My Lifestyle, My Journey, My Happiness

February 25, 2019

Soulmate, Untaian Cerita tentang Belahan Jiwa

by , in


Judul buku: Soulmate
Jenis Buku: Antologi Cerpen Bertema Pernikahan
Penulis: Tim Nubar (Nulis Bareng) Pernikahan
Terbit: September 2018
Penerbit: AE Publishing
Jumlah halaman: vi + 281 halaman (A5)
ISBN: 978-602-5915-25-3


Pernikahan adalah salah satu peristiwa besar dalam kehidupan seseorang, selain kelahiran dan kematian. Setiap manusia normal pasti ingin memasuki pintu gerbangnya. Fitrah manusia berbicara bahwa setiap diri pasti rindu untuk menemukan pasangannya; belahan jiwanya.

Berjuta rasa saat seseorang berusaha menemukan sang belahan jiwa impian. Kadang mudah, kadang berliku jalannya. Saat akhirnya berjumpa, hidup pun terasa penuh warna. Ajaran Islam menyebutkan bahwa muslim yang telah menikah berarti telah menggenapkan separuh agamanya. Oh, indahnya...


Namun, cerita belum berakhir. Awal pernikahan laksana permulaan sebuah bahtera yang berlayar mengarungi samudera. Ombak dan badai pasti menyertai. Gulungan dan terjangan mereka biasanya direspons secara tidak sama dan akhirnya membuahkan cerita tentang rumah tangga yang berbeda-beda pula. 

Maka memperbincangkan pernikahan itu tak akan ada habisnya. Itulah yang membuat saya tertarik untuk bergabung dengan Tim Penulis Nubar (Nulis Bareng) Pernikahan AE Publishing. Sebelumnya, saya sudah pernah mengikuti Nubar di penerbit yang sama dengan tema berbeda pada antologi Serpihan Rindu dan You are My Hero

Kali ini, PJ sekaligus editornya adalah Mbak Anjar Lembayung, penulis novel Arimbi itu lho. Ini adalah sebuah kesempatan yang baik bagi saya untuk berbagi kisah tentang pernikahan dalam bentuk cerita pendek. Berbekal sedang menjalani, pernah membaca kisah serupa, dan mendapat curhatan teman; let's go!

Soulmate, demikian judul buku antologi ini. Sampulnya so sweet; ala drakor gitu, ya. 🙂 Ini menjadi buku antologi saya yang ke-13. Di dalamnya ada 32 cerita pendek hasil goresan pena para penulis yang berasal dari beragam profesi dan berasal dari berbagai penjuru negeri ini.


Simak dulu yuk, blurb-nya berikut ini:

Jodoh atau belahan jiwa merupakan kehendak Tuhan kepada siapa akan mempertemukannya. Namun, benarkah pasangan kita dalam ikatan pernikahan adalah belahan jiwa kita? Lalu bagaimana jika guncangan pernikahan memaksa kita berpisah dengan pasangan? Akankah dia masih bisa kita sebut sebagai belahan jiwa?

Banyak sekali cara Tuhan mempertemukan kita dengan belahan jiwa kita. Namun, tak jarang pula Tuhan merenggutnya dengan mudah. Entah itu melalui hadirnya orang ketiga, ketidakpercayaan dan curiga, atau bahkan maut. Yang pasti, ikatan pernikahan itu suci dan kita wajib berusaha mengukir setia dan bertahan bila badai menerjang bahtera yang kita kendalikan.
❤️❤️❤️


Saat-saat Bertemu Belahan Jiwa

Hadirnya jodoh sebagai perwujudan belahan jiwa melalui berbagai cara. Ada yang menyambut datangnya dengan pengorbanan luar biasa sampai harus kehilangan takhta. Seperti pada cerpen The Royal Wedding karya Ning Rizky yang mengambil latar pernikahan agung keluarga kerajaan Inggris. Di situ tokoh Evelyne berkisah tentang kakek buyutnya yang lebih memilih seorang janda sebagai calon istrinya daripada harus menjadi raja. 


Terkadang kekuatan cinta memang lebih hebat daripada kekuasaan monarki. (halaman 2)

Rochanah dalam cerpennya yang berjudul Mahasiswaku, Pemilik Tulang Rusukku berpesan bahwa jodoh bisa saja datang dari sekitar kita. Ada perbedaan usia? Tidak menjadi sebuah masalah yang berarti. Dari judulnya pasti teman-teman bisa sedikit menebak jalan ceritanya, ya.

Manusia yang merencanakan, Allah yang menentukan. Ibu sama aku mungkin kurang lebih terpaut empat tahun. Aku pikir kalau memang jodoh, insyaallah dipermudah.(halaman 28)

Mungkinkah sepasang manusia menikah tanpa didahului rasa cinta? Jrux Kuning dalam cerpennya yang berjudul Sebuah Rahasia yang Kelak Akan Kaubaca menjawab: mungkin.

Ketika aku memutuskan untuk menikah dengan seorang lelaki bernama Langit, semua terjadi bukan karena cinta. Kami berdua bertemu dari sebuah luka dan rasa tak percaya pada sesuatu yang bernama cinta. Kami hidup dengan hati yang tak lagi utuh. (halaman 44)

Tokoh aku dan Langit akhirnya belajar bahwa pernikahan adalah tentang tanggungjawab kepada Tuhan, kepada keluarga besar, dan kepada lingkungan. Cinta? Sangat bisa diusahakan tumbuhnya seiring kebersamaan mereka.

Bertahan, Berpisah, dan Terpisah

Sebagaimana disebutkan pada paragraf kedua blurb di atas, beberapa cerpen di dalam buku ini bercerita pula tentang upaya bertahan saat badai menerjang bahtera pernikahan. Cerpen saya yang berjudul After Pottery Wedding termasuk diantaranya. 


