My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Ketika Cerpen dan Puisi Bersatu dalam Serpihan Rindu


Judul buku: Serpihan Rindu
Jenis Buku: Antologi Cerpen dan Puisi
Penulis: Tim Penulis Nubar 3 (Nulis Bareng angkatan ke-3)
Terbit: Agustus 2018
Penerbit: AE Publishing
Jumlah halaman: viii + 280 halaman
Ukuran buku: 14,5 x 21 cm
ISBN: 978-602-5915-03-1

Apa yang terbayang dalam benak kita saat disebutkan kata rindu? Mungkin ada yang langsung teringat akan novel fenomenalnya Tere Liye yang terbit tahun 2014 yang lalu. Walaupun saya sendiri belum membacanya, tapi berulang kali saya mendapati ulasan tentang cerita jamaah haji Indonesia tahun 1938 di atas kapal uap Blitar Holland itu. Juga quotes-nya yang acapkali membanjiri linimasa.

Mungkin juga teman-teman jadi teringat lirik lagu ini: 
Kau datang dan pergi oh begitu saja
Semua kuterima apa adanya
Mata terpejam dan hati menggumam
Di ruang rindu kita bertemu

Pssst... kalau paham, berarti kita hidup di semusim yang sama. ^^

Puncaknya, kata rindu begitu populer tahun lalu saat film Dilan 1990 sukses menggoda jutaan pemirsa untuk datang ke bioskop. Nah, kalau yang ini sih saya sempat membaca novelnya karena penasaran dengan gaya tulisan Pidi Baiq. Oalah, ternyata begitu, to. Filmnya pun akhirnya saya tonton di televisi. Oalah, ternyata begitu, to (lagi). 😁 *ga berniat menilai, sih

Bersama-sama Menulis Rindu

Tidak mau kalah dengan rindu versi di atas, AE Publishing pun menggelar ajakan Nubar alias Nulis bareng pada bulan Mei 2018 yang lalu. Saya yang dicolek oleh salah seorang editor AE Publishing, Mbak Zahara Putri, pun bersedia mengikutinya. Sebelumnya, AE Publishing sudah sukses dua kali menyelenggarakan Nubar. Ya, menulis bersama dengan tema yang sama tapi bukan dalam rangka lomba.

Di awal tahun 2018, saya berniat menambah jumlah buku antologi. Kalau bisa sih mencapai 20 antologi di akhir tahun, dengan berbagai tema. Pun saya juga ingin mendukung AE Publishing, sebuah penerbit buku indie dari Malang yang letaknya hanya 7 kilometer saja dari rumah saya. Penulis dan penerbit adalah sahabat karib. Apalagi jarak kami dekat begitu; karib banget. Yekan?

Sempat mengalami jeda karena libur lebaran, akhirnya buku antologi Serpihan Rindu ini pun berhasil diterbitkan pada bulan Agustus 2018. Yeay! Alhamdulillah. Ini menjadi buku antologi saya yang ke-12. Tidak hanya berisi 29 buah cerpen, tapi buku setebal 280 halaman ini juga dihiasi dengan 15 puisi. Sebuah perpaduan yang manis, bukan?


Nah, walaupun bukan lomba, Mbak Zahara sebagai editornya sempat mengumumkan 7 cerpen terbaik. Saya paham maksudnya, sih. Tetap dibutuhkan contoh-contoh cerpen yang sesuai kriteria penulisan ideal; dari awal tidak banyak revisi, Ejaan Bahasa Indonesia-nya sudah cukup baik, tidak ada plot hole, diksi oke, dan pesan yang disampaikan pun 'jleb'. 

Selain itu, ada kesepakatan di antara kami untuk memilih tiga penulis cerpen terbaik yang namanya nanti akan dipajang di cover buku. Jeng... Jeng... Diantara 7 cerpen terbaik itu ada cerpen saya yang berjudul Wasiat Kerinduan. Alhamdulillah. Begitu saja saya sudah lega. Meskipun nama saya tidak terangkut di sesi penyaringan berikutnya.


Daaan... inilah tiga nama cerpenis berikut judul cerpen yang menjadi pilihan editor tersebut:
1. Hanafi Yabie dengan cerpen berjudul Surat Ayah
2. Jrux Kuning dengan cerpen berjudul Untuk Seseorang yang Hidup di dalam Diriku
3. Nda Ginting dengan cerpen berjudul Serpihan-serpihan Akhir Kehidupan

Rindu dari Berbagai Penjuru

Mana yang akan teman-teman pilih jika dihadapkan pada dua pilihan: menuruti keinginan ayah untuk membantu orang tua setelah lulus SMA atau pergi jauh untuk melanjutkan kuliah walaupun minim biaya? Nah, ide tersebut dituangkan dengan cukup baik oleh Hanafi Yabie dalam Surat Ayah.

Lanan, si tokoh dalam cerpen, memilih yang kedua. Pilihan berat yang membuatnya terusir dari rumah dan dia harus membiayai sendiri kuliahnya sambil bekerja. Kerja kerasnya membuahkan hasil, bahkan dia berhasil memperoleh beasiswa S2 ke Sydney, Australia.

