My Lifestyle, My Journey, My Happiness

May 12, 2015

J A I M

by , in


Jaim. Yang jelas bukan j' aime yang bikin jantung berdebar, hehe. Istilah yang kali pertama saya kenal pada saat awal masuk SMK. Jaga Image, sepantaran dengan kata-kata borju atau jeles yang ngetren saat itu. Mengutip dari wikipedia, jaim diartikan sebagai  suatu perilaku untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya dengan mengharapkan orang lain menganggap subjek sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang tenang dan berwibawa.

Saya pernah menonton sebuah acara talkshow yang mendatangkan seorang artis muda yang ceria dan bersuara lumayan keras. Ketika ditanya oleh sang pembawa acara,

"Bisa gak sih kamu agak kalem?"

"Lah, ngapain gue jaim-jaim. Ya begini nih gue,"  jawab si artis sambil tertawa-tawa.

Pengertian jaim yang seperti itu memang lumrah beredar di sebagian masyarakat kita. Apa adanya saja lah, kira-kira begitu. Mereka yang berpendapat seperti ini biasanya memang akan bersikap atau mendukung sikap yang cenderung rame, heboh, seru, suka-suka gue, dan yang sejenisnya. Biasanya mereka juga anti bersikap kalem dan tenang karena itu bukan karakter dasar mereka. Menurut saya, hal tersebut  sah-sah saja karena pada dasarnya manusia itu akan nyaman dengan bersikap yang apa adanya. Yang tidak tepat adalah jika menuduh orang yang bersikap kalem sebagai orang yang jaim. Karena sebagaimana para anti-jaim ingin dimaklumi dengan karakter dasarnya,  manusia-manusia kalem juga punya karakter dasar mereka sendiri.

Saya pernah membaca sebuah pendapat bahwa jaim itu tetap perlu dilakukan sebagai bentuk kesopanan sikap kita. Seorang pelamar kerja yang aslinya bersifat heboh yang sedang diinterview oleh calon bosnya, pastinya ia akan cenderung menampilkan sikap manis dan penuh takzim. Bukankah ini bagian dari jaim yang menunjukkan kesopanan?

Beberapa waktu yang lalu, seorang pemimpin membuat heboh masyarakat dengan sikap beliau yang blak-blakan dan cenderung berkata-kata kasar. Banyak yang mendukung sikapnya karena menurut mereka sang pemimpin itu mah begitu orangnya :-D sudah dari sononya! Tapi tidak sedikit yang kontra dengan sikap beliau tersebut mengingat kapasitas beliau sebagai pemimpin. Seharusnya semarah apa pun dan sesulit apa pun kondisi yang dihadapi, sikapnya harus tetap tertata. Woles dikit lah, Pak! :-D

Dalam kasus di atas, saya termasuk pihak yang kontra. Saya tidak bisa membayangkan jika sikap beliau ditiru oleh anak-anak kecil :-( Nah, ini yang saya tangkap dalam lanjutan definisi jaim oleh wikipedia di atas. Bahwa jaim lebih dimaksudkan pada sikap untuk menjaga perilaku agar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang sulit.

Teringat kisah seorang pemimpin teladan yang sebenarnya mempunyai karakter dasar keras dan temperamental. Tapi beliau mau mengubahnya karena takut kepada Rabb-nya dan ingat akan amanah memimpin yang sedang dipegangnya. Maka terlantunlah doa,

"Allahumma inni ghaliizhun, falayyin-ni."

"Ya Allah sesungguhnya aku ini kasar, maka lembutkanlah aku."

Beliaulah Al Faruq, yang bahkan syaitan pun takut kepadanya, Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu.