Adalah tokoh Prita yang memilih bertahan di tengah problem finansial yang bermula dari kesalahan suaminya, Mario. Ujian hidup yang kemudian membuahkan doa dari anak mereka, Elsa.

“Ya Allah, sebentar lagi aku bersekolah SD. Semoga Mamaku di rumah lagi seperti dulu, tidak usah kerja lagi. Biar bisa antar jemput aku sekolah. Semoga Papaku cepat sembuh. Biar Papa saja yang kerja. Aamiin.” (halaman 187)

Lain halnya dengan tokoh Rei dalam cerpen milik Himekazeera, Love isn't Your Passion, yang harus berpisah dengan istrinya, Alby. Kecintaan Rei pada pekerjaan telah membutakan, bahkan mengalahkan cinta dan kehangatan yang seharusnya menjadi napas keluarga kecil mereka.

"Rei, apa kamu pikir karena kita berada pada bidang yang sama, memiliki mimpi yang sama, misi yang sama... cukup untuk membentuk keluarga utuh? Kamu seharusnya belajar, Rei. Saat itu aku begitu mencintaimu, berusaha memahamimu. Tapi bagaimana dengan kamu? Bahkan saat anak kita meninggal, kamu tidak di sana." (halaman 21)

Tetapi, masih ada kesempatan untuk bersatu lagi bagi dua orang yang memutuskan berpisah. Seperti kisah Reuni Padmarini dan mantan suaminya, Bagas. Sebenarnya Bagas sudah hampir menikah lagi, tapi hatinya ternyata memilih untuk kembali. Semua demi puteri mereka dan berawal dari reuni keduanya. Cerpen berjudul Reuni ini adalah tulisan sang editor buku ini, Anjar Lembayung.


Malam itu, mungkin Tuhan mendengar doaku. Keinginanku mempertahankan bahtera yang sempat karam seolah-olah menemukan titik terang begitu derap suara langkah cepat itu terdengar, membuka pintu ruang tamu dengan tergesa. (halaman 278)

Kalau disuruh memilih, cerpen favorit saya adalah Siyah Gul Terakhir karya Feresha Ray, proofreader buku ini. Selain memakai POV 2, cerpen ini juga berlatar kebudayaan Turki dengan alur cerita yang memukau. Nah, siyah gul adalah mawar hitam alami yang hanya bisa tumbuh di kawasan Halfeti, Turki.


Di sinilah kau berada kini. Di depan gundukan tanah yang menjadi pekuburanku, pembaringan terakhirku. Aku masih bisa melihatmu, menjagamu tanpa pernah kautahu, meski tak pernah bisa kusentuh kau dengan kedua tanganku. Setangkai siyah gul kauletakkan di pusaraku, berbalut kata-kata cinta yang terucap... (halaman 269)

Hiks, sedih. Pernikahan antara Yagmur (aku) dan Huri (kau) harus berakhir karena takdir kematian memisahkan mereka. Begitulah. Seringkali belahan jiwa tidak lama berada di sisi, tak sampai menua bersama.


Cerpen-cerpen lain yang tidak saya sebutkan secara spesifik pun tidak kalah menarik. Masing-masing menghadirkan kisah tentang romansa dengan belahan jiwa, kenangan indah dengan mereka yang nyaris menjadi pasangan hidup, luka yang tercipta karena ada hati yang mendua, maupun kehidupan rumah tangga sehari-hari yang kadang terlihat biasa namun sebenarnya penuh pesan berharga. Jangan sesekali meremehkan kejadian sederhana yang kita alami dengan si dia, ya.


Ada cerpen yang alurnya menarik dari awal sampai akhir dan memakai diksi yang bagus, ada pula yang sederhana saja. Ini memang bukan kumpulan cerpen hasil lomba tapi bisa dipastikan isi bukunya minim typo dan semuanya ditulis sesuai dengan tema yang disepakati. 

Buku untuk Kita Semua

Buku antologi ini cocok dibaca oleh mereka yang tengah menanti datangnya belahan jiwa, yang baru saja bertemu dengannya, dan yang sudah bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga seperti saya.


Selepas membacanya, saya menemukan banyak pelajaran tentang kehidupan pernikahan. Sama dengan yang kerap kali saya tuliskan bahwa pernikahan adalah garis start sebuah babak kehidupan baru, bukan garis finish. Kita harus terus belajar di dalamnya agar menjadi pasangan terbaik yang bisa menentramkan pasangan kita. Sampai kapan? Sampai takdir Allah yang memisahkan.



Salam,

















February 20, 2019

Karena Cilok dan Hujan adalah Pasangan

by , in


Hujan yang akhir-akhir ini rajin mengguyur bumi pasti membawa banyak kesan dalam benak kita masing-masing. Paling awal, seharusnya berdoa saat hujan tiba. Selanjutnya, terserah Anda. 😉Ada yang tiba-tiba jadi puitis, lalu bermunculanlah ide menulis. Saya? Salah satu yang mengisi benak saya adalah cilok!

Membaca judul di atas, teman-teman pasti bisa mengira-ngira maksudnya, bukan? Dalam situasi dingin karena hujan turun seperti itu, mulut pun maunya ngemil yang hangat-hangat kuku. Ketika meminum kopi saja tidak cukup menghalaunya, maka cilok adalah kuncinya.

