My Lifestyle, My Journey, My Happiness

October 31, 2018

Ayam Geprek ala 7Seven Chicken, Nostalgia, dan Mengikat Asa

by , in
Sumber: FP 7Seven Chicken

Pada Hari Blogger Nasional kemarin, tanggal 27 Oktober 2018, empat komunitas blogger di Malang mengadakan kopdaran. Bukan, saya tidak hendak menceritakan acaranya. Lha wong saya tidak bisa hadir. Yang ingin saya soroti justru venue-nya.

Teman-teman blogger Malang berkumpul di 7 Seven Chicken Resto and Cafe. Eh, sudah ada ‘7’ kok pake seven segala? Ya memang begitulah penulisannya. Tapi cara membacanya cukup: Seven Chicken. Nah, saya jadi ingat bahwa saya sekeluarga pernah mengunjunginya bulan lalu tapi belum sempat saya ceritakan di sini.

Ada konsekuensi karena terlambat menuliskannya yaitu, sebagian besar foto dihapus oleh anak saya, hiks. Padahal belum sempat saya simpan di google drive. So, sebagian foto di sini akhirnya diambil dari IG dan FP-nya Seven Chicken, deh.

Rencana Pertemuan dan Sebuah Nostalgia

Di awal September yang lalu, salah seorang teman editor mengajak untuk kopdaran di Seven Chicken. Wah, resto ayam goreng yang tergolong baru, tuh. Katanya, dia akan mengajak serta teman-teman dari komunitas Malang Menulis juga. Rencananya sih akan membahas proyek antologi ketiga mereka.

Malang Menulis? Saya jadi teringat salah seorang teman yang pernah menceritakan launching buku antologinya di toko buku Togamas beberapa waktu yang lalu. Ya, itu adalah buku antologinya komunitas Malang Menulis. Teringat itu membuat saya mengiyakan ajakan teman editor tersebut. Mau juga dong bergabung dengan komunitas tersebut.

Apalagi setelah saya cek tanggalnya, pas! Pas Ahad, pas si Abi ada di rumah, pas tanggal muda, hehe. Pas juga, si Afra pingin makan ayam goreng. Biasanya kami memang berwisata kuliner 1-2 kali dalam sebulan. Saya pun merundingkan hal itu dengan si Abi.

“Boleh. Sekalian family time,” jawabnya.

Horeee! Alhamdulillah.

“Tempatnya di Seven Chicken, Bi. Alamatnya di Komplek Ruko Grand Soekarno Hatta kavling 30-32. Hmm, sebelah mana itu, ya?” saya mengira-ngira letaknya. 


Tahu sih bahwa itu terletak di area jalan Soekarno Hatta, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang sana. Yaa, sekitar 15 kilometer dari rumah saya lah.

“Oh, itu kayaknya dekat dengan tempat kerja lamaku, Mi. Kebetulan, aku pengin tahu nasib kantor lamaku itu sekarang,” jawab si Abi.

Deal. Ada yang ingin bernostalgia rupanya. ^^

Iya sih, tempat kerja itu adalah salah satu saksi bisu perjuangan suami saya dalam menjemput rezeki. Waktu itu kami masih baru memulai dan menata hidup di Malang, selepas pulang dari Batam.

Ada kenangan manis di sana, ada pula pahitnya. Karena bekerja di tempat itulah, si Abi bisa mengenal lebih jauh kawasan Malang Raya. Dia sering bertugas luar ke sana kemari. Pun dia jadi bisa mengenal lebih banyak orang lagi.

Karena bekerja di sana pula lah, si Abi bisa ‘pulang kampung sejenak’ ke Solo, kampung halamannya. Tepatnya saat dia harus mengikuti pelatihan di awal kerja yang diselenggarakan di Solo sana. Sungguh sebuah rezeki baginya, karena bisa sekaligus bertemu orang tuanya alias mertua saya. Lumayan; dua bulan lamanya.

Pahitnya? Ada. Tapi mungkin tidak perlu diceritakan di sini. Berat, kamu gak akan kuat. Biar aku… ah sudahlah! :D

Okay, Seven Chicken. We’ll come to you soon!

