My Lifestyle, My Journey, My Happiness

January 28, 2019

Taman Contong Kepanjen: Ketika Ban Bekas Naik Kelas

by , in


Keberadaan taman kota sebenarnya bukan sebuah hal yang baru. Sejak dahulu, taman yang terletak di lingkungan perkotaan itu menjadi andalan sebagai paru-paru kota. Rerimbunan hijau di dalamnya adalah sebuah harapan akan melimpahnya oksigen dan terserapnya karbondioksida.

Polusi? Semoga lekas menjauh pergi.

Kota yang identik dengan deretan bangunan beton juga memerlukan penyejuk. Baik sejuk secara hawa atau pandangan mata. Siapapun akan merasakan kesejukan saat berada di bawah naungan pepohonan. Pun hijaunya tanaman sungguh membuat mata ingin berlama-lama menatapnya.

Selain dua fungsi ekologis taman kota di atas, masih ada lagi fungsi sosialnya yaitu taman kota sebagai tempat rekreasi dan berkumpulnya warga. Setuju dong, ya. Taman kota adalah salah satu destinasi wisata kekinian yang banyak dicari karena biasanya berbiaya murah meriah. 


Nah, kali ini saya akan menceritakan sebuah taman kota di daerah saya. Tepatnya ia terletak di Kepanjen, ibukota Kabupaten Malang. Namanya Taman Contong. Dalam Bahasa Jawa, contong artinya wadah berbentuk kerucut.

Pada saat saya masih kecil dulu, para penjual kacang rebus atau kacang goreng membungkus kacang yang dijualnya dengan kertas koran yang berbentuk contong itu. Teman-teman yang se-zaman dengan saya pasti 'ngeh' dengan contong ini, ya.

Saya sendiri belum tahu kenapa Taman Contong disebut demikian. Mungkin karena letaknya di pojokan dan bentuk lahannya memanjang, lalu mengecil di ujungnya. Kadang, penamaan suatu tempat kan karena mirip dengan sesuatu, gitu.

Taman Contong ini adalah lahan sempit yang terletak di sebelah barat stasiun kereta api Kepanjen. Luasnya hanya sekitar 439 meter persegi. Semula, taman tersebut kurang terawat sehingga sedikit mengganggu pemandangan. Duh, padahal letaknya strategis karena berada di tengah kota.


Untungnya banyak pihak yang terdorong untuk bergerak. Adalah Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Sumedang Bersatu dan Komunitas Nabuh Bareng-Bareng Band (Nababa Band) yang mengawalinya. Aksi mereka tentu saja disetujui dan didukung oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Malang. Ini nih contoh kerja sama yang baik antara masyarakat dan pemerintah daerah. Sip.

Hasilnya, Taman Contong menjadi lebih bersih dan menarik. Tidak ada lagi sampah berceceran seperti sebelumnya karena tempat sampah telah tersedia. Paling-paling yang berserakan adalah dedaunan yang nantinya disapu oleh petugas kebersihan.


Bangku taman dan bagian bawah batang pohon pun dicat warna-warni sehingga menimbulkan kesan ceria. Di bagian selatan -yang mengarah ke jalan utama- tersedia ayunan, sarana bermain yang digandrungi anak-anak. Sederhana, tapi cukup manis menurut saya.


Yang paling menarik tentu saja penampakan replika berbagai hewan yang sebagian sudah nampak di atas. Ada katak, burung, gorila, kadal raksasa, kalajengking, naga, dan dinosaurus yang dicat berwarna-warni. Mereka semua terbuat dari ban bekas!


Unik dan cantik. Pembuatnya tentu berjiwa seni tinggi. Tidak mudah untuk membentuk ban-ban bekas itu menjadi 'sosok baru' yang tak biasa. Umumnya, ban bekas didaur ulang menjadi tempat sampah yang sering kita temui di sepanjang jalan.

Di dunia maya ada sih berbagai project DIY yang menggunakan ban bekas. Tapi saya sendiri belum pernah menemukan yang hasil akhirnya berbentuk replika hewan-hewan lalu dipajang untuk umum. *Colek saya kalau ada, ya.


Selain itu, daur ulang ban bekas seperti yang terdapat pada Taman Contong pastinya sebagai bentuk peduli lingkungan. Sampah ban bekas tidak dibiarkan mencemari tanah tapi justru diolah sehingga menghasilkan benda-benda Indah.