Tentu saja tidak setiap kali turun hujan lantas ada sepiring cilok di tangan. Paling sering sih saya ngeloni si kecil, hihi. Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa cilok sudah mewarnai kehidupan saya (ceilee...) sekitar sembilan belas tahun ini. Boleh dong ya saya buat the fact about me and cilok seperti di bawah ini: 😉

Fakta 1:

Saya mulai benar-benar mengenal cilok saat tinggal di Batam tahun 2000. Saat itu teman-teman saya berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Kediri, Surabaya, Bojonegoro, Ngawi, Magetan, Solo, Yogya, Cilacap, Banjarnegara, Bandung, Jambi, Palembang, Padang, dan Medan. Banyak pokoknya. Kalau disebutkan di sini, bisa-bisa postingan saya kali ini hanya berisi nama daerah mereka. 😅

Sumber: resepmakansedap.com

Nah, dari teman-teman yang berasal dari Bandung lah saya mengenal cilok. Aci dicolok, kata mereka. Alias tepung kanji yang dicolok, gitu. Mereka biasa menyuguhkan cilok plus saus kacang saat ada teman yang berkunjung ke dormitorinya. Rasanya endesss... Rata-rata mereka yang berasal dari Bandung bisa membuat sendiri makanan khas daerah mereka tersebut.

Sebenarnya sejak saya masih SD, sudah ada sih penjual pentol keliling. Saat itu di Malang belum booming cilok dan sebutannya memang pentol, gitu. Sampai saya lulus SMK, saya tidak begitu tertarik menyantap pentol. Biasa saja. Baru di perantauan lah mulut saya tergerak untuk mencicipi cilok lebih sering. Yummy...

So, merantau telah membuat pengalaman hidup saya bertambah, termasuk pengalaman kuliner. 😉

Fakta 2:

Saya sangat bisa menghindari gorengan, tapi tidak dengan cilok. Iyes, bisa dikatakan saya bisa tahan tidak makan gorengan hingga satu bulan. Tapi kalau sepekan saja tidak makan cilok, duh rindu ini tak tertahankan.

Pernah sih saya bertahan untuk tidak makan cilok saat masih disiplin ber-Food Combining (FC) dulu. Perpaduan karbohidrat dan daging yang terdapat di dalam cilok jelas sebuah larangan dalam aturan FC. Sekarang, karena sudah tidak disiplin lagi, CLBK deh pada cilok.

Made in sendiri yang pernah saya dokumentasikan.

Cilok juga yang membuat saya maju mundur untuk mencoba pola makan yang lain yaitu Ketofastosis. Saya sudah menjadi anggotanya di grup Facebook, tapi belum juga mulai, nih. Bagi pola makan yang sangat membatasi karbo dan gula itu, cilok adalah sebuah Big No. Duh, saya belum sanggup kalau saat ini.

Yang saya terapkan sekarang adalah tidak anti makanan apapun selagi halal dan thayyib, bergizi, dan dengan porsi secukupnya. Kalau sudah makan cilok, biasanya saya tidak makan nasi. Plus, saya berusaha rutin berpuasa sunnah. Itu.

Fakta 3:

Seperti saya sebutkan di atas, waktu paling nyaman bagi saya dalam menyantap cilok adalah di saat hujan. Cukup sepekan sekali, sih. Kalau hujannya setiap hari, biasanya memilih di akhir pekan saat suami ada di rumah. Kan jadi ada yang megangin si kecil. Iyes, saya membuat sendiri ciloknya, dong.

Sumber: resepkoki.id

Lha kalau musim kemarau? Ya tetap makan cilok, dong. Tapi sensasinya jadi sedikit berbeda, gitu. Trus, selain membuat sendiri, saya juga tidak anti beli. Kadang kan ada saatnya saya mager di dapur.

Ada dua penjual cilok langganan saya. Sama-sama enak, halal, dan lapak jualannya cukup bersih. Biasanya kalau membeli, saya memilih tidak pakai saus tomat dan kecap. Cukup saus kacang dan sambal. Tetap enaaak...

Fakta 4:

Gara-gara cilok, saya jadi penasaran dengan novel Pengabdi Cilok. Hehe. Tahu kan novel bergenre komedi hasil karya Iwok Abqary dan  Irvan Aqila itu? Sesekali boleh lah membaca yang ringan-ringan tapi tetap berisi. Berisi apa? Ya berisi cilok, dong! 😁


Alhasil, sekarang saya sedang otewe membacanya. Tidak membeli novelnya, sih. Saya membaca novel itu via iPusnas. Sekalian ingin menguji diri apakah saya bisa membacanya dalam waktu 3 hari seperti batas waktu peminjaman di perpustakaan digital nasional itu. Ternyata belum bisa, Saudara-saudara! Harus nambah hari, deh.

Insya Allah, novel itu masuk dalam daftar resensi buku untuk blog ini. Tunggu saja, ya.

Biar lengkap, setelahnya saya akan membaca juga novel Hujan karya Tere Liye. Maksa gak, sih? 😜 Penasaran sih dengan ulasan tentang novel itu yang berseliweran selama ini. Ingin membuktikan sendiri.

Resep Cilok Sayur ala Saya

Nah, ini salah satu cara saya agar saat makan cilok pun ada serat yang masuk ke tubuh. Ini adalah hasil modifikasi resep cilok yang biasanya saya buat dengan memasukkan sawi dan wortel ke dalamnya. Porsinya banyak karena untuk sekeluarga, ya. Cekidot!


Bahan:

500 gram tepung kanji
300 gram tepung terigu
100 gram kornet/daging ayam cincang halus
8 siung bawang putih
1 sdt merica
4 sdt garam
1 bungkus penyedap rasa sapi
600 ml air (lebih bagus jika air kaldu)
50 gram sawi
4 batang daun bawang
150 gram wortel
2 batang daun seledri



Cara membuat:

1. Aduk rata tepung terigu dengan kornet/daging ayam cincang, merica, garam, dan penyedap rasa. Sisihkan.

2. Cincang halus sawi, daun bawang, dan seledri. Parut halus juga wortel. Masukkan ketiganya pada campuran tepung terigu. Aduk rata kembali.