Jadi, jaim-lah untuk menunjukkan kesopanan, menjadi teladan dan dalam rangka mengajak kepada kebaikan. Jangan sekali-kali jaim untuk pencitraan!

~~~

Tatiek Ummu Afra
May 06, 2015

Pena dan Supremasi Pengetahuan

by , in
Menulis adalah aktivitas makna, sebelum kegiatan mengumpulkan lafaz-lafaz. Karena itu, menurut Ibnul A’rabi, kata ‘tulisan’, kadang dipakai secara bahasa untuk menyebut pengetahuan. Seperti yang nampak pada makna ayat Al-Qur’an, “Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?” Para ulama menjelaskan, bahwa kata menuliskannya, maksudnya apakah mereka mengetahuinya lalu mengabarkannya untuk orang-orang?”

Ketika Rasulullah mengatakan kepada penduduk Yaman, “Aku mengutus untuk kalian seorang penulis”, menurut Ibnul Atsir, maksudnya adalah seorang yang berilmu. Ibnul Atsir menjelaskan penggunaan kata penulis dalam hadits tersebut, “Karena pada umumnya, siapa yang memiliki kemampuan menulis di masa itu, maka ia dipastikan memiliki ilmu dan pengetahuan. Terlebih ketika itu, jumlah para penulis sedikit. Karenanya keberadaan mereka sangat disegani.”

Ayat pertama yang diturunkan kepada Rasulullah juga berbicara tentang supremasi pengetahuan dan kaitannya dengan kepenulisan. Bahwa Allah, adalah Tuhan yang telah mengajari manusia apa-apa yang mereka tidak ketahui, dengan pena. “Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.”

Imam Qatadah mengatakan, “Pena adalah karunia yang sangat besar dari Allah. Tanpa itu, agama ini tidak akan tegak. Hidup tidak akan berjalan. Adalah kemurahan Allah telah mengajari hamba-hamba-Nya apa yang mereka tidak ketahui. Mengantarkan mereka dari gelap jahiliyah ke cahaya Islam, dan mengingatkan keutamaan ilmu kepenulisan karena manfaatnya yang besar yang tidak bisa memenuhi keseluruhan manfaat itu melainkan Allah sendiri.”

Kini, dengan apa kita menulis bukan lagi soal. Tapi apa yang kita tulis. Meminjam istilah Aljahiz, “Pena adalah salah satu dari dua lisan. Pena menghasilan pesan yang lebih membekas, sedang lisan lebih banyak menghasilkan kesalahan perkataan.”

Alat tulis kita tidak semata pensil yang kita raut atau pena yang kita isi ulang. Dengan teknologi digital dan bisa terkoneksinya sesama kita setiap waktu, alat tulis kita ada di mana-mana. Tetapi pertanyaan yang tak mudah dijawab, apakah yang kita tulis adalah supremasi pengetahuan atau bukan.

Source: Tarbawi
May 06, 2015

Menulis Tanpa Makna

by , in
Menulis tidak bisa dilepaskan dari makna. Meski ada penyair dan penulis di negeri ini yang bermadzhab sebaliknya. Mereka bersikukuh bahwa ‘kata tidak harus dibebani dengan pesan makna’.  Tentu ada beberapa tokoh yang dianggap rujukan dalam soal ini, mulai dari ahli semiotika di luar negeri maupun dari para penyair dan penulis sendiri. “Kata-kata bukan alat pengantar pengertian,” begitu sebagian prinsip mereka.

Meyakini kata-kata tidak harus dibebani dengan makna, artinya, kata apapun, bahkan yang sangat porno, jorok, kasar, bahkan menjijikkan, dianggap tidak masalah. Sebab, kata-kata tersebut dianggap berdiri sendiri dari makna. Maka, tidak heran para pemuja keyakinan tersebut, merasa biasa saja membuat karya-karya tulis, cerita pendek, atau novel yang isinya seputar sex, kelamin, dan hubungan lawan jenis. Dan, dengan bangga mereka menolak disebut  penulis porno.

Pandangan seperti itu belum tentu bisa diterima oleh keyakinan umum orang. Selain, keyakinan seperti itu pada praktiknya sangat sulit untuk diterapkan.  Rasanya kita bukan penganut aliran itu. Lebih lanjut, jika kita seorang Muslim, agama kita menjelaskan bahwa setiap kata ada pertanggungjawabannya. Itu artinya ada korelasi antara lafaz dan makna.

Jadi, kata-kata punya maksudnya. Menulis itu lebih dari upaya merangkai fakta, menulis adalah ikhtiar menemukan dan mengikat makna. Bahkan kata-kata sering punya kedalaman pesan, seperti yang tampak pada nasehat seorang bijak berikut ini:

Kata paling agung adalah lafaz Allah

Kata paling mendalam adalah jiwa

Kata paling panjang adalah keabadian

Kata paling kuat adalah kebenaran

Kata paling lapang adalah kejujuran

Kata paling lembut adalah cinta

Kata paling mulia adalah cita-cita

Kata paling cepat adalah waktu

Kata paling nyata adalah realitas

Kata paling utama adalah kesetaraan

Kata paling tipis adalah perasaan

Kata paling indah adalah kesetiaan

Kata paling kasar adalah kerasnya hati

Kata paling awet adalah kenangan

Kata paling berharga adalah ibu

Kata paling meriah adalah sukses

Kata paling dekat adalah sekarang

Kata buruk adalah kenistaan

Kata paling manis adalah taubat