Penasaran. Maka saya, suami, dan Akmal menyempatkan diri untuk mampir ke Taman Contong beberapa waktu yang lalu. Tidak lama, karena saat itu mendung menggantung cukup tebal. Tapi saya cukup senang bisa menyaksikan sendiri perubahan Taman Contong yang sekarang.

Akmal -walaupun saat itu minta gendong- terlihat antusias mengamati hewan-hewan tiruan itu. Tidak terlihat takut. Sama dengan beberapa anak yang saat itu mengunjungi Taman Contong dengan orang tua mereka. Tampak riang gembira.


Ya, sebuah kegembiraan sederhana. Betapa kami, warga Kabupaten Malang ini, ingin juga memiliki taman kota sebanyak yang dimiliki warga Kota Malang. Kalau bisa sih lebih banyak jumlahnya. 🙂 Mengingat Kabupaten Malang adalah Daerah Tingkat II dengan wilayah paling luas di Jawa Timur setelah Kabupaten Banyuwangi. Boleh dong punya mimpi. 

Bagaimana dengan taman kota di daerah teman-teman? Sudah banyak atau masih sedikit?




Salam,
















Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.

#ODOPEstrilookCommunity
#Day11
January 27, 2019

Family Time di Festival Literasi Kabupaten Malang

by , in

Ceritanya, pada bulan Januari 2019 ini saya mencoba mengikuti lagi One Day One Post (ODOP) yang diselenggarakan oleh Estrilook Blogger Squad (by Estrilook Community). Walaupun tertinggal jauh, sih. Lanjut aja lah... Karena ini saat yang tepat untuk mengulik hal yang belum sempat saya tuliskan di blog. Salah satunya adalah saat saya sekeluarga mengunjungi Festival Literasi Kabupaten Malang 2018.

Saya awalnya tidak tahu tentang jadwal Festival Literasi yang diadakan pada tanggal 18 sampai 22 November 2018 yang lalu. Setelah ada info yang dibagikan via salah satu grup WA yang saya ikuti, barulah saya ngeh bahwa di daerah saya ada agenda bagus semacam itu. 


Ya, daerah saya -Kabupaten Malang- tentu saja kalah semarak jika dibandingkan dengan Kota Malang terkait dengan agenda literasi yang terbuka untuk umum. Minimal yang saya tahu, Islamic Book Fair -yang padat talkshow- selalu diadakan di kota. Belum lagi berbagai seminar literasi di kampus-kampus yang notabene letaknya memang di kota.

So, Festival Literasi Kabupaten Malang bagi saya adalah agenda berharga yang harus dihadiri. Sekalian family time. Saya segera mengontak suami... and he said yes.

Festival Literasi Kedua

Ternyata, Festival Literasi ini memang baru dua kali diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Kabupaten Malang. Pantesan kok saya jarang mendengarnya. Tempatnya masih sama, di Aula Puri Pahargyan milik Rumah Makan Bojana Puri, Kepanjen. Aula ini memang sering disewa untuk berbagai acara, mulai dari pameran sampai resepsi pernikahan.

Pas ini! Selain agendanya cocok, letaknya juga tidak terlalu jauh dari rumah saya. Hanya sekitar lima kilometer saja. Cuzz... Saya, suami, dan kedua anak saya pun cukup naik motor saja menuju ke sana di hari pertama festival.


Sebentar saja kami pun sampai. Tidak terlalu banyak kendaraan yang diparkirkan di halaman aula. Terdengar suara seorang pembicara dari dalam. Pasti sedang ada talkshow, pikir saya. Sebelum masuk aula, kami pepotoan dulu di booth yang tersedia.


Pengunjung masih sedikit saat saya sekeluarga masuk ke dalam aula. Mayoritas terpusat di deretan kursi di depan panggung. Dari jauh tampak dua orang pembicara di sana. Sementara itu, stand bazar buku peserta festival yang berpartisipasi tampak berderet menempati pinggir ruangan. 

Menyimak Pak Nurudin

Setelah meminta tolong suami untuk 'mengawal' Afra dan Akmal, saya segera bergabung dengan para peserta talkshow yang sudah duduk rapi sebelumnya. Kedua anak saya itu pun asyik berkeliling stand bersama Si Abi. 

Walaupun saya ternyata terlambat datang, it's okay. Saya tetap masih bisa menyimak sebagian ilmu tentang dunia literasi yang terlihat asyik dibahas. Pembicaranya adalah Pak Nurudin, seorang dosen dari Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) yang juga narablog dan penulis buku yang cukup produktif.