3. Geprek bawang putih, lalu tumis dengan sedikit minyak. Haluskan bawang putih dan masukkan ke dalam campuran tepung terigu tadi.

4. Didihkan air, lalu tuang ke dalam campuran tepung terigu. Aduk rata menggunakan sendok kayu.

5. Setelah agak hangat, masukkan tepung kanji ke dalamnya. Aduk rata kembali. Hasil akhir adonan sedikit lengket di tangan.


6. Cetak cilok menggunakan tangan kanan dengan memencet adonan seperti saat membuat bakso. Ambil dengan menggunakan sendok dengan tangan kiri. Masukkan ke dalam air yang mendidih.

7. Masak cilok sampai terapung. Angkat dan tiriskan di atas sarangan (wadah berlubang-lubang bawahnya). Tujuannya agar mudah saat menghangatkan cilok sebelum dihidangkan.


Note:

✍️Saat itu saya mager bikin saus kacangnya, hehe. Jadi memilih siraman mayonais pedas saja.

✍️Seperti yang disebutkan pada nomor 7, biasanya saya tidak langsung menghidangkan cilok. Saya meniriskan sekaligus menghangatkan lagi cilok di atas sarangan. (Apa sih Bahasa Indonesianya?) Hasilnya beda, lho.

✍️Saat itu si sulung me-request cilok keju. Gampang saja. Adonannya saya bagi dua. Saya tambahkan campuran 50 gram kanji, 50 gram terigu, dan 1 sdt garam untuk adonan separuhnya. Karena nantinya diisi keju cheddar yang dipotong dadu kecil, adonannya harus bisa dibentuk dan tidak lengket dong, ya. Ambil adonan, isikan keju di tengahnya, bentuk bulat, dan eksekusinya sama seperti membuat cilok di atas.

Ini penampakan Cilok Keju yang lama. Yang kemarin udah ludes, kelupaan difoto 😛

Saat saya menulis ini, eh hujan turun lagi. Tapi kali ini saya tidak berniat membuat cilok. Baru juga hari Rabu. Sabaar... Bagusnya sih melanjutkan bacaan novel Pengabdi Cilok. Biar bisa sebagai bahan postingan, gitu.

Saya suka cilok, tapi belum sampai level Pengabdi Cilok lah. Bagaimana dengan teman-teman? 🙂




Salam,




February 16, 2019

Liburan Akhir Tahun nan Singkat di Kampung Coklat

by , in


I always believe holidays strengthen the family bond, away from our daily hectic schedules.
- Chiranjeevi

Menghabiskan waktu liburan bersama keluarga adalah salah satu surga dunia. Apalagi untuk keluarga LDR seperti kami, wuih... sungguh anugerah tak terkira. Seperti liburan akhir tahun 2018 kemarin yang kami isi dengan mengunjungi Wisata Edukasi Kampung Coklat di Kabupaten Blitar.

Psst... Ejaan yang benar menurut KBBI adalah cokelat. Tapi karena sudah dari awal bernama Kampung Coklat, saya akan menuliskan seperti itu, ya.

Nah, maunya sih kami berlibur ke Solo seperti tahun sebelumnya. Tapiii... jangankan bisa mengambil cuti panjang, suami yang bekerja di Surabaya saat itu sedang hectic jadwal kerjanya. Hari Sabtu biasanya dia sudah off, tapi tanggal 29 Desember dia masih harus overtime sampai sore. Alhasil dia baru pulang ke Malang pada Sabtu malam, hiks.

Pintu gerbang bagian dalam Kampung Coklat

It was okay. Rencana liburan pun berubah. Seperti yang tersebut di awal, saya dan suami akhirnya sepakat untuk mengunjungi Kampung Coklat. Ya, ya. Walaupun kami yakin bahwa destinasi wisata andalan Kabupaten Blitar yang dibuka sejak 2014 itu akan penuh dengan pengunjung. Hari Minggu dan akhir tahun pula. Bayangkan...

Merealisasikan Ngidam yang Tertunda

Hari Minggu (30/12) pun tiba. Kami tidak berangkat pagi-pagi karena Pak Sopirnya ternyata masih kecapekan, hihi. Okelah... Baru sekitar jam 9 kami sekeluarga siap. Saya, suami, Afra, Akmal dan Eyang Uti pun berangkat, menembus hujan rintik-rintik yang turun saat itu.

Perjalanan ke arah barat menuju Kabupaten Blitar tergolong lancar. Sepertinya lebih banyak kendaraan yang mengarah ke utara, ke arah Malang dan Batu. Bersyukur, di waktu yang sempit itu kami memilih arah yang berlawanan jadi paling tidak bisa terhindar dari kemacetan.

Rombongan kami. Si Adek sibuk melihat ikan, tuh

Sampai di Talun, Kabupaten Blitar, salah seorang Tante saya bergabung dengan mobil kecil kami. Beliau belum pernah berkunjung ke Kampung Coklat. Sama seperti saya yang tertunda terus untuk pergi ke sana sejak saya hamil anak kedua. Ya, dua tahun yang lalu saya ngidam ingin pergi ke sana. Sudah hampir sampai di tujuan saat itu, tapi ada kejadian yang membuat rombongan kami berbalik arah. Hiks... Tidak perlu diceritakan, ya.

Kampung Coklat yang Sungguh Padat

Tidak terlalu sulit untuk mencapai Kampung Coklat berkat bantuan Google Maps. Hanya berjarak sekitar delapan kilometer dari Kecamatan Kanigoro yang merupakan ibukota Kabupaten Blitar. Akses jalan menuju ke sana memang agak sempit tapi sudah beraspal. Sip.


