My Lifestyle, My Journey, My Happiness

March 31, 2019

[Kisah Inspiratif] Il Mio Eroe Femminile

by , in


Aku tahu...
Tinta emas sejarah telah menggoreskan kisah.
Dari Kartini hingga Susi Susanti.
Dari Laksamana Malahayati sampai jutaan perempuan yang berjasa untuk negeri.
Aku tahu namamu tidak tercatat di situ.
Tapi pasti namamu lah yang terekam indah.
Di sini... di dalam hati. Bertakhta abadi, harum mewangi.





Batam, 27 November 2005

Dadaku masih belum kehilangan degup kencangnya, saat perias pengantin membawaku ke sebuah ruangan kecil. Itu adalah sebuah ruangan serba guna masjid yang disulap menjadi kamar ganti di hari pernikahanku. 

Nah, sekarang waktunya ganti kostum, Dik, ucap Mbak Zulfa, perias pengantin yang ternyata juga perantau sepertiku. Asalnya dari Kepanjen.

Eh, iya, Mbak, jawabku sedikit tergagap. Dua orang temanku yang menemaniku tersenyum-senyum.

Pengantin barunya masih grogi rupanya, kata salah seorang dari mereka.

Aku hanya tersenyum kecil. Benar sekali. Ucapan ijab kabul sudah bermenit-menit berlalu, tapi aku merasa seakan-akan ini hanya mimpi. Ya Allah, aku resmi menjadi seorang istri sekarang!

Mbak Zulfa dengan cekatan mengganti gaun berwarna kuning yang kupakai saat akad nikah tadi. Kini, busana adat Jawa berwarna hitam yang dihiasi bordir dan payet keemasan membalut tubuhku. Sebentuk jilbab yang terbuat dari gold satin dilengkapi untaian melati menyusul, menutupi kepalaku. 

Mbak, aku izin mau menelepon ibuku sebentar, ya? putusku setelah acara ganti kostumnya rampung.

Aku harus memanfaatkan jeda waktu untuk mendengarkan suara ibuku di Jawa sana. Ya, pernikahanku tidak bisa dihadiri oleh kedua orang tuaku. Sedih rasanya, tapi itu adalah hasil dari keputusan bersama. Ibu harus merawat ayah yang sedang terkena stroke, sementara pernikahanku harus segera dilaksanakan. Akhirnya, adik laki-lakiku yang bekerja di Surabaya rela mengambil cuti. Ia terbang ke Batam untuk menjadi wali hakim berbekal surat kuasa dari ayahku.

Mengapa menikahnya tidak di rumah saja? Beberapa orang sempat menanyakan itu. Ibuku lah yang menjelaskan semuanya ke orang-orang itu. Bahwa aku dan suamiku ingin menggelar akad dan walimatul ursy secara sederhana di sebuah masjid, dimana undangan laki-laki dan perempuannya duduk terpisah. Acaranya singkat saja, dari jam delapan pagi sampai Zuhur. Kami hanya memakai baju adat Jawa tapi tidak menyertakan ritualnya.

Gimana akadnya tadi, Nduk? suara ibuku di seberang sana terdengar bergetar. Aku merasa bahwa beliau sedang menahan sebuah keharuan.

Alhamdulillah, lancar, Bu, jawabku. Seakan mendapat getaran gelombang yang sama, dadaku menjadi sesak. Air mataku tiba-tiba mendesak-desak. 

Alhamdulillah, akhirnya kamu menjadi istri. Selamat ya, Nduk... ibu tidak meneruskan ucapannya. 

Aku tahu beliau sedang terisak lirih. Seikhlas apapun ayah dan ibuku, kesedihan karena tidak bisa mendampingiku tetap tak bisa ditutupi. Bulir-bulir bening yang sejak tadi kutahan, kini membasahi kedua belah pipiku. Lalu, kami lebih banyak terdiam dalam percakapan singkat itu. 

Sebentar kemudian, Mbak Zulfa dan kedua temanku memberi isyarat agar aku bersiap-siap menuju pelaminan yang ditata di serambi masjid. Khutbah walimah akan segera dimulai rupanya. Aku menyeka pelan-pelan bekas air mataku dengan tisu. 

Sungguh, saat ini aku ingin memelukmu, Ibu. Terima kasih atas pembelaanmu, di saat orang-orang mempertanyakan mengapa tidak menggelar pesta besar. Katamu, engkau tidak butuh angpau-angpau. Engkau dan ayah lebih percaya kepada cita-citaku untuk mewujudkan sebuah pernikahan impian, sesuai syariat Islam. 

Malang, 10 Februari 2007

“Bayinya sungsang ini, Mbak. Harus dioperasi, vonis bidan desa itu. 

Aku, calon ibu muda yang minim pengalaman tentu saja berdebar-debar tidak karuan. Membayangkan pisau bedah saja aku sudah ngeri. Lagipula, biaya dari mana? Aku dan suamiku adalah karyawan biasa. Kami hanya punya dana untuk proses kelahiran normal. 

Tenang, Nduk. Nanti ibu temani ke bidan yang lainnya. Siapa tahu hasilnya beda, ujar ibu menenangkanku. Aku sedikit lega mendengarnya. 

Sebuah pesan SMS masuk. Rupanya dari suamiku yang masih berada di Batam sana. Aku memang pulang kampung sendiri, dalam rangka cuti melahirkan selama tiga bulan. Pastinya jatah cuti normal suamiku tidak sepanjang aku. Tidak ada jalan lain, kami bersepakat bahwa ia akan menyusulku pulang kampung belakangan.

Maaf ya, Sayang. Abi ternyata tidak bisa cuti di sekitar Hari Perkiraan Lahir. Ummi lagi-lagi harus sendiri :( Abi bisa cuti di bulan April. Nanti sekalian kita balik ke Batam bareng.

Aku lemas membaca SMS itu. Tapi segera kuambil sisi baiknya; aku tidak sendiri jika kembali ke Batam nanti. 

Malang, 7 Maret 2007

Alhamdulillah, perempuan, ucap ibuku sambil memegang tanganku. 

Suara tangis bayi terdengar begitu merdu di telingaku. Rasa sakit yang berjam-jam mendera perut bagian bawahku mendadak sirna. Aku telah melahirkan secara normal dan lancar. Sebelumnya, aku sudah berusaha melakukan ritual sujud agar kepala janinku berputar ke bawah. Sementara itu, aku tahu bahwa ibuku terus mendoakanku di setiap sujudnya, di setiap usai salatnya.

Kulihat kelegaan luar biasa di wajah ibuku. Aku menangis haru, juga ibuku yang sejak kemarin mendampingiku. Ini seperti de javu. Dulu kami pernah berada dalam suasana seperti ini. Dulu ibuku juga pernah berdarah-darah, dan aku saat itu masih bayi merah.

Nanti biar Pamanmu yang meng-azani si kecil, kata ibuku sambil membelai rambutku. Bidan yang menolongku rupanya sudah selesai memandikan bayiku. 

