My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Cemburu: Perlu Tapi Jangan Membelenggu


Cinta,
aku ingin tua bersamamu
menatap anak-anak
yang meneruskan jejak kita
tanpa perlu sesaat pun
merasa khawatir
hatimu pergi meninggalkanku…

Puisi pendek di atas adalah blurb awal dari sebuah buku antologi berjudul Catatan Hati yang Cemburu. Buku antologi yang cetakan pertamanya di bulan Maret 2012 itu masuk dalam kategori National Best Seller. Tidak mengherankan, ‘kapten’ dari buku ini adalah Asma Nadia yang sudah tidak diragukan lagi kualitas tulisannya.

Jadi, buku ini sudah terbit enam tahun yang lalu. Tapi saya baru memilikinya bulan Maret yang lalu. Ceritanya, saya terpilih menjadi salah satu pemenang giveaway di blognya Uni Novia Syahidah. Ya, founder-nya Blogger Muslimah Indonesia itu juga salah satu kontributor di buku ini.

Alhamdulillah, saya senang sekali bisa mendapatkan buku yang penuh manfaat ini. Saya pun berjanji akan meresensi buku ini agar pesan kebaikan di dalamnya bisa menyebar lebih luas lagi. And here I am. ^^

Cemburu, benarkah tanda cinta?
Cemburu, bisakah dihindari?
Lalu bagaimana seorang istri bisa mengerti jika cemburu yang dirasakannya hanya sebuah prasangka?
Jika justru cemburu menjadi keharusan, atau bahkan wajib.
Sebab cemburu kita bisa jadi juga merupakan cemburu-Nya?

Nah, kalimat-kalimat di atas adalah lanjutan blurb yang saya tulis sebelumnya. Kalimat yang sangat mewakili isi buku ini yang berbicara tentang cemburu. Sebuah rasa yang kita banget kan, ya? Karena jarang atau sering, pasti saya dan Anda pernah merasakannya. Hayo, ngaku! ^^

Menurut Asma Nadia, cemburu itu sangat dekat dengan perempuan. Laki-laki juga punya rasa cemburu, sih. Tapi karena laki-laki cenderung mengandalkan logika, biasanya mereka lebih bisa mengemas perasaannya.

Bagaimana dengan kita, kaum perempuan yang lebih mengandalkan perasaan? Haruskah kita usir jauh-jauh? Atau jika ditunjukkan, sebatas apa? Bagaimana menata perasaan jika cemburu itu tiba?

Kisah Cemburu Para Istri

Pertanyaan-pertanyaan di atas akan terwakili oleh lima belas penulis berikut ini. Saya meringkas kisah cemburu mereka yang unik dengan berbagai pesan masing-masing berdasarkan urutan halaman di dalam buku ini. Simak, yuk!


Tyar Puri
Penulis ini berkisah tentang kehidupan rumah tangga orang tuanya yang sudah berlangsung selama empat puluh enam tahun. Sepanjang waktu itu, sang ayah yang tampan dan gagah sering berbuat serong di luar rumah. Ibunya tahu, tapi penulis tidak pernah melihat jejak cemburu di wajah ibunya itu.

Rupanya, ibunya menyingkirkan cemburunya dengan cara menyibukkan diri, bekerja dan lebih memikirkan anak-anaknya.Hingga suatu hari sang ibu jatuh sakit, kanker! Penyakit itu diderita sang ibu selama dua puluh tahun dan akhirnya merenggut nyawanya. Barulah sang ayah menyesali kekeliruannya sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga.

“Sudahlah, Pi, ikhlaskan Mami pergi. Bukankah Mami lebih bahagia sekarang daripada hidupnya menderita?” bisikku membuat Papi menangis semakin keras. (Cemburu Hingga Akhir Usia, halaman 3)

Tutie Amaliah
Wanita cantik itu sopan, menyapa suamiku sekadarnya tidak berlebih-lebihan, serba pas dan terkendali. Wanita yang menurut suami rekan sekantor dan berencana mendiskusikan sesuatu setelah makan siang. Jelas, tidak punya salah! (Cemburu Perekat Cinta, halaman 19)

Penulis yang semasa single-nya menjadi idola di kampus ini suatu hari mengakui bahwa dia dilanda cemburu. Setelah berumah tangga, dia merasakan dirinya jauh dari kata memesona. Dia merasa minder saat membandingkan dirinya dengan teman-teman perempuan suaminya.

Do you feel the same? ^^

Mita Sari
Sari menceritakan kepiluan kisah cemburunya dalam tulisan yang cukup panjang. Berawal dari hobi chatting suaminya, Bram, yang berlanjut dengan saling bertelepon dengan para perempuan lain.

Apa yang sebenarnya kucemburui? Perangkat komputer di rumah kami, atau bayangan cantik di balik komputer yang setiap malam bermesraan dengan suamiku? (Perempuan yang Chatting Denganmu, halaman 31)

Kegilaan Bram terus berlanjut. Setelah minta maaf, keesokan harinya berulah lagi dan lagi. Sampai ibu Bram jatuh sakit karena merasa malu dengan kelakuan anaknya. Sari yang tak kuasa lagi menahan sakit pun berniat mengajukan gugatan cerai.

