My Lifestyle, My Journey, My Happiness

February 27, 2015

Ada Apa Dengan Pangan?

by , in
Logo Halal MUI
Logo Halal MUI

Rabu pagi, 25 Februari 2015 saya bergegas memacu si biru membelah hiruk-pikuk jalan raya. Hampir terlupa bahwa isi tangki bensin sudah nyaris kosong. Maka berbelok dahulu ke pom bensin menjadi pilihan. Setelah itu ada berkali-kali ujian yang saya alami; motornya berkali-kali macet. Hiks, padahal harus bergegas agar tidak terlambat. Alhamdulillah, walaupun ngadat-ngadat, si biru berhasil membawa saya ke gedung Al Irsyad untuk mengikuti kajian Sekolah Ibu yang diselenggarakan oleh Forum Ukhuwwah Muslimah Malang (FUMM). Saat menaiki tangga menuju lantai dua, suara pembicara sudah terdengar menggema. Hari itu temanya spesial dengan pembicara yang spesial pula, Prof. Ir. Sukoso, M.Sc. Ph.D., Guru Besar Bioteknologi Fakultas Kelautan dan Perikanan Universitas Brawijaya, Malang. Terlambat, deh. Segera saja saya mengambil tempat duduk dan bergabung dengan yang lain.

Prof. Ir. Sukoso, M.Sc. Ph.D
Prof. Ir. Sukoso, M.Sc. Ph.D

Prof. Sukoso berbicara tentang ‘Ada Apa Dengan Pangan’ dan diawali dengan menceritakan tentang kisah hidupnya saat menuntut ilmu di negeri matahari terbit. Jepang itu adalah gambaran aplikasi negeri muslim yang sebenarnya. Karena disiplin waktu, kerapian dan kebersihan yang ditampilkan bangsa itu sebenarnya adalah milik kaum muslimin yang banyak diabaikan dan tidak terterapkan. Di sana lah PDAM itu berfungsi sebagaimana mestinya, yaitu sebagai Perusahaan Daerah Air Minum. Karena air yang ada di keran-keran langsung bisa diminum. Sedangkan di Indonesia, PDAM-nya adalah kepanjangan dari Perusahaan Daerah Air Mandi :-D

Dalam hal pangan, Jepang juga sangat selektif. Makanan mereka mungkin tidak semuanya halal, tapi pasti bernutrisi dan higienis. Dan itu artinya: thayyib. Sejak duduk di taman kanak-kanak pun nutrisi mereka sudah diatur dan ada kerja sama antara sekolah dan orang tua dalam penyusunan menu sehari-hari. Mereka hanya mau menyantap beras Jepang yang disebut Japonica. Beras ini berbeda dengan beras di Indonesia yang kita kenal. Jika sudah menjadi nasi, ia lebih lengket dan cocok untuk dipakai membuat shushi dan gampang untuk diambil dengan chopstick (sumpit).

Pemerintah Jepang berusaha memenuhi kelayakan asupan pangan bagi warna negaranya. Saat Jepang menandatangani perjanjian dengan WTO tahun 1995, yang menyebabkan keharusan Jepang membuka keran impor beras, Jepang mengajukan syarat kepada rekanannya yaitu Australia. Jepang yang menyediakan bibit dan orang-orang dari negerinya sendiri untuk pengadaan Japonica di lahan pertanian Australia. Maka impornya dari Australia memang benar-benar memenuhi standar negaranya. Bagaimana dengan beras yang diimpor Indonesia dari negara lain? Hmm…

Japonica, si beras Jepang
Japonica, si beras Jepang

Sebenarnya, dalam hal pangan memang negara kita belum bisa dibandingkan dengan Jepang. Tentu saja ada jalan untuk merubah mindset terkait ini jika kita mau. Beliau mengatakan bahwa sebagai muslim, kita berhak mendapatkan jaminan bahwa apa yang masuk ke dalam perut kita itu halal dan thayyib. Karena halal dan thayyib itu premium quality, hal paling utama yang harus kita perhatikan. Jangan asal makan! Pangan lah yang pertama kali membentuk kita. You are what you eat, kata beliau. Sembarangan makan –jika tidak halal- pastinya ada dosa yang kita perbuat. Dan jika tidak thayyib, tunggu saja saat obesitas, kolesterol tinggi, diabetes, gangguan pencernaan dan berbagai penyakit akan segera datang mengancam jiwa.

