My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Bersiap Melepasmu, Anakku


“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” 
[QS. Luqman: 17]

Pada hari Jumat sore (5/4/19) diadakan doa bersama di musala SDN Pakisaji 02, sekolah anak sulung saya, Afra. Agenda tersebut dihadiri oleh seluruh siswa kelas 6 beserta orang tua mereka untuk menyambut Ujian Nasional (UN) Sekolah Dasar yang akan dilaksanakan pada tanggal 22-24 April 2019 mendatang.

Beberapa menit sebelum agenda dimulai, terjadi perbincangan diantara saya dan beberapa ibu.

"Anak saya besok sekolah di SMP Negeri saja."

"Iya, nih. Belajar dari pengalaman tetangga sebelah. Sudah mahal-mahal bayar uang masuk pesantren 10 juta, eh anaknya tidak kerasan."

Saya tersenyum saja mendengarnya. Kenyataannya memang seperti itu; tidak semua anak cocok dengan pendidikan di pesantren.

Orang tuanya kurang mempersiapkan, kali!

Ssst... Tidak semudah itu, Marimar! Eh, maksudnya... Tidak semua orang tua memang bercita-cita mem-pesantren-kan anaknya. 

Tidak ada paksaan, Rosalinda! Saya sendiri selama 6 tahun bergaul dengan mereka amat bisa memahami perbedaan pola pikir diantara kami. Seperti yang pernah saya ceritakan pada tulisan Anakku Anak Negeri ini.

"Kalau anak saya masuk Madrasah Tsanawiyah yang dekat rumah neneknya. Afra sudah pasti masuk pesantren ya, Mbak?" tanya seorang ibu yang anaknya adalah sahabat Afra.

"Insya Allah, Mbak. Alhamdulillah sudah tes, diterima, dan daftar ulang," sahut saya.

Begitulah. Insya Allah Afra akan menjadi salah satu santriwati sebuah pesantren di Kota Malang begitu dia lulus SD nanti. Sebuah pilihan yang persiapannya jauh-jauh hari sudah kami lakukan. Ya, tidak hanya setahun-dua tahun belakangan tapi sejak awal kehidupannya.

Saat awal menjadi orang tua, kami sebenarnya belum mengenal konsep Fitrah Based Education (FBE) alias Pendidikan Berbasis Fitrah. Tapi kalau disinkronkan, apa yang kami terapkan pada Afra ternyata nyambung dengan FBE.

Berikut persiapan jauh-jauh hari kami sebagai orang tua untuk mempersiapkan Afra menjadi seorang santriwati:

1. Mengenal Allah lewat Alam Sekitar

Fase mengenalkan Allah SWT pada anak sebenarnya sejak anak kita berada di dalam kandungan dengan rajin membaca Alquran untuk si janin. Bahkan jika ditarik mundur lagi, sebenernya sejak kita memilih pasangan hidup.

Nah, kami terbiasa mengajak Afra berjalan-jalan pagi sejak dia masih kecil. Cukup berkeliling kampung dan ke kampung-kampung sebelah yang pemandangannya masih asri.

Kami bergantian mengajaknya mengamati matahari yang mulai terbit, rumput yang menghijau, cericit burung-burung, sampai sejuknya angin yang berhembus.

Bukan kampanye, lho. Kan ini foto jadul saat Afra masih berusia 4 tahun

"Matahari terbit dari timur karena tunduk pada Allah lho, Nak. Padahal matahari sebesar itu."

"Yang memberi warna rumput itu Allah. Hebat, ya?"

"Tuh burung-burung bisa terbang karena Allah yang ciptakan ada sayapnya. Sambil menyanyi pula. Gemeees..."

"Gak gerah lagi kalau ada semilir angin begini, kan? Allah juga yang menciptakan angin, lho."

Dan seterusnya...

