My Lifestyle, My Journey, My Happiness

May 12, 2019

4 Kunci Menjadi Narablog Berdaya: Semua Karena Cinta

by , in


Berjanji kumenjaga sampai mati
Walau berat jalannya aku bahagia
Ku di sini berdiri karena cinta
Bertahan untuk bahagia
Hanya untuk cinta...
(Syahrini, Semua Karena Cinta)

Penggalan lirik lagu di atas adalah salah satu yang saya sukai. Di dalamnya ada gambaran tentang kesabaran dan kegigihan yang menghasilkan kebahagiaan. Ada cinta yang menjadi bahan bakarnya. Hmm... tiba-tiba saya berpikir bahwa penggalan lirik lagu tersebut nyambung jika dihubungkan dengan perjalanan saya sebagai seorang narablog.

Saya mulai intens mengenal blog sejak tahun 2009. Sekadar baca-baca, belum tergerak untuk memiliki blog sendiri walaupun sebenarnya saya suka menulis sejak remaja. Salah satu blog yang sering saya kunjungi saat itu adalah blog milik Mbak Aulia Halimatussadiah alias Ollie a.k.a Salsabeela. Itu tuh, Co-founder-nya NulisBuku(dot)com dan Storial(dot)co.

Barulah di tahun berikutnya, saya mulai membuat blog sendiri dengan platform blogspot gratisan. Semua gara-gara suami; beliau yang mendorong saya plus memfasilitasi dengan laptop baru berikut modemnya. Yeay! Alhamdulillah.

Memulai Tapi Masih Santai

Saya mulai menulis ini-itu, tidak terjadwal, dan kadang-kadang suka copas tulisan orang lain. Saya sebutkan sumbernya, sih. Hehe... Maklum, saat itu saya belum begitu tahu aturan main ngeblog. Santai saja. Toh yang membaca blog saya hanya suami dan teman-teman dekat, pikir saya saat itu.

Alasan sibuknya pekerjaan dan mengasuh anak menjadikan saya masih angin-anginan ngeblog. Apalagi ketika negara api, ehh... jejaring sosial seperti facebook mulai menyerang. Saya lebih merasa nyaman enak chit-chat di sana. Ditambah lagi saya mulai mengenal kompasiana pada tahun 2014. Semakin banyak deh sarang laba-laba di blog saya.

Saya resign dari pekerjaan pada pertengahan tahun 2014 karena ingin menjalankan program hamil anak yang ke-2. Sambil menunggu hadirnya si kecil, saya bergabung dengan sebuah komunitas pecinta Alquran. Lantas saya cukup sibuk secara online dan offline di dalam komunitas itu.


Buku antologi ke-1 dan ke-2 saya

Buku antologi pertama dan kedua saya yang bergenre Islami lahir karena bergabung di komunitas pecinta Alquran tersebut. Beberapa orang anggotanya memang suka menulis seperti saya. Momen berharga itu membuat saya berpikir tentang pentingnya bergabung dengan komunitas penulis. Sebelumnya, komunitas saya 'hanya' yang berhubungan dengan dunia keislaman saja.

Salah seorang teman di dalam komunitas Alquran itu ternyata ada yang lumayan rajin menulis blog berupa resep-resep masakan yang telah diuji cobanya. Dia adalah seorang IRT yang cukup riweuh dengan tiga orang anaknya. Hebat, pikir saya. Apa kabar saya yang baru punya 1 orang anak dan barusan resign pula?

Tiba-tiba saja saya terpikir untuk ngeblog lagi. Saya memutuskan untuk mengubur blog yang lama dan membuat blog baru dengan platfrom wordpress gratisan. Penasaran dengan wordpress yang kata orang agak njelimet. Ternyata asyik juga. Saya mulai ngeblog lagi dengan menulis hal-hal sederhana namun penuh makna di sekitar saya.

Walau Berat Jalannya, Aku Bahagia...

Ngeblog lagi adalah keputusan yang tepat. Alhamdulillah, promil saya berhasil. Tapi saya harus bedrest di awal kehamilan. Saat tidak bisa ke mana-mana seperti itu, saya memilih untuk banyak membaca, diselingi menuliskan resensinya di blog. Ya, ngidam saya saat itu bukan yang aneh-aneh, sih. Cuma ngidam melahap buku.

Terhibur. Itulah yang saya rasakan dengan ngeblog kembali. Walaupun ternyata jalannya cukup terjal. Saya mengalami baby blues saat si kecil yang kedua lahir. Mood sering naik turun, blog pun tidak terpegang lagi. Hanya ada dua postingan pada tahun 2016 itu. Akankah saya mandeg untuk selamanya?

Alhamdulillah, di awal tahun 2017 saya sedikit tersadar pasca ibunda saya pergi ke Pantai Batu Bengkung bersama teman-temannya. Saya yang hanya di rumah menemani si kecil dan kakaknya tiba-tiba terdorong untuk menulis sisi lain dari kisah perjalanan tersebut. Ya, saya menemukan hikmahnya.


Saya pun ngeblog lagi. Pelan-pelan saja. Saya juga mulai mencari-cari komunitas penulis dan komunitas narablog. Alhamdulillah, saya mulai tergerak untuk bergabung dengan dua komunitas itu pada pertengahan tahun 2017. Karenanya, buku-buku antologi saya mulai lahir lagi satu per satu. Disusul dengan lahirnya novel saya yang pertama. 'Hanya' terbit indie tapi saya sangat mensyukurinya.

Begitu juga dengan aktivitas blogging. Setelah berkomunitas, rasanya ngeblog jadi lebih asyik. Mulailah saya migrasi blog ke Top Level Domain (TLD). Saya mengenal narablog lain dan mulai berani mengikuti lomba blog. Baru 5 kali menang, tapi itu cukup untuk memotivasi saya agar terus bergerak stabil. Sebenarnya tidak mudah. Selain harus menomorsatukan si batita dan kakaknya, saat ini saya dan suami sedang menjadi pejuang LDR.

Menyerah lagi? Hohoho... Insya Allah, tidak!

Berkenalan dengan Indonesian Social Blogpreneur (ISB)

Slowly but sure, saya mencoba menambah wawasan tentang dunia blogging secara online dan offline. Khususnya yang offline, itu membuat saya lebih mengenal teman-teman narablog di kota saya, Malang. Event yang diselenggarakan memang tidak sebanyak yang di Jakarta, tapi saya cukup bahagia.

Terakhir, saya dan teman-teman narablog dari Malang mengikuti Workshop bersama komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) pada tanggal 5 Mei 2019 yang lalu. Bertempat di Gerai Indosat Ooredoo, Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 47, workshop itu mengambil tema "Creates Opportunities from Blogging". Alhamdulillah, saya bisa menghadirinya karena suami saya bersedia menjaga si kecil.



Saya tiba di lantai dua gedung Indosat Ooredoo Malang bersama seorang teman narablog ketika agendanya belum dimulai. Rupanya ada juga rekan narablog dari Sidoarjo dan Surabaya yang ikut bergabung; Mbak Nanik dan Mbak Septi. Wah, akhirnya bisa bertemu muka dengan mereka.

Beberapa saat kemudian, venue mulai penuh sehingga agenda pun dimulai. Mbak Ani Berta, founder ISB, memberi kata sambutan dengan menjelaskan tentang profil komunitas narablog yang baru pertama kali menyelenggarakan agenda di Malang itu. Wah, seperti mimpi. Selama ini saya hanya melihat Mbak Ani Berta melalui gawai yang saya pegang.

Srikandi Blogger Indonesia (IG @ani.berta)

Mbak Ani Berta menjelaskan tentang ISB yang terbentuk pada tanggal 1 Mei 2016 itu. Wah, selamat ulang tahun ke-3 buat ISB, ya.

ISB ini aktivitasnya fokus pada dunia blogging dan menggali sisi entrepreneurship dari narablog. Itu diwujudkan dengan menyelenggarakan workshop/seminar, berbagi tips seperti #ISBNgopi, sharing session, One Day One Post (ODOP), dll. Wah, seru!


Agenda #ISBNgopi di twitter

Ya, setiap narablog punya keunikan sendiri-sendiri yang harus digali. Keunikannya itu seharusnya menjadi daya jual. Misalnya dalam menulis review, narablog jangan mengulas sekadarnya saja tetapi tunjukkan another point of view yang sesuai dengan dirinya.

Saya jadi teringat seorang rekan narablog yang fokus menulis tema parenting. Saat mengulas sesuatu, dia memakai sudut pandang seorang parenting blogger. Unik, sesuai dengan dirinya sendiri.

4 Kunci Menjadi Narablog Berdaya

Setelah perkenalan singkat tentang ISB, satu per satu pemateri workshop pun membagi ilmu dan pengalaman mereka. Ya, Mbak Ani Berta tidak datang sendiri ke Malang. Beliau ditemani oleh 3 narasumber lain yaitu Dama Vara, Riri Restiani, dan Liswanti Pertiwi.

Dalam bahasa saya, ilmu dan pengalaman yang mereka sampaikan itu adalah kunci-kunci untuk menjadi narablog berdaya; berkekuatan dan berkemampuan. Yuk, simak!

1. Narablog Merangkap Karyawan dan Pebisnis, Harus Bisa Eksis!

Sesi pertama disampaikan oleh Mbak Riri Restiani, seorang narablog muda yang mulai ngeblog sejak SMA. Saat itu beliau lebih banyak curhat di blog-nya. Ya, ngeblog itu baginya begitu menyenangkan.

Kini, selain menjadi narablog, Mbak Riri berprofesi sebagai seorang karyawan sekaligus pebisnis. Wah, ini namanya 3 in 1 jalan. Padahal pebisnis dan karyawan itu punya banyak perbedaan, tetapi Mbak Riri bisa menikmati berada pada dua posisi tersebut.


Tidak lain dan tidak bukan, aktivitas ngeblog-nya lah yang menjadi jembatan. Dengan menjadi narablog, Mbak Riri bisa lebih percaya diri. Nah, saya setuju, nih. Bisa menulis dengan style tersendiri di blog membuat kita nyaman dan percaya bahwa kita punya kemampuan menulis yang baik.

Setelah percaya diri didapat, blog pun bisa mendatangkan keuntungan berlipat. Melalui blog-nya pula, Mbak Riri bisa menjalin lebih banyak relasi, membuka peluang bisnis, sekaligus mengembangkan bisnisnya dengan mempromosikan produk yang dijualnya di sana.

Ternyata, Mbak Riri ini menggeluti aksesoris fashion dari kain flanel. Beliau juga sering menerima pesanan boneka wisuda. Kreatifitasnya yang berbuah bisnis itu tidak terlepas dari hobi/passion-nya dalam dunia craft.

So, menurut Mbak Riri, untuk memulai bisnis itu harus memperhatikan:

▪️ Memilih usaha yang tepat dan mengecek sesuai survei tentang tingkat kebutuhan orang/pasar/trend.
▪️Membuka usaha berdasarkan hobi atau passion.


Hmm... Saya pernah mempraktikkan hal-hal di atas secara sederhana. Sesuai dengan passion, saya tertarik untuk menulis fiksi sehingga membuahkan sebuah novel pada tahun lalu. Pun saya mempromosikan novel itu di blog dan akun media sosial saya; facebook, instagram, dan twitter.

Pas dengan apa yang disampaikan oleh Mbak Riri selanjutnya tentang memanfaatkan blog dan media sosial untuk promosi bisnis kita. Pesan utamanya: pisahkan akun sosial media pribadi dengan usaha. 

Wah, hal di atas belum saya lakukan. Saya dulu masih mempromosikan novel di akun facebook pribadi, sih. Secara umum, akun facebook pribadi memang 'lebih akrab' dengan pengguna yang lain. Padahal saya sendiri sering risih jika ada akun facebook pribadi teman yang isinya dagangan mereka melulu. Fiuhh...

Nah, menurut Mbak Riri, ada 4 hal yang harus diperhatikan saat kita berusaha mempromosikan bisnis/mengembangkan bisnis kita melalui blog dan akun media sosial, yaitu:

▪️Promosi di Blog
Buat konten review produk sendiri dan promosikan pada follower untuk membeli. Arahkan dimana bisa membelinya.

▪️Promosi di Facebook
Gunakan akun Facebook Fanpage sebagai media promo, bukan pakai akun pribadi atau grup facebook. Fanpage Facebook bisa menerima lebih banyak fans dibandingkan akun pribadi yang dibatasi hanya 5000 pertemanan.

▪️Promosi di Twitter
Update sapaan pada follower, diselingi update promo dan foto produk.

▪️Promosi di Instagram
Update promo dan produk, juga perbaiki tampilan feed agar menarik. Optimasi tampilan instagram kita sesuai dengan brand dagangan yang kita miliki.

Selain itu, Mbak Riri juga berbagi pengalaman tentang cara meningkatkan penjualan seperti di bawah ini:


Hihi, saya jadi tertohok pada poin ke-2. Saya belum melakukan giveaway novel sebagai perwujudan mengatrol penjualan. Memberikannya secara gratis pernah saya lakukan sih untuk saudara dan kerabat, bukan untuk tujuan komersil. Hmm, memang saya masih perlu banyak belajar dan harus terus mengevaluasi diri, nih.

Lanjuuut...

Mbak Riri dengan murah hati juga berbagi tentang tips meningkatkan kreatifitas dalam berbisnis sebagai berikut:

1. Memiliki motivasi tinggi, bekerja cerdas, kreatif, dan inovatif
2. Tidak takut mencoba hal yang baru
3. Belajar dari pengalaman keberhasilan dan kegagalan orang lain
4. Berada di lingkungan orang baik yang memberi motivasi positif
5. Menjual hobi dan keahlian yang kita miliki
6. Cekatan untuk memulai dan menjalani sebuah peluang usaha
7. Mau menerima kritikan dan masukan dari orang lain
8. Mau bersilaturahmi, bukan hanya lewat kopdar tapi silaturahmi via sosmed juga bisa dilakukan 
9. Jangan pasrah dengan keadaan, berani mengambil risiko dan siap untuk menerima kegagalan
10. Konsisten, ulet, dan tekun

Mantap betul jika kita bisa melakukan kesepuluh tips di atas, ya. Pantas saja Mbak Riri bisa menjalani 3 profesi seperti di atas sekaligus. Sip.

Nah, teman-teman yang ingin berkenalan lebih jauh, bisa mem-follow blog dan akun-akun media sosial Mbak Riri seperti di bawah ini:




2. Blog dan Media Sosial Kita Harus Sedap Dipandang Mata

Pemateri kedua adalah Mbak Dama Vara, seorang Digital Entrepreneur. Sosoknya mungil tapi cerdas. Terbukti beliau pernah kuliah di dua tempat sekaligus yaitu di Universitas Sampoerna dan Universitas Binus. Ya, cara bicaranya pun enak menurut saya.

Pemilik blog www.damavara(dot)com ini pernah mengikuti Workshop bersama Mozilla di Texas, Amerika Serikat. Salah satu yang beliau pelajari di sana adalah tentang persona. Ada yang belum tahu apa itu?


Persona maksudnya adalah sasaran/orang yang akan menjadi customer kita. Jika dihubungkan dengan dunia blogging berarti adalah calon pembaca blog kita. Pastikan kita tahu siapa persona primer dan sekunder; pembaca utama dan kedua postingan kita. Itu akan mempermudah menggolongkan jenis tulisan kita.

Mbak Dama juga memberi tips tentang menampilkan header blog secara cantik dengan memakai aplikasi Canva. Ini mah memang saya pakai sehari-hari. Tapi menurut Mbak Dama, sebaiknya jenis "Twitter Post" yang dipilih karena tampilannya bisa pas saat dibagikan ke media sosial.


Jangan lupa untuk memilih font yang mudah dibaca oleh pembaca blog kita. Juga penerapan filter agar tulisan pada header blog dan background-nya tidak bertabrakan. Jika font-nya gelap, background harus terang. Begitu juga sebaliknya. Bukankah kesan pertama itu sangat penting? 

Selain Canva, Mbak Dama memberi tips tentang pengaturan feed di instagram agar terlihat cantik memakai aplikasi UNUM. Singkatnya, diatur dulu baru diposting. Nah, kalau ini saya belum pernah memakainya. Selama ini saya mengatur tampilan di instagram secara manual. Boleh juga nih dicoba.

Maka Mbak Dama pun berkeliling untuk mengecek pemahaman peserta workshop tentang aplikasi Canva dan UNUM. Suasana jadi lebih rileks dan akrab. Satu lagi, beliau juga merekomendasikan Pinterest jika kita ingin memiliki banyak varian desain gambar untuk blog kita. Ini cukup familiar juga, bukan?


So, menjadi narablog sebaiknya juga mempunyai cita rasa seni yang baik. Insya Allah, siap memperbaiki tampilan blog dan sosial media saya seperti anjuran Mbak Dama yang punya akun instagram @justdamavara ini.

3. Be Freelancer, Be Better!

Setelah sesi istirahat, salat, dan makan, agenda pun berlanjut dengan material dari Mbak Ani Berta tentang tips menjadi seorang freelancer (pekerja lepas) di era digital. Ini adalah materi advance, kata beliau. Karena menurut Mbak Ani tampilan blog dan sosial media narablog dari Malang sudah cukup bagus. Asyiiik... Maka beliau merasa perlu menyampaikan materi lanjutan, bukan lagi tentang dasar-dasar blogging.

Berbicara tentang dunia freelancer, berarti membicarakan kiprah sukses Mbak Ani sendiri. Founder komunitas ISB sekaligus seorang famous blogger ini memutuskan untuk menjadi seorang freelancer pasca keputusan resign-nya dari kerja kantoran sebagai seorang akuntan. Hasilnya? Silakan disimak di bawah ini: 


Jadi, freelancer itu bukan pekerja suka-suka yang bisa seenaknya bekerja dan menganggur kapan saja. Profesi ini tetap punya pengertian tertentu yaitu seseorang yang melakukan pekerjaan tidak terikat penuh waktu dalam satu perusahaan atau bekerja paruh waktu untuk beberapa pekerjaan dengan waktu yang bisa diatur sendiri. Kaitannya dengan dunia blogging, mereka yang memilih menjadi full time blogger, buzzer, influencer, atau content writer termasuk dalam kategori freelancer ini.

A. Persiapan Menjadi Freelancer

Ketika memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memilih menjadi freelancer, Mbak Ani mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:

a. Mempunyai Tabungan yang Cukup

Cadangan dana cukup (sesuai dengan kebutuhan kita) mutlak diperlukan karena pendapatan di dunia freelancer tidak "sepasti" di dunia kerja formal. Tujuan kita nantinya ingin mendapat hasil yang lebih besar, dong. Tapi untuk pemula, hasil yang besar itu butuh waktu. Makanya tabungan menjadi sangat perlu.

b. Menemukan Potensi Diri

Seperti yang saya sebutkan di atas, setiap narablog itu punya keunikan tersendiri yang seharusnya dia temukan dan dia kembangkan. Jangan menjadi orang lain karena pasti ujung-ujungnya malah menyiksa diri. Just be ourselves!

Alhamdulillah, hingga hari ini saya tidak tergoda untuk memaksakan diri menjadi beauty blogger. Lha karena saya merasa tidak punya passion di sana. Saya lebih nyaman menjadi lifestyle blogger yang juga menyukai dunia fiksi. Alhasil, ngeblog pun menjadi senang rasanya.

c. Mengasah Kemampuan, Mengikuti Workshop Online/Offline, Memperbanyak Portofolio

Menjadi narablog berarti siap menjadi pribadi pembelajar, baik secara otodidak atau melalui workshop/seminar yang sesuai dengan minat kita. Bisa dimulai dengan menulis hal-hal kecil, menerima job dengan fee kecil, bahkan tidak dibayar. Ingat, kita sedang dalam rangka menempa diri.

Ah, saya jadi ingat saat seorang rekan narablog meminta tolong untuk menulis ulasan sebuah produk dengan imbalan produknya itu sendiri. Why not? Saya tetap mau menerimanya karena jadi ada bahan tulisan.

Pun saya beberapa kali mengikuti challenge blogging dengan ngeblog setiap hari yang berhadiah e-certificate. Saya tetap bahagia melakukannya karena sertifikatnya bisa untuk menambah portfolio dan bisa saya pajang di media sosial. Ya, semua karena cinta. ❤️

d. Menjadi Volunteer

Nah, Mbak Ani mengisahkan dirinya yang pernah menjadi volunteer dengan menulis untuk kepentingan sosial dengan fee yang tidak terlalu besar. Semua dilakukan sebagai amal jariyah tapi skill menulis tetap bisa terasah. Misalnya, saat beliau menjadi volunteer dengan menjadi content writer pada web-nya Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (KPPAI). 

Wah, ini betul-betul menginspirasi saya. Pantesan rezeki beliau sebagai freelancer yang single mom amat melimpah. Ternyata ada semangat berbagi melalui tulisan yang menjadi pondasi awal Mbak Ani Berta. Salut.

e. Memperluas Networking

Rupanya, Mbak Ani Berta termasuk sosok yang mudah berteman. Saat berada di suatu tempat, beliau memilih untuk menyapa orang-orang di sekitarnya. Saat mengantre di sebuah bank, misalnya. Beliau dengan mudah bisa memperoleh kenalan baru. Sungguh patut ditiru.

Mendapatkan teman-teman baru merupakan salah satu jalan untuk memperluas networking. Jika jaringan pertemanan kita luas, pintu rezeki kita bisa terbuka dari jalan mana saja. Mbak Ani pernah berkali-kali mendapatkan pekerjaan menulis dari orang-orang yang pernah beliau sapa dan ajak kenalan. 

So, mulai sekarang kurangi fokus kita pada ponsel jika berada di tempat umum, yuk. Mulai sapa kanan kiri untuk menambah teman. Siapa tahu ada peluang berharga di sana. ;)


B. Rencana Kerja Seorang Freelancer

Nah, segala persiapan menjadi freelancer seperti di atas sudah dilakukan. Mbak Ani Berta lalu menekankan agar seorang freelancer itu pro aktif untuk menjemput peluang pekerjaan. Kalau pasif dan kita jadi banyak menganggurnya, itu bukan prinsip seorang freelancer namanya. 

Maka, info job dari rekan-rekan narablog saja tidak cukup. Pertama, coba peluang lain dengan mengajukan proposal penawaran pada agensi atau brand yang biasa bekerja sama dengan para freelancer. Duh, jadi tertohok nih saya karena selama ini belum pernah mengajukan proposal seperti yang dimaksud.

Kedua, Mbak Ani Berta menyusun rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang seperti layaknya pebisnis. Beliau menerapkan disiplin untuk diri sendiri berupa waktu bekerja selama 8 jam dalam sehari. Duh, apa kabar saya yang saat menulis kadang diselingi dengan menengok dulu hiruk pikuknya dunia maya. Hiks...

Ketiga, Mbak Ani berpesan agar kami tidak terlalu ngoyo mengejar fee tapi di saat yang sama masih minim pengalaman. Asah terus jam terbangnya, maka nanti fee akan mengikuti sesuai dengan kualitas diri.

C. Prinsip Seorang Freelancer

Ada beberapa prinsip yang harus dipegang teguh seorang freelancer agar sukses, yaitu:

▪️Jeli terhadap peluang
▪️Kerja dua kali lebih keras
▪️Pandai beradaptasi
▪️Fleksibilitas
▪️Menjadi bos dan karyawan untuk diri sendiri
▪️Perbanyak kreatifitas dan inovasi
▪️Kuat fisik dan mental
▪️Proaktif

D. Mengatur Keuangan Freelancer

Nah, saat pundi-pundi rupiah mulai mengalir ke kantong kita, jangan lupa untuk mengatur strategi, seperti:

▪️Buat rekening bank lebih dari satu. Rekening yang pertama untuk menampung penghasilan, sedangkan yang kedua untuk menyimpan dana yang akan kita pakai sehari-hari. 
▪️Buat sistim gaji untuk diri sendiri. 
▪️Siapkan dana darurat.
▪️Membayar kebutuhan secara sekaligus.
▪️Jangan lupa berinvestasi

E. Sesi Tanya Jawab

Mbak Ani Berta menyampaikan materi dengan diselingi dialog interaktif sehingga kami terhindar dari rasa kantuk yang terkutuk, hihi. Ada pemberian doorprize pula untuk peserta yang bisa menjawab pertanyaan dan peserta yang aktif bertanya. Seru jadinya.