Beliau mengungkapkan tentang ‘penyakit’ lain bangsa kita; rasa gengsi yang masih jadi patokan dalam memilih makanan. Banyak rakyat Indonesia yang merasa bangga jika makanannya adalah hasil impor. Lebih memilih apel Granny Smith dan Gala dari California, Amerika Serikat daripada apel lokal, misalnya. Padahal yang impor belum tentu baik. Terbukti dengan dilarang masuknya dua jenis apel di atas yang ternyata terkontaminasi  bakteri Listeria Monocytogenes yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Atau pun berbondong-bondongnya orang-orang kita berwisata kuliner di gerai-gerai fast food yang menunya sebenarnya tidak akrab di lidah kita. Sesekali tentunya boleh, tapi jika sampai jadi pelanggan dan tidak bangga dengan makanan asli bangsa sendiri yang tersaji di restoran lokal, apa jadinya? Yang paling baik tentunya dengan berusaha menyajikan menu halal dan thayyib dari hasil kreasi para ibu sendiri. Beliau punya prinsip bahwa jika ingin menanamkan cinta kasih, maka memasaklah! Karena awal cinta itu bermula dari meja makan keluarga. Beliau juga mengajak untuk tidak usah merasa gengsi jika harus memakan jagung rebus atau bahan pangan lain di sekitar kita yang sebenarnya bisa dimanfaatkan.

Sadarkah kita bahwa pangan itu terkait dengan hak azasi manusia yang paling mendasar? Banyak orang yang merasa hak-haknya dilecehkan, misal: hebohnya kaum feminis dalam berdemo karena merasa hak-haknya sebagai wanita dilanggar. Tetapi apakah terpikir bagi kita bahwa jika asupan dan kualitas pangan kita dilecehkan, maka kita akan berdemo seheboh itu? Alhamdulillah, akhirnya UU RI No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal disahkan dan ummat Islam di Indonesia pun punya payung hukum jika hak-haknya terkait pangan yang halal dan thayyib –dari mulai bahan, proses sampai hasil akhir- dilanggar oleh para produsen. Kita sendiri sebagai konsumen pun harus kritis dalam memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
  • Bahan Dasar Pangan
Apakah sudah terbebas dari pestisida, formalin dan pengawet?

Tak jarang orang malah memilih ikan segar yang tidak dihinggapi lalat. Padahal ada formalin yang ditambahkan sebagai bahan pengawet sehingga lalat pun ogah mampir.

  • Bahan Tambahan Pangan
Apakah termasuk kategori yang aman? Aspartame, misalnya. Banyak yang tidak menyadari bahaya bahan tambahan yang biasanya ada pada minuman ini jika dikonsumsi terus menerus dalam jangka panjang.

  • Processing, Packaging, Distributing
Ini juga menentukan kualitas produk yang dihasilkan. Selalu periksalah label halal, tanggal kadaluwarsa dan keutuhan kemasannya sebelum dikonsumsi.
Beliau menyampaikan tentang pangan dan sejarah manusia. Ingatkah kita bahwa Nabi Adam A.s. dikeluarkan dari kenikmatan surga karena melanggar larangan Allah SWT untuk tidak memakan buah dari pohon yang dilarang?

Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim.
(QS. Al Baqarah: 35)

Maka untuk konteks kekinian, apa yang kita makan memang bisa menjadikan Allah SWT tidak ridha kepada kita jika ia tidak halal baik dalam cara memperolehnya, jenis bahannya atau cara menyembelihnya. (jika bahan makanannya adalah daging hewan). Thayyib juga mengajarkan kita tentang memakan makanan yang baik dan tidak berlebih-lebihan. Rasulullah SAW sendiri mampu menaklukkan bangsa Arab dalam hal lifestyle pangan. Bangsanya yang sebelumnya gemar meminum khamr dan amat suka makan daging, berubah mengikuti jejaknya dalam mengelola perut. Rasulullah tercatat hanya memakan daging selama delapan kali dalam hidupnya dan selebihnya lebih suka mengkonsumsi biji-bijian, kurma, madu dan rajin berpuasa. Dan hasilnya, Rasulullah pun hanya dua kali mengalami sakit yaitu setelah turunnya wahyu yang pertama dan menjelang wafatnya.

Kesimpulan Pangan dan HAM:
  1. Pangan adalah nilai harkat dan martabat seseorang/masyarakat/bangsa

  2. Pangan membangun fisik dan mental/perilaku seseorang (you are what you eat)

  3. Kebutuhan dasar pertama manusia yang wajib dipenuhi (HAM)

  4. Sumber vitalitas, keberlangsungan, produktivitas kinerja sel di dalam tubuh (terkait dengan kesehatan, tuntunan tahyyibah)

