Read, Write, Think, Thankful

[Resensi] Perempuan Suamiku: Pernak-pernik Pernikahan Setelah Akad Berlalu


PhotoGrid_1507433361356

➖➖➖➖➖➖➖

Info Buku

Judul: Perempuan Suamiku
Penulis: Intan Savitri
Penerbit: Noura Publishing (PT. Mizan Publika)
Cetakan: ke-1, September 2017
Tebal buku: 241 halaman
ISBN: 978-602-385-341-0

➖➖➖➖➖➖➖

Sebuah judul buku yang pasti mengusik rasa kaum hawa. Menimbulkan perbincangan di antara para perempuan tentang sebuah cerita cinta yang terbagi dua. Bahwa poligami itu ditetapkan kebolehannya oleh syariat adalah sesuatu yang tidak bisa digugat. Itu sudah final, beriringan dengan syarat dan aturannya yang berat. Tapi yang menarik perhatian biasanya adalah: ada alasan apa di baliknya?

“Kau pasti ikut menjadi sponsor pernikahan mereka. Aku merasa dikhianati, Han. Kenapa setelah sekian tahun mereka menikah, aku dan anak-anak tidak diberi tahu? Bahkan setelah ia meninggal!” tegasku. (hal. 22)

Buku ini merupakan kumpulan cerpen Islami republished, diterbitkan kembali. Bedanya, pada buku pertama yang diterbitkan oleh PT. Syaamil Cipta Media di tahun 2005, hanya terdapat dua belas cerpen. Waktu itu penulis buku ini memakai nama penanya: Izzatul Jannah. Sedangkan pada buku terbitan baru ini ada tambahan cerpen baru sehingga menjadi dua puluh satu judul cerpen. Penulisnya yang mantan Ketua Umum Forum Lingkar Pena (FLP) ini sekarang memakai nama aslinya: Intan Savitri.

Cerpen-cerpen yang lainnya pun berbicara tentang hal yang sama yaitu pernak-pernik pernikahan dengan berbagai ragam masalahnya. Maka ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru” yang biasanya terpampang di dinding-dinding rumah tempat diselenggarakannya walimah adalah benar adanya. Kehidupan pernikahan memang menjadi sesuatu yang baru bagi mereka yang memasuki gerbangnya. Termasuk tentang beradaptasi dengan mertua yang setelah menikah tentu saja menjadi orang tua ‘versi kedua’.

Sejak kami menikah dua bulan yang lalu, aku belum pernah berbicara lama dengan Papa Mamay, sebab ketika kami menikah dulu, beliau langsung terbang ke negara-negara di Asia untuk mengajar di beberapa universitas di sana. (hal. 29)

Di dalam salah satu cerpennya yang membahas hubungan mertua-menantu, justru yang diangkat adalah tentang mertua laki-laki dan menantu laki-lakinya. Menarik. Karena biasanya yang banyak dibahas tentang hubungan yang serupa adalah mengenai adaptasi sampai kepada ketidakcocokan mertua perempuan dan menantu perempuannya. Penyelesaian konfliknya? Ternyata sederhana: melibatkan campur tangan pasangan.

Perubahan jalan hidup lainnya seperti kehadiran sang buah hati juga dihadirkan di sini. Sekali lagi ada yang unik dari salah satu cerpennya, yaitu tentang baby blues for daddy. Jika biasanya kaum ibu yang merasakan itu, ternyata ayahnya pun bisa juga kena dampaknya. Kemudian, tentang waktu yang lapang di saat masih lajang dan menjadi sempit saat si buah hati datang. Seorang tokoh perempuan di dalam salah satu kisah merasakan benar bahwa intensitas salat malamnya jadi jauh berkurang. Mayoritas waktunya memang tersita untuk mengurusi buah hati tercinta, bahkan kerewelan si kecil menjadi penghias malam-malamnya.

Aku merasa waktu berjalan lambat. Kantuk menyerangku sebab posisi tidur memeluk Zaid adalah posisi yang paling nyaman. Cahaya di kamarku terasa meredup. Kutahan kelopak mata agar tidak terkatup. Oh, Allah, jangan biarkan aku tertidur. Aku ingin bersama-Mu malam ini. (hal. 199)

Tujuan dalam setiap pernikahan adalah keberkahan, semua pasti mengamini. Dan kebahagiaan yang dirasakan di dalam rumah tangga bisa menjadi salah satu indikasi. Lalu seperti apakah wujudnya? Dalam salah satu cerpen dikisahkan bahkan menikah dengan seorang aktivis dakwah dan aktif di berbagai organisasi pun tidak menjadi jaminannya. Tokoh lainnya yang digambarkan sebagai sosok yang cantik jelita justru menemukan kebahagiaannya dengan bersuamikan seorang laki-laki tunanetra. Kebahagiaan yang sama juga dirasakan tokoh perempuan lainnya, seorang tunarungu yang bersuamikan laki-laki buta. Ketidaksempurnaan fisik tidak bisa mengalahkan kesempurnaan cinta yang mereka rasakan.

Juga kisah tentang seorang tokoh laki-laki yang mendapat limpahan uang dan menambah pundi-pundi hartanya. Tapi itu justru tidak menjadikannya dekat dengan Rabb-nya. Alangkah nelangsa istrinya karena pasangannya tidak mau bersama-sama meraih bahagia dengan menjadi hamba yang lebih baik setelah sekian tahun menikah.

