My Lifestyle, My Journey, My Happiness

December 24, 2018

Ketika "The Fear Between Us" Hadir di iPusnas

by , in

iPusnas. Hmm... saya kira para pecinta literasi dan blogger tidak asing lagi dengan aplikasi yang satu ini. Tapiii... mungkin ada teman-teman yang baru tahu? Atau sudah tahu tapi enggan mengunduh? Atau juga seperti saya: sudah tahu, sudah pernah mengunduh aplikasinya, uninstall, dan sekarang mulai mengunduh lagi?

Ya, saya sudah pernah mengunduh aplikasi perpustakaan digital yang digagas oleh Perpustakaan Nasional (Perpusnas) itu. Tapi, saat itu ponsel lama saya sedang lemot. Jadi saya memutuskan untuk meng-uninstall  iPusnas. Apalagi saat itu koleksi buku di sana masih belum banyak, sih. Akhirnya, e-reader yang bertahan di ponsel saya hanyalah Google Play Book.

Sebuah Revolusi Digital

Pada tanggal 12 Desember 2018 yang lalu, ada pesan baru di inbox e-mail saya. Dari Jejak Publisher, penerbitnya indie yang menerbitkan novel perdana saya, The Fear Between Us. Jejak Publisher mengabarkan bahwa novel saya yang berlatar tempat di Malang Raya itu sekarang sudah masuk di aplikasi iPusnas dalam bentuk e-book.

Ceritanya, buku-buku yang diterbitkan oleh Jejak Publisher itu diikutkan ke dalam seleksi untuk menjadi konten di iPusnas. Sebelum mengikuti seleksi iPusnas, penerbit tersebut juga telah melalui berbagai seleksi dan verifikasi. Jejak Publisher menjadi salah satu penerbit yang lolos syarat dan ketentuan yang ditetapkan iPusnas. Sip!


Wah, mata saya langsung berbinar. Saat membaca paragraf awal e-mail tersebut, saya langsung membayangkan bahwa pesan kebaikan dari novel saya bisa lebih tersebar luas. Ya, karena para pembaca iPusnas tidak harus membeli buku tapi cukup meminjam saja seperti aturan perpustakaan pada umumnya. Murah, hanya bermodalkan ponsel dan paket data (apalagi kalau bisa numpang Wi-Fi, hehe...)

Saya cuplik sedikit isi e-mailnya, ya...

Dari pertengahan tahun 2018, Jejak Publisher mencanangkan Program Revolusi Digital untuk buku-buku terbitan Jejak Publisher, di mana selain buku penulis memiliki ISBN, juga memiliki ISBN Elektronik (E-ISBN). ISBN Elektronik ini digunakan untuk buku yang diterbitkan secara digital (E-BOOK). 

Tujuan dari Revolusi Digital ini adalah untuk meningkatkan jumlah dan minat literasi, meningkatkan peluang jumlah pembeli serta meningkatkan penjualan buku penulis. Pasalnya pembeli yang cocok dan tertarik dengan e-book penulis dimungkinkan akan memesan versi buku cetaknya.


Sayang, penulisan judulnya tidak pas ;-)

Don't Worry About Royalty

Sebenarnya Jejak Publisher sudah pernah mengumumkan rencana revolusi digitalnya itu di laman Fanpage-nya. Tapi saat itu saya tidak menyimak, sehingga baru tahu tentang e-book saya sendiri saat ada pemberitahuan via e-mail. Tidak masalah, sih. Apalagi tujuan revolusi digitalnya mulia seperti itu.

Tapi, (mungkin) ada juga penulis yang merasa keberatan bukunya dijadikan e-book. Sudah umum diketahui bahwa banyak beredar e-book bajakan yang sangat merugikan penulis. Artinya, akses untuk para pembajak semakin dipermudah jika sebuah 'buku fisik' diubah menjadi 'buku maya'. Ini memang PR besar kita bersama. Fiuhh...

Lalu, bisa jadi penjualan buku akan mengalami penurunan karena calon pembaca sudah merasa cukup dengan membacanya via e-reader. Ini adalah sisi merugikan secara finansial bagi penulis di balik tujuan mulia revolusi digital yang sangat mungkin terjadi.

Penjualan menurun, royalti pun menurun. Ssstt... saya bisikin, ya: e-book novel saya itu tetap bisa membuahkan royalti, lho. Jadi, e-mail tersebut sekaligus mengabarkan tentang royalti yang sudah diperoleh e-book saya. Alhamdulillah. 



Begini ceritanya. Setiap e-book yang masuk di iPusnas digandakan sejumlah 10 buah alias 10 copy file. Para calon pembaca akan mengunduh file e-book yang disediakan itu. Jika kesepuluh file-nya sedang dipinjam, para calon pembaca harus menunggu hingga e-book- nya dikembalikan. 

Nah, batas waktu peminjaman e-book hanya 3 hari. Ini benar-benar melatih kita untuk fokus menyelesaikan PR bacaan secepatnya. Jika sampai 3 hari e-book tersebut belum tuntas, tentu saja akan ditarik secara otomatis oleh sistem. Mau pinjam lagi? Boleh. Silakan unduh lagi. Semoga tidak antri ^^

So, royalti yang didapatkan oleh penulis buku yang menjadi konten iPusnas berasal dari para pembaca yang mengunduh copy file tersebut. Begitu...

Mengunduh iPusnas Lagi

Tentu saja saya langsung cuzz... download Ipusnas lagi. Ponsel saya sudah membaik dan kapasitas iPusnas ringan, kok. Cuma 26 MB dengan rating 4.1. Selain via Google Play, Ipusnas bisa juga diunduh via Appstore (iPhone), atau desktop melalui www.ipusnas.id.

Kita akan diminta membuat akun via e-mail atau bisa juga masuk lewat akun Facebook. Mudah dan cepat. Daan... selamat menikmati beragam koleksi buku dari berbagai genre. Ada buku fiksi, humaniora, agama, anak, bisnis dan ekonomi, budaya, gaya hidup, komunikasi dan jurnalis, sastra, psikologi, sejarah, seni, sosial politik, teknologi, dan sebagainya.


