My Lifestyle, My Journey, My Happiness

May 13, 2016

Alangkah Berbedanya

by , in
afra luv dedek 

Kehamilan itu amazing! Tanyakan kepada pasangan yang sekian tahun menanti buah hati dan berakhir dengan dua buah garis merah di testpack, yang mungkin sebelumnya sudah berpuluh kali terbuang. Menang undian mobil pun -saya kira- akan kalah reaksi gembiranya dengan hasil positif itu. Sebuah peristiwa agung yang digambarkan di Alquran tentang perubahan dari nutfah-'alaqah-mudhghah, yang akan membuahkan zikir jika kita mau benar-benar merenunginya. Dari setetes air yang hina bisa menjelma menjadi makhluk yang indah dan menggemaskan siapa saja yang melihatnya. Belum lagi jika kita memikirkan tentang tiga peristiwa kehamilan yang 'tidak biasa' di Alquran, kita akan semakin merasakan ke-Maha Besar-an Allah Swt. Sangat di luar logika bahwa Maryam binti Imran bisa mengandung tanpa 'disentuh' seorang laki-laki. Juga kehamilan Hajar, istri Nabi Ibrahim As serta istri Nabi Zakaria As yang sebenarnya sudah tua dan mandul. Qaala kadzaalik-Allahu yaf'alu maa yasyaa'...

Tapi kehamilan bisa juga membuat yang menerima anugerah itu justru kalang kabut. Reaksi itu tak perlu dibayangkan, tapi pastinya itu terjadi dengan hasil akhir: bayi-bayi tak berdosa yang dibuang sembarangan. Atau bahkan sebelum berwujud bayi lucu, ia sudah dilenyapkan di klinik-klinik aborsi ilegal. Ironis! Sadis! Sebuah momen yang sebenarnya membahagiakan tapi justru menjadi saat-saat menyedihkan, berujung dosa, dan sangat mungkin pelakunya akan menyesal seumur hidupnya. Peristiwa di paragraf pertama dan kedua adalah sama, tapi alangkah berbeda penyikapannya. Tak lain dan tak bukan karena awalnya juga sudah berbeda. Yang satu adalah buah cinta dari pernikahan indah penuh berkah, sedang yang lainnya adalah karena diturutinya hawa nafsu durjana.

Saya bersyukur dijadikan hamba yang merasakan kehamilan dengan ridha-Nya, insya Allah. Kehamilan yang jika dibandingkan dengan yang pertama, ternyata ada bedanya. Jika dulu saya masih dalam posisi sebagai wanita bekerja saat mengandung Afra, maka pada the amazing moment yang kedua ini saya dari awal memilih untuk menjadi stay at home mom. Pilihan yang dalam pertimbangan saya dan suami, bisa menunjang ikhtiar agar segera hadir yang kedua. Alhamdulillah, berjarak satu setengah tahun dari waktu resign, hadirlah si janin kecil yang ditunggu-tunggu. Hal yang masih sama adalah pertanyaan dari sekeliling. Dulu, untuk mendapatkan Afra, kami harus menunggu tujuh bulan. Dan yang kedua ini -jika dihitung pasnya- maka kami harus lima tahun menunggu. Sejak awal tanpa alat kontrasepsi, hanya mengaturnya secara alami. Dan selama itu, pertanyaan datang bertubi-tubi. Duuh, siapa sih yang tidak ingin menambah momongan? Takdir tiap wanita kan berbeda, tapi kadang pertanyaannya diajukan tanpa pandang bulu. Alhamdulillah, saya termasuk yang woles dan jadi terpikir untuk berusaha tidak menanyakan itu kepada para ibu lain yang belum dikaruniai nikmat hamil, baik yang pertama atau anak yang selanjutnya. Karena saya yakin, dalam kondisi normal dan wajar, mereka pastinya ingin jadi seorang ibu atau mempunyai anak lagi. Berapa pun jumlah anak mereka, itu urusan masing-masing keluarga. Ga usah kepo! Doakan saja mereka.

