My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Ini Dia Risiko Bergaya Rambut Pendek untuk Perempuan



Sejak memutuskan untuk mengenakan jilbab pada tahun 2001, saya cenderung menyukai gaya rambut pendek. Rasanya kok lebih praktis. Praktis, karena saya tidak perlu menyisir rambut terlalu lama. Iya, dong. Walaupun berjilbab, menyisir rambut menjadi sebuah kewajiban. Saat di rumah kan yang tampak adalah kerapian rambut kita, bukan jilbabnya. 

Menjelang menikah, saya sempat memanjangkan rambut sampai di bawah baju. Kadang kangen punya rambut panjang, gitu. Sebenarnya agak gerah, sih. Waktu itu saya masih bermukim di Batam yang cuacanya lumayan panas.

Setelah menikah, saya memutuskan untuk memangkas rambut. Tentu saja saya meminta izin kepada suami terlebih dahulu. Beliau sih oke-oke saja. Walaupun sebenarnya, wajah saya jadi terlihat lebih bulat dengan potongan rambut pendek. Kalau boleh dibilang, inilah sisi minus dari memiliki gaya rambut pendek untuk saya. 


Tidak semua orang yang bergaya dengan rambut pendeknya akan terlihat lebih chubby seperti saya, sih. Itu tergantung dari bentuk wajah mereka masing-masing. Mengutip pernyataan Jordi Martinez, seorang hairstylist, gaya rambut pendek seperti bob akan terlihat flattery untuk mayoritas bentuk wajah. Tapi gaya potongan rambut bob yang terlalu pendek -misalnya di atas kuping- akan membuat wajah yang berbentuk bulat terlihat semakin lebar. Oh, no! 

Ada catatan lagi untuk mereka yang memiliki wajah berbentuk oval atau segitiga, sebaiknya menghindari gaya potongan rambut yang pendeknya sejajar dengan dagu. Itu akan membuat bentuk wajah terlihat lebih 'panjang'. Terlalu tirus juga kurang sedap dipandang, bukan? 

Jenis rambut saya itu bergelombang; jelas bukan rambut lurus tapi juga tidak keriting. Setelah saya memilih bergaya rambut pendek, rambut saya kok terasa lebih mengembang seperti adonan donat, hehe... Begitulah risiko lain memilih bergaya rambut pendek.

Sebaliknya, para pemilik rambut keriting yang memangkas pendek rambutnya akan mendapati rambut yang lebih menipis. Hmm, saya jadi teringat almarhum Bapak yang berambut keriting. Setiap kali beliau selesai potong rambut, memang rambut keriting beliau jadi terlihat menipis. 

Gaya rambut pendek untuk rambut bergelombang saya juga membuat kondisi rambut lebih cepat berantakan. Iya, dong. Saya tidak bisa menguncirnya lagi. Saya pun menyiasatinya dengan mengoleskan minyak kemiri atau kondisioner tanpa bilas. Kadang saya juga memakai bando agar rambut lebih bisa diatur. Rapi, deh. Pun saat mendirikan salat, biasanya ujung-ujung rambut juga jadi keluar dari kain mukena, gitu. Alhasil, saya harus memakai dalaman setiap kali salat, seperti saat saya mengenakan jilbab. 


Info lain yang pernah saya baca, bergaya rambut pendek mengharuskan kita lebih sering keramas. Rambut pendek disebut-sebut lebih mudah lepek dan berminyak. Hmm, benar juga, nih. Walaupun pemakaian shampo lebih sedikit setiap kali keramas, tapi volume keramas jadi lebih sering. So, jangan dikira dengan punya rambut pendek itu membuat kita bisa ber leha-leha dengan jarang keramas. Rambut harus tetap terlihat terawat dan bersih, dong.

Sampai sekarang saya maksimal memanjangkan rambut hanya sampai di atas bahu. Jika sudah menyentuh bahu, saya segera memangkas nya lebih pendek. Mungkin suatu saat saya akan mencoba memiliki rambut panjang sepunggung. Pernah sih dulu saat saya masih anak-anak.


Untuk memiliki rambut panjang lagi memang memerlukan waktu yang lama. Sudah risiko, sih. So, buat teman-teman yang ingin memangkas rambut, pikirkan baik-baik, ya. Harus punya stok kesabaran menunggu rambut bertambah panjang setengah inchi setiap bulannya. 

Jadi, teman-teman termasuk tim #2019GantiGayaRambutPendek atau bukan, nih? 


Salam, 
Tatiek Purwanti




Referensi:
https://m.beautynesia.id/10397?co=02201

Sumber gambar: pexels

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge

#Day13

No comments:

Post a Comment