Nah, sekarang koleksi bukunya jauh lebih banyak dibandingkan saat aplikasi tersebut diluncurkan pada tanggal 16 Agustus 2016 dulu. Lengkap banget sih enggak. Saat saya mencoba mencari sebuah judul buku yang pernah saya baca, Out of The Truck Box, ternyata tidak ada. 

Ya, mungkin seperti yang saya sebutkan di atas: tidak semua penulis setuju akan digitalisasi buku mereka. Mungkin juga buku yang masih baru dan sedang beredar di pasaran memang tidak diubah dalam bentuk e-book dulu. CMIIW.

Saya pun mencoba mengintip The Fear Between Us. Sejauh ini, sudah ada 30 pembaca novel saya yang bertema fobia itu. Ada rating lima bintang pula, hehe. Thanks, Dear Readers. Walaupun belum ada yang mau menulis review singkatnya di sana. ;-)


Ya, selain ada rak virtual yang berisi buku yang kita pinjam, kita bisa menuliskan komentar atau review tentang buku yang sudah selesai dibaca. Sebaiknya, aktivitas membaca dan mengulas itu kita bagikan kepada teman-teman, baik lewat media sosial, WhatsApp, BBM, maupun email. Berbagi, sekaligus memberi referensi untuk calon pembaca lain.

So, tunggu apalagi. Segera unduh iPusnas, ya. Lebih bagus lagi kalau mau membaca e-book saya, hehe... Karena belum ada review di sana, boleh deh membaca review versi blog yang pernah ditulis oleh Mbak Dian Restu Agustina di sini.

Kalau penasaran berlanjut, itu tandanya teman-teman harus baca e-book- nya! Yaelah... pemaksaan banget. Haha...

Buku Mbak Okky Madasari masuk rak virtual saya.
Tiga hari? Hmm... Bisa gak, ya?

Finally, saya akhirnya menjadi anggota lagi di sana. Sebuah tantangan baru, sih. Membaca buku dalam waktu tiga hari. Via ponsel pula. Hmm... akan saya coba. Insya Allah. 


Salam,




December 17, 2018

Bahagia Mendampingi Momen Berharga Si Anak Hemangioma

by , in

Akmal, anak kedua saya genap berusia 28 bulan pada pertengahan Desember ini. Sungguh cepatnya waktu berlalu. Seakan baru kemarin saya melahirkannya. Eh, sekarang dia sudah berlarian ke sana kemari. Pastinya banyak momen berharga yang telah kami lalui bersama. Alhamdulillah, sejauh ini tumbuh kembangnya sudah sesuai dengan tingkat usianya.

By the way, mungkin ada teman-teman yang bertanya-tanya tentang judul tulisannya saya. Si Anak Hemangioma? Apa itu? Baiklah, akan sedikit saya ulas, ya...

Hemangioma, Hanya Sebuah Tanda

"Bibir anaknya kenapa tuh, Mbak? Habis jatuh, ya?"
"Itu merah-merah yang di bawah dagu gatal, ya?"

Begitu kira-kira komentar orang yang pertama kali melihat bibir bawah sebelah kanan dan bagian dagu Akmal. Ya, bagian bibir itu sedikit tebal, ditambah ada bercak kemerahan di dagunya. Kedua tanda itu mulai nampak jelas saat Akmal menginjak usia dua bulan. Saat lahir, kedua tanda itu nyaris tidak terlihat.


Ya, itulah tanda lahir yang dimiliki Akmal. Ada yang menyebut hemangioma ini dengan istilah strawberry mark karena warnanya yang merah bak buah stroberi. Hemangioma muncul karena adanya pembuluh darah yang berkumpul dan mengalami kelebihan pertumbuhan atau proliferasi.

Hasil diagnosa dokter (dan sudah umum diketahui), hemangioma ini bisa menghilang dengan sendirinya seiring bertambahnya usia. Ada sih yang memerlukan terapi dengan laser atau salep/krim untuk mengempiskannya. Misalnya, jika hemangioma-nya besar dan tumbuh di sekitar mata atau hidung. Dikhawatirkan, si tanda lahir itu akan mengganggu fungsi penglihatan dan penciuman anak.

Alhamdulillah, hemangioma Akmal memang semakin menipis tanpa terapi apa-apa. Sejak awal, saya dan suami yakin bahwa hemangioma itu tidak akan mengganggu tumbuh kembang Akmal. Bukankah tumbuh kembang itu yang penting? Hemangioma 'hanya' sedikit mengganggu penampilan. Tapi, anaknya tetap cakep, kan? Hehe... 

Nah, teman-teman bisa mencari tahu lebih jauh tentang pengalaman orang tua yang anaknya dianugerahi hemangioma di instagram. Hashtag-nya #hemangiomaindonesia atau #hemangiomababy

You'll find that they are still strong and confidence!

Pertumbuhan dan Perkembangan Akmal

Sekilas sama, tapi sesungguhnya pertumbuhan dan perkembangan anak adalah dua hal yang berbeda. Pertumbuhan (growth) adalah perubahan yang bersifat kuantitatif atau dapat diukur. Biasanya, ini menyangkut ukuran dan struktur biologis pada tubuh anak. 

Nah, untuk mengetahui pertumbuhan fisik Akmal, saya rutin membawanya ke Pos Pelayanan Terpadu atau Posyandu setiap bulan. Saya jadi tahu pertambahan berat dan tinggi badan Akmal yang dituliskan dalam Kartu Menuju Sehat (KMS). Lalu, saya coba membandingkan hasilnya dengan rumus dari Dr. Richard E. Behrman, seorang ahli ilmu kesehatan anak dari Amerika Serikat.

