Read, Write, Think, Thankful

Hari Blogger Nasional dan Nge-blog yang Terpenggal

PhotoGrid_1509131514583

Tanggal 27 Oktober adalah Hari Blogger Nasional yang diperingati sejak sepuluh tahun yang lalu. Sayangnya, saya baru tahu akan hal itu. Duh, malu. Memang ada sebabnya, sih. Walaupun saya sudah mengenal dan punya blog sejak tahun 2010, tapi 'rumah kedua' saya itu mati suri. Dan ternyata setelah lebih sering nge-blog lagi, beberapa info terbaru pun saya dapati. Termasuk tentang informasi Hari Blogger Nasional yang menjadi 'tugas khusus' pada program One Day One Post di hari kedua puluh enam ini.

Kisah tentang si Rumah Kedua
Saya mengenal blog sejak September 2010. Suami saya sudah terlebih dulu punya blog dan saya belajar darinya. Sederhana saja sih blog pertama saya yang ber-platform blogspot itu. Saya niatkan untuk lebih banyak berlatih menulis di sana dan saya menyebutnya sebagai rumah kedua.

_20171028_021316 

Blog itu seharusnya menjadi tempat saya pulang dan menumpahkan segala rasa. Pada kenyataannya, sebagian isinya ada yang meng-copy paste tulisan orang lain. Duh, saya waktu itu tidak tahu adabnya. *tutup muka. Ditambah lagi dengan kehadiran facebook yang saat itu begitu menyita perhatian. Menulis di facebook terasa lebih mudah, kenapa harus susah-susah memposting di blog? Maka saya pun terlena.

Mengenal si Rumah Ketiga
Pada tanggal 12 November 2014 saya mencoba menempati rumah ketiga. Apa itu? Kompasiana, sebuah wadah jurnalisme warga yang menggabungkan konsep blog dan media sosial. Berawal dari browsing dan penasaran ingin menjadi Kompasianer, sebutan untuk blogger di Kompasiana.


_20171028_021857 

Ada banyak program di sana termasuk kompetisi blog yang hanya bisa diikuti oleh para Kompasianer. Juga blogshop, diskusi bulanan, dan kopdar yang tidak saya ikuti perkembangannya. Saya mah nulis saja niatnya. *anak manis. Total ada empat belas tulisan saya di Kompasiana sampai dengan pertengahan tahun lalu. Jauh sekali dari kata produktif. Kesibukan kerja yang saya jadikan alasannya. *halah... Sering menulis, sih. Sekali lagi... di facebook. Hmm.. Tulisan-tulisan itu tenggelam karena sering tidak saya beri hashtag.

Belakangan saya tahu mengapa saya tidak konsisten menempati rumah kedua dan ketiga saya yaitu karena saya belum menjadi anggota komunitas blogger. Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan tiga komunitas blogger termasuk Blogger Muslimah Indonesia. Padahal saya masih anggota baru, tapi segera merasakan atmosfer positif untuk lebih rajin menulis di blog. Kali ini rumah baru saya memakai wordpress gratisan, yang mulai saya isi sejak tahun 2015.

Mengambil Pelajaran dari Dua Perempuan
Tentu saja banyak blogger perempuan yang memberi saya inspirasi. Saking banyaknya, mungkin tidak akan cukup jika ditulis di sini. Maka jika saya menyebut dua orang saja itu karena mereka saya 'kenal' di titik tertentu saat saya mulai mengenal blog dan mulai berusaha bangkit lagi.

Ada yang pernah mendengar nama Heather Armstrong? Saya mengetahuinya saat membaca buku tentang seluk beluk blog terbitan tahun 2009. Ia adalah seorang full time blogger dari Amerika, pemilik situs www.dooce.com. Heather memperoleh penghasilan dari blognya yang ia bangun sejak Februari 2001 itu. Bayangkan, pengunjung blognya bisa mencapai 850 ribuan dalam sebulan. Maka ia bisa menghidupi keluarganya dari income itu, bahkan saat suaminya harus kehilangan pekerjaan.

Yang menarik dari Heather adalah kedisiplinan dan sikap pantang menyerahnya. Ia yang semula adalah seorang web designer harus menerima kenyataan dipecat dari pekerjaannya. Itu karena dooce.com yang berisi kisah hidupnya juga mengulas tentang orang-orang di tempat kerjanya. Atasan Heather tidak menyukai tulisan-tulisan tersebut dan segera memecatnya. Heather tidak menyerah setelah peristiwa itu. Ia tetap konsisten nge-blog dan akhirnya memetik hasil manis seperti tersebut di atas.

Perempuan yang kedua adalah Teteh Indari Mastuti, CEO-nya Indscript Creative. Saya kira, tidak perlu menjelaskan tentang kiprah beliau di dunia bisnis dan tulis menulis. Keren lah pokoknya. Yang masih menempel di ingatan adalah saat beliau berkata bahwa blog-nya adalah warisan berharga untuk anak-anaknya kelak. Putri sulungnya sudah mulai membaca-baca isi blog yang ditulisnya sejak lama itu. Saya pun membayangkan hal yang serupa pada putri saya yang juga gemar membaca. Maka ini adalah tentang mewariskan ilmu dengan cara yang tidak biasa pada generasi Z seperti dia. Butuh penyajian tulisan dengan baik, penuh hikmah, dan kisah teladan di dalam setiap postingan.

kenali-generasi-z-indonesia--mild--fuad

Intinya, saya belajar dari keduanya tentang memberi manfaat lewat tulisan, serta tentang kesabaran dan kedisiplinan. Saya adalah blogger belum apa-apa, tapi ingin tahu apa-apa. Kerja keras untuk meraihnya sedang menunggu dan Hari Blogger Nasional kali ini pun menjadi semacam trigger bagi saya. Dengan tambahan kata 'Muslimah' di belakang kata blogger, maka ada tanggung jawab lebih di sana. Bahwa menulis tak sekadar urusan duniawi tapi juga akan terbawa sampai ke negeri akhirat nanti.


Selamat Hari Blogger Nasional 2017

Tatiek Purwanti
⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT26
Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

2 comments:

  1. Setuju Mbak..Tulisan adalah warisan kita. Teringat sahabat yang sudah berpulang karena kanker payudara. Sejak divonis kanker dia rutin ngeblog, detil tentang penyakitnya. Tujuannya? Selain ingin berbagi, dia ingin jika tak punya kesempatan lagi nanti, putra dan putrinya yang saat ibunya sakit masih balita, bisa membacanya) Beliau berpulang tahun lalu, putra putrinya kelas 2 dan TK, Saya rasa saat mereka dewasa nanti bisa mengenang Ibunya lewat cerita di blognya.

    ReplyDelete
  2. Innalillahi, semoga sahabat Mbak mendapat limpahan pahala lewat ilmu yang dituliskannya itu. Iya, Mbak. Blog itu warisan berharga dan insya Allah tetap akan tersimpan sepanjang internet masih berjalan. Pun untuk generasi Z, sepertinya blog akan tetap bertahan walaupun ada jejaring sosial yang 'lebih praktis' seperti IG dan Fb.

    ReplyDelete