dan Bu Aziza. Sebuah kehilangan yang seakan menemukan penggantinya.

Bu Aziza adalah seorang perempuan kaya raya yang ramah dan baik hati. Dia bertahun-tahun menjadi single mom tangguh bagi Brian, walaupun sering sakit-sakitan. Bu Aziza menanggung semua biaya rumah sakit, lalu menyerahkan uang puluhan juta rupiah kepada Pak Kardi. Masalah selesai secara kekeluargaan. Bahkan kemudian Intan cepat akrab dengan Bu Aziza karena perempuan itu sering mengunjunginya.

“Alangkah senangnya saya jika Intan bersedia berkuliah di kampusnya Brian. Bukan negeri, tapi akreditasinya bagus. Biar saya yang menanggung semua biayanya. Agar ibu Intan bahagia di sana karena putrinya mengikuti jejaknya menjadi guru,” Bu Aziza memandang Intan dari balik kaca matanya dengan penuh harap. 

Intan hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya seulas senyum dan mata berkaca-kaca yang ditampakkannya pada perempuan berwajah teduh di depannya. Intan yang terpukul ditinggal ibunya, tidak lolos tes masuk perguruan tinggi negeri setahun yang lalu. Dia memang berencana mencoba lagi tahun ini. Sembari menunggu, Intan mengajar les di rumahnya.

“Bu Aziza terlalu baik pada saya. Tapi kalau harus kuliah gratis, saya malu. Sebaiknya saya tetap bekerja sampingan.” Intan belum sepenuhnya bisa menguasai dirinya. Wasiat ibunya agar dia kelak menjadi guru sedang menunggu diambang mata untuk diwujudkan.

“Itu bisa diatur, Nak. Nanti saya juga akan meminta izin Pak Kardi." Bu Aziza menepuk bahu Intan pelan. Kepala Intan mendadak berdenyut mendengar nama Pak Kardi disebut. Tiba-tiba dia teringat akan wasiat lain dari ibunya; menyetujui siapapun perempuan yang dipilih Pak Kardi untuk menjadi istrinya. []


- Selesai -


Saat saya menyetorkan cerpen di atas, kata editornya sih sudah oke. Tidak ada jalan cerita yang perlu direvisi. Beliau hanya mengedit beberapa kesalahan ejaan baku. Menurutnya cerpen ini masuk dalam nominasi 7 cerpen terbaik pada antologi Serpihan Rindu yang diterbitkan oleh AE Publishing, penerbit indie dari Malang. Alhamdulillah.

Tapi pastinya tak ada gading yang tak retak. Teman-teman boleh memberi kritik dan saran. Akan saya jadikan catatan walaupun saya tidak mungkin mengubah isi cerpen di atas. 🙂

Thanks for reading.
Let's enjoy the life attraction by writing fiction



Salam,








Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.

#ODOPEstrilookCommunity
#ODOPJanuary2019
#Day4
January 06, 2019

Ketika Cerpen dan Puisi Bersatu dalam Serpihan Rindu

by , in

Judul buku: Serpihan Rindu
Jenis Buku: Antologi Cerpen dan Puisi
Penulis: Tim Penulis Nubar 3 (Nulis Bareng angkatan ke-3)
Terbit: Agustus 2018
Penerbit: AE Publishing
Jumlah halaman: viii + 280 halaman
Ukuran buku: 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-602-5915-03-1

Apa yang terbayang dalam benak kita saat disebutkan kata rindu? Mungkin ada yang langsung teringat akan novel fenomenalnya Tere Liye yang terbit tahun 2014 yang lalu. Walaupun saya sendiri belum membacanya, tapi berulang kali saya mendapati ulasan tentang cerita jamaah haji Indonesia tahun 1938 di atas kapal uap Blitar Holland itu. Juga quotes-nya yang acapkali membanjiri linimasa.