Ada sebuah pertanyaan tentang peluang seorang narablog di masa depan. Akankah blog bisa bertahan di tengah gempuran konten-konten YouTube yang sepertinya lebih banyak diminati oleh para generasi milenial, generasi Z, bahkan generasi Alfa?

Mbak Ani Berta menjawab dengan optimis bahwa dunia blogging akan tetap cerah. Alhamdulillah. Buktinya, saat dulu blog diramalkan akan redup karena hadirnya media sosial, kini eksistensi blog semakin kuat. Bahkan Indonesia termasuk negara dengan jumlah narablog paling banyak, lho.

Di negara lain, orang yang memiliki blog itu biasanya adalah kalangan politikus, artis, dan pebisnis. So, mereka yang memiliki blog itu dianggap bukan orang sembarangan. Maka jika teman-teman bukan termasuk ketiganya tapi aktif sebagai narablog, berbahagialah. 🙂


Ya, aktivitas menulis yang merupakan inti dari blogging akan tetap ada dan diperlukan sepanjang masa. Mbak Ani bercerita bahwa beliau pernah mengisi pelatihan menulis untuk para karyawan bank. Begitu pentingnya kemampuan menulis itu. Pun kemampuan menulis esai juga menjadi syarat promosi untuk pekerjaan dan jabatan tertentu.

So, tetaplah menulis. Tetaplah menjadi narablog dengan bangga. Ia tidak akan kalah dengan dunia visual yang tampak gemerlapan itu.

Ada juga pertanyaan tentang tips untuk memenangkan lomba. Menurut Mbak Ani, kita harus memperhatikan betul persyaratan lomba. Jangan sampai melanggar salah satu aturannya. Misalnya dengan memperpanjang tulisan di luar panjang yang telah ditentukan. Jangan, ya. 

Lalu, jangan sampai kita melewati batas waktu lomba karena pasti kita dianggap gugur. Lebih baik mengumpulkan di awal waktu. Daaan... Ini jlebb buat saya. Postingan saya kali ini sebenernya untuk keperluan lomba juga, tapi sudah melewati deadline beberapa jam yang lalu. Untuk pertama kalinya saya terlambat menyetorkan tugas dan itu sungguh tidak enak, hiks.

Tiga hari ini si kecil sakit dan waktu saya untuk menyentuh gawai jadi sangat terbatas. Apalagi laptop saya masih bermasalah, jadi saya mengerjakan postingan ini via ponsel. It's okay. Saya tetap harus bertanggung jawab menyelesaikan tulisan ini, dong.

(Sekali lagi) Walau berat jalannya, aku bahagia... Maaf curcol sedikit, hehe

Back to the topic...

Mbak Ani Berta punya pengalaman berharga mengikuti lomba dengan "menyeberang" dari passion-nya. Beliau mengikuti sebuah lomba untuk para beauty blogger yang notabene bukan "bidangnya." Sesekali tidak apa-apa tapi kita harus punya modal percaya diri yang tinggi. Selain itu, maksimalkan konten dan kualitas tulisan. Berani mencoba?

Sesi ketiga ini menjadi yang terlama namun tetap mengasyikkan. Materinya diulas dengan gamblang, pertanyaan-pertanyaan pun dijawab dengan tuntas. Mbak Ani Berta sungguh sosok penuh ilmu namun tetap humble.

4. Atur Keuangan dengan Penuh Kecermatan

Sesi terakhir atau sesi keempat tentang keuangan narablog diisi oleh Mbak Liswanti Pertiwi. Pemilik akun instagram @penaliswanti adalah seorang narablog yang memiliki bisnis Wedding Organizer, juga pengelola sosial media milik beberapa perusahaan. 

Seperti Mbak Ani Berta, saya sering sekali mendengar nama Mbak Lis. Pernah beberapa kali juga membaca blog-nya yang memang berisi konten berkualitas. 


Mbak Lis mengemukakan tentang banyaknya kesempatan bagi seorang narablog di zaman now untuk meraih peluang penghasilan. Mulai dari penghasilan dari Google Adsense, menulis sponsored post (SP) dan Job Review (JR), mendapatkan tawaran Content Placement (CP), menghadiri event/agenda offline, jasa backlink, sampai kepada jasa SEO (Search Engine Optimization). Pokoknya kesempatannya banyak, deh.

Mbak Lis lalu membagikan sebuah kertas kecil berwarna biru untuk para peserta workshop. Kertas itu harus diisi dengan keinginan yang ingin peserta wujudkan dalam tiga bulan melalui pendapatan dari ngeblog. Saya sih mengisi: ingin membeli laptop baru dan berinvestasi emas. Hehe, padahal selama ini jumlah yang saya dapatkan dalam tiga bulan belum pernah bisa untuk membeli laptop baru. Mimpi dulu ah kalau begitu.

Nah, setelah mendapatkan fee dari berbagai sumber seperti di atas, Mbak Lis menyarankan agar kita mencatatnya. Jangan sampai bercampur dengan "uang-uang lain" lalu kita jadi lupa fee tersebut kita pergunakan untuk apa karena tidak ada target.

Secara rinci, 5 cara untuk mengatur keuangan narablog, yaitu:
1.Membuat catatan pekerjaan narablog dan penghasilan yang akan didapatkan. Biasanya, fee dari blogging tidak langsung dibayarkan saat itu. Maka alangkah baiknya dicatat dulu.
2. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran.
3. Menghitung penghasilan per bulan, termasuk penghasilan yang masih pending.
4. Membuat pos keuangan.
5. Mempunyai investasi dan tabungan.

