My Lifestyle, My Journey, My Happiness

November 29, 2018

Tertawan Pada 5 Tempat Makan

by , in




Setelah kemarin seru-seruan menceritakan tentang diri sendiri, sekarang berlanjut dengan tema tempat makan favorit saya. Yeah, masih menjalani #BPN30DayChallenge2018 di hari ke-7. Duh, hujan-hujan begini ngomongin makanan jadi lapar, deh 😋



Sebelum saya menyebutkan lima tempat makan favorit, saya ingin berkata jujur dulu bahwa saya sekeluarga termasuk jarang berwisata kuliner. Maksimal sebulan 4 kali lah. Bisa disebut jarang, 'kan? Selain itu, saya juga jarang mengabadikan makanan yang sudah terhidang di meja. Apalagi sejak ada si kecil. Anaknya dulu yang harus diurusin 'kan, Mak? 😅



Tapiii... saat ada 'tugas' dengan tema yang ditentukan seperti ini, barulah saya merasa perlu bukti dokumentasi. Next time, semoga saya bisa lebih bersungguh-sungguh mengabadikan momen wisata kuliner. Lumayan kan, ceritanya bisa untuk mengisi blog 😉


Nah, tempat makan yang biasanya kami pilih adalah yang dekat dengan rumah. Lha namanya saja favorit. Pastinya ya yang sering kami kunjungi. Hmm... tapi biar adil dan merata, formasinya 3 versus 2 saja, deh. 3 dekat rumah, 2 yang jauh. Inilah mereka:

1. Warung Pangsit Mie "Raos"

Pangsit Mie sendiri adalah salah satu kuliner andalan khas Malang. Menurut saya sih ini lebih enak daripada Mie Ayam. Bedanya ada pada jenis mie yang digunakan, topping ayam goreng, dan cabenya. 

Pada Pangsit Mie, mie-nya lebih lezat dan empuk. Topping ayamnya diiiris atau disuwir, sementara Mie Ayam memakai tumisan daging ayam cincang yang dibumbu kecap. Pangsit Mie 'menyediakan' cabe hijau, Mie Ayam biasanya dicampur dengan saus sambal jika ingin pedas.

Sumber: Budi Setiardy

Nah, warung Pangsit Mie "Raos" ini adalah salah satu warung legend yang ada di desa saya. Si empunya warung, Pak To Brewok, mulai berjualan sejak tahun 1985. Dulunya, warung Pangsit Mie "Raos" menempati salah satu warung tenda di depan Pasar Pakisaji yang mulai dibuka sekitar jam lima sore. Sekarang, lokasinya beralih di pinggir Jalan Raya Pakisaji, dekat dengan Jalan Rambutan RT 16/RW 04.

Pak To Brewok saat ini tinggal sendirian karena istrinya sudah meninggal. Anaknya ada empat orang, semuanya sudah berkeluarga. Salah satunya adalah teman saya saat SD dulu. Saya ingat betul, setiap kali belajar kelompok di rumahnya, pasti disuguhi Pangsit Mie. Yummy...

Dalam kesendiriannya, Pak To Brewok tetap berjualan tapi memilih lokasi yang lebih dekat dengan rumahnya. Ini adalah kabar gembira untuk para penggemar Pangsit Mie-nya, termasuk saya.

Sumber: Budi Setiardy

Tidak lain karena rasanya enak dibandingkan para pesaingnya. Harganya memang sedikit lebih mahal yaitu Rp 8.000 seporsi (plus dua bakso berukuran sedang). Para kompetitornya biasanya memasang harga di angka Rp 5.000 tapi tanpa bakso. Sebenarnya sama saja sih, ya 😊

So, saya berani memberikan nilai 4 dari 5 untuk Pangsit Mie "Raos" ini.

2. Warung Bakso Cak Kosim 

Ini juga salah satu warung yang cukup populer di desa saya. Dulunya, Cak Kosim, sang pemilik warung adalah penjual bakso keliling. Sejak saya masih SD, beliau mampir ke kampung saya setiap hari. Biasanya untuk menunaikan salat dan gerobaknya ditinggal di luar musala.

Cak Kosim mempersilakan para pembelinya untuk mengambil sendiri bakso jika beliau sedang salat. Mengandalkan kejujuran, nih. Orangnya ramah pula. Akhirnya beliau berjodoh dengan salah seorang ART-nya tetangga saya. Setelah menikah, bisnisnya maju pesat. Benar-benar berkah ini mah.

Saat ini, Cak Kosim mempunyai tiga warung bakso yaitu di dalam Pasar Pakisaji, di dekat rumahnya, dan membuka cabang di desa sebelah. Seringnya sih saya membeli bakso yang di dalam pasar karena lebih dekat jaraknya. 


Warungnya sudah mulai dibuka sejak pukul delapan pagi sampai baksonya habis. Isi baksonya beragam, khas Bakso Malang. Ada bakso kecil, bakso Tim besar, goreng, tahu putih-coklat, mie kuning, bihun, dan lontong. Harganya menyesuaikan karena boleh memilih isinya. Biasanya sih saya membeli dari Rp 5.000 sampai Rp 10.000


Rasanya lumayan enak. Nilainya 3.5 dari 5, lah. Bukan bakso yang paling saya sukai, sih. Salah satu alasan saya membeli di sana karena dia dan istrinya orang baik. Membeli sekaligus silaturahmi. Saya merasa tentram juga karena Cak Kosim menyembelih sapi sendiri sebagai bahan baku baksonya. Halal itu tetap nomor satu. Bukankah begitu?

3. Warung Nasi Goreng Selva

Warung ini menempati salah satu warung tenda di depan Pasar Pakisaji. Buka mulai pukul lima sore sampai sekitar pukul sepuluh malam. Nasi Goreng memang nikmat disantap saat sarapan atau makan malam.

Warung ini termasuk baru di wilayah saya. Saya tidak terlalu mengenal penjualnya karena beliau pendatang, mengontrak rumah di sini. Tapi rupanya banyak juga pelanggannya. Kadang si empunya warung ini melayani pesanan juga untuk acara semisal arisan.

Sumber: Selva Herwanti

Nah, saya punya kisah tak terlupakan dengan Nasi Goreng Selva ini. Tepatnya saat masih hamil si kecil dulu. Saya teler di trisemester pertama, tidak doyan makan. Eh, tiba-tiba saja saya ingin sekali makan Nasi Goreng Selva.