Alhamdulillah, hujan sudah reda saat kami tiba di sebuah kampung yang terletak di Desa Plosorejo, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Seperti namanya, Kampung Coklat memang terletak di perkampungan padat penduduk. Suami saya memilih untuk memarkirkan mobil di halaman salah seorang warga. Rupanya keberadaan Kampung Coklat lumayan menambah pundi-pundi pendapatan bagi warga sekitar. Selain lahan parkir, terdapat banyak warung kecil di sekitarnya.

Seperti perkiraan saya, manusia tumplek blek saat itu. Kami tetap enjoy berjalan di sela-sela mereka sembari menghindari beberapa titik tanah yang becek. Alhamdulillah, suami saya bersedia menggendong si kecil Akmal jadi emaknya bisa lenggang kangkung sejenak, hihi.


Kami bersama-sama memasuki lorong menuju loket pembelian tiket. Saya yang bertugas membeli tiket seharga lima ribu rupiah per orang, termasuk untuk pengunjung bayi. Cukup murah, bukan?

Sejarah Kampung Coklat

Begitu masuk ke dalam, kepadatan manusia lebih terasa lagi. Wuih. Mereka tampak memadati kebun Kakao seluas 5 hektar yang unik itu. Ya, unik karena kebun Kakao tersebut seakan berada di dalam ruangan. Bangku-bangku yang tersedia di bawah pepohonan Kakao rata-rata sudah penuh. Hanya satu-dua yang kosong ditinggalkan pengunjungnya yang beralih berdiri, mengambil swafoto di sana sini.


Saya dan keluarga tidak mau ketinggalan, dong. Hehe. Salah satu spot yang saya pilih adalah papan besar bertuliskan sejarah Kampung Coklat. Penting ini. Dari sana akhirnya saya tahu bahwa Kampung Coklat yang dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru Indonesia ini punya sejarah yang menginspirasi.


Pendiri Kampung Coklat, Kholid Mustafa, awalnya adalah seorang peternak yang mengalami kebangkrutan karena virus flu burung pada tahun 2004. Beliau pun mencoba banting setir dengan mengurus kebun keluarga yang sudah ditanami Pohon Kakao sejak tahun 2000.

Hasil panen yang masih coba-coba itu lumayan, dengan harga Rp 9.000 per kilogram. Pak Kholid pun berniat belajar lebih dalam tentang budidaya Pohon Kakao dengan magang di PTPN XII Blitar dan Puslit Kota Jember. 

Kisah lengkap perjalanan suksesnya ada di bawah ini:




Wisata Edukasi tentang Coklat

Ada proses pembibitan Pohon Kakao oleh para petani yang bisa dilihat langsung oleh para pengunjung. Biasanya rombongan sekolah yang mengikuti proses tersebut alias terjadi di hari Senin sampai Sabtu. Saya sekeluarga tentu saja hanya bisa melihat-lihat deretan Pohon Kakao yang ditanam rapi, mulai dari yang masih di polybag sampai yang sudah cukup rindang.

Bergaya di antara Pohon Kakao

Berlanjut dengan mengelilingi berbagai sudut. Ada ruangan untuk cooking class yang mengajarkan kepada para pengunjung cara menjadi seniman cokelat. Cukup dengan membayar Rp 5000, para seniman diajari untuk melukis krim di atas cokelat berbentuk hati. Hasil akhirnya tentu saja boleh dibawa pulang.

Sumber: Tempo

Di sudut yang lainnya ada kafe Chocolato Paradise yang menawarkan untuk menikmati cokelat sepuasnya dengan membayar Rp 30.000. Uniknya, ini digratiskan untuk pengunjung kafe yang memiliki berat badan di bawah 12 kilogram. Yang jelas saya tidak masuk hitungan, hehe.


Masih lapar dan ingin menyantap makanan berat? Ada kantin yang menyediakan menu prasmanan. Beberapa di antaranya tetap berbau cokelat, misalnya: Nasi Goreng Cokelat. Juga ada beberapa stand penjual makanan konvensional yang berderet-deret di pinggir. Mulai menu ikan bakar sampai yang berkuah seperti bakso ada di sana.

Kantin dengan menu prasmanan

Tiba-tiba saja hujan turun lagi. Kami bergegas mencari tempat yang teduh sekaligus ingin menuju masjid Karena memang sudah masuk waktu Zuhur. Tampak halaman masjid basah sehingga harus berhati-hati saat melewatinya. Ada yang menarik di sana yaitu di sekeliling masjid terdapat kolam berisi Ikan Koi berwarna-warni. Pengunjung diperbolehkan memberi makan ikan dengan pakan yang telah disediakan.

Masjid di dalam lokasi Kampung Coklat

Si kecil Akmal tampak senang melihat banyak Ikan Koi

Cukup lama kami berteduh di masjid karena hujan tak kunjung reda. Sementara itu waktu kian beranjak sore. Akhirnya kami memutuskan untuk melipir pelan-pelan menuju Chocolate Gallery. Di sana dijual berbagai oleh-oleh berupa beraneka olahan cokelat dan suvenir. Di dalamnya ada pula bioskop mini yang mempertontonkan sejarah berdirinya Kampung Coklat.

Di depan pintu masuk Chocolate Gallery

Setelah puas berkeliling Chocolate Gallery dan memilih snack yang dibeli, segera saja saya membayarnya di kasir. Semua serba cokelat dan pastinya halal, dong. Saya membeli cokelat batangan berbagai varian (dark chocolate 67%, milk chocolate, original chocolate, fruit chocolate), Dodol Cokelat, Madu Mongso Cokelat, Stik Cokelat, Cokelat Bubuk Seduh, dan Keripik Usus Pepaya Cokelat. Semua adalah hasil olahan Kampung Coklat sendiri, juga hasil kerjasama dengan mitra usaha mereka.


