My Lifestyle, My Journey, My Happiness

September 26, 2017

Dari Kantor ke Rumah, Aku Berhijrah

by , in
PhotoGrid_1506378768093 
Tanggal 1 Muharram 1439 Hijriyah baru saja terlewati. Sebuah momen yang lekat dengan kata ahun baru Islam adalah langkah awal perubahan diri dan evaluasi terhadap hijrah yang sudah dilakukan sebelumnya. Walaupun kedua aktivitas itu sebenarnya bisa dilakukan kapan saja, tapi pergantian tahun menjadi semacam ‘cubitan’ agar diri tersadarkan.

Saya pernah mengambil sebuah keputusan besar dalam hidup yaitu memulai berhijab syar’i. Ilmu masih sangat minim, tapi saya bertekad untuk berubah. Juga keputusan untuk menghindari pacaran. Kedua prinsip itu mantap saya pegang demi menjadi pribadi muslimah yang lebih baik dari sebelumnya.

Tantangan dari lingkungan kerja memang ada karena di tahun 2001 itu berhijab adalah pilihan yang masih langka. Alhamdulillah saya bisa melaluinya satu per satu, biidznillah. Sungguh, tidak ada artinya kesuksesan dunia jika seorang perempuan tidak menjadi sosok yang saliha.



PhotoGrid_1506380103865 
Pada usia 24 tahun, anugerah jodoh itu saya dapatkan. Jarak antara taaruf dan menikah hanya 1,5 bulan saja. Akad dan walimah pernikahan pun kami selenggarakan secara sederhana di sebuah masjid. Impian untuk memberi hijab atau batas antara tamu laki-laki dan perempuan pun terlaksana. Sebuah syi’ar yang saya harapkan menjadi kisah inspiratif untuk teman-teman saya. Alhamdulillah.

Lalu apakah kisah hijrah saya selesai? Tentu saja tidak. Selalu ada perubahan pada hidup manusia seiring dengan hal-hal baru yang dihadapinya. Hal-hal baru yang melahirkan renungan tentang keputusan-keputusan ke depan: akankah saya tetap memilih jalan ini atau ada pilihan lain yang lebih baik?

Maka keputusan besar itu saya lakukan: resign dari pekerjaan saya di pertengahan tahun 2014. Niat saya bekerja adalah untuk membantu suami saya. Saat itu ia berganti-ganti tempat kerja dengan penghasilan yang minim. Tapi sampai kapan? Sementara anak pertama kami semakin besar dan kuantitas kebersamaan saya dengannya sangat kurang. Target mempunyai anak kedua pun belum terlaksana. Sepertinya kelelahan saya bekerja menjadi salah satu penyebabnya.

Saya kembali mengevaluasi diri. Rekan-rekan kerja saya rata-rata bertabiat baik. Tapi mayoritas mereka adalah laki-laki. Duh... Kemudian tentang tugas saya di bagian keuangan yang bersinggungan dengan ribawi. Walaupun saya hanya bertugas mencatatnya, bukankah pencatat juga akan terkena dosa riba? Kedua hal itu baru terpikirkan setelah saya serius merenunginya.

Akhirnya saya mengundurkan diri di saat gaji suami masih minim seperti sebelumnya. Tapi saya meyakini bahwa jatah rezeki saya dan anak kami akan tetap mengalir melalui suami saya. Dan saat itu akhirnya tiba. Empat bulan setelah saya resign, suami mendapatkan pekerjaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Nominal gajinya pun ternyata lebih besar dari gabungan gaji kami sebelumnya. Masya Allah.


PhotoGrid_1506381516457 
Banyak ranah pekerjaan yang memang membutuhkan perempuan di sana. Sedangkan pekerjaan saya itu bukanlah sebuah pekerjaan khusus perempuan sehingga saya bisa meninggalkannya. Terbukti, pengganti saya yang sekarang adalah seorang bapak. Beliau yang notabene adalah kepala rumah tangga lebih membutuhkan pekerjaan itu.

Kini saya memilih bekerja di ranah domestik secara lebih profesional. Ya, saya tidak lagi menamai seorang ibu rumah tangga sebagai seseorang yang tidak bekerja. Saya mengubah mindset saya bahwa bekerja itu adalah tentang terus bergerak dan berkarya. Tidak melulu tentang menghasilkan uang. Saya tetap bisa menjadi kader posyandu dan mendapat limpahan ilmu dari seminar dan workshop di balai desa. Saya tetap bisa bergabung di komunitas One Day One Juz dan menjadi pengurus di sana. Tentu saja yang paling penting adalah menjadi madrasah pertama yang lebih berkualitas bagi anak-anak kami. Alhamdulillah, putra kedua kami lahir setahun yang lalu.