Istri Abu hanya menghela napas panjang. Ia seperti tidak tahu lagi bagaimana harus memperingatkan suaminya. Bahwa di Padang Mahsyar tidak ada kawan dekat yang bisa memberi pertolongan; bahwa semua membawa dan mempertanggungjawabkan amalan masing-masing. (hal. 119)

Hal lain yang pasti mengisi kehidupan pernikahan adalah komunikasi pasangan suami istri. Seorang suami harus memahami bahwa ada masanya seorang istri menjadi sedemikian emosional dan sensitif. Ya, biasanya itu terjadi selama beberapa hari dalam sebulan: Premenstrual Syndrom atau PMS. Apa jadinya jika saat itu tiba, sang suami juga terpancing emosinya? Sebuah cerpen membahas tentang hal yang kadang terlewatkan ini. 

Juga tentang pemenuhan kebutuhan biologis yang di dalam Islam menjadi ladang pahala. Suami istri harus mengkomunikasikan ini dengan baik. Di dalam dua cerpen dikisahkan tentang seorang istri yang sampai harus membeli obat kuat untuk suaminya karena ia merasa tidak terpuaskan hajatnya. Sementara cerpen yang satunya menampilkan sebuah cerita fantasi: seorang istri tiba-tiba berubah menjadi suaminya! Pada akhirnya sang istri yang semula ‘dingin’ dan tak acuh terhadap kebutuhan batin suaminya itu mengerti. Bahwa mengabaikan kebutuhan itu adalah sesuatu yang menyakitkan bagi suaminya walaupun mungkin tidak diungkapkan dengan kata-kata.

Maka fajar yang rekah merayakan sebuah pertemuan. Pertemuan yang seharusnya membawa bahagia. Bahkan, dalam bisikan yang paling purba. Manusia sesuci Muhammad pun menyukainya, menjadikan pelipur lara. (hal. 158)

Pernikahan juga bercerita tentang perpisahan. Ya, mau tidak mau akan ada peristiwa itu. Baik perpisahan yang dipercepat; perceraian ataupun perpisahan karena maut menjemput salah satu pasangan. Dua cerpen di dalam buku ini mewakili tentang bahasan ini. Perceraian bahkan bisa terjadi pada pasangan yang menikah setelah melewati 30 tahun kebersamaan. Anak-anaknya yang sudah dewasa pun mempertanyakan, tapi akhirnya paham setelah dijelaskan alasannya.

Lalu, kematian yang memisahkan dua insan. Sedih, pedih. Seorang tokoh di dalam buku ini ditinggal pergi untuk selamanya oleh istrinya. Ia sungguh menyesal karena menjadi sosok suami yang mahal penghargaan dan pujian selama mereka membina rumah tangga. Karena fokusnya dalam bekerja dan berorganisasi, ia tidak memperhatikan perubahan tubuh istrinya yang sedang didera penyakit berbahaya.

Kisah-kisah lain di dalam buku ini tetap menarik untuk disimak dengan berbagai hikmahnya. Itulah salah satu keuntungan bagi pembaca kumpulan cerpen: mendapatkan pencerahan dari bermacam-macam konflik dan solusinya yang berbeda-beda. Juga dengan beberapa cerita yang tidak langsung menuturkan tentang kehidupan suami istri. Misalnya cerpen bertema mati syahid, efek dosa yang telah dilakukan, dan kehidupan sosial sebuah negeri. Ketiganya mengajak kita berpikir: pribadi seperti apakah kita ini untuk sekitar? Pastinya itu tetap berpengaruh terhadap kehidupan rumah tangga.

Diksi di dalam buku ini cukup memikat yang tentunya menambah daya tarik cerita. Ditambah dengan puisi-puisi yang terselip di antara jeda cerpen yang dihadirkan.

Jatuh pada Kata

Aku jatuh pada koma terjerembab pada tanda tanya/ mengeja setiap debar yang kau letakkan pada lima huruf di pertemuan pertama/

Lalu kamu mengaku mabuk seperti Zaenuddin pada Hayati sang dinda/ jatuh lagi dan lagi pada setiap paragraf yang kau sematkan pada pagi.

(hal. 36)

Maka, tak perlu lagi alergi jika mendengar atau membaca tentang ‘Perempuan Suamiku’. Sungguh ada banyak kisah di baliknya yang mungkin akan mengayakan pemikiran dan pemahaman kita. Karena kehidupan pernikahan setiap pasangan pasti berbeda. Kayuh bahtera milik kita dengan sepenuh syukur, jangan takabur. Lalu jika perlu, ulurkan bantuan jika ada pasangan lain yang membutuhkan dan memercayai kita sebagai salah satu jalannya.

Salam sakinah mawaddah warahmah,

Tatiek Purwanti

⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫⚪⚫

#ODOPOKT6

Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post Blogger Muslimah Indonesia

2 comments:

  1. Belum bacaaaa
    Masuk wish list ini...
    Trims untuk resensi yang memikat hati..:)

    ReplyDelete
  2. Yuuk segera dibaca, Mbak. Kalo bisa pesan langsung ke penulisnya biar dapet wejangan dan tanda tangan 😄
    Kembali kasih, Mbak

    ReplyDelete