Pak Nurudin menceritakan tentang latar belakang buku-buku yang ditulisnya. Bukunya yang berjudul Tuhan Baru itu dihasilkan karena hobinya ngeblog. Paling ideal sih: ngeblog - nulis buku - difilmkan, katanya. Seperti Raditya Dika, tuh. *Kapan kita tiru, nih? 😉

Selain itu, Pak Nurudin menuangkan materi mata kuliah yang diampunya dengan 'bahasanya sendiri' via buku yang ditulisnya. Begitu juga dengan hasil-hasil penelitiannya yang kemudian lahir dalam bentuk buku dengan kemasan yang lebih mudah dipahami oleh umum.


Menurut beliau, tulisan yang baik adalah tulisan yang menyesuaikan siapa pembacanya. Kalau bukunya ditujukan untuk khalayak ramai, hindari penggunaan istilah-istilah yang terlalu ilmiah. Sebaiknya menggunakan bahasa ilmiah populer. Di situlah nanti bisa dinilai apakah seorang penulis itu cukup komunikatif atau kaku.

Ada satu lagi yang menarik, nih. Menurut beliau, seorang penulis buku dan penulis artikel itu seharusnya rajin membaca novel atau cerpen! Berdasarkan pengalamannya, membaca keduanya bisa menjadikan gaya tulisan lebih renyah, enak dibaca, dan tidak njelimet. *Setuju! 🙂



By the way, maafkeun. Materi beliau tidak bisa saya ceritakan semua karena di tengah talkshow ternyata Si Kecil menghampiri: mengajak saya berkeliling. Namanya emak rempong sih, ya. Alhasil, saya keluar 'barisan' dan hanya bisa mendengarkan talkshow-nya dari jauh. 

Mengakrabkan Anak dengan Buku

Aku rapopo. Tujuan utama saya dan suami pergi ke Festival Literasi memang agar anak-anak kami akrab dengan buku dalam sebuah acara. Buku tuh sepenting itu: dipajang untuk diburu banyak orang, diborong untuk dibawa pulang, dan dijadikan teman baik di rumah nanti. Pun buku-buku adalah bintang karena dibahas panjang lebar seperti pada talkshow saat itu. 


Karena tujuan itu pula, saya dan suami mengalah dengan hanya membeli masing-masing satu buah buku. Jatah untuk anak-anak kami biarlah lebih banyak. Alhamdulillah, mereka senang, dong.



Seperti halnya IBF, para peserta Festival memang hadir dari berbagai penerbit. Ada 12 penerbit nasional, termasuk Gramedia. Karena tujuan Festival Literasi ini adalah untuk meningkatkan minat baca masyarakat, banyak dijual buku dengan diskon cukup besar. 


Ya, masyarakat kita (sebagian) masih terhalang rajin membaca buku karena menilai buku itu masih mahal. Daripada beli buku, mending beli beras. Maka menghadirkan buku-buku diskonan adalah salah satu solusi. Buku-buku diskonan itu memang terbitan lama tapi ilmu dan info di dalamnya tetap masih relevan dan mencerahkan.


Saya berharap Festival Literasi seperti ini lebih sering lagi diadakan. Salut karena sepanjang Festival juga digelar lomba Majalah Dinding (Mading) untuk tingkat SMP dan SMA, lomba menggambar dan mewarnai tingkat TK dan SD, serta pameran produk-produk unggulan.


Kalau IBF di Kota Malang bisa tiga kali setahun, Festival yang ini boleh lah dua kali dalam setahun. Siap menunggu kabar. 🙂


Salam,














Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.


#ODOPEstrilookCommunity
#ODOPDay10





January 25, 2019

Memaknai Harta Berharga bersama Keluarga Cemara

by , in
Sumber: IG @ndskart_

"Try Out-ku yang bulan ini udah selesai, Mi. Besok Sabtu kita nonton, ya?" Afra, putri sulung saya yang duduk di kelas 6, menagih lagi janjinya pada Jumat siang, sepekan yang lalu.

Saya tersenyum sambil menunjuk layar kaca, "Tuh, Keluarga Cemara ada di TV."

Afra tampak mendekati televisi yang saat itu menunjukkan sebuah tayangan dari TVRI. Sudah menjelang jam dua siang.

"Kirain filmnya beneran," Afra nyengir setelah mengamati layar televisi beberapa detik.

