Read, Write, Think, Thankful

Hijrah, Terus Bergerak dan Menjadi Lebih Indah


Telah terbit bulan purnama
Dari bukit Tsaniyatul Wada’
Wajiblah kita bersyukur
Selama ada seorang dai Allah yang menyeru
Wahai sang utusan kepada kami
Engkau datang dengan urusan yang akan kami taati

Hari itu, tanggal dua belas bulan Rabiul Awal tahun di tahun pertama Hijriyah, kegembiraan para sahabat membuncah. Nabi Muhammad dan Abu Bakar tampak memasuki gerbang kota Madinah. Allah Ta’ala telah sampaikan Rasulullah dan salah satu sahabat terbaiknya itu dengan selamat, setelah upaya pengejaran oleh kaum Quraisy yang gagal.

Syair lagu di atas yang diiringi rebana pun mengalun syahdu menyambut keduanya. Para sahabat dari golongan Muhajirin yang sudah terlebih dahulu memasuki Madinah di tanggal 1 Muharram sudah lama menanti. Kerinduan juga dirasakan oleh para sahabat dari golongan Anshar yang akhirnya bisa berdekatan dengan manusia termulia itu di ‘rumah’ mereka.

Sempurna sudah perpindahan kaum muslimin dari masa ketertindasan di Mekkah menuju masa penuh cahaya di Madinah. Hijrah. Peristiwa bersejarah yang terus dikenang dan dari sana lah pengusulan penanggalan kalender Hijriyah dimulai.

Sejarah Penetapan Kalender Hijriyah

Tahukah Anda siapa yang mengusulkan peristiwa hijrah sebagai patokan awal atau permulaaan kalender Islam? Yak, usul cemerlang itu disampaikan oleh Ali bin Abi Thalib yang akhirnya disetujui oleh para sahabat yang lain.

Madinah yang Bercahaya (pixabay)

Penetapannya bukan tet saat hijrah berlangsung, tapi ketika masa pemerintahan khalifah Umar bin Khatthab. Tepatnya, 17 tahun setelah peristiwa hijrah. Nah, Muharram dipilih jadi bulan pertamanya. Alasannya, pada bulan itu jamaah haji pulang ke kampung halamannya. Persis seperti saat ini, kan? Rombongan kloter haji pulang pada bulan Muharram untuk memulai ‘hidup baru’ sebagai haji yang mabrur, insya Allah.

Tahun baru Islam, tanggal 1 Muharram 1440 Hijriyah -yang bertepatan dengan tanggal 11 September 2018- memang sudah berlalu. Tapi semangat berhijrah harus terus dinyalakan selamanya. Memperbincangkan hijrah juga boleh kita lakukan kapan saja agar spirit itu tetap terjaga. Yuk, ikuti ulasan saya!

Merenungkan Makna Hijrah

Saya pernah membaca dan juga mendapatkan pengajaran tentang makna hijrah. Secara etimologis (bahasa), hijrah berasal dari kata ha ja ra yang berarti putus.

Kata tersebut misalnya terdapat pada hadits Nabi berikut ini:
“Tidak halal bagi seorang mukmin meng-hajr (memutus hubungan, tidak tegur sapa) saudaranya (sesama mukmin) di atas tiga hari.” (HR. Muslim, no. 2561)

Sedangkan secara terminologis (istilah syar’i), ada empat definisi hijrah menurut para ulama, yaitu:
  • Hijrah adalah keluar dari negeri kufur menuju negeri Islam.
  • Hijrah adalah pindah dari tempat yang banyak didominasi oleh praktik kemungkaran dan kezaliman yang mengancam agama seseorang menuju ke tempat yang terbebas dari itu. 
  • Hijrah adalah perpindahan seorang mukmin dari negeri penuh fitnah dan mengkhawatirkan bagi agamanya menuju tempat yang membuatnya aman dalam melaksanakan ajaran agamanya.
  • Hijrah adalah meninggalkan kebiasaan/adat istiadat yang tidak baik secara syariat, menjauhinya, dan kemudian memilih berada di jalan kebenaran.

Dari dua pengertian di atas, hijrah memang meliputi dua dimensi yaitu hijrah hissiyah (hijrah secara fisik) dan hijrah ma’nawiyah (hijrah secara maknawi). Sebagaimana hijrah Rasulullah yang akhirnya mengubah dunia. Beliau tidak hanya berpindah tempat, tidak hanya membangun masjid tapi juga ‘membangun’ manusia-manusia di tempat baru itu. Beliau memulai hidup baru dan peradaban baru yang meliputi perbaikan lahir dan batin.