  5. Bagian pemenuhan ibadah (religi)

~~~end~~~

Pakisaji, 27 Februari 2015/8 Jumadal Ulaa 1436 H
Di hari Jumat yang cukup terik ^_^
Ummu Hamasah Afra
February 24, 2015

Ilmu Lebih Baik Daripada Harta

by , in

pict from @indonesia_wish
pict from @indonesia_wish

Maksudnya tentu saja bukan mengabaikan harta dalam kehidupan kita. Karena dalam hidup kita yang diciptakan untuk beribadah kepada Allah SWT ini, kita juga memerlukan harta sebagai wujud pelaksanaan ibadah, seperti: sedekah, infaq, zakat, umrah, dan haji. Juga dalam berdakwah kepada orang lain, kita memerlukan tersedianya harta. Sebut saja untuk membeli buku-buku sebagai rujukan, ongkos perjalanan dakwah sampai kepada penampilan syar’i para muslimah dalam berhijab yang pastinya memerlukan biaya.


Dalam kenyataan hari ini, banyak di antara kita yang diuji oleh Allah SWT dengan kekurangan harta. Misalnya, minimnya lapangan pekerjaan yang diperebutkan, wirausaha yang kalah bersaing dengan pemilk modal besar yang memang sebelumnya sudah menggurita, harta yang semula banyak kemudian hilang karena bencana, dan masih banyak contoh yang lainnya. Kekurangan harta yang disikapi dengan baik karena adanya ilmu yang dipunya adalah wujud pentingnya ilmu tersebut dibandingkan harta yang sulit direngkuh atau pun harta yang hilang tadi. Misalnya dengan bersabar, ikhlas dan tidak berputus asa. Bukankah itu adalah ilmu yang tidak mudah juga mempelajari dan menerapkannya? Jika kita bisa, itulah maksud dari ilmu yang menjaga kita. Sementara keberadaan harta seringkali justru merepotkan kita dalam menjaganya.


Adapun sumber hikmah dari gambar di atas adalah sebagai berikut:
Dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: "Ilmu itu lebih baik daripada harta, ilmu akan menjagamu sedangkan kamulah yang akan menjaga harta. Ilmu itu hakim (yang memutuskan berbagai perkara) sedangkan harta adalah yang dihakimi. Telah mati para penyimpan harta dan tersisalah para pemilik ilmu, walaupun diri-diri mereka telah tiada akan tetapi pribadi-pribadi mereka tetap ada pada hati-hati manusia."

(Adabud Dunyaa wad Diin, karya Al-Imam Abul Hasan Al-Mawardiy, hal.48)


Masih senada dengan pentingnya ilmu atas harta. Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi yang membagi manusia ke dalam empat golongan berkaitan dengan anugerah ilmu dan harta.


Golongan pertama adalah orang-orang yang dikaruniai banyak ilmu sekaligus banyak harta. Dengan ilmunya itu ia bertaqwa kepada Allah SWT dan anugerah hartanya ia gunakan di jalan Allah SWT sehingga manfaat dari harta tersebut tersebar luas, tidak hanya dipakai untuk bermegah-megahan. Mereka inilah yang disebut sebaik-baik hamba. Alangkah beruntung dunia akhirat bila kita menjadi seperti mereka.


Yang kedua adalah manusia-manusia yang dianugerahi banyak ilmu tapi kekurangan harta. Dengan ilmunya ia bertaqwa kepada Allah SWT dan tetap berbuat baik dalam menggunakan hartanya sejauh kemampuan dirinya. Karena ilmunya pulalah ia berdoa jika dianugerahi harta, maka ia akan berbuat maksimal seperti golongan yang pertama. Karena niat baiknya itu, ia mendapat pahala yang sama seperti golongan yang pertama.


Sementara golongan yang ketiga adalah mereka yang dilimpahi banyak harta tetapi tidak berilmu. Ia tidak mau bekerja keras untuk mendapatkan ilmu sebagaimana ia telah bersusah payah mengumpulkan hartanya. Karena tidak berilmu, maka ia jauh dari jalan ketaqwaan dan menghabiskan hartanya secara sia-sia bahkan di jalan kemaksiatan dan dosa. Ini adalah gambaran seburukburuk hamba. Naudzubillahi min dzalik. Lihatlah bangsa kita sekarang. Mungkin ada banyak orang-orang seperti ini sehingga menghalangi turunnya keberkahan dari Allah SWT atas negeri kita tercinta.


Dan yang terakhir adalah orang-orang yang tidak berilmu dan tidak berharta. Kemalasan dan minimnya usaha membuatnya tidak memiliki kedua-duanya. Dalam keseharian, ia banyak berangan-angan memiliki banyak harta. Tapi jika memilikinya, ia akan berfoya-foya dengan harta itu sebagaimana yang ia lihat pada golongan manusia ketiga di atas. Karena niat buruknya itu, timbangan amalnya sama dengan golongan manusia ketiga yang ingin ditirunya.


Maka sahabatku, jika kita saat ini masih belum bisa menjadi seperti golongan hamba yang pertama, janganlah menjadi seperti yang ketiga, apalagi yang terakhir. Jika kita saat ini berada pada posisi kedua, bersyukurlah atas karunia ilmu tersebut. Maksimalkan ilmu yang kita punya sehingga dengan izin Allah SWT, suatu saat kita bisa dianugerahi lebih banyak harta dan mencapai derajat seperti hamba-hamba Allah SWT yang pertama tadi. Tapi jika bertambahnya harta itu tidak tercapai, ingatlah bahwa ilmu yang kita miliki itu lebih utama. Wallahu a’lam bish shawwab.


Salam keberkahan penuh kesyukuran ^_^
Ummu Hamasah Afra
~~~~~~~
*terinspirasi dari buku Lapis-lapis Keberkahan (ust. Salim A. Fillah)


Beliau (Rasulullah) bersabda: “Sesungguhnya dunia ini hanya milik empat golongan saja:
(1) Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahim dan mengetahui hak-hak Alloh, inilah kedudukan yang paling mulia.
(2) Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: ‘Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si fulan itu.’ Dengan niat seperti ini, maka pahala keduanya sama.
(3) Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa dasar ilmu, , ia tidak bertakwa kepada Rabbnya, tidak menyambung silaturrahim, dan tidak
mengetahui hak-hak Alloh, maka ia berada pada kedudukan paling rendah.
(4) Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga ilmu oleh Alloh, lantas ia berkata: ‘Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si Fulan.’ Maka ia dengan niatnya itu, menjadikan dosa keduanya sama.”
(Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi IV/562 no.2325, dan Ahmad IV/231 no.18194)
February 24, 2015