PhotoGrid_1506382234918 

Demikianlah, rangkaian kebahagiaan di atas membuat saya merasa jadi lebih baik dengan berhijrah. Jadi saudariku, mulailah hijrahmu. Temukan kasih sayang dan pertolongan Allah Ta’ala melalui hijrah itu.


Salam hijrah,

Tatiek Ummu Hamasah Afra

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Saliha.id dengan tema “Jadi Lebih Baik dengan Hijrah”

September 19, 2017

[Puisi] Mawar-mawar untuk Sahabatku

by , in
PhotoGrid_1505694443305

“Sebentar lagi ia akan hadir di sini.”
Kulihat pendar-pendar berpijar
Mata beningmu berbicara mimpi-mimpi
Tentang pangeran rupawan pengulur bunga-bunga mawar
Berbilang masa kamu nanti datangnya
Dalam pada itu aku
lebih dulu mengayuh bahtera sakinahku

Menit-menit terlampaui
Aku dan kamu memandang punggung kukuh
pangeranmu yang beranjak pergi
Kamu membisu, aku merengkuh
bahumu yang tergugu lawan duka kecewa
Sebentuk undangan, setangkai mawar kuning
terulur padamu sebelum pangeran berlalu

Bulan-bulan terlewati
Tak kudapati sosok sabar tegarmu lagi
Hanya gundukan tanah basah memerah
di hadapanku kini
Ah, air mataku hanya tidak tahu
Kamu bukan pergi, bukan
Kamu bahkan menunggu sepenuh damai, segenap rindu
Sang pangeran impian nan sebenar diciptakan
Ia yang bukan pengulur mawar-mawar kuning lagi
Kuyakin ia kan ajakmu berlari-lari
Di antara hamparan taman mawar merah merekah
Di teduhnya Firdaus mewangi, memesona indah

Malang, 10 September 2017

🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻

'Behind the Scene':
Puisi di atas terinspirasi karena kepergian seorang sahabat. Ia pergi sebelum sempat mewujudkan impiannya: menjadi pengantin. 😢 Memang seperti inilah hidup: jodoh dan maut akan berlomba menghampiri manusia sesuai titah Yang Maha Perkasa. Dan sahabat saya itu, insya Allah akan bertemu dengan jodohnya kelak di surga. Aamiin.

Nah, dalam puisi di atas, saya menyebutkan tentang mawar kuning. Tidak seperti mawar merah yang menandakan sebagai bunga pengikat asmara, mawar kuning adalah lambang persahabatan. Jadi, jika ada pemuda yang memberikan Anda sekuntum atau bahkan buket mawar berwarna kuning, maka Anda sudah bisa mengartikannya sendiri.

Lalu apakah sahabat saya itu mengalami kejadian persis seperti yang ada di dalam puisi di atas? Biarlah itu menjadi rahasia kami. 😢 Miss u so much, dear...

Tentang kematian yang datang sebelum jodoh menjelang, saya teringat pada sebuah cerita pendek. Judulnya adalah "Lancang Kuning Berlayar Petang." Sebuah cerpen yang pernah dimuat di Annida, hasil karya Uni Novia Syahidah Rais. (Lagi-lagi menyebutkan keduanya 😊) Kebetulan, puisi saya dan judul cerpen ini sama-sama ada kata "kuning"-nya, juga berkisah tentang hal yang hampir sama.

IMG_20170918_232733
Lancang Kuning berarti perahu yang berwarna kuning. Pasti kita sudah banyak mengetahui tentang lagu daerah dari Riau itu kan? Di dalam cerpen itu, si perahu kuning diibaratkan manusia. Sedangkan "Berlayar Petang" adalah kiasan untuk umur yang pendek. Karena menurut lirik aslinya, si Lancang Kuning itu akan berlayar di malam hari. Maksudnya, pada umumnya manusia akan menutup mata selamanya di usia tua.

