Read, Write, Think, Thankful

The Power of Melongo

_20170205_234750 

Melongo menurut KBBI adalah terbuka (tentang mulut) karena heran dan sebagainya. Ah, sebenarnya tanpa merujuk kamus besar itu pun kita sudah familiar dengan tindakan yang satu ini. Penyebabnya selain karena heran, memang bisa bermacam-macam. Yang saya sebutkan hanyalah sedikit dari banyak yang melandasinya.

Pertama, melongo karena takjub akan sesuatu. Ingat tentang istri para pembesar Mesir yang melihat ketampanan Nabi Yusuf? Mereka melongo dan mengiris jari tangan mereka sendiri tanpa sadar. Nah, tuk para gadis (juga emak-emak?) yang menggemari drama korea karena kegantengan aktornya, jika hanya melongo saja tanpa mengiris jari, berarti aktor tersebut gak ganteng-ganteng amat. Hehe... No offense, ya saudari-saudari. Hanya sedikit mengingatkan tentang gadhul bashar alias menjaga pandangan, walaupun hanya lewat sebuah tayangan di televisi. Melongomu itu seharusnya hanya untuk suamimu atau calon imam kamu nanti. Akur?

Kedua, melongo karena style. Yang jenis ini biasanya karena memang dari sononya bergaya seperti itu. Suasana adem atau pun heboh, ya sama saja bergaya melongo 😃  Ada juga yang style melongonya karena setting-an, misalnya yang dilakukan para pelawak. Jika melongonya berhasil mengundang gelak tawa penonton, sukses deh dia. Jadi, silakan menertawakan style melongo yang kedua tapi jangan lakukan untuk style yang disebut sebelumnya. Karena saya pernah mendapati orang dengan style alami melongo itu ditertawakan dan diolok-olok. Padahal yang melakukan itu pada awalnya ya mingkem seperti biasa. Lambat laun, melongo deh.

Ketiga, melongo karena mupeng. Nah, yang ketiga inilah yang sedang terjadi pada anak lelaki saya, Akmal. Di usia lima bulannya, ia sering melongo jika melihat orang-orang di sekitarnya makan dan minum. Seperti yang tampak di gambar itu. Saat dia melihat Eyang Utinya minum kopi, melongo lah dia. Biasanya sih ditambah dengan mengecap-ngecapkan mulut layaknya orang sedang makan. Hehe. Lucunya dirimu, Nak!

Si Akmal memang menjelang enam bulan usianya. Itu berarti sedang menuju fase makan, ber-MPASI. Dan kejadian melongonya itu menjadi salah satu tanda bahwa dia bersiap untuk mamam. 😊

Adapun tanda-tanda bayi siap untuk makan secara lengkap adalah:
1. Kontrol kepala
Bayi mampu menjaga kepalanya tetap dalam posisi tegak dan mantap (tidak miring ke salah satu sisi)
2. Duduk tegak dengan bantuan
Sang bayi mungkin belum siap duduk di kursi namun ia harus dapat duduk tegak agar dapat menelan
3. Berhenti menggunakan lidah
Bayi berhenti menggunakan lidahnya untuk mendorong makanan dalam mulutnya (extrusion reflex). Sebagai gantinya, ia mampu menelan makanan padat.
4. Gerakan menelan
Bayi mampu menggerakkan makanan dalam mulut dan kemudian menelannya.
5. Tumbuh nafsu makan
Dia tampak lapar, bahkan setelah disusui.
6. Ingin tahu apa yang ibu makan
Bayi mungkin mulai memperhatikan piring nasi ibu atau berusaha meraih biskuit yang sedang ibu makan.

Peralatan tempur untuk makan dek Akmal sudah siap. Alhamdulillah tidak beli karena hadiah feeding set dari teman-teman dulu lumayan berjibun. Memilih satu set saja merk Pi**on, yang lain bisa dihadiahkan kembali untuk teman atau saudara. Peralatan makan yang saya pilih ini dari segi bahan aman untuk bayi (BPA free) dan cukup lengkap untuk keperluan ketrampilan makan bayi. Ada dua sendok bulat, mangkuk makan, piring dengan bagian khusus (berbintik-bintik kecil untuk menghancurkan makanan), juga training cup dengan 4 langkah agar bayi kelak bisa minum di gelas sendiri.

Tapi, tetap sih ada yang harus dibeli: baby food processor dan high chair. Yang terakhir disebut masih dalam pertimbangan. Karena masih bisa digantikan dengan duduk di baby walker atau pun dipangku oleh Eyang Utinya, lalu saya yang menyuapi. Toh, hal yang melandasi pentingnya high chair itu tetap akan tercapai karena kami terbiasa makan bersama di meja makan. Insya Allah.

Insya Allah saya nantinya berusaha membuat homemade MPASI sendiri. Walau pun tidak anti juga dengan yang pabrikan, disiapkan untuk kondisi darurat. Juga karena ada menu yang saya tidak bisa membuatnya sendiri seperti biskuit bayi M**na itu. Alhamdulillah punya pohon pisang, pohon buah naga, pohon pepaya, pohon mangga dan ubi jalar ungu serta beberapa sayuran hijau di kebun. Cukup membantu ketersediaan bahan untuk resep MPASI nya nanti. Selebihnya, pastinya harus mampir ke pasar depan rumah.

Oia, ada satu lagi kondisi dimana dek Akmal melongo. Yaitu saat mendengarkan tilawah via speaker Quran. Jadi, baik makanan untuk fisik maupun untuk ruh sama-sama mampu membuatnya melongo. Melongomu itu duniaku, dek! 😃

***

Road to February 15, 2017

Bukan nunggu Pilkada, tapi itu pas dek Akmal 6 bulan ^^

Referensi: Buku "Super Komplit 365 Hari MPASI+" by Astrid Savitri

No comments:

Post a Comment