Menurutnya, berat badan normal untuk anak berusia 1-6 tahun dihitung dengan rumus: umur anak (dalam tahun) x 2 + 8. Untuk Akmal berarti: (2 x 2)+8 = 12. Alhamdulillah, sesuai. Awal bulan kemarin, berat badan Akmal adalah 13,1 kilogram.

Sedangkan perkiraan tinggi badan anak adalah: 
1 tahun: 1,5 x tinggi badan saat lahir
4 tahun: 2 x tinggi badan saat lahir
6 tahun: 1,5 x tinggi badan saat umur 1 tahun


Nah, tinggi badan Akmal saat diukur di Posyandu kemarin adalah 88 sentimeter. Ini tentu saja melegakan karena jika menurut rumusnya, perkiraan tinggi badan Akmal adalah sekitar 76,5 sentimeter. Dulu, dia lahir dengan tinggi 51 sentimeter.

Beralih ke perkembangan atau development, yakni perubahan kuantitatif dan kualitatif yang meliputi bertambahnya kemampuan (skill) struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks. Perkembangan terjadi dalam pola yang teratur seiring dengan proses pematangan/maturitas anak.

5 Kategori Perkembangan 

Ada 5 kategori perkembangan anak yang harus dipantau oleh orang tua, yaitu: kemampuan berbahasa, kemampuan kognitif, kemampuan psikososial, kemampuan motorik kasar, dan kemampuan motorik halus.

Kemampuan berbahasa untuk anak berusia 24 sampai 36 bulan diantaranya: 
° Anak seharusnya memiliki pemahaman yang baik terhadap percakapan yang biasanya diucapkan oleh orang di sekitarnya (keluarga)
° Anak bisa melakukan percakapan melalui tanya-jawab
° Anak bisa bertanya “kenapa”

Alhamdulillah, sejauh ini Akmal paham terhadap ucapan kami, mampu menimpali dengan sekitar 5 sampai 7 kata, dan tanya jawab diantara kami pun menjadi menu harian. Biasanya dia menjawab dengan lucu dan menggemaskan. Sedangkan untuk bertanya "kenapa", Akmal masih jarang, sih. Slowly but sure ya, Nak. 🙂

Kemampuan kognitif anak berusia 24 sampai 36 bulan ditunjukkan dengan:
° Anak bisa menunjuk satu atau lebih bagian tubuhnya bila diminta
° Anak bisa menyebut dengan benar nama dua benda atau lebih
° Anak bisa menggabungkan dua kata menjadi kalimat 
° Anak bisa memakai nama sendiri untuk menyebut dirinya

Alhamdulillah, keempat ciri di atas sudah dikuasai oleh Akmal. Saya dan suami tidak hanya mengenalkan bagian-bagian tubuhnya, tapi juga hemangioma yang dimilikinya. Kami menyebutnya "toh", sesuai dengan istilah Bahasa Jawa sebagai mother tongue yang kami pakai. 

Saya sering mengajaknya bercermin sambil menunjuk hemangioma-nya,
"Dik, ini toh-nya adik. Gak papa, ya. Adik Akmal tetap ganteng."
Dia memegang toh-nya, "Punya Ummi?"
"Ummi gak punya. Gak papa. Nanti kalau adik sudah besar, jadi bersih seperti dagu ummi."
Akmal pun melanjutkan celotehnya, bla... bla... bla...

Sedangkan kemampuan psikososial anak berusia 24 sampai 36 bulan ditandai dengan pencapaian:
° Anak menunjukkan kemarahan bila keinginannya dihalangi
° Anak bisa bermain pura-pura
° Anak bisa membentuk hubungan sosial dan bermain bersama anak lain

Akmal bisa marah jika kakaknya menggoda dengan pura-pura merebut susu atau es krimnya yang dimilikinya. Padahal Akmal sudah merasa haus dan bersiap meraih sasaran. Hehe, bisa aja Si Kakak! Akmal pun senang jika ada anak saudara atau kerabat yang datang ke rumah. Mereka akan asyik berkejar-kejaran sampai berkeringat. 


Motorik kasar adalah gerakan tubuh yang menggunakan otot-otot besar atau seluruh anggota tubuh yang dipengaruhi oleh kematangan anak. 


Karena di rumah saya hanya satu lantai, tentu saja Akmal tidak setiap hari naik turun tangga. Tapi saat dia diajak ke masjid, dia akan antusias menaiki anak tangga menuju lantai dua. Dia sekarang juga hobi melompat-lompat di atas kasur dengan dua kakinya sambil menjerit-jerit senang. 


Nah, bermain bola adalah kesukaannya sejak dia bisa berlari di usia sekitar 18 bulan. Jika si Abi pulang, pasti ajakan pertama Akmal adalah bermain bola. Saya pun dengan senang hati menjadi soccer player dadakan, melayani kesukaannya menendang bola di teras rumah. Dia akan berteriak dengan semangat, "Arema Singo Edaaan!" 😆 Tentunya dengan pengucapan huruf "R" yang masih samar.


Selain ditendang, bolanya juga kerap dilempar-lempar. Saya jadi punya ide untuk mengajaknya melempar bola ke tembok. Selain itu, kami mencoba bermain boling sederhana. Beberapa botol bekas susu UHT saya sejajarkan, lalu Akmal melempar bolanya ke arah deretan botol. Blaaar!

Akmal juga tipe anak yang lebih suka berada di luar ruangan. Mudah saja saat dia rewel. Saya atau Abinya akan mengajaknya berjalan-jalan keluar rumah. Entah itu pergi ke kampung sebelah untuk melihat-lihat sungai dan sawah.

Kadang kami menepi di emperan sebuah toko, di pinggir jalan provinsi. Lalu lalang kendaraan bermotor akan membuatnya asyik mengamati dan berkomentar, "Itu ada bis Tayo besaaar!"

Agenda bermain yang terlihat sederhana itu tentu saja ikut melatih kekuatan otot-otot kakinya. 

