My Lifestyle, My Journey, My Happiness

February 28, 2018

[Review] Jalani, Nikmati, Syukuri: Karena Hidup Ini Indah dan Hanya Sekali

by , in

“Jangan Lupa Bahagia”

Tiga kata itu sudah kerap terdengar di telinga saya sejak lama. Singkat tapi penuh makna. Ya, jangan sampai lupa. Sebuah pesan yang mengingatkan kita bahwa bahagia itu sebenarnya berada di sekitar kita. Ia sangat dekat dengan kita, seumpama dekatnya kita dengan aktivitas harian seperti makan dan minum. Kita pasti makan dan minum setiap hari dan tidak melupakan itu. Lalu, kenapa kita kadang lupa untuk merasa bahagia setiap harinya?

Nah, tiga kata itu menjadi tagline dari sebuah buku bersampul merah cerah yang ditulis oleh Pak Dwi Suwiknyo; Jalani, Nikmati, Syukuri. Adakah yang belum mengenal beliau? Beliau adalah seorang penulis buku dari Yogyakarta, sekaligus trainer kepenulisan di Pesantren Menulis (Trenlis). Setelah sukses menulis beberapa buku best seller seperti Ubah Lelah Jadi Lillah, kini beliau hadir lagi dengan tema yang hampir sama di buku ini. Bisa dikatakan, Jalani, Nikmati, Syukuri adalah Ubah Lelah Jadi Lillah versi mini. Serupa tapi tidak benar-benar sama.


Buku setebal 259 halaman ini tidak terbagi dalam bab-bab, tetapi langsung menghadirkan judul-judulnya. Ada 50 judul tulisan yang menghadirkan kata-kata motivasi yang dibumbui pesan-pesan religi. Jadi, tidak hanya quotes bagus yang ditemui di dalamnya tapi bertaburan juga ayat Alquran dan hadits sebagai rujukannya. Dikemas dengan gaya bahasa yang rileks, seakan penulis sedang mengajak pembacanya untuk berbincang sambil merenungkan berbagai kejadian dan hikmah di belakangnya. Tulisan-tulisan tersebut membentuk pesan seperti di atas: jangan lupa bahagia. Caranya? Tentu saja dengan Jalani, Nikmati, Syukuri kehidupan yang dianugerahkan Ilahi ini.

Jalani Saja, Akan Selalu Ada Cara
“Kita memang tidak bisa memilih bagaimana cara kita memulai hidup ini, tetapi kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan bagaimana cara kita menikmati hidup ini, dan bagaimana cara kita menyikapi hasilnya.” (halaman 10)



Kita tidak bisa menolak jika Allah Ta’ala menakdirkan kita terlahir dari orang tua yang tidak mampu. Sebuah kisah berhikmah berjudul “Belajar Menerima” di buku ini mengajak pembaca untuk tidak berputus asa dalam mengubah nasib menjadi lebih baik. Ya, karena kemiskinan dan ketidak beruntungan bisa diubah dengan kerja keras, kesabaran, dan doa. Ada kasih sayang Allah Ta’ala di baliknya agar kita menjadi hamba yang kuat dalam menaklukkan ujian kehidupan. Maka jangan sampai kita berburuk sangka atas ketetapan-Nya. Jalani saja dan terus pikirkan cara terbaik dalam melaluinya.

Nikmati Risikonya, Rasakan Sensasinya
Selain berisi kisah seperti di atas, buku ini juga berisi tips singkat yang dikemas dalam beberapa nomor. Pembaca dapat langsung mengambil poin-poin yang ingin disampaikan penulis begitu selesai membaca tips-nya. Di antara tips yang dihadirkan adalah tentang “Berani Ambil Risiko”. Ya, karena sebagian keraguan atau ketidak beranian kita dalam mengambil keputusan adalah karena risiko setelahnya.