Kentang Goreng Renyah; Bikin Sendiri dan Batasi

by , in
Anak saya termasuk yang bisa tahan tidak makan nasi dan kadang malah memilih  memakan subtitusinya, seperti kentang, jagung dan roti. Pada sebagian orang dan anak-anak, jika belum memakan nasi rasanya belum afdhal. Ada untungnya juga lho jika seseorang tidak terlalu bergantung pada nasi. Seperti kondisi sekarang, misalnya. Dimana harga beras naik dan stoknya mulai dikhawatirkan berkurang jauh. Cukup menyantap sumber karbohidrat lain selain nasi dan tidak perlu menunggu ke-afdhal-an jika ingin mengisi perut.

Salah satu makanan favorit anak saya dari jenis di atas adalah kentang goreng renyah alias french fries. Sebenarnya tidak terlalu sering juga, sih. Karena jika keseringan juga tidak baik untuk kesehatan. Berdasarkan info dari bidanku.com, mengkonsumsi french fries terlalu sering, apalagi yang siap saji, akan berdampak buruk bagi kesehatan anak. Di antaranya dapat meningkatkan jumlah lemak jahat sehingga meningkatkan angka kolesterol, ancaman besar penyakit diabetes karena karbohidrat sederhananya yang mudah berubah menjadi gula, serta penyakit jantung dan kanker akibat kandungan lemak trans-nya. Mengerikan sekali, ya. Tapi sekali lagi; jika terlalu sering dan membeli yang cepat saji.

Salah satu solusinya tentu saja membuatnya sendiri di rumah. Walau pun tidak memakai minyak zaitun atau minyak bunga matahari seperti yang disarankan, minimal minyak yang digunakan di rumah masih fresh dan setelah dipakai menggoreng untuk satu resep, sebaiknya dibuang saja.

Berawal dari melihat resepnya di internet, lalu tertarik untuk mencobanya dan alhamdulillah mudah. Berikut step-stepnya:
  • Siapkan 1/2 kg kentang yang sudah dikupas, dipotong panjang-panjang seperti bentuk french fries pada umumnya. Lalu  dicuci di bawah air mengalir sampai airnya jadi bening dan getah kentangnya hilang.Siapkan 3 siung bawang putih, digeprek & dicincang dan 2 sdt garam. Masukkan ke dalam air, rebus di panci sampai mendidih. Lalu masukkan kentangnya, rebus selama 5 menit, angkat, dan tiriskan. Langsung masukkan ke dalam air es sampai kentang terendam. Diamkan selama 5 menit, angkat dan tiriskan lagi.

    Letakkan kentang di nampan, taburi dengan tepung maizena sampai tertutup rata seperti gambar no.1.

    Lalu goreng setengah matang, hasilnya seperti gambar no.2. Diamkan selama 1 jam.

    Setelah itu goreng dalam minyak panas yang banyak sampai garing seperti tampak pada no. 3.

  • Selamat mencoba dan semoga anak-anak kita tetap sehat ^_^
    Kentang goreng renyah alias french fries bikinan sendiri, lebih sehat.
    Kentang goreng renyah alias french fries bikinan sendiri, lebih sehat



February 23, 2015

Menulis Untuk Uang?

by , in
PhotoGrid_1504629927661
Apa yang kita pikirkan jika membaca tentang J.K. Rowling dan buku-buku best sellernya? Mungkin tidak jauh dari kata tenar dan uang. Ya, saya rasa hampir semua orang yang melek media mengenal penulis wanita Inggris yang telah menghasilkan tujuh buah novel Harry Potter dan dari novel itu dirilis delapan judul filmnya. Lalu tentang kekayaannya, bahkan ia lebih kaya dari Ratu Elizabeth II. Menurut Telegraph, jumlah pundi-pundi uangnya sudah mencapai 230 juta poundsterling dan masih akan bertambah karena ia terus produktif menulis. Seorang penulis bisa mengalahkan pemimpin negaranya dalam hal jumlah uang. Fantastis, bukan?

