It's My World Full of Words

Menjaga Wibawa Bahasa Indonesia, Bagaimana Caranya?

PhotoGrid_1509244441204
Kemarin, tanggal 28 Oktober diperingati sebagai Hari Sumpah Pemuda. Kita sebagai anak bangsa pasti sudah hapal di luar kepala isi dari tiga sumpah itu. Jika pun tidak sama persis dengan teksnya, minimal kita mengerti hakikatnya. Pada teks yang ketiga berisi tentang pernyataan para pemuda Indonesia untuk menjunjung tinggi Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Saya jadi teringat sebuah bacaan lama yang bertema hampir sama; menjaga wibawa bahasa Indonesia. Itu bersumber dari wawancara majalah Tarbawi dengan Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof. H. Adeng Chaedar Alwasilah, MA, Ph.D. Berikut cara menjaga wibawa bahasa Indonesia menurut pernyataan dari pakar bahasa tersebut.

IMG_20171029_090158

1. Kecintaan pada Bahasa di Jenjang Sekolah Dasar

Anak-anak di Indonesia, apalagi di pedalaman, biasanya menggunakan bahasa daerahnya sejak kecil. Mantapkan saja penggunaan bahasa daerah itu di rumah dan di jenjang sekolah dasar. Sehingga mereka menikmati bahwa belajar bahasa itu mudah, seperti komunikasi yang sehari-hari mereka alami. Pada tahap ini, kebiasaan membaca buku juga sebaiknya sudah menjadi rutinitas harian anak.

2. Penguasaan Bahasa Indonesia oleh Orang tua dan Pendidik

Orang tua harus menyadari bahwa pelajaran bahasa Indonesia di sekolah itu penting dan sebenarnya merupakan pembelajaran dari semua bidang studi. Jangan dianggap enteng, mulailah dari keteladanan di rumah. Karena selain berfungsi sebagai alat komunikasi, bahasa juga berfungsi sebagai alat untuk berpikir dan belajar. Untuk para pendidik, mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar bukan hanya tugas dari guru bahasa Indonesia. Bukankah sebenarnya semua guru bidang studi (selain mata pelajaran bahasa lain) juga mengajar menggunakan bahasa Indonesia?

3. Menjadikan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Ilmiah

Orang bisa bangga berbahasa Inggris karena bahasa tersebut adalah bahasa ilmiah, bahasa sains dan teknologi. Bahasa Indonesia pun punya kesempatan yang sama. Penerbitan buku-buku bertema keduanya dalam bahasa Indonesia harus ditingkatkan lagi. Termasuk buku-buku pengantar untuk mahasiswa di semester satu yang biasanya memakai buku teks berbahasa Inggris. Ini menjadi PR bagi para akademisi untuk menulis sendiri buku teks bagi mahasiswanya dalam bahasa Indonesia. Selain kemampuan menulis para akademisi akan teruji, unsur wawasan kebudayaan sendiri pun bisa dimasukkan. Mempelajari bahasa Inggris dan bahasa asing lain itu akan mudah jika kita juga mencintai seluk beluk bahasa kita sendiri.

4. Menulis Segala Hal tentang Indonesia

Bahasa Indonesia berpeluang untuk menjadi bahasa pengantar internasional. Kita bisa memulainya dengan menuliskan segala hal yang menarik tentang Indonesia dalam bentuk artikel di media massa. Biasanya orang asing yang tertarik dengan Indonesian Studies akan mencari informasi tentang itu. Mereka yang ingin mengenal Indonesia, pasti nanti juga ingin mempelajari bahasa Indonesia pada akhirnya.

“Dengan bahasa kita bisa menguasai ilmu dan tanpanya kita akan berada dalam kegelapan (kebodohan).”― Dian Nafi, penulis buku "Mesir Suatu Waktu"

Sumpah yang diucapkan oleh para pemuda dari Jong Java, Jong Celebes, Jong Soemantranen Bond, dan organisasi lainnya telah terekam oleh sejarah. Menjadi tugas kita semua untuk mewujudkan ketiga sumpah itu sesuai kemampuan kita masing-masing, termasuk upaya kita menjunjung bahasa persatuan kita, bahasa Indonesia.


Salam cinta bahasa Indonesia,

Tatiek Purwanti

⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT27

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post



Referensi:

Majalah Tarbawi, edisi 314, tahun 15, terbit 6 Maret 2014

2 comments:

  1. Menjaga wibawa Bahasa Indonesia..berat judulnya:)
    Hal kecil yang saya lakukan, saya mengoreksi bahasa Indonesia anak-anak di rumah. Baik lisan maupun tulisan. Juga membiasakan diri, meski cuma di status atau pesan pendek, memakai bahasa Indonesia yang benar,,meski belum bisa 100%, :D

    ReplyDelete
  2. Yups, berat judulnya. Makanya isinya mengutip berdasarkan pemikiran pak Prof saja.
    Btw kalo nyetatus atau komen seperti ini, sepertinya tidak bisa menghindari bahasa gaul ya, Mbak. Apalagi kalo pingin lucu-lucuan 😊
    Saya jadi salut pada penulis buku dan penulis artikel di media massa karena pastinya mereka memakai EBI. Mereka menjaga wibawa bahasa Indonesia lewat karyanya itu

    ReplyDelete