Read, Write, Think, Thankful

Menulis Untuk Uang?

PhotoGrid_1504629927661
Apa yang kita pikirkan jika membaca tentang J.K. Rowling dan buku-buku best sellernya? Mungkin tidak jauh dari kata tenar dan uang. Ya, saya rasa hampir semua orang yang melek media mengenal penulis wanita Inggris yang telah menghasilkan tujuh buah novel Harry Potter dan dari novel itu dirilis delapan judul filmnya. Lalu tentang kekayaannya, bahkan ia lebih kaya dari Ratu Elizabeth II. Menurut Telegraph, jumlah pundi-pundi uangnya sudah mencapai 230 juta poundsterling dan masih akan bertambah karena ia terus produktif menulis. Seorang penulis bisa mengalahkan pemimpin negaranya dalam hal jumlah uang. Fantastis, bukan?

Dari negeri sendiri ada nama-nama seperti Habiburrahman El Shirazy, Andrea Hirata, Ahmad Fuadi, Darwis Tere Liye, Hanum Rais dan yang sedang menjadi sorotan adalah Asma Nadia. Saya menyebutkan mereka, karena sebagaimana J.K. Rowling, karya-karya mereka juga best seller dan difilmkan. Setidaknya hasil yang sama berupa ketenaran dan bertambah tebalnya kocek juga mereka dapatkan. Juga karena secara subyektif, mereka masuk dalam daftar penulis favorit saya, hehe… Walaupun manusia terkaya di Indonesia masih dipegang oleh para pengusaha. Tentu hal ini terkait dengan masyarakat Indonesia yang minat membeli buku dan minat membacanya masih rendah. Padahal penulis sebenarnya juga pengusaha. Mereka menuangkan ide-idenya melalui tulisan dan diterbitkan dalam bentuk buku yang dibeli oleh para konsumennya yaitu para pembaca.

Jadi, sebenarnya kita bisa menghasilkan uang dari menulis. Walaupun hingga saat ini pekerjaan sebagai penulis itu tidak tercantum dalam list jenis-jenis pekerjaan yang ‘diakui’ di Indonesia. Saya pernah membantu ibu saya mendata para penduduk dan pekerjaan mereka. Profesi yang tersebut adalah sebagaimana umumnya yang kita kenal; PNS, TNI/Polri, Swasta, Pegawai Swasta, Wiraswasta, Petani, Nelayan, Buruh dan Pekerja Lepas. Mungkin jika ada penduduk di sini yang berprofesi sebagai penulis, maka ia digolongkan sebagai ‘Swasta’.

Lalu, apakah boleh kita menjadikan uang sebagai tujuan utama kita menulis? Tidak ada yang melarang, sih. Tapi bagi saya sendiri, tujuan utama menulis saya bukan untuk itu. Saya mencoba menerjemahkan apa yang pernah disampaikan oleh ibu Septi Peni Wulandani,, pimpinan Ibu Rumah Tangga Profesional, saat membahas tentang identifikasi bakat anak dan tour de talent. Beliau menyampaikan bahwa anak yang mulai tertarik dengan talenta tertentu akan berbinar matanya dan ini tandanya ia mulai enjoy. Karena mulai menikmati hal yang disukainya, ia akan mudah menjalaninya; easy. Berlanjut menjadi sebuah keahlian karena terus-menerus dilatih dan tercapailah level excellent. Seseorang yang telah ahli, maka dengan sendirinya ia akan earning the money, menghasilkan uang. Sebuah tahapan menemukan passion anak yang sangat bijak.

Jika dikorelasikan dengan tujuan menulis, maka earning the money adalah tahapan akhir saat kita sudah menjadi seseorang yang excellet dan expert dalam menulis. Buku-buku laris manis pastinya adalah buku berkualitas yang dihasilkan oleh para penulis yang berhasil mengemas karyanya dengan baik. Saya yakin mereka melalui sebuah proses enjoy, easy dan excellent sebelumnya. Dengan tiga modal ini, karyanya tidak sekedar bernilai jual tapi juga meninggalkan hikmah bagi pembacanya. Karena mereka menulis dengan hati dan hati pembaca hanya bisa disentuh dengan ‘hati terbuka’ penulisnya. Jika suatu saat hasil karyanya tidak selaris sebelumnya, ia akan terus menulis karena menulis sudah menjadi bagian hidup yang dinikmatinya. Bayangkan jika uang adalah tujuan utamanya menulis, sementara ia tidak melewati atau kurang baik dalam menempuh 3 e tadi. Plagiat mungkin menjadi salah satu jalan yang ia tempuh; yang penting uang. Gawat, kan?

Secara umum, target ideal menulis adalah menghasilkan sebuah buku dan dimuatnya tulisan di kolom-kolom surat kabar, majalah atau media lainnya. Itu adalah tanda bahwa kualitas tulisan seseorang diakui sehingga ada honor yang diterima dan ia mulai menapak jejak menuju penulis profesional. Lalu, bagaimana mereka yang ‘hanya’ menulis di blog non komersil atau berbagai media sosial tapi isinya bermanfaat bagi orang lain? Mereka juga berhak disebut sebagai penulis. Mereka inilah yang tidak melulu mengincar uang sebagai imbalan dari tulisan mereka dan menjadikan kata ‘bermanfaat bagi orang lain’ sebagai tujuan utama. Mungkin juga mereka sedang berproses dalam enjoy, easy dan excellent itu tadi untuk menuju earning. Karena jalan terbaik untuk menjadi penulis yang baik adalah terus berlatih menulis kapan saja dan dengan media apa saja. Insya Allah, saya sedang menjalani tiga tahapan awal e dengan kembali mengaktifkan blog yang sudah lama vakum. Bismillah…

Menulislah dengan teknik jurnalisme nurani. Menulis untuk meraih kearifan dan bahwa apa yang kita tulis kelak akan dipertanggungjawabkan. Menulis yang melahirkan makna, tidak sekedar rangkaian kata. Menulis yang isinya adalah ajakan tapi penuh kelembutan dan perenungan. Menulis yang menjadikan kita lebih peduli terhadap sesama. Menulis yang bila diniatkan karena Allah SWT maka ia menjadi sumber amal shalih, bekal kita di akhirat sana.” (Tarbawi)



[caption id="attachment_112" align="aligncenter" width="300"]Proyek menulis buku bareng teman-teman ODOJers Malang Proyek menulis buku bareng teman-teman ODOJers Malang[/caption]

Bumi Pakisaji, Malang, Jatim

Di hari Jumat yang penuh berkah, 20 Februari 2015
Tatiek Ummu Hamasah Afra

1 comment: