My Lifestyle, My Journey, My Happiness

October 11, 2019

Mudah Didapat, 5 Makanan Penurun Kolesterol Paling Ampuh Ini Patut Dicoba

by , in

Tidak hanya ada terdapat di tubuh orang dewasa saja, bahwasanya kandungan kolesterol ternyata ada di dalam tubuh setiap manusia. Namun, kandungan kolesterol yang ada di tubuh manusia memiliki dua jenis. Dimana diantara jenis kolesterol tersebut, ada yang berbahaya bagi tubuh. Sehingga, jika Anda salah makan, dan kandungan kolesterol menjadi tinggi, maka sangat disarankan untuk menurunkannya. Tidak sulit, Anda hanya cukup mengonsumsi makanan penurun kolesterol paling ampuh yang biasa direkomendasikan dokter.

Pasalnya, batas normal kolesterol dalam tubuh biasanya ada pada angka 160-200 mg saja, sehingga jika kadar kolesterol dalam tubuh Anda melebihi angka tersebut, artinya Anda harus waspada. Karena, memiliki kadar kolesterol yang tinggi dalam tubuh dapat menyebabkan berbagai penyakit dan juga menyumbat aliran darah. 

Maka dari itu, sangat penting bagi Anda yang sering mengalami kolesterol tinggi, untuk rutin mengonsumsi makanan penurun kolesterol paling ampuh. Namun, ternyata kolesterol tidak hanya menyerang orang tua saja, bahkan anak-anak pun bisa terserang, jika tidak memperhatikan pola makan dan jenis makanan.

Pasalnya makanan yang memiliki kandungan lemak yang tinggi, akan memperbesar kadar kolesterol dalam tubuh Anda, seperti makan gorengan, daging kambing, susu, dan makanan yang mengandung lemak tinggi lainnya. 

Nah, daripada khawatir memikirkan penyakit yang akan ditimbulkan dari kolesterol, lebih baik Anda simak ragam makanan penurun kolesterol paling ampuh sekaligus yang mudah didapat berikut ini:

1. Jeruk nipis

Makanan penurun kolesterol paling ampuh yang pertama adalah jeruk nipis. Kaya dengan kandungan flavonoid, jeruk nipis disebut bisa melindungi tubuh dari bahaya radikal bebas, dimana flavonid yang ada dalam jeruk nipis ini sangat berperan aktif sebagai anti-oksidan. 


Nah, bagi Anda yang merasa kadar kolesterol di tubuh Anda tinggi, Anda bisa rutin mengonsumsi perasan jeruk nipis yang dicampur dengan segelas air hangat di pagi hari setelah bangun tidur. 

2. Biji-bijian utuh

Makanan penurun kolesterol paling ampuh selanjutnya ada biji-bijian utuh, dimana biji-bijian utuh dapat meningkatkan kemampuan sel di dalam tubuh, agar bisa berkembang dengan baik. Sehingga bisa mencegah efek dari radikal bebas baik dari luar atau dalam tubuh. Biji-bijian utuh tersebut diantaranya adalah seperti kacang almond, kuaci, mete dan lain-lain. 


Tidak hanya itu, biji-bijian utuh juga menyediakan berbagai nutrisi seperti protein, fiber, zat besi, magnesium, fosfor, seng tembang, mangan, selenium, dan vitamin B. Sehingga, biji-bijian utuh sangat dibutuhkan sebagai makanan penurun kolesterol tinggi paling ampuh. 

3. Brokoli

Tidak hanya buah jeruk nipis dan biji-bijian, sayuran brokoli juga disebut sebagai makanan penurun kolesterol paling ampuh. Pasalnya, brokoli mengandung serat yang tinggi, sehingga bisa menurunkan kadar kolesterol jahat yang ada di dalam tubuh. 


Selain itu, brokoli juga membantu proses detoksifikasi tubuh secara alami. Anda bisa mengonsumsi brokoli dengan cara direbus atau dikukus. Disarankan juga jangan memasak brokoli menggunakan minyak dan bahan yang mengandung lemak lainnya. 

4. Cokelat hitam

Jika makanan penurun kolesterol paling ampuh di atas mungkin rasanya kurang nikmat, namun berbeda dengan cokelat hitam ini. Cokelat hitam juga disebut ampuh untuk menurunkan kadar kolesterol tinggi sekaligus menikmati rasanya yang enak.


Alasan lain mengapa cokelat hitam bisa menurunkan kolesterol adalah, karena adanya kandungan theobromine, yang berkhasiat untuk menurunkan kolesterol jahat dan menambah kolesterol baik.