Alhamdulillah, berhasil. Saya bisa makan lahap, hehe. Alhasil, hampir setiap hari saya dibelikan nasgor tersebut. Iya lah, saya saat itu manjah pada misua Dan ibunda, hehe. Biasanya saya request nasgor yang tanpa menggunakan saus dan penyedap. Tetap enak, sih.


Nilai untuk Nasi Goreng Selva 4 dari 5, lah. Enak, toppingnya lengkap, dan porsinya cukup banyak. Cukup mengeluarkan isi kocek sebesar Rp 8.000 saja per porsi. 

Btw, gara-gara Nasi Goreng Selva, saya menjadi lebih sering memasak Nasi Goreng di rumah. Padahal sebelumnya, saya sih biasa saja dengan menu yang satu itu. 

4. Ayam Goreng Nelongso

Nah, rumah makan Ayam Goreng Nelongso (AGN) ini juga berkaitan dengan masa kehamilan saya. Tapi saya sudah memasuki trisemester kedua saat itu. Setelah melihat-lihat instagram, lha kok saya jadi kepengen tak tertahankan. Padahal 'hanya' ayam goreng. Waktu itu AGN memang masih baru di Kota Malang dan sedang gencar melakukan promo di instagram.

Hmm, kenapa namanya Nelongso, ya? Itu karena pemiliknya, Nanang Suherman, pernah mengalami masa-masa nelongso alias sengsara sebelum memiliki AGN. Dia adalah anak broken home, pernah hampir melakukan aksi babi ngepet, tapi gagal. Dia juga sampai harus menjadi pemulung.

Pelanggan sering berjubel seperti ini

Sekarang, omzetnya sudah miliaran rupiah. Outletnya tidak hanya di Malang, tapi juga di Sidoarjo, Surabaya, Gresik, Jember, Bandung, Depok, Jogja, dll. (Mungkin) ada 38 outlet AGN saat ini.

Tapi ini limited edition, sekitar 20-30 porsi saja per hari

Salah satu daya tarik AGN adalah harganya yang terjangkau. Awalnya sih menyasar para mahasiswa di Malang. Anak kos kan kadang nelongso ya makannya, hehe... Waktu itu dengan Rp 5.000 saja sudah dapat nasi, sayap, ceker, dan sambal yang maknyuss. Nah, sebagai penyuka pedas, saya cocok dengan sambalnya.


AGN buka selama 24 jam. Tak harus ke outletnya, bisa juga via Abang Ojek Online. Kurang apalagi, coba? 
Nilai untuk AGN 4 dari 5 juga, deh.

5. Pondok Desa Resto

Restoran ini mengusung tagline "The Best Traditional Restaurant". Konsepnya memang menghadirkan kelezatan kuliner tradisional nusantara, terutama seafood. Ada berbagai macam ornamen, bangunan, properti, dan peralatan makan bernuansa tradisional. 


Menu andalannya seperti: Nila Sarang Telur, yang digoreng renyah dan gurih, Gurami Goreng Selfie, Udang Bakar Sate, dan Kepiting Jumbo Asap. Ada juga sih yang non-seafood seperti Tahu Telor Pondok Desa, Mie Jawa Pedas, sampai Es Dawet.


Restoran ini memiliki tiga cabang yaitu di Mall Olympic Garden (MOG), Jalan Tumenggung Suryo, dan Giant Ekstra Kebonsari. Nah, saya sekeluarga memilih yang paling dekat dengan rumah yaitu yang di Kebonsari. Resto ini buka mulai pukul 10.00 sampai 22.00 WIB.

Pertama kali masuk ke sana, saya merasa nyaman sih. Dekorasi ruangannya bagus, terkesan artistik. Waktu itu sedang menuju jam berbuka puasa. Pengunjungnya lumayan penuh. Si kecil agak rewel pula, jadi mana sempat berswafoto di spot 3D. Ya, resto ini mengklaim sebagai resto 3D pertama di Kota Malang.

Sumber: pondokdesa.wordpress.com

Pelayanannya cukup ramah. Tapi, menurut saya menu yang kami pesan agak lambat datangnya. Mungkin karena pengunjungnya banyak sih, ya. Sedangkan rasa makanan di resto ini menurut saya sih standar. Tapi beneran, suka dengan suasananya. Pantesan, resto ini pernah dinobatkan sebagai juara ke-2 dalam event Jawa Pos Culinary Award 2017 untuk kategori The Best Indonesian Restaurant. 


Bolehlah saya kasih nilai 4 dari 5 juga. 🙂

Nah, itulah review ala-ala saya, hehe. Agak susah juga sih harus mereview 5 tempat makan sekaligus. Apalagi -sekali lagi- minim dokumentasi. Alhasil, postingan ini jadi yang paling lama prosesnya di tantangan ini, hiks. Maju mundur antara diteruskan atau tidak.

Pesan moralnya: walaupun bukan food blogger, saya sebaiknya tetap mengabadikan wisata kuliner saya. Insya Allah, segera dipraktikkan ^^


Salam kuliner,






#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan
#Day7
#5TempatMakanFavorit



November 27, 2018

5 Things I Love About Me

by , in

Hari ke-6 #BPN30DayChallenge menantang para pesertanya untuk menceritakan 5 fakta tentang dirinya masing-masing. Waini... Bagi saya ini adalah kesempatan untuk seru-seruan. Ini adalah kesempatan untuk mengenalkan diri lebih spesifik kepada publik. *halah


Oh, iya. Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu. Saat itu ada seorang blogger yang membagikan hasil kuis di OMG yang terkait dengan dirinya. Tepatnya tentang princess Disney yang sesuai dengan kepribadiannya. By the way, apaan sih OMG? Cari deh aplikasinya di facebook ^^

Biasanya sih saya tidak tertarik bermain begituan. Entahlah waktu itu saya kok jadi penasaran, hehe. Iseng-iseng saja, ah. Daaan... taraaa! Ternyata (katanya) saya itu mirip Pocahontas. 😝  Padahal sebenarnya saya ngarep kalau mirip Rapunzel 😁


Nyoba lagi, ah. Lhooo... di percobaan kedua ini kok saya dimiripkan dengan Merida. Hehe, gak konsisten, nih. Namanya juga mainan, yak. Tapi kalau dipikir, ada sebagian kepribadian mereka yang mirip juga dengan saya, sih. Boleh juga lah sebagai sarana cermin diri.