Namun, doa dari anaknya dan dukungan dari mertua serta ipar-iparnya membuatnya berpikir lagi untuk berpisah. Bram pun lambat laun menyadari kekeliruannya. Happy Ending? Yang jelas, Sari berharap Bram tidak akan pernah lagi mengulangi kesalahannya.

Novia Syahidah
Sebenarnya saya termasuk orang yang agak antipati sama cemburu. Saya bahkan pernah bertekad menghapus kosakata yang satu itu dari kamus kehidupan saya. Setidaknya, menghindar dari kobarannya yang menyiksa. (Episode Cemburu, halaman 55)


Wah, keren juga ya; menghapus cemburu dari keseharian. Karena Novia berpendapat bahwa apapun bisa dibicarakan baik-baik tanpa harus melibatkan cemburu. Menurutnya, cemburu itu hanya akan menguras waktu dan tenaga. Hmm...ada betulnya juga, sih.

Tapi ternyata ada sebuah episode hidup dimana dia membuatnya jadi pencemburu berat; saat Novia mengalami kehamilan. Saat itu suaminya pulang telat, tiba-tiba saja ada rasa curiga yang tidak-tidak.

Nah! Begitulah, urusan perasaan memang di luar kuasa manusia. Seyakin apapun dia bisa mengatasinya. Tapi Novia yakin bahwa episode cemburunya akan berakhir dan berganti dengan episode hidup lainnya.

Niken
Andai aku tahu bagaimana caranya terbebas dari perasaan cemburu dan curiga. Mungkin aku akan hidup tenang (Aku Tidak Ingin Terus Cemburu, halaman 69)

Niken berkisah tentang pernikahannya yang telah berlangsung lima tahun, yang dijalaninya dengan penuh curiga. Tak lain karena suaminya memiliki teman perempuan yang hubungannya terlalu dekat. SMS dan telepon mesra ‘perempuan pengganggu’ itu begitu menggusarkannya. Semantara suaminya terus mengelak bahwa dia hanya main-main saja.

Keterbukaan akhirnya menjadi jalan keluar. Niken dan suaminya mulai menata komunikasi dalam pernikahan mereka. Niken pun terus berusaha menata diri dan mendekatkan diri pada Ilahi.

Dyotami Febriani
Dyotami menceritakan obyek cemburunya yang berbeda dari penulis-penulis sebelumnya dengan gaya penulisan yang ringan dan kocak.

...Bukan! Bukan cewek lain, kok! Hal itu adalah pekerjaannya! Betuuul! WIL dia adalah pekerjaannya! (Karenamu Aku Cemburu, halaman 79)

Dyotami dan suaminya awalnya berasal dari jurusan yang sama saat kuliah. Setelah menikah dan menjadi IRT, dia mulai merasakan banyak ketimpangan wawasan. Akhirnya, dia mencoba memperbanyak bacaan agar nyambung saat ngobrol dengan sang suami. Walaupun ternyata buku yang banyak dibelinya adalah buku komik, yang ternyata jadi favorit suaminya juga :D

Azimah Rahayu
“Saya cemburu!” kata saya, tersendat.
“Cemburu sama siapa?”
“Cemburu sama Ibu!” jawab saya lagi, kesal.
(Oh, Mertuaku, Oh, Cemburuku, halaman 89)

Nah, Azimah mempunyai obyek cemburu yang lain lagi. Tak lain karena suaminya begitu dekat dengan keluarganya, terutama ibu mertuanya. Bahkan tentang hal kecil pun, suaminya sampai harus bicara berdua dengan ibu mertuanya. Sudah budaya keluarganya seperti itu.

Solusinya? Lagi-lagi harus ada dialog. Bagi suami, bermanja pada ibunya adalah hal biasa, tapi tidak baginya yang merasa ‘tersingkir’ saat itu terjadi. Ya, Men are from Mars, Women are from Venus. Seperti kata John Gray.

Frangipani
Penulis mengenang kekonyolan rasa cemburunya saat masih menjadi pengantin baru. Saat itu sang suami harus menjalani training selama tiga bulan. Long Distance Marriage, deh.

Sejak hari pertama berangkat training, saya sudah cemberut. Pikiran kusut. Siang hari saya sibuk kirim pesan via penyeranta (zaman itu, HP masih barang mewah). Isi pesan saya sungguh tak mutu. (Dicari: Resep Cemburu Cantik, halaman 105)

Cemburu yang tidak beralasan dan tidak terbukti itu akhirnya membuahkan resep jitu ala Frangipani. Dia dan suaminya memberi ruang untuk cemburu yang cantik dan elegan. Cemburu jenis ini diyakininya akan membuat cinta selalu baru.



Salam penakluk cemburu,







Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.
#ODOP_Day13

No comments:

Post a Comment