“Tetapi coba kita melihat risiko dari sudut pandang yang berbeda. Seperti apa itu? Bisnis yang gagal ialah bisnis yang tidak menguntungkan. Begitulah kebanyakan orang pahami. Namun, bisa jadi itu bukanlah kegagalan, melainkan keberhasilan. Kok berhasil? Sebab, dengan gagalnya bisnis justru mendekatkannya kepada Allah. Bisa jadi kalau bisnis sukses justru menjauhkan dirinya dari Allah. Justru itu kegagalan dunia-akhirat.” (halaman 190)

Syukuri, Maka Bahagia pun Menanti
“Apakah bahagia itu bersyarat? Bila iya, cukuplah rasa syukur sebagai syaratnya.” (halaman 239)


Berbagai permasalahan hidup yang berkaitan dengan pekerjaan, bisnis, rezeki, kesehatan, kuliah, jodoh, dan  keluarga sering kali membuat kita ingin menyerah. Terasa sulit dan menghimpit. Dalam kondisi demikian, bagaimana mungkin bahagia bisa dirasakan? Padahal jika kita mau memperbaiki keyakinan kita kepada-Nya, pasti segalanya akan baik-baik saja. Ya, bahagia bisa datang dari penerimaan kita yang tulus atas ketetapan-Nya. Syukuri dulu kondisinya, berusaha sekuat tenaga bertahan, dan jangan pernah lupakan kekuatan doa.


Menurut saya, buku ini bisa dinikmati oleh berbagai kalangan, baik remaja atau pun dewasa. Saya menyukai tampilan isi bukunya yang ceria (mayoritas dihiasi warna biru muda), juga ukuran font-nya yang cukup besar sehingga nyaman di mata. Ada tambahan komik strip di beberapa bagian buku ini, sebagai penegas dari kisah yang disampaikan. Sayangnya, tidak terdapat daftar isi di dalamnya sehingga saya harus membuka-buka secara acak dulu jika ingin mencari bahasan tertentu. Nilai yang ingin saya berikan untuk buku ini adalah 4 bintang dari 5 bintang. Semoga bermanfaat, ya.

Info Buku:
Judul Buku: Jalani, Nikmati, Syukuri
Genre Buku: Non Fiksi (Motivasi-Religi)
Penulis: Dwi Suwiknyo
Penerbit: Noktah (DIVA Press Group)
Cetakan: ke-1, Januari 2018
Tebal Buku: 259 halaman
ISBN: 978-602-50754-5-2




Salam bahagia,


February 19, 2018

Agrowisata Petik Jeruk Dau, Surganya Jeruk di Malang

by , in

Membeli jeruk di pasar atau supermarket pasti sudah sering kita lakukan. Bagaimana dengan memetik jeruk langsung dari pohonnya? Bagi mereka yang memiliki pohon jeruk di rumahnya atau bahkan kebun jeruk, tentu itu mudah saja dilakukan. Nah bagi yang tidak memiliki keduanya tapi ingin merasakan memanen jeruk dengan riang gembira, datang saja ke Agrowisata Petik Jeruk di desa Selorejo, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Saya sekeluarga sudah pernah merasakan berada di tengah-tengah surga jeruk itu. Sungguh mengasyikkan!

Pada suatu pagi yang cukup cerah, kami sekeluarga menuju ke desa wisata petik jeruk tersebut. Letaknya sekitar 23 kilometer dari rumah menuju ke arah utara, dengan jarak tempuh kira-kira 48 menit. Tapi karena saat itu jalanan padat merayap, kami baru sampai di lokasi yang terletak di jalan Watu Gede RT 01/RW 01 desa Selorejo itu sekitar satu jam kemudian. Jalan desa yang tidak terlalu lebar menyebabkan bus tidak bisa masuk ke sana. Maka calon pengunjung disarankan untuk menaiki mobil atau motor untuk masuk ke lokasi Agrowisata itu.