Not bad. Ada hal lain juga yang bisa saya garis bawahi yaitu semakin ke sini, sosok para princess Disney semakin beragam. Mereka ditampilkan dengan kecantikan dan keunggulannya masing-masing. Not only outer, but also their inner beauty. Makanya, saya tertarik juga menonton film tentang para princess itu.

Walaupun menjadi penonton mereka, pastinya saya tidak ingin menjadi princess, kok. 'Kan sudah menjadi ratu. 😍 Yeah, saya menikmati menjadi diri sendiri yang menerima kelebihan dan kekurangan diri apa adanya. 

Nah, kali ini saya ingin menceritakan tentang sisi diri saya yang positif. Pastinya saya punya banyak sisi negatif, dong. Tapi, dalam rangka mensyukuri keberadaan diri sendiri, saya memilih untuk membahas hal-hal yang membuat saya bersemangat. Insya Allah, bukan dalam rangka menyombongkan diri, ya. Yuuk, mariii...

1. Pecinta Buku

Seperti pada postingan sebelumnya yang membahas tentang tema blog, saya mengaku sebagai pecinta buku. Seberapa cintanya? Setinggi gunung, sedalam lautan. 😝 Enggak, ding. Jujur, mungkin belum pada taraf predator. Tapi, jika disuruh memilih antara membeli baju atau buku yang saya incar, pasti saya mendahulukan membeli buku.

Tidak heran, koleksi buku saya selalu bertambah setiap bulan. Baik itu buku antologi atau buku karya orang lain, dari yang murah sampai yang mahal. Akhirnya, buku-buku itu menumpuk dan saya sering keteteran untuk menyelesaikan bacaan saya akhir-akhir ini. Hiks...


Lha kalau jadi menimbulkan masalah, kenapa dianggap sebagai sisi positif? Iya, dong. Justru itu mendorong saya untuk bisa mengatur waktu lebih baik lagi. Saya tidak menyesal membeli buku-buku itu. Bagi saya, itu adalah sebentuk dukungan sederhana untuk para penulis yang telah bekerja keras. Sejak aktif di dunia literasi, saya merasakan sendiri bahwa menulis itu adalah aktivitas yang penuh perjuangan. 💪

Bahkan untuk buku-buku antologi yang terbit indie, saya tertarik untuk bergabung di dalamnya. It's okay jika ada orang yang memandang remeh keberadaan buku antologi. Misalnya: sudah nulisnya rame-rame, ehh penulisnya harus beli bukunya sendiri. 😇 

Kalau hanya memandang untung rugi, memang sepertinya rugi karena saya harus mengeluarkan biaya. Tapi, insya Allah banyak manfaatnya. Boleh deh dibaca pada postingan 6 Alasan Pribadi Menulis Buku Antologi

Menjadi pecinta buku juga memudahkan saya untuk mengajak anak saya melakukan hal yang sama. Si Afra, anak sulung saya, akhirnya menjadi seorang anak predator buku. Misalnya, dia sudah selesai membaca novel "Ayah"-nya Andrea Hirata. Saya malah belum, hehe.  

Karena Afra kami anggap 'lulus ujian' dalam hal membaca buku, saya dan suami tidak keberatan membelikannya ponsel baru-baru ini. Dia termasuk terlambat memiliki ponsel dibanding teman-temannya. Hmm... akan saya tuliskan tentang ini lain kali saja, ya.

So, seharusnya OMG memiripkan saya dengan Rapunzel, dong. 'Kan dia suka membaca buku juga. 😝 *halah, mbahas itu lagi...

2. Sederhana

Singkatnya, saya terbiasa hidup sederhana dan menjadikan hal yang sederhana di mata orang lain menjadi hal yang tetap berharga dalam pandangan saya.

Menurut saya, sederhana itu adalah sebuah kekuatan yang penuh keanggunan. Ia adalah kebiasaan hidup yang baik untuk diterapkan pada saat kaya maupun memang pas-pasan. Kadang sulit lho untuk mengerem berbagai keinginan konsumtif di saat kita berkelimpahan. 


Pun di saat pas-pasan, ada juga yang memaksakan diri untuk hidup dengan standar yang sebenarnya tidak tercapai olehnya. Demi apa? Biasanya sih demi memperoleh pujian orang lain. Wallahu a'lam. Insya Allah, saya terus berusaha tidak terjebak di dalam kedua arus tersebut.

"Tik, kok nggak beli mobil Xe*ia yang baru saja?" tanya seseorang waktu itu.
"Kami mampunya beli mobil bekas, Mbak," jawab saya enteng.

Itu salah satu contoh peristiwa yang pernah saya alami. Ini bukan berarti para pembeli mobil sekelas Xe*ia atau bahkan Alph*rd adalah yang tidak hidup sederhana lho, ya. Bisa jadi mereka hidup sederhana dengan standarnya tersendiri. Dan saya merasa cukup dengan memiliki mobil sederhana yang bisa membawa kami mudik ke Solo. Alhamdulillah.

3. Suka Belajar

Berani menerima tantangan #BPN30DayChallenge2018 adalah salah satu bukti kalau saya suka belajar. Iyain aja, ya. Biar cepat selesai 😁 

Yups, jika ada hal yang menarik perhatian saya, biasanya saya akan berusaha mempelajarinya. Tentunya yang sesuai dengan minat saya dong, ya. It's okay jika awalnya belum tahu karena itu bukan aib. Masih ada kesempatan untuk mencari tahu lebih dalam. Yang salah adalah tidak mau tahu dan sok tahu, yekan?

Flashback sebentar. Di zaman saya kecil, nilai akademis masih menjadi tolok ukur kecerdasan seorang anak. Saya aman di bagian ini karena sering nongkrong sebagai juara kelas. Ya, kesukaan saya belajar telah membuahkan hasil itu. Biidznillah.


Suka belajar itu juga yang dulu mendorong saya untuk beraktivitas sepulang bekerja saat masih di Batam. Menjadi santriwati, pengurus remaja masjid, dan meneruskan kuliah tetap saya jalani walaupun waktu dan tenaganya sebenarnya terbatas. Sekarang, itu semua indah untuk dikenang.

Setelah menjadi ibu dan resign dari pekerjaan, saya tetap merasa harus terus belajar. Otak ini harus terus diajak berpikir dan bergerak. Pastinya banyak hal yang masih harus saya pelajari. Tentu saja masih jauh dari sempurna. Tapi, 'modal' suka belajar ini akan menjadi trigger bagi saya untuk terus menjadi ibu pembelajar. Insya Allah.