Mungkin juga teman-teman jadi teringat lirik lagu ini: 
Kau datang dan pergi oh begitu saja
Semua kuterima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu

Pssst... kalau paham, berarti kita hidup di semusim yang sama. ^^

Puncaknya, kata rindu begitu populer tahun lalu saat film Dilan 1990 sukses menggoda jutaan pemirsa untuk datang ke bioskop. Nah, kalau yang ini sih saya sempat membaca novelnya karena penasaran dengan gaya tulisan Pidi Baiq. Oalah, ternyata begitu, to. Filmnya pun akhirnya saya tonton di televisi. Oalah, ternyata begitu, to (lagi). 😁 *ga berniat menilai, sih

Bersama-sama Menulis Rindu

Tidak mau kalah dengan rindu versi di atas, AE Publishing pun menggelar ajakan Nubar alias Nulis bareng pada bulan Mei 2018 yang lalu. Saya yang dicolek oleh salah seorang editor AE Publishing, Mbak Zahara Putri, pun bersedia mengikutinya. Sebelumnya, AE Publishing sudah sukses dua kali menyelenggarakan Nubar. Ya, menulis bersama dengan tema yang sama tapi bukan dalam rangka lomba.

Di awal tahun 2018, saya berniat menambah jumlah buku antologi. Kalau bisa sih mencapai 20 antologi di akhir tahun, dengan berbagai tema. Pun saya juga ingin mendukung AE Publishing, sebuah penerbit buku indie dari Malang yang letaknya hanya 7 kilometer saja dari rumah saya. Penulis dan penerbit adalah sahabat karib. Apalagi jarak kami dekat begitu; karib banget. Yekan?

Sempat mengalami jeda karena libur lebaran, akhirnya buku antologi Serpihan Rindu ini pun berhasil diterbitkan pada bulan Agustus 2018. Yeay! Alhamdulillah. Ini menjadi buku antologi saya yang ke-12. Tidak hanya berisi 29 buah cerpen, tapi buku setebal 280 halaman ini juga dihiasi dengan 15 puisi. Sebuah perpaduan yang manis, bukan?


Nah, walaupun bukan lomba, Mbak Zahara sebagai editornya sempat mengumumkan 7 cerpen terbaik. Saya paham maksudnya, sih. Tetap dibutuhkan contoh-contoh cerpen yang sesuai kriteria penulisan ideal; dari awal tidak banyak revisi, Ejaan Bahasa Indonesia-nya sudah cukup baik, tidak ada plot hole, diksi oke, dan pesan yang disampaikan pun 'jleb'. 

Selain itu, ada kesepakatan di antara kami untuk memilih tiga penulis cerpen terbaik yang namanya nanti akan dipajang di cover buku. Jeng... Jeng... Diantara 7 cerpen terbaik itu ada cerpen saya yang berjudul Wasiat Kerinduan. Alhamdulillah. Begitu saja saya sudah lega. Meskipun nama saya tidak terangkut di sesi penyaringan berikutnya.


Daaan... inilah tiga nama cerpenis berikut judul cerpen yang menjadi pilihan editor tersebut:
1. Hanafi Yabie dengan cerpen berjudul Surat Ayah
2. Jrux Kuning dengan cerpen berjudul Untuk Seseorang yang Hidup di dalam Diriku
3. Nda Ginting dengan cerpen berjudul Serpihan-serpihan Akhir Kehidupan

Rindu dari Berbagai Penjuru

Mana yang akan teman-teman pilih jika dihadapkan pada dua pilihan: menuruti keinginan ayah untuk membantu orang tua setelah lulus SMA atau pergi jauh untuk melanjutkan kuliah walaupun minim biaya? Nah, ide tersebut dituangkan dengan cukup baik oleh Hanafi Yabie dalam Surat Ayah.

Lanan, si tokoh dalam cerpen, memilih yang kedua. Pilihan berat yang membuatnya terusir dari rumah dan dia harus membiayai sendiri kuliahnya sambil bekerja. Kerja kerasnya membuahkan hasil, bahkan dia berhasil memperoleh beasiswa S2 ke Sydney, Australia.

Delapan tahun berlalu. Sesungguhnya Lanan sangat merindukan orang tua dan adiknya. Namun ayahnya yang dihubungi via telepon tetap bersikeras tidak ingin menjumpainya. Sakit jiwa raga pun dirasakannya. Apalagi saat dia harus kehilangan dua orang yang disayanginya. Surat dari ayahnya mengungkap itu semua.

Ego bisa melukai siapa saja, bahkan membunuh. Kadang ego hanya bisa dikalahkan dengan besarnya rindu. (halaman 8)


Sementara itu, Tiara Ayu Safitri yang memakai nama pena Jrux Kuning, menceritakan tentang kerinduan terselubung tokoh 'aku' terhadap Azzer. 