5. Salmon

Meski tidak disarankan makan daging, namun tidak untuk daging ikan salmon ini. Karena salmon dipercaya sebagai makanan penurun kolesterol paling ampuh. Memiliki kandungan minya Omega-3 membuat salmon bermanfaat untuk kesehatan, karena mampu menangkal penyakit jantung, demensia, dan penyakit lainnya. 


Nah, itu dia beberapa makanan penurun kolesterol paling ampuh, yang sering dijadikan bahan rekomendasi. Tidak hanya ada 5, ternyata beberapa makanan yang sering dianggap remeh ini juga bisa menurunkan kadar kolesterol loh. Penasaran? Untuk informasi lengkapnya bisa Anda baca di link artikel berikut ini: https://www.cekaja.com/info/ini-daftar-makanan-penurun-kolesterol-cek-yuk/


Salam sehat,






Sumber gambar: pixabay
October 07, 2019

Boneka Teddy Bear dan Kisah di Baliknya

by , in


"Mi, boneka Teddy-nya gak dibawa sama Mbak?" tanya si kecil Akmal suatu hari. 

Saat itu kakaknya sudah berada di pondok pesantren. Dilihatnya tiga buah boneka Teddy Bear milik Afra masih menghuni rak di kamar.

"Tidak, Nak. Boneka Teddy-nya main di sini saja bersama Adek," jawab saya.

Ah, tiga buah boneka Teddy itu termasuk boneka kesayangan Afra. Salah satu diantaranya adalah hadiah dari sahabatnya. Sebenarnya sih boleh membawa boneka ke pondok pesantren. Tapi saat itu mungkin barang bawaan Afra sudah banyak, jadi tidak terpikirkan olehnya untuk membawa serta salah satu dari Teddy-nya.

Saya jadi teringat saat dulu memperkenalkan dan menceritakan sejarah Teddy Bear padanya. Ya, boneka Teddy Bear termasuk boneka yang paling disukai oleh anak-anak di penjuru dunia. Bahkan, boneka beruang lucu itu juga menjadi sahabat Mr. Bean. Tetapi, Teddy yang di serial Mr. Bean itu adalah Teddy Bear yang sedang diet, hehe... 

Berawal dari Hobi Presiden

Ada sumber yang menyebutkan bahwa nama Teddy Bear itu berasal dari kisah Presiden Amerika Serikat, Theodore Roosevelt. Saat itu, beliau punya hobi berburu binatang termasuk beruang.

Suatu hari, Presiden Roosevelt mendapatkan undangan dari Gubernur Mississippi, Andrew H. Longino, untuk berburu beruang. Dia harus berkompetisi dengan para pemburu lain. Mereka pun mulai berburu beruang di kawasan Glenwood Springs, Colorado.

Sayangnya, Sang Presiden tak kunjung mendapatkan buruannya. Dia pulang dengan tangan hampa. Sesampainya di hotel, seorang pegawai hotel memberinya sebuah hadiah berupa boneka beruang yang ternyata membuatnya terhibur.

Akhirnya, boneka beruang itu diberikan kepada anak Presiden yang bernama Alice. Oleh Alice-lah lantas boneka beruang itu diberi nama Teddy.

Kartun yang Menginspirasi

Pada harian The Washington Post edisi 16 November 1902 terdapat sebuah gambar kartun hasil karya Clifford Berryman. Kartun itu menggambarkan seekor beruang hitam yang terikat, juga sosok Theodore Roosevelt yang membelakangi si beruang berwarna hitam itu.

Kartun itu membuat Morris Michtom terinspirasi. Ia mendapat ide untuk membuat sebuah boneka beruang yang akan diberi nama "Teddy's Bear" alias Beruang-nya Teddy, nama panggilan Theodore Roosevelt. Sebelumnya, Michtom tentu saja meminta izin kepada Sang Presiden dan hal itu disetujui.

Ternyata, boneka dengan label "Teddy's Bear" itu mendapatkan sambutan yang baik dari anak-anak. Mereka begitu menyukainya. Maka Michtom pun mendirikan perusahaan mainan bernama Ideal Novelty and Toy Co. di New York untuk memproduksinya secara massal.

Sejak saat itulah boneka Teddy's Bear diproduksi dimana-mana di seluruh dunia. Dia disukai dari generasi ke generasi. Lama-lama sebutannya menjadi Teddy Bear.

Harga boneka Teddy Bear tentu saja bervariasi. Namun ada boneka Teddy Bear paling mahal yang pernah terjual 176 ribu dollar atau setara 1 miliar rupiah jika di-kurs-kan sekarang. 

Nah, boneka-boneka Teddy Bear milik Afra kini diwarisi si Adek. Tidak dibuat mainan sebagaimana anak cewek, sih. Sesekali saja dijadikan sebagai "murid-murid" atau "penonton" saat Adek dan saya bermain-main. Asyiknya!