Keputusan Tepat Kami

Hari-H pun tiba. Si Abi memutuskan untuk mengendarai sepeda motor saja. Saya setuju. Kadang saya merasa rindu juga menaiki sepeda berempat, uyel-uyelan tapi senang. Mumpung si Afra masih muat di depan. Mungil sih dia.

Kesepakatan kami itu berbuah kelegaan. Pasalnya, kami berpapasan dengan rombongan karnaval di daerah Kebonsari. Fiuhh… alhamdulillah. Si kuda besi kami bisa dengan mudah terlepas dari jebakan kemacetan. Kalau saja kami bermobil, pasti harus merayap-rayap dan mengeluarkan jurus kesabaran.

Perjalanan lancar jaya sampai tiba di depan eks tempar kerja si Abi. Oh, rupanya sudah gulung tikar. Sejenak saja kami berhenti di depannya. Perjalanan kembali dilanjutkan. Entah apa yang ada di benak Si Abi.

Beberapa meter kemudian, Seven Chicken yang kami cari pun ketemu. Sebuah resto yang terletak di kawasan bisnis yang strategis sekaligus daerahnya anak-anak muda. Ya, inilah kawasan Soehat.

“Alhamdulillah lagi, nih. Kita jadi leluasa parkirnya,” kata saya begitu menyaksikan tempat parkir Seven Chicken yang siang itu nyaris tidak ada space untuk mobil.

Ya, banyak sekali motor yang memadatinya. Boleh saja sih membawa mobil ke sana, tapi harus diparkirkan di lahan sebelahnya yang tidak terlalu luas juga.

Kami segera masuk ke dalam resto. Nyesss… segarnya AC langsung mendinginkan suhu tubuh kami yang sepanjang perjalanan lumayan kepanasan. Kemarau panjang, euy! Di sebelah kanan pintu masuk ada hal yang unik: ayunan!


Ayunannya pas sudah kosong

Yes, pengunjung -biasanya anak-anak- akan berebut menempati meja yang kursinya adalah ayunan itu. Apalagi cuma ada tiga pasang meja di sana. Saya membayangkan Afra duduk berayun-ayun di sana dan tidak mau beranjak walaupun acara makannya sudah selesai, hehe. Sayangnya, saat itu meja ayunan sedang full booked. Okelah, kita ke sebelah!

Si Abi memilih deretan meja yang di tengah yang bentuknya seperti meja pada umumnya. Ya, karena deretan meja di sebelah kiri bentuknya lain lagi. Meja-meja itu diletakkan dekat dengan dinding yang diberi ilustrasi warna-warni. Tempat duduknya adalah bangku memanjang yang dihiasi bantal-bantal persegi. Yang itu juga sudah diduduki orang. Baiklah!

Ayam Geprek yang Huh-Hah

Sementara si Abi menggendong adek, saya memesan menu makan siang kami. Masih ada waktu sekitar satu jam sebelum bertemu dengan teman-teman baru saya. Saya pun bergabung dalam antrian. Saya melihat menu yang tertera. Tentu saja sama dengan yang saya baca di akun instagram @7sevenchicken sehari sebelumnya. Ada satu menu yang sudah saya incar yaitu Crispy Chicken Crush Geprek. Yes, itu ayam geprek ala Seven Chicken.


Crispy Chicken Crush Geprek ( IG @7sevenchicken)

Resto yang menyebut dirinya Chicken Specialist ini lumayan cepat pelayanannya. Saya tidak harus menunggu lama. Harga paket menunya juga lumayan terjangkau di kantong dibandingkan dengan resto waralaba ayam goreng yang sudah duluan tenar itu.

Selain Crispy Chicken Crush Geprek, saya memesan Crispy BBQ Wings Rame-rame, Crispy Chicken Steak, Eggs Burger, French Fries Regular, Ice Cream Cone, dan dua buah nasi putih. Seperti resto ayam pada umumnya, menu pesanan saya itu diletakkan di sebuah nampan. Bedanya, ‘piring’ Seven Chicken terbuat dari kertas yang berbentuk persegi. Wah, karyawannya tidak perlu cuci-cuci piring, nih. ^^


Crispy Chicken Steak

Total semuanya Rp 104.000 saja. Cukup murah jika melihat sarana lain yang didapatkan. Misalnya, saya melihat struk bagian bawah. Aha! Ada keterangan tentang password wifi nya juga. Sip lah! Bisa mematikan kuota sejenak, hehe. Selain itu, ada cafe di lantai atas yang boleh dijelajahi selesai makan nanti.