"Ya gak mungkin lah filmnya tayang di TV sekarang. Itu sih versi lama. 'Kan ummi udah pernah bilang kalau Keluarga Cemara dulu pernah ditayangkan di RCTI," jelas saya.

Afra mengangguk-angguk sambil terus mengamati jalannya sinetron keluarga yang pernah hits tahun 1990-an itu. Zaman awal-awal saya jadi pasukan putih abu-abu.

Tik... tok... tik... tok

"Alhamdulillah, Abi pulang nanti malam. Abi juga setuju jagain adek besok,"

Beberapa menit kemudian saya kabarkan balasan pesan Si Abi pada Afra. Anak saya yang gemar menonton film itu langsung kegirangan. Finally, we are going to go cinema tomorrow!

IG: @filmkeluargacemara


Strategi Keluarga Kami

Sejauh ini, saya hanya dua kali pergi ke bioskop sejak ada si kecil di tengah kami. Walaupun sering ngiler dengan trailer film-film baru yang berseliweran, saya memilih bersabar saja menunggu filmnya tayang di televisi atau iflix.

Ya, mengajak bayi ke bioskop itu big no bagi saya. Kasihan pendengarannya yang masih sensitif, dong. Pastinya suara yang dihasilkan oleh bioskop itu cukup keras. Suara percakapan biasa saja bisa mencapai hingga 85 desibel, apalagi jika ada suara teriakan atau musik yang berdentum-dentum.

So, suara-suara dengan tingkat desibel tinggi seperti di gedung bioskop berpotensi membuat koklea pada telinga bagian dalam bayi rusak. Hiii... Padahal fungsi koklea ini penting sebagai pemroses bunyi sehingga bisa ditangkap oleh telinga.

Belum lagi kalau anaknya sudah bisa berlarian ke sana kemari seperti Akmal. Berteriak-teriak pula. Mengganggu penontonnya yang lain, dong. Orang tua pun tidak bisa berkonsentrasi menonton padahal sudah bayar tiket, hiks. *emoh rugi 😁

IG @filmkeluargacemara

Nah, sebagai tim yang kompak, kami pun berbagi tugas. Saya menemani Afra menonton, Si Abi menemani Akmal jalan-jalan. Sebenarnya suami saya itu ingin menonton juga, sih. Tapi katanya, saya yang lebih cocok dan lebih butuh. Iyes, bisa jadi bahan tulisan di blog. *Tengkiu, Abi 😘

Sebenarnya, pembagian tugas itu pernah saya lakukan saat saya dan Afra menonton film Ayat-ayat Cinta 2 pada bulan Desember 2017 yang lalu. Bedanya, saat itu Si Abi memilih bermain-main dengan Akmal di rumah. Kali ini, Si Abi mengajak Akmal berkeliling Alun-alun Malang dan melihat-lihat ikan di Splendid.

Menuju Rumah Abah

Siang itu, hujan turun rintik-rintik ketika Si Abi menurunkan saya dan Afra di area bioskop. Saya dan Afra pun segera menuju lantai tiga Malang Plaza, tempat Mandala 21 berada. Wah, antriannya mengular. Maklum, akhir pekan. 

Ini pas antrian udah lega

Sambil mengantri, saya mengecek akun instagram @filmkeluargacemara. Saat itu (19/1) jumlah penontonnya sudah mencapai 1, 2 juta-an. Wow! Sebuah pencapaian yang bagus sejak pemutaran perdananya pada tanggal 3 Januari 2019 yang lalu. 

Bukti otentik :)

Alhamdulillah, dua tiket akhirnya ada dalam genggaman. Jam menunjukkan sekitar pukul 11.30 WIB. Sudah masuk Zuhur. Kami turun kembali ke lantai bawah karena musalla ada di sana. Masih ada setengah jam lagi sebelum masuk ke studio 4, tempat Keluarga Cemara tampil nanti. Oia, kami membawa snack dari rumah sehingga tidak perlu mengantri lagi di food court. Hemat pula 😉

Siap #KembaliKeKeluarga

Studio 4 tidak terlalu penuh saat itu. Sudah setengah bulan penayangan, sih. Kami menempati seat favorit saya, paling belakang sebelah kiri. Saya mengamati sekeliling. Rata-rata penontonnya memang orang tua dan anak-anak mereka. Beberapa remaja juga tampak di sana. Bersama-sama kami belajar lagi tentang bermaknanya sebuah keluarga.

