Read, Write, Think, Thankful

Muslimah Zaman Now dan Nomophobia



Muslimah zaman now hidup di tengah perkembangan teknologi informasi yang tengah melaju pesat. Saat kali pertama saya mempunyai ponsel polyphonic Sony Ericsson T100 di tahun 2003 dulu, bisa ber-sms dan menelepon saja sudah ‘mewah’ rasanya. Melihat orang yang memainkan laptop -yang waktu itu bentuknya masih setebal daun pintu- hanya bisa mupeng karena harganya yang masih selangit biru. Tidak pernah terbayangkan bahwa enam tahun kemudian saya bisa nge-net dengan laptop berukuran lebih tipis berikut modemnya. Lalu sepuluh tahun kemudian saya mulai melupakan sms karena sudah ada layanan instant messaging yang terpasang di ponsel touch screen dan tablet saya.


Jarak bukan lagi halangan untuk berkomunikasi dan mendapatkan limpahan informasi. Saya yang merupakan pejuang LDR, tetap bisa ber-video call dengan suami tercinta. Ingin mengikuti kajian ke-Islaman atau seminar ini-itu tapi terkendala jarak dan waktu? Sekarang mudah saja caranya. Tinggal memilih live streaming atau men-download agendanya tanpa perlu hadir di tengah acara. Berbagai kemudahan hidup juga seakan berada di dalam genggaman tangan. Beli ini, jual itu, pesan ini, menawarkan itu? Cukup melalui berbagai aplikasi yang ter-install pada si telepon pintar atau melalui laman di jejaring sosial.

Nomophobia, Sebuah Kegelisahan Kekinian
Memegang gadget terutama smartphone, kini seperti memakai baju sehari-hari. Ia seakan melekat kemanapun manusia -termasuk para muslimah zaman now- pergi. Mengisi pulsa atau paket data seakan menjadi makanan yang wajib dihidangkan. Kaidah fikih untuk kondisi kekinian tersebut sebenarnya sama: segala sesuatu yang mubah atau dibolehkan itu tidak baik jika dilakukan berlebihan. Maka jika kita seakan kehilangan separuh nyawa saat si ponsel tidak ada, berhati-hati saja. Bisa jadi gejala Nomophobia sedang menjangkiti kita.

Nomophobia adalah kependekan dari No Mobile Phone Phobia. Menurut Wikipedia, ini adalah suatu sindrom ketakutan jika tidak mempunyai telepon genggam atau akses ke telepon genggam. Sebenarnya phobia tersebut lebih tepat jika disebut sebagai sebuah kegelisahan dan bukan ketakutan seperti phobia pada umumnya.

Istilah ini pertama kali muncul dalam suatu penelitian tahun 2010 di Britania Raya oleh YouGov yang meneliti tentang kegelisahan yang dialami di antara 2.163 pengguna telepon genggam. Studi tersebut menemukan bahwa 58% pria dan 47% wanita pengguna telepon genggam yang disurvei cenderung merasa tidak nyaman ketika mereka kehilangan telepon genggam, kehabisan baterai atau pulsa, atau berada di luar jaringan, dan 9% selebihnya merasa stress ketika telepon genggam mereka mati.

Errr… Jika mencermati ciri-cirinya, saya pernah juga begitu, sih. :) Saya kadang cepat-cepat nengokin tablet jika si kecil tidur atau diajak si Abi. Kadang resah juga jika si tablet ngadat. Duh...  Melihat sekeliling, ada yang lebih parah juga. Lalu harus bagaimana sebaiknya, ya?

Kiat Menjauhkan Diri dari Nomophobia bagi Muslimah
Menurut saya, kebutuhan pada gadget terutama ponsel memang rasanya sulit dihindari dalam kehidupan kita sehari-hari. Tapi untuk menjadi muslimah Nomophobia rasanya kok tidak pas dengan peran ideal kita sebagai muslimah. Nah, di bawah ini ada kiat-kiat menjauhkan diri darinya yaitu dengan senantiasa mengingat 4 peran kita sebagai muslimah, di antaranya:

1. Muslimah sebagai Hamba Allah
Saat Islam belum datang, perempuan dipandang sebelah mata. Ada yang dijadikan pelampiasan nafsu dan diperjual belikan, bahkan sejak masih bayi pun kehadirannya tidak diinginkan. Saat seorang perempuan memilih untuk menjadi muslimah, maka Allah Ta'ala memuliakan kedudukannya. Perintah berhijab adalah salah satu tanda kasih sayang-Nya. Ia disebut sebagai hamba Allah sebagaimana posisi laki-laki. Keduanya  mempunyai kewajiban yang sama yaitu menyembah Allah Ta’ala. Alquran surat Al Baqarah ayat 21 menyebutkan:

 يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:
Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa.



