My Lifestyle, My Journey, My Happiness

September 30, 2018

Sederet Kenangan tentang Batam yang Tak Terlupakan

by , in


BATAM = Bila Anda Tiba Anda Menyesal
BATAM = Bila Anda Tabah Anda Menang

Sudah delapan belas tahun berlalu, akronim di atas tetap tersimpan rapi di kepala saya. Pertama kali mendengarnya adalah saat saya dan teman-teman diberi pengarahan oleh seorang bapak dari pihak penyalur tenaga kerja. Saat itu, Agustus 2000, saya memutuskan untuk bekerja di Batam, Kepulauan Riau. Sebuah pilihan hidup yang harus saya ambil selepas lulus SMK.

Saya masih ingat, bapak itu berkata bahwa para pekerja muda biasanya kaget dan menyesal saat baru tiba di Batam. Kaget, karena kondisi Batam yang jauh berbeda dengan kampung halaman. Cuaca di sana panas menyengat, tapi hujan bisa turun dengan tiba-tiba. Masyarakatnya sangat heterogen, tidak hanya orang Melayu. Ibaratnya, perwakilan berbagai suku di Indonesia ada di sana. Adaptasi harus cepat dilakukan jika tidak ingin rasa kagetnya berkelanjutan.

Saya dan ikon kota Batam: Jembatan Barelang

Menyesal bisa pula dirasakan jika kondisi pekerjaan ternyata tidak sesuai harapan. Kota industri itu tentu saja meminta para pekerjanya habis-habisan demi target-target perusahaan. Cepat dan tepat dalam bekerja adalah rumus yang harus diterapkan jika tidak ingin ditegur mandor atau atasan. Tidak betah dan mau melarikan diri? Hoho… Sulit. Rata-rata pekerja muda direkrut dari luar Batam dengan ijazah ditahan sebagai jaminan.

Tabah. Ya, itu adalah satu-satunya jalan agar bisa menang. Baik menang karena berhasil menuntaskan pekerjaan, ataupun menang karena bisa membawa diri dan hati-hati. Bukan rahasia lagi jika pergaulan bebas dan berfoya-foya adalah godaan mematikan selepas bekerja di sana. Rasa penat, uang di tangan, dan jauh dari orang tua: ahh… bebas!

Alhamdulillah, saya terus berusaha untuk tabah. Berat di awal, tapi akhirnya bertemu kemenangan. Alhasil, episode hidup di Batam selama satu dasawarsa adalah salah satu momen hidup yang tidak akan saya lupakan. Foto-foto saat berada di Batam bercerita bahwa banyak kenangan indah yang tercipta di sana, yaitu:

1. Saya Berani Merantau

Dulu, saya adalah gadis muda pendiam yang lebih senang berdiam di rumah sepulang sekolah. Paling jauh, saya hanya pergi ke Blitar dan Surabaya. Tapi, keinginan untuk meringankan beban orang tua membuat saya memberanikan diri untuk pergi. Jauh sekali.

Berpose dengan seragam kerja di belakang perusahaan; masih banyak hutannya.

Saat itu, Batam yang berjarak sekitar 2000 kilometer dari tempat tinggal saya - Malang - adalah primadona bagi para pekerja muda. Upah Minimum Regional (UMR) yang tinggi adalah tujuan utama saya merantau ke sana. Sekali lagi, demi orang tua. Walaupun tidak ada satu pun kerabat yang tinggal di sana. Ya, saya adalah orang pertama di keluarga besar saya yang memberanikan diri terbang ke pulau yang berdekatan dengan Singapura itu.

2. Saya Menemukan Hidayah

Sungguh, bekerja di dunia industri yang menuntut serba cepat seperti robot itu berat. Apalagi sebenarnya saya adalah gadis yang tidak cerdas kinestetik. Saya berusaha mengatasi tekanan itu dengan berpikir positif; ini adalah tantangan yang pasti bisa saya taklukkan. Saya harus tabah, sebagaimana tekad saya di awal-awal bekerja.

Saya di sebuah pantai di Pulau Galang Baru

Suatu hari, saya tersadar bahwa bekerja itu harus ikhlas, tidak sekadar bekerja keras dan bekerja cerdas. Bekerja ikhlas karena Allah Swt akan bernilai ibadah sekaligus meringankan beban yang dirasa berat. Kesadaran itu semakin menguat seiring semakin seringnya saya menghadiri kajian-kajian keislaman. Pelan-pelan saya mulai menata diri dan menata hati. Saya bertekad untuk berubah menjadi lebih baik. Alhamdulillah, akhirnya saya mantap berhijab di tahun 2001.