Kira-kira, boneka apalagi ya yang melegenda seperti Teddy Bear ini? 


Salam, 
Tatiek









#ODOPDay30
October 07, 2019

Air Terjun Coban Baung, Indah dalam Novel dan Kenyataan

by , in

"Ah, air terjun baginya selalu memesona. Meskipun ia terlihat tinggi, justru pesonanya karena ia tak pernah lupa untuk mengaliri dan berbaur dengan sungai di bawahnya. Ia memang selalu terjatuh dari atas. Tapi ia tak bosan menjatuhkan dirinya demi sebentuk keindahan."

(The Fear Between Us, My Novel, page 40)

Adalah air terjun Coban Baung yang saya jadikan salah satu latar tempat dalam novel pertama saya, The Fear Between Us. Semata karena saya sendiri begitu menyukai air terjun walaupun belum banyak sih air terjun yang saya kunjungi. Yang penting, sukai dulu. Hehe.


By the way, Coban adalah sebutan umum untuk air terjun yang ada di kawasan Malang sini.

Saat menulis novel tersebut, sebenarnya saya belum pernah mengunjungi Coban Baung. Informasi tentang destinasi wisata itu saya dapat dari teman dan googling. Tak harus ke sana untuk mendeskripsikan tempat yang saya tuliskan, pikir saya saat itu. Tetapi, diikuti oleh keinginan bahwa suatu saat nanti saya harus melihat si air terjun dengan mata kepala sendiri.

Coban Baung, The Hidden Paradise

Coban Baung terletak di Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Dari Kota Malang, masih harus menuju arah selatan sekitar 10 kilometer, lantas melewati Jalur Lintas Barat (Jalibar) menuju arah Kecamatan Ngajum yang berada di sebelah barat.

Saya sekeluarga sebenarnya bertujuan pergi ke rumah adik yang berada di Desa Plaosan, Kecamatan Ngajum. Setelah puas bersilaturahmi di sana, kami pun menuju lokasi air terjun yang sebelumnya tidak begitu dikenal itu. Ya, sampai sekarang pun saya kira orang-orang lebih mengenal Coban Rondo yang terletak di Kecamatan Pujon sana.

Untuk menuju ke Coban Baung, kami memilih meminjam motor dan meninggalkan mobil di rumah adik saya. Lebih leluasa karena jalan menuju ke sana naik turun, walaupun beraspal halus, sih.


Sekitar lima belas menit kemudian, rombongan kami sampai di gerbang Coban Baung. Ada banner besar yang menunjukkan lokasi air terjun setinggi 71 meter itu. Seorang penjaga yang sudah berisi lanjut menginformasikan harga tiket masuk yang harus saya bayar. Cukup murah. Hanya dengan membayar tiket masuk sebesar Rp 5.000 per orang, dengan biaya parkir Rp 2.000 untuk motor.

Kami berfoto sejenak di gang kecil menuju lokasi air terjun. Memang, suasana sekitar tampak masih alami sekali. Kami mulai melangkah menuruni jalan setapak yang lumayan sempit. Sebaiknya sih memakai sandal gunung atau sepatu kets karena jalannya masih berupa tanah tidak rata. Kalau terkena air hujan pasti jadi licin, tuh.

Walaupun demikian, si kecil Akmal tidak minta gendong. Dia dengan riang berjalan dengan digandeng Si Abi. Anak pinter 😘 Sementara Afra dan Azka, sepupu kecilnya, berjalan bergandengan juga dengan gembira. Saya sendiri berjalan santai beriringan dengan ibu dan adik saya. Sesekali saya memotret sekitar. 


Entah kami berjalan menuruni jalan setapak selama berapa menit. Beberapa saat kemudian, gemuruh air terjun mulai terdengar. Alhamdulillah, sedikit lagi! Ada sungai kecil yang harus diseberangi sebelum mencapai air terjun yang letaknya agak mendaki.

Potensi Wisata yang Harus Dipromosikan

Masya Allah. Coban Baung memang cantik. Tidak kalah cantik dari Air Terjun Grojogan Sewu ataupun Air Terjun Jumog. Ia hanya kurang dipromosikan. Mungkin juga letaknya yang jauh dari destinasi wisata yang lain, tidak seperti Coban Rondo. Terbukti, saat itu tidak banyak pengunjung lain yang berada di sana.

Beberapa saat lamanya kami bermain hujan-hujanan dengan siraman air Coban Baung yang segar itu. Saya memilih tidak turun ke sungai. Hanya Si Abi dan si kecil yang bermain-main dengan aliran air sungai. Mereka asyik saja walaupun bagian bawah celananya basah. 