Dari negeri sendiri ada nama-nama seperti Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Darwis Tere Liye, Hanum Rais dan yang sedang menjadi sorotan adalah Asma Nadia. Saya menyebutkan mereka, karena sebagaimana J.K. Rowling, karya-karya mereka juga best seller dan difilmkan. Setidaknya hasil yang sama berupa ketenaran dan bertambah tebalnya kocek juga mereka dapatkan. Juga karena secara subyektif, mereka masuk dalam daftar penulis favorit saya, hehe… Walaupun manusia terkaya di Indonesia masih dipegang oleh para pengusaha. Tentu hal ini terkait dengan masyarakat Indonesia yang minat membeli buku dan minat membacanya masih rendah. Padahal penulis sebenarnya juga pengusaha. Mereka menuangkan ide-idenya melalui tulisan dan diterbitkan dalam bentuk buku yang dibeli oleh para konsumennya yaitu para pembaca.

Jadi, sebenarnya kita bisa menghasilkan uang dari menulis. Walaupun hingga saat ini pekerjaan sebagai penulis itu tidak tercantum dalam list jenis-jenis pekerjaan yang ‘diakui’ di Indonesia. Saya pernah membantu ibu saya mendata para penduduk dan pekerjaan mereka. Profesi yang tersebut adalah sebagaimana umumnya yang kita kenal; PNS, TNI/Polri, Swasta, Pegawai Swasta, Wiraswasta, Petani, Nelayan, Buruh dan Pekerja Lepas. Mungkin jika ada penduduk di sini yang berprofesi sebagai penulis, maka ia digolongkan sebagai ‘Swasta’.

Lalu, apakah boleh kita menjadikan uang sebagai tujuan utama kita menulis? Tidak ada yang melarang, sih. Tapi bagi saya sendiri, tujuan utama menulis saya bukan untuk itu. Saya mencoba menerjemahkan apa yang pernah disampaikan oleh ibu Septi Peni Wulandani,, pimpinan Ibu Rumah Tangga Profesional, saat membahas tentang identifikasi bakat anak dan tour de talent. Beliau menyampaikan bahwa anak yang mulai tertarik dengan talenta tertentu akan berbinar matanya dan ini tandanya ia mulai enjoy. Karena mulai menikmati hal yang disukainya, ia akan mudah menjalaninya; easy. Berlanjut menjadi sebuah keahlian karena terus-menerus dilatih dan tercapailah level excellent. Seseorang yang telah ahli, maka dengan sendirinya ia akan earning the money, menghasilkan uang. Sebuah tahapan menemukan passion anak yang sangat bijak.

Jika dikorelasikan dengan tujuan menulis, maka earning the money adalah tahapan akhir saat kita sudah menjadi seseorang yang excellet dan expert dalam menulis. Buku-buku laris manis pastinya adalah buku berkualitas yang dihasilkan oleh para penulis yang berhasil mengemas karyanya dengan baik. Saya yakin mereka melalui sebuah proses enjoy, easy dan excellent sebelumnya. Dengan tiga modal ini, karyanya tidak sekedar bernilai jual tapi juga meninggalkan hikmah bagi pembacanya. Karena mereka menulis dengan hati dan hati pembaca hanya bisa disentuh dengan ‘hati terbuka’ penulisnya. Jika suatu saat hasil karyanya tidak selaris sebelumnya, ia akan terus menulis karena menulis sudah menjadi bagian hidup yang dinikmatinya. Bayangkan jika uang adalah tujuan utamanya menulis, sementara ia tidak melewati atau kurang baik dalam menempuh 3 e tadi. Plagiat mungkin menjadi salah satu jalan yang ia tempuh; yang penting uang. Gawat, kan?