Sedangkan motorik halus adalah gerakan yang menggunakan otot-otot ujung jari disertai koordinasi mata dan tangan. Sebagian anggota tubuh lain yang ikut terlibat adalah pergelangan tangan, lengan, sampai pangkal lengan atas dan bagian sendi di bahu. 





Sejak Akmal masih bayi, saya dan si Abi menyediakan buku bantal, berlanjut dengan board book. Tujuan utamanya adalah untuk mengenalkan buku sejak dini. Selain itu, buku juga bisa digunakan untuk melatih motorik halusnya. Selain dibuka-buka, Akmal bisa asyik menumpuk-numpuknya seperti saat menumpuk balok-balok.


Biasanya, saat menjelang mandi sore, saya membiarkannya bermain air. Segar. Akmal sekaligus bisa bermain memasukkan air memakai gayung kecil ke dalam botol, lalu menumpahkannya kembali. Begitulah seterusnya. 


Saat bermain di teras, saya biarkan rasa penasarannya tersalurkan. Dia meremas-remas bunga kenikir yang tumbuh di halaman. Saya arahkan agar dia menaburkan hasil remasannya itu ke tanah, bak menaburkan benih. It's okay. Asal bukan bunga anggrek :)

Mainan 'langsung jadi' pun kami sediakan, seperti: menumpuk donat warna (sekaligus mengenalkan warna), menumpuk balok kecil pada kereta api kayu (sambil mengenalkan bentuk), dan peralatan pertukangan. Akmal sungguh senang bisa mempunyai peralatan bengkel seperti punya Si Abi saat mengoprek mobil.



Jangan Lupakan Nutrisi!

Berbagai stimulasi yang saya -dan suami- berikan di atas tentu saja dalam rangka mendukung tumbuh kembang anak agar sesuai dengan capaian usianya. Selain itu, pastikan anak memperoleh imunisasi lengkap, cukup tidur, serta nutrisi sebagai penunjang kesehatan badan dan pertumbuhan otak anak.


Makanan berat dengan gizi seimbang pasti adalah kuncinya. Lalu bagaimana dengan makanan selingan atau cemilan? Itu juga saya berikan di sela jam makan. Kebetulan Akmal suka nyemil buah dan biskuit. Saya juga tidak anti cemilan buatan pabrik asalkan memang menyehatkan untuk anak.

Nah, teman-teman mungkin bertanya-tanya juga tentang 'penampakan' kotak berwarna pastel yang mejeng bareng Akmal di atas 🙂 Yups, perkenalkan!
Itu adalah Monde Boromon Cookies, cemilan bergizi untuk anak usia 1 sampai 5 tahun.


Pertama kali mengenal kukis ini, Akmal langsung memekik, "Kelinci genduuut!" Hehe... Ya, karena ada seekor kelinci lucu pada kemasan kotak Monde Boromon Cookies. Di dalamnya ada enam plastik kecil kukis seberat 20 gram. Kukisnya berbentuk bulat, lebih besar sedikit dari pilus. Pas untuk kemasan anak-anak.

Halal MUI? Pasti, dong! Jadi tenang, deh. 🙂



Saya tentu saja mencicipi rasanya terlebih dahulu. Hmm... enak, nih. Beneran! Renyah tapi begitu menyentuh lidah langsung lumer. Rasa manisnya pun pas menurut saya. Giliran Akmal yang mencicipinya, "Enaaak," katanya sambil mengacungkan jempol.

Cemilan untuk Melatih Motorik Anak

Monde Boromon Cookies ini terbuat dari tepung kentang. Setahu saya, jarang lho kukis yang terbuat dari tepung kentang. Biasanya sih terbuat dari tepung terigu dan tapioka. Nah, makanya Monde Boromon Cookies ini bebas gluten alias gluten-free


Gluten adalah salah satu jenis protein yang biasanya terkandung di dalam gandum hasil persilangan (triticale), gandum biasa, dan jelai atau barley. Gluten-free atau bebas gluten berarti makanan tersebut tidak mengandung protein gluten. 

Salah satu keunggulan makanan yang bebas gluten itu adalah lebih mudah dicerna. Ini pastinya sehat untuk anak dengan intoleransi gluten.

Si Kakak ikutan mencicipi juga, "Hmmm... rasanya kok seperti ada ikannya."

Tepat sekali, Kakak! Monde Boromon Cookies juga terbuat dari minyak ikan dan madu. Keduanya adalah suplemen makanan yang umum diberikan untuk anak karena baik untuk kesehatan anak.

Nah, minyak ikan ini merupakan sumber asam lemak omega-3. Di dalamnya ada DHA (docosahexaenoic acid) yang berfungsi untuk perkembangan fungsi mata dan sistem syaraf yang sempurna. Kekurangannya DHA pada anak bisa berpengaruh pada rendahnya tingkat kecerdasan, lho.

Sedangkan madu, siapa yang meragukan khasiat cairan manis yang dihasilkan oleh lebah ini? Madu membantu mengoptimalkan tumbuh kembang anak, melawan alergi, sumber energi, meningkatkan imunitas, dan menyehatkan sistem pencernaan anak.

Selain itu, Monde Boromon Cookies tidak sekadar cemilan bernutrisi tapi juga bisa untuk melatih motorik anak, lho. Seperti yang saya sebutkan di atas, cookies-nya mudah meleleh saat kena air liur. Mengulum lalu mengunyahnya bisa melatih motorik yang ada di lidah dan mulut anak, terutama yang masih berusia 1 tahun. 

Monde Boromon Cookies yang dimakan si kecil akan mendorongnya untuk mengeksplorasi rasa. Saat anak mengambil cookies berbentuk mungil itu, si anak sekaligus berlatih mengembangkan motorik halusnya serta mengenal bentuk dan tekstur. Karena berbentuk kecil yang bisa dijepit jari, anak akan terdorong untuk mencoba makan sendiri. Wah, ini namanya makan cemilan plus-plus!