4. Berani Berbeda

Sejak remaja, saya tidak takut menjadi pribadi yang berbeda dengan teman yang lainnya. Tentunya dalam hal yang positif. Prinsip sederhana saya waktu itu: setiap orang 'kan unik. Maka saat teman-teman mulai berpacaran, saya lempeng saja. Saya malah asyik menikmati dunia saya sebagai sport and music lover.

Hal itu terus berlanjut sampai saya memasuki usia dewasa muda. Setelah berhijrah, saya bertekad untuk bisa menikah tanpa pacaran. Keukeuh pokona mah. Alhamdulillah, itu bisa terlaksana. Btw, tanggal 27 November ini adalah our 13th Wedding Anniversary 😍💗


Berani menjadi pribadi yang berbeda dengan pilihan yang berbeda ini dalam banyak hal telah menentramkan saya. Misalnya lagi, tentang pilihan sekolah anak, jumlah anak, sampai kepada keputusan LDR yang saat ini kami jalani. 

Anak saya bersekolah di desa: aku rapopo. Anak saya saat ini 'cuma' dua: aku rapopo. Saat ini saya tidak bisa face to face dengan suami dari Senin-Kamis: aku rapopo. Sampai kepada keputusan saya untuk menjadi blogger yang belum lazim bagi orang-orang di sekitar saya: aku rapopo. Beneran, deh. 😎

5. Setia

Wah, kalau ini bisa deh ditanyakan ke suami saya. Hehe... Saya bertekad menjadikan my husband sebagai cinta pertama dan terakhir, maka setia menjadi senjata saya. Alhamdulillah, ini juga menjadi modal saat harus berjauhan seperti sekarang.

Selain kepada pasangan, rasa setia itu pernah saya terapkan saat menjalani pekerjaan. Saya enjoy saja menjalaninya. Itu membuat saya bisa menikmati pekerjaan saya, terutama saat berada di Batam selama 10 tahun. Dulu ada seseorang yang berkomentar: mending tetap di Malang walaupun serabutan daripada jauh-jauh ke Batam. Belum tahu dia bahwa saya justru menjalaninya dengan setia.


Begitu juga saat harus kembali ke Malang dan memulai dari nol lagi. Saya (dan suami) setia menjalani hari-hari yang tidak mudah. Sampai akhirnya saya memilih untuk 'bekerja di rumah', saya pun setia menjalaninya hingga hari ini. Bosan? Alhamdulillah, jarang karena saya sudah menentukan resepnya. 🙂

Fiuhh, lengkap sudah celoteh mengenai 5 hal tentang saya yang saya sukai. Sekali lagi, ini bukan dalam rangka narsis tapi tugas. Hehe... Entahlah, kok Blogger Perempuan Network suka dengan angka 5, ya? Ada yang tahu?

Oke, deh. Terima kasih sudah menyimak. Boleh kok protes tentang kelima hal yang saya ceritakan di atas. Monggo...


Salam,







#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan
#Day6
#Tentang5FaktaDiri
November 25, 2018

5 Hal agar Tetap Waras Bermedia Sosial

by , in

Pada hari ke-5 #BPN30DayChallenge2018, ada tantangan untuk menulis tentang media sosial. Wah, menarik, nih. Ya, berbicara tentang media sosial ibaratnya sedang menceritakan keseharian kita sendiri. Bukankah hari ini hampir semua orang mengenal, bahkan tidak bisa lepas dari media sosial?

Sedikit cerita, ya. Saya punya teman, sepasang suami istri yang saya kenal saat merantau di Batam dulu. Selepas dari Batam, mereka tinggal di kota yang jauh jaraknya dari tempat saya. Istrinya cantik, suaminya ganteng. Sungguh pasangan yang serasi, begitu kata orang-orang yang mengenal mereka. 

Keduanya dianugerahi tiga orang anak yang lucu dan menggemaskan. Kebahagiaan keluarga mereka tergambar jelas, setiap kali keduanya mengunggah kebersamaan mereka di facebook. What an almost perfect couple!

Saya sempat tidak mengikuti perkembangan kehidupan mereka beberapa bulan. Waktu itu saya memang agak jarang facebook-an. Begitu mulai berselancar lagi, saya sempat berpikir: kok status mereka jarang muncul, ya? Rasa penasaran saya terus berlanjut. Tapi entah kenapa waktu itu saya tidak meng-klik akun mereka. Yeah, saat itu tidak memungkinkan saya untuk kepo, sih :)


Sampai suatu hari, seorang teman lain yang berdomisili di Batam mengirimi saya pesan melalui facebook messenger. Dia memberitahukan bahwa pasutri idaman di atas telah bercerai. Saya begitu sedih mendengarnya. Bagaimanapun saya dan mereka pernah sangat akrab. Saat itulah saya membuka wall facebook mereka dan mendapati bahwa foto-foto kebersamaan mereka sudah tidak ada lagi.

Begitulah. Facebook, salah satu jejaring sosial itu dengan cepat bisa memberitahukan kepada khalayak ramai tentang kondisi terkini seseorang. Tentunya jika orang tersebut terbiasa aktif sebagai pengguna. Contohnya, teman saya itu. Walaupun dia tidak secara spesifik memberitahu pada dunia bahwa dia telah berpisah dengan suaminya. Status yang tersirat dan foto-foto kesendiriannya lah yang kemudian berbicara.

Untuk kedua teman saya, jika kalian membaca ini, saya hanya ingin berkata: both of you are still my friends. Saya tidak tahu secara detil penyebab kalian berpisah. Saat ini saya juga belum ingin mengusik kalian, terutama sang istri. Sabar, ya. Dalam waktu dekat kita akan ngobrol-ngobrol lagi via chatting. Insya Allah :)

Masih berkaitan dengan facebook. Kali ini tentang saya sendiri. Suatu hari seorang teman menanyakan tentang beranda facebook saya yang mayoritas berisi tentang dunia literasi dan blogging. Katanya: kok tidak nyetatus tentang politik lagi? Hehe... teman saya ini memang lumayan mengikuti beranda saya terus. Jadi berasa selebriti *kibas daster :D

Well, padahal ada juga sih status saya tentang politik tapi lebih ke arah himbauan kampanye damai. Duluuu, pernah sih beberapa kali saya nyetatus politik yang menunjukkan keberpihakan. Saya berusaha mengemasnya dalam bahasa sesantun mungkin. Insya Allah, tidak bermuatan hoaks juga. Eh, yang komentar lha kok malah agak kasar sembari meluapkan kemarahan. Bukan, bukan dari kubu lawan. Justru dari 'teman' saya sendiri. Waduh... saya jadi bingung menjawabnya.