Bagaimana rasa ayam gepreknya? Sebagai penikmat masakan pedas, harus saya akui rasanya top! Sambal bawangnya pedes banget. Huh-hah! Ayam gorengnya juga garing, bumbunya meresap sampai ke dalam. Tuh, resto anak bangsa juga bisa bersaing dengan resto waralaba. Harus didukung dong, ya.

Rasa dari menu yang lainnya mungkin enak juga. Saya tidak ikut mencicipi, sih. Tapi kata Si Abi dan Afra: enak, kok!

Cafe yang Nyaman dan Kekinian

Setelah menyelesaikan santap siang, saya mengecek pesan WA. Rupanya teman saya sudah menunggu di cafe beserta teman-teman dari Malang Menulis. Saya meminta izin Si Abi untuk naik ke atas, sementara dia dengan senang hati momong dua anak kami. Tengkiu, honey!

Saya pun menaiki anak tangga yang terletak di sudut kiri belakang ruangan. Wah, cafe-nya keren dan elegan. Tampak sebuah perkumpulan ibu-ibu menempati bagian tengah cafe. Rupanya cafe tersebut biasa dijadikan tempat kumpul-kumpul berbagai komunitas. Pantesan teman-teman saya memilih tempat ini.

Saya menuju bagian luar cafe, karena di sanalah teman-teman berkumpul. Di bagian teras itu juga disediakan meja-kursi untuk mereka yang lebih suka hembusan udara luar ruangan, sekaligus bisa memandang lalu lintas yang berada di bawahnya. Udara memang cukup sejuk. Sesejuk hati saya yang akhirnya bisa bertemu mereka.



Teman editor saya, Zahara Putri, memperkenalkan saya pada Bu Zuhro, seorang aktivis yang juga ketua Malang Menulis. Juga pada beberapa orang lainnya, anak-anak muda yang terlihat antusias sekali membahas seputar dunia literasi. Emak-emak seperti saya tidak boleh kalah semangat juga, dong.

Beberapa saat kemudian kami harus membubarkan diri karena masing-masing punya agenda lanjutan. Tercapai kesepakatan untuk menulis antologi yang bertema kisah inspiratif yang akan diinfokan lebih lanjut di grup WA. Oke deh, kakak.^^ Semoga saya bisa ikut berkontribusi juga.



Kami beriringan turun ke lantai bawah setelah sebelumnya berfoto-foto dengan membawa buku hasil karya masing-masing. Si Abi dan dua anak saya tampak enjoy saja menunggu walaupun suasana ramai. Adem, sih.

Well, saatnya pulaaang. Semoga kapan-kapan bisa ke Seven Chicken lagi. Mungkin nanti giliran lebih lama di cafe-nya. Insya Allah.

Thanks for reading ^^






Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.
#ODOP_Day19







October 30, 2018

Ini Dia 6 Film Bertema Penerbangan, 2 di antaranya Favorit Saya

by , in

A film is a great deal about what you see, and the silhouette of a character tells you a lot. (Clemence Poesy)

Dua hari sudah peristiwa jatuhnya pesawat Lion Air JT 610 begitu menyita perhatian rakyat Indonesia. Setiap kali saya membuka browser, judul mengharukan seputar korban kecelakaan membuat saya ingin menyimak. Mulai dari foto cover facebook milik pramugari Citra Novita yang memuat lafaz Allah Swt, hingga kisah kopilot Harvino yang merupakan ayah dari 10 anak yatim.

Kehilangan adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan. Tidak ada yang benar-benar abadi untuk kita miliki. Namun, sebagai insan biasa, kesedihan itu tak urung menyeruak juga. Manusiawi, asal kesedihan itu tidak boleh menjadi-jadi. Karena perjalanan hidup masih harus dilanjutkan. Karena Allah Swt pasti tidak akan membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian.