Perbedaan yang selanjutnya adalah 'problem' kehamilan yang harus saya hadapi. Dulu saat Afra di dalam perut, saya was-was dan cukup kepikiran karena saat itu posisinya sungsang dari usia kehamilan tujuh bulan sampai menjelang sembilan bulan. Alhamdulillah, memasuki bulan kesembilan ia mau muter sesuai dengan posisi yang sebenarnya. Lega...

Nah, yang kali ini agak di luar dugaan. Ada flek darah, bahkan sampai menetes-netes saat memasuki pekan ke sepuluh kehamilan. Kaget dan takut! Apalagi saat itu, Jumat petang, si Abi masih dalam perjalanan pulang ke rumah. Sebelumnya saya memang merasakan sedikit capek, walaupun hanya menyapu lantai dan mencuci peralatan makan. Mencoba rileks -padahal sempat ingin nangis- dan langsung rebahan di atas tempat tidur. Esoknya, diantar suami ke Puskesmas yang jaraknya dekat dengan rumah. Lebih tentram karena tidak banyak antrian. Setelah dicek dan berdialog dengan bidan dan dokter yang berjaga di situ, ternyata saya memang harus bedrest. Indikasi awal keguguran, hiks. Jika sampai berlanjut, akan dirujuk ke Rumah Sakit. Tapi, karena sejak awal sudah dalam kondisi stay at home, tentu saja ini tidak begitu memberatkan saya karena tidak harus meminta izin cuti kerja. Jalani saja dengan enjoy dan tetap berpikir positif. Bedrest total dan meminum obat yang diresepkan. Sesuatu yang tidak saya pikirkan sebelumnya; meminum obat saat hamil. Maunya kan ideal, tanpa obat-obatan kimia selama kehamilan. Ah, perbedaan kondisi yang akhirnya tetap saja harus saya syukuri.

Alhamdulillah saat harus menjalani rehat itu, saya tetap bisa menjalani hobi. Yaps, apalagi kalau bukan membaca. Sebuah hobi yang tak mengharuskan saya keluar rumah, di dalam kamar pun jadilah. Mulai dari menuntaskan PR membaca buku, membaca ulang majalah bekas sampai mengikuti berita-berita via tab kesayangan. Banyak hal yang saya temui, banyak ilmu yang saya dapati. Dan salah satu yang berkesan adalah saat memelototi instagram, tak sengaja muncul dua orang pesohor. Mereka tampil begitu saja di beranda, mengabarkan perjalanan mereka ke Eropa. Seorang penulis yang juga ustadz -yang saya follow- dan seorang selebritis -saya gak follow dia, tapi entah koq beritanya nyelonong aja di beranda- yang hobi jalan-jalan.

Memang saya hanya bisa mengamati mereka dan pada akhirnya bergumam dengan kekata yang sama dengan judul tulisan ini: Alangkah berbedanya! Tepatnya, mengamati dan mencoba mengambil ibrah. Bahwa dua orang yang melakukan kegiatan yang sama, hasilnya bisa berbeda. Yang seorang, captionnya penuh makna di setiap tempat yang ia singgahi. Sedangkan yang satunya hanya terkesan hepi-hepi tanpa caption yang berarti. Sebenarnya memang tidak apple to apple sih, membandingkan mereka. Karena keduanya memang berasal dari 'dunia' yang berbeda. Tapi tetap saja saya keukeuh mencoba hadirkan sebuah kesimpulan: pentingnya ilmu. Karena ilmu, perkataan pun bisa menginspirasi sekitarnya, segala tindakan jadi bermutu. Seperti yang ditunjukkan sang ustadz itu.

Banyak hal lain yang sebenarnya saya temui sepanjang berpiknik via buku. Jika dijabarkan, tulisan ini akan tamat tahun depan, hehe. Jadi, saya akhiri saja sampai di sini.