Ya, hanya pamanku yang saat ini bisa melakukannya. Suamiku hanya bisa menangis haru di seberang sana saat kukabari lewat SMS singkat. Ia tidak bisa meng-azani putrinya, begitu juga dengan ayahku yang sedang sakit. Beliau berada di rumah. Ibu menitipkan beliau ke bibiku. 

Menjelang magrib, aku diperbolehkan pulang karena kondisiku dinilai telah stabil. Menaiki angkot sewaan, aku, ibuku, dan paman pulang ke rumah. Suasana jalan begitu gelap, hanya ada pendar-pendar lampu dengan cahaya sederhana. Sedang mati lampu rupanya. Tapi aku seakan melihat pelita yang terang benderang. Pelita itu, bayi mungilku. 

Hari-hari selanjutnya adalah tentang belajar dan berjuang. Aku sedikit kaget ketika harus begadang setiap malam. Ibuku mondar-mandir, antara menemaniku menimang si kecil dan merawat ayah. Aku tahu beliau lelah, tapi tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya.

Ya, beliau telah terbiasa. Hampir sepuluh tahun, ibuku mendampingi ayahku berobat ke mana saja. Menemani ayah keluar masuk rumah sakit seakan menjadi hal yang ringan baginya. Hingga suatu hari, perjuangan ibuku harus berakhir karena takdir.

Saat si kecil berusia 21 hari, ayahku pergi menghadap Ilahi. Kulihat mendung tebal menggantung di mata ibuku. Kami sama-sama menangis lagi, tapi kali ini menangis karena hancurnya hati. ‘Hadiah indah sudah kudapatkan, tapi tak lama kemudian aku harus kehilangan. Padahal rasanya aku masih belum membahagiakan cinta pertamaku itu. Aku yang masih muda dan fakir ilmu terguncang. Sampai-sampai ASI-ku menolak untuk keluar di hari-hari berikutnya. 

Ibu, aku tidak bisa membayangkan saat aku harus kembali lagi ke Batam nanti. Engkau akan sendirian. Apa sebaiknya aku menemanimu saja? Atau kulanjutkan mimpi yang masih separuh jalan kulalui?

Malang, 15 Agustus 2016

Aku, suamiku, anak sulungku, dan ibuku duduk mengitari sesosok mungil yang terbaring menggemaskan. Bayi laki-lakiku telah hadir ke dunia. Haru dan bahagia, hampir sama dengan sembilan tahun yang lalu. Tapi tentu saja ada yang berbeda. Kali ini aku melahirkan di sebuah rumah sakit swasta via sectio caesarea. Bayiku tak kunjung mau lahir sampai minggu ke-42. Ketubanku sudah menghijau, tapi anak keduaku itu sehat dan selamat. Alhamdulillah.

Ya, aku dan suamiku sudah kembali ke Malang pada akhir tahun 2010. Mimpiku untuk menyelesaikan kuliahku telah teraih. Janjiku untuk pulang kembali pada ibuku pun kutunaikan. Aku dan suamiku memulai perjuangan kami dari nol lagi. Ternyata memang tidak mudah. Tapi ibuku terus menyemangati dan aku tahu doa-doanya selalu menyertai.

Alhamdulillah, Nduk. Cucuku bertambah satu lagi. Syukur, kondisi kalian sudah jauh lebih baik dari yang dulu. Setiap anak yang lahir memang membawa jatah rezekinya sendiri, kata ibuku. Bintang-bintang tampak berkerlap-kerlip di matanya.

Sungguh, aku memang harus banyak bersyukur pada Allah Swt. Perjuanganku merantau sejak tahun 2000 sampai aku pulang kembali ke Malang telah banyak mengajarkan tentang arti ketangguhan. Aku belajar setangguh ibuku. Aku belajar tegar sepertinya. Aku ingin anak perempuanku nanti juga mengikuti jejak ketangguhan neneknya. 

Ya, anak perempuanku itu pernah menemani hari-hari sepi ibuku. Mengingatnya, membuatku sedih sekaligus lega. Sedih, karena aku harus berpisah sejenak dengan anak sulungku itu. Lega, karena anak sulungku menghadirkan selaksa keceriaan bagi ibuku, sepeninggal ayahku.

Ya Rabb, jagalah ibuku dengan segenap kasih sayang-Mu. Aamiin. 

***

Catatan:

Il Mio Eroe Femminile, bahasa Italia, artinya Pahlawan Perempuanku
March 31, 2019

[Puisi] Tentang Cinta Pertama dan Asa

by , in


Tema: Asa


Dakar
Oleh: Tatiek Purwanti


dakar telah buatku terbakar
kulesatkan kereta anginku
tak hirau kecimus yang menghangus
pecundang itu sudah lama kubuang 

terus kukayuh berteman peluh
kueja napasku yang satu-satu
lalu menjelma seribu
kurasa garuda memekik di dadaku

mimpi itu harus kuraih
hingga berkibar sang merah putih


Malang, 15 Agustus 2018


💜💜💜


Primadona
Oleh: Tatiek Purwanti


tatapan kalian seumpama aku berlian
tuan dan nona...
topeng ini hanya belum kulepaskan
semerbakku bukanlah kasturi
ia cuma aroma berbalut dusta

puja-puji itu semerdu seruling bambu
menikamku hingga lelah bersimbah
peluh bahkan genangan darah
sungguh sakit ini tak terperi 
tuan dan nona...
aku ingin kembali
melembah dan membumi lagi


Malang, 15 Agustus 2018

💜💜💜


Tema: First Love


Tertawan
Oleh: Tatiek Purwanti


tiada mungkin
kusampaikan pada angin
pun tak sanggup aku ceritakan
pada arak-arakan awan
sebentuk wajah telah menjajah

karenanya...
oh, bagaskara perkasa
pancaran panasmu tak lagi terasa
oh, candra nan memesona
purnamamu tak lagi memikatku

lamat-lamat dalam senyap
kalbuku membisikkan
ia telah tertawan


Malang, 14 Agustus 2018

💜💜💜


Rasa untuk Baginda
Oleh: Tatiek Purwanti


ada riak tenang bening telaga
pada manik mata ibunda
tiap kali disebut namamu
pada ceria masa kanakku

masa pun musim berganti
tapi tidak dengan rasa ini
ajaib…
tapi ini nyata adanya
aku jatuh hati tanpa pernah
melihat seraut wajah indah

salam bagimu, wahai
manusia termulia teladan semesta


Malang, 14 Agustus 2018

💜💜💜

Puisi di atas dimuat dalam buku antologi puisi Cinta Pertama dan Asa terbitan Wonderland Publisher, 2018.
March 31, 2019

[Dongeng Kontemporer] Perpustakaan Mini Roni

by , in

Jam dinding berdentang satu kali di rumah Roni siang ini. Roni, anak laki-laki kelas 5 SD itu baru saja menyelesaikan makan siangnya. Ia segera menuju sudut kamarnya. Di sana ada sebuah rak buku berukuran sedang yang berisi buku-buku dan majalah koleksinya. Dulu, Roni yang suka membaca itu menempelkan sebuah kertas karton berukuran persegi panjang kecil di sisi atas rak bukunya. Kertas itu bertuliskan “Perpustakaan Mini Roni”.