Selain itu, semakin lama saya merasa tidak sreg karena setiap kali membaca status tentang politik praktis, selalu saja ada pertengkaran. Ada sih yang diskusinya hangat dan mencerahkan. Tapi, itu sedikit sekali saya temui di ranah medsos ini.

Saya menebaknya, mungkin karena yang berdebat kusir sebenarnya bukan ahli dalam bidang politik. Ditambah lagi,  mereka mungkin tidak sadar sedang berada di  echo chamber alias ruang gema. Lha ngumpulnya dengan yang sealiran melulu. Informasi yang didapatkan ya akhirnya tidak cover both side. 


Ini bukan berarti kita tidak boleh menyatakan dukungan terhadap partai atau paslon yang kita sukai. Silakan saja. Yeah, pada dasarnya bidang politik itu tetap menjadi salah satu pilar pembangunan bangsa ini, kok. Kita butuh politik sebagai sarana untuk memilih pemimpin. Tapi, dari perjalanan ngobrol saya dengan banyak orang, saya mendapati bahwa sebenarnya berbicara politik praktis itu memusingkan dan rawan menimbulkan perpecahan jika tidak hati-hati. Trust me!

Oke, deh. Jadi, dua cerita di atas berkaitan dengan facebook -sebagai salah satu media sosial populer di Indonesia- dan segala fenomenanya. Cerita pertama tentang cepatnya informasi yang kita peroleh berkat media sosial. Sedangkan yang kedua adalah tentang perdebatan di antara warganet yang tak jarang berujung kepada permusuhan.

Well, media sosial memang punya dua sisi. Pastinya kita harus mengambil hal-hal baik dan membuang hal-hal buruknya dong, ya. Nah, kali ini saya ingin berbagi tentang 5 hal yang harus kita perhatikan agar media sosial tetap membuat kita waras.

1. Pilih Media Sosial yang Sesuai

Ada banyak pilihan media sosial yang aplikasinya tersedia dalam genggaman kita, tinggal 'klik' saja. Namun menurut saya, sebaiknya tidak semuanya kita pilih. Wah, bisa letoy jempol kita, hehe. Sesuaikan saja dengan kebutuhan, walaupun internal memory ponsel kita mungkin sudah sebesar 1 Terrabyte. *Wuih, horang kayah...

Misalnya, pilihan media sosial saya adalah blog, facebook, twitter, dan instagram. Itu karena saya memilih untuk lebih fokus menjadi Momblogger, karena blog saya membutuhkan tiga rekannya itu. Setelah menulis di blog, saya biasanya membagikan link blog saya melalui facebook, twitter, dan instagram. Selain itu, job blogger juga mempersyaratkan keaktifan ketiganya plus jumlah followernya. Pas, bukan?

Saya menjadi blogger di kompasiana juga, sih. Tetapi belum aktif lagi karena memang waktunya sedang tidak memungkinkan. Begitu juga dengan youtube. Saat ini saya belum bisa menjadi youtuber, entah jika nanti si kecil sudah besar. Saya pastinya tidak akan memaksakan diri untuk bisa menghandle semuanya. Kaskuser? Enggak juga, tuh.

Akun instagram saya. Follow, yak :)

Nah, boleh-boleh saja kok jika teman-teman hanya aktif di instagram, misalnya. Biasanya sih anak-anak muda nih yang suka jadi instagrammer. Anak saya yang sedang beranjak remaja begitu juga. Tidak lain karena dia penggemar berat komik dan instagram menyuguhkan beraneka komik menarik untuknya. Tapi ada juga teman yang tidak nyaman dengan instagram karena merasa itu tempatnya orang-orang pamer kebahagiaan melulu, hehe. Dia jadi merasa minder, gitu. It's okay. Uninstall saja jika merasa begitu. Pilih saja yang sesuai bagimu, deal?

2. Cerdas, Yuk!

Saya pernah merasa gimanaaa gitu saat membaca sebuah komentar yang  menggunakan huruf kapital semua. Ternyata yang seperti itu memang tidak sopan, bos! Biasanya diartikan sebagai seseorang yang sedang marah. Caps lock-nya sedang rusak? Melipir dulu, atuh. Hehe...

Saya pernah juga merasa pusing karena seorang teman menawarkan barang dagangan  agak memaksa dengan memakai tulisan orang lain. Jadi, saya tahu bahwa itu adalah tulisan Mbak A yang populer sebagai seorang ahli parenting. Lha, teman saya itu enteng saja memasang tulisan itu tanpa sumber asal, memang sih berkaitan dengan barang dagangannya. Saya tegur, deh baik-baik. Katanya dia mendapatkan tulisan itu dari grup reseller yang diikutinya. Hadeeh...

Lalu, hindari deh menyebarkan berita bohong. Tapi sepertinya masiiih ada saja kasusnya setiap hari. Biasanya sih berkaitan dengan kepentingan golongan atau suatu berita heboh tapi kurang klarifikasi. Kebetulan saya ikut bergabung di sebuah grup anti hoaks, sebagai anggota saja, sih. Tidak lain agar saya cepat mendapatkan jawaban jika ada berita hoaks yang berkeliaran.


Secara garis besar, konten hoaks dibagi menjadi dua golongan, yaitu: misinformasi dan disinformasi. Nah, secara singkat, misinformasi adalah sebentuk informasi yang salah, sementara disinformasi adalah informasi yang (justru) sengaja dibuat salah.

Ada 7 macam bentuk misinformasi dan disinformasi yang harus kita waspadai, yaitu:
  • Satire atau Parodi
Mungkin saja niat awalnya tidak bermaksud merugikan pihak lain, tapi konten ini berpotensi untuk mengelabui orang lain yang membaca, melihat, atau mendengarnya.
  • Konten yang Menyesatkan
Biasanya terdapat penggunaan informasi yang sesat untuk membingkai sebuah isu/berita atau individu.
  • Konten Tiruan
Ini adalah ketika sebuah sumber asli ditiru/diubahsuai. Nah, seperti kasus teman saya yang menawarkan barang dagangannya itu, lho.
  • Konten Palsu
Jenis ini berupa konten baru yang 100% salah dan (sengaja) didesain untuk menipu serta merugikan.
  • Keterkaitan yang Salah
Ini adalah ketika judul, gambar, atau keterangan tidak mendukung konten.
  • Konten yang Salah
Jenis ini adalah ketika konten yang asli dipadankan atau dikait-kaitkan dengan konteks informasi yang salah.
  • Konten yang Dimanipulasi
Ini adalah ketika informasi atau gambar yang asli (sengaja) dimanipulasi untuk menipu.