Harta yang Paling Berharga (Justru) adalah Keluarga

Saya cukup terkesan dengan ilustrasi di awal film ini. Kreatif, memberi pesan tentang keceriaan dan kedekatan dengan alam. Dua gambaran tersebut kemudian menjadi warna sehari-hari keluarga Abah (Ringgo Agus Rahman) bakda persoalan finansial mereka. Drastis. Dari keluarga berada menjadi kehilangan banyak harta. Hal itu umum terjadi di sekitar kita, bukan?

Pagiku indah, hariku cerah
Terima kasih Kau limpahkan berkah
Ketika gundah hati gelisah
Pada-Mu kuberserah
....

Ada yang masih hapal liriknya? 🙂

Widuri Putri yang berperan sebagai Cemara alias Ara mewakili apa yang dirasakan keluarganya lewat lagu di atas. Ara yang lucu dan tetap ceria ini memperkaya ragam karakter lain dalam keluarga ini. Saya langsung ngefans pada anak kedua pasangan Dwi Sasono dan Widi (eks AB Three) itu. 😍

Tiga karakter sentral yang lain tidak kalah bagus dalam menyampaikan pesan film lewat akting mereka. Ringgo Agus -yang biasanya berperan kocak- sukses menghadirkan ketegaran sekaligus ketegasan seorang kepala keluarga. Pekerjaan apapun dilakukannya demi menafkahi anak istrinya. Walaupun dia sesekali tampak 'rapuh' juga, sih. Manusiawi.

Sedangkan Emak yang diperankan oleh Nirina Zubir nyaris terlihat tenang dan penyabar di sepanjang film. Saya menangkap pesan bahwa tenang dan sabar itu adalah dua senjata seorang ibu dan istri untuk mendukung suaminya. Air mata dan rasa khawatir ditampakkan juga, sih. Di saat seperti itu, gantian Abah yang menenangkan istrinya. Ah, indahnya saling melengkapi.

Euis dan teman-temannya

Lalu ada Adhisty Zara -personel JKT48- yang berperan sebagai Euis dengan versi baru. Di sini, dia digambarkan sebagai remaja SMP yang aktif dan sedikit cuek. (bila dibandingkan dengan Euis versi lama). Persoalan khas remaja terwakili lewat sosoknya seperti perubahan biologis, asyik dengan peer group, dan pemberontakan kecil. Wah, saya tidak salah film nih. Afra bisa belajar dari kasus-kasus Euis tersebut.

Nah, mereka berempat beradu akting dengan chemistry yang mantap. Mirip anggota keluarga asli. Mereka akhirnya membuktikan bahwa kehilangan harta benda telah tergantikan dengan kesadaran bahwa harta paling berharga justru adalah keluarga.

Semua tersaji dalam dialog dan gerak-gerik yang kerap memancing keharuan. Ditambah tata musik bagus yang pas dengan jalannya cerita. Afra berkali-kali menarik tisu dan terdengar terisak. Saya juga 😭. Tentu saja ada kelucuannya juga. Lengkap. 

Tisu ini laris manis, euy :'(

Kehadiran Asri Welas yang berperan sebagai Ceu Salma turut andil sebagai pemancing tawa penonton. OOT sedikit. Jadi ingat aktingnya di film Cek Toko Sebelah yang kekeuh bernyanyi Harta Berharga. Kok bisa pas ya, dia akhirnya ikut jadi pemeran di film Keluarga Cemara? Hehe...

Sayangnya Tante Pressier yang diperankan Maudy Koesnaedi hanya tampil sebentar saja. Pas sih, cas-cis-cus Maudy dalam Bahasa Perancis oke. Lha wong dia lulusan Sastra Perancis :) Kalau konflik dengan Tante Pressier dipertajam lagi -seperti versi lama- mungkin asyik kali, ya. 

Lho, Agil -si bungsu- mana? Jawabannya: nonton aja dan temukan sendiri dimana dia, hehe...

Terima Kasih, Keluarga Cemara!

Setelah 110 menit penayangan film, saya dan Afra pun keluar studio dengan mata sembab. Ada sedikit penyesalan, sih. Nyesel nonton? Bukaaan. Pada saat ada Meet & Greet dengan Ringgo Agus, Zara, dan sutradara Yandy Laurens (6/1) di Malang Town Square, saya tidak bisa hadir. Ada keperluan, sih. Ya udah lah, ya. 🤗


Alhamdulillah, saya cukup puas menonton film drama keluarga yang belakangan menyabet berbagai penghargaan di Piala Maya ini. Cek di instagram @filmkeluargacemara, ya.