Pun setiap kali kami bepergian yang lebih jauh, berusaha kami selipkan kebesaran Allah yang bisa ditangkap oleh indera. Pelan-pelan diiringi dengan pengenalan kalimat thayyibah seperti: Allahu Akbar, Masya Allah, Astaghfirullah, Subhanallah, Innalillahi, dll.

Di dalam konsep FBE, ini yang dinamakan menanamkan Fitrah Keimanan. Sebaiknya dilakukan sejak anak berusia 0-7 tahun. Jika lewat dari usia 7 tahun, akan memerlukan 'perjuangan lebih' karena biasanya anak mulai memasuki fase argumentatif.

Afra saat kelas 1 SD

Bermain dan belajar di alam sekaligus juga memenuhi Fitrah Fisik dan Indera-nya. Di sini, motorik sensornya sudah terpenuhi dengan menyentuh, meraba, dan merasa secara langsung obyek di alam sekitar.

2. Menamatkan Sirah Nabi

Sejak usia satu tahun, kami menyediakan board book dan buku bantal untuk Afra. Tidak banyak, memang. Tapi itu menjadikannya terbiasa dengan buku. Jika sudah terbiasa melihat dan memegang, akan lebih mudah lagi mengajaknya membaca buku.

Ya, saya dan suami bergantian membacakan cerita di dalam buku sebelum dia terlelap. Saya belajar menguasai berbagai macam suara orang dan suara binatang, agar cerita yang saya bacakan terdengar lebih menarik. Saya bisa meniru suara sapi sampai suara nenek-nenek, lho. Hihi...

Sekitar usia 8 tahun, dia mulai kami lepas untuk membaca sendiri. Koleksi buku bacaannya kami tambah. Yang paling spesial adalah paket bacaan Sirah Nabi atau Sejarah Rasulullah yang terdiri atas 13 jilid.

Khatam Sirah Nabi sebagai landasan belajar adab dan akhlak

Saya dan suami ikut mendampingi Afra membaca Sirah Nabi tersebut sampai tamat dan berulang-ulang. Prinsip kami, diantara beragam buku yang dimilikinya, Sirah Nabi harus jadi bacaan favoritnya. 

Pas banget. Bahasa yang mudah dimengerti dan ilustrasi yang menarik di dalam buku Sirah itu menjadikannya sebagai buku yang lovable. Di dalam konsep FBE, ini termasuk pengenalan Fitrah Bahasa dan Estetika.

3. Anak Dekat dengan Kedua Orang Tua

Saya resign dari pekerjaan sejak pertengahan 2014. Jujur, saya mengakui jika sebelumnya quantity time saya untuk anak sangat kurang. Iya, dong. Sebelumnya, ibu saya yang jagain Afra saat kecil dan mengantar jemput Afra saat masih TK. 

Sebagian ibu bekerja bercerita bahwa mereka bisa menebus kekurangan quantity time dengan quality time. Ya, ya. Sah-sah saja berpendapat seperti itu. Tapi saya baru menyadari bahwa quantity time juga penting begitu saya berhijrah dari kantor ke rumah. Alhamdulillah, belum terlambat.

So, sejak Afra naik kelas 2 SD, saya full berada di sampingnya dari pagi sampai malam. Dia begitu senang karena kesempatan ber-cooking class dengannya jadi lebih banyak. Pun saya mulai berbincang dengannya tentang kedudukan wanita di dalam Islam sesuai dengan yang saya alami. 

Saya katakan padanya bahwa kelak dia boleh bercita-cita menjadi apa saja asal halal, tapi profesi utamanya setelah menjadi istri adalah mengabdi kepada suami. Ini mudah saya jelaskan karena mengambil contoh memakai diri saya sendiri.

Saya pun bisa melakukan salat berjamaah di rumah dengan Afra lebih sering. Mengimami anak perempuan itu membuat kedekatan dengannya lebih istimewa, lho. Lalu pelan-pelan Afra tergerak untuk mulai berjilbab ke sekolah saat dia naik kelas 3 SD. Insya Allah ini juga lebih mudah karena saat saya menjelaskan tentang jilbab, saya sudah mempraktikkannya terlebih dahulu.