Siang ini Roni memilih untuk membaca Ensi, sebuah buku ensiklopedia anak yang berisi tentang dunia hewan dan tumbuhan. Badan Ensi cukup tebal, bersampul putih dengan pinggiran berwarna hitam. Ensi merasa senang karena dibaca oleh Roni lagi.

“Beberapa hari ini Roni lebih sering membaca Ensi daripada aku,” Komi, si buku komik anak mengeluh.

“Sabar, Komi. Nanti kita semua pasti juga mendapat giliran untuk dibaca,” Mumus, si kamus bergambar berusaha menenangkan Komi yang tampaknya cemburu.

“Betul, Komi. Roni ‘kan suka membaca kita berulang-ulang. Jadi lebih baik kita sekarang tidur saja,” tambah Novi, si novel anak yang juga bertubuh tebal sambil menguap.



Musim penghujan memang sudah datang. Akhir-akhir ini hujan selalu datang di siang hari. Para penghuni perpustakaan mini tidak khawatir kedinginan karena mereka semua disampuli plastik dengan rapi oleh Roni. Badan mereka juga tetap bersih walaupun kertas di tubuh mereka dibolak-balik berkali-kali. Roni dan ibunya rajin membersihkan rak buku itu dari debu.

***

Ada tamu istimewa yang datang dari Jakarta di hari Minggu pagi. Mereka adalah Paman Mono, Bibi Hera dan kedua sepupu Roni yang bernama Kak Wina dan adiknya, Aqila. Kak Wina duduk di bangku kelas 3 SMP, sedangkan Aqila masih berusia tiga tahun. Kak Wina juga suka membaca, maka ia pun asyik memilih buku dan majalah di perpustakaan mini Roni pada sore harinya. Setelah mendapatkan buku yang dicari, Kak Wina meletakkan ponselnya di rak buku itu. Ia segera keluar dari kamar Roni dan asyik membaca di ruang keluarga. 



“Hai, kamu siapa?” sapa Ensi pada ponsel yang berdiri di dekatnya.

“Masak kamu tidak tahu siapa aku?” ponsel yang bernama Ponsi itu balik bertanya dengan sombongnya. 

“Aku Ponsi, si telepon pintar. Aku tahu apa saja, makanya semua orang menyukaiku. Orang-orang sering membaca melalui aku. Kalau membaca kalian ‘kan bikin bosan!”

Para penghuni perpustakaan mini menghela napas. Baru kali ini ada sosok yang terlalu membanggakan diri dan merendahkan yang lainnya. Padahal para penghuni perpustakaan mini biasanya saling menghargai dan menyayangi.

“Tapi Roni tidak pernah bosan membaca kami,” elak Maga. Majalah anak yang tidak tahan dengan sikap angkuh Ponsi itu akhirnya bersuara.

“Hahaha... Apalagi kamu, hai majalah jelek! Lihatlah tubuhmu itu. Sudah lecek begitu. Lihat nih tubuhku yang berwarna-warni dan suaraku yang bisa berganti-ganti,” Ponsi masih saja menyombongkan diri.

“Oh iya, aku baru ingat. Tadi Kak Wina dan Roni berbincang-bincang. Katanya Roni akan membuang kamu dan teman-temanmu itu,” ucap Ponsi sambil menunjuk Maga dan teman-teman Maga dengan edisi yang berbeda, yang bertumpuk-tumpuk di bawahnya.

Maga dan teman-temannya terkejut. Begitu juga dengan Ensi, Mumus, Novi, dan Komi. Sementara itu Ponsi masih saja tersenyum mengejek. Tidak lama kemudian Kak Wina masuk ke kamar Roni dan membawa Ponsi keluar dari situ.



“Tenanglah Maga,” hibur Mumus yang bijaksana. “Aku tidak percaya dengan perkataan Ponsi yang sombong itu.”

“Betul, Maga. Jangan menangis. Setahuku, Roni tidak akan membuangmu. Ia akan membawamu dan teman-teman sejenismu yang lain ke panti asuhan. Di sana banyak anak yatim piatu yang butuh bahan bacaan,” Novi yang suka tidur ternyata mempunyai informasi berharga.

“Benarkah itu, Novi?” Maga menghapus air matanya.

“Benar, dong. Aku mendengar sendiri Roni dan ayahnya berbicara tentang itu saat Roni membacaku kemarin,” jelas Novi.

Maga menarik napas lega. Tapi ia tiba-tiba bersedih lagi.

“Berarti aku akan berpisah dengan kalian. Hiks...”

“Menurutku itu tidak masalah, Maga. Bukankah kita dulu juga berpisah dengan teman-teman lain saat di toko buku?” kali ini Komi ikut bersuara.

“Aku setuju dengan Komi,” giliran Ensi yang menimpali.

“Kita mungkin akan berpisah tapi yang terpenting kita tetap dibaca oleh anak-anak. Siapapun mereka, yang jelas mereka akan terhibur dan bertambah pintar dengan membaca kita,” Mumus mengemukakan pendapatnya.



Maga dan teman-temannya akhirnya tersenyum mendengar penjelasan Mumus itu.

“Untung Roni tidak punya ponsel seperti si Ponsi yang sombong itu, ya,” kata Ensi.

“Kurasa Roni baru akan dibelikan ponsel saat duduk di SMP nanti,” sahut Komi.

“Fiuhh... Orang tua Roni memang bijaksana. Jadinya Roni tetap mencintai kita semua,” Novi berkata dengan lega. Disambut dengan senyum gembira para penghuni perpustakaan mini yang lainnya.

***

“Ada ribut-ribut apa sih di luar sana?” Novi yang baru bangun tidur bertanya kepada Komi. Komi yang baru dibaca Roni beberapa menit yang lalu tentu saja tahu apa yang terjadi.

“Si Ponsi akhirnya kena batunya. Ia justru yang dibuang ke kolam oleh si kecil Aqila.”

Para penghuni perpustakaan mini tidak dapat menahan tawa.

“Stop tertawanya teman-teman,” Mumus berusaha menghentikan tawa teman-temannya. “Kasihan juga si Ponsi. Bagaimana ceritanya, sih?”

“Tadi Kak Wina menaruh Ponsi sembarangan di kursi. Aqila bisa meraihnya dan membawanya keluar rumah. Lalu dilempar-lempar begitu, deh,” jelas Komi.

“Kita doakan semoga Ponsi baik-baik saja dan tidak sombong lagi,” sahut Maga. Para penghuni perpustakaan mini yang kompak itu pun meyetujui perkataannya.



Malam itu mereka berbincang-bincang dengan seru. Esok hari, ayah Roni akan membawa Maga dan teman-teman sejenisnya ke panti asuhan. Maga tetap bahagia walaupun berpindah tempat. Ia tidak akan melupakan kebersamaan dengan teman-teman baiknya di perpustakaan mini Roni. 