Tiga Kisah Hijrah di Buku Antologi Saya

Dua dimensi hijrah di atas pernah saya alami. Tiga ‘kisah besar’ di antaranya telah saya tuliskan dalam buku Ramadan Penuh Hikmah, sebuah antologi yang terbit pada bulan Ramadan 1439 Hijriyah yang lalu. Hijrah Cinta di Bulan Mulia, demikian saya menyematkan judul untuk cerita yang berbingkai kisah inspiratif itu. Ya, tiga peristiwa hijrah diri itu memang terjadi di bulan Ramadan dengan tahun yang berbeda.



Pertama, saya memutuskan untuk menutup aurat secara sempurna pada bulan Ramadan tahun 2001. Saat itu, jilbab masih belum menjamur seperti sekarang. Saya sedang berada jauh di rantau orang, hijrah ke tanah Batam. Saat itu saya baru setahun bekerja di sana, jilbab segiempat pun hanya punya dua helai saja.

Saya tentu saja masih miskin ilmu. Tapi begitu tahu hukum wajib berjilbab bagi perempuan muslimah, saya memberanikan diri untuk berubah. Perubahan penampilan itu pun mendorong saya untuk banyak belajar tentang ilmu-ilmu keislaman. Ah, gerimis hati saya setiap kali mengingatnya.

Kedua, saya berhijrah dari rasa takut terhadap ketidaksiapan menuju keberanian untuk menikah. Saat itu saya nyambi kuliah  dan masih belum mapan secara finansial. Saya dan calon suami juga tidak berpacaran, tidak kenal akrab walaupun bekerja di perusahaan yang sama. Hmm, dua tantangan besar!

Saya merasakan ketenangan setelah mengadu kepada Allah Ta’ala. Ya, ketenangan adalah salah satu isyarat dari hasil salat istikharah. Maka tidak ada lagi yang perlu saya takutkan. Dengan menyebut asma Allah Ta’ala saya pun menerima pinangan pada bulan Ramadan tahun 2005. Kami mengikat janji di bulan berikutnya, berjuang bersama mencipta keluarga samara.

Ketiga, bulan Ramadan tahun 2014 merekam sebuah keputusan yang juga saya sebut sebagai sebuah hijrah. Saya merasa perlu berpindah dari mindset “takut miskin karena tidak bekerja” menuju sebuah keyakinan bahwa rezeki pasti sudah diatur-Nya.



Saya membulatkan tekad untuk berhenti bekerja di luar rumah dan beralih bekerja di dalam rumah. Suami saya yang saat itu  masih bekerja serabutan pun tidak keberatan. Sungguh Allah Maha Kaya. Hingga saat ini rezeki untuk keluarga kami terus mengalir; kecukupan finansial, kesehatan, keharmonisan, anak-anak yang menyejukkan mata, dan lingkungan yang baik. Alhamdulillah.

Ramadan Penuh Hikmah dan Tentang Terus Melangkah

Selain kisah saya, ada kisah-kisah inspiratif lain bertema Ramadan di buku itu. Di halaman awal ada kisah berjudul Ketika Ramadan Tanpamu oleh Aning Purnami. Dia menceritakan kisahnya berpuasa tanpa suami di sisi. Dia berusaha mengurai kesedihan dengan membuka tujuh simpul: larung, sabar dan ikhlas, silaturrahmi, doa, zikir, wirid, dan Alquran. Begitulah, selepas ujian, kita memang harus terus berjalan. Karena Allah Swt pasti tak akan membiarkan hamba-Nya yang salihah melangkah sendirian.

Hampir sama, Fuattutaqwiyah El-Adiba juga merasakan kehilangan ibunda saat Ramadan tiba. Kisah nyatanya itu dituangkan dalam tulisan berjudul Ramadan di Bireun Aceh. Saat itu dia baru saja memulai tugas mengajarnya di perantauan, yaitu di serambi Mekkah, Aceh. Betapa hari-hari Ramadan menjadi tak sama lagi. Tapi, ia tetap bertekad melayani murid-muridnya dan beribadah sebaik mungkin. Dua kunci itu akhirnya bisa mengikis kesedihannya perlahan-lahan.