Secara umum, target ideal menulis adalah menghasilkan sebuah buku dan dimuatnya tulisan di kolom-kolom surat kabar, majalah atau media lainnya. Itu adalah tanda bahwa kualitas tulisan seseorang diakui sehingga ada honor yang diterima dan ia mulai menapak jejak menuju penulis profesional. Lalu, bagaimana mereka yang ‘hanya’ menulis di blog non komersil atau berbagai media sosial tapi isinya bermanfaat bagi orang lain? Mereka juga berhak disebut sebagai penulis. Mereka inilah yang tidak melulu mengincar uang sebagai imbalan dari tulisan mereka dan menjadikan kata ‘bermanfaat bagi orang lain’ sebagai tujuan utama. Mungkin juga mereka sedang berproses dalam enjoy, easy dan excellent itu tadi untuk menuju earning. Karena jalan terbaik untuk menjadi penulis yang baik adalah terus berlatih menulis kapan saja dan dengan media apa saja. Insya Allah, saya sedang menjalani tiga tahapan awal e dengan kembali mengaktifkan blog yang sudah lama vakum. Bismillah…

Menulislah dengan teknik jurnalisme nurani. Menulis untuk meraih kearifan dan bahwa apa yang kita tulis kelak akan dipertanggungjawabkan. Menulis yang melahirkan makna, tidak sekedar rangkaian kata. Menulis yang isinya adalah ajakan tapi penuh kelembutan dan perenungan. Menulis yang menjadikan kita lebih peduli terhadap sesama. Menulis yang bila diniatkan karena Allah SWT maka ia menjadi sumber amal shalih, bekal kita di akhirat sana.” (Tarbawi)



[caption id="attachment_112" align="aligncenter" width="300"]Proyek menulis buku bareng teman-teman ODOJers Malang Proyek menulis buku bareng teman-teman ODOJers Malang[/caption]

Bumi Pakisaji, Malang, Jatim

Di hari Jumat yang penuh berkah, 20 Februari 2015
Tatiek Ummu Hamasah Afra

February 23, 2015

Kisah Uwais Al Qarni

by , in

Kominex-dr Khotim 20150105_191757


 


Tersebutlah seorang pemuda dari Yaman yang hidup pada masa Rasulullah. Pemuda yatim paling miskin di desanya yang tinggal bersama ibunya yang buta dan lumpuh. Uwais amat mencintai ibunya dan setiap hari melayani keperluan ibunya tanpa ada keluh kesah. Suatu ketika,  ia mengamati orang-orang di desanya yang baru tiba dari perjalanan jauh, tiba dari Madinah. Yang ia temui adalah wajah-wajah penuh suka cita dan kehidupan mereka yang semakin berkah dan bahagia. Uwais mencari tahu apakah gerangan penyebabnya. Ternyata penyebab perubahan besar orang-orang itu karena bertemu dengan Rasulullah. Uwais berdecak kagum. Demikian luar biasanya pengaruh seseorang bernama Muhammad itu. Dan sejak saat itu ia mulai jatuh cinta dan membangun mimpi; bertemu dengan Rasulullah. Walau pun ia sendiri tidak tahu bagaimana memulainya. Karena ada jarak jauh terbentang antara Yaman dan Madinah sejauh 500 kilometer. Dan bagaimana mungkin ia meninggalkan ibu yang sangat dicintainya dengan kondisi yang seperti itu?


Sang ibunda rupanya mengerti keinginan putranya dikarenakan setiap hari Uwais menyebut-nyebut Rasululullah jika mereka sedang berbincang.


"Pergi dan temuilah Rasulullah,  anakku. Tapi jangan terlalu lama karena engkau tahu sendiri bagaimana kondisi ibumu ini," ujar sang ibu kemudian.


Legalah hati Uwais mendapatkan restu dari ibundanya itu. Ia berjanji akan segera kembali setelah menuntaskan rindu bertemu dengan Rasulullah. Dan berjalanlah Uwais Al Qarni melewati gurun pasir dan jalanan sejauh 500 kilometer itu. Menembus panasnya siang dan dinginnya malam, di bawah ancaman binatang buas dan para perampok yang mengintai setiap saat. Ia lakukan itu karena cinta dan rindu yang memenuhi dadanya.