Untuk bisa memetik jeruk dan memakannya sepuasnya di tempat, kami harus membayar tiket masuk seharga Rp 20.000 per orang. Jika ingin membawa pulang jeruk-jeruknya, cukup membayar Rp 5.000 per kilo. Sebuah harga yang murah meriah untuk ditukarkan dengan kegembiraan saat menyatu dengan alam. Ya, karena konsep Agrowisata Petik Jeruk Dau ini alami berupa kebun-kebun jeruk terbentang yang dimiliki warga desa. Menurut salah satu informan, luas keseluruhan kebun jeruk adalah 240 hektar.



Begitu masuk desa Selorejo ini, kami langsung disuguhi pemandangan menakjubkan; hamparan hijau pohon jeruk yang berpadu dengan butir-butir jeruk berwarna kuning. Sungguh menyegarkan mata dan pikiran. Nah, ada 4 jenis jeruk yang ditanam di desa tersebut yaitu jeruk Baby Java, jeruk Baby Valencia, jeruk Baby Pacitan, dan jeruk Keprok Batu 55. Jeruk Baby biasanya dijadikan jeruk peras karena menghasilkan banyak air dan rasanya manis. Disebut dengan jeruk Baby karena air perasannya yang relatif bersih dari serat buah ini bisa diberikan untuk bayi tanpa khawatir si kecil merasakan rasa masam. Sedangkan jeruk Keprok Batu 55 adalah jenis jeruk kupas yang jika sudah matang akan berwarna kuning dan rasanya manis. Jeruk yang bibit asalnya dari kota Batu ini merupakan produk buah lokal unggulan yang lumayan dikenal di Indonesia.

Jeruk Baby Java (IG @petikjerukmalang)

Jeruk Keprok Batu 55 (IG @wisatapetikjerukselorejo)

Alangkah senangnya bisa berjalan di tengah-tengah rimbunnya pohon jeruk. Udara dataran tinggi yang cukup sejuk menjadi lebih sejuk lagi karena oksigen yang dihasilkan pohon-pohon itu seperti memanjakan paru-paru kami. Sambil memetik jeruk, saya sekeluarga sesekali berfoto di sana. Tentu saja banyak spot yang instagrammable yang sayang untuk dilewatkan. Saya pun berdecak kagum dengan ketelatenan para penduduk desa dalam merawat kebun mereka sehingga buah jeruknya bisa sebagus itu. Lalu dari ‘hobi’ mereka tersebut, uang seakan datang sendiri menghampiri dengan banyaknya pengunjung yang datang silih berganti. Salut.

Mau bawa pulang jeruk yang dipetik? Boleh. Ditimbang dulu (IG @wisatapetikjerukselorejo)

Setelah puas mencicipi jeruk-jeruk manis nan menyegarkan itu, kami membawa keranjang berisi jeruk yang kami petik ke arah depan kebun. Di sana ada pemilik kebun yang ramah dan siap melayani kami. Oh iya, selain ‘menunggu bola’, para pemilik kebun jeruk itu juga ‘menjemput bola’ dengan menjual jeruk-jeruk mereka ke luar daerah dengan harga yang cukup bersaing. Biasanya penjualan mereka meningkat pesat saat panen raya di bulan Juli. Wah, belum panen raya saja jeruk-jeruknya sudah melimpah ruah begitu. Apalagi kalau panen, ya.
Afra asyik memetik jeruk. Kapan-kapan ke sana lagi ya, Nak ^^

Saya sekeluarga pulang ke rumah dengan perasaan lega. Capeknya kaki karena berjalan-jalan tadi baru terasa. Saat berada di sana, berkeliling kebun rasanya senang saja. Sesuatu yang indah memang bisa mengalihkan penatnya raga. Insya Allah, suatu hari saya ingin kembali lagi ke sana. Menikmati indahnya desa dan damainya surga.