Kata paling sulit adalah kesempurnaan

Kata paling sejuk adalah salam

Kata paling akhir adalah kematian

Source: Tarbawi
May 06, 2015

Menulis Itu Kesungguhan

by , in
Menulis, kata Kurt Anderson, adalah sebuah perjuangan. ”It’s a very moment-to-moment struggle,” kata novelis ini. Betapa tidak, kata demi kata, kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, adalah hasil sebuah kemauan dan kesungguhan. Betapa banyak orang punya potensi, tetapi sedikit yang mencoba. Betapa banyak orang punya ide, tetapi sedikit yang rela berbagi. Banyak yang mampu, tetapi sedikit yang mau. Banyak yang berlatih, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh.

Jadi, dimensi pertama dari ’perjuangan’ di sini adalah kemauan untuk menulis. Kemauan untuk menuangkan pikiran atau perasaan dalam sebuah tulisan. Ini tak ada hubungannya dengan siapa kita atau apa profesi kita. Pun tak terkait dengan apa yang kita punya. Setidaknya orang pernah berpikir dan berperasaan, maka itu akan menjadi bahan tulisan yang tak ada habisnya. Sayangnya, perkembangan budaya menjadikan ini semakin tidak mudah. Teknologi yang memupuk tradisi ‘kecepatan’ dan ‘kepraktisan’ telah membuat kita bahkan enggan untuk menuliskan sebuah kata secara lengkap.

Dimensi kedua, adalah kemauan untuk menulis dengan cara lebih baik. Ahmad Tohari pernah bercerita tentang perjuangan seorang lelaki tua yang ingin menulis. Penulis Novel Ronggeng Dukuh Paruk itu, suatu waktu, didatangi seorang purnawirawan yang ingin belajar menulis. Nasihat Kang AT–begitu dia biasa disapa, sederhana, “Belajarlah dengan menulis buku harian.” Nasihat yang agak aneh mungkin. Seorang kakek-kakek disuruh menulis buku diary ala anak SMA. Tapi kesungguhan mengalahkan segalanya. Pria tua itu pun patuh. Singkat cerita, selang beberapa bulan kemudian, cerpen pria itu dimuat oleh surat kabar ternama.

Dimensi perjuangan dari menulis berikutnya adalah kesadaran bahwa menulis adalah sebuah laku moral. Kesadaran bahwa menulis adalah kanal untuk berkomunikasi dengan orang lain, sehingga setiap huruf yang ditulisnya akan membawa pertanggungjawaban. Karenanya, menulis bermakna tak sekadar ekspresi tetapi juga berbagi. Tak semata narsis tapi juga katarsis. Inilah jalan perjuangan para guru dan pemikir yang telah membagi sekaligus mengabadikan ilmu dan ide-idenya dalam tulisan. Mereka lah para pejuang pena.


 


Source: Tarbawi
May 06, 2015

Menulis dan Seutas Tali

by , in
Ilmu itu buruan, dan tulisan adalah talinya

Maka ikatlah buruanmu dengan tali yang kuat

Adalah kedunguan engkau memburu kijang

Lalu engkau biarkan ia lepas di antara hamparan

(Imam Syafi’i)
Ada berbagai-bagai tempat untuk kita memburu ilmu. Di lembar-lembar literatur ada ilmu. Di hamparan kehidupan nyata ada ilmu. Di pengalaman pahit atau manis ada ilmu. Di tengah berbagai informasi melimpah ada ilmu. Memburu ilmu seperti dimaksud Imam Syafi’i menegaskan sebuah proses dari memilih, memilah, lalu mengambil mana yang benar-benar berguna dan bermanfaat bagi bertumbuhnya pengetahuan kita. Berburu selalu punya kata kunci: ketepatan.

Pada masa Imam Syafi’i, di mana tradisi menghapal masih sangat kuat, ia telah menjelaskan pentingnya mentransformasikan pengetahuan ke dalam tulisan. Maka tulisan, di masa itu, barangkali tidak menjadi pengingat lupa, tapi tulisan merupakan sarana sangat berharga bagi terjadinya proses pewarisan ilmu-ilmu luhur yang sangat fundamental. Di mana seorang guru, menulis sendiri maupun disalin perkataannya oleh para muridnya, telah membuat kita bisa menikmati begitu banyak karya-karya rujukan dari para ulama-ulama besar di masa lalu. Maka Imam Syafi’i tercatat sebagai penulis pertama buku paling penting dalam bidang usul fiqih, Arrisalah.

Maka, mencintai ilmu dan pengetahuan, perlu dilengkapi dengan mencintai menulis. Apalagi bila kita bukan generasi yang hidup dengan tradisi menghafal. Di era dunia digital, di mana teknologi begitu memudahkan kita untuk saling terhubung, kita mungkin tidak kekurangan alat untuk mengikat ilmu dengan tulisan. Ada begitu banyak ‘tali’; seperti keyboard atau keypad yang menyertai kemana saja kita pergi. Kita hanya perlu memastikan, bahwa yang kita tulis adalah sesuatu yang bermanfaat.

Source: Tarbawi
May 04, 2015

Jelang Aqil Baligh Anak; Persiapkan Jauh-jauh Hari

by , in