Rasanya saya tidak keberatan memberi rating 4.5/5 untuk film ini. Film yang menambah rasa syukur saya karena Allah telah memberi saya kehangatan keluarga yang tiada bandingannya.

Semoga Keluarga Cemara memberi inspirasi sineas lainnya untuk melahirkan film-film keluarga berkualitas di tahun ini. Aamiin.


Salam,











Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.

#ODOPEstrilookCommunity
#Day9

January 23, 2019

Bubur Ayam Abah Odil Malang: dari Tasikmalaya dengan Rasa Juara

by , in

Sungguh, rezeki itu tidak hanya berupa uang. Bisa bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi adalah juga bentuk lain dari rezeki. Seperti rezeki yang saya peroleh pada hari Rabu, 16 Januari 2019 yang lalu. Saya dan teman-teman blogger Malang berkesempatan untuk mengunjungi outlet pusat Bubur Ayam Abah Odil Malang.

Mayoritas warga Kota Malang pasti (minimal) mengenal nama rumah makan yang menu andalannya adalah Bubur Ayam Tasikmalaya itu. Saya sendiri lumayan sering melewati lokasi outlet utamanya yang beralamatkan di Jalan Soekarno-Hatta MP 48-49 Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang tersebut. Lokasinya mudah ditemukan karena dari jalan utama Soehat, outlet Bubur Ayam Abah Odil yang bercat oranye ini jelas terlihat.


Menentramkan, demikian kesan pertama saya saat hendak memasuki pintu depan outlet. Ada tulisan basmalah dalam ukuran besar dengan background kuning yang ditempelkan di atas pintu masuk. Saya menebak: pasti pemiliknya adalah sosok yang religius, nih. 

Tebakan saya ini semakin menguat saat saya menoleh ke arah kanan. Di salah satu pilarnya tertempel tulisan yang berbunyi seperti ini: 



Dari Pekerja Menjadi Pengusaha

Setelah semua blogger datang, acara pun dimulai. Kami menempati ruangan sebelah kanan yang biasanya ditempati oleh pengunjung, tapi saat itu dikhususkan untuk blogger event kami. Yang menemui kami adalah dua orang menantu Abah Odil yaitu Pak Khusnul Yakin dan Pak Amirosyad. Saat itu, Abah Odil sedang tidak di tempat.

Pak Khusnul Yakin dan Pak Amirosyad

Pak Khusnul mulai mengenalkan sosok Abah Odil melalui layar proyektor. Di sana tampak gambar seorang lelaki dengan senyum kebapakannya, masih terlihat muda. Itulah sosok Abah Odil. Unik ya, namanya?

Nah, nama asli Abah Odil sebenarnya adalah Ate Rushendi. Odil berasal dari nama panggilan anak keempat beliau: Abillah. Jadi, Abah Odil maksudnya adalah Abah-nya Si Odil. Begitu. Sebuah ide bagus untuk nama brand karena unik dan mudah diingat.

Gerobak, logo Bubur Ayam Abah Odil

Sebelum menjadi pengusaha kuliner, Abah Odil pernah bekerja sebagai Kepala Produksi di sebuah pabrik tekstil di Gresik, yang memproduksi sarung Atlas. Ya, latar belakang pendidikan Abah Odil adalah Diploma 3 Program Studi Kimia Tekstil di Akademi Tekstil Berdikari, Bandung.

Setelah menjadi pekerja di perusahaan selama 25 tahun, beliau memilih untuk resign dan ingin berwirausaha. Memang, penghasilan rutin selalu beliau dapatkan dengan bekerja di perusahaan. Tapi, Abah Odil merasa bahwa waktunya untuk mengaji menjadi berkurang. 

Di balik penghargaan & sertifikat yang dipajang ini, ada kisah kegagalan yang indah (dok. Richo)

Lalu pada tahun 1997, mulailah beliau pindah ke Malang dan Pasuruan untuk memulai bisnisnya. Mulai dari berdagang pakaian, membuka toko, membuat beraneka kue, menjual es rumput laut, sampai melayani catering pernah beliau coba. Mulus kah jalannya? Ternyata tidak. Tercatat, Abah Odil pernah mengalami kegagalan usaha sebanyak 21 kali!