Qadarullah, di akhir 2014 Si Abi mendapat pekerjaan di Surabaya sehingga membuat kami menjalani Long Distance Marriage. Alhamdulillah, sejauh ini kedekatan Afra dengan Si Abi tetap terjaga dengan baik. Saya membantu menjelaskan bahwa Si Abi adalah sosok ayah pejuang dan pekerja keras; a real family man.

Once upon a time; Abi and little Afra.
Suer! Bukan kampanye, kok

Jumat malam sampai Senin dini hari selalu dimanfaatkan Si Abi untuk dekat dengan Afra. Saya sering membiarkan mereka mengaji bareng, jalan-jalan, dan belajar bareng. Kami berbagi tugas; Si Abi mengajari matematika, saya yang mengajari Bahasa Inggris dan pelajaran lain. Ini pas karena sesuai dengan mapel favorit kami masing-masing, hehe...

Beberapa kali, saya memberi kesempatan pada Si Abi untuk hadir pada rapat wali murid atau pengambilan rapor. Predikat beliau 'kan Kepala Sekolah di rumah, jadi perlu banget tahu tentang sekolah formal anaknya. Terakhir, Si Abi-lah yang mengantar Afra mengikuti tes masuk pesantren walaupun sebenarnya saat itu pekerjaannya sedang sibuk. Rela izin demi anak perempuan, dong.

Segala bentuk kedekatan saya dan Si Abi masing-masing kami tujukan agar dia mengerti sisi peran perempuan dan peran laki-laki yang menjadi cinta pertamanya. Ini masuk dalam Fitrah Seksualitas dalam konsep FBE.

4. Belajar Alquran dengan Senang Hati

Afra mulai saya daftarkan di Taman Pendidikan Alquran (TPA) di kampung saya sejak dia duduk di bangku TK. Sebut saja TPA A. Saya memilih TPA ini karena sistimnya cukup bagus; anak akan naik jilid Iqra jika benar-benar menguasai apa yang diajarkan gurunya.

Beberapa anak keluar dari TPA ini karena merasa tidak sanggup mengulang-ulang sampai mahir. Mereka memilih berpindah TPA yang sistimnya 'lebih cepat lulus'. Padahal jika mau bersabar dan orang tuanya memberi pemahaman, justru sistim di TPA A memberi pelajaran untuk berproses secara jujur.

Maka saya memberi pengertian pada Afra agar dia menikmati saja proses mengaji di sana. Tak perlu terburu-buru ingin lulus Iqra jilid 6. Alhamdulillah, setelah dinyatakan lulus jilid 6, terbukti pemahaman tajwid, makharijul huruf, dan hafalan Juz 'Amma Afra cukup bagus.

Afra 'baru' bisa mengkhatamkan Alquran pada Bulan Ramadan saat dia duduk di kelas 4 SD. Bagi sebagian orang tua lain, mungkin itu terlambat. Tapi itu tidak berlaku bagi kami. Yang terpenting, Afra sudah berhasil melewati proses belajarnya dengan menyenangkan.

Afra saat mengikuti sebuah Training Menghafal Alquran kelas 3 SD. (Bukan kampanye juga)

Pernah seorang teman berujar, "Kok tidak diajari ngaji sendiri, sih?"

Hoho, tentu saja saya juga mengajarinya sekaligus mengajaknya mengulang-ulang hafalan Juz 'Amma. Tapi menurut saya, penting bagi Afra untuk mengaji bersama teman-temannya setiap sore bakda Asar. Itulah 'pesantren kecil' dengan beberapa aturan sederhananya, yang kelak akan menjadi kenangan indah saat Afra benar-benar menjadi santriwati.