Menjelang akhir Januari 2015 yang lalu beredar rangkaian foto menghebohkan yang menggambarkan seorang siswa SMP sedang ‘menembak’ kekasihnya yang masih berstatus sebagai siswi SD dan dilakukan di lingkungan sekolah yang ditonton teman-temannya. Sontak dunia sosial media menjadi ramai. Bahkan akhirnya hal ini diangkat sebagai berita di sebuah situs internet karena tema tersebut sedang menjadi trending topic di kalangan netizen. Dalam berita tersebut dipastikan mereka memang pacaran, bukan kakak beradik seperti yang dikira-kira sebagian orang yang masih mencoba tidak percaya.

Kali pertama membacanya, saya langsung beristighfar berkali-kali. Sedemikian jauhnya kah anak-anak sekarang memaknai tentang arti cinta tersebut? Jika di zaman saya masih bersekolah di SMK, gambaran ‘menembak’ calon pacar di depan umum sepertinya hanya ada di acara reality show televisi semacam “Katakan Cinta” yang notabene pelakunya adalah para siswa SMA atau mahasiswa, sekarang bahkan anak-anak yang seharusnya masih berkutat dengan seabrek tugas belajar dan ekstrakurikuler sudah berani merancang reality show-nya sendiri dan akhirnya ditonton oleh umum.

Dalam kasus itu tentu kita berpikir, bagaimana mungkin mereka dengan bebas melakukan aksi tersebut di sekolah? Salahkah sekolahnya? Mungkin iya. Karena walaupun itu dilakukan di jam istirahat, tak seharusnya siswa yang bukan penghuni sekolah tersebut bisa masuk seenaknya. Apalagi bukan untuk kepentingan keluarga. Yang paling menjadi pertanyaan besar seharusnya adalah bagaimana peran orang tua mereka selama ini. Ibu Fifi Proklawati Jubilea, pendiri dan pimpinan Jakarta Islamic School (JISc), berkata bahwa lingkungan yang terdekat dengan anak adalah keluarga, kemudian yang kedua adalah sekolah. Jika sekolah bagus dan keluarganya bagus maka akan tercipta lingkungan yang mantap. Jika keluarga biasa/tidak bagus dan sekolahnya bagus, maka menjadi ½ mantap. Jika keluarga bagus dan sekolah tidak bagus, maka jadinya ¾ mantap. Artinya dengan keluarga yang bagus, anak lebih besar potensi selamatnya walaupun mungkin lingkungan sekolahnya tidak bagus.

Saya mempunyai seorang putri yang bulan Maret 2015 nanti genap berusia delapan tahun. Setiap membaca atau mendengar berita tentang perilaku anak-anak yang nyeleneh, apalagi yang berpacaran dini seperti kasus di atas, kadang ada rasa was-was juga. Tapi alhamdulillah putri saya, Afra, sejauh ini sudah mengenal batasan-batasan hubungan dengan lawan jenis. Saya dan suami bahkan mulai mengajaknya berbincang tentang ini sejak ia berusia empat tahun. Ya, sekarang pada umumnya usia aqil baligh anak datang lebih awal daripada masa lalu kita yang sekarang menjadi orang tua. Maka kami pun mengambil ancang-ancang lebih awal untuk medampinginya menghadapi masa itu.

  1. Cinta Kepada Allah Itu Nomor Satu
Kata cinta yang hari ini mengalami penyempitan makna yang hanya seputar hubungan laki-laki dan perempuan perlu kita luruskan. Karena itulah yang pertama harus kita kenalkan kepada anak adalah cinta kepada Yang Maha Tinggi, Allah SWT. Saya dan suami dulu memulainya dengan banyak mengajak anak saya jalan-jalan, tidak harus ke tempat yang jauh. Jalan-jalan pagi sekeluarga menjelajah kampung-kampung sebelah yang kebetulan masih asri dan menawan. Kami mengajaknya mengamati matahari yang terbit dari timur, burung-burung yang berkicau, kerbau yang mulai berkubang di lumpur, rerumputan yang menghijau, bunga-bunga yang berbau harum dan kesegaran udara yang bisa dihirup di pagi hari. Kami mulai menanamkan prinsip ‘Allah Yang Paling Hebat’ sebagai kesimpulan dari rasa kagum terhadap  kehebatan Allah SWT dalam menciptakan itu semua. Maka dengan prinsip itu, anak akan lebih mudah diarahkan untuk patuh kepada aturan-aturan Allah SWT yang mulai kami kenalkan. Misalnya: “Mbak Afra kan cinta sama Allah, ngaji yuuk…” atau “Anak shalihah, pingin dicintai Allah kan? Shalat bareng yuk…” dan yang senada dengan ini, “Malu lah sama Allah. Masak gitu hayooo…”

Diselingi juga dengan mengajarinya gubahan lagu “Satu-Satu Aku Sayang Ibu” menjadi “Satu-Satu Aku Cinta Allah” yang mudah diingat anak sebagai gambaran tingkatan cinta yang sebenarnya.

Satu-satu aku cinta Allah

Dua-dua cinta Rasulullah

Tiga-tiga cinta abi ummi

Satu dua tiga, jalan masuk surga

  1. Orang tua Sebagai Role Model
Dimulai dengan mengajaknya membuka-buka album pernikahan kami dan kami bercerita bahwa saya dan abinya dulu tidak berpacaran, tetapi ta’aruf lalu sebulan kemudian menikah. Entahlah, pada saat ia berusia empat tahun itu yang jelas ia sudah mengenal kosa kata pacaran dari lingkungan sekitar. Kebetulan ada saudara yang kerap membawa pacarnya ke rumah. Mungkin juga dari obrolan teman-teman bermainnya yang lebih besar. Karena memang ia juga bermain dan berbaur dengan anak-anak di kampung saya. Maka segera saja saya mengenalkan konsep ‘pacaran setelah menikah’ dan ‘pacaran itu dosa’ dengan bahasa yang bisa dimengertinya. Saat ia memasuki bangku TK, beberapa temannya saling menjodoh-jodohkan satu sama lain. Wow, anak TK gitu lho! Tapi saat giliran anak saya  yang dijodoh-jodohkan, dengan tegasnya ia berkata, “Aku sama dia lho temenan aja! Apa itu pacaran? Kata ummiku dosa, tau!” Begitulah yang ia ceritakan sepulang dari sekolah dan membuat saya tersenyum.