"Lancang Kuning Berlayar Petang" adalah sebuah pengecualian, bahwa kematian tidak memandang usia. Diceritakan, tokoh Melani yang merupakan seorang gadis beretnis Cina, menghadap Tuhannya di usia belia. Peristiwanya berlangsung tidak lama setelah ia memeluk Islam. Sebuah kondisi yang sebenarnya akan memuluskan langkahnya untuk bisa berjodoh dengan Nizam, seorang pemuda Melayu. Tapi takdir berkata lain tentang mereka. Melani pergi, sama seperti sahabat saya itu.

Maka, mari persiapkan diri. Kita yang sudah bersua dengan jodoh kita sebenarnya juga akan bernasib sama: terpisahkan. 😭 Karena kasih sayang Allah Ta'ala lah, maka kita masih diberi kesempatan untuk menikmati indahnya cinta di dunia. Juga masih diberi waktu untuk mencium semerbak mawar-mawar itu.



Selamat bermuhasabah,

Tatiek Ummu Hamasah Afra











September 06, 2017

Kembali Bangun Cinta pada Menulis dan Membaca

by , in
PhotoGrid_1504554296205

Bertahun-tahun lalu, menjelang saya lulus dari Sekolah Dasar. Saya dan beberapa teman bergantian mengisi block note  milik teman yang lain, yang dimaksudkan sebagai buku kenangan. Tentu saja tidak seperti buku kenangan wisuda yang dicetak massal seperti saat ini. Block note kami berisi beragam tulisan tangan dari teman-teman, yang saya yakin masing-masingnya merasa: it’s hard to say good bye.

Adakah teman-teman yang juga punya pengalaman demikian? Ya, block note itu berisi biodata lengkap, termasuk tentang hobi juga. Waktu itu saya tidak ragu menuliskan hobi saya: menulis dan membaca. Dan memang demikianlah adanya. Sejak saya lancar membaca di kelas dua SD, saya ‘menodong’ orang tua untuk membelikan majalah dan buku-buku bacaan anak-anak.


Jatuh Cinta pada Menulis dan Membaca

Majalah pertama saya adalah majalah Bobo, sedangkan buku dongeng pertama saya adalah Thumbelina, si putri jempol. Betapa senangnya saya, seakan mendapatkan hadiah paling berharga sedunia. Waktu bermain saya di luar rumah hanya saya gunakan sedikit saja, karena keasyikan menenggelamkan diri pada majalah dan buku itu. Bahkan nenek saya yang berkunjung ke rumah pun pernah saya cuekin, sampai beliau geleng-geleng kepala. Jadi kangen beliau, hiks.

Begitulah, obsesi besar saya adalah mengoleksi bacaan sebanyak-banyaknya selama menjadi murid SD. Alhamdulillah, ayah saya mendukung kegemaran saya itu. Hampir setiap awal bulan, ada buku baru untuk saya. Saya pun rela menyisihkan uang jajan agar bisa membeli majalah-majalah bekas. Waktu saya duduk di kelas empat SD, ada agen koran dan majalah baru di dekat rumah yang menjual majalah-majalah bekas tapi masih bagus dan layak baca.

Saat itulah saya mengenal majalah Mentari Putera Harapan, sebuah majalah anak-anak yang kantor redaksinya ada di Surabaya. Saya memberanikan diri untuk mengirimkan naskah puisi ke sana. Alhamdulillah, dimuat. Senangnya bukan main. Apalagi saat pak Pos datang membawa wesel, honorarium menulis puisi tadi, ingin meloncat-loncat rasanya. Hehe…


Hobi Kok Menulis dan Membaca?

Saat masih menjadi murid SD sampai SMK, mempunyai kegemaran menulis dan membaca itu dianggap biasa oleh orang di sekitar saya. Mungkin kira-kira begini: Lha wong anak sekolah, ya wajar saja. Tapi dua hobi itu kemudian bagi sebagian orang menjadi sesuatu yang mengherankan saat saya sudah bekerja. Mungkin (lagi) kira-kira begini: Capek-capek bekerja ngumpulin duit, lha kok buat beli tumpukan kertas?

Tahun 2000, selepas SMK, saya bekerja di sebuah kawasan industri di kota Batam sekaligus melanjutkan kuliah di sana. Di sanalah saya mengenal majalah Annida dan menjadi pelanggan setianya. Dan dari Annida lah saya mengenal nama Uni Novia Syahidah untuk kali pertama :) Saat itu cerbung beliau “Putri Kejawen” dimuat di sana. Sayangnya, saya belum pernah sekali pun mengirim cerpen ke redaksi Annida. ‘Prestasi’ paling baik adalah surat pembaca saya dimuat di sana, hehe. Saya tetap menulis puisi seperti biasanya di buku harian saya, juga mengirimkannya ke buletin lokal yang ada di situ.