- Selesai -


Quotes:

Setiap anak diciptakan Tuhan dengan keunikan masing-masing. Anak-anak bisa menebar manfaat dan kebaikan dengan caranya sendiri-sendiri berbekal keunikan itu. Maka, kita tidak boleh menjadi anak sombong jika dikaruniai keunikan dan kelebihan. Sebaliknya, kita harus tetap rendah hati, saling menyemangati, dan bekerja sama dengan teman yang lainnya.

💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

Tulisan di atas dimuat dalam buku antologi Dongeng Kontemporer "43 Dongeng Amazing" yang diterbitkan oleh Wonderland Family, 2018.

Dongeng kontemporer adalah dongeng yang tokoh-tokohnya bisa berbicara layaknya manusia.


March 21, 2019

[Puisi] Karena Ibu adalah Inspirasiku

by , in


My mother is a walking miracle.

- Leonardo DiCaprio


Sebuah tulisan itu dekat dengan inspirasi. Begitu sebuah inspirasi datang, maka lahirlah berderet-deret kalimat panjang. Kadang kita yang menuliskannya pun tidak menyangka bisa menuangkan ide sedalam dan seluas itu. Puisi, sebagai salah satu bentuk karya tulis, sebenarnya terlahir juga dari inspirasi seperti itu.

Maka jika saya ditanya dari mana inspirasi menulis puisi itu datang? Dari mana saja. Berlimpah ruah inspirasi dari sekitar yang akhirnya membuat saya terdorong untuk menulis kalimat-kalimat puitis. Biasanya begitu inspirasi itu hadir, saya buru-buru mencatat di buku catatan harian; sebagai outline.

Khusus puisi, biasanya saya mencoba menuntaskan saat itu juga. Menulis puisi dengan mood yang masih hangat itu membuat hati saya ikutan hangat. Tidak seperti menulis cerpen yang bisa dilanjutkan nanti lagi, puisi itu lebih baik segera dieksekusi. Itu kalau saya lho yaa...

Ada seorang teman yang berkata bahwa dia hanya bisa menulis puisi tentang cinta-cintaan melulu. Tentang patah hati melulu. It's okay. Style setiap orang tidak sama. Jika dengan itu dia bisa merasakan kenyamanan dan kelegaan, mengapa tidak? Siapa tahu ada 'sumbatan' hati di masa lalu yang harus dibuka dengan menulis puisi.

Nah, saya sendiri masih terus belajar membuka keran inspirasi agar terus mengucur menjadi sebuah puisi. Salah satu inspirasi terbesar saya adalah ibunda. Tidak perlu jauh-jauh mencari inspirasi karena memang ibunda saya tinggal serumah dengan saya. Segala tentang beliau adalah keajaiban yang jika dituliskan dalam bentuk puisi, mungkin akan berjilid-jilid tebalnya.

Di bawah ini adalah dua puisi karya saya yang menyebutkan sosok ibunda di dalamnya. Pertama, puisi berjudul Serenada Desa yang dimuat dalam buku antologi saya yang ke-7 yaitu Tanah Bandungan. Buku antologi puisi tersebut adalah hasil dari lomba cipta puisi bertema keindahan alam yang diselenggarakan oleh Forum Aishiteru Menulis (FAM) Indonesia.


Ya, tema sebenarnya adalah tentang keindahan alam. Tapi rasanya pas sekali jika keindahan alam itu juga saya kaitkan dengan sosok seorang ibu. Jika puisi bertema sahabat pada tulisan saya sebelumnya termasuk dalam kategori Puisi Deskriptif, maka puisi berjudul Serenada Desa ini adalah Puisi Lirik yang termasuk Ode.

Ode adalah puisi yang berisi tentang pujaan terhadap seseorang, suatu hal, atau pun keadaan. Memang, saya memberi judul puisi ini dengan memakai kata Serenada. Tapi puisi ini bukan termasuk jenis Serenada. Nah loh...

Serenada juga termasuk Puisi Lirik yang berupa puisi percintaan yang dapat disajikan dengan nyanyian. Kapan-kapan saja kita bahas yang ini, ya. Sekarang, selamat menyimak puisi di bawah ini. Puisi yang saya buat ketika masih doyan dengan baris-baris panjang. Sekarang sih saya lebih suka menulis puisi yang barisnya lebih pendek.


Serenada Desa
Oleh: Tatiek Purwanti


Sungai landai jernih berbatu-batu 
masih seperti yang dulu, Ibu
Gemericik airnya mengaliri
hulu hingga hilir relung hatiku

Hamparan hijau hektaran sawah
Meredakan segala penat lelah
Burung-burung kecil bersenandung merdu
Seumpama kidung surga paling syahdu
Menyambut hadirku
yang berdiri terdiam, terpaku
Di tengah pematang meluaskan pandang
Menghirup lega sekumpulan udara
Mengisi penuh segenap rongga dada

Ibu...
Gunung di ujung berselimut kabut
Serupa kabut di mata teduhmu
Lebat hutan jati di bawah kakinya
Pelindung rimbun tapal batas desa
Seperti hangat kasihmu sepanjang masa
Mereka, rangkaian keajaiban
yang segera kutinggalkan
Betapa sekejap saja liburan

Ya, pada hiruk pikuk kota
kuraih dapatkan segalanya
Tapi hanya ramah indah desa
mampu sejuk memeluk raga
Keelokannya membuai damai
sepenuh rasa di jiwa

Maka kini kupahat sebuah janji hati
Kelak kuhabiskan masaku
pada hening bening desaku
juga bersamamu, Ibu


Malang, 27 September 2017



Kedua, puisi berjudul Meraba Sketsa Ibunda ini dimuat dalam buku antologi puisi Perempuan yang Tak Layu Merindu Tunas Baru. Ini juga hasil lomba menulis puisi di FAM Indonesia dan kali ini memang bertema tentang sosok ibu. Buku antologi tersebut menjadi antologi saya yang ke-8.

Dalam puisi ini, saya mencoba menghadirkan 'aku' yang berbeda. Setelah membaca ini, pasti teman-teman akan memahami alasan 'aku' begitu memuja ibundanya. Selamat menyimak!