Saya jadi terpikir untuk mengusulkan Monde Boromon Cookies sebagai salah satu cemilan di Posyandu. Pasti banyak anak yang suka. Lagipula harganya terjangkau, kok. Hanya sekitar Rp 12.500 per kotaknya. 

Nah, teman-teman bisa mendapatkan Monde Boromon Cookies ini dengan memesan langsung ke Mondemart. Tersedia juga di Shopee, Blibli, Tokopedia, Hari-Hari Swalayan, Grandlucky, Market City, Ranch Market, Orami, dan Tip-Top Swalayan. 

Yuk, segera pesan. Dijamin anak-anak pasti ketagihan. 🙂

Nah, itulah sekelumit kisah saya mendampingi momen berharga Akmal, my hemangioma boy. Kami tetap bersemangat bermain dan belajar bersama, dengan ditemani Monde Boromon Cookies. 

Teman-teman boleh berbagi cara menstimulasi ananda di kolom komentar, ya. Monggooo 🙂


Salam,








Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog "Ciptakan Momen Berharga Untuk Melatih Motorik Si Kecil" bersama Monde Boromon Cookies.

#MondeBoromon
#MondeBoromonXBloggerPerempuan


Referensi:

Instagram @mondeboromon
www.parentingclub.co.id
www.ayahbunda.co.id
www.ummi-online.com
December 13, 2018

Saat Afra Mempelajari 5 Film Animasi

by , in

Memasuki tantangan hari ke-10 #BPN30DayChallenge, ada pilihan tema untuk dituliskan. Boleh buku, film, atau musik favorit. Seperti biasa: menyebutkan 5 jenis. Hmm... saya memilih untuk membahas tentang film kesukaan saja, deh. Tepatnya adalah 5 film animasi kesukaan anak sulung saya, Afra.

Pada postingan sebelumnya, saya pernah membahas film kesukaan saya sendiri, juga hal-hal tentang saya melulu. Nah, sebagai emak yang baik, saya harus menyebut anak juga, dong. Hehe... 

Afra (11 tahun), selain suka membaca buku, juga lumayan suka menonton film animasi. Biasanya, dia menonton di akhir pekan bersama saya atau si Abi. Hanya menonton di rumah, sih. Dia baru sekali saja saya ajak ke bioskop. So, menonton film animasi baginya adalah hiburan yang murah meriah. Ditemani menonton saja dia begitu gembira.

5 film animasi yang saya sebutkan di sini adalah produksi Amerika dan Eropa. Maunya sih yang produksi anak negeri juga seperti The Battle of Surabaya atau Si Juki The Movie. Apalah daya kami belum bisa mengajak Afra ke bioskop untuk menonton dua film tersebut. Pas filmnya tayang di televisi pun terlewat. Ya sudahlah... Nanti kami rencanakan lagi untuk menonton dua film itu via aplikasi di ponsel saja, Insya Allah 🙂

By the way, pernah ada beberapa teman yang berpendapat bahwa film animasi dari barat itu berbahaya. Nanti terpengaruh ini-itu-anu...bla bla bla... Mereka (sepertinya) memilih untuk tidak menonton sama sekali. Hmm... boleh-boleh saja sih waspada. Tapi saya dan suami tidak sepakat dengan prinsip mendidik anak yang seperti itu: sterilisasi. Alias tidak bersentuhan sama sekali dengan nilai-nilai dan realita dari luar sana.


Jadi, saya dan suami bersepakat bahwa menonton film animasi pun adalah bagian dari mendidik anak dari rumah. Banyak nilai kebaikan dan edukasi yang bisa dipelajari dari film-film animasi yang kami tonton bersama. Sebagaimana buku yang merupakan jendela dunia, film-film yang ditonton Afra adalah pintu ajaib baginya untuk mengetahui sisi lain dunia juga.

Kami memilih untuk meng-imunisasi, bukan sterilisasi. Si anak harus dipastikan mengenal adab, akhlak, dan tumbuh baik fitrah belajarnya. Itu adalah bekal dasar. Jadi, saat nanti dia menemukan hal-hal baru di film itu, dia akan terdorong untuk bertanya. Lalu, terjadilah diskusi seru antara anak dan orang tua. Wawasan dan pengetahuan si anak pun menjadi semakin kaya dengan cara yang menyenangkan.

Alhamdulillah, sejauh ini, bahaya yang terlalu dikhawatirkan (para orang tua di atas) itu tidak terjadi pada anak kami. Ya, jika anak sudah punya 'senjata', jangan takut untuk melepasnya bertualang menghadapi dunia :-)

Oke deh... Inilah dia film kesukaan Afra. Sesuai perintah, saya sebutkan 5 saja, ya. 

1. Legend of the Guardians: The Owls of Ga'Hoole

Biasanya, burung yang digambarkan sebagai jagoan di film-film adalah Burung Garuda atau Burung Elang. Tapi film yang diproduksi oleh Warner Bros dan tayang di Indonesia pada tahun 2010 ini menceritakan bahwa Burung Hantu pun bisa jadi pahlawan. Memang di situlah daya tariknya menurut saya. Jika saja film ini bukan film animasi, mungkin jalan ceritanya akan biasa saja.

Lewat film ini, Afra jadi tahu bahwa Burung Hantu pun bentuknya bermacam-macam. Ada yang cantik juga, tidak melulu berbulu gelap. Adalah tiga bersaudara yang tinggal di hutan Tyto bersama orang tua mereka; Kludd, Soren, dan Eglantine. Ayah ibu mereka mendidik dengan bijaksana, sayangnya si sulung Kludd iri pada adiknya, Soren. Duh, sibling rivalry! 


Rasa iri yang berbahaya itu sampai membuat Kludd memilih bertarung melawan adiknya sendiri. Soren berada di pihak yang benar bersama pasukan The Guardians Ga'Hoole, sementara Kludd menjadi anak buah Pure Ones yang jahat. 