3. Saya Bertemu Jodoh

Setelah berhijab, saya terdorong untuk menjadi aktivis remaja masjid yang berada di kawasan industri itu. Setelah bekerja dari pagi sampai sore, saya mengabdikan diri mengurus kegiatan dakwah di masjid bersama teman-teman sesama aktivis. Senang rasanya. Rasa capek setelah bekerja seakan hilang entah ke mana.

Saya dan suami saat acara Family Gathering di Palm Spring

Rasa gembira itu membuat saya memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerja. Di tahun ketiga, saya bahkan  memutuskan untuk menjadi karyawan permanen. Sebuah keputusan yang diikuti takdir saya yang lain: bertemu dengan jodoh. Dia yang awalnya adalah teman sesama aktivis remaja masjid, akhirnya menjadi teman sehidup sesurga. Insya Allah.

4. Saya Meneruskan Kuliah

Sejak awal di Batam, saya bertekad untuk menabung agar bisa kuliah di sana. Tapi saat itu belum ada universitas negeri di sana. Yang swasta? Duh, mahal sekali biayanya. Jauh pula jaraknya. Mimpi itu sempat terlupakan setelah saya asyik menjadi aktivis remaja masjid. Ya, waktu saya memang tercurahkan di sana.

Setelah menikah, keinginan itu muncul kembali. Suami yang juga lulusan SMK pun ingin melanjutkan kuliahnya. Bukankah tak ada kata terlambat untuk belajar? Akhirnya dia berkuliah di STMIK Putera Batam (sekarang Universitas Putera Batam), sedangkan saya memilih di Universitas Terbuka. Walaupun ada yang mencibir: kuliah kok di situ? Saya tersenyum saja. Saya yang belajar kok situ yang ribut? ^^

Saya harus realistis karena berat biayanya jika saya pun berkuliah di kampus suami. Yang penting bagi saya adalah bisa melanjutkan belajar di jurusan yang saya sukai: Bahasa Inggris. Tidak terlalu sulit untuk belajar secara mandiri dan sesekali di kelompok belajar (pokjar). Alhamdulillah, kami bisa lulus bersamaan. Lalu, kami memutuskan untuk resign dari perusahaan dan pulang kampung ke Malang di akhir tahun 2010.

Saya di depan kampus UT Batam. 

Harap maklum ya jika foto-foto penuh kenangan di atas berkualitas seadanya. Ya, foto-foto tersebut diambil menggunakan kamera poket. Ponsel pertama saya di tahun 2003 tentu saja masih berwujud ponsel polyphonic, belum ada kameranya. Saya baru punya ponsel berkamera saat si sulung lahir pada 7 Maret 2007.

Saat memandang foto-foto itu, saya jadi punya mimpi untuk terbang lagi ke Batam. Ingin sekali mengunjungi teman-teman yang masih berada di sana. Ingin mengunjungi tempat-tempat penuh kenangan yang pastinya sudah banyak berubah. Ingin mengunjungi tempat-tempat wisata baru yang dulu belum ada saat saya tinggal di sana.

Sambil menunggu saat itu tiba, saya harus menyiapkan ‘alat tempurnya’. Ya, apalagi kalau bukan ponsel berkamera canggih agar momen yang terbidik nantinya jauh lebih indah dari foto-foto di atas. Belakangan ini saya memang sedang merencanakan membeli ponsel pintar baru, karena ponsel pintar yang saya pakai sekarang sudah sering error.


Saya pun berunding dengan suami. Googling sana, googling sini. Survei juga ke konter ponsel. Daaan… Taraaa! Semua itu saya temukan pada ponsel pintar Huawei nova 3i


Si cantik Huawei nova 3i (sumber: consumer.huawei.com)

Ada Apa dengan Huawei nova 3i?

Ponsel pintar Huawei nova 3i dilaunching pada tanggal 31 Juli 2018 di Jakarta. Ponsel kelas menengah ini berciri khas desain yang fashionable dan berkamera ciamik, pas banget digunakan sebagai smartphone fotografi. Selengkapnya, ini dia keunggulan desain Huawei nova 3i :

Quad AI Camera

Tidak hanya dua, Huawei nova 3i dilengkapi dengan 4 kamera yang sudah mendukung Artificial Intelligent (AI) atau kecerdasan buatan. 

Nah, untuk keperluan swafoto, tersedia 2 kamera di bagian depan. Keduanya ditanam di bagian poni atau notch  yang menjorok ke dalam layar di sisi atas, mengapit earpiece. Kamera utama mempunyai resolusi 24 MP, sedangkan yang kedua adalah 2 MP. Mantap, kan?