3. Kreatif dan Produktif

Media sosial seharusnya menjadi ajang adu kreatifitas, bukan adu jotos. ^^ Kesempatan terbuka luas bagi kita, para penggunanya, untuk unjuk gigi dalam bidang yang positif.

Nah, instagram digemari banget nih untuk berjualan online. Sebaiknya sih memilih yang instagram bisnis, bukan instagram personal, ya. Begitu juga dengan facebook, sebaiknya teman-teman yang punya bisnis online membuka fanpage tersendiri untuk jualan. Seringnya, teman-teman lain bisa jenuh lho kalau isi wall kita jualan melulu.

Unjuk gigi Sabyan Gambus di Youtube juga telah membuahkan hasil. Siapa sih sekarang yang tidak kenal dengan Nissa Sabyan, si cantik yang pandai melantunkan salawat itu? Begitu juga dengan Ria Ricis. Ini mah kesukaan anak saya gara-gara si Ricis sering membahas squishy , hehe.


Kampanye online pun boleeeh... Barack Obama pernah memasifkan kekuatan internet saat kampanye presiden tahun 2008. Tapi ya itu: tim kampanyenya harus kreatif dan sportif, ya. Pasti jagad maya akan lebih adem.

Nah, sedangkan nilai produktif dalam bermedia sosial bisa kita peroleh dengan bergabung di grup atau forum diskusi yang produktif, grup seprofesi, ataupun grup yang membahas tema-tema bermuatan positif lainnya. Aura positif sebuah grup akan menular ke seluruh anggota grupnya, lho. I've proven it!

4. Kenali Undang-undangnya

Sebagai warga negara yang baik, tentunya kita harus mematuhi undang-undang yang mengatur aktivitas kita di media sosial. Ya, karena bermedsos juga merupakan sebuah perbuatan, bukan sekadar mainan jempol saja. Menurut saya sih ini untuk kebaikan bersama juga.


Nah, ini dia undang-undang yang sudah disusun sejak lama:

  • UU No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, mengatur tentang informasi dan transaksi elektronik dan perbuatan yang dilarang.
  • UU No. 44 Tahun 2008 tentang pornografi. Ada penjelasan tentang perbuatan apa saja yang termasuk tindakan pornografi, termasuk tulisan, foto, atau video yang kita unggah dan sebarkan di media sosial.
  • Surat Edaran Kapolri No. SE/6/X/2005 tentang penanganan ujaran kebencian (Hate Speech). Ujaran kebencian dapat berupa tindak pidana, seperti: penghinaan, pencemaran nama baik, penistaan, perbuatan tidak menyenangkan, memprovokasi, menghasut, dan menyebarkan berita bohong yang dapat berdampak pada tindakan diskriminasi, kekerasan, penghilangan nyawa, dan atau konflik sosial. Ini berlaku juga lho untuk tindakan di media sosial.


5. Batasi Waktunya

Secinta-cintanya kita pada media sosial, membatasi waktu penggunaannya adalah sebuah keniscayaan. Sekali lagi, sesuaikan dengan kondisi, ya. Bagi saya yang masih mempunyai anak batita, tentu saja tidak bisa setiap saat mantengin ponsel. Saya pun tidak setiap hari mengupdate status di facebook, kok. Kadang memang benar-benar tidak sempat.

Selain itu, yuk renungkan quote dari Peter Thomson, seorang Digital Brand Strategist. Social media is not something that you "do", instead you have to " be" social.
Yeah, media sosial bukanlah sesuatu yang kamu "lakukan", sebaliknya kamu harus "menjadi" sosial.


Kita masih punya kehidupan nyata yang sangat memerlukan keberadaan kita secara sadar. Ya, kita sebaiknya hadir secara fisik dan pikiran di setiap kegiatan harian kita, terutama yang bersentuhan dengan orang lain. Ponsel dan badan kita perlu rehat, lho. Jika sudah merasa cukup, tinggalkan dulu. Tidak semua kegiatan kita perlu kita unggah, pun tidak semua postingan harus kita komentari.

Itu menurut saya. Bagaimana dengan teman-teman? Boleh memberi tambahan tentang hal lain yang perlu kita lakukan agar tetap waras bermedsos. Monggo...

Salam warganet bijak,





Sumber:
Buku "Cakap Bermedia Sosial" by Kominfo tahun 2017.

Sumber foto: pexels

#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan
#Day5
#TentangMediaSosial

November 24, 2018

5 Alasan Bergabung dengan Komunitas Blogger Perempuan

by , in

Setelah meniatkan diri untuk lebih rajin ngeblog, saya mulai mencari-cari komunitas blogger. Saya belajar dari pengalaman sebelumnya bahwa ternyata saya 'tidak berkembang' jika hanya menjadi lone ranger blogger. Menulis postingan hanya sesekali, blogwalking apalagi. Benar-benar garing. 😧


Saat itu teman-teman dekat saya yang suka menulis pun jarang yang ngeh dengan komunitas blogger. Ada sih yang sama-sama menjadi kompasianer, sebutan untuk blogger yang tergabung di kompasiana. Selebihnya, mereka lebih suka menulis status panjang di facebook. Ada juga yang suka menulis panjang di grup WhatsApp, lalu ditanggapi oleh teman segrup. Lebih banyak lagi yang menjadi pasukan copaser, hehe...

Tidak bermaksud memandang sebelah mata lho, ya. Menulis di media mana pun boleh dan bagus-bagus saja, sih. Copy paste juga boleh asal menyebutkan sumbernya, walaupun beberapa penulis di facebook merasa keberatan juga sih jika statusnya di-copas. Karena seringnya, nama penulis aslinya jadi menghilang jika materi copasan sudah jauh berantai. Hiks...

Back to the topic, I need an information about blogger community, please!

Karena tidak mendapatkan info dari teman sekitar, saya pun mencari info sendiri via media daring. Waktu itu, pertengahan 2017, saya baru saja bergabung dengan  komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) di facebook. Saat itu belum ada pengaturan jadwal harian grup, sehingga setiap hari selalu ada link blog yang dibagikan di dalam grup. Wah, banyak sekali blogger di sini, pikir saya waktu itu.