Hasil akhirnya bisa ditebak lah :) Afra pun belajar tentang menjadi sosok yang baik, sayang kepada saudara, dan berani berkorban demi kebenaran. Sip, pokoknya. Saya sendiri tidak bosan menonton ulang film petualangan yang seru ini.

2. How to Train Your Dragon

Menjadi seorang bocah Viking, apalagi anak kepala desa, adalah hal yang tidak mudah bagi Hiccup pada awalnya. Ya, karena dia adalah tipe anak pembelajar, bukan petarung. Teman-teman sebayanya sudah dilatih sejak dini untuk membunuh para naga pengganggu desa, eh... si Hiccup tak kunjung bisa melakukannya.

Jalan hidupnya berubah setelah Hiccup tidak sengaja menangkap seekor Naga berjenis Night Fury. Alih-alih berlatih membunuh, Hiccup akhirnya bersahabat dengan naga tersebut yang diberi nama Toothless. Ketekunan Hiccup belajar dan meneliti tidak sia-sia. Bahkan dia akhirnya menjadi pahlawan desa bersama Toothless setelah melewati pertarungan mendebarkan.


Dari film ini, Afra belajar tentang kesabaran saat dicemooh teman, tentang persahabatan dengan hewan, kreatifitas, kepemimpinan, dan menjadi pahlawan walaupun nyaris mengorbankan nyawa. Pokoknya, nyaris komplit deh pesan moral dari film yang diadaptasi dari bukunya Cressida Cowell ini.

Duh, berasa ingin menjadikan Hiccup sebagai menantu 😆 Sekuel kedua dan ketiga film yang diproduksi DreamWorks Animation ini pun tidak kalah menariknya, lho.

3. Rio

All the birds of a feather
Do what they love most of all
We are the best at rhythm and laughter
That's why we love carnival
All so free we can sing to
Sun and beaches, they call
Dance to the music, passion and love
Show us the best you can do

Original soundtrack film yang diproduksi oleh 20th Century Fox dan Blue Sky Studios ini terus terngiang-ngiang. Ceria dan penuh warna. Yeah, film tentang burung lagi :)

Kali ini yang menjadi lakone adalah Burung Blue Macaw yang langka bernama Blu. Dia adalah burung pintar peliharaan Linda, seorang gadis cantik pemilik toko buku di Amerika. Takdir membuat Blu berjodoh dengan Jewel, seekor Burung Blue Macaw betina cantik yang berada di Rio de Janeiro, Brasil. Semua berawal dari pertemuan Linda dengan Tulio, seorang ahli 'dunia perburungan' yang merawat Jewel.


Di Rio lah segala cerita dan petualangan seru Blu bermula. Banyak adegan lucu juga, sih. Lagi-lagi Afra belajar tentang penyesuaian diri, keberanian, persahabatan, pengorbanan, dan pernak-pernik tentang Brasil. Film ini juga punya sekuel kedua yang tidak kalah bagusnya.

4. Tangled

Seperti apakah tumbuh kembang seorang anak jika dia dikurung terus di dalam rumah dan tidak pernah bersentuhan dengan dunia luar? Pasti akan terganggu dong, ya. Iya sih. Orang tua -terutama ibu- adalah center of the universe di awal usia seorang anak. Tapi seiring bertambahnya umur, anak pun perlu mengenal the real universe di luar sana.

Itu sih teorinya :) 

Sebuah teori yang tidak berlaku bagi Rapunzel. Sejak bayi, dia dikurung di sebuah menara tinggi oleh Mother Gothel, ibu angkatnya. Ibunya itu berkata bahwa orang-orang di luar sana berbahaya dan jahat-jahat. Tentu saja Rapunzel menurut saja.

Anak perempuan berambut pirang itu pun menghabiskan hari-harinya di dalam menara. Dia belajar segala hal dengan semangat, ditemani oleh seekor bunglon lucu bernama Pascal. Mulai dari beberes rumah, melukis, memasak, menjahit baju, sampai membaca tumpukan buku dilakukannya dengan ceria. 

Boleh juga nih homeschooling yang diterapkan oleh Mother Gothel, hehe... Lha Rapunzel tetap bisa terlihat menguasai multiple intelligence begitu. Termasuk berayun-ayun dengan lincah menggunakan rambut panjang ajaibnya yang memang tidak pernah dipotong sejak bayi.

Hmm... rambut panjang dan larangan keluar rumah memang siasat Mother Gothel untuk menguasai Rapunzel. Dia tidak ingin Sang Putri kerajaan itu kembali ke istananya. Tapi... rencana abadi Mother Gothel berubah saat Eugene Fitzherbert alias Flynn Rider datang ke menara itu secara tak sengaja.


Yuhuuu... keseruan petualangan pun dimulai. Kalau yang seperti ini sih saya seneng banget :) Karena pertemuan Rapunzel dan Eugene bukan kisah romansa biasa. Di sini lah saya menjelaskan kepada Afra tentang rasa ingin tahu, tentang kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik, dan tentang mengungkap kebenaran yang butuh keberanian. Teteup... ada lucu-lucunya, misalnya saat Flynn masih bermusuhan dengan Maximus, si kuda Istana.

All those days watching from the windows
All those years outside looking in
All that time never even knowing
Just how blind I've been
Now I'm here blinking in the starlight
Now I'm here suddenly I see
Standing here it's all so clear
I'm where I'm meant to be

Kalau Original Soundtrack berjudul I See The Light di atas mah saya yang suka, hehe. Selain kedalaman makna liriknya, penyanyinya pernah jadi idola saya sewaktu masih ABG dulu. Afra cuma manggut-manggut saja menyaksikan saya bernostalgia dengan Mandy Moore, si penyanyi sekaligus pengisi suara Rapunzel :)

5. A Turtle's Tale: Sammy's Adventures

“Humans are strange creatures. Others make a mess, while others clean it up.”

Duh, yang mengucapkan itu adalah seekor penyu jantan di dalam sebuah film, dengan judul seperti di atas. Ada juga sih yang menyebut dengan judul lain: Sammy's Adventure: The Secret Passage. 