Delapan tahun berlalu. Sesungguhnya Lanan sangat merindukan orang tua dan adiknya. Namun ayahnya yang dihubungi via telepon tetap bersikeras tidak ingin menjumpainya. Sakit jiwa raga pun dirasakannya. Apalagi saat dia harus kehilangan dua orang yang disayanginya. Surat dari ayahnya mengungkap itu semua.

Ego bisa melukai siapa saja, bahkan membunuh. Kadang ego hanya bisa dikalahkan dengan besarnya rindu. (halaman 8)


Sementara itu, Tiara Ayu Safitri yang memakai nama pena Jrux Kuning, menceritakan tentang kerinduan terselubung tokoh 'aku' terhadap Azzer. 

... Mungkin saja karena rindu, mungkin saja karena sesuatu yang hidup dalam dirinya menolak untuk dilupakan. Seperti dia yang hidup di dalam diriku sampai saat ini. Aku tak pernah benar-benar mengingatnya. Namun aku pun tak pernah benar-benar melupakannya. (halaman 9)

Nah, penulis sempat menyebut Dilan di awal cerpennya. Ya, serupa tapi tak sama. Tokoh 'aku' diceritakan berjumpa dan menjalin keakraban dengan Azzer saat di bangku kuliah. Azzer yang tampak cuek, mengidolakan Kurt Cobain, dan suka kesendirian itu justru menarik perhatiannya.

Happily everafter memang melegakan. Tapi jika tidak, masih banyak kenangan indah tentang si dia yang bisa dituliskan. Itulah yang dirasakan 'aku'. Azzer telah membuatnya jatuh cinta secara alami. Itu diyakininya tak akan terulang pada orang lain lagi. Lalu? Nanti 'aku' hanya akan berusaha keras mencintai jika ada sang pengganti. Wow!


Sedangkan rasa rindu dalam cerpen milik Nda Ginting ditujukan untuk nenek si tokoh 'aku'. Diceritakan, 'aku' begitu dekat dengan sang nenek yang dianggapnya sebagai ibu kedua. Saat 'aku' kecil, ibu kandungnya sering jatuh sakit sehingga neneknya lah yang mengambil alih peran. Mulai dari mengantar jemput sekolah hingga bermain puzzle, permainan favorit 'aku'.

Melalui permainan puzzle itu, sang nenek mengajarnya tentang sebuah filosofi kehidupan. Bahwa sahabat, keluarga, orang-orang tersayang, pengalaman baru, tragedi, dan kebahagiaan mirip dengan salah satu potongan puzzle. Semua harus dirangkai dengan benar agar sesuai dengan keteraturan hidup kita.

Jangan menjadi begitu kecewa dan putus asa apabila satu bagian hilang. Karena apabila kau telah mendapatkan semua potongannya, permainan akan usai. (halaman 39)

Suatu hari, 'aku' benar-benar kehilangan salah satu potongan puzzle-nya. Ya, saat neneknya pergi untuk selamanya. Dunianya tidak utuh lagi. Tapi ada keinginan untuk menyatukan potongan puzzle yang hilang di surga nanti. 


Nah, ketiga cerpen di atas cukup mewakili cerita tentang rindu yang beragam, bukan? Memang, kerinduan tidak hanya berkaitan dengan kekasih saja. Masih ada 26 cerpen lain dengan obyek rindu yang berbeda. 



Cerpen-cerpen tersebut cukup menarik juga, kok. Membacanya membuat saya banyak merenung karena rasa rindu yang dekat dengan kejadian sehari-hari. Mulai dari rindu pada guru, pada almarhum suami, pada ibu yang pergi jauh, pada masa kecil anak yang memiliki kebutuhan khusus, hingga rindu pada anak yang memiliki kepribadian ganda. 

Rata-rata cerpen-cerpen yang terdapat di buku ini sudah minim typo, jadi keasyikan membaca saya tidak terganggu. Walaupun ada cerpen yang pesan moralnya disajikan terlalu awal, jadi kurang 'jleb' menurutnya saya.

Untuk cerpen saya, insya Allah akan saya bocorkan di postingan berikutnya, ya. 😉


Sedangkan puisinya, saya lupa mana yang dipilih sebagai tiga terbaik. Maafkeun. Jika ada teman-teman tim penulis Nubar 3 yang membaca ini, tolong ingatkan saya, ya. Saya sendiri tidak menyetorkan puisi waktu itu. Entahlah, mungkin saat itu rindu saya sudah terobati, hehe...

Ada sih salah satu puisi yang saya sukai. Pendek tapi 'berisi'. Judulnya Terpaan Rindu karya Alfi Rohmatul. Ini dia puisinya: 


Oke, deh. Membincangkan rindu tidak akan ada habisnya. Rindu adalah perasaan yang akan terus menyertai denyut nadi manusia.  Dalam setiap serpihan kehidupan, ada serpihan rindu di situ. Setiap rindu punya cerita dan kami sudah menuangkannya. 