Maka saat kita memiliki ponsel, pastikan bahwa segala aktivitas yang berhubungan dengan itu kita niatkan dalam rangka beribadah kepada-Nya. Jangan sampai keasyikan kita  ngeblog, guggling, bersosial media, bertransaksi jual beli, dan sebagainya malah membuat kita terlambat salat atau malas membaca Alquran.

2. Muslimah sebagai Istri
Salah satu rujukan kita adalah hadits berikut:
“Indikasi kebahagiaan anak cucu adam adalah istri yang salihah, tempat tinggal yang baik dan kendaraan yang baik.” [HR Ahmad No 1368]

Maka pastikan bahwa penampilan kita yang rapi di dunia maya adalah juga tampilan kita di hadapan suami sehari-hari. Karena bukankah istri salihah itu yang jika dipandang menyejukkan mata suami? Jangan sampai juga seorang muslimah itu over selfie gara-gara ponsel yang selalu di tangan siap mengabadikan. Lebih baik banyak gaya di depan suami karena berpahala. :)

Seorang istri juga harus tetap menjaga adab dalam bergaul dengan lawan jenis di dunia maya, baik di jejaring sosial atau grup-grup instant messaging yang isinya campuran. Sudah banyak kisah keretakan rumah tangga terjadi karena keasyikan bergaul di dunia maya tanpa memperhatikan aturan yang ada. Padahal setan akan selalu mengambil sedikit celah saat kita lengah. Ponsel yang ada di dalam genggaman bisa menjadi sarana setan untuk menggoda kita agar tidak lagi setia. Yuk, berhati-hati dimulai dari diri kita sendiri!

Yang belum menjadi istri bagaimana? Tentunya tidak jauh berbeda kewajibannya. Jadikan ayah Anda calon penghuni surga karena mempunyai putri yang salihah dan taat kepada-Nya.

3. Muslimah sebagai Pengatur Rumah Tangga
Allah Swt berfirman di dalam Alquran surat Al Ahzab ayat 33:

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ ۖ وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ۚ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

Artinya:
"Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya."


Maksud ayat di atas adalah perintah untuk para istri Rasulullah yang harus tetap tinggal di rumah dan hanya keluar rumah jika ada keperluan yang diperbolehkan oleh syariat. Perintah ini juga berlaku untuk seluruh muslimah. Bukan berarti seorang muslimah tidak boleh bekerja di luar rumah. Tentu saja boleh dengan ketentuan yang diatur oleh syariat yang sebenarnya melindungi muslimah itu sendiri.

Lebih banyak di rumah sebenarnya mudah dijalani bagi seorang muslimah di zaman now. Ia tetap bisa mengetahui kejadian di luar sana dengan gadget di tangan tanpa harus meninggalkan rumahnya. Namun akan menjadi sebuah tindakan kebablasan jika ia justru keasyikan online karena terjangkit Nomophobia. Padahal ada kewajiban untuk mengatur rumah tangga yang sebenarnya merupakan perintah di balik keharusan tinggal di rumah.

Urusan mengatur rumah tangga di bawah ini bisa sedikit mudah dengan memanfaatkan gadget di tangan secukupnya:
a. Menciptakan rumah yang tidak dimasuki setan yaitu dengan senantiasa membaca Alquran. Aplikasi Alquran sangat mudah didapatkan. Tidak ada alasan tidak sempat membaca Alquran karena ada ponsel di tangan.

b. Menata suasana rumah senyaman mungkin agar anak dan suami betah di rumah. Ini bisa dilakukan dengan bantuan asisten rumah tangga jika memang diperlukan. Teknik dan ide penataan rumah yang baik juga bisa didapat dari informasi via online.

c. Mendidik anak agar menjadi generasi berakidah lurus, beribadah secara benar, dan berakhlak baik. Maka jika ibunya bisa mengatur diri dalam hal menyentuh ponsel, pasti anaknya juga akan belajar darinya. Ponsel hanya diberikan kepada anak di usia yang tepat. Dan jika sudah saatnya memegang, si anak tidak lupa diri akan kewajiban belajar sehingga menjadi generasi seperti yang tersebut di atas.