Pesan Berkesan Orang Tua

Setelah berkali-kali mengalami jatuh bangun dalam berbisnis, Abah Odil sempat kembali lagi ke dunia industri tekstil pada tahun 2002. Namun, pekerjaan di perusahaan tekstil itu tidak bertahan lama. 

Dua tahun kemudian Abah Odil kembali mengundurkan diri dari pekerjaannya. Beliau mulai mantap lagi berwirausaha setelah diberi dukungan moral oleh orang tuanya yang asli Tasikmalaya. Orang tua Abah Odil mendorongnya untuk mencoba menjual bubur ayam Tasikmalaya yang memang belum ada di Malang.


Kebiasaan sarapan menggunakan bubur memang biasa ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun hal itu bukanlah budaya di Malang sehingga Abah Odil menangkap peluang itu. Beliau bertekad untuk memasyarakatkan bubur ayam Tasikmalaya dengan sedikit penyesuaian dengan lidah orang Malang. 

Tekad Abah Odil tersebut tertuang dalam visi misinya berikut ini:

Di atas tulisan ini ada label halal MUI. Terpotong :')


Sedekah yang Membawa Berkah

Kenangan tak terlupakan saat memulai berjualan bubur adalah di hari pertama. Saat itu, tahun 2004, Abah Odil sempat nervous ketika harus mendorong gerobak buburnya keluar dari rumahnya di daerah Jalan Candi Panggung. Jadi, enggak, jadi, enggak... 

Akhirnya salah saeorang temannya mengusulkan agar Abah Odil mangkal saja di depan Masjid Ramadan di dekat situ. Alhasil, di hari pertama itu omzet penjualannya adalah Rp 14.000. Ya, buburnya lebih banyak diberikan secara gratis kepada jemaah masjid, teman-teman, dan tetangganya.

Secara finansial, apa yang dilakukan Abah Odil itu rugi. Tapi sedekah beliau itu tidak sia-sia. Perlahan-lahan namanya mulai dikenal, pelanggannya sering kembali lagi untuk membeli, dan pelanggan baru pun berdatangan. 

Dua tahun kemudian, Abah Odil berhasil menyewa tempat di Jalan Soekarno-Hatta yang merupakan pusat bisnis, pendidikan, dan kuliner di Kota Malang. Rumah makannya yang dibuka setiap jam 6 pagi itu laris manis diserbu pembeli. Omzet penjualan pun naik dengan pesat hingga hari ini. 

Tak lain karena Abah Odil juga 'rajin belajar' melalui berbagai seminar entrepreneurship untuk mengembangkan bisnisnya. Prestasi sebagai Executive & Entrepreneur Of The Year 2015 pun disabetnya. Saat itu, acara penganugerahannya diselenggarakan di Hotel Noormans, Semarang, pada tanggal 29 Mei 2015. Keren!

Rasa Berbicara Sejak Suapan Pertama

Kalimat di atas adalah motto dari outlet Bubur Ayam Abah Odil yang dalam perkembangannya tidak hanya menyajikan bubur ayam saja. Berdasarkan pengamatan, beberapa pelanggan nampak kurang kenyang jika hanya menyantap bubur saja.


Akhirnya ditambahkan menu lain seperti Lontong Sayur, Nasi Uduk, Nasi Kuning, dan Nasi Pecel Madiun. Menu yang disebut terakhir adalah wasiat dari almarhumah Ibu Lis Setyowati, istri dari Abah Odil yang berasal dari Madiun. Maka semakin semaraklah jenis makanan yang disajikan.


Saya dan teman-teman lalu membuktikan rasa bubur ayam dan berbagai menu lainnya. Diawali dengan cireng yang masih hangat yang dihidangkan dengan sambal pedas manis. Hmm, enaaak. Cirengnya tebal tapi tetap empuk. Rasa sambalnya dominan manis, tapi pedasnya tetap huh-hah di lidah saya.

Rujak cireng. Yummy...

Berlanjut dengan menu andalannya yaitu bubur ayam Tasikmalaya dalam berbagai varian. Buburnya diproses secara higienis dengan mesin sehingga campuran antara beras dan kaldu ayamnya merata. 

Nah, yang membedakan varian bubur di bawah ini adalah topping-nya. Berikut penampakannya: 

Bubur Ayam Istimewa
Bubur Ayam Spesial
Bubur Sayur

Buburnya tanpa kuah tapi sudah terasa gurih. Asinnya memang pas di lidah orang Malang. Sedang, menurut saya. Cakue dan ayamnya yang diiris dengan alat khusus pun terasa gurih. Wah, kapan-kapan harus mengajak duo krucil saya ke sini. Pasti mereka suka.