Ingin rasanya berlama-lama di sana. Tentu saja itu tidak mungkin karena hari semakin beranjak sore. Alhamdulillah, niat saya untuk berkunjung ke salah satu latar novel saya sudah terlaksana. Ada sebuah kelegaan tersendiri. Bagi orang lain mungkin itu momen biasa saja, tapi bagi saya hal tersebut begitu bermakna.

So glad to see you, Coban Baung!



Salam, 
Tatiek





#ODOPDay29
October 07, 2019

Mengunjungi Masjid Muhammad Cheng Hoo Pandaan yang Menawan

by , in


Adalah sebuah kebiasaan bagi keluarga kami untuk melaksanakan prinsip "sekali dayung, dua-tiga pulau terlampaui" saat bepergian. Setelah sampai di tempat tujuan, -kalau memungkinkan- kami berusaha mampir di tujuan lain yang searah. Tak lain agar perjalanan kami bisa full manfaat dan full pengalaman. Hemat juga, dong. 😉

Begitu pula saat saya sekeluarga mengunjungi Kebun Raya Purwodadi di Pasuruan. Saya dan suami berencana berangkat pagi-pagi agar tidak terkena macet. Kawasan Malang Utara begitu terkenal dengan kemacetannya jika tidak disiasati dengan berangkat pagi-pagi. Selain itu, kami ingin mampir dulu ke sebuah masjid cantik yaitu Masjid Muhammad Cheng Hoo di Pandaan, Pasuruan.

Alhamdulillah, strategi yang pas karena mobil kami bisa melaju bebas hambatan karena kami sudah berangkat dari rumah sejak pukul 6 pagi. Lancar jaya. Bahkan saat kami memasuki area Singosari dan Lawang di Malang Utara, tidak ada kemacetan sama sekali. Wah, senangnya. Padahal kawasan itu terkenal sebagai kawasan padat merayap.

Sempat berhenti sebentar di jalan untuk sarapan, kami pun meneruskan perjalanan ke tujuan kedua. Sebenarnya, Masjid Muhammad Cheng Hoo justru terletak di bagian utara Kebun Raya Purwodadi, tujuan pertama kami. Namun, acara kopdar komunitas di Kebun Raya Purwodadi masih berlangsung pukul 9. Cuzz dulu lah ke Pandaan.

Cukup mudah menemukan Masjid Muhammad Cheng Hoo yang arsitekturnya mirip dengan klenteng itu. Masjid tersebut terletak di Jalan Raya Kasri nomor 18 alias di jalan raya utama pada pertigaan arah menuju Pasuruan, Malang, dan Surabaya. Tidak terlalu jauh dari Terminal Pandaan.

Masjid seluas 550 meter persegi ini dibangun dengan anggaran sekitar 3,2 milyar rupiah yang berasal dari Pemerintah Kabupaten Pasuruan. Diresmikan pada tanggal 27 Juni 2008 oleh Bupati Pasuruan saat itu, H. Jusbakir Aldjufri. Wah, saat itu saya masih berada di Batam.

Sesuai dengan namanya, masjid ini bertujuan untuk menghargai jasa Laksamana Muhammad Cheng Hoo dalam usahanya menyebarkan ajaran Islam di Jawa Timur. Masjid ini juga menjadi tempat berkumpul Komunitas Tionghoa Muslim Indonesia area Jawa Timur. Biasanya, mereka mengadakan acara di lantai satu masjid yang memang merupakan ruang pertemuan.

Langit begitu cerah saat kami tiba di sana. Terlihat para pesepeda melepas lelah di area gerbang masjid yang megah. Beberapa diantara mereka mengabadikan diri berlatar masjid. Harus bergantian karena pengunjung lain juga sikit berganti ingin berfoto di sana.

Suami saya memarkirkan mobil di sebelah kiri masjid. Lahan parkirnya cukup luas. Sip, deh. Kawasan Masjid Muhammad Cheng Hoo Pandaan ini memang jauh lebih luas daripada Masjid Muhammad Cheng Hoo yang ada di Surabaya.

Kami melangkah perlahan ke pelataran masjid, menatap bagian atas pintu masjid bagian depan yang bertuliskan lafaz Allah. Masjid berwarna merah ini sebenarnya tidak hanya bergaya ala Tiongkok tapi juga ada unsur Jawa dan Arabnya juga. Lengkap, deh.

Ornamen ala Tiongkok tampak jelas pada lampion-lampion merah yang bergantung di dekat pintu masuk itu. Terdapat pula prasasti yang menjelaskan tentang Laksamana Muhammad Cheng Hoo dengan ukir-ukiran indah. Benar-benar instagramable! Di sebelahnya ada jam lonceng klasik yang menambah daya tarik bagian depan masjid.