Selain mencatat secara manual, kita bisa memanfaatkan kecanggihan aplikasi di google playstore. Unduh saja aplikasi catatan keuangan yang ada di sana. Mudah dan praktis, bukan?

Hampir sama dengan yang disampaikan oleh Mbak Ani, Mbak Lis menyarankan agar setiap narablog memiliki lebih dari satu rekening tabungan. Beliau sendiri memiliki tiga rekening yang dipergunakan untuk tabungan pribadi, tabungan keluarga, dan fee hasil ngeblog. Tujuannya agar penghasilan dari ngeblog-nya bisa terpisah sehingga terkelola dengan baik.

Wah, saya kira sesi ini membuat para peserta workshop bergairah untuk memperoleh penghasilan semaksimal mungkin. Lha kalau penghasilannya minim, mengatur keuangannya tinggal impian. Hehe... Padahal narablog sekelas Mbak Lis ternyata bisa berinvestasi tanah dari hasil fee ngeblog. Luar biasa!

Bismillah. Berharap kita bisa meraihnya, ya. Lantas, jika penghasilan sudah lancar, jangan lupa untuk mengelompokkannya ke dalam pos-pos keuangan. Untuk para narablog, contoh hitungannya seperti ini:


Setelah sesi keempat berakhir, agenda menarik itu harus diakhiri pula. Duh, begitu cepatnya waktu berlalu. Sungguh, ada banyak sekali yang masih harus saya pelajari. 

Terima kasih, ISB!

Sebelum saling berpamitan dan bersalaman, kami mendapatkan kenang-kenangan atau goodie bag. Dilanjutkan dengan berfoto bersama dengan mengambil tempat di tangga gedung seperti ini. 


Saya berharap suatu hari ISB mengadakan agenda di Malang lagi. Sambil menunggu itu terjadi, saya tadi sudah mendaftarkan diri sebagai anggota dengan mengisi google form. Menyimak fanspage ISB, ada beberapa agenda online yang bisa diikuti.

Alhamdulillah, tak terasa saya sudah menulis sepanjang ini. Sekali lagi, ini menjadi perjalanan menulis postingan yang tidak mudah. Insya Allah, saya akan terus belajar dan berbenah. Saya akan terus menulis, seperti pesan Mbak Ani Berta. Ya, semua karena cinta. ❤️



Salam,
Tatiek Purwanti



May 10, 2019

Salad Apel dan Nanas Saus Selai Skippy

by , in

"Barangsiapa yang memberi makanan ifthar kepada orang yang berpuasa, ia akan mendapat pahala seperti pahala orang yang berpuasa itu tanpa berkurang sedikit pun."
(HR. Tirmidzi)

Betapa Ramadan itu adalah bulan saat limpahan pahala mengalir deras bagi siapa saja yang mau menyambutnya. Bahkan para penghidang makanan untuk berbuka puasa saja mendapat keistimewaan seperti hadits di atas.

Seharusnya hadits di atas membuat para emak menjadi lebih bersemangat untuk menghidangkan santapan berbuka. Saya sendiri berusaha untuk meraih pahala itu semampu saya. Ya, saya lebih suka menghidangkan menu yang praktis tapi cukup gizi.

Saya acungkan jempol untuk para emak yang bisa menghidangkan menu beragam yang 'berat-berat' via memasak sendiri. Baarakallahu fiikum. Saya sih cukup masak beraneka tumisan, sambal plus lalapan, atau sayur sop. Simpel, kan?

Saya sendiri merasa harus membagi waktu untuk mengerjakan 3 tugas paling penting; mendampingi anak bermain, membaca Alquran, dan menulis setiap hari. Rasanya saya memang harus membatasi diri untuk tidak berlama-lama di dapur pada saat Ramadan seperti ini.

Alhamdulillah, suami saya termasuk tipe yang tidak rewel untuk urusan hidangan berbuka puasa. Asal ada air putih dan kurma, itu cukup. Bahkan beliau kurang suka jika saya menghidangkan kolak, seperti yang pernah saya tuliskan pada postingan sebelumnya.

Anak-anak saya pun begitu. Selain air putih, mereka suka menyantap buah, puding, susu, yogurt, es krim, dan roti oles selai. Benar-benar memudahkan emaknya, hehe. Jika ingin membuat menu lain, saya cukup membuat variasi dari 'bahan dasar' yang mereka sukai seperti di atas.

pixabay

Resep yang akan saya bagikan berikut ini adalah variasi dari buah-buahan yang disukai anak-anak saya. Si Kakak suka nanas, sementara Si Adek suka apel. So, inilah Salad Apel dan Nanas Saus Selai Skippy. Kalau kepanjangan, bisa disingkat menjadi Salad Apel dan Nanas S3, hehe...

Berkenalan dengan Skippy Peanut Butter, Yuk!

Sebelum saya tuliskan resepnya, yuk berkenalan dulu dengan Skippy Peanut Butter alias Selai Kacang Skippy. Ada yang belum tahu? Atau justru sudah ngefans Skippy sejak dulu?


Nah, Skippy ini adalah brand selai kacang terpopuler di dunia, termasuk di Indonesia. Varian teksturnya terbagi dua. Yang pertama adalah Skippy Chunky (bertekstur kasar). Skippy Chunky ini mengandung banyak potongan kacang asli sehingga ada kriuk-kriuknya. Saya belum pernah nyobain yang ini, sih. 

Varian yang satunya lagi adalah Skippy Creamy, yang menjadi pilihan saya selama ini. Skippy Creamy ini cocok untuk mengoles roti tawar karena teksturnya berbentuk pasta halus yang lembut. Tidak terlalu kental tapi rasa kacangnya terasa banget. Setiap kali roti tawar diolesi ini, langsung laris manis.