Yups, dari judulnya saja bisa ditebak bahwa ini adalah film kartun tentang petualangan. Adalah Sammy, seekor penyu yang hampir mati dimangsa burung-burung camar ketika ia baru menetas dari telurnya. Untunglah, ia masih bisa menyelamatkan diri.

Momen baru menetas itu mempertemukan Sammy dan Shelly, seekor penyu betina. Sayangnya, mereka terpisahkan dan baru bertemu lagi setelah bertahun-tahun kemudian. Ini so sweet juga, lho. Berpetualang di lautan dan berujung pada sebuah pertemuan yang dirindukan. Apalagi sosok Sammy dan Shelly terlihat imut-imut, deh.



Petualangan yang awalnya tidak mudah. Apalagi teman-teman Sammy menakut-nakuti tentang bahaya predator buas di lautan, seperti Barracuda. Tapi tekad Sammy sudah bulat. Ditemani Ray, sahabatnya, Sammy pun mulai menjelajahi lautan luas.

Banyak hal dan hewan lain yang ditemui Sammy di sepanjang perjalanannya. Termasuk tentang pemanasan global yang juga berdampak pada ekosistem di lautan. Penyebab utamanya adalah manusia. Hiks. Sama maksudnya seperti quote di atas.

Melalui film ini, Afra saya ajak berpikir tentang tekad baja, asyiknya berpetualang, dan mengenal isi lautan lebih mendalam. Film produksi negara Perancis dan Belgia ini tidak kalah bagusnya dengan film animasinya para sineas Hollywood. 

📽️ 🎬 🎥 🎞️

Nah, itulah 5 film animasi kesukaan anak saya dan sekaligus saya sukai. Sekali lagi, perlu pendampingan orang tua jika menonton film impor seperti ini. Ambil sisi baiknya dan jelaskan secara gamblang kepada anak tentang hal-hal tak biasa yang ditemukan di film. Misalnya di film Rio, banyak orang berbikini pada saat di pantai atau karnaval. Emaknya jadi harus belajar tentang budaya di Brasil :)

Apakah teman-teman juga suka menonton film animasi? Boleh dong disebutkan. Sebagai bahan rekomendasi nonton, euy!


Salam pecinta film animasi,








#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan
#Day10
#TentangFilmKesukaanAnak




December 09, 2018

Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bandung: Siap Berkarya untuk Bangsa

by , in

Wisuda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut berarti peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat. Tanyakan kepada (khususnya) para mahasiswa, betapa mereka merindukan agenda tersebut. Memang kata wisuda hanya terdiri atas 6 huruf, pendek. Tetapi, perjuangan menuju ke sana biasanya memakan waktu yang lumayan panjang. 

Saya dan suami pernah merindukan saat-saat itu. Untuk meraihnya, bahkan kami harus sambil bekerja. Waktu itu, kami adalah perantau yang sedang berjuang di tanah Batam. Alhamdulillah, urusan kami dimudahkan-Nya hingga kami pun bisa merasakan debaran hati yang sama seperti para wisudawan/wisudawati pada umumnya.

Maka, saat kemarin ada tawaran untuk melakukan liputan wisuda secara online, saya tentu saja tidak keberatan. Saya memang tidak bisa hadir di tempat dilangsungkannya wisuda, tapi kecanggihan teknologi telah memudahkan tugas yang saya emban. Ada teman-teman blogger Joeragan Artikel yang mengabarkan langsung dari gedung tempat dilangsungkannya wisuda. Ditambah info dari instagram story. Lengkap.

Teman-teman blogger Joeragan Artikel yang meliput secara offline

Ya, saya menulis ini untuk menyebarkan kebahagiaan. Untuk ikut mengabadikan syukur yang dirasakan para mahasiswa yang telah selesai menunaikan tugas belajarnya. Sekaligus untuk menyampaikan informasi bahwa ada kampus swasta yang cukup bagus kiprahnya di negeri ini.

Profil Singkat STT Bandung

Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STT Bandung) resmi berdiri pada tanggal 5 Oktober 1991, dengan Nomor SK Dirjen DIKTI No: 197/DIKTI/Kep/1992. Saat ini, STT Bandung memiliki tiga jurusan yaitu Strata-1 Teknik Industri, Strata-1Teknik Informatika, dan Strata-1 Desain Komunikasi Visual.

Adapun kepengurusan terbaru STT Bandung (tahun 2015 sampai dengan sekarang) adalah sebagai berikut:
Ketua : Muchammad Naseer, S.Kom., M.T
Puket 1 : Danny Aidil Rismayadi, S.Si, M.Kom
Puket 2 : Agus Rahmat H., SH., MM
Puket 3 : Indra Julias, S.Kom
Ketua Jurusan Teknik Industri : Teguh Aprianto, S.T., M.T
Ketua Jurusan Teknik Informatika : Nova Agustina, S.T
Ketua Jurusan Desain Komunikasi Visual : Fajar Ahmad Faizal, S.Sn, M.M



Jumlah tenaga pengajar STT Bandung saat ini berjumlah 120 orang. Dari jumlah tersebut, 96%-nya sudah berijazah Strata-2. Untuk terus meningkatkan kualitas, STT Bandung mentargetkan 70% dosen-dosennya sudah memiliki gelar Strata-3 pada tahun 2019 nanti. Mantap!

Sekolah Tinggi yang website-nya bisa dikunjungi di www.sttbandung.ac.id ini mempunyai visi menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing dan unggul secara nasional pada tahun 2020. Wah, kurang dua tahun lagi. Membaca sepak terjangnya, visi tersebut mudah-mudahan bisa diraih tepat waktu. Aamiin.

Pada tahun 2018, STT Bandung telah menerima 1.250 orang mahasiswa baru. Ada peningkatan jumlah mahasiswa baru sebanyak 20% dari tahun sebelumnya. Nah, dari jumlah tersebut, 75 %-nya berasal dari Jawa Barat. Sedangkan sisanya berasal dari luar Pulau Jawa. Bahkan ada mahasiswa yang jauh-jauh datang dari Qatar, Malaysia, dan Timor Leste untuk menuntut ilmu di STT Bandung.