πŸ”ΈπŸ”ΈπŸ”ΈendπŸ”ΉπŸ”ΉπŸ”Ή


*Tulisan yang tertunda finishingnya 😁 diakhiri saat si debay 28w. Insya Allah, cowok dan sehat 😍

Tatiek Ummu Hamasah Afra

January 06, 2016

Yang Kedua: Ayat-Ayat Cinta dan Anakku

by , in
Jelang akhir bulan Desember 2015 kemarin, tuntas sudah pe-er membaca sebuah novel yang disebut sebagai novel pembangun jiwa by Habiburrahman El Shirazy alias Kang Abik; Ayat-Ayat Cinta 2. Tak menyangka bahwa setelah hampir sepuluh tahun, akhirnya muncul kisah lanjutan tentang Fahri Abdullah dan Aisha.

IMG_20160106_070737.jpg

Saya membaca novel AAC 1 saat masih menunggu jodoh, 😊 sekitar awal tahun 2005. Berulang-ulang membacanya sampai nangis-nangis, akhirnya novel edisi pertama itu saya hadiahkan untuk saudara agar beliaunya juga mendapatkan hikmah dengan membacanya. Jadi terkenang juga tentang filmnya yang menjadi fenomenal saat itu. Salah satunya karena saat itu belum banyak film Indonesia yang mengambil lokasi syuting di luar negeri, juga tentang tema poligaminya itu lho... ehem. Bagi saya sendiri, film AAC membangkitkan sebuah kenangan akan seorang teman akhwat yang berpulang tepat dua pekan setelah pernikahannya 😭 Saat itu, Maret 2008, film AAC yang masih tergolong baru diputar di serambi masjid tempat walimatul 'ursy beliau dilangsungkan. Ah, ukhti... Engkau hanya sebentar mengecap predikat sebagai pengantin, seperti Maria. Tapi, Insya Allah engkau sedang berbahagia kini dalam tidur panjangmu.

Kembali lagi ke AAC 2. Begitu tahu bahwa ada Pre Order, tetiba rasa ingin memiliki novel itu begitu menggebu, tak seperti biasanya. Mungkin ini yang namanya ngidam 😊 Biasanya saya cukup sabar menunggu untuk membeli buku pada saat digelar Malang Islamic Book Fair. Alhamdulillah, orderan datang tepat waktu, dapet tanda tangan Kang Abik plus ada bonus novel AAC 1. Yeaay... Memang saya punya e-book nya sih. Tapi sungguh, membaca via e-book sensasinya tak sama dengan memegang langsung kertas-kertas itu. AAC 1 disimpen dulu, biar dibaca mbak Afra jika sudah besar nanti. Now, fokus ke AAC 2 yang ... tebelnya, bo! Dan sebelumnya saya sengaja tidak mencari resensi novel tersebut. Cukup membaca testimoni singkat orang-orang yang tertera di sampul novelnya saja. Biarlah saya rasakan sendiri kejutan apa yang ada di dalamnya.

Begitu masuk bab pertama, jadi merasa surprise karena kali ini ternyata Fahri bermukim di Eropa. Kirain masih setia tinggal di Mesir. Dia yang sekarang bergelar Doktor di bidang Filologi*), menjadi dosen tidak tetap di salah satu universitas terbaik di dunia yang terletak di Skotlandia, University of Edinburgh. Terus terang, saya baru tahu tentang kampus ini, yang gedungnya dijadikan cover novel. Deskripsi awal tentang kecantikan ibu kota Skotlandia yang dijuluki Athens of The North ini begitu menggoda untuk melahap halaman demi halamannya. Lanjuuut... But wait, mana Aisha? Setelah membaca lebih jauh dan mendalami sikap Fahri yang galau, ternyata Aisha dikisahkan telah hilang tak tentu rimbanya saat melakukan perjalanan ke Gaza, Palestina. 😭 Ah, Kang Abik bisa aja ya bikin alur cerita yang tak terduga.