Alhamdulillah, jumlah kasirnya banyak sehingga saya tidak harus mengantri lama. Saat itu menjelang pukul empat sore, Kampung Coklat menjelang tutup.


Hiks, rasanya masih kurang puas karena hanya bisa berkeliling Kampung Coklat singkat saja. Belum semua wahana kami kunjungi. We'll go there again someday, insya Allah.

Liburan Akhir Tahun 2019: ke Bandung!

Liburan akhir tahun tentu saja masih lama. Sekarang saja masih Februari. Tapi tidak ada salahnya menyusun rencana, bukan? Insya Allah, jatah cuti suami saya akan terkumpul di akhir tahun ini. Karena agak banyak, destinasi wisata yang dituju bolehlah lebih jauh. Jika tidak ada halangan, kami ingin sekali mengunjungi Bandung sekeluarga.

Mengapa Bandung? Karena saya belum pernah singgah lama di sana, hanya pernah melewati saja. Pastinya penasaran sekali, dong. Secara hawa, Bandung (katanya) mirip-mirip Malang: tergolong sejuk. Adaptasinya pasti tidak sulit. Lalu, dari yang saya baca dan yang diceritakan beberapa teman, Bandung adalah surganya wisata keluarga, wisata alam, wisata sejarah, dan wisata kuliner. Pas!

Sumber: Traveloka

Ingin rasanya mengunjungi taman hiburan terbesar di Jawa Barat yaitu Trans Studio Bandung. Juga Dago Dream Park yang tahun lalu dinobatkan sebagai salah satu destinasi wisata populer di Indonesia. Penasaran juga dengan Museum Gedung Sate yang tempo hari diceritakan seorang teman. Bagaimana sih rasanya surabi atau cilok asli Bandung? 

Dago Dream Park (IG @traveloka)

Karena letaknya cukup jauh dan tidak ada saudara di sana, saya dan suami harus mencari rekomendasi paket tur Bandung, nih. Ya, agar perjalanannya lebih efektif dan kami mendapat pengalaman liburan murah di Bandung karena pembelian tiket pesawat langsung sepaket dengan booking hotelnya. Asyik, kan?

Bismillah. Mulai menabung dari sekarang. 🙂

Nah, adakah teman-teman yang ingin pergi ke Bandung juga seperti kami? 




Salam,





















February 14, 2019

[Sebuah Cerpen Pernikahan] After Pottery Wedding

by , in


After Pottery Wedding
Oleh: Tatiek Purwanti


Looks like we made it
Look how far we’ve come, my baby
We mighta took the long way
We knew we’d get there someday

They said “I bet they’ll never make it”
But just look at us holding on
We’re still together still going strong


Prita menggigit bibir bawahnya begitu menyadari makna lirik lagu yang mampir di telinganya. Lagu itu bergema syahdu memenuhi seluruh sudut minimarket. Ada seorang ibu yang tampak berkomat-kamit mengikuti irama lagu tersebut, menghayati sekali. Duh, ingin sekali Prita berbuat yang sama. Lagu lawas itu seakan mewakili kondisinya saat ini. 

“Silakan, Mbak. Nambah apalagi?” suara kasir menyadarkan Prita dari lamunannya. Rupanya sekarang gilirannya untuk maju. Pria yang mengantri di depannya sudah berlalu.

“Oh... eh. Sudah. Ini saja.” Prita buru-buru mengulurkan tiga batang cokelat mete berukuran besar. Janji Prita untuk membawakan coklat kesukaan putrinya yang membuatnya mampir ke minimarket itu.

Kasir itu menyebutkan nominal yang harus dibayar, begitu selesai melakukan bar code scanning. Prita bergegas membayarnya, kebetulan jumlahnya pas tanpa uang kembalian. 

Prita melangkah tergesa ke arah pintu keluar. Seorang pramuniaga sigap membukakan pintu kaca itu untuknya. Lagu yang mengusik hatinya itu pun tidak terdengar lagi. Kini yang memenuhi gendang telinganya adalah suara deru motor matic-nya. 


Prita memandang sekelilingnya yang sudah mulai gelap. Hampir masuk waktu Magrib. Sebentar kemudian, perempuan berusia tiga puluh dua tahun itu melesat ke arah jalan raya. Motor birunya bergabung dengan barisan kendaraan lain, pulang menuju istananya. Istana yang tidak lagi sama kondisinya setelah ulang tahun pernikahannya yang kelima.

***

“Mama besok jangan pulang petang lagi, ya?” Elsa, gadis kecil berusia menjelang tujuh tahun itu memandang Prita penuh harap. 

Prita baru selesai membacakan dongeng sebelum tidur untuk putri semata wayangnya itu. Jam dinding di ruang tengah baru saja berdentang delapan kali.

“Iya, Sayang. Sekali lagi maaf, ya. Tadi ada tugas tambahan dari bos-nya Mama. Besok-besok enggak lagi, deh,” balas Prita sambil mencium kening Elsa. 

Elsa tersenyum senang. Sedetik kemudian, Elsa mengucapkan doa sebelum tidur yang disambung dengan kalimat yang membuat dada Prita bergemuruh.

“Ya Allah, sebentar lagi aku bersekolah SD. Semoga Mamaku di rumah lagi seperti dulu, tidak usah kerja lagi. Biar bisa antar jemput aku sekolah. Semoga Papaku cepat sembuh. Biar Papa saja yang kerja. Aamiin.”

Ada setitik air mata yang terasa ingin menyembul di sudut mata Prita, tapi segera diusapnya. Dia tidak ingin gadis kecilnya tahu gejolak di dalam dadanya. Cepat disahutnya doa Elsa dengan ‘amin’ yang agak panjang. Elsa tersenyum, memeluk gulingnya, dan menutup matanya. Prita mengusap-usap punggung anaknya dengan lembut, mengantar Elsa sampai ke gerbang mimpi indahnya. 