Maka jika kita sebagai orang tua mempunyai kisah tentang ta’aruf dan menikah tanpa pacaran, kita sudah menjadi role model yang pertama dianutnya. Ada keteladanan yang bisa diikutinya kelak dan ada prinsip sejak dini yang bisa ia pegang. Menurut sebagian ahli tafsir, Nabi Yusuf As. yang dimampukan Allah SWT untuk menolak ajakan zina istri Al ‘Aziz adalah karena beliau terbayang wajah ayahandanya, Nabi Ya’qub As. Betapa keteladanan itu bisa sangat membekas pada diri anak saat ia dewasa. Berbahagialah orang tua yang anaknya jadi teringat dengan kebesaran Allah SWT saat mengingat orang tuanya.

Tentu saja bagi para orang tua yang dahulu sempat melewati masa berpacaran dan tidak ingin anaknya seperti itu, juga belum terlambat untuk memulai. Ada kisah pernikahan Rasulullah Muhammad dan ibunda Khadijah yang bisa diceritakan kepada anak. Bahwa Rasulullah menghabiskan masa muda untuk berprestasi dalam perdagangan dan muamalah lalu menikah di saat yang tepat dan mendapatkan jodoh yang tepat tanpa pacaran. Manfaatkan waktu emas untuk berkisah yaitu sebelum tidur karena di waktu ini suasana pada umumnya nyaman dan rileks. Serta lakukan secara teratur karena dengan pengulangan-pengulangan, si anak akan semakin mudah memahami pola yang ingin kita sampaikan melalui daya ingat cemerlang di masa golden age-nya.

Saya sendiri berusaha mengajaknya berdialog dari hati ke hati tentang sosok laki-laki yang baik yang boleh diidolakan. Rasulullah SAW tentu saja menjadi yang pertama. Selanjutnya adalah sosok abinya. Sejauh ini memang ia sangat dekat dengan abinya walau pun abinya bertugas di luar kota. Hari Sabtu dan Ahad saat abinya pulang menjadi primetime bagi mereka. Sering saya membiarkan mereka bercengkrama berdua. Pengalaman saya membuktikan jika seorang anak perempuan sudah nyaman dengan sosok Hero seorang ayah, niscaya ia tak akan mudah mencari sosok Hero lain di luar sana kelak. Dan jika sudah waktunya, lelaki pilihan sebagai suami tak jauh dari sosok baik sang ayah. Itu yang terjadi antara saya dan ayah saya dulu.

  1. Akhlak Yang Baik Adalah Prestasi
Krisis yang menimpa anak-anak di atas dan juga generasi muda saat ini adalah krisis akhlak. Sekali lagi, orang tua berperan penting dalam pemberian contoh dan pengarahan ke arah akhlak yang baik. Kaitannya dengan persiapan aqil baligh anak, akhlak pertama yang harus dimiliki anak adalah menghargai tubuhnya sendiri. Kami dulu mengajari anak untuk bersyukur terhadap tubuh sempurna yang dikaruniakan Allah SWT padanya. Dengan mengajaknya merasakan nikmatnya bisa berjalan, berlari, memegang, berbicara, mendengar dan melihat. Kami tanamkan prinsip ‘Tubuhku ini berharga’ sehingga tak boleh ada orang lain yang sembarangan memegang tubuhnya pada bagian-bagian yang kami jelaskan sebagai kehormatan bagi wanita dan anak perempuan. Kebetulan ada animasi tentang itu yang membuatnya lebih paham akan pesan yang kami sampaikan.

Maka sejak pra-TK ia mulai merasa malu jika mandi dengan pintu terbuka dan kami membelikannya piyama anak berbahan kain handuk agar saat keluar kamar mandi tubuhnya tertutupi. Juga saat berganti pakaian, ia akan menutup pintu kamarnya. Pernah ada beberapa temannya yang bermain-main di sekitar rumah dan hendak menyusulnya, disuruhnya menunggu di luar saja karena ia sedang berganti pakaian. Saat bermain di luar, pasti ia berpakaian lengkap. Jika memakai rok, ia akan meminta memakai celana sepanjang lutut sebagai dalamannya. Sungguh menyedihkan karena saya pernah menemui beberapa anak perempuan yang dibiarkan orang tuanya bermain-main dengan celana pendek dan kaus singlet saja. Begitu pun saat mengikuti saya ke luar rumah, ia akan meniru saya memakai jilbab. Dilanjutkan dengan pengenalan terhadap haid sejak ia duduk di kelas satu. Tentunya dengan penyampaian yang mudah dipahaminya.