Sumber: consumer.huawei.com

Saat kita berfoto selfie, lensa utama dan kedua bersinergi menghasilkan foto-foto keren nan menakjubkan, dengan efek bokeh yang otentik. Bokeh adalah background blur, di mana latar belakang foto tampak buram sementara subyek utama tetap tajam. Lagi ngetrend, tuh.

Di dalamnya ada algoritma beautification yang bertugas mendeteksi jenis kelamin penggunanya. So, jika  suami saya ber-selfie memakai Huawei nova 3i, hasil fotonya akan menunjukkan sosok pria yang ganteng, bukan jadi pria cantik. Hehe...

Sedangkan untuk kamera ganda di bagian belakang, masing-masing memiliki resolusi 16 MP dan 2 MP. Hasilnya? Kombinasi keduanya akan menghasilkan foto dengan tingkat kejernihan yang tinggi dan efek bokeh profesional yang tampak alami. 

Ini karena teknologi AI bertindak sebagai photography mastermind, yang dapat membedakan lebih dari 500 skenario, memilah-milahnya ke dalam 22 tipe dan melakukan optimalisasi pada tiap pengambilan gambar. Menurut Huawei, teknologi AI mereka adalah yang terbaik di industri smartphone, lho. Keren, kan?

Performa yang Menjanjikan

Bermain game dan menjalankan multitasking lainnya di saat yang sama sih bukan masalah buat Huawei nova 3i. Lancar jaya! Ini karena prosesor yang digunakan adalah Octa Core dengan chipset Hisilicon Kirin 710.


Sumber: IG @huaweimobile.id

Nah, ini juga penting, nih. Kapasitas RAM-nya 4 GB dengan internal memori sebesar 128 GB. Mau mengunduh banyak  aplikasi? Ayo aja! Foto-foto dan video yang sudah dibidik juga akan nyaman bersarang di sini. Masih kurang? Slot micro SD-nya sampai 256 GB, lho. Merdeka!

Desain Fashionable dan Cantik

Duh, tampilannya cantik, ya? Huawei nova 3i memiliki dua pilihan warna yaitu hitam dan iris purple. Nah, iris purple adalah perpaduan antara warna biru dan ungu. Jika terkena cahaya, bagian belakangnya akan lebih terlihat futuristik dan keren.

Huawei nova 3i memiliki panjang 75,2 mm, tinggi 157,6 mm, dan lebar 7,6 mm. Beratnya kira-kira 169 gram (termasuk dengan baterai). Sedangkan ukuran layarnya cukup luas yaitu 6,3 inchi dengan aspek rasio layar 19,5:9. Pas sekali dengan yang saya cari.

Smartphone Termurah di Kelasnya dengan Storage 128 GB

Setelah saya bandingkan, harga Huawei nova 3i ini paling murah lho dibandingkan dengan smartphone kelas menengah yang sama-sama berkapasitas 128 GB. Nah, ini dia! Lebih murah tapi berkualitas adalah dambaan emak-emak seperti saya.

Saya dan suami saat di Mega Wisata Ocarina



Saya membayangkan, alangkah indahnya bisa menaiki si burung besi sekeluarga menuju sebuah pulau penuh kenangan. Bandara Hang Nadim pasti akan tersenyum menyambut kami.  Akan saya ajak anak-anak ke Masjid Nurul Islam, tempat kami menikah dulu. Semoga saat itu bunga Sakura sedang bermekaran di sana.

Apa kabar Jembatan Barelang? Jembatan yang merupakan ikon Batam ini menghubungkan pulau Batam, pulau Rempang, dan pulau Galang. Pasti sekarang bertambah ramai suasananya. Lalu, secantik apa sekarang Mega Wisata Ocarina? Ah, tunggu kami datang dan berfoto bersama kalian, ya. Insya Allah.





Titip rindu buat Batam,




“Tulisan ini diikut sertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com”




September 11, 2018

[Asian Games 2018] Menghimpun Syukur, Indonesia Termasuk The Fantastic Four

by , in

Pagelaran Asian Games 2018 ke-18 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang resmi ditutup tanggal 2 September kemarin. Begitu cepatnya dua pekan berlalu. Saya masih sering ngintip hal ikhwal tentang pesta olahraga se-Asia itu di youtube. Baik menonton ulang pertandingannya atau menyimak talk show yang menghadirkan kisah perjuangan para atlet hebat kita. Belum move on, euy!