Salah seorang anggota grup tersebut menyapa saya yang waktu itu mengikuti lomba menulis di sana. Orangnya ramah sekali pada saya yang masih newbie. Saya pun mengajukan pertemanan dan diterimanya. Saya mulai membaca wall facebook-nya, ada beberapa link blog di sana. Wah, blogger aktif rupanya. Ow-ow siapa dia? Pada postingan ke depan akan saya beritahu jawabannya, ya. Hehe...

Saat membaca blog beliau itulah saya menemukan beberapa logo yang kemudian saya ketahui sebagai logo komunitas blogger. Saya meng-klik salah satunya, sebuah logo dengan huruf B, berwarna pink fanta bertuliskan Blogger Perempuan Network. Nah, ini dia!



Link tersebut mengarah pada alamat bloggerperempuan.co.id. Wow! Tampilan website-nya kece abis, dengan warna dominan pink fanta seperti logonya. We are the largest Indonesian female blogger network, langsung terpampang di halaman depan. Scrolling sebentar, saya tidak ragu untuk mendaftar sebagai anggota. Berlanjut dengan bergabung ke grup facebook-nya dan subscribe ke newsletter-nya. Done!

So, Blogger Perempuan Network (BPN) adalah komunitas blogger yang pertama kali saya ikuti. Mengapa saya memutuskan untuk bergabung menjadi member Blogger Perempuan Network (BPN)? Inilah alasannya:

1. Komunitas Blogger yang Populer

Seperti cerita saya di atas, saya sedang butuh bergabung menjadi anggota sebuah komunitas blogger. Nah, waktu itu saya melihat logo BPN selalu tampil pada blog para ladies and mom blogger senior yang saya baca. Ini menandakan bahwa BPN sudah dikenal luas di Indonesia. Punya 4000 orang lebih anggota, sih.


2. Jatuh Cinta pada Tampilan Website-nya

Yes, as I mentioned above. Website BPN menunjukkan bahwa komunitas blogger ini benar-benar dikelola secara profesional. Selalu up to date, lah. Pantesan, sudah berbentuk korporasi, sih. Tepatnya di bawah bendera PT. Perempuan Digital Indonesia. Empat orang pengelolanya yang paling saya hapal adalah Mbak Shintaries, Mbak Almazia, dan Mbak Dyane selaku co-founder, serta Mbak Alaika Abdullah selaku Community Relation


3. Mendapat Banyak Informasi

Setelah menjadi anggota dan subscriber newsletter-nya, saya rutin mendapatkan informasi terkini dari BPN via email. Ada pemberitahuan tentang update blog post dari para anggota setiap pekannya. Ya, para anggota itu sebelumnya telah melakukan submit blog post sehingga dimuat di laman BPN. Ini PR buat saya, sih. Saya belum pernah men-submit postingan terbaru blog saya. Padahal dengan melakukannya, ada kesempatan besar untuk menambah audiens blog. I am going to realize it soon, insya Allah.


Informasi yang lainnya adalah tentang lomba dan challenge. Ya, termasuk #BPN30DayChallenge2018 yang sedang saya ikuti ini. Jauh-jauh hari sebelumnya, saya pernah mengikuti lomba blog untuk pertama kalinya karena info dari BPN. Tidak menang, sih. Kalau saya baca ulang memang agak wagu, hehe. *newbie mode on 

Nah, BPN ini memang menggandeng banyak brand untuk menyelenggarakan lomba blog. Saya sendiri akhirnya memahami bahwa lomba blog itu tidak sekadar tentang hadiah. Ajang adu kreatifitasnya itu lho yang seru. Bagaimana suatu tema bisa diolah sedemikian rupa oleh para blogger dengan tulisan yang berpadu infografis keren. Sip!

4. Blogwalking Rutin via Facebook Grup

Ada Mbak Alaika yang mengelola facebook grup BPN. Setiap hari, beliau memberi kesempatan para anggota untuk men-drop blog post sesuai tema yang ditentukan setiap hari. Misalnya hari Senin adalah tentang Fashion and Beauty, hari Selasa tentang Travel and Culinary, dst. 


Dengan terjadwal seperti itu, postingan grup jadi rapi. Tidak ada anggota yang 'nyelonong' menjadi Thread Starter. Ini juga memudahkan anggota untuk melakukan blogwalking menurut tema yang ingin dibacanya. Pastinya, bisa menambah page view blog yang dikunjungi, dong.

5. Kesempatan Memperoleh Penghasilan

Langsung saja, ya. Caranya adalah bergabung di grup yang lebih spesifik lagi yaitu Grup Partnership BPN. Dari namanya saja, blogger yang masuk ke sana memang berkesempatan untuk ber-partner dengan brand tertentu. Tugasnya adalah  mempromosikan brand tersebut baik melalui postingan blog atau update status di media sosial.
Saya belum mendaftar di sana, sih. Ini dia syaratnya: 

Sumber: mbaratna.com

Nah, dari 4 syarat di atas, saya masih punya PR yang harus diselesaikan yaitu menambah jumlah follower twitter. Saat ini, follower saya di twitter masih 300an. Kalau yang di instagram mah beres :) Lalu, saya harus lebih rutin menulis postingan di blog, nih. Antara bulan Juli 2018 sampai sekarang sih, oke. Tapi dari Maret sampai Juni 2018, saya memposting cuma sekali sebulan, hiks.

Untuk saat ini, 5 alasan di atas rasanya sudah mewakili keputusan saya untuk bergabung menjadi anggota BPN. Saya masih harus banyak belajar dan bergerak. Menyimak semangat para anggota BPN lain yang berasal dari berbagai latar belakang (agama, suku, daerah, pekerjaan), membuat saya ikut termotivasi.


PR paling dekat saya adalah menyelesaikan #BPN30DayChallenge2018 ini, sehingga ada kenangan indah saat memasuki tahun baru 2019 nanti. Insya Allah.

Proud to be BPN's member.

Warm regards,




#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan
#Day4
#AlasanBergabungBPN
November 22, 2018

Rumah Keduaku itu Bernama Qonitatku

by , in

Bergabung menjadi anggota komunitas blogger tentu saja membuat saya banyak mendapatkan info tentang dunia per-blogging-an. Salah satunya adalah tentang nama domain berbayar yang sebelumnya hanya saya baca sekilas saja via berbagai website di internet. Dulu saya sering men-skip info tentang itu. Toh, memakai domain gratisan pun tetap bisa ngeblog, kok.