Meraba Sketsa Ibunda
Oleh: Tatiek Purwanti


Berkali kudengar di hening pagi
Senandung burung-burung membuka hari
Lalu tak terhitung kurasa hangatnya
Sinar Sang Surya belai sekujur raga

Pernah kuraba lembutnya kain sutera
Juga kuteguk air tawar sungguh segar
Kukira mereka karunia tiada bandingannya
Ternyata engkau hadiah terindah-Nya

Ibunda...
Padamu kudengar melodi paling indah
Peluk hangatmu redakan segala gundah
Belaianmu mampu menikam sendu
Lenyap dahaga saat kau suguhkan tawa

Tiga dasawarsa kau memilih setia
Tuntun aku di dunia tanpa cahaya
Engkau tak malu, tak campakkan aku
Sementara di luar sana kudengar
Bayi-bayi tak berdosa diakhiri hidupnya

Ibundaku...
Hadirlah dalam bunga tidurku malam nanti
Hanya di sana bisa kutatap jelitamu
Mari kita bercengkerama hingga pagi


Malang, 12 November 2017

Pinterest

Tak harus menunggu tibanya Hari Ibu untuk menuliskan tentang sosok beliau. Pun dua puisi di atas sangat tidak cukup untuk menggambarkan kehebatan sosok seorang ibu yang selalu menginspirasi di mata saya. Bahkan mungkin jika ribuan pena harus menuliskan tentang kehebatannya, rasanya masih harus ditambahkan lagi dengan ribuan pena lainnya.

Alhamdulillah, walaupun sederhana, ada kelegaan tersendiri setelah saya bisa menuangkan isi hati dalam bentuk puisi. Saya pun terdorong lagi untuk mengikuti antologi tentang menulis kisah nyata seorang pahlawan. Ya, pahlawan itu adalah ibu! I am going to write it soon.

Nah, teman-teman sendiri sudah pernah membuat puisi bertema ibu, belum? Atau mungkin sudah membuat tulisan panjang tentang ibu? Feel free to tell me.


Salam,






March 18, 2019

Pesan Cinta untuk Sahabat

by , in


Tahun 2018 adalah tahun dimana saya begitu bersemangat mengikuti berbagai proyek antologi. Sadar diri bahwa saya banyak ketinggalan, saya bertekad menebus ketertinggalan itu. Alhasil, hingga saat ini sudah ada 20 buku antologi saya yang terbit, baik melalui lomba atau event nulis bareng. Insya Allah, masih ada lagi 4 buku antologi saya yang dalam proses terbit.

Beberapa buku antologi tersebut sudah pernah saya tuliskan di blog ini, beberapa yang lain belum. Termasuk diantaranya adalah 3 buku antologi puisi saya yang diterbitkan oleh Forum Aishiteru Menulis (FAM) Indonesia, Kediri. 

Buku antologi puisi saya yang terbit di FAM Indonesia untuk kali pertama berjudul Pesan Cinta untuk Sahabat. Ini adalah proyek nulis bareng, jadi bukan sebuah lomba. Tapi menurut penyelenggaranya tetap ada seleksi, sih. Buku ini menjadi buku antologi saya yang ke-5.


Dari judulnya, teman-teman pasti bisa menebak bahwa buku antologi puisi tersebut berisi pesan-pesan untuk sahabat atau teman dekat. Ya, selalu ada cerita menarik dan mengesankan di balik hubungan kita dengan mereka yang dekat dengan kehidupan kita. Maka lahirlah 2 puisi saya berikut ini...


Senja, Pagi, dan Arti Hadirmu
Oleh: Tatiek Purwanti

Mengapa banyak manusia memuja senja?
Kudapati ia bertahta pada judul-judul roman
Pada bait-bait puisi rindu dan jatuh cinta
Jadi inspirasi luapkan berderet-deret perasaan

Padahal senja bagiku adalah sendu
Karena tak kulihat lagi rinai tawamu
Padahal senja adalah permulaan kesedihan
Karena kita terpisah jarak, berjauhan

Hanya kamu yang tertakdir mengerti
Bahwa aku lebih mencinta, mendamba pagi
Mentari menyapa, kita pun bersua ceria
Menyimak lagak gerak, titah petuah mereka
Para pahlawan tanpa tanda jasa
Dan kelas kita seketika menjelma
bak satu ruangan mewangi di surga

Kadang aku malas, sering berbuat tak jelas
Tapi segera aku bergerak lagi bergegas
Kamulah yang menarikku, damai merangkulku
Kamu yang sediakan jemari tanganmu
Untuk kugenggam erat, jadi penguat
Hanya kamu yang mampu, duhai sahabat

Siluet senja kini membayang kembali
Istanaku masih sunyi sepi tiada berisi
Wajah ayah bundaku masih tersimpan di sana
Di antara deru kemacetan tengah kota
Hatiku kembali kaku membeku
Peluk senyum mereka sungguh kurindu

Ah, cepatlah hadir kembali wahai pagi
Agar sosok sahabatku segera berdiri di sisi
Padanya kulabuhkan keluh sepiku
Entah apakah hingga akhir waktu


Malang, 11 September 2017



Kita Berbeda untuk Bersama
Oleh: Tatiek Purwanti

Kaleng keriput bekas minuman
Menggelinding jadi bulan-bulanan kakimu
Tersuruk sempurna ia di sudut lapangan
Selalu begitu kau luahkan marahmu

Nada-nada cadas terluncur padamu
Memaksa aku raih kata sepakat darimu
Kau mematung, aku lekas berlalu
Selalu begitu kutumpahkan kecewaku

Dua cerita di antara ratusan kisah kita
Dua anak manusia coba satukan rasa
Kau dan aku sungguh jauh beda
Mungkin bak bumi dan satelit alaminya
Kau nyaman dengan diam tenangmu
Aku merasa ada dengan riuh celotehku

Kini kita telah menang atasnya
Merangkai simpul-simpul sahabat di antara
hati-hati damai kita
Kita memang berbeda untuk bersama
Kita belajar dari eloknya taman bunga
Beraneka puspa itu ciptakan harmoni
Justru karena mereka berwarna-warni

Malam ini, dengarkan tanyaku
Kita kah sahabat selamanya itu?


Malang, 11 September 2017



Saat itu, saya cenderung suka menulis puisi panjang-panjang seperti di atas. Kalau sekarang, saya lebih nyaman menulis puisi yang agak pendek. Sah-sah saja sebenarnya karena jenis puisi baru memang tidak terikat dengan aturan panjang-pendek lirik dan bait. 

Dilihat dari isinya, dua puisi saya tersebut adalah Puisi Deskriptif yang masuk dalam kelompok Puisi Impresionistik. Sebagai pengingat, Puisi Impresionistik adalah puisi yang mengungkapkan suatu kesan (impresi) penyair/penulis terhadap suatu hal. Ya, kesan saya terhadap kisah persahabatan.

Nah, lahirnya buku antologi puisi tersebut membuat saya saat itu ingin mengikuti lagi dua proyek antologi puisi yang lainnya. Insya Allah, akan saya bagikan puisi-puisi saya pada tulisan saya selanjutnya.

Saya menyukai puisi, baik membaca atau menuliskannya. Tapi saya merasa belum ahli dan ingin terus belajar tentang puisi. Bagaimana dengan teman-teman?


Salam,


March 08, 2019

Energy of Akad

by , in

Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh imannya. Dan hendaklah ia bertakwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi.
[HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath (no. 7643, 8789), hadits hasan]

Saya kira, teman-teman yang membaca judul di atas pasti mengerti asal mulanya, ya. Yups, itu saya ambil dari hashtag #EnergyOfAkad yang terdapat di instagram Syahrini pasca pernikahannya dengan Reino Barack (27/02/2019) di Masjid Camii Tokyo, Jepang. Sebuah frasa yang gue banget. Saya pernah merasakan energinya, bahkan hingga hari ini.