Suami saya melangkah ke ruang wudhu, hendak menunaikan salat Dhuha. Saya menjaga si kecil yang tampak antusias naik turun tangga masjid yang berada di kiri dan kanan pintu masuk. Sesekali dia berguling-guling asyik. Hmm... Benar-benar harus dijagain, nih. It's okay sepanjang dia tidak mengacau di ruang utama salat.

Setelah suami saya selesai, giliran saya yang menuju kamar mandi masjid. Saat itu suasana cukup sepi. Wah, kamar mandinya bersih dan wangi. Ini yang saya suka. Takmir masjidnya rupanya cukup cermat. Ya, kadang keindahan sebuah masjid itu bisa berkurang gara-gara kamar mandinya yang kurang terjaga.

Nah, di luar kamar mandi wanita yang berbatasan dengan teras masjid lantai bawah itu ada lapak penjual beraneka asesoris yang berhubungan dengan Masjid Muhammad Cheng Hoo, seperti kaus, gantungan kunci, dll. Sayangnya, saat itu lapaknya belum dibuka.

Saya meneruskan langkah ke ruang salat wanita di lantai dua dengan menaiki tangga di sebelah kanan masjid. Ruangan salatnya berwarna dominan merah dihiasi emas. Tampak lega dan cantik. Adem rasanya salat di sana. Beberapa waktu lamanya memang saya habiskan untuk memandang sekitar terutama bagian atas langit-langit masjid.

Setelah merasa cukup, saya kembali turun ke bawah menemui si kecil dan suami. Sebenarnya saya ingin melihat-lihat juga koleksi perpustakaan yang ada di lantai satu. Tapi sepertinya belum dibuka, sama dengan lapaknya tadi.

Jadi? Kami memutuskan untuk duduk-duduk di pinggiran pelataran masjid. Suasana masih tampak ramai seperti tadi. Masih juga orang-orang berganti berfoto di depan gerbang atau depan masjid. Banyak juga rupanya yang sekadar singgah untuk melihat-lihat tanpa melakukan salat. It's okay.

Sebenarnya ingin berlama-lama di sana. Apalagi si kecil tampak betah karena areanya cukup luas. Tapi karena waktu terus bergerak, kami harus segera menuju Kebun Raya Purwodadi. InsyaAllah kapan-kapan saya ingin mampir ke Masjid Muhammad Cheng Hoo itu lagi. 

Teman-teman, jika suatu saat melintasi Jalan Raya utama Pandaan, jangan lupa mampir ke Masjid Muhammad Cheng Hoo ini, ya. Atau ada yang sudah pernah singgah?

Masjid Muhammad Cheng Hoo
Jl. Petung Sari, Petungasri, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur (67156)



Salam pecinta masjid, 
Tatiek



#ODOPDay28
October 07, 2019

Mengenal 5 Masjid Pertama di Negeri Minoritas Muslim

by , in

Pembicaraan tentang masjid selalu menarik perhatian saya, baik dari segi dakwah, bangunan, atau kisah-kisah di baliknya. Sebisa mungkin, saya ingin mengunjungi masjid yang menarik perhatian saya itu. Ingin meninggalkan jejak sujud saya di sana. Semoga lantai masjid itu kelak menjadi saksi sebagai bumi yang pernah saya pergunakan untuk menyembah Allah Swt. Aamiin.

Begitu mudah menemukan masjid di negeri ini. Namun ada PR yang merupakan tugas kita bersama yaitu memakmurkannya, tak hanya membangunnya semegah mungkin.

Lalu bagaimana dengan masjid di luar negeri sana? Khususnya masjid yang didirikan di negara dimana muslim menjadi minoritas?

Ini dia 5 masjid yang pertama berdiri di sana:

1. Masjid Raya Xi'an

Ini adalah masjid besar pertama yang berdiri di Cina. Letak masjid ini berada di Kota Chang'an yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kota Xi'an.

Masjid Raya Xi'an ini sudah didirikan sejak abad ke-8 Masehi. Tentu saja ada beberapa kali renovasi yang dilakukan pada masjid raya ini. Adapun renovasi terakhir Masjid Raya Xi'an terjadi pada abad ke-18 Masehi dengan mengubah bentuk masjid sesuai dengan gaya arsitektur Tiongkok.

Bentuk Masjid Raya Xi'an ini khas, berbeda dengan masjid-masjid di Cina bagian barat, misalnya di daerah Xinjiang. Di sana, bentuk masjid-masjidnya serupa dengan arsitektur Arab yaitu memiliki kubah dan menara.