Tiba-tiba saja saya teringat sebuah film lawas tentang perpisahan dengan keluarga, Con Air. Kebetulan film tersebut adalah sinema yang mengandung adegan penerbangan di udara. Tepatnya pembajakan pesawat udara oleh para penjahat. Teman-teman sudah pernah menontonnya, belum?


Sumber: www.gstatic.com

Saya sendiri termasuk penyuka film, walaupun bukan penggemar berat, sih. Selain buku, film memberi saya pelajaran tentang warna-warni kehidupan melalui pesan yang dimainkan oleh para aktor/aktrisnya. Tidak selalu pergi ke bioskop, kadang cukup di depan TV, youtube, atau via aplikasi pemutar film di gawai saya.

Kembali lagi ke Con Air. Ini adalah film Hollywood yang diproduksi tahun 1997. Lawas banget, saat saya masih duduk di kelas 1 SMK. Dibintangi oleh aktor Nicolas Cage dan Monica Potter. Saya tidak begitu hapal nama aktor yang lainnya :p

Walaupun bergenre action, tapi pesan kebaikan di dalam film ini sukses memancing air mata saya. Nicolas Cage yang berperan sebagai Cameron Poe rela dipenjara demi membela keselamatan istrinya. Padahal saat itu istrinya tengah hamil sehingga mereka harus hidup terpisah selama delapan tahun.

Perpisahan yang menyedihkan itu tergambar lewat salah satu original soundtrack film ini, How Do I Live, yang dibawakan dengan baik oleh penyanyi Trisha Yearwood. (Versi lainnya dinyanyikan oleh LeAnn Rimes). Cuplikan liriknya di bawah ini sampai melekat terus di ingatan saya.

Without you
There would be no sun in my sky
There would be no love in my life
There'd be no world left for me

Nah, saat Poe bebas dari penjara pun ternyata ada saja halangannya untuk bertemu istri dan anaknya yang tentu sudah besar. Ia harus bertarung dengan para penjahat kelas kakap yang berniat membajak pesawat yang ditumpanginya. Hasilnya? Hmm… yang belum nonton, sok atuh ditonton. Yang sudah pernah nonton, boleh menonton lagi seperti saya hari ini. ^^

Gara-gara menonton ulang Con Air, saya jadi mencari tahu 5 film lain yang bertema penerbangan, nih. Apa saja itu? Yuk, cekidot! ^^

1. Habibie dan Ainun (2012)

Kalau film ini sepertinya tidak perlu saya jabarkan, ya. Hehe… Akting keren Reza Rahadian dan Bunga Citra Lestari (tentunya dengan dukungan segenap kru film) telah menjaring 4.583.641 penonton bioskop. Alhasil, film ini menduduki posisi keempat sebagai film Indonesia paling laris sepanjang masa. Keren!


Sumber: IG @rynyulian

2. Tragedi Penerbangan 574 (2012)

Film horor ini terinspirasi dari peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air jurusan Surabaya-Manado yang terjadi pada tanggal 1 Januari 2007. Masih ingat, kan, teman-teman? Pesawat itu bernomor penerbangan KI 574. Pas dengan judul filmnya. 

Sempat timbul kontroversi, sih. Sebabnya, pada peristiwa aslinya tidak ada unsur mistis yang menyebabkan jatuhnya Adam Air. Sedangkan film ini berisi hal-hal syeraaam...


Sumber: pinterest.com

Dikisahkan, ada empat sahabat yang berlibur di Surabaya. Mereka adalah Gustav, Dini, Siwa, dan Tania. Suatu hari, Tania ditemukan terbunuh secara misterius di perkebunan kelapa. Tiga orang lainnya berencana menerbangkan jasad Tania ke Manado dengan mencarter pesawat komersial, atas permintaan ayah Tania.

Di sini keseruan dimulai. Penerbangan Surabaya-Manado ternyata tidak berjalan mulus. Muncul teror demi teror yang terjadi di dalam pesawat. Satu per satu korban berjatuhan karena ada hantu yang ingin membalas dendam. Duh, hantu!