Bagi teman-teman yang ingin tahu lebih jauh tentang Sekolah Tinggi ini, silakan kunjungi kampusnya yang beralamat di: 
Jl. Soekarno Hatta No.378 Bandung 40235 
Phone. (+6222) 522 4000 
Fax. (+6222) 520 9272 
Hp. +6281 2222 55 777 
Email: info@sttbandung.ac.id

Wisuda ke-13 yang Penuh Makna

STT Bandung menyelenggarakan wisuda ke-13 pada hari Sabtu, tanggal 8 Desember 2018 kemarin. Prosesi wisuda tersebut bertempat di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink, Bandung. Karena tidak diselenggarakan di kampus, ini benar-benar mengingatkan pada wisuda suami saya yang kebetulan dulu juga berkuliah di sebuah Sekolah Tinggi.

Ada sejumlah 183 orang wisudawan/wisudawati yang dilantik. Mereka terdiri dari 77 orang Sarjana Teknik Informatika dan 106 orang Sarjana Teknik Industri. Tentu saja mereka didampingi oleh keluarganya, baik orang tua maupun anak-istri. Karena sebagian mahasiswa STTB memang ada yang sudah bekerja dan berkeluarga. Salut, karena masih bersemangat untuk belajar.


Sesuai dengan undangan yang dibagikan, susunan acara wisudanya adalah sebagai berikut:
1. Pembukaan
2. Lagu Indonesia Raya
3. Laporan Ketua STT Bandung
4. Sambutan-Sambutan
5. Orasi ilmiah
6. Pembacaan SK Ketua STT Bandung
7. Pelantikan Wisudawan
8. Penandatanganan MoU
9. Penyampaian Kesan dan Janji Wisudawan
10. Pembacaan Doa
11. Penutupan Sidang Senat Terbuka
12. Ramah Tamah

Prestasi Mahasiswa dan Dosen yang Membanggakan

Pada sesi laporan Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., M.T menjelaskan tentang prestasi mahasiswanya. Menurut beliau, rata-rata alumni mahasiswa STT Bandung 'hanya' memerlukan waktu tunggu 45 hari untuk memasuki dunia kerja maupun menjadi wirausahawan. Ini disebabkan tingginya permintaan tenaga kerja dari berbagai sektor industri dan instansi, baik di wilayah Jawa Barat ataupun dari luar daerah.

Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom, M.T (dok. Eva Sri Rahayu)

Lalu, ada beberapa mahasiswa yang mengikuti program internship di Taiwan selama 6 bulan. Internship adalah suatu program yang disiapkan oleh perusahaan untuk para lulusan baru -maupun yang akan lulus- dari institusi pendidikan yang belum memiliki pengalaman kerja. 

Selama di sana, mereka menerima gaji yang jumlahnya 4-6 kali lipat dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) di Bandung. Lebih mantap lagi karena para mahasiswa itu memperoleh kesempatan untuk melanjutkan kuliah mereka ke jenjang Strata-2 di Jepang atau Taiwan, berbekal pengalaman internship tersebut.

Ada juga capaian prestasi hasil kolaborasi dosen dan mahasiswa berupa produk inovasi teknologi yang diberi nama Smart Kitchen System. Produk ini dipamerkan dalam ajang "Inovator Inovasi Indonesia Expo" yang diselenggarakan di Yogyakarta pada bulan Oktober 2018 lalu. Keren, produk inovasi tersebut berhasil lolos sebagai calon perusahaan pemula berbasis teknologi Perguruan Tinggi untuk tahun ini. 

Para Wisudawan yang Menawan

Tibalah pada puncak acara yaitu pelantikan wisudawan. Wajah-wajah lega penuh haru dan bangga itu pun maju satu per satu ke atas panggung utama. Diumumkan pula para wisudawan terbaik, yaitu:
• Iin Indrayani, S.Kom (S-1 Teknik Informatika)
• Srikanti Astuti, S.T (S-1 Teknik Industri)

Dua wisudawan terbaik

Disebut pula nama Tina Sri Handayani, S.Kom sebagai mahasiswa penyandang disabilitas yang berprestasi dalam bidang olahraga. Gadis itu berhasil menyabet tiga medali pada Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) V tahun 2018, yaitu: Medali Emas di cabang olah raga lari 200 meter, Medali Perak di cabang olahraga lompat jauh, dan Medali Perunggu di cabang olahraga lari 100 meter. Sungguh menginspirasi!

Tina Sri Handayani, S.Kom

Tentu saja wisudawan yang lain tetap boleh berbangga karena mereka pun telah berhasil melewati ujian mereka masing-masing. Rasa lega itu tampak saat Tina Sri Handayani mewakili teman-temannya untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan dari keluarga mereka selama ini. Menurut teman-teman blogger yang hadir di sana, sesi ini sungguh mengharukan.




Selamat Berkarya untuk Bangsa

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) menjadi agenda berikutnya. STT Bandung menjalin nota kesepahaman dengan pihak-pihak seperti: PT. Pos Indonesia, Bank Sampah Bersinar, Universitas Nasional PASIM, PT. SLU, CMYK, dan Hungchi Taiwan. Ini menunjukkan langkah awal STT Bandung yang lebih serius dalam sebuah kontrak atau perjanjian yang lebih mengikat dengan pihak-pihak tersebut.



Akhirnya, selamat dan sukses untuk para wisudawan STT Bandung. Wisuda bukanlah garis finish, tapi justru garis start untuk memulai tantangan kehidupan yang sesungguhnya. Bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga, lebih jauh lagi: untuk kemajuan bangsa.


Selamat mengamalkan ilmu dan semoga tidak bosan untuk terus berburu ilmu dimana pun berada. Baarakallahu fiikum 😊


Salam,