My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Ini Dia 11 Benda Pengisi Tas Siaga Bencana



“Pantai Nganteb ini, pantai Tamanayu di sebelahnya, pantai Balekambang dan semua pantai yang sederet dengan mereka memang akan membuat orang jatuh cinta dengan keindahannya.” Randy melanjutkan kalimatnya.
“Tapi Mbak, gempa bumi yang mengguncang Malang akhir-akhir ini, titik pusatnya sering berada di laut dekat sini.”


Kalimat-kalimat di atas terdapat dalam novel perdana saya, The Fear Between Us. Karena novel itu mengambil setting tempat di Malang Raya, maka saya selipkan kejadian nyata yang pernah terjadi di sini pada beberapa percakapan. Ya, gempa bumi itu juga akrab dengan kami.

Misalnya, pada tanggal 19 Juni 2018 yang lalu. Terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 4.6 SR yang mengguncang sebagian wilayah Malang. Kecil memang. Tidak berpotensi tsunami walaupun pusatnya di laut yang diakibatkan oleh aktivitas pergerakan subduksi. Tapi sekali lagi, ini sering terjadi.

Terakhir, saya merasakan guncangan yang cukup keras itu 7 hari yang lalu, tanggal 11 Oktober 2018. Kali ini pusatnya memang tidak di laut wilayah Malang, tapi di laut wilayah Situbondo, Jatim. Guncangan sebesar 6,4 SR itu terasa sampai ke Bali. Menurut berita, ada tiga orang korban yang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan di Sumenep, Madura.  

Saat itu saya tengah terjaga dan merasakan tubuh saya seperti diayun-ayunkan ke kanan dan ke kiri. Saya beristighfar berkali-kali. Anak-anak saya rupanya tidak merasakan itu, tetap tertidur pulas. Saya sempat berpikir yang tidak-tidak, hiks. Alhamdulillah, tak lama kemudian guncangan itu berhenti juga.


Info BMKG saat itu

Dengan masih merasakan debar-debar di dada, saya spontan meraih tablet dan langsung mencari info di akun twitter Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Klik, klik. Ternyata benar ada gempa. Saya spontan me-retweet info tersebut. Tampak di layar, ratusan orang melakukan hal yang sama. Oh, gempa...

Indonesiaku yang Rawan

Selama tinggal di Malang, wilayah saya memang belum pernah terkena dampak bencana yang parah. (Nauzubillahi min dzalik).  Baik itu bencana geologi atau hidrometeorologi (banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, dan kebakaran hutan). Pernah terjadi sih, tapi di daerah Ngantang, Malang Utara. Saat itu, Februari 2014, daerah yang dekat dengan Kediri itu ikut terkena dampak erupsi Gunung Kelud. Ya, nyaris saja.

Belum pernah bukan berarti tenang-tenang saja. Saya tetap merasa harus bersiaga. Lombok, Palu, dan Donggala sudah cukup menjadi bukti bahwa wilayah Indonesia memang rawan bencana. Khusus bencana geologi, -menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)- ancaman itu tersebar di hampir seluruh wilayah Kepulauan Indonesia, baik dalam skala kecil hingga skala besar yang merusak.

Bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi kerap terjadi karena letak Indonesia yang berada di antara tiga lempeng tektonik; Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia. Hanya di Pulau Kalimantan bagian barat, tengah dan selatan sumber gempa bumi tidak ditemukan. Tapi masih ada goncangan yang berasal dari sumber gempa bumi yang berada di wilayah Laut Jawa dan Selat Makassar.


Sumber: BNPB

Saya menarik napas panjang setelah tahu bahwa wilayah rawan bencana gempa bumi di Indonesia tersebar mulai dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Maluku Utara dan wilayah Papua. Astaghfirullah...

Tas Siaga Bencana (TSB), Harus Ada!

Letak geografis Indonesia adalah takdir, tapi kita pastinya harus melakukan usaha dengan bersiap-siaga sebelum bencana itu tiba. BNPB bahkan menetapkan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional setiap tanggal 26 April. Di antara perwujudan siap-siaga itu adalah dengan menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB).