... Mungkin saja karena rindu, mungkin saja karena sesuatu yang hidup dalam dirinya menolak untuk dilupakan. Seperti dia yang hidup di dalam diriku sampai saat ini. Aku tak pernah benar-benar mengingatnya. Namun aku pun tak pernah benar-benar melupakannya. (halaman 9)

Nah, penulis sempat menyebut Dilan di awal cerpennya. Ya, serupa tapi tak sama. Tokoh 'aku' diceritakan berjumpa dan menjalin keakraban dengan Azzer saat di bangku kuliah. Azzer yang tampak cuek, mengidolakan Kurt Cobain, dan suka kesendirian itu justru menarik perhatiannya.

Happily everafter memang melegakan. Tapi jika tidak, masih banyak kenangan indah tentang si dia yang bisa dituliskan. Itulah yang dirasakan 'aku'. Azzer telah membuatnya jatuh cinta secara alami. Itu diyakininya tak akan terulang pada orang lain lagi. Lalu? Nanti 'aku' hanya akan berusaha keras mencintai jika ada sang pengganti. Wow!


Sedangkan rasa rindu dalam cerpen milik Nda Ginting ditujukan untuk nenek si tokoh 'aku'. Diceritakan, 'aku' begitu dekat dengan sang nenek yang dianggapnya sebagai ibu kedua. Saat 'aku' kecil, ibu kandungnya sering jatuh sakit sehingga neneknya lah yang mengambil alih peran. Mulai dari mengantar jemput sekolah hingga bermain puzzle, permainan favorit 'aku'.

Melalui permainan puzzle itu, sang nenek mengajarnya tentang sebuah filosofi kehidupan. Bahwa sahabat, keluarga, orang-orang tersayang, pengalaman baru, tragedi, dan kebahagiaan mirip dengan salah satu potongan puzzle. Semua harus dirangkai dengan benar agar sesuai dengan keteraturan hidup kita.

Jangan menjadi begitu kecewa dan putus asa apabila satu bagian hilang. Karena apabila kau telah mendapatkan semua potongannya, permainan akan usai. (halaman 39)

Suatu hari, 'aku' benar-benar kehilangan salah satu potongan puzzle-nya. Ya, saat neneknya pergi untuk selamanya. Dunianya tidak utuh lagi. Tapi ada keinginan untuk menyatukan potongan puzzle yang hilang di surga nanti. 


Nah, ketiga cerpen di atas cukup mewakili cerita tentang rindu yang beragam, bukan? Memang, kerinduan tidak hanya berkaitan dengan kekasih saja. Masih ada 26 cerpen lain dengan obyek rindu yang berbeda. 



Cerpen-cerpen tersebut cukup menarik juga, kok. Membacanya membuat saya banyak merenung karena rasa rindu yang dekat dengan kejadian sehari-hari. Mulai dari rindu pada guru, pada almarhum suami, pada ibu yang pergi jauh, pada masa kecil anak yang memiliki kebutuhan khusus, hingga rindu pada anak yang memiliki kepribadian ganda. 

Rata-rata cerpen-cerpen yang terdapat di buku ini sudah minim typo, jadi keasyikan membaca saya tidak terganggu. Walaupun ada cerpen yang pesan moralnya disajikan terlalu awal, jadi kurang 'jleb' menurutnya saya.

Untuk cerpen saya, insya Allah akan saya bocorkan di postingan berikutnya, ya. 😉


Sedangkan puisinya, saya lupa mana yang dipilih sebagai tiga terbaik. Maafkeun. Jika ada teman-teman tim penulis Nubar 3 yang membaca ini, tolong ingatkan saya, ya. Saya sendiri tidak menyetorkan puisi waktu itu. Entahlah, mungkin saat itu rindu saya sudah terobati, hehe...

Ada sih salah satu puisi yang saya sukai. Pendek tapi 'berisi'. Judulnya Terpaan Rindu karya Alfi Rohmatul. Ini dia puisinya: 


Oke, deh. Membincangkan rindu tidak akan ada habisnya. Rindu adalah perasaan yang akan terus menyertai denyut nadi manusia.  Dalam setiap serpihan kehidupan, ada serpihan rindu di situ. Setiap rindu punya cerita dan kami sudah menuangkannya. 

Dear friends, do you miss someone? Or even wrote the same topic? Feel free to tell me ^^


Salam,






Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.

#ODOPEstrilookCommunity
#ODOPJanuary2019
#Day3