Walaupun bukan penikmat film horor, saya penasaran dan akhirnya menonton. Nah, di channel youtube K2K Production ada tuh versi originalnya.

3. Rudy Habibie (2016)

Masih dengan aktor yang sama, sekuel kedua Habibie dan Ainun ini masuk di urutan ke-20 film Indonesia paling laris sepanjang masa, dengan penonton bioskop sebanyak 2.010.072 orang.


Sumber: IG @sctv_
Terus terang, saya belum menonton kisah masa muda Pak Habibie yang dulu biasa dipanggil Rudy ini. Diceritakan, Rudy ingin mewujudkan pesan almarhum ayahnya agar menjadi mata air, bermanfaat bagi sesama. Dia harus belajar keras di Jerman walaupun berada dalam keterbatasan biaya hidup. Hmm, harus dijadwalkan nonton ini, nih.

4. Flight 555 (2018)

Nah, kali ini filmnya bergenre komedi dan baru dirilis bulan Januari kemarin. Dibintangi oleh Tarra Budiman, Gisella Anastasia, Mikha Tambayong, dkk. Film ini disebut berbiaya besar karena salah satu lokasi syutingnya adalah di atas pesawat Boeing 747-400. Nama maskapai di film ini adalah Komodo Airlines. :D


Sumber: IG @flight555film

Walaupun banyak adegan lucu, ternyata jalan utama ceritanya adalah pembajakan pesawat juga. Uniknya, penumpang pesawatnya digambarkan membawa problemnya masing-masing, berlatar kondisi sosial yang berbeda-beda. Selain itu, beberapa perwakilan suku yang ada Indonesia dimunculkan lewat para pemain yang tampil. Berhasilkah aksi pembajakannya? Yuk, coba kita tonton bareng besok, ya.

5. Snakes on A Plane (2006)

Film Indonesia yang bertema dunia penerbangan memang tercatat cuma empat yang di atas itu saja. So, balik lagi ke film Hollywood. Film lawas ini dirilis saat saya masih hamil si sulung dulu.

Film laga yang diibintangi oleh Samuel L. Jackson ini berkisah tentang penerbangan dua orang agen FBI yang mengawal seorang saksi dalam persidangan. Eh, ada pembunuh bayaran yang menyuap petugas bandara agar bisa menyelundupkan ratusan ular berbisa ke dalam pesawat. Hiii…


Sumber: IMDb

Tega bener, ya? Yang disasar adalah si saksi, tapi malah mau mencelakakan penumpang yang lainnya. Untungnya ada dua agen FBI jagoan yang melawan kejahatan itu sekaligus berusaha menyelamatkan pesawat dari crash.

Saya baru melihat trailernya dan… penasaran! Sineas Hollywood kreatifnya kok aya-aya wae.^^

Walaupun genre 6 film di atas berbeda-beda, pesannya sama: ada cerita di balik sebuah penerbangan. Sama kok dengan 'drama' yang terjadi di dunia nyata, walaupun mungkin tidak pakai bajak-bajakan.^^ 

Misalnya, dulu saya pernah merasa dongkol saat maskapai 'anu' delay pesawat-nya lamaaa banget. Pernah deg-degan banget menjelang hari-H pernikahan dan harus terbang saat itu. Saya berserah pada Allah Swt, jika jodoh pasti penerbangan saya lancar jaya. And so on...

So, saya percaya selalu ada pesan menarik di balik semua film di atas. Baru menuliskannya saja, kesedihan saya berkaitan dengan si Lion Air agak teralihkan.

Nah, boleh dong berbagi tentang film bertema penerbangan lain yang teman-teman sukai atau yang ingin ditonton?

Salam sufi ^^




Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.
#ODOP_Day18
October 29, 2018

Aviophobia, Sebuah Ketakutan yang Harus Dilawan

by , in

“Ada pesawat jatuh,” ujar ibunda saya sore tadi. Beliau baru saja mampir ke warung sebelah rumah.