Saya rasa saya harus menulis kesan tentang Asian Games 2018, nih. Belum tentu dua puluh tahun lagi Indonesia akan jadi tuan rumahnya. Belum tentu juga jika hal itu terulang kembali, saya masih ada umur. Hiks… So, biar kenangan indah itu abadi, saya tuliskan saja di sini. Walaupun agak telat, sih. #ElapPanci

Penonton yang Bangga dan Berbahagia

Saya memang tidak ikut mempromosikan Asian Games 2018 lewat tulisan menjelang pesta olahraga tersebut berlangsung. Hanya membuat status sederhana di facebook. Eh, itu nulis juga, yak? :D  Tapi sebagai pecinta tontonan olahraga, saya tentu saja menyambutnya dengan antusias. Yeay!

Kalau boleh berandai-andai, jika saja saya masih muda dan tinggal di sekitar Jakarta atau Palembang, mau juga lah daftar jadi volunteer. Bahasa Inggris saya lumayan lah. Hehe… Bangun, Mak! Bangun! :D Kenyataannya, saya hanya bisa jadi penonton yang menyaksikan dari jauh. Tidak bisa ikut menyaksikan pertandingannya langsung on the spot.

Bukan iklan. Ini salah satu bentuk dukungan saya ;)

Tapiii… semua pasti setuju kalau penonton itu juga bagian penting dari sebuah pertandingan. Baik penonton di lapangan atau di rumah. Bayangkan kalau tidak ada penonton, stadion sepi dong! Tiket -sebagai salah satu jalan meraup keuntungan dari event- tidak ada yang membeli. Begitu juga dengan penonton di rumah seperti saya yang setiap saat mantengin siaran live di televisi. Rating official broadcaster partner-nya naik, tuh!

Penonton pastinya juga mendukung dengan doa. Ini adalah pelengkap dari usaha dan doa pemain serta para official. Itu kontribusi juga, bukan? Satu lagi, ada kebiasaan saya sebelum Asian Games dimulai. Saya banyak membeli produk-produk sponsor Asian Games 2018, seperti: susu UHT, air mineral, es krim, kopi, keripik kentang, mie instant, dll. Kebetulan beberapa di antaranya adalah brand yang memang saya pakai sehari-hari.

Nah, pihak sponsor ini sudah membayar kepada pihak penyelenggara dan berhak meletakkan logo Asian Games 2018 pada produk mereka. Membeli produk-produknya berarti ikut andil membiayai. Alhamdulillah, I did it! Ada sih yang belum terbeli sampai sekarang yaitu boneka Bhin-bhin, Atung, dan Kaka yang dijual secara resmi. Ini sebenarnya permintaan khusus penonton kecil di rumah saya. Maaf ya, Nak. Hiks… #LirikDompet

Sukses Penyelenggaraan, Sukses Prestasi

Saya tertinggal dua part saat menonton Opening Ceremony (OC) Asian Games 2018 pada tanggal 18 Agustus yang lalu. Saat itu si kecil sedang sakit dan saya pun kurang fit. Dua part yang saya maksud adalah aksi Presiden Jokowi dan Tari Ratoh Jaroe. Televisi di rumah kami baru menyala saat acara kirab negara-negara peserta berlangsung. Si kecil sudah tidur saat itu.

Upacara pembukaan yang keren! Two thumbs up! Acara yang menunjukkan keramahan dan keindahan Indonesia, juga kebudayaannya yang beraneka warna. Ada sedikit kekurangan ya wajar lah. Misalnya para penyanyi yang ber-lip sync, tapi sudah dijelaskan alasannya oleh Wishnutama, The Creative Director. So, saya langsung tidur begitu acaranya selesai.



Ternyata dua part yang saya lewatkan di atas malah menjadi viral keesokan harinya. Saya menonton ulang OC dari awal di youtube. Eh, ada Pak Jokowi beraksi. Saat motornya terbang, saya langsung berpikir bahwa beliau memakai stuntman. Gini-gini, saya juga tahu lah behind the scene-nya film-film laga. Tidak menyangka jika banyak orang yang nyinyir kalau aksi Pak Jokowi itu pencitraan. Waduh!

Ini bukan berarti saya cebong, yak. Kampret? Bukan juga. Saya manusia seutuhnya, dong! Saya adalah warga negara yang terus belajar menempatkan sesuatu sesuai porsinya. Saya heran, itu kan semacam film pendek yang menunjukkan kreativitas. Pesan-pesan kebaikan di dalamnya layak diapresiasi menurut saya. Kalau pun ingin mengkritik, sesuai koridornya, dong. Jangan dikit-dikit semua hal diseret ke arah politik praktis. Ribut terus nanti jadinya. Yekan?