Masih terbayang suasana saat akad nikah kami digelar. Pagi itu, Masjid Nurul Islam di Mukakuning, Batam cukup ramai dipadati para undangan. Saya masih teringat juga irama detak jantung yang kian cepat saat ijab kabul terucap (27/11/2005). Tuh, tanggal nikahnya sama dengan Syahreino, hihi. 

Syahreino: Behind the Scene


Sebelum membicarakan tentang Energy of Akad versi saya, boleh dong saya mengulas tentang peristiwa pernikahan Syahrini-Reino yang menjadi perbincangan hangat beberapa hari ini. Anggap saja saya sedang menulis tentang tetangga. Iyes, blogger kan tetangganya artis. Mayoritas artis aktif di instagram, blogger juga. Yekan? 😎 *pede aja lagi...

Berawal dari status seorang seleb facebook sekaligus famous blogger yang ternyata menjadi penggemar Princess Syahrini. Inisialnya Mbak JD. Tebak sendiri ya, hehe...

Biasanya saya memang menyimak status-status si Mbak ini karena tulisannya keren, berbasis data, tapi ada bumbu kocaknya juga. Segar. Beliau ini memang lifestyle blogger; menulis apa saja mulai dari dunia perpolitikan sampai hiburan. Ceritanya, beliau salut dengan totalitas Syahrini di dunia entertainment, termasuk cara kalem Sang Incess menanggapi para haters; Emotional Quotient-nya oke.

Wah, selama ini saya hanya sekadar tahu bahwa Syahrini adalah artis yang penampilannya glamour dan centil. Sebagian orang bilang dia suka pamer. Gara-gara Mbak JD, saya jadi kepo tentang seorang Syahrini. Mengapa sampai Reino Barack memilihnya, ya?

Serasi 👍🏻

Setiap rasa kepo harus disalurkan dengan mencari tahu sendiri agar mendapat info valid. Pastinya hanya sebatas membaca berbagai artikel di media online, menonton channel berita resmi di youtube, dan stalking instagram Syahrini. Tidak mungkin ketemu orangnya langsung dong, ya. Maka selama dua hari dua malam saya mencari tahu tentang sosok Syahrini yang sebenarnya. *Terniat banget 😛

Hasilnya, ternyata Syahrini ini memang memiliki apa yang seharusnya dimiliki seorang entertainer. Suaranya cukup bagus -walaupun tidak secetar Tiga Diva- dan mampu memeriahkan suasana. Setahu saya, tidak banyak penyanyi yang bisa melucu seperti dia. Ditambah pula dengan memiliki tim manajemen yang kompak. Gimmick semacam alhamdulillah ya, cetar membahana, atau maju mundur cantik adalah strategi jitu untuk branding dirinya.

Tentang penampilannya yang glamour, ya iya laah... Dia jadi brand ambassador dan high level influencer. Apa yang tampil di akun instagramnya adalah dalam rangka pekerjaan dan hobi travellingnya. Saya saja saat meng-endorse produk di instagram berusaha untuk tampil lebih rapi dari biasanya. Pun para penghuni instagram yang bukan public figure, pasti mengunggah foto-foto dengan penampilan terbaiknya. Betul?

Di luar dunia hiburan, dia adalah sosok yang ramah, dibesarkan di lingkungan yang cukup agamis, dan dikenal dermawan. Belakangan, dia mulai mengikuti Kajian Musawarah, sebuah kajian untuk para artis. Saya kira ini juga menjadi nilai plusnya. Kekurangannya pasti ada. Manusiawi lah. Tapi saya kira daya tariknya lebih kuat.

Sedangkan gosip yang menyebut dia adalah istri simpanan ternyata hanya beredar di kalangan netizen dan paranormal. 😐 Tidak terbukti nyata muncul dalam berita resmi. Tentu bukan tugas saya mengorek-ngorek apa yang tidak tampak di permukaan, bukan?

Setelah menyimak youtube yang berisi kunjungan Syahrini ke sebuah pesantren tahfizh yang membuat saya menangis, saya menggerakkan jempol untuk menjadi follower instagramnya. Sorry for unknowing deeper about you before, Dear. 

Insya Allah, Syahrini adalah orang baik yang bisa melakukan banyak kebaikan via popularitas dan hartanya. Apa yang ditulis Mbak JD ternyata benar. 👍

Mungkin hal-hal di atas yang membuat seorang Reino Barack memilih Syahrini untuk menjadi istrinya dalam waktu singkat. Pastinya hanya dia dan Allah yang tahu alasan tepatnya. 


Bagi sebagian orang ini mengejutkan. Big boss di Global Mediacom dan MNC New Media ini dulu bahkan tidak menjanjikan pernikahan sejak awal berpacaran dengan Luna Maya. Saat itu, dia berkata bahwa pernikahan itu adalah konsep hidup yang rumit dan ia mungkin baru siap di usia 38 tahun.

Ternyata Reino menemukan belahan jiwanya  di usia 34 tahun. Jodohnya ternyata tidak jauh-jauh, dari kalangan artis sebagaimana mantan kekasihnya dulu. Tapi karena tidak jauh itulah terjadi kehebohan yang bisingnya mungkin bisa menyaingi ributnya para pendukung capres. #ehh 😅

Membaca Pernikahan Tak Biasa


Jujur, saya belum pernah sekepo ini terhadap pernikahan artis sebelumnya. Lanjut, ah... Toh saya juga sedang membaca. Bukan buku memang. Tapi membaca sebuah peristiwa tentang sebuah konsep pernikahan artis yang tak biasa. Ini bak novel bergenre romance yang tokoh-tokohnya hidup. 

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari proses menuju hari-H pernikahan, pas hari-H, dan setelahnya. Insya Allah, ini saya tulis dengan husnuzan, berdasarkan apa yang saya baca dan saya lihat dari sumber resmi (wawancara di youtube dan portal berita resmi). Emoh ah menyimak akun gosip lambe turah dkk. Idih 😒

1. Jangan Terlalu Mencintai

Kehebohannya dimulai dari postingan instastory Luna Maya: Makan teman lagi hits. Rupanya Luna sedang galau. Di sebuah tayangan infotainment dia pernah berpendapat tentang etika pertemanan. Menurutnya siapapun temannya tidak boleh mendekati mantan pacarnya. Lho...

Singkat kata, tertuduhlah Syahrini sebagai teman yang menikung teman sendiri. Padahal Luna dan Reino sudah lama putus sebelum Reino mendekati Syahrini. Walaupun akhirnya instastory itu dihapus, fans Luna garis keras sudah terlanjur melancarkan serangan. (Mungkin) ditambah juga dengan para haters abadi Syahrini yang seperti mendapat celah.

