Read, Write, Think, Thankful

[Fiksi Mini] Menunggumu

PhotoGrid_1507955791913

Waiting is boring.
Begitulah yang sering kudengar dari sekitar. Awalnya aku tidak begitu setuju. Karena aku terbiasa menunggu dengan membaca buku-buku.

Maka waktu terasa terlipat. Emosi yang mendesak-desak keluar karena harus menunggu pun seakan tersimpan rapat. Menunggu menjadi sesuatu yang menyenangkan untuk dilalui, karena ada teman duduk paling setia yang menemani.

Bukan berarti aku mendukung ketidaktepatan janji, bukan. Tentu saja sebaiknya perjanjian itu tetap dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Sedikit selisih waktu jika ada alasan yang dibenarkan, bolehlah ada pemakluman. Kecuali jika yang ditunggu selalu ngaret berkali-kali yang menunjukkan ketidakdisiplinan diri. Nah, segera tegur saja dia. Karena kita juga punya waktu yang berharga.

Tapi edisi menunggu kali ini sedikit berbeda. Sudah tiga novel  tebal yang kulalap habis, tapi yang kutunggu tak muncul juga. Aku baru menyadari betapa berharga kehadirannya. Walaupun banyak orang yang seakan memandang sebelah mata padanya.

"Mas Amran kok belum datang?" tanya tetanggaku kemarin.
"Entahlah, Mbak. Tidak seperti biasanya," jawabku.

Mas Amran, wajahnya biasa-biasa saja. Penampilannya pun ala kadarnya. Tapi kali ini aku benar-benar menunggunya.

***

Sinar matahari sudah agak tinggi. Agenda memasakku sudah berakhir pagi-pagi tadi. Dan sekarang aku sudah menyelesaikan novel keempatku. Kulihat lagi di sekitar pagar depan rumahku, masih sama seperti tiga hari yang lalu. Ah, andai saja aku punya nomor ponsel Mas Amran. Aku akan…

Tiba-tiba sebuah motor beroda tiga muncul dari ujung jalan kampung. Aku bernapas lega. Akhirnya. Motor bercat biru itu berhenti sebentar-sebentar di depan setiap rumah. Sebentar lagi ia akan bergerak ke sini. Aku buru-buru keluar menyambutnya.

“Kemana aja, Mas?” sapaku.

“Wah, Mbak orang kesepuluh yang bertanya itu,” jawabnya sambil terkekeh.

“Istri saya melahirkan, eh anak saya sakit juga. Lha teman pengganti saya juga sedang tidak enak badan,” jelasnya.

“Maafkan ya, Mbak,” tambahnya seraya mengambil tumpukan sampah yang berderet di dekat pagar rumahku.

Aku mengangguk maklum. Ah iya, aku benar-benar lupa kalau istrinya sedang hamil tua. Besok jika ia ke sini lagi, akan kutitipkan sebuah bingkisan untuk bayi mereka. Untuk pahlawan lingkungan sepertinya, seharusnya memang ada hadiah kecil walaupun mungkin sederhana.

***

#ODOPOKT12

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

6 comments:

  1. Aaak...kirain nunggu siapa gitu, wkwkwk...
    Tukang sampah memang paling dinanti yakan

    ReplyDelete
  2. Hehe... Tanpa mereka, apalah daya emak-emak seperti kita ini. Seharusnya sebutan mereka bukan tukang sampah tapi tukang bersih :) Makasih udah nyimak :)

    ReplyDelete
  3. […] kejadian; bisa enggak nih jika diangkat menjadi tulisan? Contohnya fiksi mini saya yang berjudul Menunggumu. Itu terinspirasi dari kejadian nyata saya […]

    ReplyDelete
  4. Mas Amran..aku menunggu kamu ambil sampahku..:D

    Keren, endingnya tak tertebak di awal:)

    ReplyDelete
  5. Hehe, begitulah kenyataannya mbak... Kalo si mas tukang sampah gak datang rutin, duh rasanya dunia jadi kotor deh. Hidup mas tukang sampah ✊

    ReplyDelete
  6. […] ide pada detik-detik terakhir menjelang berangkat. Saat itu tukang sampah lewat, maka terciptalah [Fiksi Mini] Menunggumu ini. Karena jumlah katanya sudah mencapai 328, saya simpan dulu di google doc. Saya berniat […]

    ReplyDelete