Tontonan dan bacaan membawa pengaruh besar dalam perkembangan akhlak anak. Maka akhlak kedua yang harus dimiliki anak adalah menyukai tontonan dan bacaan yang sehat. Keluarga kami termasuk yang memiliki televisi di rumah tapi tentu saja jam menonton untuknya kami batasi satu jam saja. Pun sinetron cinta-cintaan tidak jelas atau tayangan kekerasan bukanlah menu di televisi kami. Sebenarnya ia lebih kami arahkan untuk menonton VCD kartun anak bertema Islam seperti Syamil dan Dodo di laptop dengan durasi satu jam juga. Kebetulan anak kami adalah anak bertipe visual, mudah menangkap pesan yang disampaikan lewat tayangan video atau gambar bergerak. Ia tidak bosan memutarnya berulang-ulang sampai hafal dialog tokoh-tokohnya. Suatu saat ia berkata, “Mi, aneh ya orang-orang yang takut hantu. Lha kan ruh orang mati itu ada dalam genggaman Allah. Mana bisa jalan-jalan?” Ternyata ia mendapatkan informasi itu dari film kartun Islam yang ditontonnya.

Semakin dewasa ia, warna yang ia dapat dari teman-temannya juga mulai beragam. Beberapa temannya ada yang jadi penggemar girls band, dangdut sampai sinetron semacam Ganteng-Ganteng Serigala. Mereka tentu saja terpapar itu dari orang tuanya yang menyetel televisi tanpa batasan waktu atau tanpa kontrol. Tapi jika teman-temannya itu bermain di rumah, mereka segan untuk sekedar bernyanyi lagu-lagu picisan atau meminta diputarkan program televisi yang biasa mereka tonton di rumah. Rupanya anak kami mewanti-wanti peraturan yang kami berlakukan padanya kepada teman-temannya itu. Sewaktu ia masih duduk di bangku TK, ada sedikit kisah tentang lagu-lagu picisan yang dihafal teman-temannya dan waktu itu dinyanyikan mereka keras-keras di depan rumah. Anak saya langsung menegur, “Ngapain nyanyi lagunya orang dewasa? Nanti kamu tambah tua lho!” Tapi sebagian dari temannya tetap cuek bernyanyi sehingga membuatnya kesal dan masuk ke dalam rumah. Ia menangis dan mengadu kepada saya. Saya jelaskan bahwa ia sudah benar dan tidak apa-apa jika temannya tidak mau berhenti karena mungkin orang tua mereka belum memberi tahu tentang itu. Ia pun mulai tenang menghadapi kenyataan hasil ‘dakwahnya’.

Sebagai anak yang serba ingin tahu tentang film kartun, beberapa waktu yang lalu ia juga tergoda untuk menonton film kartun seperti Rapunzel atau Frozen.  Ia kami perbolehkan menonton dengan kami dampingi. Jauh-jauh hari kami sudah mengisahkan tentang nabi Musa dan para penyihir Fir’aun. Jadi ia sudah punya gambaran bahwa sihir itu bathil. Penasarannya terobati, tapi ia juga bisa menangkap pesan-pesan positif yang kami sampaikan dari film itu. Pada umumnya anak perempuan memang menyukai hal-hal berbau princess, begitu juga anak kami. Maka jauh-jauh hari juga kami membelikannya bacaan tentang kisah putri-putri Islam yang tertutup auratnya dan santun akhlaknya seperti Putri Jihan, kumpulan putri dari kesultanan Islam, kisah para putri yang diambil namanya dari Asmaul Husna, juga kisah tentang ‘Aisyah ra. yang banyak tersebar di buku cerita yang kami belikan sebagai gambaran putri yang cerdas dan shalihah. Ia sudah punya gambaran ideal para putri dan semoga prinsip itu terus dipegangnya. Saya ingat sebuah pelajaran mendidik anak yang disampaikan oleh Pak Adriano Rusfi, Psi bahwa orang tua harus meng-imunisasi anaknya terhadap gangguan dari luar dan bukan men-sterilisasinya.

Penerapan akhlak baik yang menjadi benteng baginya kami anggap sebagai prestasi. Kami tidak terlalu risau dengan prestasi akademiknya yang memang sejauh ini tergolong baik. Kami berusaha menghargai dan memuji praktik akhlak baik yang dijalankannya dan mengarahkannya atau memberi punishment yang mendidik jika ia belum memahami atau melanggar. Sungguh PR ini masih banyak dan panjang sebagaimana tantangannya ke depan juga mungkin lebih berat daripada yang kami hadapi. Kami pun terus belajar menjadi orang tua yang memberi keteladanan terlebih dahulu. Ya Allah, bimbinglah kami.

“Sesiapa punya anak wanita, dididik baik-baik, diajarkan akhlaq terpuji, dinikahkan dengan lelaki shalih; baginya dua pahala.” (HR. Muslim)

“Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkanmu beberapa kata ini sebagai nasihat buatmu. Jagalah hak-hak Allah, niscaya Allah pasti akan menjagamu. Jagalah dirimu dari berbuat dosa terhadap Allah, niscaya Allah akan berada di hadapanmu. Apabila engkau menginginkan sesuatu, mintalah kepada Allah. Dan apabila engkau menginginkan pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah bahwa apabila seluruh umat manusia berkumpul untuk memberi manfaat kepadamu, mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah dituliskan oleh Allah di dalam takdirmu. Juga sebaliknya, apabila mereka berkumpul untuk mencelakai dirimu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakaimu sedikitpun kecuali atas kehendak Allah. Pena telah diangkat dan lembaran takdir telah kering.” (HR. Tirmidzi)