Dalam konsep FBE, ada Fitrah Sosial dan Kehidupan. Proses belajar Afra di TPA seperti di atas, saya kira masuk dalam konsep ini. Ada nilai kepahlawanan dan kearifan lokal dalam konsep ini. Pengabdian guru ngaji dan keberadaan TPA yang tetap konsisten 'merangkul' anak-anak kampung untuk mengenal Alquran adalah perwujudannya.

Di rumah, kisah kepahlawanan dan kearifan lokal diperoleh Afra melalui buku-buku yang kami belikan untuknya. Ini berkaitan juga dengan poin nomor 5, ya.

5. Memahami Karakter dan Kesukaan Anak

Jauh sebelum kejadian viral tentang bullying sekarang ini, saya pernah berbincang-bincang dengan Afra tentang itu. Mengingat sekolah Afra adalah jenis sekolah yang 'konon katanya' banyak terjadi kasus perundungan di sana. 

"Mbak Afra pernah diejek atau digoda sampai menangis, gak?" tanya saya.

"Enggak, lah. Mana berani teman-temanku," jawabnya enteng.

"Alhamdulillah. Jangan sampai deh, ya. Itu istilahnya bully," tambah saya.

"Enggak ada kayak gituan di kelasku. Paling-paling bercanda, sih," lanjutnya.

Saya mengangguk-angguk. Ya, saya tahu bahwa Afra ini tipe anak yang pendiam di awal-awal mengenal seseorang, tapi bisa berubah menjadi sosok yang ceria jika sudah mulai kenal. Afra biasanya juga cukup cuek jika ada yang jahil padanya.

Selama bersekolah di sekolah negeri tersebut, dia pun bisa mempertahankan prinsipnya. Dia pernah terjaring dalam tim lomba gerak jalan saat kelas 4, tapi syaratnya harus melepas jilbab agar seragam dengan mayoritas anggota yang lain. Afra memang belum baligh, sih. Tapi dia sudah mulai belajar, jadi... Finally, she said no to her teacher!

Awal berjilbab dengan kemauan sendiri di kelas 3; bajunya masih kedodoran :)

Masih banyak kesempatan lain untuk berprestasi, misalnya saat dia terpilih sebagai Duta Siaga Hansaplast dan Juara Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Kecamatan Pakisaji. Yang saya sebut terakhir memang muara dari prestasi akademiknya di kelas.

Sejak bisa membaca, anak sulung saya itu memang menjelma menjadi seorang predator buku cilik. Dia lebih memilih dibelikan buku daripada dibelikan baju. Berbagai genre buku dilahapnya, termasuk tentang kisah-kisah teladan dan kepahlawanan seperti yang saya sebut di poin nomor 4 di atas.

Hobi membaca ditambah daya ingatnya yang cukup kuat itu cukup menunjang prestasi akademiknya. Karena prestasi itu diperoleh dari sebuah proses belajar, maka nilai akademiknya adalah hasil yang sangat saya hargai. Intelligent Quotient tetap diperlukan, walaupun bukan poin paling terdepan!

Afra ini mirip saya saat SD; kurang cerdas kinestetik. Tentu saja tidak bisa saya paksakan agar dia berprestasi di bidang olahraga juga. Saya ambil sisi baiknya saja yaitu setiap hari dia sudah berolahraga jalan kaki pulang pergi dari rumah ke sekolah :)

Ini sih olahraga kesukaannya: sepatu roda

Saya juga terus memberi semangat untuknya agar terus percaya diri walaupun badannya tergolong mungil dibandingkan rata-rata teman sebayanya. Alhamdulillah, tidak pernah terjadi body shaming juga, sih. 

"Mbak Afra 'kan belum haid. Jadi badannya masih mungil begitu. Nanti kalau sudah haid, biasanya jadi lebar," canda saya. Tentu, sebelumnya tergelar obrolan tentang haid di antara kami.