IMG_20170917_120616
Surat pembaca yang dimuat di Annida 😁
Baca juga: Serenada Mapan

Penat bekerja, berorganisasi, dan mengerjakan tugas kuliah terobati dengan membaca majalah dan buku-buku. Rasanya kamar saya menjelma bak taman surga. Memang, seperti ada kesenjangan dengan teman-teman pada umumnya yang saat itu punya hobi jalan-jalan, nge-mall sekaligus shopping, main basket atau voli ataupun ikut karate. Saat itu sebenarnya saya juga suka jalan-jalan dan bermain basket, tapi kadarnya kecil saja.


Catatan tentang Menulis dan Membaca ala Saya

Berikut ini adalah hal-hal yang saya renungkan terkait dunia menulis dan membaca sejak saya anak-anak dan remaja dewasa, yang disandingkan dengan kenyataan hari ini:

1. Pentingnya Teladan Orang Tua

Orang tua saya, khususnya almarhum ayah, memang lumayan suka membaca dan menulis. Beliau melakukan hal yang sederhana yaitu memberi contoh di depan saya dan saya melihat itu semua. Pun dengan kebiasaan beliau menulis kata-kata indah, menjadi inspirasi saya untuk suka menulis puisi.

Kini, saya yang telah menjadi orang tua harus berjuang lebih keras, sesuai tantangan zaman anak-anak saya. Anak-anak bisa membaca di usia dini? Itu belum jadi ukuran ideal seorang anak akan mencintai membaca kelak. Bahkan itu masih debatable sampai sekarang.

Saya dan suami mengikuti jejak almarhum ayah untuk menumbuhkan minat membaca pada anak-anak kami. Kami lah yang harus lebih rajin membaca, menemani mereka membaca, dan menjadikan kegiatan membaca lebih mengasyikkan dibanding bermain games. Untuk itu, kami tidak membelikan gadget untuk si kakak sampai nanti dia duduk di bangku kelas 2 SMP. Anjuran ini saya dapatkan saat mengikuti seminarnya Ibu Ery Soekresno.

Tentu saja ia tetap kenal dengan gadget dan games, tapi sewajarnya saja. Jatah bermain games-nya hanya di akhir pekan, dengan meminjam tablet kami. Selain untuk bermain games, tablet saya juga dipinjamnya untuk membaca buku komik yang dibelinya via Google Play Book. Tentunya saya yang meng-approve permintaannya, lalu membeli komik-komik itu. Cukup dipotong pulsa, tanpa harus memakai kartu kredit. (Lagipula kami tidak punya kartu kredit dan bertekad tidak akan punya, Insya Allah). 



_20170904_233139
Adik dan kakak kompak berteman dengan buku

Dan untuk menulis, kami membiasakan si kakak untuk menuliskan kesimpulan dari apa yang telah ia baca dan ia tonton. Ia punya buku khusus untuk ‘rangkuman’ itu. Saat saya sedang menulis, saya akan menjelaskan bahwa ibunya ini sedang belajar. Ia pun paham dan kerap menemani di samping saya.

2. Membaca Apa Saja, Tidak Harus Mahal

Buku-buku anak dengan tampilan menarik dan berisi beragam pengetahuan A sampai Z kini sangat mudah ditemui. Bahkan yang dijual dengan sistim paket, harganya membuat banyak emak geleng-geleng kepala. Walaupun bisa dikredit, sih. Tapi menurut saya, membeli buku paket berharga ‘wah’ itu adalah pilihan dan bukan kewajiban.

Jika dulu saya membaca majalah-majalah bekas demi memuaskan dahaga, maka saat ini pun si kakak juga. Kami tidak hanya mengajaknya ke toko buku atau Malang Islamic Book Fair, tapi juga ke lapak buku-buku bekas di Pasar Buku Wilis Malang. Tidak harus baru, yang penting isinya bermanfaat juga.


IMG_20170904_233102
Stok Annida lama milik saya, kini dibaca si kakak yang duduk di kelas 5 SD

Kami tentu saja tidak anti dengan buku-buku paket mahal seperti di atas. Sejauh ini, si kakak hanya punya satu paket, begitu juga dengan adiknya yang masih berusia satu tahun. Itu cukup bagi kami. Karena kami ingin mengajarkan juga tentang memiliki buku secara bertahap, dengan beragam konten. Termasuk menabung untuk membeli bukunya sendiri.

