Read, Write, Think, Thankful

Sawo Matang Haruskah Jadi Bengkuang?




Putih itu cantik. Anda setuju? Saya setuju. Hal yang pertama kita tangkap saat melihat seseorang adalah wajahnya. Ada standar kecantikan yang tertanam di alam bawah sadar bahwa perempuan cantik salah satunya adalah yang mempunyai kriteria tersebut. Walaupun saya tidak menghadirkan persentase penilaian tentang ini, iklan produk kecantikan yang menampilkan sosok perempuan berkulit putih bisa mewakilinya. Hampir tidak pernah saya jumpai produk kecantikan yang bintang iklannya berkulit gelap. Ada yang tahu kenapa? Menurut saya pribadi, perempuan berkulit putih memang cocok mengenakan busana dengan warna apa pun. Padu padan make-up juga lebih fleksibel pilihan warnanya bagi mereka. 




Ini bukan berarti bahwa perempuan yang berkulit lebih gelap tidak cantik lho, ya. Sawo matang itu cantik juga lah. Lha wong saya sendiri sejak lahir dikaruniai kulit sawo matang dan suami saya mengakui kecantikan saya, hehe. Saya tetap mensyukuri karunia itu.  Jadi teringat saat saya masih duduk di bangku SD dulu. Saya diejek seorang teman dan akhirnya... menangis. Katanya saya ini item, hehe. Enak saja. Coklat kok dibilang hitam. :D Ya, hanya sekali itu saja. Selanjutnya... woles aja sih saya. Problem kulit yang pernah membuat saya tidak percaya diri saat remaja adalah jerawat, tapi bukan soal kulit sawo matangnya.



Mensyukuri Warna Kulit

Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa warna kulit adalah takdir dari Allah Ta’ala yang harus diterima dan pasti ada kelebihan di baliknya. Nah, punya kulit sawo matang itu harus disyukuri, karena faktanya kulit sawo matang memiliki kandungan melanin lebih banyak. Melanin adalah pigmen penghasil warna kulit yang terdapat pada lapisan epidermis kulit. Dengan kandungan yang lebih banyak, pemilik kulit sawo matang bisa lebih tahan terhadap paparan sinar matahari secara langsung. Singkatnya, efek jangka pendek seperti sunburn (kulit yang terbakar) bisa dihindari. Fungsi lain dari melanin adalah untuk menangkal sinar ultra violet sehingga kanker kulit bisa diminimalisir. Radikal bebas penyebab kerusakan sel? Ini juga bisa ditangkis oleh kandungan melanin yang lebih banyak terdapat pada kulit sawo matang. Alhamdulillah. Tuh, gimana gak bersyukur jadinya?
  
Perlukah Memakai Produk Pemutih?

Jika mencermati iklan produk kecantikan yang berseliweran di televisi, sebagiannya mengajak para perempuan untuk memiliki kulit yang lebih putih. Mulai dari facial foam sampai dengan day cream dengan label whitening, semuanya menawarkan hasil berupa kulit yang lebih putih dari sebelumnya. Nah, cara kerja produk-produk tersebut adalah dengan melawan proses produksi melanin alami sehingga kadar melanin pada kulit menjadi berkurang. Dengan berkurangnya kadar melanin, warna kulit menjadi lebih cerah. Minusnya, karena kadar melanin berkurang ya bersiap-siap saja dengan resiko sunburn sampai pada dampak buruk sinar ultra violet yang menembus lapisan kulit.




Saya sendiri biasa-biasa saja terhadap tawaran produk pemutih seperti di atas. Tidak anti, tapi juga tidak memakai yang serba whitening. Produk whitening yang pernah saya pakai adalah pelembab dan facial foam yang memang cocok untuk kulit saya. Saya pernah membaca bahwa prinsip perawatan kulit itu sebenarnya adalah untuk mendapatkan kulit yang sehat dan bersih, jadi tidak sekedar putih. Maka sebelum membelinya, saya memastikan bahwa produk tersebut tidak mengandung bahan-bahan berbahaya yaitu sudah terdaftar sebagai produk kosmetik aman di Badan POM RI. Jangan sampai deh ada kandungan merkuri, hidrokinon, kortikosteroid, dan rhododenol pada produk whitening yang kita pilih. Selain itu, karena saya seorang muslimah maka penting juga ada label halal dari LPPOM MUI pada produknya.




Beberapa saat yang lalu saya melihat sebuah iklan produk facial foam di televisi yang menarik bagi saya. Tak lain karena para bintang iklannya memiliki warna kulit yang berbeda-beda; putih, kuning langsat, sawo matang, dan agak hitam. Mereka semua tampil percaya diri dengan warna kulit masing-masing. Ada yang tahu itu iklan apa? Hehe, saya tidak bermaksud mempromosikan produk mereka lho, ya. Tapi sungguh saya mengapresiasi ide dari iklan itu. Dan seharusnya demikianlah yang kita tampilkan sebagai perempuan; beauty in diversity. Semua perempuan berhak menjadi cantik dan lebih bagus lagi jika ada inner beauty yang menyertai kecantikan fisiknya. Setuju?



Salam cantik,






Tulisan ini diikutsertakan dalam program Tantangan #SatuHariSatuKaryaIIDN


Sumber gambar: pixabay
Sumber video: clear 'n clear 

4 comments:

  1. Setuju, Mbak..
    Saya di rumah paling gelap dibanding kaka-kaka saya..Mereka berkulit terang semua.
    Tapi saya bersyukur saja dan nggak perlu untuk merubahnya jadi putih ,,,kuatirnya nanti malah kalau pulang enggak ada yang ngenalin lagi hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe, tapi Mbak Dian kok keliatan putih, ya? Intinya mang terima yang udah ada dan rawat sebaik-baiknya, ya kan?

      Delete
  2. kalau saya sekarang sih targetnya biar wajah nggak kusam aja. beberapa waktu lalu sempat bete lihat muka kusam dan kering. akhirnya mulai rutin perawatan yang benar alhamdulillah sih sekarang merasa nggak terlalu kusam lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener itu, Mbak. Gak kusam berarti harus melakukan perawatan rutin. Itu praktik dari rasa syukur kita 😊

      Delete