2. Vienna Islamic Center

Masjid Islamic Center Wina di Austria dibangun pada tahun 1975 sampai tahun 1979. Raja Saudi Arabia saat itu, Raja Faisal bin Abdul Aziz, menyumbangkan dana untuk pembangunan masjid ini.

Sebelumnya, pada tahun 1968 ada 8 negara Islam yang melakukan "patungan" untuk membeli lahan yang akan didirikan masjid di atasnya. Hal ini tentu saja telah disetujui oleh pemerintah Austria.

Dalam prasasti pembangunan Vienna Islamic Center tertulis: "Vienna Islamic Center. Pembangunan atas inisiatif beberapa kedutaan besar negara-negara Islam, terutama Raja Faisal bin Abdul Aziz dari Saudi Arabia. Peletakan batu pertumbuhan pada 28 Februari 1968. Diresmikan pada 20 November 1979 bertepatan 1 Muharram 1400 H oleh Presiden Austria, Dr. R. Kirschschlager."

3. Masjid Kobe

Masjid pertama di Jepang ini didirikan pada bulan Oktober 1935 di Kota Kobe. Dana untuk membangun masjid ini berasal dari sumbangan Komite Islam Kobe. Arsitek masjid ini adalah seorang berkebangsaan Ceko yaitu Jan Josef Svagr. Dia merancang Masjid Kobe dengan gaya arsitektur Turki tradisional.

Tercatat, ada dua peristiwa penting yang berkaitan dengan masjid ini. Pertama, pada tahun 1943, Masjid Kobe pernah ditutup oleh Angkatan Laut Kekaisaran Jepang alias saat terjadi Perang Dunia II.

Kedua, Masjid Kobe memiliki ruang bawah tanah dan struktur bangunan yang kuat sehingga masjid ini tetap utuh saat terjadi gempa bumi Hanshin pada tahun 1995. Alhamdulillah.

4. Masjid Shah Jahan

Masjid pertama di Inggris ini dibangun pada tahun 1889 sehingga masjid ini sekarang tercatat sebagai bangunan bersejarah. Pencetus pembangunan Masjid Shah Jahan adalah seorang dokter berkebangsaan Hungaria yaitu Dr. Gottlieb Wilhelm Leitner.

Masjid yang terletak di Jalan Oriental, Woking, ini dibangun dengan arsitektur cantik bergaya India Mughal. Masjid ini pernah mengalami renovasi pada tahun 1995 dan bentuknya tetap cantik.

5. Masjid North Dakota

Inilah masjid pertama yang didirikan di tanah Amerika Serikat pada tahun 1929. Pendirinya adalah para imigran muslim dari Lebanon dan Suriah. Mereka adalah para pekerja yang berniat juga untuk berdakwah menyebarkan Islam di Amerika.

Awalnya, mereka membangun sebuah masjid di tengah padang rumput dengan bentuk seperti rumah pada umumnya. Tidak ada ornamen khas masjid. Sungguh sangat sederhana, dengan ukuran 33 meter persegi. Sekarang, bentuknya lebih menyerupai masjid dengan ada kubah di atasnya.

Wah, sungguh masjid-masjid bersejarah yang mengandung banyak kisah. Ada niat mulia dari para pendirinya. Juga ada semangat juang untuk mensyiarkan Islam dengan kondisi yang "semampunya". Allah Swt yang akan memberi balasan yang baik pada mereka.

Sungguh, ini adalah 5 masjid yang layak dikunjungi. Mungkin enggak, ya?



Salam pecinta masjid,
Tatiek



#ODOPDay27
October 07, 2019

Liburan Hemat Sekeluarga dengan Kantong Terjaga? Ini Dia Caranya!

by , in

Liburan terbaik bagiku bukan tentang seberapa mewah, melainkankan tentang kebersamaan keluarga yang senantiasa terkenang indah. -- My Quotes

Bagi banyak orang di zaman kiwari ini, liburan sudah menjelma menjadi sebuah kebutuhan. Ini bisa dilihat dari semakin menjamurnya destinasi wisata sebagai tujuan liburan, lalu cepat tersebarnya info tentangnya. Tak lama kemudian, bertebaranlah foto-foto menarik di instagram berikut caption tentang kisah liburan tersebut.

Tidak jauh berbeda dengan dunia blogging. Para travel blogger -ataupun bukan travel blogger tapi agak suka pergi seperti saya- juga ramai-ramai mengulas kisah liburan mereka. Kalau di masa saya kecil dulu, liburan merupakan kebutuhan tersier, kini polanya sepertinya berubah. Mungkin jadi sekunder atau bahkan primer.