3. Menulis dan Membaca untuk Berprestasi

Saat menginjak bangku SMP dan SMK dulu, tema bacaan saya bertambah yaitu olahraga dan musik. Menyukai bacaan tentang olahraga sangat membantu saya meningkatkan nilai mata pelajaran olahraga di raport. Kekurangan nilai praktik mapel olahraga bisa saya tambal dengan nilai memuaskan untuk teorinya.

Sementara untuk musik, saya dulu amat gandrung dengan western song. Alasan utamanya adalah untuk menambah kosakata bahasa Inggris dengan cara menyenangkan, sekaligus belajar tentang listening. Saya rajin menulis lirik-lirik lagu itu dalam buku khusus dan sering dipinjam ke sana kemari oleh teman-teman. Ya, saya sangat menyukai kata-kata berima yang sering terdapat dalam lirik-lirik lagu tersebut. Nostalgia dikit, ah. Ada yang ingat ini lirik lagu berima milik siapa? :)

Candle light and soul forever
A dream of you and me together
Say you believe it, say you believe it

Akhirnya, kebiasaan menulis lirik lagu itu membuat nilai bahasa Inggris saya selalu berkisar di angka delapan atau sembilan. Alhamdulillah.

Cuplikan masa lalu saya itu hanya seputar manfaat secara akademis, sedangkan manfaat lebih luas pasti akan didapatkan anak-anak dan remaja yang suka menulis dan membaca. Anak-anak yang suka membaca akan lebih kaya kosakata dan lebih terlatih menggunakan imajinasinya. Hari ini banyak sekali para penulis cilik yang menerbitkan bukunya. Pastinya mereka terlebih dahulu mencintai membaca, sehingga banyak ide yang bisa dituangkannya.

Sedangkan para bookstagrammer alias para pecinta buku di instagram mayoritas adalah para remaja dan anak-anak muda. Saya salut dengan antusiasme mereka pada buku dan kemudian menuliskan resensinya. Saya kira, mereka adalah anak-anak muda yang berbahagia dengan caranya sendiri. Ya, dengan cara yang tidak biasa, jika dilihat dari budaya menulis dan membaca anak bangsa yang masih rendah.

4. Menulis dan Membaca yang Masih Asing

Pertengahan tahun 2015, saat saya meng-upload buku antologi saya yang kedua, ada komentar kurang lebih seperti ini:

“Wah, mau dong bukunya. Buat teman sendiri, gratis dong!”

Apa yang akan Anda jawab dalam situasi seperti itu? Krik… krik… krik…

Pak Dwi Suwiknyo pernah 'menyentil' orang yang suka meminta buku gratisan seperti itu. Bukankah orang yang menawarkan bukunya juga sama dengan para penjual barang yang lain? Nah, bisa jadi karena buku dianggap bukan sebuah kebutuhan yang layak dibeli seperti halnya sandang dan pangan. Jika sudah demikian, tidak heran pula bahwa membaca buku itu bukan suatu hal yang penting untuk dilakukan. Makanan? cukup untuk perut saja. ‘Makanan’ untuk pikiran? Skip! Toh otak tidak pernah serewel perut jika kelaparan.

images (14) 

Menurut saya sendiri, membeli buku itu adalah salah satu cara membelanjakan uang dengan indah. Membeli buku adalah ‘sedekah’ yang menyenangkan. Kita menjadi jalan rezeki untuk penulisnya, sebagai gantinya kita mendapat limpahan ilmu yang mengenyangkan otak kita dan mendamaikan hati kita.

Jika berkeberatan membeli buku, masih bisa meminjamnya di perpustakaan umum yang ada di setiap kota. Tapi sepadat apa sih pengunjung perpustakaan dibandingkan dengan pusat-pusat perbelanjaan? Saya hanya membayangkan, seandainya ada mall baru yang dibangun, ada pula perpustakaan baru yang didirikan. Duh, mimpi saya indah sekali ya? :)

Begitupun dengan aktivitas menulis yang masih dianggap aneh bagi sebagian orang. Saya tidak melakukan survei, hanya (sekali lagi) memakai contoh kejadian nyata. Saya yang dengan penuh syukur menjalani keasyikan menulis, pernah dikomentari sebagai seorang pengangguran, hiks. Hanya karena saya lebih banyak di rumah. Padahal itu adalah pilihan saya, karena dua buah hati saya berhak mendapat cinta terbaik dari saya. Hanya karena ‘penghasilan’ dari menulis saya sejauh ini masih belum ada apa-apanya jika dibandingkan saat saya masih bekerja. Begitulah… saya yang menikmati prosesnya, orang lain yang sibuk mengestimasi keuntungan finansialnya. Hehe… Nah, berapa banyak orang berpikiran seperti ini di sekitar teman-teman?