Telinga saya seperti disentil sesuatu. Saya tidak menyalakan televisi seharian. Pun tidak membuka laman media daring, jadi tidak tahu tentang peristiwa itu. Padahal para tetangga sudah heboh membicarakannya.

Saya bergegas menyalakan televisi, memilih sebuah channel yang biasanya menayangkan breaking news. Tepat dugaan saya. Channel televisi itu sedang menayangkan berita kecelakaan pesawat Lion Air JT 610. Pesawat naas itu jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat, dalam perjalanannya menuju Pangkal Pinang. Innalillahi wa inna ilaihi raajiuun.

Tiba-tiba saja ada degupan aneh di dalam dada saya. Sedih yang tidak biasa. Entahlah. Selalu begitu jika ada berita tentang tragedi kecelakaan pesawat. Tentu saja saya juga akan berduka terhadap berita atau kecelakaan yang terjadi pada moda transportasi yang lain. Tapi, berita kecelakaan pesawat itu ‘sesuatu’ sekali buat saya.

‘Sesuatu’ itulah yang pernah menggerakkan jemari saya untuk merangkai cerita. Ya, novel perdana saya, The Fear Between Us, berkisah tentang Aviophobia yang menjangkiti tokoh utamanya, Dania.


Saat Kita Dilanda Ketakutan untuk Terbang

Ada banyak jenis phobia yang diketahui orang. Salah satu di antaranya adalah aviophobia atau rasa takut terhadap pesawat terbang. Takut untuk menaikinya, pastinya. Aviophobia bisa digolongkan dari sekadar gemetaran sampai kepada menolak sama sekali untuk menaiki pesawat terbang.

Saya pernah membaca kisah seseorang yang begitu gugup begitu kakinya menginjak lantai bandar udara. Keringat dinginnya bercucuran, perut pun mendadak mulas, dan ada keinginan untuk buang air kecil secara terus menerus.

Saat sudah berada di dalam pesawat, dia merasa bahwa dirinya sedang tidak berada di tempat duduk. Ada sedikit saja turbulensi atau guncangan, dia merasa bahwa malaikat maut sedang bersiap mencabut nyawanya. Benar-benar sebuah rasa takut yang membuatnya tidak nyaman.



Sedangkan seseorang yang benar-benar memiliki ketakutan yang akut, akan lebih memilih menaiki moda transportasi yang lain. Others or not at all. Ibaratnya, lebih baik menempuh jarak yang lebih jauh dengan menaiki kapal laut daripada harus naik pesawat terbang.

Aneh? Tentu saja tidak. Begitulah aviophobia.

Pemicu Timbulnya Aviophobia

Di dalam The Fear Between Us, saya menyebutkan penyebab utama aviophobia yang melanda Dania. Saat dia masih duduk di bangku SMP, dia akan diajak berlibur oleh bibi dan pamannya ke Sulawesi. Tapi rencana itu gagal karena pada hari-H, Dania jatuh sakit.

Bibi dan pamannya tetap memutuskan untuk pergi dengan menaiki pesawat. Takdir mencatat sebuah peristiwa menyedihkan kemudian. Pesawat yang ditumpangi keduanya mengalami kecelakaan dan tidak ada satupun penumpang yang selamat. Dania begitu sedih dan terguncang.

Selanjutnya, ia benar-benar menolak untuk menaiki pesawat terbang. Jika harus ke rumah kakaknya di Jakarta, dia memilih jalan darat atau memilih tidak berangkat. Saat ada berita tentang kecelakaan pesawat, dia akan memilih menutup mata dan telinganya rapat-rapat.

Hehe, sedikit saja cuplikannya, ya. ^^ Kesimpulannya, orang yang near miss atau hampir mengalami sebuah kecelakaan pesawat berpotensi besar mengalami trauma, lalu berujung pada aviophobia. Begitu juga jika ada kerabatnya yang pernah menjadi korban kecelakaan pesawat.



Tidak hanya mereka, kita sebagai pemirsa bisa ikut terjangkit, lho. Maka jika ada kejadian pesawat jatuh, sebaiknya kita mengkonsumsi beritanya secukupnya saja. Terutama bagi mereka yang pada dasarnya mempunyai ‘bibit’ gugup seperti yang saya sebutkan di atas.