d. Memupuk kecintaan suami dan anak dengan menghidangkan masakan enak, bergizi, dan halal. Di zaman now, beraneka resep dan tips memasak sangat mudah didapatkan di dunia maya.

e. Jika mampu, ikut membantu suami dalam hal menambah penghasilan keluarga dengan menekuni bisnis dari rumah sesuai passion yang dimiliki. Selain memproduksi dan menjual barang seperti pada umumnya, menulis pun sebenarnya bisa dijadikan ajang bisnis. Di zaman now, menjalankan bisnis secara online pun begitu mudah dilakukan. Tetap harus diingat bahwa keasyikan berbisnis tidak boleh memalingkan seorang muslimah dari kewajiban utamanya seperti poin-poin di atas.

Yang belum menjadi istri? Bisa mempersiapkan diri dengan melakukan ‘pemanasan’ terkait hal-hal di atas yang berada dalam jangkauan.

4. Muslimah sebagai Anggota Masyarakat
Suatu hari saat saya menghadiri acara ibu-ibu di kampung, ada seorang ibu yang tetap asyik dengan ponsel di tangannya. Sementara yang lain menyimak jalannya acara, ia tersenyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya. Ia hadir tapi seakan tidak menampakkan dirinya pada yang lain.

Ada kejadian serupa saat saya sekeluarga menikmati libur lebaran di rumah mertua di Solo, Jawa Tengah. Tradisi mengobrol saat berkunjung ke rumah-rumah masih tetap terjaga di sana, tidak sekedar bersalam-salaman lalu undur diri. Suatu saat ada sebuah keluarga berkunjung dan mengobrol cukup lama. Tapi ada satu hal yang mengganjal dalam benak saya. Di awal pertemuan, sang ibu memperkenalkan anak gadisnya dengan bangga karena sudah duduk di bangku kuliah PTN terkenal di situ. Sayang sekali, si gadis asyik sendiri dengan ponselnya sepanjang obrolan antara dua keluarga digelar. Mahasiswi sih, tapi...

Dua kejadian di atas sepertinya adalah pemandangan yang umum terjadi saat ini. Dan setiap kali menemui hal yang seperti itu, rasanya saya sedih sekali. Ponsel memang sarana bermasyarakat di dunia maya. Tapi saat harus berada di dunia nyata, seseorang yang kecanduan ponsel seakan menjadi alien bagi sekitarnya.

Saya sendiri berusaha melepas ponsel saat harus beraktivitas di luar rumah. Suatu hari saya mengantri di puskesmas saat hamil si kecil dulu. Di sebelah saya ada seorang ibu yang lanjut usia yang juga menunggu antrian. Kami bertegur sapa dan kemudian terjadilah percakapan. Ia menceritakan penyakitnya dan beberapa potong episode hidupnya. Saya menanggapi dan mendengarkan beliau yang saat itu datang sendiri ke puskesmas. Ada kelegaan di wajahnya setelah bercerita dan saya menanggapinya. Ya, saya pun punya seorang ibu, walaupun belum setua beliau. Mereka butuh teman berbicara dan didengarkan. Tidak sulit bukan kita melepas sejenak ponsel kita dan menjadi lawan bicara serta pendengar setianya?

انّ الله يحبّ السّهل الطليق



Artinya : "Sesungguhnya Allah menyukai kepada orang yang suka memberi kemudahan (kepada orang lain) dan selalu jernih mukanya". (HR. Baihaqi).



Intinya, tempatkan posisi kita seperti seharusnya. Karena di zaman now, kita memang bermasyarakat di dua tempat. Adab bergaul di dua tempat itu tetap harus dijaga. Jika di dunia nyata kita harus berhati-hati dalam berbicara, di dunia maya pun demikian. Bedanya, ‘wakil’ dari perkataan kita di dunia maya adalah tulisan. Maka penting bagi seorang muslimah untuk belajar menulis secara baik dan benar. Juga gemar membaca melalui media apa saja sebagai sumber referensi tulisan kita.