Sedangkan menu yang lain, saya mencicipi nasi kuningnya. Tekstur nasi kuningnya tidak terlalu lembek, tapi juga tidak pera. Lauk pendampingnya juga pas di lidah. Satu porsi nasi kuning itu cukup mengenyangkan sih buat saya.

Makan bareng (dok. Erny)

Insya Allah, nanti saya sekeluarga akan balik lagi ke sini dan mencoba menu yang lainnya. Biar tidak penasaran, hehe.

Dari Satu Menjadi Delapan

Nah, teman-teman yang ingin mencoba kelezatan Bubur Ayam Abah Odil bisa mendatangi salah satu outletnya berikut ini. Ada sekitar 50 orang karyawan yang bekerja di semua outletnya.

Salah satu cabang Bubur Ayam Abah Odil

1. Bubur Ayam Abah Odil Pusat Malang (Jalan Soekarno Hatta Ruko Griya Shanta Executive MP 48-49, Depan Taman Krida Budaya, Jawa Timur)

2. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Candi Panggung (Jl. Candi Panggung No. 9 Malang)

3. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Sawojajar (Jl. Danau Maninjau, tepatnya di Taman Jajan Al-Fatih, Sawojajar)

4. Bubur Ayam Abah Odil Cabang ITN (Jl. Bendungan Kedung Ombo, Pujasera Abilowo)

5. Bubur Ayam Abah Odil Cabang PTM (Ruko Mutiara Jingga Residence, Kavling AI)

6. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Arhanud (Donowarih, Karangploso)

7. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Karangploso (Rest Area Karangploso)

8. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Jetis, Dau (Jl Raya Mulyoagung Jetis, Dau)

Kesempatan Bermitra dengan Abah Odil

Beberapa saat kemudian Abah Odil datang di hadapan kami. Beberapa nasihat bijaknya sampai di telinga saya. Diantaranya adalah beliau ingin usahanya diturunkan ke anak cucunya. Harus ada yang mewarisi dan belajar berwirausaha juga. 

Abah Odil (tengah)

Ya, karena nama beliau sudah dikenal sehingga anak cucunya tinggal mempertahankan kualitas dan mengembangkan bisnisnya agar lebih besar lagi. Bahkan Abah Odil punya mimpi jika usaha buburnya nanti bisa merambah Timur Tengah. Aamiin yaa Rabb.

Tahun lalu bisnis Bubur Ayam Abah Odil sudah beromzet sekitar 2.8 miliar per tahun. Salah satu yang mendongkrak penjualan adalah adanya layanan Go Food dan Go Resto. Seiring perkembangannya zaman, Abah Odil pun memberikan layanan pesan antar via aplikasi Go-Jek tersebut.

Pun seiring dengan kemajuan bisnisnya itu, Abah Odil menawarkan kemitraan dengan siapa saja yang berminat dalam bisnis kuliner. Sistem yang ditawarkan adalah profit and lost sharing (bagi hasil) yang dikemas secara syariah yaitu dengan menggunakan akad musyarakah. Nantinya, pelaporan hasil penjualan akan di-share secara terbuka setiap harinya kepada mitra bisnisnya.

Berfoto bareng usai acara

Kenapa akadnya bagi hasil secara musyarakah? Menurut Abah Odil, akad tersebut dirasa paling adil jika dilihat dari sudut pandang hukum Islam. Adil untuk mitra bisnis maupun pihak Abah Odil sebagai pengelolanya. Akad yang demikian akan membawa keberkahan, manfaat, dan diharapkan dapat menggerakkan ekonomi umat.

Dengan dibukanya cabang yang baru, diharapkan akan muncul jiwa-jiwa pengusaha yang mandiri dan berdaya. Pastinya itu juga akan membuka lapangan pekerjaaan baru untuk masyarakat luas. Ujungnya, masyarakat dan bangsa ini akan semakin sejahtera.

Wah, mulia sekali tujuannya, ya. Ini namanya mengajak sukses bersama dalam keberkahan-Nya.

Jika teman-teman ada yang berminat dengan kemitraan ini, silakan langsung menghubungi nomor WA di atas untuk perbincangan lebih lanjut.

Bubur Ayam Abah Odil Malang
Facebook Fanpage: Buryam Abah Odil
Instagram: @buryam.abahodil



Salam,








Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community

#ODOPEstrilook
#Day8