Lengkapnya, varian rasa selai kacang Skippy adalah sebagai berikut:
1. Skippy Peanut Butter Creamy
2. Skippy Peanut Butter Chunky
3. Skippy Chocolate Peanut Butter
4. Skippy Grape Peanut Butter
5. Skippy Strawberry Peanut Butter

Menggiurkan semua. Sudah Halal MUI pula. Sip. Pasti anak-anak saya tidak akan menolak jika rotinya diolesi beraneka varian rasa seperti di atas. Insya Allah, segera saya cobain semua varian di atas. 

Skippy Peanut Butter Baik untuk Kesehatan

Selai kacang seperti Skippy Peanut Butter ini berbahan dasar kacang tanah kering yang dipanggang, ditumbuk halus sehingga menjadi pucat, lalu diperas. Bukan berasal dari kacang goreng lho, ya. Jadi Skippy Peanut Butter ini adalah sumber protein nabati yang baik. 

FYI, lemak nabati yang terkandung dalam kacang tanah adalah lemak nabati baik seperti yang terdapat pada minyak zaitun dan alpukat. Ada kandungan asam lemak tak jenuh yang banyak, seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam α-linolenat  yang sangat berguna untuk kesehatan kita.

Varian Skippy Peanut Butter Creamy yang saya pegang di bawah ini mengandung 85% kacang tanah ditambah bahan lain seperti: gula, minyak kacang, minyak nabati terhidrogenasi, dan garam. Pantesan rasa kacangnya terasa sekali. Perpaduan manis dan asinnya juga pas menurut saya. Kebetulan saya sedang berusaha membatasi asupan gula.


Secara lengkap, kandungan gizi dan manfaat Skippy Peanut Butter bagi kesehatan tubuh adalah sebagai berikut:




Segarnya Salad Apel dan Nanas Saus Selai Skippy

Buah-buahan termasuk golongan makanan wajib santap di meja makan kami saat berbuka puasa. Rasa segar dan manisnya pas untuk menyuplai kembali tubuh yang seharian 'kekeringan' menjadi dilimpahi kandungan gula alami, serat, vitamin, dan mineral.



Saya mencoba memadukan manis-segarnya apel dan nanas dengan Skippy Peanut Butter Creamy. Mudah dan praktis, seperti prinsip mengolah makanan saya di atas. Simak, yuk!

Bahan:

2 buah apel Red Delicious
1 piring kecil nanas
1 sdm munjung Skippy Peanut Butter Creamy
5 sdm air panas
2 buah cabe rawit (boleh ditambah jika suka pedas)
1 butir bawang merah
2 sdm air perasan jeruk nipis
1/2 sdt garam




Cara membuat:

1. Larutkan Skippy Peanut Butter Creamy dengan 5 sdm air panas. Tambahkan garam. Aduk rata.


2. Iris tipis cabe rawit dan bawang merah. Masukkan ke dalam campuran Skippy. Tambahkan air perasan jeruk nipis. Aduk rata kembali.


3. Iris tipis apel dan nanas. Tata di piring lalu siram dengan saus Selai Skippy yang sudah jadi tadi. Hidangkan segera.

 

Tuh, praktis banget, kan? Rasanya segar, manis, berpadu dengan rasa gurih dan pedas yang pas. Selesai menyantapnya, tubuh lebih berstamina rasanya. Tidak terlalu kenyang, tapi lapar sudah hilang.

 

Apel dan nanasnya bisa juga diganti dengan buah lain seperti mangga, pepaya mengkal, kedondong, atau bengkoang. Mirip-mirip rujak buah, gitu.

So, selamat menyiapkan menu berbuka puasa, teman-teman. Stay healthy by consuming Skippy!


Salam,







*Diadaptasi dari resep salad mangga saus selai kacang di laman justtryandtaste(dot)com

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day3
#30harikebaikanbpnxskippy





May 09, 2019

Buka Puasa dengan Riang di Transmart MX Malang

by , in

Kalau saya ditanya tentang tempat berbuka puasa favorit, pasti saya akan jawab: di rumah! Ya, iya lah. Saya kira banyak kaum muslimin juga demikian; baiti jannati. Namun tidak ada salahnya jika kita pun punya tempat kesukaan untuk berbuka puasa di luar rumah. Nah, saya memilih Transmart MX Malang sebagai spot favorit baru untuk menikmati ifthar sembari ngabuburit.

Sekilas tentang Transmart MX Mall Malang

Transmart MX Mall Malang memang baru diresmikan dan dibuka untuk umum pada tanggal 22 Februari 2019 yang lalu. Dulu saya sempat berpikir: kok di Malang tidak ada Transmart seperti di kota-kota besar lain, ya? Padahal saat saya mudik ke Solo, Transmart Solo sudah megah berdiri di daerah Pabelan, Kartasura sejak 1 Desember 2017. 

Akhirnyaaa... di Malang ada juga dengan sebutan Transmart MX Mall karena dulunya di situ ditempati oleh MX Mall. Walaupun bukan maniak belanja dan nge-mall, saya pengin tahu juga dong kemegahan pusat perbelanjaan dengan konsep 4 in 1 itu. Ya, semua gerai Transmart di seluruh Indonesia menawarkan 4 hal dalam 1 tempat yaitu berbelanja, bersantap, bermain, dan menonton. Sip.

IG @sahabat_transmart_mxmm

Saya tidak menghadiri grand opening-nya, sih. Selain karena saat itu suami belum pulang, saya membayangkan pengunjungnya yang berjubel. And it was true. My neighbor who visited the grand opening told me the crowded situation. Oh, no! Si kecil saya bisa tidak nyaman dan rewel jika saya memaksakan diri datang.

Saya memilih untuk bersabar dulu; menunggu saat yang tepat. Tahaaan... Akhirnya baru pada bulan Mei 2019 ini saya sekeluarga bisa ke sana. Belum mencicipi 4 konsep yang ditawarkan, sih. Baru melihat-lihat wahana permainan dan bersantap dalam rangka berbuka puasa saja.

Tempat yang Pas untuk Ngabuburit

Transmart MX Mall Malang yang merupakan gerai ke-127 milik PT. Trans Retail Indonesia cukup ramai sore itu. Begitu kami masuk ke pintu utama, ada dua buah robot Transformer yang diajak berfoto oleh pengunjung silih berganti; Bumblebee dan Optimus Prime. Si Adek tidak mau ketinggalan, dong. Emaknya dengan sigap menjadi juru foto. Cekrek!