Kehilangan yang mendalam pun dirasakan oleh Zahara Putri dalam Ujian di Bulan Ramadan. Dia harus kehilangan ayahnya saat lebaran tiba. Sebelumnya, ayahnya menderita sakit selama bulan Ramadan. Tapi rasa kehilangan itu segera terobati karena ada amanah dari ayahnya yang menanti untuk dijalani. Dia dan suami kembali bersemangat untuk menjemput rezeki dengan berdagang memakai rombong sendiri. Rombong itu adalah impian sang ayah untuk diberikan kepada putrinya, sebelum dia pergi untuk selamanya.

Salah satu pelajaran dari Ramadan adalah menahan diri dari hal yang membatalkan puasa. Itu pun bisa diterapkan untuk hal-hal yang bisa merusak kesehatan. Annynoorz berkisah tentang suaminya yang berhenti merokok setelah mengambil pelajaran dari Ramadan. Jika bisa berhenti merokok seharian saat berpuasa, pastinya bisa melakukannya juga di luar puasa. Sip! Kisah perbaikan diri itu ditulis dengan judul Menjauh dari Rokok.

Sedangkan Elis Sumiati bercerita tentang serunya mengajari anaknya berpuasa dalam Puasa Pertama Putraku. Kecintaan pada perintah Allah Swt memang harus dipupuk sejak dini. Orang tua berperan sebagai teladan yang harus bersabar memberikan pengarahan. Lapar yang dirasakan orang-orang tidak mampu bisa menjadi salah satu contoh agar ananda memahami hakikat berpuasa. Tujuan akhirnya adalah anak menjadi generasi salih dan takwa, yang lebih baik dari kita, orang tuanya.



Masih ada 16 tulisan penuh kesan lainnya yang tidak bisa saya uraikan satu per satu di sini, yaitu:
  • Pertolongan Allah Swt Datang dari Sedekah kepada Anak Yatim oleh Devi Agitawaty
  • Disabilitas dan Nur Dini Dewi Ramadan oleh Dini W.T. Kasto
  • Janinku Sayang Janinku Sungsang oleh Endah Hayuning
  • Ramadan Pertama tanpa Ibu, Ketika Kubersimpuh di Ramadan yang Kudus, Ramadan Bulannya Umat, dan Menuju Ramadan Penuh Karya oleh Fuatuttaqwiyah El-Adiba
  • Ramadan Ketiga oleh Laksmita Mahardini
  • Hadiah Berbuka dari Allah oleh Lilian Netya Al Mabruroh
  • Nenek Tua dan Sapu Lidi oleh Titik Nur Farikhah
  • Wafa Belajar Puasa Ya, Mi! oleh Tin Sukaisih
  • Menyusui dan Berpuasa di Bulan Ramadan oleh Yeptirani Syari
  • Mengais Rezeki di Bulan Ramadan oleh Zahara Putri
  • Ramadan di Bumi Rantau (Papua Barat) oleh Zaqia Nur Fajarini
  • Ramadan Lima Tahun Lalu oleh Mangunah Widiyaningsih
  • Bu Guru Cantik oleh Widyanti Nugraheni

Ramadan, bulan mulia yang ini pun sudah berlalu. Tapi, -sekali lagi- boleh juga dong kita membicarakannya juga. Saya sendiri merasakan tambahan semangat saat membaca ulang kisah-kisah inspiratif pada buku Ramadan Penuh Hikmah itu. Nah, ini nih buku Ramadan dengan rasa Muharram. Tak lain, karena ada inspirasi untuk memperbaiki diri, selaras dengan semangat hijrah di atas.



Saya meyakini bahwa berhijrah itu tak mengenal batas waktu. Selama napas masih berembus, selama darah masih mengalir, selama itu pula kesempatan memperbaiki diri terus terbuka. Perbaikan itu bisa dimulai dari hal-hal sederhana. Misalnya, saya pernah meyakini sebuah pendapat secara bulat-bulat. Efeknya, hidup saya menjadi tidak tawazun (seimbang). Seiring berjalannya waktu, saya tahu bahwa seharusnya tidak seperti itu. Saya berubah dan hidup pun terasa lebih indah.

Deddy Corbuzier pernah berujar: #2019GantiPolaPikir. Maka saya dan Anda boleh melakukan perubahan dan perbaikan diri kapan saja, dalam segala dimensi hidup kita. Semua pastinya dalam rangka meraih keridaan Allah Swt dan menebar cahaya bagi sesama. Yuk, berhijrah!

Salam hijrah,







Referensi:
Majalah Ummi No.11/Maret 2009

Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community

#ODOP_Day2

No comments:

Post a Comment