Salam pecinta keindahan,

February 18, 2018

Mewaspadai Predator Anak yang Kian Marak

by , in

Awal Maret 2017 yang lalu, desa kami dihebohkan oleh sebuah kasus penangkapan predator anak bernama Mudofir. Ia adalah seorang karyawan di sebuah usaha rumahan yang tega mencabuli anak majikannya, tapi perbuatan itu segera diketahui oleh ibu korban alias majikannya sendiri. Tak ayal, si pelaku segera diamankan oleh pihak kepolisian. Kejadian ini segera menimbulkan kehebohan yang lain karena ada ‘kejutan’ lanjutannya. Ternyata si pelaku telah berbuat serupa terhadap 4 anak kecil yang lain tapi tidak ketahuan. Yaa Rabbi...

Kejadian itu meninggalkan rasa ngeri di benak para orang tua di desa kami. Ancaman dari para predator anak sudah sedemikian dekatnya. Sebelumnya saya hanya menyaksikan kejadian-kejadian yang sama di berita  televisi atau portal berita online. Misalnya saat penangkapan predator anak di Jakarta International School dulu. Tapi kini, lokasi kejadiannya hanya berjarak 3 RT dari tempat tinggal saya. Si pelaku bukan penduduk asli desa kami, jadi motif perbuatan atau kebiasaannya tidak teramati sebelumnya.
Berita tentang kasus predator anak didesa kami

Selain ngeri, tentu saja para orang tua merasa marah. Anak-anak yang seharusnya dilindungi dan mendapat limpahan kasih sayang justru dijadikan pelampiasan nafsu binatang mereka. Ya, predator adalah julukan yang tepat bagi para pedofil karena awalnya itu adalah sebutan untuk binatang yang memangsa binatang yang lain. Pedofilia, sebuah kelainan psikoseksual yang mereka idap itu memiliki kecenderungan seksual terhadap anak-anak. Mengutip situs National Geographic, biasanya pedofil akan memangsa anak-anak yang dikenalnya. Modusnya mulai dari memaksa, mengancam, membohongi, menipu, atau dengan cara halus seperti membujuk dan memberi iming-iming hadiah.

Wah, jadi harus lebih waspada, nih. Walaupun tidak harus selalu curiga dengan orang dewasa yang dekat dengan anak kita, sih. Agar tidak parno, berikut ini beberapa ciri khas seorang pedofil:
  • Memiliki fantasi atau keinginan seksual terhadap anak-anak.
  • Seorang pedofil lebih suka dan lebih nyaman ditemani oleh anak-anak.
  • Umumnya ia adalah orang yang terkenal di kalangan anak-anak di sekitar tempat tinggalnya.
  • Walaupun tidak selalu, pedofil umumnya adalah pria bertipe maskulin dan berusia sekitar 30-an tahun.

Faktor yang Menyebabkan Seseorang Menjadi Pedofil

1. Kelainan Otak dan Perbedaan Neurologis

Menurut para ahli ada perbedaan dalam struktur otak mereka yaitu pada bagian frontocortical, jumlah materi abu-abu, unilateral, bilateral lobus frontal dan lobus temporal dan cerebellar.

Kelainan otak pada pedofil inilah yang mendorong ia melakukan tindakan bejat tersebut. Kita yang normal masih bisa membedakan dan menahan diri, tapi mereka tidak. Ya, biasanya pedofil memiliki tingkat kecerdasan yang lebih rendah dibandingkan manusia pada umumnya. Sehingga ia memilih korban pelampiasan yang berusia jauh lebih muda darinya. Kelainan otak tersebut bisa terjadi sejak bayi atau dalam kandungan ketika otak sedang terbentuk. Bisa juga karena mereka pernah menderita luka di kepala yang cukup parah saat masih kecil, terutama sebelum usia enam tahun.

2. Faktor Lingkungan

Seorang anak yang pernah mengalami pelecehan seksual saat belia dan traumanya tidak disembuhkan, maka ia akan tumbuh dengan perilaku seksual menyimpang. Ini adalah sebuah ‘guncangan’ dalam bentuk lain yang mempengaruhi perkembangan otaknya. Salah satu jalan berpikirnya adalah ia ingin menunjukkan perlawanan dan merasa kuat saat dewasa. Dulu saat masih anak-anak ia tidak berdaya saat ‘dikerjain’, maka kini saatnya ‘membalas dendam’ dan membuktikan. Duh, ‘lingkaran setan’ yang harus diputus, nih.