Bertubi-tubi komentar mengerikan saya dapati di instagram Syahrini. Mulai dari body shaming sampai sumpah serapah yang tidak pantas bertebaran di sana. Padahal di saat yang sama, sepertinya Luna sudah mulai menyadari bahwa dia sudah terlalu mencintai Reino yang kadar cintanya tidak sedalam dirinya. Instastory-nya berbicara lagi. Ya, terlalu cinta adalah sebuah kesalahan yang berbuah luka sebab belum ada akad nikah yang mengikat keduanya.

Unggahan instastory Luna

Pun dia juga memposting rasa terima kasih dan permohonan maaf atas kesalahannya pada Reino Barack di feed instagramnya. Ini sudah dihapus juga. Menurut saya, sepertinya Luna mulai belajar ikhlas dan berusaha melepaskan.

2. Jangan Berlebihan Membenci

Cerita terus berlanjut pada panggung SCTV Awards 2018 (30/11/2018). Sang MC, Andhika Pratama mengajukan pertanyaan di jeda waktu menyanyi. Sebuah pertanyaan bernada menggoda apakah benar Syahrini punya hubungan spesial dengan Reino Barack. Syahrini keberatan menjawabnya.

Andhika terus mengejar, "Teteh takut dibilang teman makan teman, ya?"

Syahrini rupanya merasa terganggu dengan kekepoan Andhika, lantas menjawab, "Ngaku-ngaku teman kali."

Menurut saya, Syahrini menjawab seperti itu untuk mengelak tuduhan yang beredar di luar sana. Dia hanya berusaha defensif, bukan sengaja membuat pernyataan. Khilaf memang.

Wuih, semakin sadis saja cacian para haters. Syahrini dituduh tidak mengakui Luna sebagai temannya. Padahal jejak digital menunjukkan bahwa Syahrini dan Luna pernah beberapa kali bersama dalam sebuah agenda. Syahrini dianggap tidak peduli perasaan teman hanya demi bisa cepat menikah.

Para awak media pun heboh mencari Reino Barack yang biasanya susah sekali ditemui. Akhirnya Reino buka suara bahwa kedekatannya dengan Syahrini adalah sebuah kewajaran karena sama-sama single. Istilah 'teman makan teman' itu konyol menurut Reino. Dia sudah putus dengan Luna, pun menurutnya Syahrini dan Luna hanya sekadar teman biasa, bukan teman akrab.

pixabay

Seharusnya clear, kan? Ternyata tidak, Saudara-saudara. Hiks... Bencinya para haters pada Syahrini mah lanjut teruuus. Saya mengetik sambil gemas sendiri ini. Apa sih enaknya membenci bertubi-tubi? Padahal sebenernya para haters ini kenal Syahrini pun tidak. Hanya tahu info melalui media dan akun gosip instagram yang sering memanas-manasi itu. 

Karena para haters ini adalah saudara setanah air, saya prihatin, dong. Gini amat yak netijen yang jadi harapan bangsa dan negara. Guys, silakan tidak menyukai seseorang. Tapi kalau saya sih berusaha tidak suka dari segi perbuatannya, bukan orangnya. Sebab, setiap orang berhak dan bisa berubah lebih baik, insya Allah.

Saya sendiri walaupun sekarang jadi anggota BEFI alias Barisan Emak Follower Incess, tetap salut dengan Luna. Sebelum ribut-ribut ini, saya bahkan memposting sosok Luna di akun instagram saya untuk mengulas filmnya "Insya Allah Sah 2". Aktingnya bagus dan bikin baper di situ. 

Saya juga menjagokan dia sebagai pemenang di Indonesia Movie Actors (IMA) Awards 2019 yang digelar tanggal 14 Maret 2019 nanti. FYI, Luna Maya menjadi salah satu nominator Pemeran Utama Wanita Terbaik berkat aktingnya yang bikin ngeri di film Suzzanna Bernapas dalam Kubur.

Saya salut dengan perjuangan Luna untuk bangkit lagi pasca keterpurukan karena 'kasusnya' yang dulu. Tapi saya menyayangkan perbuatannya mengunggah instastory seperti di atas. Sebuah tuduhan yang menjadi viral dan berujung pertanyaan Andhika seperti di atas. 

Nah, rasa salut tetap bisa berdampingan dengan ketidaksetujuan perbuatan. Tidak harus benci setengah mati, gitu loh...

3. Bahayanya Penyakit Hati

Setelah Syahrini dan Reino diberitakan resmi menikah, saya kira hawanya akan kembali adem. Lha wong sudah nikah, gitu lho. Mau diapain? Berarti mereka memang jodoh dan itu pasti atas takdir Allah Swt. Ternyata, masih rameee...


Saya tentu saja menunggu foto akad nikah mereka di instagram, dong. Yang diunggah pasangan itu kali pertama ternyata tulisan basmalah, hamdalah, salawat nabi, dan doa suami untuk istrinya. Saya sungguh terharu, tapi tidak dengan sebagian netijen. Masih saja bersumpah serapah, bahkan ada yang mendoakan agar pasangan tersebut cepat bercerai.

Duh, saya istighfar berkali-kali. Ini namanya kebencian sudah meningkat menjadi iri dan dengki. Ya, keduanya adalah penyakit hati yang berbahaya untuk kesehatan iman. Orang yang iri itu tidak suka jika orang lain mendapatkan kebahagiaan. Sedangkan orang yang dengki lebih parah lagi. Selain tidak suka orang lain bahagia, dia juga berharap agar kebahagiaan itu hilang dari orang yang dibencinya. Naudzubillah...

Saya percaya bahwa setiap ketikan jari kita ada pertanggungjawabannya kelak. Entahlah dengan mereka yang bahkan tidak bisa menahan diri barang sebentar saja. Bahkan gambar yang berisi kalimat Allah dan salawat kepada Rasul pun sepertinya tidak membuat mereka 'sungkan'. 😢

Tidakkah mereka tahu bahwa orang yang menikah itu adalah 1 diantaranya 3 golongan yang berhak mendapat pertolongan Allah Swt?


Ada tiga golongan manusia yang berhak mendapat pertolongan Allah: (1) mujahid fi sabilillah (orang yang berjihad di jalan Allah), (2) budak yang menebus dirinya supaya merdeka, dan (3) orang yang menikah karena ingin memelihara kehormatannya.
[Hadits hasan, diriwayatkan oleh Imam Ahmad (II/251, 437)]

Masih berharap sih para netijen ini hanya iri dengki di dunia maya. Karena saya tidak yakin mereka akan berani memaki-maki Syahrini-Reino jika bertemu betulan. Hayolooh...

Sebenernya rumus 'orang biasa' seperti kita terhadap para artis itu sederhana: jika suka silakan cari info tentang mereka, jadi follower instagramnya, bahkan mungkin membeli tiket konser atau film yang dibintangi mereka. Jika tidak suka, ya tidak perlu mampir-mampir instagramnya hanya untuk menghujat terus-menerus dan menanam bibit dengki di hati. 