Nah, di ground floor atau lantai dasar itulah berderet-deret food court/food tenant yang menawarkan beraneka hidangan yang menggoda iman. Ada Burger King, Solaria, Starbucks, A&W, Nasi Goreng 69, dll. Skip dulu pastinya. Saya sekeluarga memilih untuk terus naik ke lantai-lantai di atasnya. Melemaskan kaki adalah ngabuburit yang sehat, bukan? Cuzzz... menuju eskalator yang juga lumayan dipadati pengunjung.

Secara singkat, berikut isi dari tiap lantai di Transmart MX Malang:
Lantai Dasar : Kuliner, Kacamata, dan Body Shop
Lantai 1 : Kebutuhan Pokok Sehari-hari
Lantai 2 : Fashion & Furniture
Lantai 3 : Trans Studio Mini
Lantai 4 : Bioskop Cinema XXI

Karena tidak bertujuan untuk berbelanja, kami cuma melihat-lihat saja di setiap lantai. Barulah pada lantai 3, kami berlama-lama di sana. Ada Trans Studio Mini, sih. Menurut info, ada sekitar 148 wahana permainan yang siap menghibur para pengunjung. Untuk bisa menikmatinya, calon penikmat wahana harus memiliki kartu Trans Studio Mini yang dibanderol seharga Rp 100.000 yang bisa diisi ulang.


Trans Studio Mini yang ada di Malang ini pastinya tidak sebesar yang di Bandung. Beberapa spot tampak masih dibenahi, belum siap digunakan. Tapi mayoritas wahana sudah siap memanjakan para pengunjung. Mau berfoto-foto saja tanpa bermain di wahana pun boleh. Banyak spot menarik yang instagrammable, misalnya: Menara Eiffel tiruan.


Kemegahan di lantai 3 tersebut memang tidak dimiliki oleh mall-mall yang lainnya. Pantas saja pengunjungnya tumplek blek. Sepertinya sejak dibuka, Transmart MX Mall Malang ini menjadi pesaing berat Malang Town Square (Matos) yang ada di sebelahnya.

Menghilangkan Kelaparan di A&W Restaurant

Setelah puas mengublek-ublek lantai 3, kami turun lagi ke lantai dasar untuk bersiap-siap menunggu azan Magrib berkumandang. Harus bersaing dengan banyak pengunjung, nih. Saya maunya sih ke gerai Bakso Boedjangan, tapi Si Kakak ngotot ingin makan ayam goreng. Duh, tidak bosan-bosannya dia. Ya sudahlah.


Akhirnya kami memutuskan untuk menuju A&W Restaurant. Sudah Halal MUI, dong. Masih ada meja kosong di pojokan, alhamdulillah. Seperti biasa, saya bertugas untuk memesan menu. Baiklah.


Si Kakak dan Eyang Uti sama-sama pengin Spicy Aroma Chicken plus rice and Chicken Soup. Sementara saya penasaran dengan Zesty Chicken Mixbowl plus Sunny Eeg. Saya pesan dua porsi, untuk Si Abi juga. Biasanya Si Abi menurut kalau urusan menu. Singkat, padat, dan jelas biar cepet!


Trus, minumnya cukup 2 jenis saja untuk kami berempat yaitu Iced Green Tea Latte dan Hot Coffee Caramel. Selain agar tidak kekenyangan, hemat juga, kan? Hohoho... Karena situasinya sedang di luar rumah maka kami harus berbuka puasa sekaligus, baru salat Magrib. Bisa berabe jika kekenyangan.

Kami minum terlebih dahulu sambil menunggu pesanan tiba. Punya Si Kakak dan Eyang Uti datang lebih awal sementara Zesty Chicken saya agak lama, sih. Saya tidak mencicipi Chicken Aroma dan sup ayam mereka, tapi katanya sih enak. Terbukti Si Kakak dan Eyang Uti menyantapnya hingga tandas.


Beberapa saat kemudian, si Zesty Chicken tiba di hadapan saya. Hmm, aromanya seperti nasi kuning, gitu. Aroma khas serai dan rempah-rempah. Rasanya gurihnya pun mirip nasi kuning, hanya bedanya warnanya hijau. Ada irisan ayam bertekstur renyah di atasnya. Rasanya lumayan spicy.

Saya makan berdua dengan si kecil dan itu cukup, sih. Alhamdulillah, malah nyaman di perut karena tidak terlalu kenyang. Saya kira Si Kakak dan Eyang Uti juga merasa cukup karena saya lihat porsi mereka sedang saja. Sementara Si Abi makan sendirian. Iya, dong. Bapak Sopir harus dapat porsi utuh.


Beberapa saat setelah kami semua rampung menikmati hidangan, baru deh kami meninggalkan tempat itu. Puas dan cukup kenyang, alhamdulillah. Tampak suasana Transmart MX Mall semakin ramai saja rasanya. Pantas sih jika pusat hiburan lengkap tersebut jadi favorit keluarga di Malang Raya.

Kami bersegera keluar menuju ke Masjid Ibnu Sina yang terletak tidak jauh dari situ. Cukup berjalan kaki beberapa meter ke arah utara, melewati Pujasera Universitas Brawijaya. Tidak perlu khawatir dengan mobil; masih aman di parkiran Transmart, kok.


Transmart MX Mall Malang
Jl. Veteran, Ketawanggede, Klojen, Kota Malang

Nah, ini juga yang menjadi alasan kami untuk memilih Transmart MX Mall Malang sebagai tempat berbuka puasa: tidak jauh dari masjid. Pastinya di Transmart MX Malang juga ada musalla, tapi saya sekeluarga lebih memilih ke masjid saja. Lebih lega dan leluasa untuk beribadah.

So, jika saya ditanya: bagaimana perasaan Anda? Saya akan menjawab: mantap! Cukup puas, sih. Bulan depan mungkin kami kembali ke Transmart MX Mall Malang lagi untuk mencoba wahana permainannya. Insya Allah.


Salam,






#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day2