Kalau saya sih iyes. Setiap kali ada kesempatan untuk berlibur, akan saya manfaatkan sebaik-baiknya bersama keluarga. Liburan bareng teman sangat jarang saya lakukan. Lha semua sudah pada terbang kemana-mana. Pun juga mereka memilih berlibur dengan keluarganya juga, dong.

Mengambil kesempatan untuk liburan bareng anggota keluarga itu lebih mudah dilakukan karena tentu saja kami berada di tempat start yang sama. Bikin rencana mendadak pun kadang juga bisa. Pun biaya yang dikeluarkan untuk liburan bisa kita tekan tanpa sungkan-sungkan, hehe.

Bukan berarti saya menolak liburan bareng teman lho, ya. Sesekali tentu saja saya mau dengan syarat yang sudah disepakati bersama.😉

Back to the laptop... 

Ini sebenarnya latepost. Pernah sedikit saya ulas di instagram dan sekarang saya tulis ulang dalam versi yang lebih panjang. Jadi cerita kali ini adalah liburan seru bareng keluarga ke tempat yang jauh tapi dengan biaya minim. Memangnya bisa? Bisa, dong.

Itu terjadi saat liburan lebaran kemarin. Saya dan suami berunding agar saat libur lebaran, kami sekaligus bisa berlibur ke tempat lain dengan biaya minim. Caranya seperti ini:

1. Memanfaatkan libur lebaran

Menurut banyak orang, perjalanan saat libur lebaran itu mahal. Sebenarnya sih tidak sepenuhnya begitu. Saya sekeluarga yang berasal dari Malang bisa kok pergi ke Yogyakarta dalam waktu sekitar 2 jam saja.

Bisa, dong. 'Kan saat mudik ke Solo kemarin, saya sekeluarga sekalian mampir ke Yogyakarta. Kami ingin menerapkan 3H: Hemat biaya, hemat waktu, hemat tenaga. 😁

Untuk menuju Yogyakarta, kami menaiki mobil sendiri. Hemat bahan bakar karena mobil kami adalah golongan kendaraan lama yang hanya "minum" secukupnya tapi tetap bisa melaju dengan lancar jaya.


Yogyakarta macet saat libur lebaran? Ah, tidak juga. Kami berangkat pagi-pagi sekali selepas subuh. Bahkan saat itu si kecil masih tertidur, hehe. Angkut saja. Rencananya sih si kecil mandi di tempat tujuan saja. Nah, ini namanya hemat waktu yang juga hemat tenaga karena terhindar dari kemacetan.

Hal yang sama bisa teman-teman lakukan saat libur lebaran, libur sekolah, atau libur apa saja. Jika memungkinkan, mampir saja ke kota sebelah. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampau, dong.

2. Memilih hotel bertarif murah

Tujuan utama kami pergi ke Yogyakarta adalah berwisata religi ke Masjid Jogokariyan yang berada di wilayah Kecamatan Mantrijeron. Tidak sulit menemukan lokasinya karena suami saya sudah pernah dua kali pergi masjid yang disebut-sebut memiliki manajemen terbaik di Indonesia itu.

Kami memutuskan untuk menginap di Hotel Jogokaryan, sebuah hotel kecil yang letaknya hanya sepelemparan batu dari Masjid Jogokariyan. Ya, tentu saja agar kami bisa salat berjamaah di sana. 


Fiuhh, saat itu hotelnya hampir full booking. Hotelnya sederhana tapi tetap nyaman menurut saya. Kami kebagian kamar yang tanpa AC dengan tarif Rp 200.000 saja semalam. It's okay. 'Kan tujuannya memang liburan hemat 😉 Alhamdulillah, saat itu cuaca Yogyakarta cukup bersahabat alias lumayan sejuk.


3. Berjalan kaki dan memilih destinasi wisata murah meriah

Setelah check-in, kami sarapan dan mengunjungi Masjid Jogokariyan untuk melakukan salat Dhuha sekaligus ngadem sebentar. Setelah itu, kami menuju Jalan Malioboro dengan becak motor. Seru!

Mobilnya ditinggal di parkiran hotel saja karena menurut suami, arus ke Malioboro macet pada jam segitu. Sesampainya di sana, tentu saja kami memilih berjalan kaki mengelilingi Malioboro dan sekitarnya. Tidak lagi naik becak. Ini namanya jurus hemat dan sehat. Alhamdulillah, anak-anak menikmatinya. Bahkan si kecil enggan digendong.

Puas mencuci mata di Malioboro, Pasar Beringharjo dan sekitarnya, kami mampir ke Museum Benteng Vredeburg. Harga tiket masuknya hanya Rp 3.000 untuk dewasa & Rp 2.000 untuk anak-anak. Sungguh murah meriah untuk ukuran destinasi wisata yang luas dan cukup bersih. Bersejarah pula.