Saat itu saya ngeblog di www.tatiekpurwanti.wordpress.com. Pada bulan Oktober 2017,  saya mengikuti challenge One Day One Post (ODOP) yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia. Banyak blogger senior yang sudah memakai Top Level Domain (TLD), mayoritas memakai .com. Saya mulai penasaran dan berpikir: wah, ternyata memakai domain berbayar itu terlihat lebih profesional, ya.

Di akhir challenge, saya terpilih menjadi salah satu di antara tiga pemenang ODOP. Alhamdulillah. Dua pemenang lain domainnya sudah ber-TLD dan termasuk blogger yang aktif. Pikir saya, hmm... harus segera beralih ke TLD, nih. Seorang teman blogger memberi semangat bahwa dengan ber-TLD, kita bisa lebih aktif ngeblog. Pastinya karena sudah membayar, sayang dong jika blognya tetap saja melompong.

Bismillah... Deal!

Mulai Memilih Nama Domain

Saya mulai mencari informasi terkait cara membeli domain. Selain berkonsultasi dengan suami, saya juga merujuk info dari blog sugeng.id. Menurut Mas Sugeng, provider yang dianjurkannya adalah Rumahweb.com. Ternyata beberapa orang teman juga membeli domain di sana. Oke, deh. Fix!

Saya pun mengunjungi website provider tersebut dan mulai memilih nama domain yang tersedia. Awalnya, saya ingin memakai nama qonitat dengan ekstensi .com. Ternyata nama domain itu not available alias sudah ada yang menggunakan.



Atas usulan suami saya, ditambahkanlah -ku di belakang qonitat sehingga menjadi qonitatku. Ekstensi yang saya pilih tetap .com. Nah, inilah behind the scene-nya:

1. Nama Bersejarah

Qonitat adalah sebuah kata dalam bahasa Arab dan terdapat pula di dalam Alquran. Artinya adalah wanita yang taat pada Allah dan Rasul-Nya. 



Saya menyukai kata itu sejak masih gadis. Bahkan saat awal berhijab, saya menggunakannya sebagai nama hijrah dengan ditambah kata Zahra: Qonitat Zahra. ❤️
Lagipula, pada kata qonitat terdapat potongan nama saya yaitu 'tat'. Pas, bukan? ^^


Tagline blog saya 

Saat si sulung lahir, saya dan suami sepakat menyelipkan kata itu, walaupun tidak persis. Tepatnya, nama anak saya itu adalah Hamasah Afra Qonita Syazwina. Nama adalah doa. Salah satu harapan kami, tentu saja agar dia kelak menjadi wanita yang taat. Aamiin.

See, begitu sukanya saya pada kata qonitat tersebut. Maka menjadikannya nama domain akan semakin melekatkan kecintaan itu.

2. Pendek dan Mudah Diingat

Kata qonitat tergolong pendek. Sesuai dengan anjuran untuk nama domain yang sebaiknya terdiri dari satu kata atau cukup pendek saja. Walaupun berasal dari Bahasa Arab, saya kira mudah saja sih mengingatnya.



Tentu saja tidak dilarang memakai kata yang panjang, misalnya: nama sendiri secara lengkap. Ini sering dipakai juga, kok. Tapi saya tidak cenderung ke situ, sih.

3. Bukan Nama Trademark Tertentu

Alhamdulillah, belum ada sih brand atau produk muslimah yang memakai merk qonitat. Malah adanya memakai nama Afra yaitu Afrakids, hehe. Hasil pencarian saya, qonitat hanya dipakai oleh sebuah nama toko online di facebook. It's okay.



Yups, sebaiknya nama domain itu bukan bagian dari merk brand besar. Misalnya: rabbaniku.com. Padahal Rabbani sudah terkenal sebagai salah satu e-commerce busana muslim di Indonesia. Takutnya, bisa menimbulkan permasalahan hak cipta di kemudian hari.

Menurut saya, nama domain yang brandable itu penting terutama untuk website bisnis. Tapi ya jangan mengambil nama brand lain, walaupun untuk personal blog.

4. Bukan Nama Domain Bekas

Alhamdulillah, qonitatku juga tidak termasuk domain bekas yaitu domain yang sudah pernah terdaftar atas nama orang lain tapi sudah expired. Domain seperti itu bisa sih kita beli lagi tapi kita harus berani menangani resikonya.



Nah, domain bekas itu biasanya adalah bekas web spam, web pornografi, web virus, atau web berisi konten buruk yang lainnya. Banyak juga domain bekas itu sudah dibanned oleh mesin pencari Google atau Google AdSense. Rugi dong, ya karena blog kita jadi tidak terindeks oleh Google.



Cara mengecek apakah domain yang akan kita pakai adalah domain bekas atau bukan adalah melalui www.whois.domaintools.com. Ketik saja nama domain di laman awal website tersebut. Jika hasil pencarian di kolom domain status adalah deleted and available again, artinya domainnya sudah pernah dipakai orang.

5. Ekstensi .com, Mantap!

Saya memilih ekstensi .com karena itu adalah yang paling populer di internet. Selain itu, ekstensi .net dan .id juga dianjurkan sebagai ekstensi untuk blog pribadi. 



Harga tiga ekstensi di atas memang lebih mahal sih dibandingkan ekstensi lain seperti .xyz, .online, .store, atau .shop. Yang penting mah bagi saya mah aman, yak ^^


List harga domain di Rumahweb

Nah, akhirnya pada tanggal 17 November 2017, lahirlah qonitatku.com. Sempat ada sedikit kendala akibat kekudetan saya, sih. Boleh baca kisahnya pada postingan Akhirnya Saya Pindah ke Rumah Baru

Rumah kedua saya ini baru saja berulang tahun yang pertama. Met milad, yak ^^ Masih banyak yang perlu dibenahi, insya Allah sambil jalan. Eh, sambil terus menulis, ding. 😅 

Semoga kata qonitat memacu saya untuk selalu menjadi blogger yang taat terhadap rambu-rambu kepenulisan dan pada aturan kebaikan. Aamiin.

Nah, kalau teman-teman lebih suka memakai nama sendiri sebagai domain atau memilih memakai nickname seperti saya? Monggo berbagi kisah. 🙂

Salam,





#BPN30DaysBlogChallenge
#BloggerPerempuan

#Day3

#MemilihNamaBlog