Fahri kini tinggal bersama supirnya, seorang pria Turki paruh baya yang dipanggilnya Paman Hulusi. Hoca Fahri (baca: Tuan Guru) yang dulunya anak penjual tape ini sekarang dikisahkan juga sebagai seorang pengusaha sukses yang mempunyai butik, minimarket, dan restoran. Sebenarnya itu semua adalah bisnis Aisha yang terus dijalankan oleh Fahri sepeninggal istrinya. Tak dikisahkan konflik yang terjadi antara Fahri dengan para bawahan dan karyawannya. Tapi konflik dibangun dengan kehadiran tokoh-tokoh baru seperti Nyonya Janet dan dua anaknya, Keira dan Jason. Juga Brenda dan Nenek Catarina yang beragama Yahudi. Mereka semua adalah tetangga Fahri di perumahan Stoneyhill Grove. Juga kemunculan tokoh Sabina, perempuan berhijab yang buruk rupa dan menjadi peminta-minta.

Acara membaca saya agak tersendat karena si Abi ternyata juga tertarik. Dan tenggelamlah si Abi membaca novelnya, sampai agak cuek dengan anak istri, hehe. Iya sih, waktu beliau di rumah memang hanya Jumat malam sampai Ahad malam. Biarlah beliaunya ngebut dan saya membaca buku yang lain saja dulu. Kebetulan bulan kemarin saya memang membeli beberapa buku baru. Jurus speed reading si Abi akhirnya mengantarnya finish pas Ahad malam. Beliaunya mesam-mesem ba'da ngebut itu. Padahal sebelumnya serius banget. Saya mewanti-wanti agar tak mengkisahkan endingnya, ntar gak seru dong! So, saya lanjut deh agenda membacanya di tengah rasa mual yang melanda.

Saya dibuat terkagum-kagum dengan cara Fahri menyelesaikan konflik dalam kesehariannya yang berisi beragam karakter orang. Masih seperti yang dulu, akhlaqul karimahnya mantep! Sikapnya itu rasanya juga pasti dilakukan oleh muslimin yang tinggal di negara-negara barat sana sebagai kaum minoritas. Jika di AAC 1 dulu ada yang berpendapat bahwa sifat Fahri itu terlalu sempurna dan masih berpendapat yang sama untuk yang kali ini, rasanya yang berpendapat seperti itu perlu menengok realita.

Sekarang banyak sekali muslimin Indonesia yang bertebaran di Eropa atau Amerika, baik untuk bekerja atau melanjutkan pendidikan. Kisah-kisah nyata mereka bertaburan di media cetak, elektronik atau pun media sosial. Mereka rata-rata akan berusaha menunjukkan jati dirinya sebagai muslim yang baik, sebagai bentuk syiar Islam kepada dunia. Paling gampang adalah merujuk kepada 99 Cahaya di Langit Eropa, misalnyaJadi, jika di sini Fahri dinilai terlalu baik, oh come on! Belajar menjadi sepertinya, yuk! Walaupun ia hanya tokoh rekaan, tapi sebenarnya banyak kisah fiksi yang diangkat dari kenyataan.

Di novel ini banyak dikisahkan tentang acara makan-makan berikut nama-nama makanan khas Turki dan Skotlandia. Unik-unik. Pastinya sih, penyebutan jenis-jenis makanan tersebut memang untuk memberi penekanan setting tempatnya. Begini lho kuliner di Skotlandia itu. Ini lho kudapan yang khas Turki itu. Yups, karena Fahri masih dikelilingi oleh orang-orang Turki, keluarga dari pihak ibunya Aisha. Ada Ozan, sepupu Aisha yang dipercaya mengelola AFO Boutique yang sukses pesat. Nah, si Ozan ini mempunyai adik perempuan cantik yang bernama Hulya. Si cantik yang pandai bermain biola ini dijodoh-jodohin dengan Fahri yang telah lama menjomblo. Padahal ada tawaran juga dari Syeikh Utsman, guru Fahri di Mesir dulu, agar Fahri mau menikah dengan cucu cantiknya, Yasmin. Dari dulu koq Fahri jadi rebutan, hihi... Pilih yang mana dong? Yang jelas, Fahri masih belum juga move on dari Aisha. Duh, suami setia!