Tas Siaga Bencana (TSB) adalah tas yang dipersiapkan oleh anggota keluarga apabila terjadi bencana atau kondisi darurat yang lain. Tujuannya sebagai persiapan untuk bertahan hidup saat bantuan belum datang dan memudahkan evakuasi korban saat menuju tempat yang aman. Sip! Anggap saja kita sedang menyiapkan bekal untuk keluarga seperti biasa.

BNPB memberi contoh kebutuhan dasar Tas Siaga Bencana untuk 3 hari yang berisi 11 benda, yaitu:

1. Surat-surat Penting
Seperti surat tanah, surat kendaraan, ijazah, dan akta kelahiran. Sebaiknya mereka dijadikan satu di dalam sebuah plastik besar mengingat surat-surat tersebut terbuat dari kertas.

2. Pakaian untuk 3 Hari
Pakaian dalam, celana panjang, jaket, handuk, selimut, jas hujan adalah benda-benda yang harus dibawa. Untuk perempuan berhijab seperti saya, pastinya jilbab juga disertakan. Bila punya bayi atau batita, tambahan diapers mungkin diperlukan.

3. Makanan Ringan Tahan Lama
Mie instant menjadi makanan darurat yang pas. Boleh juga membawa biskuit, abon, dan cokelat punya kecukupan kalori serta bisa menimbulkan efek menenangkan.

4. Air Minum
Siapkan air minum dalam kemasan sedang agar mudah dibawa dan dibagikan sejumlah anggota keluarga dan cukup untuk 3 hari.

5. Kotak Obat-obatan/P3K
Bagi kita yang sudah mempunyai persediaan kotak P3K di rumah, tinggal memasukkan kotak obat itu ke dalam TSB. Jika belum, ini saatnya mengumpulkan obat merah, plester luka, gunting, rivanol, dsb yang biasanya tercecer dalam satu tas atau kotak kecil.

6. Ponsel, Charger, Powerbank
Saat ini, biasanya ponsel adalah benda yang ada di genggaman kita. Pastikan kondisi baterainya selalu penuh atau Powerbank-nya selalu terisi daya.

7. Perlengkapan Mandi
Kebersihan badan tetap mutlak diperlukan saat bencana datang. Sabun mandi, sikat dan pasta gigi, shampo, dan cotton bud harus juga disertakan.

8. Masker
Saat ini, masker sekali pakai banyak dijual bebas di pasaran dengan harga terjangkau. Fungsinya untuk melindungi pernapasan kita dari paparan debu dan kotoran yang mungkin  banyak saat bencana.

9. Peluit
Jika selama ini peluit hanya ada di genggaman Polisi atau anak Pramuka, maka sekarang kita harus punya. Peluit bisa digunakan untuk meminta bantuan, misalnya: saat terperangkap di reruntuhan.

10. Uang
Besar uangnya tergantung kebutuhan kita selama 3 hari. Sisihkan uang cash hanya untuk TSB ini, usahakan jangan digunakan untuk yang lain.

11. Alat Bantu Penerangan
Walaupun di setiap ponsel masa kini memiliki lampu senter, tapi kita tetap perlu menyediakan ‘senter manual’, korek api, dan lilin.

Nah, kesebelas golongan benda-benda di atas harus dimasukkan ke dalam tas besar yang kondisinya masih baik. Simpan tas tersebut di tempat yang disepakati oleh semua anggota keluarga. Lebih bagus jika diletakkan tidak jauh dari pintu keluar.

Pixabay
Kalau saya pribadi, mungkin ada tambahan berupa mushaf Alquran dan buku-buku, baik buku saya sendiri atau buku untuk anak-anak saya. I believe they will heal us.

Sambil menyiapkan Tas Siaga Bencana, tak lupa saya pun mengucapkan doa ini:

Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa la fis samaa'i wahuwas sami'ul alim.


Artinya:
Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya sesuatu itu tidak berbahaya di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Mengetahui.



Yuk terus berdoa dan bersiap-siaga!


Salam siaga,




Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.
#ODOP_Day6

No comments:

Post a Comment