Deddy Corbuzier pernah berkata pada program TV Hitam Putih, "If you don't like me and still watch everything I do, you are a fan." 😉

4. Setelah Move On, Lanjut Move Up

Di dalam aturan Islam, untuk menjemput jodoh adalah melalui ta'aruf dan tidak mengenal istilah pacaran. Jika masih bersikeras pacaran, tentu ada konsekuensinya. Secara syariat, ada dosa yang dibuat. Secara psikologis, harus siap sakit hati karena putus cinta.

pixabay

Agar tidak sakit hati berkepanjangan, seseorang yang baru putus cinta harus segera move on; melupakan mantan dan segala kenangan tentangnya dengan tetap yakin akan ada penggantinya. Sayangnya, Luna Maya termasuk yang susah move on dari Reino.

Setelah mereka putus di pertengahan 2018, Luna pernah membujuk Reino berkali-kali untuk menemani liburan ke Bangkok pada momen ulang tahunnya. Awalnya Reino tidak mau, tapi akhirnya bersedia. Statusnya sudah teman biasa tentunya.

Reino sudah zero feeling, tapi Luna rupanya masih mencintai Reino. Itu diungkapkannya saat diwawancari Boy William pada channel youtube Nebeng Boy. "I do still love him," katanya. Nah loh...

Tiap orang memang berbeda-beda proses move on-nya. Perempuan cenderung memakai perasaan, sementara laki-laki biasanya lebih mengandalkan logika. Tidak heran jika Reino dalam hal ini sudah lebih dahulu move on, bahkan dia sudah melakukan move up.

Ada yang belum tahu istilah move up? Inilah perbedaannya dengan move on.

Move on adalah berpindah dari satu hati ke hati yang lain. Sedangkan move up adalah berpindah dari satu hati ke Sang Pemilik Hati. Ketika kita memilih untuk move on, itu artinya kita masih tetap bergantung lagi pada hati manusia, yang boleh jadi akan membuat kita kecewa lagi. Namun ketika kita move up, kita mengisi hati dengan nama-Nya. Jika akhirnya bertemu dengan pengganti, hati kita tetap berharap pada-Nya.

Move up dalam urusan percintaan dibuktikan dengan tidak lagi pacaran dan menyegerakan menikah untuk mencari rida Allah Swt, saat menemukan seseorang yang tepat. Nah, Reino sudah melakukannya walaupun dicap aneh oleh mereka yang belum paham; menikah kok secepat itu?

Bagaimana dengan Luna? Saat kabar pernikahan Syahrini-Reino santer diberitakan, bahkan masih ada foto-foto Reino di akun instagramnya. Tapi dia pun sepertinya berusaha move on. Saat diwawancarai Raditya Dika, Luna berkata bahwa dia ikhlas menikmati luka hatinya. Dia juga memilih untuk menjadi high quality jomlo dan akan lebih fokus pada pekerjaannya.

Alhamdulillah, ternyata Luna pun akhirnya move up. Di hari-H pernikahan Syahrini-Reino, dia memutuskan untuk menunaikan ibadah umrah. Sebuah pilihan yang tepat. Karena banyak orang yang sedang dilanda kesedihan, pelariannya malah ke hal-hal negatif.

Saatnya untuk mengisi sudut-sudut hati dengan nama-Nya. Menjadikan Allah Swt sebagai cinta pertama. Sambil terus meyakini bahwa takdir Allah Swt adalah yang terbaik. Akan ada jodoh untuk Luna, Insya Allah.

Setelah move up, tidak perlu mendengarkan lagu Cintaku Kandas ya, Mbak Lun. Nanti takutnya malah terbayang-bayang lagi dan merasa tersakiti. Itu juga bukan lagu sindiran, kok. Netijen mah aya-aya wae.

Lha wong lagu itu sudah diciptakan oleh Ade Govinda sejak dua tahun yang lalu. Lagunya sebenarny bertema friend zone, tapi berujung kasih tak sampai. Proses rekamannya sudah dimulai sejak Januari 2018, lalu launching pada bulan Oktober 2018.

Kok bisa pas dengan situasi terkini? Hmm... Lagu Kemarin-nya Seventeen Band juga pas dengan tragedi Tsunami Selat Sunda, kok. Qadarullah jika bisa pas seperti itu.

Para netijen yang budiman pun harus move up, dong. Yuuk!

Energi dari Sebuah Akad


Peristiwa pernikahan Syahrini-Reino memang tak biasa terjadi di kalangan artis. Dari sejak lamaran hingga hari-H pernikahan, keduanya memilih bungkam. Itu sesuai dengan pernyataan Syahrini yang berjanji akan mengenalkan suaminya kepada publik setelah mereka resmi menikah. 

Banyak pihak mengganggap acara pernikahannya  tertutup dan dirahasiakan. Ah, curiga melulu, sih. Tepatnya, itu tertutup untuk media. Sah-sah saja jika mereka menginginkan suasana akad nikah yang sakral. Lagipula, tetap ada gala dinner pada malam harinya yang mengundang banyak orang.

Aw aw aw, kalah deh drakor

Syahrini-Reino akhirnya go public beberapa hari yang lalu. Mereka mengunggah video di instagram saat acara pertunangan. Masya Allah, saya yang sudah emak-emak saja merinding. Ikut terharu dan rasanya adeem gitu melihat pasangan yang sudah halal berdampingan. Saat saya menulis ini, video tersebut sudah mendapatkan 15 juta viewers. Wow.

Yang paling saya tunggu tentunya momen akad nikahnya. Sebuah momen yang biasanya membuat saya mencucurkan air mata. Bagaimana tidak? Ada tanda-tanda kebesaran Allah Swt pada peristiwa itu. 


Sebagai orang yang dulu berusaha keras untuk tidak berpacaran, akad nikah menjadi bukti nyata bagi saya bahwa Allah SWT pasti tidak membiarkan saya sendirian. Saya dipertemukan dengan jodoh dengan cara-Nya. Di saat yang tepat dan dalam waktu singkat. Hilang sudah kesedihan karena pernah disindir: gimana mau dapat jodoh kalau tidak pacaran?

Mungkin itu pula yang dirasakan Syahrini saat akad nikah mereka berlangsung. Setelah melalui jalan berliku (jodohnya dijagain orang dulu) akhirnya dia dipertemukan dengan pangeran impiannya. Prosesnya tidak lama dan mungkin tidak disangka-sangka. Jika Allah Swt sudah berkehendak, tidak ada yang tidak mungkin.

Baarakallahu laka wa baaraka alaika wa jama'a bainakuma fii khairin. 

Happy Wedding, Dear Princess. Finally, you found your Prince Charming. 💑

Separuh agama kalian sudah sempurna. Selamat berjuang bersama untuk yang separuhnya lagi dengan menjadi suami istri yang saling melengkapi untuk meraih takwa.





#EnergyOfAkad
#SyahreinoSatuAtap
#BukanInfotainment
#NiruHestekMbakDian 😁