Read, Write, Think, Thankful

J A I M



Jaim. Yang jelas bukan j' aime yang bikin jantung berdebar, hehe. Istilah yang kali pertama saya kenal pada saat awal masuk SMK. Jaga Image, sepantaran dengan kata-kata borju atau jeles yang ngetren saat itu. Mengutip dari wikipedia, jaim diartikan sebagai  suatu perilaku untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya dengan mengharapkan orang lain menganggap subjek sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang tenang dan berwibawa.

Saya pernah menonton sebuah acara talkshow yang mendatangkan seorang artis muda yang ceria dan bersuara lumayan keras. Ketika ditanya oleh sang pembawa acara,

"Bisa gak sih kamu agak kalem?"

"Lah, ngapain gue jaim-jaim. Ya begini nih gue,"  jawab si artis sambil tertawa-tawa.

Pengertian jaim yang seperti itu memang lumrah beredar di sebagian masyarakat kita. Apa adanya saja lah, kira-kira begitu. Mereka yang berpendapat seperti ini biasanya memang akan bersikap atau mendukung sikap yang cenderung rame, heboh, seru, suka-suka gue, dan yang sejenisnya. Biasanya mereka juga anti bersikap kalem dan tenang karena itu bukan karakter dasar mereka. Menurut saya, hal tersebut  sah-sah saja karena pada dasarnya manusia itu akan nyaman dengan bersikap yang apa adanya. Yang tidak tepat adalah jika menuduh orang yang bersikap kalem sebagai orang yang jaim. Karena sebagaimana para anti-jaim ingin dimaklumi dengan karakter dasarnya,  manusia-manusia kalem juga punya karakter dasar mereka sendiri.

Saya pernah membaca sebuah pendapat bahwa jaim itu tetap perlu dilakukan sebagai bentuk kesopanan sikap kita. Seorang pelamar kerja yang aslinya bersifat heboh yang sedang diinterview oleh calon bosnya, pastinya ia akan cenderung menampilkan sikap manis dan penuh takzim. Bukankah ini bagian dari jaim yang menunjukkan kesopanan?

Beberapa waktu yang lalu, seorang pemimpin membuat heboh masyarakat dengan sikap beliau yang blak-blakan dan cenderung berkata-kata kasar. Banyak yang mendukung sikapnya karena menurut mereka sang pemimpin itu mah begitu orangnya :-D sudah dari sononya! Tapi tidak sedikit yang kontra dengan sikap beliau tersebut mengingat kapasitas beliau sebagai pemimpin. Seharusnya semarah apa pun dan sesulit apa pun kondisi yang dihadapi, sikapnya harus tetap tertata. Woles dikit lah, Pak! :-D

Dalam kasus di atas, saya termasuk pihak yang kontra. Saya tidak bisa membayangkan jika sikap beliau ditiru oleh anak-anak kecil :-( Nah, ini yang saya tangkap dalam lanjutan definisi jaim oleh wikipedia di atas. Bahwa jaim lebih dimaksudkan pada sikap untuk menjaga perilaku agar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang sulit.

Teringat kisah seorang pemimpin teladan yang sebenarnya mempunyai karakter dasar keras dan temperamental. Tapi beliau mau mengubahnya karena takut kepada Rabb-nya dan ingat akan amanah memimpin yang sedang dipegangnya. Maka terlantunlah doa,

"Allahumma inni ghaliizhun, falayyin-ni."

"Ya Allah sesungguhnya aku ini kasar, maka lembutkanlah aku."

Beliaulah Al Faruq, yang bahkan syaitan pun takut kepadanya, Umar bin Khaththab radhiyallahu 'anhu.

Jadi, jaim-lah untuk menunjukkan kesopanan, menjadi teladan dan dalam rangka mengajak kepada kebaikan. Jangan sekali-kali jaim untuk pencitraan!

~~~

Tatiek Ummu Afra

No comments:

Post a Comment