Dear friends, do you miss someone? Or even wrote the same topic? Feel free to tell me ^^


Salam,






Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.

#ODOPEstrilookCommunity
#ODOPJanuary2019
#Day3

21 comments:

  1. Kalau ngomongin kata "rindu" aku jadi mellow...

    Seperti aku yang merindu. Andai jarak bisa dilipat, andai kerja nggak ada mutasi dan mutasi, pasti akuaku memi hidup bersama suami.

    ReplyDelete
  2. Kereeen yes, ternyata bisa puisi dan cerpen dalam satu buku. Kece juga begitu hihi. Selamat bun atas lahirnya buku barunya. Semoga semakin produktif dan terus berkarya.

    ReplyDelete
  3. Wow, selamat ya, mbak. Dulu Q juga pernah ikut nubar AE. Bukunya masih di mb anisa malah, belum kuambil hihi. Cerpennya okee bingit, aq udah baca, alhamdulillah hehe

    ReplyDelete
  4. Selamat ya mba buku barunya. Ga sabar nunggu bocoran karya mba. Rindu,memang asyik untuk dibahas

    ReplyDelete
  5. Tema "Rindu" memang asyik dan pengembangannya bisa sangat luas. Ending-nya pun bisa dieksekusi sesuai keinginan untuk mengaduk-aduk emosi pembacanya. Aku pikir pemilihan tema-nya sudha bagus sekali ini. Sehingga penulis kontributor juga lebih mudah memainkan kata-kata.
    Btw, congrats ya, Mbak. Terus mengukir jejak di buku-buku yang diterbitkan.

    ReplyDelete
  6. Rindu itu diungkapkan jadi sebuah puisi dan buku. Idenya bagus ini mba

    ReplyDelete
  7. Merindukan seseorang hingga harimu sakit, adalah sebuah keniscayaan cinta. Sesungguhnya, rindu yang telah menjadi dendam, sering kali membuat kita menjadi dewasa dan mampu memahami esensi hidup itu sendiri. Bahwa kita harus berdamai dengan kenyataan. Ciyeeee nulis opo to aku ki? Hehe btw selamat mba untuk karyanya

    ReplyDelete
  8. Mba Tatiek...Selamat ya, aku salut banget. Semoga sukses dan selalu produktif dalam berkarya 😊

    ReplyDelete
  9. rindu, setiap orang mungkin pernah merasakannya. btw selamat ya Mba atas kelahiran bukunya...

    ReplyDelete
  10. Wah, AE Publishing. Aku udah 3x nih ikut antologi di AE, kangen juga pengen nulis antologi lagi. Cerpen dan puisi dg tema rindu selalu berhasil menghangatkan hati. Aku suka nih.

    ReplyDelete
  11. Selamat ya mbak atas karyanya. Rindu dalam bentuk cerpen atau pusii tetap indah dinikmati sebagai kerinduan yang diwakilkan lewat tulisan. begitu juga aku yang merindukanmu, eh, eaaaa

    ReplyDelete
  12. kita sebuku lagi di buku ini mbak. sebelumnya mbak ikut eventku yang ramadan penuh hikmah. Sukses ya untuk buku antologinya

    ReplyDelete
  13. Rindu itu serpihan rasa yang ajaib. Bisa membuat kita jadi melow sekaligus semangat. Sukses ya buat mb Tatiek udah bnyk buku antologi. Sukses y mb..

    ReplyDelete
  14. Selamat ya Mba bukunya. Rindu menunggu hari Jum'at tiba ketika semua keluarga bisa berkumpul.

    ReplyDelete
  15. Saya nunggu bocoran berikutnya.
    Baca reviewnya aja saya sudah kebayang pasti bakal ada airmata yang menetes kalau baca bukunya
    *Iya, saya ini gampang nangis

    ReplyDelete
  16. Selamaaaat mb..
    Lama nggak nulis fiksi.. Tangan rasanya kaku mau nulis cerpen..tapi pingin nyoba lagi haha

    ReplyDelete
  17. Sudah antologi yang ke-12... Mantap banget Mbak, produktif. Aku baru menuju angka satu nih :D

    Hmm... Membaca resensi disini jadi bikin rindu, ada perasaan hangat yang mengalir pas membaca beberapa cuplikan kisah 'aku'. Jadi penasaran bocoran di postingan berikutnya.

    ReplyDelete
  18. MasyaAllah kece banget mbak, selamat ya mbak.

    Btw Rindu ku membuat ku selalu menggebu-gebu

    ReplyDelete
  19. Suka dengan apapun definisi rindu. Selamat atas hadirnya antologi ini Mbak Tatiek.

    ReplyDelete
  20. Rindu.. Duh kapan rindu ini bakal berlabuh.. Wkwkwkwk..
    Selamat ya mbaaak.. Udah lahiran.. Lahiran buku hehe

    ReplyDelete