My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Rumah Ramah Lingkungan, Bermanfaat untuk Masa Depan


Isu tentang lingkungan begitu mengemuka belakangan ini. Terlihat dari banyak kampanye untuk lebih ramah lingkungan, misalnya: diet plastik. Gerakan diet tersebut memang seharusnya dilakukan secara masif, di seluruh belahan dunia. Secara teoritis, timbunan sampah semakin banyak padahal kecepatan penguraiannya tidak secepat saat menumpuknya. Hiks...

Rasanya akan menguras emosi yang tidak perlu jika kita hanya menyalahkan sekitar tapi kita sendiri tidak mengambil tindakan konkrit. Mulai saja dari rumah kita. Yuk, mulai ciptakan rumah yang ramah lingkungan dengan melakukan hal-hal di bawah ini:

1. Rencanakan Bentuk Rumah

Rumah yang ramah lingkungan dapat berupa rumah yang hemat energi. Jika sudah terlanjur 'tidak ramah' nasih bisa kita ubah pelan-pelan.

Beberapa elemen rumah yang cukup berperan dalam penghematan energi, yaitu:

a. Pintu dan Jendela Kaca

Seharusnya rumah kita berpintu dan berjendela kaca lebih banyak yang menghadap ke timur. Maksudnya agar sinar matahari masuk ke dalam rumah, memberi pencahayaan yang cukup. Tentunya dengan tetap memerhatikan keindahan/tata letaknya.


Pencahayaan yang cukup akan meminimalisir penggunaan lampu, bukan? Alhamdulillah, jendela ruang tamu saya cukup besar sehingga ruangannya terang benderang dari pagi sampai menjelang sore.

Jika kita khawatir tentang privasi, gunakan kaca es atau sandblast sehingga aktivitas di dalam ruangan tidak tampak dari luar. 

b. Penghawaan Ruangan

Prinsip dasar dari penghawaan adalah memperlancar sirkulasi udara di dalam ruangan tanpa alat bantu seperti kipas angin/exhaust.

Caranya adalah dengan membuat penghawaan silang atau metode cross ventilation. Perwujudannya dengan memposisikan dua lubang ventilasi secara silang, bukan sejajar.

Jika penghawaan rumahnya sudah terlanjur non-cross ventilation, bisa menggunakan roster. Tidak perlu banyak, secukupnya saja.

c. Elemen Penambah Kelembaban

Wujudnya adalah air mancur atau kolam ikan di depan rumah. Keduanya bisa diaplikasikan pada area terbuka yang tidak ada peneduhnya.


Cara ini cukup efektif untuk mengurangi udara panas yang kering karena akan ada uap air yang mendinginkan udara sekitarnya.

2. Gunakan Produk Daur Ulang

Kurangi penggunaan kayu karena kondisi hutan kita sudah mengkhawatirkan. Jika konsumen berani mengurangi permintaan akan kayu secara masif, pepohonan yang ditebang bisa jadi akan berkurang.

Produk daur ulang misalnya Aerated Autoclaved Concrete (Bata Ringan Aerasi). Bahan bangunan ini terbuat dari fly-ash atau pasir abu, yaitu limbah pembakaran batu bara.


Dengan memakai Bata Ringan Aerasi, kita bisa sedikit demi sedikit mengurangi pemakaian batu bata yang bahan dasarnya adalah tanah liat.

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke area pembuatan batu bata. Banyak terdapat lubang/cerukan di tanah karena digali sebagai bahan baku. Cerukan-cerukan tersebut sebenernya berbahaya bagi struktur tanah di situ; rawan tergerus/longsor.

3. Pemanfaatan Limbah Rumah Tangga

Prinsipnya yaitu melakukan swakelola pengolahan limbah secara sederhana pada lingkup rumah sendiri. Contohnya:

a. Bekas air wudhu dialirkan untuk menyiram tanaman atau mengisi kolam ikan di belakang rumah. Air tidak terbuang percuma, malah kita merasakan manfaat yang lainnya.

b. Limbah plastik non-degradable diubah menjadi kerajinan tangan atau ornamen penghias rumah. Saya pribadi membuat ecobricks dari sampah plastik karena belum pintar membuat kerajinan tangan ;)

c. Mempunyai tiga jenis tempat sampah; untuk sampah basah, kering, dan plastik. Ini memudahkan untuk pendauran ulang sesuai jenisnya masing-masing.


Nah, itulah pemaparan singkat tentang rumah yang ramah lingkungan. Mungkin terlihat sederhana tapi itu adalah bukti bahwa kita telah berbuat. Yes, it starts from our home.

Kalau teman-teman sendiri, rumah ramah lingkungannya dalam wujud seperti apa? 




Salam,
Tatiek Purwanti




Sumber:
pemaparan Dony Mudjihandono (Arsitek & praktisi bangunan) 

Sumber gambar: pexels

No comments:

Post a Comment