Menjadi Blogger = Meminimalisir Nomophobia
Selain bergaul di jejaring sosial, saya sendiri berusaha memperluas jaringan pertemanan dengan menjadi blogger. Ya, dengan menjadi blogger kita mendapatkan kelegaan dan ketenangan diri setelah mencurahkan isi pikiran lewat tulisan. Kita bisa juga mendapatkan teman baru setelah melakukan blog walking dan mengakrabi teman seperjuangan dengan bergabung di komunitas blogger.

Di zaman now, seorang muslimah yang serius menjadi blogger juga akan mendapat apresiasi tersendiri. Ia bisa menjadi rujukan alternatif bagi para pencari informasi selain melalui media jurnalistik online. Tulisan di blog seseorang juga bisa menjadi sebuah portofolio online yang bisa dilihat siapa saja. Keuntungan finansial pun sudah menunggu jika seorang blogger aktif dan kreatif mengelola blog-nya. Karena zaman now adalah zaman industri kreatif dan seorang blogger bisa bersaing dengan ide kreatif yang disajikan di dalam blognya.

Berkaitan dengan Nomophobia, menjadi blogger bisa meminimalisir kegelisahan itu. Kok bisa? Menurut pengalaman saya pribadi, penyebab Nomophobia di antaranya adalah karena terlalu mengikuti arus informasi yang beredar cepat di jejaring sosial. Lalu terpancing berkomentar atas isu-isu yang tidak berkesudahan. Sepertinya memang selalu update dan kekinian tapi sebenarnya tidak menguasai isu tersebut secara mendalam. Padahal sebenarnya kita tidak diharuskan mengomentari semua informasi dan isu yang datang, bukan?

Nah, saya merasa bisa lebih fokus dengan menulis suatu permasalahan dan membahasnya panjang lebar di blog. Sebelum menulisnya, pasti ada aktivitas membaca dari berbagai sumber dan berpikir mendalam. Bukankah dengan itu kita menjadi terlatih untuk menggunakan ponsel seefisien mungkin? Saya tentu saja tetap memakai facebook, twitter, dan instagram seperlunya. Termasuk untuk membagikan postingan baru dari blog yang saya kelola.

Kesimpulan
Di zaman now, Nomophobia sebenarnya adalah bentuk lain dari sebuah kelalaian manusia. Manusia menjadi tergantung pada sebuah alat dan merasa galau jika kehilangan akses terhadapnya. Seorang muslimah yang baik hanya menggunakan ponsel di saat yang tepat dan menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat. Karena kemajuan teknologi memang bukan untuk dihindari tapi dihadapi dengan ketundukan pada aturan Ilahi.
Wallahu a’lam.

Let’s be smart muslimah by staying away from Nomophobia!

Tatiek Purwanti


#PostinganTematik

#BloggerMuslimahIndonesia

Tulisan ini diikutsertakan dalam program Postingan Tematik November Blogger Muslimah Indonesia dengan tema "Muslimah, Blog, dan Dunia Maya"

Referensi:

  • Agenda Ummi by Al Qowam, Solo
  • maxmanroe.com

51 comments:

  1. sempet Nomophobia pas 2015-2016, parah banget sampe shalat pun kudu bawa hape :'( astagfirullah, tapi sekarang udah bisa lepas dan ga begitu lengket sama hape alhamdulillah

    ReplyDelete
  2. Terimakasih mba tatiek, luar biasa tulisannya. Lagi2 menengok diri sendiri, nih

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, Mbak Novi. Saling mengingatkan ya :)

      Delete
  3. Wow..ketjee bingits ulasannya!
    Seperti terhenyak diri, termasuk nomophobiakah saya? Sepertinya belum dan semoga saja tidak sampai ke titik itu..
    Terima kasih sudah mengulas materi ini dengan cantik Mbak Tatiek..Bermanfaat ini sharingnya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah jika bermanfaat :) sebenernya menurut saya sederhana aja, sih. hehe... yups, mbak. semoga kita ga sampe nomophobia. butuh tapi tidak nyandu ;)

      Delete
  4. Saya takut saya pengidap nomophobia :(

    Tapi tadi seharian listrik mati alhamdulillah aman terkendali, nggak terlalu gelisah ga bisa buka HP. palingan jadi agak bingung pas ingat ada bbrp hal penting yang lupa belum ditransfer ke komputer karena nggak punya kuota :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, semoga tidak ya, Mbak. teringat hp karena ada amanah atau keperluan sepertinya adalah alasan yang tepat untuk dekat dengan si hp. bukan karena nyandu gak jelas :)