Sebuah penelitian berjudul Media’s Impact on People’s Anxiety Level Toward Air Travel menampilkan hasil tingkat kecemasan sejumlah 260 responden. Penelitian tersebut diterbitkan oleh University of Massachusetts Amherst pada tahun 2010.

Responden dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu kelompok pembaca artikel di media daring, menonton video, dan menonton TV yang berkaitan dengan kecelakaan pesawat terbang. Hasilnya? Responden mengalami peningkatan kecemasan, seperti: takut pesawatnya kehilangan kendali, takut turbulensi, takut ketinggian, dan akhirnya takut untuk melakukan penerbangan jarak jauh. Nah!

Cara Mengatasi Aviophobia

Di zaman yang nyaris tanpa sekat antar negara ini, menaiki pesawat terbang adalah sebuah keniscayaan. Menaiki pesawat terbang bukan lagi menjadi hal yang mewah karena nyaris bisa dijangkau kalangan menengah. Saat saya masih jadi pekerja di Batam dulu, naik pesawat mah biasa :)

Nah, jika hal umum tersebut terhalang oleh aviophobia, pasti ada gangguan dan ketidaklancaran dalam kehidupan, sedikit maupun banyak. Di dalam novel saya, Dania menghapus cita-citanya untuk berkuliah di luar negeri gara-gara aviophobia. Tuh, kan?

Katakan lah, seseorang mampu bertahan untuk tidak menaiki pesawat. Masih bisa hidup normal ini ^^ Tapi menurut saya, jika dia seorang muslim yang berkemampuan, ada saatnya orang itu harus naik pesawat terbang. Bukankah ibadah umrah dan haji menghajatkan untuk menaiki si burung besi?

So, aviophobia sebaiknya memang segera diatasi, caranya:

Pertama, bisa dimulai dari diri sendiri yaitu dari segi keimanan yang harus dikuatkan. Ya, hidup dan mati kita mutlak ada di tangan-Nya. Tawakal saja. Naik pesawat atau tidak, jika maut sudah waktunya menjemput, pasti tidak bisa ditunda.

Kedua, memperbanyak memikirkan hal-hal yang positif tentang penerbangan. Bayangkan bahwa hamparan langit biru itu sangat indah. Ada gumpalan-gumpalan awan serupa kapas yang sangat dekat dengan mata kita. Atau bayangkan jika kita sedang naik permadani terbang.^^



Ketiga, jika masih terasa berat juga, sebaiknya berkonsultasi kepada para ahli, baik itu konselor, psikolog, atau bahkan psikiater jika memang dibutuhkan. Karena aviophobia yang sudah akut dan mengganggu kehidupan normal itu termasuk gangguan psikis. Maskapai penerbangan biasanya juga menyelenggarakan kursus ‘takut terbang’. Nah, ikutan gabung aja!

Keempat, segera praktikkan. Jika sudah merasa lebih berani, segera ambil kesempatan untuk terbang dengan ditemani pasangan, anggota keluarga, atau teman dekat yang mengerti kondisi kita. Dijamin, penerbangan akan terasa seru dan menyenangkan.

Bukan berarti saya melarang untuk bersimpati kepada keluarga korban lho, ya. Monggo saja jika ingin banyak mengikuti berita tentang jatuhnya Lion Air JT 610 hari ini. Tetap harus diingat, jika sudah terasa mengganggu sampai membuat kita takut, sebaiknya berhenti dulu. Aviophobia? Semoga jauh dari kita, ya. ^^

Semoga Tim Basarnas, Tim DVI, dan segenap tim gabungan diberi kelancaran dalam melaksanakan tugas mulianya. Semoga para korban segera ditemukan dalam kondisi apapun ;( Semoga keluarga yang ditinggalkan tetap tabah menjalani cobaan ini. Semua ada hikmahnya, Insya Allah.

Ya, kita bangsa Indonesia, sekali lagi diberi ruang untuk banyak berempati.


Salam,










Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.
#ODOP_Day17

Sumber: liputan6.com
Sumber gambar: pixabay