Nah, di poin ini sudah terterapkan Fitrah Bakat-nya. Saya dan suami memahami karakternya yang menonjol dan juga 'kekurangannya'. Ini akan membuahkan anak yang percaya diri dan bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Ada pula Fitrah Kepemimpinan yang diwujudkan dengan mengajaknya merawat tanaman dan memelihara binatang. Si Abi yang hobi berkebun pas banget menjadi gurunya. Lalu, hewan peliharaan mulai dari kelinci, ayam, dan ikan silih berganti hadir di rumah kami sebagai 'anak buah' yang dipimpin Afra.

6. Memfasilitasi Ponsel di Saat yang Tepat

Saya pernah menghadiri sebuah seminar parenting yang menyarankan agar anak diberi ponsel saat sudah duduk di kelas 2 SMP. Itu adalah usia dimana anak sudah dianggap matang dan bisa bertanggung jawab terhadap akses internet yang dipakainya.

"Tapi aku 'kan mau masuk pesantren, Mi. Boleh dong minta ponsel di awal kelas 6 ini. Biar bisa saling simpan nomor teman-teman," Afra mengajukan 'proposal' di awal tahun ajaran kemarin.

Saya pun merundingkannya dengan Si Abi. Hasilnya: yes! Karena selama di pesantren nanti, tentu saja Afra tidak akan memegang ponsel. Dia hanya punya kesempatan berselancar dengan ponsel selama setahun di kelas 6 ini. Why not?

pexels

Kata Afra, beberapa teman sekelasnya sudah mulai memiliki ponsel saat kelas 3 SD. Duh, Afra memang 'ketinggalan zaman' dalam hal ini. Selama ini dia hanya bisa mengakses laptop untuk menonton film-film favoritnya saat senggang. Atau meminjam tablet Si Abi di akhir pekan.

Tentu saja kami tidak menyesal atas 'ketertinggalan' di atas. Prinsip kami: Afra harus 'lulus' dalam hal membaca Alquran dan menjadi kutu buku sebelum punya ponsel sendiri. Karena keduanya sudah terlampaui, maka permintaannya untuk memiliki ponsel sendiri pun kami kabulkan.

Alhamdulillah, ponselnya dipergunakan sesuai kebutuhan. Dia bisa menghubungi Si Abi sendiri saat kangen. Pastinya jadi ada tambahan yang disukainya, misalnya: komik-komik strip di instagram, serta konten-konten YouTube berupa DIY, web series, sains, dan Ria Ricis. Hehe... 

Siapa kiranya Generasi Z hari ini yang tidak terpapar hal di atas? So far, so good. Saya mengamati itu sebagai kelanjutan rasa ingin tahunya. Fitrah Belajar dan Bernalar-nya tidak hanya berhenti di sekolah dan buku, tapi berlanjut juga pada pemakaian ponsel dan laptop yang dipegangnya. 


Kebersamaan Afra dengan ponsel tinggal menghitung hari. Rasa ingin tahunya sudah terpenuhi, semoga itu akan menjadi kelegaan tersendiri baginya. Insya Allah, dia akan mulai mengoptimalkan bakatnya yang lain: daya ingatnya. Ya, dia akan menjadi santriwati sebuah pesantren tahfizh alias penghafal Alquran.

Pesantren mana itu? Nantikan sambungannya pada tulisan saya selanjutnya. Maaf tidak bisa saya lanjutkan sekarang, Maria Mercedes! :D
Postingannya sudah panjang, sih.

Sekali lagi, melepas anak ke pesantren harus dengan menyertakan perbekalan terlebih dahulu. Termasuk 5 langkah meminta maaf dengan benar seperti tulisan Mbak El Lisa Lestari, rekan blogger yang juga seorang guru ini. Banyak juga tulisan menarik beliau tentang dunia parenting di www.dunialisa.com

Ya, di pesantren nanti anak kita akan berinteraksi dengan anak lain secara lebih mendalam dibandingkan dengan jalinan pertemanan di 'sekolah biasa'. Tentunya perlu kelapangan dada yang luar biasa, bukan?