Bab demi bab yang nikmat pun terlalui. Hampir tak ada yang tak berkesan. Salah satunya adalah sesi debat ilmiah tentang amalek (sebutan dari Yahudi pro Zionisme untuk orang di luar mereka) yang bertempat di kampusnya sendiri. Debat yang mempertemukan Fahri dengan Baruch, tentara Yahudi tengil dan seorang Rabi Yahudi, juga dengan seorang Profesor ahli sejarah gereja. Debat berlangsung seru dan Fahri berhasil menunjukkan kesalahan fatal faham Zionisme yang sangat rasis itu, justru dengan merujuk kitab suci mereka yang sebagiannya masih menunjukkan ketetapan Allah terhadap Bani Israil.

Kalimat-kalimat Fahri yang mengalir penuh ilmu itu mengajarkan bahwa kita sebagai muslim memang harus lebih keras belajar daripada mereka. Masya Allah... Walau pun hal itu tak cukup membuat Profesor Charlotte, partner Fahri yang mengajar di universitas tersebut, untuk memeluk Islam. Profesor sepuh itu melihat bahwa realitanya "Al Islamu mahjuubun bil muslimin" alias Islam tertutup oleh umat Islam. Sungguh ini bukan hanya fiktif tapi betul-betul menjadi pekerjaan rumah besar bagi kita semua agar wajah Islam tergambarkan lewat tingkah laku dan pemikiran kita dalam keseharian. Persis seperti yang pernah disampaikan oleh Syaikh Muhammad Abduh, ulama terkenal dari Mesir itu.

Perjuangan belum berakhir. Fahri yang tampil mengesankan pada debat itu diberi kesempatan untuk tampil mewakili institusinya di ajang debat yang lebih menantang: Oxford Union, the world’s most prestigious debating society. Dan posisi Fahri di sini mirip kondisi nyata Mehdi Hasan, seorang wartawan muslim Inggris yang tampil gemilang di Oxford Union dalam membela agamanya yang terkena fitnah pada Juli 2013 yang lalu. Fahri harus berhadapan dengan dua sosok yang punya pemikiran ekstrim yang bertentangan, Profesor Mona Bravmann yang memandang semua agama sama dan Profesor Alex Horten yang ingin meniadakan semua ajaran agama. Berhasilkah Fahri tampil gemilang dan mematahkan argumen lawan-lawan debatnya? 

Finally, karena novelnya disebut sebagai novel pembangun jiwa, pastinya happy ending lah ya kisahnya. Karena secara fitrah, manusia menyukai kegembiraan dan berusaha menolak kesedihan. Lalu,  dimanakah letak happy endingnya? Baca sendiri ya 😊

Tentang happy ending, saya mah seneng-seneng aja kalo tokohnya lives happily everafter. Lagian, jika setelah membaca trus saya jadi sedih, kacian dedek yang di dalam sini *elus-elus perut. Janin yang dirindukan ini adalah calon anak yang kedua, sama seperti Ayat-ayat Cinta yang barusan saya kulik sedikit isinya.

~Khalas~

Pakisaji, 5 Januari 2016
Coretan pertama di tahun ini

Tatiek Ummu Hamasah Afra

==========================================
*Filologi adalah ilmu yang mempelajari bahasa dalam sumber-sumber sejarah yang ditulis, yang merupakan kombinasi dari kritik sastra, sejarah, dan linguistik.