~~~

Malang, 05 Februari 2015/15 Rabiul Akhir 1436 H

Sepenuh cinta untuk putriku, Hamasah Afra Qonita Syazwina

Tatiek Ummu Hamasah Afra

*tulisan lama yang belum sempat teraplod ^_^v
May 03, 2015

Matikan HP Saat Masuk Masjid!

by , in
Pexels.com


Mungkin Anda pernah mendapatkan broadcast message dalam bahasa Jawa tentang seorang pemuda yang disuruh ibunya pergi shalat Jumat. Saya lupa siapa nama si tokoh. Sebut saja namanya Jupri. Padahal baru saja si Jupri pamitan ke ibunya, eeh… dia balik lagi ke rumah.

“Lha shalat Jumat-nya baru mau dimulai kok kamu malah pulang, Jup?” tanya sang bunda.

“Aku takut, Mak. Lha Khatibnya barusan bilang begini: ‘Saudara-saudara, yang bawa hape dimatiin saja!’ Daripada aku dibunuh, ya mending pulang saja. Soalnya aku bawa hape dan tak taruh di celana nih, Mak.” Jawab si Jupri.

Kisah fiktif ini lumayan membuat senyum dikulum. Karena ada seseorang yang dengan polosnya menerjemahkan secara mentah perkataan orang lain. Padahal yang dimaksud sang Khatib tentu saja adalah mematikan hape, bukan matiin atau membunuh orangnya :D

Jika yang di atas adalah rekaan belaka, maka saya pernah mengalami kisah nyatanya. Suatu siang, saya diantar oleh suami untuk janjian dengan seorang teman. Ternyata beliau belum pulang dari aktivitasnya. Kami memutuskan untuk berkeliling sebentar sambil menunggu beliau kembali ke rumah. Tak lama kemudian azan Dhuhur berkumandang. Kebetulan ada masjid yang tidak jauh letaknya dari tempat kami berkeliling, berada di sekitar Pasar Besar Malang.