Baca juga: Menulis Untuk Uang?


Kembali Bangun Cinta

Ya, saya kembali bangun cinta pada menulis dan membaca. Karena dulu sudah pernah jatuh cinta, sekarang waktunya bangun :) Karena betapa pun saya mengaku telah menyukai dua aktivitas itu, sebenarnya saya pernah mengalami masa pasang surut, terutama untuk aktivitas menulis.
  • Saat salah memilih jurusan di SMK
Saya yang menyukai bahasa, sebenarnya memang merasa ada yang kurang pas saat diharuskan memilih jurusan Akuntansi. Tentu saja Akuntansi itu tetap berguna bagi saya kini. Tapi minat pada dunia literasi yang tidak tersalurkan itu membuat passion tidak optimal saya kembangkan.
  • Saat masih bekerja, berorganisasi, dan kuliah
Capek memang menjalani ketiganya. Maka saat itu saya berpikir: membaca saja lah, menulis yang berat-berat enggak dulu. Saya menulis sih, tapi hanya puisi-puisi dan kisah-kisah di diary. Tidak terpikir sama sekali untuk mencoba mengirimkan naskah fiksi atau non-fiksi ke media cetak.
  • Saat mulai mengenal media sosial
Sekitar tahun 2009, saya mengenal facebook dan mulai nge-blog. Tapi, euforia ber-medsos rupanya mengalahkan keinginan untuk rutin menulis di blog. Saya memang membaca dan mendapatkan banjir informasi, tapi jadi agak sulit untuk fokus dalam menulis tentang suatu bahasan tertentu. Senada dengan ucapan seorang teman bahwa kebiasaan meng-copy paste tulisan di medsos bisa mempengaruhi motivasi diri dalam menulis.

Gairah menulis mulai sedikit bangkit saat saya bergabung dengan komunitas One Day One Juz di tahun 2014. Ya, di sana ada kegiatan membaca Alquran satu juz dalam sehari. Dan yang sangat saya syukuri adalah teman-teman ODOJ yang berdomisili di Malang mengajak untuk membuat proyek menulis buku antologi. Alhamdulillah, saya seperti menemukan kembali permata saya yang hilang.

_20170723_134658
Bahagia yang sederhana: dua buku antologi. Insya Allah segera menyusul yang ketiga

Sekitar tiga bulan yang lalu saya memutuskan untuk bergabung dengan empat komunitas menulis dan berusaha untuk aktif, termasuk bergabung dengan Blogger Muslimah Indonesia. Mayoritas waktu saya saat ini memang untuk si kecil dan kakaknya, saya dan suami sedang LDR-an pula. Tapi sungguh, saya sangat ingin membangun lagi cinta pada menulis dan membaca, semampu yang saya bisa. Karena justru dengan keduanya, saya mendapatkan Me Time yang nyaman dan berharga.

Tentu saja, saya pernah merasa baper karena merasa waktu saya sempit. Maka lahirlah puisi seperti ini :)

Membeli Waktu

Seandainya bisa, ingin aku beli waktu-waktu mereka
Orang-orang itu; yang bermain games sepanjang hari,
yang tak henti berdebat kotori hati,
yang berteman televisi mulai dari pagi,
yang asyik menggunjing orang via ngerumpi

Tak bermaksud mencela aktivitasmu, kawan
Aku tahu semua orang punya prioritas dan punya pilihan
Tapi hal yang dibolehkan, tak baik jika berlebihan
Maka ingin aku katakan:
seandainya waktumu engkau perdagangkan, mari sini aku beli
Untuk aku tambahkan kepada jatah waktuku sendiri

Agar lebih banyak waktuku untuk menulis dan membaca
Agar dengan itu aku lebih luas memandang dunia,
lebih bijaksana, pun lebih bersyukur atas karunia-Nya

Tapi aku sadar itu mustahil, tak akan bisa terjadi
Dan yang paling mungkin adalah mengelola waktuku sendiri
Waktuku, rezekiku
Kutata rapi, tak ingin sia-siakan ia lagi



Akhirnya, saya menganggap ini sebagai sebuah tantangan yang menyenangkan. Dunia literasi harus dihidupkan, disemarakkan. Mungkin saya hanya menyumbang sepercik cahaya, tapi semoga percikan itu bergabung dengan pendar besar cahaya yang lainnya.