Dengkuran halus Elsa mulai terdengar, seiring dengan tetesan air bening yang bergulir pelan di atas pipi Prita. Dirapikannya selimut yang menutupi tubuh mungil gadisnya itu. Prita duduk sejenak di tepi tempat tidur, memandangi foto keluarga yang menempel di dinding. 

“Elsa sudah tidur, Ma?” suara Mario menyadarkan Prita dari lamunannya. Suaminya itu berdiri di depan pintu kamar. Dua tongkat kruk menyangga kakinya yang tinggal sebelah.

“Sudah barusan,” jawab Prita sambil berjalan mendekat ke arah Mario.

Keduanya berjalan beriringan menuju kamar tidur mereka yang terletak di sebelah kamar Elsa. Prita mendapati beberapa lembar kertas berserak di atas meja di sudut kamar. Akhir-akhir ini Mario sering menggambar sesuatu di atas kertas, lalu gambar-gambar itu disimpan rapi di dalam map.

“Kamu pasti tidak lupa tanggal berapa ini, Ma.” Mario terlebih dahulu meraih salah satu kertas yang sudah bergambar. Diserahkannya kertas itu kepada istrinya.

Prita tersenyum tipis, lalu mengangguk. Tentu saja dia tidak pernah lupa tanggal pernikahan mereka. Hari ini, delapan tahun yang lalu mereka mengikat sebuah janji suci. Selalu ada pesta kecil di setiap ulang tahun pernikahan mereka. Tapi pesta rutin itu terhenti setelah ulang tahun pernikahan mereka yang kelima.


Prita menatap sebuah gambar guci dengan motif ukir yang ada di tangannya. Di bawah guci itu ada sebuah tulisan bergaya font Great Vibes Regular: “Our Pottery Wedding”. Pernikahan tembikar, sebutan untuk pernikahan yang berusia delapan tahun.

“Bagus gambarnya, Pa.” Prita kini beralih memandang Mario yang duduk di tepi ranjang. Suaminya itu tersenyum sebentar, lalu menarik napas berat.

“Seandainya tiga tahun yang lalu aku tidak keras kepala, mungkin kamu tidak harus berjibaku di luar rumah seperti sekarang. Mungkin Elsa tidak terus menerus protes. Mungkin di ulang tahun pernikahan kita yang kedelapan ini...” 

“Pa. Sudahlah,” potong Prita cepat. Ditatapnya Mario yang matanya kini basah.

“Ini malam yang tepat untuk merenungi lagi perjalanan kita, Ma. Jujurlah. Kamu ingin kembali lagi ke rumah seperti dulu, kan?” Mario balas menatap Prita, mencari-cari sebuah jawaban di mata itu. Ada mendung yang mulai menggantung di sana, tapi seperti ada angin yang berusaha menghalaunya.

“Pa, semangat hidupmu yang mulai kembali lagi itu lebih penting. Aku kadang memang menangis setiap kali Elsa ingin bersamaku lebih lama. Tapi sejauh ini masih bisa kuatasi. I am okay.” Prita mengembangkan sebuah senyuman, menepuk-nepuk bahu suaminya pelan. Mario menggenggam tangan Prita yang menempel di bahunya.

“Ma... Pengorbananmu luar biasa. Terima kasih, Sayang,” Mario menarik tangan Prita dan menciumnya lembut. Tangan mereka kini saling menggenggam. Beberapa saat lamanya mereka terdiam, terhanyut dalam aliran pikiran masing-masing.

Prita teringat kembali awal perkenalannya dengan Mario. Mereka awalnya bekerja di perusahaan yang sama, tapi Mario sudah cukup lama bekerja di perusahaan tersebut saat Prita menjadi karyawan baru. Mario berwajah tampan dan memiliki posisi cukup penting di perusahaan tersebut. Dua kriteria yang biasanya menjadi incaran para perempuan ada padanya. Tapi workaholic menghalanginya untuk bersegera menikah. Di usianya yang ketiga puluh lima, baru lah Mario mantap melabuhkan hatinya pada Prita yang saat itu berusia dua puluh empat tahun.

“Kenapa engkau memilihku, Mas? Aku tidak cantik seperti...” tanya Prita saat itu.

“Ssst... Hatimu cantik,” Mario memotong. “I choose you to complete me.” 

Pasca menikah, Prita memang bisa melengkapi Mario dalam banyak hal. Dia memilih menjadi ratu rumah tangga, sementara Mario meneruskan kecintaan pada pekerjaannya. Elsa yang lahir setahun setelah pernikahan mereka bisa mendapatkan perhatian penuh dari ibunya. Mario merasa beruntung mendapatkan Prita. Demikian juga Prita yang pelan-pelan bisa menikmati perannya sebagai sekolah pertama bagi anaknya.

Hampir tidak ada gelombang besar yang menerpa bahtera mereka yang berlayar. Hingga suatu hari, ada sebuah keputusan Mario yang mengundang datangnya badai.

“Aku sudah empat puluh tahun, Ma. Sudah saatnya punya bisnis sendiri, punya investasi yang menjanjikan. Benar kata Harun, aku tidak seharusnya jadi pesuruh terus.” Mario mengulangi lagi alasannya untuk berinvestasi setelah pertemuannya beberapa kali dengan Harun. Teman Mario itu disebut-sebut punya banyak bisnis dan membuka kesempatan bagi para investor baru untuk bekerja sama di lahan-lahan bisnisnya.

“Pa, selama ini kita juga sudah berinvestasi emas di bank syariah. Kalau Papa mau nambah investasi ya silakan. Tapi setelah kubaca-baca brosur dari Harun, kok rasanya aku kurang yakin, ya?” Prita berkata hati-hati, demi dilihatnya Mario begitu menggebu-gebu.

