My Lifestyle, My Journey, My Happiness

January 23, 2017

Suatu Musim di Batu Bengkung

by , in
ayopiknikid-1485107656574
Credit pict: IG @rony_ys

Indah sekali ya pantai ini? Namanya pantai Batu Bengkung. Salah satu pantai yang mempunyai pemandangan eksotis saat matahari terbenam ini terletak di kecamatan Gedangan, kabupaten Malang. Letaknya kira-kira dua kilometer dari pantai Bajul Mati.

Daerah selatan kabupaten Malang memang mempunyai beberapa pantai indah yang instagramable. Tapi di daerah pantai atau laut selatan Malang ini juga lah kerap menjadi titik pusat gempa bumi. Terakhir yang saya ingat adalah gempa berkekuatan 6.2 SR pada tanggal 16 November 2016 yang lalu yang terasa hingga ke Bali dan Jogja. Saat itu kebetulan saya masih terjaga sampai jam 22.00 WIB, tepat saat guncangan keras itu mengagetkan saya.

Indah tapi 'ngeri'. Lebih tepatnya: di balik keindahan itu ada ujian. Sama seperti kehidupan ini pada umumnya. Kita yang dikaruniai 'keindahan' seperti: cantik, tampan, kaya, terkenal dan yang senada dengan itu, pasti ada ujian di baliknya. Sadar atau tidak sadar. Beruntunglah bagi yang menyadari. Karena memang biasanya keindahan itu melenakan, membuat tak sadarkan diri.

Alhamdulillah, Ahad kemarin, tanggal 22 Januari 2017 bisa berkesempatan mengunjungi pantai Batu Bengkung. Tapi bukan saya yang ke sana, hehe. Afra diajak Eyang Utinya untuk bersantai di pantai. Yups, karena yang punya acara memang si Uti bersama teman-teman beliau para kader desa Pakisaji. Boleh membawa anak kecil, kata panitianya. Senang sekali anak perempuan saya itu. Karena dia sudah lama tidak bermain-main pasir pantai. Terakhir ke pantai Baron, Gunungkidul, Yogyakarta dua tahun yang lalu. Maka walaupun kali ini ke pantai tak bersama emak-bapaknya, Afra enjoy saja. It takes a village to raise a child. Eyang Uti sedang memainkan perannya dalam hal ini.


img-20170123-wa0000
Kalau ini hasil jepretan Afra :-)

Biasanya yang menceritakan kisah perjalanan adalah pelakunya sendiri. Seperti yang biasa dituliskan oleh para travel blogger itu. Dalam hal ini memang bukan saya yang pergi. Tapi tiba-tiba saja terlintas sesuatu di pikiran ini: tentang 'musim'. Yups, saya yang sedang asyik menimang bayi tentu saja memilih untuk lebih banyak di rumah. Menahan diri. Walaupun aslinya saya senang sekali jika bisa singgah di tempat-tempat indah.

Memang inilah 'musim' saya. Seperti yang dikatakan oleh Bu Elly Risman tentang anak-anak beliau yang punya banyak obsesi tetapi tertahan sejenak. Kata beliau: Kini anak anak kami sedang menjalankan 'musim' mereka menjadi istri dan menjadi ibu. Pastinya 'musim' saya yang sederhana ini -hanya tentang menahan diri untuk tidak sering pergi jauh- berbeda dengan 'musim' anak-anak Bu Elly itu. Tapi izinkan saya belajar bersabar dari mereka.

Mungkin yang agak mirip -karena sama-sama tentang perjalanan- adalah perkataan Rangga Almahendra tentang 'musim' yang segera dijalani istrinya, Hanum Rais, begitu putri yang sudah lama mereka nantikan lahir: "Kita pernah menjelajah dunia ya, Say. Nonton pagelaran dan perhelatan dunia. Pemandangan nan apik dan mengagumkan selama 11 tahun terakhir ini. Dari satu pemandangan kita berdecak kagum, lalu ketika melihat pemandangan lain di belahan dunia lain, kita lebih berdecak kagum lagi.
Namun traveling kita akhirnya kembali ke titik nol. Ke rumah kita. Dan pemandangan yang paliiiiiing indah dan membuatku terkagum-kagum dan tak berhenti melepaskannya ternyata begitu sederhana: melihat anakku kau susui, lalu dia tertidur pulas dan sesekali tersenyum-senyum sendiri di alam mimpinya sambil menunjukkan kedua lesung pipitnya dan alisnya yg bergerak gerak seolah berkata: nih aku punya lesung pipit dan alis tebal kayak Papa." Maaf, saya kutip penuh :-)

'Musim' itu juga yang akhirnya kini dijalani oleh ibu saya. Baik secara siklus hidupnya atau momen bersantai di pantai yang kemarin beliau nikmati. Dulu beliau tidak bisa banyak bepergian karena mengurus kami, tiga anaknya yang masih kecil-kecil. Kini beliau bisa menikmati 'musim' nya dengan aktif berkegiatan di masyarakat dan bepergian ke sana kemari. Alhamdulillah, sampai saat ini beliau sehat dan jarang sakit.

Momen pergi ke Batu Bengkung ini menjadi istimewa jika dihubungkan dengan masa lalu. Sekali lagi tentang 'musim'. Saya masih ingat saat diajak Ayah ke pantai Balekambang, berekreasi dengan teman-teman kantornya. Ya, hanya saya saja yang waktu itu masih duduk di kelas tiga SD. Karena saat itu ibu saya juga sedang punya bayi, adik bungsu saya. Maka inilah takdir Allah Ta'ala itu. Beliau yang tidak bisa pergi saat itu, bisa pergi bertahun-tahun kemudian. Walaupun pantainya berbeda, tapi masih dalam satu kawasan yang sama. Lebih istimewa lagi karena selama ini beliau selalu berhalangan jika ada rencana ke pantai.

Secara sunatullah, musim pasti akan berganti. Kita hanya menjalani dan diminta bersabar melaluinya. Saat kita berada di musim panas, jangan terburu-buru meminta hujan tiba. Dan sebaliknya. Jika tak sabar menjalani, bisa kacau jadinya. Seperti kekacauan musim yang sekarang terjadi karena dipicu global warming, tangan-tangan manusia yang tidak sabar merawat bumi lah yang menjadi penyebabnya.

Jadi, wahai Batu Bengkung! Keindahanmu yang mempesona itu memang belum bisa ku nikmati sekarang. Semua ada 'musim' nya. Melihat ibu dan anakku berseri-seri sepulang darimu sudah cukup membuatku bahagia. Kata orang itu namanya bahagia yang sederhana.

***

“Our lives are a journey. As we move forward, we will not only figuratively experience the geography of life: the exhilaration of high mountains, the tranquility of calm meadows, the isolation of treacherous canyons, but we will also experience the seasons of life: the hope of spring, the abundance of summer, the harvest of autumn, and yes, the darkness and depression of winter.” [Seth Adam Smith]

***

Ditulis saat belum bisa tidur ^_^
Senin, 23 Januari 2017



Tatiek Ummu Hamasah Afra