Next, Tari Ratoh Jaroe-nya amazing! Awalnya saya mengira itu Tari Saman, ternyata beda. Pesan keramahannya dapet, atraksinya keren. Selain membentuk pola-pola, para penarinya bisa cepat berganti kostum. Para penari tersebut memakai penutup berwarna-warni di bagian depan tubuh sebanyak tujuh lapis yang direkatkan dengan velcro. Mereka harus berganti warna kostum dalam hitungan detik. Saingan dengan adegan pit stop di balap Formula 1, nih. Belakangan saya tahu bahwa pelatih 1500 penari yang masih siswi SMP-SMA itu adalah Denny Malik. Pantesan.




Dan di hari-hari selanjutnya, televisi di rumah saya menyala demi Asian Games 2018. Si kakak saya ajak ikut menonton, walaupun aslinya dia tidak terlalu ngeh dengan tontonan olahraga. Berkat Asian Games, dia jadi banyak tahu. Paling sedih saat timnas Indonesia U-23 kalah dari timnas Uni Emirat Arab di babak 16 besar. Yahh… sepakbola kita harus terhenti sejak awal. Harus legowo, sih.

Alhamdulillah, satu kesedihan akhirnya berbalas dengan puluhan kegembiraan. Senangnya saat menyaksikan All Indonesian Final di cabang olahraga bulutangkis dan sport climbing. Pasangan ganda putra bulutangkis nomor 1 dunia Marcus Gideon/Kevin Sanjaya harus bertarung sengit dengan ‘adek’ mereka, M. Rian Ardianto/Fajar Alfian. Seru! Sedangkan sport climbing baru benar-benar saya pantengin ya pas Asian Games 2018 ini. Biasanya hanya menonton sekilas. Wuih, putra-putri Indonesia bisa memanjat cepat layaknya Spiderman gitu, ya. Keren abiz!

Sumber: IG @asiangames2018

Kalau diceritakan semua, bisa-bisa blog ini isinya Asian Games melulu. Hehe… Finally, selamat untuk Indonesia yang akhirnya berada di posisi keempat; termasuk The Fantastic Four! Ini adalah posisi terbaik selama keikutsertaan Indonesia di ajang tersebut. Total ada 98 medali yang berhasil diraih: 31 medali emas, 24 medali perak, dan 43 medali perunggu. Wow! Empat tahun lalu di Incheon, Korsel, Indonesia hanya meraih 4 emas, 5 perak, dan 11 perunggu. Jauh banget, ya? So, sudah seharusnya kita sebagai rakyat Indonesia berucap syukur.

Energy of Asia, Energi Kita Semua

Di luar perjuangan mengagumkan para atlet, kesabaran para pelatih, dan kerja keras seluruh panitia, ada sebuah kejadian yang menyedot perhatian. Tidak lain adalah momen ketika Presiden Jokowi berpelukan dengan Pak Prabowo, buah inisiatif pesilat Hanifan Yudani Kusumah yang saat itu memenangkan medali emas. Terharu menyaksikan mereka bersatu dalam balutan bendera merah putih. Tiba-tiba saja ketegangan politik seakan mencair. Publik merespon positif kejadian tersebut.

Hehe, sketsa yang bagus dari IG @azaliaanisa

Ya, semangat olahraga bisa mempersatukan bangsa Indonesia. Asian Games 2018 telah mengajarkan rakyat Indonesia tentang dukungan dan doa dengan tujuan yang sama. Warna merah dan putih di setiap venue pertandingan seakan mengingatkan bahwa warna-warni lain akan tertutupi oleh persaudaraan sebangsa yang indah. Seakan degup jantung kita seirama, haru biru yang kita rasakan pun senada, saat Indonesia Raya dikumandangkan dan Sang Merah Putih dikibarkan. Can you feel the love, too?

Sumber: IG @jokowi

Semangat kebersamaan itu juga tampak saat Closing Ceremony (CC). Energy of Asia ada di sana. Pengisi acara dari negara lain berkolaborasi dengan apik dengan para pengisi acara dari Indonesia. Kebalikan dari pesta pembukaan, saya menonton CC dari awal tapi hanya sampai pertengahan saja. Si kecil masih terjaga dan dia butuh emaknya. Saya tetap mengandalkan info susulan dari youtube keesokan harinya, hehe. CC-nya tidak kalah apik. Salut untuk semua yang telah membuktikan bahwa Indonesia bisa.

Sampai jumpa lagi di Asian Games ke-19 pada tahun 2022 di Hangzhou, Zhejiang, Tiongkok! Perjuangan masih panjang, tantangan yang lain sedang menunggu di depan. Semangat, Indonesiaku!

Dari seorang emak yang ikut tertular energi optimis,