Sampailah ia di Madinah. Uwais mencari-cari dan bertanya letak rumah Rasululullah. Maka didapatinya rumah itu, diketuklah pintunya. Yang membuka adalah ibunda Aisyah.


"Wahai pemuda,  siapakah engkau dan darimana asalmu?"


"Aku adalah Uwais Al Qarni dari negeri Yaman. Aku ingin bertemu dengan Rasulullah,  bunda," jawabnya penuh harap.


Betapa terkejutnya bunda Aisyah menyaksikan kegigihan pemuda dari negeri nun jauh yang akhirnya  sampai di depan pintu rumahnya itu. Namun Uwais Al Qarni harus menanggung kesedihan karena orang yang dicarinya saat itu sedang pergi berperang yang tidak diketahui secara pasti kapan kembalinya. Uwais tidak mungkin menunggu terlalu lama karena ia sudah berjanji kepada ibunya untuk pergi sebentar saja. Maka pulanglah Uwais Al Qarni ke Yaman dengan rindu yang masih terpendam. Menempuh jarak yang sama dengan keberangkatannya. Masya Allah.


Uwais kembali dengan selamat ke desanya dan kembali mengabdi merawat ibunya seperti sedia kala. Bahkan saat ibunya berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji,  Uwais Al Qarni menggendong ibunya ke Mekkah, pergi dan pulang! Labbaik Allahumma labaik! Dan tentu saja kecintaannya pada Rasulullah tidak pernah pudar.


Sekembalinya Rasulullah dari medan perang,  ibunda Aisyah menceritakan kedatangan pemuda Yaman itu. Maka dikumpulkanlah beberapa sahabat utama. Rasulullah berkata bahwa  pemuda Yaman bernama Uwais Al Qarni itu adalah seseorang yang tidak terkenal di bumi namun terkenal di langit! Rasulullah memerintahkan para sahabat untuk mencarinya dan jika bertemu,  Rasulullah menyuruh untuk memintakan doa istighfar. Dengan izin Allah,  doa Uwais akan dikabulkan. Ciri paling bisa dikenali dari Uwais adalah ada tanda putih di telapak tangannya. Betapa kagum para sahabat atas keistimewaan pemuda yang disebut Rasulullah itu.


Sampai dengan Rasulullah wafat,  beliau belum pernah bertemu dengan Uwais lagi. Pencarian terhadap Uwais tertunaikan pada masa kekhalifahan Umar bin Khaththab r.a. Beliau yang menghadang sendiri setiap kafilah dagang dari Yaman yang masuk Madinah. Ternyata ada Uwais di antara mereka yang saat itu sedang menjaga ternak. Saat Khalifah Umar memeriksa telapak tangan Uwais,  didapatinya tanda putih itu. Umar sangat bersyukur atas pertemuan itu dan segera memohon untuk didoakan agar Allah mengampuni. Semula, Uwais merasa tidak pantas dan justru meminta Umar untuk mendoakannya. Sampai akhirnya Uwais pun bersedia mendoakan Umar tapi menolak bantuan harta dari beliau. Uwais ingin tetap bersahaja dan tidak dikenal orang.


Uwais Al Qarni, anak yang berbakti dan hamba Allah yang taat itu, sampai akhir hayatnya tidak bisa bertemu Rasulullah. Tapi ia mencintai Rasulullah sepenuh jiwanya dan dicintai juga oleh Rasulullah. Keistimewaan Uwais Al Qarni ditunjukkan Allah SWT pada saat ia meninggal dunia. Ribuan orang berebut ingin memandikan,  mengkafani dan menguburkan. Ia memang tidak terkenal di antara para penduduk bumi,  tapi sangat terkenal di kalangan 'penduduk langit'.


*seperti yang dikisahkan oleh Kang Nugie Al Afghani dalam teatrikal FEMT Malang,  November 2014