Rabb kita telah memerintahkan agar kita membaca. Juga mengajarkan manusia dengan perantaraan pena. Betapa tidak terpisahkannya keutamaan menulis dan membaca. Semoga nantinya Indonesia akan terang benderang oleh ilmu pengetahuan dan kemilau prestasi yang ditorehkan oleh anak-anak kita. Aamiin.

***

Pakisaji, Malang, 5 September 2017

Tatiek Ummu Hamasah Afra


〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰〰

Tulisan ini diikutkan dalam Postingan Tematik (PosTem) Blogger Muslimah Indonesia


#PostinganTematik  
#BloggerMuslimahIndonesia
September 04, 2017

Sebuah Mimpi Manis: Haji Gratis

by , in
PhotoGrid_1504441980170
Gratis, sebuah kata yang biasanya membuat orang kegirangan, minimal tersenyum manis. Sebuah peribahasa Jawa mengatakan: “Jer Basuki Mawa Beya” (Untuk mewujudkan cita-cita harus mengeluarkan biaya), dan begitulah rumus hidup kita pada umumnya. Tapi tentu saja jika ada sesuatu yang berharga dan  diberikan secara cuma-cuma, rasanya sayang untuk menolaknya.

Buku yang akan saya kupas isinya ini juga mengandung kata gratis: Haji Gratis. Semua Bisa ke Baitullah. Wow! Menjalankan rukun Islam kelima dan umrah tanpa mengeluarkan rupiah? Mungkinkah? Tagline buku yang ditulis oleh M. Anwar Sani dan Ustaz Yusuf Mansur ini meyakinkan kita dengan sederet kalimatnya: Ke Baitullah bukan monopoli orang yang berharta. Kesempatan itu terbuka bagi siapa saja.

By the way, buku ini memang terbit pada bulan Juni 2013. Sudah empat tahun berlalu. Tapi saya baru memilikinya pertengahan Agustus kemarin, sebagai hadiah dari penerbitnya saat saya memesan paket buku balita untuk si adek Akmal. Momen yang bertepatan dengan musim haji, membuat saya tergoda untuk membicarakannya di sini. Juga karena isinya adalah kisah-kisah nyata para jamaah haji dan umrah yang bisa berangkat dengan jalan yang tidak seperti pada umumnya. Pasti, hikmahnya tidak akan kedaluwarsa bagi jiwa-jiwa yang meyakini kebesaran-Nya.

IMG_20170825_121147

Di awal buku ini, penulis mengingatkan bahwa pergi ke Baitullah hendaknya menjadi impian bagi setiap muslim. Kemampuan finansial memang seakan menjadi hal yang utama dalam pengertian ‘mampu’, padahal tidak hanya itu. Diceritakan di situ bahwa ada seorang Calon Jamaah Haji (CJH) yang sudah menjelang naik pesawat tapi akhirnya batal berangkat. Ia diketahui mempunyai Aviophobia atau ketakutan naik pesawat yang tidak mampu dilawannya hingga hari-H keberangkatan. Di sisi lain, ada seorang lelaki miskin yang sangat ingin pergi haji sampai nekat menjadi penyusup di dalam pesawat CJH. Kenekatannya itu, yang ditunjang kebaikan akhlaknya sehari-hari, berbuah pertolongan dari seorang pengusaha yang akhirnya membiayai ibadah hajinya secara gratis.

Pengertian gratis dalam kisah nyata yang lain adalah ketika Allah Ta’ala melimpahkan rezeki-Nya dari jalan yang tidak diduga-duga. Tetap berikhtiar, tapi seakan semudah membalik telapak tangan. Ini diwakili oleh kisah seorang pedagang kopi miskin baik hati yang mendapat laba 300% dari hasil menjualkan kopi milik petani kopi kaya. Keuntungan itulah yang membuatnya bisa cepat mendaftar haji di tahun 1980. Menjelang berangkat, ia divonis harus menjalani operasi di jempol kakinya yang terluka. Padahal dokter yang hendak  ditemuinya sedang pergi ke luar kota. Tetapi atas izin Allah, jempol kakinya bisa sembuh pasca dirawatnya sendiri. Ia pun lancar beribadah haji, cita-cita yang sebelumnya hanya ada di dalam mimpi.