3. Tumbuh Kembang Anak

Ini berkaitan dengan dua faktor sebelumnya, dimana kelainan otak ‘alami’ maupun karena trauma bisa menghambat tingkat berpikir anak sehingga ia memiliki tingkat Intelligence Quotient (IQ) yang lebih rendah dari anak lain. Nah, kita sebagai orang tua diingatkan bahwa IQ tetap penting walaupun bukan yang terpenting. 

Anak-anak kita, harapan ummat dan harapan bangsa yang harus dijaga

Hukuman untuk Pedofil

Para pedofil yang berbuat kejahatan seksual tentu saja harus dihukum sesuai peraturan yang berlaku. Apalagi ada di antara mereka yang tega membunuh korbannya. Masih ingat kasus Angelin, anak kecil cantik dari Bali yang malang itu? 😭  Untuk yang sesadis itu, hukuman mati pantas bagi para pedofil.

Berderet sanksi sudah menunggu, seperti yang tertuang dalam peraturan berikut ini:
  • Undang-Undang No 23/2002 tentang Perlindungan Anak yang sudah direvisi melalui UU No 35/2014.
  • Undang-Undang No 11/2012 tentang Sistem Peradilan Anak.
  • Undang-Undang No 10 Tahun 2012 tentang Pengesahan Protokol Opsional Konvensi Hak-Hak Anak tentang Penjualan Anak, Prostitusi Anak, dan Pornografi Anak.
  • Instruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2014 tentang Gerakan Nasional Antikejahatan Seksual Terhadap Anak.

Dikaji juga pemberian hukuman kebiri kimiawi yaitu metode suntik untuk mengendalikan dan mengurangi libido seksual para pedofil. Metode ini sudah diterapkan di banyak negara seperti Polandia, beberapa negara bagian di Amerika Serikat, Korea Selatan, Denmark, dan Swedia.  Sepanjang yang saya ketahui, masih ada pro kontra juga terkait ini karena biaya kebiri kimiawi ini lumayan mahal untuk sebuah hukuman yaitu berkisar antara tujuh ratus ribu sampai satu juta rupiah sekali suntikan. Padahal masa efektif suntikan tersebut hanya bertahan satu sampai tiga bulan.

Jangan Sampai Anak Kita Menjadi Korban

Berikut langkah-langkah pencegahan agar anak kita jangan sampai menjadi korban. Nauzubillah…
  • Dimulai dengan senantiasa memperbaiki kedekatan kita kepada anak sehingga kita lah yang dipercaya oleh anak, bukan orang lain. Beberapa pedofil memanfaatkan kelengahan orang tua yang kurang memperhatikan anak-anak mereka. Lalu mulailah mereka melancarkan bujukan dan rayuan mautnya.
  • Ajari anak untuk berpakaian sopan sejak dini, baik di dalam atau di luar rumah. Memakai kaus dalam dan celana pendek saja? Noway! Ajari juga tentang sentuhan berbahaya yang tidak boleh dilakukan orang lain kepadanya.
  • Batasi untuk mengekspose anak di media sosial. Ya, kadang kala maksud orang tua untuk menunjukkan kelucuan anak di media sosial bisa menjadi bumerang. Masih ingat dengan jaringan pedofil yang hobi mengumpulkan foto anak-anak yang memakai kaus singlet saja? Mungkin fisik anak tidak disentuhnya, tapi relakah kita jika anak kita dijadikan obyek fantasi seks mereka? Bukan tidak mungkin jika pelakunya berjarak dekat, si anak akhirnya dijadikan sasaran.
  • Dan yang tidak kalah penting tentu saja adalah doa. Kita hanyalah orang tua biasa yang pada dasarnya sangat kurang ilmu dan selalu berharap bimbingan Allah untuk menjaga amanah-Nya itu. PR kita memang berat di akhir zaman ini, tapi insya Allah kekuatan doa akan menguatkan kita.