“Harun itu teman baikku, Ma. Lagi pula aku sudah melihat sendiri perkebunan pisang Cavendish yang ada di brosur itu. Prospeknya sangat cerah, makanya orang beramai-ramai menanamkan modalnya di perusahaan Harun itu.” Mario tetap teguh dengan pendiriannya. 


Prita tidak bisa lagi berkata-kata, pendapatnya mentah. Pertemuan Mario yang berkali-kali dengan Harun itu seperti mengubah sebagian paradigma berpikir Mario. Entah apa saja yang dikatakan oleh Harun yang pandai berdiplomasi itu. Mario seperti malu karena ‘hanya’ menjadi karyawan saja, belum memiliki bisnis sendiri seperti Harun. Padahal menurut Prita, segala jenis pekerjaan yang halal tidak seharusnya direndahkan.

Alhasil, Mario mengalihkan investasi emasnya dan sebagian besar tabungannya untuk berinvestasi di perkebunan pisang Cavendish milik Harun yang sudah merambah pasar ekspor itu. Mario pun bergabung sebagai tim marketing dan mengajak serta beberapa temannya untuk berinvestasi di sana. Laba dari hasil panen raya pisang itu memang benar didapat di tahun pertama. Tapi di tahun kedua, Harun menghilang tanpa jejak! Benarlah firasat dan kekhawatiran Prita selama ini; perkebunan pisang itu hanya sebentuk investasi bodong.

Teman-teman Mario yang menanamkan modalnya di situ tentu saja marah-marah. Mereka menuntut Mario untuk mengembalikan uang mereka yang hilang. Jika tidak, maka jeruji besi sudah menunggu. Menjual rumah dan mobil akhirnya menjadi pilihan realistis bagi Mario agar dia selamat. Keluarga Mario akhirnya beralih menempati rumah yang lebih kecil dan hanya menaiki motor saat bepergian. Rupanya, prahara rumah tangga mereka tidak berhenti sampai di situ saja.

Mario yang tengah frustasi mengalami kecelakaan lalu lintas yang cukup berat sepulangnya bekerja. Motornya hancur tertabrak sebuah bus, tubuhnya terpental cukup jauh dan kakinya kanannya terlindas roda truk yang melintas dengan cepat. Mario mengalami koma beberapa minggu, kakinya pun akhirnya harus diamputasi. Setelah pulang dari rumah sakit, Mario seakan kehilangan semangat hidup berbulan-bulan kemudian. Ia pun harus kehilangan pekerjaan yang sebelumnya memberi posisi mapan di perusahaan tersebut. 

Sebuah ujian hidup yang tidak pernah dibayangkan itu membuat Prita berjibaku berjualan apa saja, secara online dan offline. Tapi hasilnya tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari sekaligus biaya pemulihan Mario. Akhirnya, Prita menerima tawaran untuk kembali bekerja di perusahaan yang ditinggalkannya dulu. Sebuah pilihan yang harus membuatnya berjauhan dengan Elsa di sepertiga harinya. 

***

Prita memandang langkah-langkah perlahan Mario dengan haru. Ada kaki buatan yang sekarang menopang kaki Mario yang hilang. Sementara itu Elsa bertepuk tangan senang menyaksikan ayahnya yang berjalan mendekat padanya. Sebentar kemudian, ayah dan anak itu berpelukan karena Mario telah berhasil mencapai ‘garis finish’ yaitu tempat Elsa berdiri.

“Bagaimana hasilnya. Ma?” Mario menoleh begitu melihat Prita mendekat.

“Positif, Pa,” jawab Prita pendek dengan senyum yang terus mengembang. Mario merengkuh Prita ke dalam pelukannya, lalu memandang Elsa yang terheran-heran menyaksikan orang tuanya yang masing-masing meneteskan air mata.

“Elsa sebentar lagi jadi kakak, Nak,” Prita mendahului memberi kabar itu sebelum Mario sempat membuka mulutnya. Gadis kecil itu kembali bersorak gembira, membuat beberapa orang yang melintasi taman rumah sakit itu menoleh sejenak.

Mario mengajak anak dan istrinya duduk di bangku taman yang tidak terlalu ramai itu.


“Bayi kita pasti punya jatah rezeki sendiri. Kemarin aku mendapatkan tawaran menjadi ilustrator di perusahaan periklanan milik temanku, Ma. Gajinya jauh lebih kecil dari yang dulu tapi semoga mencukupi kita berempat nanti. Kamu bisa kembali lagi ke rumah menemani anak-anak kita, menjadi guru terbaik bagi mereka,” Mario memandang Prita, masih dengan berkaca-kaca.

Prita mengucap hamdalah untuk kedua kalinya hari ini, setelah tadi mengucapkannya selepas menerima hasil tes laboratorium. Badannya yang sedikit lesu akhir-akhir ini seakan mendapatkan sumber kekuatan baru. 

Prita tidak menyadari ada langkah-langkah kaki yang mendekat.

“Hai! Mario, ya?” sebuah suara perempuan diikuti sosok semampainya hadir di depan mereka bertiga. Prita mencoba mengenalinya: Ambar! 

Prita hampir tidak percaya bahwa perempuan cantik itu menampakkan dirinya lagi. Ambar, perempuan yang selama lima tahun pernikahannya terus mencoba menggoda Mario dan menghilang saat Mario hampir kehilangan nyawanya dulu.[]

-SELESAI-




Keterangan: 

Cuplikan lirik lagu: “You’re Still The One” oleh Shania Twain

Sumber gambar: Canva

Cerpen ini dimuat pada buku antologi pernikahan "Soulmate". Resensinya menyusul, yak ^^