Ini pertama kalinya saya mampir ke situ. Jamaah wanitanya tidak terlalu banyak dan rata-rata sudah paruh baya, sepertinya penduduk sekitar. Di belakang masjid memang ada perkampungan penduduk. Tidak ada yang aneh sampai saya selesai mengucapkan salam dan berzikir. Saya mundur dari shaf dan melihat keluar, ke arah parkiran. Suami saya belum berada di sana rupanya. Saya putuskan untuk berada di dalam dulu sambil menunggu sms dari teman saya. Saya mengeluarkan tab dari tas dan mengecek inbox, masih belum ada. Saya teruskan membuka aplikasi Alquran karena saya tidak membawa mushaf saat itu.

Saya baru membaca sebagian dan merasa ada seseorang lewat di depan saya sambil berbicara dengan nada mengomel. Saya belum ngeh, sampai kemudian saya mendongak dan mendapati seorang wanita paruh baya –mungkin seusia ibu saya- sedang memandang tajam ke arah saya sambil menunjuk tulisan di dinding masjid: MATIKAN HP SAAT MASUK MASJID.

“Wong masuk masjid kok menghidupkan hape… bla…bla…bla…” Beliau masih melanjutkan kicauannya ternyata. Saya menelan ludah, memasukkan tab ke tas dan melihat beliau berlalu ke arah pintu keluar. Wow, saya melakukan kesalatan fatal rupanya.

Ya sudahlah, saya memutuskan segera keluar saja dari situ. Daaan… di depan pintu keluar, ternyata si ibu masih di situ. Masih dengan wajah tak ramahnya dan mengomel dengan nada yang tidak enak didengar. Saya mencoba mendekat dan menjelaskan maksud saya mengeluarkan tab tadi. Berharap juga bisa membuka obrolan tentang maksud peraturan yang tertulis di dinding masjid itu. Eeh, beliaunya memotong perkataan saya dan terkesan tidak mau tahu sambil menghindar. What an unforgettable moment, hiks :(

Saya termasuk orang yang suka mampir ke masjid jika bepergian dan baru kali ini mendapati peraturan kaku ditambah sikap tidak bersahabat dari salah seorang jamaah –jamaah senior kali, hihi- Karena yang saya tahu, maksud dari peraturan yang tertulis di dinding itu tentu saja mematikan hape saat shalat sedang berlangsung agar tidak mengganggu jalannya ibadah jika tiba-tiba ada ringtone berbunyi. Saat masih menjadi pengurus sebuah Remaja Masjid dulu, malah ada pilihan selain itu: … Atau Ubah Ke Nada Getar.

Saya menduga si ibu memang ‘terlalu disiplin’ dan memahami peraturan yang tertulis secara tekstual, sama seperti si Jupri. Begitu haramnya perbuatan seseorang yang menghidupkan hapenya di masjid bagi beliau dan tak termaafkan pula tindakan seperti itu. Atau peraturannya memang seperti itu? Sayangnya saya tidak sempat bertanya kepada takmirnya. Selain terburu-buru pergi, juga ada sedikit rasa shock karena barusan dimarahin orang, hihi…

Saat menceritakan hal itu kepada suami, maka ada hikmah yang kami temukan bersama. Ya, pelajarilah adab sebelum berilmu. Terus terang, sikap si ibu itu berbahaya jika diterapkan kepada jamaah yang kebetulan mampir ke situ dan mempunyai pemahaman seperti saya. Mereka bisa kapok datang ke masjid itu lagi. Jika ada ‘jamaah baru’ yang dianggap melanggar peraturan, seharusnya diingatkan dengan nada baik-baik. Bukankah seorang muslim harus menunjukkan kemuliaan Islam yang sesungguhnya?

Dan tentang hape, baiklah. Memang lebih baik membawa mushaf saat bepergian sehingga saat ingin tilawah di masjid, kita bercerai sejenak dengan si hape. Tentang larangan mematikan hape saat di masjid, pemahaman saya masih sama; itu berlaku saat shalat berlangsung. Selesai shalat, kita boleh membukanya tapi tetap memastikan bahwa saudara-saudara kita yang mungkin sedang menjadi makmum masbuk tidak terganggu dengan tat-tit-tut suara hape kita.

Begitupun saat mengikuti kajian di dalam masjid, kadang kita memang memerlukan hape untuk mengambil gambar pemateri atau merekam isi taujihnya.  Lebih baik kita memang fokus mendengarkan dan mencatat daripada sibuk whatsapp-an atau bbm-an, lha kan niatnya ngaji! Itulah yang saya alami saat mengikuti sebuah kajian di sebuah masjid di jalan Kahuripan, Malang. Masjid yang lebih ‘bersahabat’ karena saya tidak menemui adanya larangan itu, baik pada saat kajian berlangsung, pada saat kajian selesai dan dilanjutkan dengan shalat Dhuhur.

Note: Untuk ibu itu yang saya tidak tahu siapa namanya; Terima kasih atas pelajarannya ^_^

Tatiek Ummu Hamasah Afra