      Delete
  5. Saya sempat coba sehari tanpa hape ternyata hidup saya terasa aman tentram, gak kerasa hiruk pikuk saat kalo udah buka medsos. Jadi sekarang ada jam-jam tertentu saya letakkan hape, bonusnya banyak pekerjaan lebih cepat selesai kalau kita gak berkutat dengan hape terus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sip... saya pernah juga seharian ga liat hape. dan it's ok aja ternyata. walopun ga bisa seterusnya tanpa hape sih :)

      Delete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. Wah jangan2 saya terkena nomophobia... duh bahaya ya mbak klu sudah kecanduan banget dengan hape pintar tp semoga saja nggak. Sekarang sy juga udah mengurangi aktivitas di dunia maya, yang tadinya aktif di banyak jejaring sosial tapi sekarang lebih pengen fokus di blog saja. Kenapa?

    Hehe, ini jawabannya..

    "Penyebab nomophobia diantaranya karena menyerap informasi yang beredar cepat di jejaring sosial. Lalu terpancing berkomentar atas isu-isu yang tidak berkesudahan. Sepertinya memang selalu update dan kekinian tapi sebenarnya tidak menguasai isu tersebut secara mendalam. Padahal sebenarnya kita tidak diharuskan mengomentari semua informasi dan isu yang datang, bukan?.

    Yap , setuju banget dengan pendapatnya mbak. Memang lebih baiknya kalau mau ikut berkomentar terkait isu-isu yang lagi viral di dumay di blog saja, jadi kita bisa mengupas secara panjang dan tuntas tentu sebelumnya dengan mencari referensi yang benar2 ori bukan cuma ikut2an komen dan berdebat pdhl gak terlalu paham dengan isu terkait.

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, sepaham. Saya pernah dulu update sosmed teruuuuss jadinya si hape ga sempat diletakin. Akhirnya malah jadi ga enak. So, sekarang bersosmed seperlunya saja. Butuh tapi berusaha tidak mencandu :)

      Delete
  8. Kalau lagi sama suami, saya batasi main hp. Kecuali pas dia ngegame, langsung saya main hp sepuasnya. Dia selesai...saya juga. Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, fifty-fifty namanya ya, Mbak. Betul, tuh. wong ada suami di sebelah ya hape letakin dulu :)

      Delete
  9. Terima kasih artikelnya mbak, sangat bermanfaat. Memang sekarang HP udah kayak pakaian ya, jadi mengingatkan diri sendiri..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama, Mbak Muyas :) Begitulah, Mbak. Hape udah bagaikan separuh nyawa :D

      Delete
  10. Alhamdulillah aku termasuk yang biasa saja mesti tanpa hp.. Hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah. wah, enak tuh. tentram deh hidup :)

      Delete
  11. Terimakasih banyak tulisannya mbak...
    Sebenarnya butuh asisten rumah tangga tapi jarang yang mau dan kalaupun ada kadang ditarif selangit...
    Kadang menghayal sendiri punya lingkungan yang kekeluargaan.
    Di dunia maya dengan memilih teman yang mengarahkan kepada kebaikan Alhamdulillah membuat saya tercerahkan dalam hidup....

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, Mbak. tetap ada sisi positif dunia maya. terutama jika di dunyat kesulitan menemukan sahabat, kalo teman sih banyak. boleh lah bersahabat di dumay. btw tentang ART, jika memang belum bisa dapat, yuk jalani saja 'tugas negara' dengan bahagia walopun capek. itu resep saya, sih :)

      Delete
  12. IYES, Kemajuan teknologi bukan untuk dihindari akan tetapi dipatuhi peraturannya, siiiplah !!!

    ReplyDelete
  13. Saya baru mendengar istilah nomophobia ini, dan berasa ditampar ke kanan dan ke kiri.Segera evaluasi diri dan cek kembali sudahkan saya menjadi ibu, istri dan wanita yang "seharusnya" Terima kasih sudah diingatkan ya Mbak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, Mbak :) Sebenernya yang utama ya saya nampar diri sendiri dulu :D Semoga bermanfaat...

      Delete
  14. Tulisannya padat bergizi, Mbak. Terima kasih sudah mengingatkan dan memberi teladan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bermanfaat. duh, kok teladan *tutup muka. Sekedar berbagi, Mbak. Masih belajar juga :)

      Delete
  15. Wah, istilah baru buat saya nih, nomophobia.
    Meskipun belum sampai ke tahap itu (mudah2an jangan sampai lah ...), tapi ini jadi warning yang bagus juga buat kita (terutama saya pribadi) untuk tetap bisa membawa diri sebagai muslimah yang baik dalam peran apa pun (hamba Allah, istri, ibu, masyarakat, dll).
    Terima kasih sharenya mbak.

    ReplyDelete
  16. Wah, bermanfaat sekali sharingnya. Makasih, Mbak. Udah ada dari tahun 2010 ternyata istilah Nomophobia ini dan aku baru tahu di sini. Hiiyyy... rasanya dulu pernah juga begini. Sekarang lumayan ga terlalu ketergantungan juga sih tapi tetap ada deg-degan kalau telat cek email (hahhaaa... mirip juga toh?) Astaghfirullahaladzim.

    Semoga tidak jadi terlalu berlebihan aaamiiin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihi, insya Allah kalo tujuan deket2 si hape itu jelas dan bermanfaat, semoga bukan bagian dari nomophobia ya. memang harus pandai-pandai tarik ulur, nih

      Delete
  17. Wah, mungkin saya kena nomophobia juga...gak bisa jauh2 dari gadget

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga kedekatannya dengan gadget memang karena tugas ya, Mbak :)

      Delete
  18. Aku Belum sampai level nomophobia kayaknya. Semoga deh jangan sampai kayak gitu

    ReplyDelete
  19. Nomophobia,,

    Wah kudet saya, baru tahu

    Makasih infonya mbak

    ReplyDelete
  20. Makasih infonya. bukan nomophobia karena daripada rebutan hp sama anak anak, sy umpetin. sampai kadang lupa ngumpetin dimana hehee..

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehe, terlalu rapi nyimpennya jadi lupa ya

      Delete
  21. baru denger istilah nomphobia, hmmm...mudah-mudahan nggak terkena phobia yg satu itu

    ReplyDelete
  22. Kalo ketinggalan hp trus pulang lagi termasuj nomphobia ga mba??

    ReplyDelete
    Replies
    1. menurut saya bukan. kita tetap butuh hape, hanya saja jangan sampe nyandu :)

      Delete
  23. Wah keknya udah kena nomophobia nih. Huhu harus segera ditanggulangi. Makasih sharingnya mbak jadi pengingat diri.

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama, Mbak. Saling mengingatkan, ya

      Delete
  24. Alhamdulillah ya Mbak, teknologi dan social media bisa emndekatkan yang jauh seeperti mbak dan suami tercinta..hihihi sebulan lagi saya juga akan LDR ini sama suami hiks...tapi lumayan tenang karena teknologi memudahkan segalanya..

    Nah, kayaknya penting nih buat kita ada hari NO PHONE, biar kita terhindar dari nomophobia... :)

    Salam kenal,

    Meykke Santoso

    ReplyDelete
    Replies
    1. Salam kenal juga, Mbak Meykke :)
      Selamat menjelang jadi pejuang LDR, hehe. Alhamdulillah dimudahkan dengan adanya perkembangan teknologi. Btw, boleh kok dicoba sehari tanpa hape. enak juga :)

      Delete
  25. Setuju banget dengan opini mbak. Adanya blog platform sebenarnya bisa mengurangi nomophobia, karena penulis atau penyedia konten dituntut harus siap dan menguasai materi. Dan yang gak kalah penting, manajemen diri sih mbak. Mungkin nomophobia ada karena rasa ingin tau yang tinggi, tetapi berlebihan sampai-sampai gelisah.

    Artikel ini jadi bikin saya teringat beberapa tahun lalu, ketika Twitter jadi raja. Mungkin inilah yang pernah saya rasakan seperti gambaran di artikel mbak :)

    ReplyDelete
  26. Berarti aku blm terkena gejala ini :D. Buatku sih hp penting, tp ga masalah juga sesekali hrs lepas hp. Biasanya sih kalo sdg traveling k LN, nah aku ga mau ngoyo sampe hrs sewa mifi segala hnya supaya bisa update, ato beli simcard lokal. Ada temenku yg bgitu. Malah di LN itulah aku beneran bisa nikmatin kebersamaan ama keluarga.. Kalo saat itu sdg ada wifi, ya gpp, sesekali update. Tapi kalo g ada samasekali, ga masalah juga :)

    ReplyDelete