Pedofilia sebenarnya bisa diobati jika pengidapnya menyadari kecenderungan negatif itu dan mau berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Ia harus segera mencari psikolog atau psikiater untuk menjalani psikoterapi dan mendapatkan resep obat untuk penyakit seksual abnormalnya itu. Bimbingan dari para ustaz juga perlu untuk mengisi kekosongan jiwanya dan menyadarkannya akan perbuatan dosa itu. Ya, karena Islam sebenarnya telah memberi jalan untuk menyalurkan hasrat di jalan yang halal melalui lembaga pernikahan. Itulah jalan fitrah yang indah. Semoga kita sekeluarga senantiasa berada di atas fitrah itu dan selamat dunia akhirat. Aamiin.

Salam,





Tulisan ini diikutsertakan dalam program Postingan Tematik bulan Februari 2018 oleh Blogger Muslimah indonesia

Referensi:
national geographic.com
republika.co.id

Sumber gambar: pixabay






February 04, 2018

Ibu Siaga Selalu Sedia Kotak P3K

by , in


Cerita ini seharusnya saya tuliskan setahun yang lalu. Tapi karena saat itu saya vakum ngeblog, jadinya baru terealisasi sekarang. Ada pilihan sub tema yang sesuai untuk saya pada program tantangan #SatuHariSatuKaryaIIDN yang memasuki hari terakhir ini yaitu tentang isi dari kotak P3K. Ya, kotak P3K atau Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan itu tersedia di rumah saya dengan isi yang cukup lengkap karena peristiwa berikut ini. 
February 03, 2018

Saat Sakit Datang, Saat Hikmah Didulang

by , in





Tuhan, baru kusadar

Indah nikmat sehat itu

Tak pandai aku bersyukur

Kini kuharapkan cinta-Mu

(Muhasabah Cinta, nasyid oleh EdCoustic)


Lirik nasyid di atas menjadi salah satu yang saya ingat saat saya tidak dalam kondisi sehat. Walaupun sejauh ini sakit yang saya alami sih tergolong yang biasa semacam demam, sakit kepala, batuk, atau diare. Alhamdulillah. Saya hanya pernah sekali dirawat di rumah sakit, tepatnya saat menjalani operasi sesar anak yang kedua. 
February 02, 2018

Omelet Oatmeal Beluntas, Praktis Saat Harus Bergegas

by , in


Saya sebenarnya lumayan suka memasak. Ya, hanya lumayan tapi tidak jago. Maka blog ini pun tidak banyak memuat tentang resep masakan, sekadarnya saja. Dalam keseharian pun saya cenderung memasak yang simpel dan praktis. Ditambah sekarang ada si kecil, rasanya waktu memasak saya tidak banyak. Alhamdulillah, suami saya termasuk tipe orang yang makannya tidak rewel. Beliau lebih suka makan lalapan plus sambal, sayur sop, dan sayuran sederhana lain yang menyegarkan. Jika harus memasak yang berat dan memerlukan waktu lama seperti nasi kuning dan pelengkapnya biasanya saya akan minta bantuan ibu, hehe.
February 01, 2018

Televisi Bukan Sahabat Baik untuk Anak

by , in


pixabay
Di rumah kami ada televisi, sebagaimana semua rumah di kampung kami juga memilikinya. Jika saja berkeliling pada jam primetime di malam hari ke rumah-rumah tetangga, bisa dipastikan televisi mereka sedang menyala semua. Di rumah kami? Iya, tapi tidak selalu begitu setiap malam. Biasanya ibunda saya menonton pada jam tersebut jika tidak sedang ada acara keluar rumah. Kadang beliau menonton sinetron, lebih seringnya sih menyaksikan siaran berita lokal. Jika si kecil tidur atau saya sedang menyetrika baju, saya ikut nimbrung juga untuk ngobrol dengan beliau.