My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Yuk, Hidupkan Tradisi Rasulullah Menjelang Ramadan!



"Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Syaban dan sampaikanlah (usia) kami ke bulan Ramadan."
(HR. An Nasai, Abu Dawud, dan Tirmidzi)

Suatu ketika, Rasulullah menaiki mimbar untuk berkhutbah. Saat beliau menginjak anak tangga pertama, tiba-tiba beliau mengucapkan "amin". Hal yang sama beliau lakukan saat menginjak anak tangga kedua dan ketiga. Ternyata, saat itu Malaikat Jibril datang.

Rasulullah ternyata menyambut perkataan Jibril sebagai berikut:


Semua Kitab Suci Diturunkan pada Bulan Ramadan

Allah SWT menghadirkan Ramadan untuk disucikan dan dimuliakan. Ini memang bulan mulia nan istimewa karena banyak peristiwa bersejarah yang pernah terjadi pada bulan Ramadan. Peristiwa monumental itu tidak hanya terjadi pada masa Rasulullah, tapi juga pada zaman nabi-nabi sebelumnya.

Bersumber dari beberapa hadits, kitab suci diturunkan oleh Allah Swt pada bulan Ramadan. Shuhuf Nabi Ibrahim diterima pada Hari ke-1 dan ke-3 di bulan Ramadan. Kitab Zabur Nabi Daud diterima pada hari ke-12 atau ke-18 di bulan Ramadan. 


Pun Kitab Taurat-nya Nabi Musa dan Kitab Injil-nya Nabi Isa diterima pada bulan Ramadan. Dan seperti kita ketahui, Alquran sebagai salah satu mukjizat Rasulullah diturunkan pertama kali pada tanggal 17 Ramadan.

Tradisi Rasulullah Menyambut Ramadan

Ada 4 bulan lain yang dimuliakan Allah (bulan haram) yaitu Zulqadah, Zulhijjah, Muharram, dan Rajab. Sedangkan Ramadan justru disebut sebagai bulan-nya Allah Swt. Pada bulan itu, Allah SWT menjanjikan berbagai pahala dan melipatgandakannya. Maka, sejak jauh-jauh hari Rasulullah mempersiapkan diri untuk menyambut Ramadan.


Sejak bulan Syaban, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk membiasakan diri beribadah lebih baik lagi terutama memperbanyak puasa. Misalnya berusaha berpuasa sunnah Senin-Kamis pada bulan Syaban walaupun jarang melakukan itu sebelumnya. Lebih bagus lagi jika mampu berpuasa Daud, sehari puasa-sehari tidak.

Tapi jika ternyata belum bisa, cobalah untuk berpuasa tiga hari pada pertengahan bulan Syaban atau puasa ayyamul bidh. Tujuannya adalah untuk mempersiapkan fisik dan mental pada saat Ramadan tiba.

Seorang muslim yang baik dan tertanam iman di dadanya, pasti menyambut Ramadan dengan penuh suka cita. Seperti tradisi di masa Rasulullah, di akhir bulan Syaban. Para sahabat terbiasa berkumpul di masjid, mendengarkan khutbah Rasulullah untuk menyambut Ramadan.

Momentum itu juga digunakan oleh kaum muslimin untuk saling memaafkan diantara mereka. Mereka sungguh ingin memasuki Ramadan tanpa beban dosa pada sesama. Mereka ingin memasuki Ramadan dalam keadaan suci, dengan energi silaturrahmi.


Rasulullah terbiasa memberikan tahniah atau ucapan selamat akan datangnya Ramadan. Ini adalah tradisi baik yang harus kita pertahankan. Kemajuan teknologi sungguh memudahkan kita untuk melakukannya. Penuhi jejaring sosial kita dengan ucapan selamat datang itu agar energi Ramadan merata pada seluruh umat Islam.

Tentang Tradisi Kekinian

Bagaimana dengan tradisi berziarah kubur sebelum Ramadan? Rasulullah tidak mencontohkan untuk berziarah kubur pada hari-hari khusus. Tujuan berziarah kubur adalah zikrul maut atau mengingat kematian. Ini sama dengan kita yang dilanjutkan untuk sering mengingat kematian setiap hari, agar waspada dan menyiapkan bekal terbaik.

Silakan berziarah kubur untuk mendoakan mereka yang sudah berpulang pada Allah. Tentu menjadi salah dan menyalahi akidah jika niat ziarah kubur kita untuk meminta doa pada para ahli kubur tersebut. Mereka tidak akan bisa menolong kita, mereka hanya sedang bergembira. Seperti kita yang bersuka cita menyambut Ramadan, para penghuni kubur pun juga. Dengan izin Allah, mereka akan terbebas dari siksa kubur pada Ramadan yang mulia.


Berburu tiket mudik sejak sekarang pun boleh saja. Tapi jangan sampai semangat kita berhari raya mengalahkan kesiapan kita berjuang pada bulan yang juga disebut Bulan Alquran ini. Yuk, niatkan untuk mengkhatamkan Alquran di bulan ini. Siap?


Salam,

No comments:

Post a Comment