Selamat menjadi madrasah yang bahagia bagi anak-anak kita ya, teman-teman.


Salam,








Tulisan ini disertakan dalam program Collabs Pasukan Blogger Joeragan Artikel kelompok 3 putaran ke-2.

11 comments:

  1. Melepaskan anak ke pesantren bukan hal mudah, tapi demi qurrota ayyun dunia akhirat inshaallah harus siap menghadapi ya

    ReplyDelete
  2. MasyaAllah ... Persiapan anak masuk pesantrennya udah matang banget, ya? Hiks, aku nggak sebegitunya. Sepertinya anakku nggak mau karena akunya pun nggak benar-benar mempersiapkan diriku dan dirinya, ya. Tapi semoga dengan tetap melanjutkan ke sekolah Islamnya ini nanti, sulung tetap bisa memperoleh bekal pendidikan agama yang baik. Aamiin.

    ReplyDelete
  3. Anakku saat ini juga di sekolah alam semoga ia bisa dapatkan juga fitrah keimanan di sana. Aku pun sama mba, rencana smp mau aku masukin pesantren, cuma kalau aku sounding skrg spertinya anak blm siap, meski aku udah bilang itu masih lama masih 8 tahun lagi. Tapi dia kayanya blm paham betul konsep waktu. Baiklah nanti dibicarakan lagi pelan-pelan saat ia SD. Bismillah ...

    Btw, aku menantikan banget akhirnya pilih pesantren maba, buat referensi aku juga nih

    ReplyDelete
  4. Matang sekali persiapannya..Insya Allah Afra dan kedua orang tua sudah siap sedia.
    Semoga dimudahkan dan dilancarkan segala rencana dan tercapai apa yang dicita-citakan Mbak Tatiek sekeluarga :)

    ReplyDelete
  5. Betul sekali mbak, melepas anak ke pesantren harus kompak antara ayah dan ibu, Barakallah Afra

    ReplyDelete
  6. Masyaallah, sehat-sehat ya nak dan selalu menjadi pelipur lara untuk orang tua, insyaallah shalihah. ibunya hebat ini. semogo ibunya enggak mewek ketika anaknya dilepas ke pesantren, hihi. saya pun semoga enggak mewek jg ketika anak-anak mulai masuk pesantren, hihi.

    ReplyDelete
  7. Huaaaa mbak kok saya yang baper yaaa padahal mbak tatiek yang mau melepas putrinya mesantren.

    Bener banget, sebelum mesantrenkan anak, harus ada dialog panjang dulu untuk persiapan nya.

    ReplyDelete
  8. Saya juga selalu berpesan kepada setiap ortu yang akan melepas anaknya ke pesantren, psikis emaknya kudu lebih siap terlebih dahulu agar anaknya juga siap mesantren. Tapi yang banyak terjadi ortu mendadak minta anaknya mesantren saat mereka di kelas 6. Dan akhirnya yang terjadi, anak mengalami sedikit masalah. KEren mbak Afra dan tentunya Umminya lebih keren.

    ReplyDelete
  9. Wahh ... Mbak Tatiek bunda teladan nih. Harus banyak berguru tentang komunikasi anak base on islami sepertinya saya ini.
    Btw selamat memulai madrasah baru ya Mbak Afra.
    Semoga tergapai semua asa di dunia juga di akhirat nanti.
    Bismillah makin sholeh dan memberikan energi positif buat sesama.
    Aamiin.

    ReplyDelete
  10. Wah penganut fbe juga ya mbak. Aku juga lagi belajar fbe ini dan berproses menerapkannya ke anak.

    ReplyDelete
  11. Masyaallah... saya menikmati sekali membaca ceritanya mbak, saya sih pengen banget anak bisa masuk pesantren. Bismillah....baca postingan mbak tatik jadi makin semangat nih

    ReplyDelete