Keajaiban sedekah dan hafalan Alquran yang kerap disampaikan oleh Ustaz Yusuf Mansur juga diceritakan di sini. Seorang pekerja seni di bidang video editing diajak umrah secara gratis dan ditunjuk oleh sang ustaz untuk mendokumentasikan perjalanan umrah mereka. Rahasianya? Si pekerja seni adalah pecinta anak yatim dan rajin memberi sedekah untuk mereka.

Begitu juga dengan kisah seorang kakek berumur lebih dari seratus tahun yang hidup sebatang kara, tetapi sangat ringan mengeluarkan apa yang dipunyainya untuk orang lain. Padahal ia sendiri orang termiskin di kampungnya. Ia pernah menjadi satu-satunya orang yang berkurban di kampungnya, dengan kambing miliknya satu-satunya pula. Saat ia diberangkatkan umrah oleh donatur dan banyak orang memberinya uang saku, justru ia hanya menyisakan uang sakunya lima puluh ribu saja. Sebagian besar uang sakunya justru ia sedekahkan lagi. Di Mekkah, balasan berlipat ganda pun menunggunya. Ia lancar menjalankan ibadah ‘haji kecil’-nya dan oleh-oleh umrah tidak harus dibelinya karena hadiah oleh-oleh berlimpah ruah untuknya. Uang saku untuk pulang juga didapatkannya, delapan kali lipat dari yang sudah disedekahkannya. Masya Allah.



_20170904_000144
Sumber: IG @makkah.is.love

Sementara itu ada seorang guru ngaji dengan kehidupan pas-pasan yang akhirnya bisa umrah tanpa biaya. Ia memenangkan program umrah gratis bagi para penghafal Alquran 30 juz. Doanya di Raudhah dan Multazam di akhir kisahnya, telah sukses membuat saya menangis: 
“Ya Allah, saya tidak mengenal mereka dan mereka pun tidak mengenal saya. Tapi kedermawanan mereka telah mewujudkan impian hamba mengunjungi Tanah Suci. Ya Allah, kekasih-Mu Nabi Muhammad saw. pernah berwasiat bahwa salah satu doa yang mustajab adalah doanya orang gaib untuk orang gaib. Maka sudilah Engkau mengalirkan pahala dan barakah setiap huruf dari hafalan Quran hamba untuk para donatur sekeluarga. Alirkan juga setiap pahala dari ibadah umrah ini untuk mereka dan hamba sekeluarga. Aamiin.” (hal. 78)

Setelah menyimak kisah para tamu Allah yang terpilih itu, membuat saya berpikir tentang makna gratis itu sekali lagi. Sesungguhnya, mereka tidak benar-benar mendapatkannya secara gratis. Tidak. Mereka telah membayar biaya haji dan umrahnya dengan akhlak mulia, hidup sederhana, rajin bersedekah, mencintai kitab sucinya, dan sederet amal salih lain yang dilakukan secara terus menerus, selama bertahun-tahun. Lalu Allah Ta’ala yang membukakan hati hamba-hamba-Nya yang lain untuk mengeluarkan hartanya bagi saudara-saudara terpilihnya itu. Kita yang mungkin ingin juga pergi ke sana tanpa biaya, sudahkah menjadi sosok memesona seperti mereka?

_20170903_224212

Saya sendiri, masih jauh akhlak dan amal salih saya untuk bisa ke Mekkah dan Madinah secara cuma-cuma.  Saya baru bisa mendapatkan buku ini secara gratis, bukan ke Baitullah-nya :) Tapi insya Allah, pergi ke sana adalah sebuah mimpi manis yang berusaha ingin saya wujudkan menjadi nyata dengan ikhtiar menabung dan doa. Semoga Anda juga.

============================

Info buku:

Judul Buku: Haji Gratis. Semua Bisa ke Baitullah.
Penulis: M. Anwar Sani & Yusuf Mansur
Penerbit: PT. Sygma Examedia Arkanleema
Tebal: 109 halaman
ISBN: 978-979-055-486-3
Cetakan Pertama, Juni 2013

============================



Pakisaji, Malang, 3 September 2017/12 Zulhijah 1438 H

Tatiek Ummu Hamasah Afra



Cover pict by: pixabay