Anak-anak semakin senang karena bisa berlarian di sana. Saat masuk ruangan diorama pun, hawanya sejuk karena AC-nya berfungsi dengan baik.

4. Membawa Bekal Sendiri

Wisata kuliner sungguh bertebaran di Malioboro. Kita tidak akan kelaparan jika berada di sana. Justru bisa kekenyangan jika tidak hati-hati. Kenyang dengan kantong yang jebol, hihi...

Nah, pada suasana lebaran seperti itu, saya tentu saja memanfaatkan snack yang melimpah di rumah. Dibawa saja. Tidak perlu banyak jajan lagi, yang penting cukup mengkonsumsi air minum agar tidak dehidrasi.

Iya, sih. Pada saat sore hari, kami juga mampir ke food court-nya Taman Pintar Yogyakarta untuk makan bareng, kok. Tidak anti beli. Hanya saja, kami membeli di saat yang tepat.


Nah, kira-kira caranya seperti itu. Cara yang membuat saya sebagai menteri keuangan keluarga tetap bisa tersenyum karena terhindar dari jebolnya kantong yang tak perlu. 

Bukan berarti kita tidak boleh merogoh kocek lebih dalam, sih. Ada saatnya kita harus mengeluarkan lebih banyak biaya saat liburan. Wajar saja. Jer basuki mawa beya, kata orang Jawa. Untuk bisa mendapatkan kebahagiaan itu memerlukan pengorbanan. Diantaranya adalah dengan mengeluarkan biaya.

Namun jika ada yang bisa dihemat, mengapa tidak? InsyaAllah, saya mau bersiap-siap lagi untuk liburan hemat sekeluarga Desember nanti. Hehe... 



Salam hemat, 
Tatiek





#ODOPDay26
October 07, 2019

Istimewanya Masjid Jogokariyan Yogyakarta

by , in

Being a Muslim is more than just going to the masjid. Allah wants your ‘attention’, not just your ‘attendance’. – Dr. Bilal Philips

Setiap kali saya bepergian sekeluarga, tempat yang hampir selalu kami kunjungi adalah masjid. Sejauh apapun kami pergi, ke tempat sekeren apapun, mendirikan salat adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi kami, rasanya lebih sreg jika saya sekeluarga melaksanakan salatnya di masjid. Sambil salat, sambil beristirahat, bahkan bisa sambil menitipkan infak yang dimasukkan ke kotaknya.

Ini bukan riya', InsyaAllah. Memang itu menjadi kebiasaan saya dan suami sejak punya anak. Setiap kali mampir ke masjid, maka masjid tersebut berhak menerima infak yang biasanya dimasukkan oleh anak-anak kami. Itu terjadi saat Afra masih kecil dan sekarang itu menjadi "tugas" adiknya, Akmal.

Infak ini begitu penting. Dari infak inilah operasional dan sebagian roda dakwah masjid yang membutuhkan dana dijalankan. Jika bukan kita sebagai jamaah yang "membantu" masjid, lalu siapa lagi? Maka menjadi sebuah kewajiban dari pengurus masjid untuk mengelola infak itu dengan baik. Mulai dari mengumpulkan, menghitung, mengatur penggunaan, sampai melaporkannya kepada jamaah. Ya, karena infak adalah amanah dari jamaah untuk jamaah.

Di masa muda dulu, saya pernah menjadi pengurus remaja masjid yang terletak di kawasan industri tempat saya bekerja di Batam. Ada sebuah kebiasaan dari pengurus masjid untuk mengumumkan perolehan infak yang didapatkan sebelum mengadakan pengajian umum di malam Ahad. Ini juga rutin dilakukan saat hendak salat Jumat. 

Bila perolehan infaknya banyak, tentu saja semua yang mendengarkan juga ikut bersyukur. Pengumuman lanjutannya adalah jumlah saldo infak tersebut yang biasanya masih dalam hitungan jutaan. Alhamdulillah, masih banyak, begitu biasanya komentar orang-orang yang menyimak dan mendengar pengumuman itu.

Apakah di tempat teman-teman juga begitu?

Nah, kebiasaan itu ternyata tidak berlaku bagi pengurus Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid yang terletak di daerah Mantrijeron ini dikenal sebagai masjid dengan saldo infak nol rupiah. Tentunya semua infak itu "larinya" pada kegiatan-kegiatan inovatif yang bernilai sosial keumatan. Antimainstream, bukan? 


Atas prestasi Masjid Jogokariyan ini, Ustaz Muhammad Jazir, Ketua Dewan Syuro Takmir Masjid Jogokariyan, mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Perubahan Republika 2018. Beliaulah tokoh penting di balik "keberanian" Masjid Jogokariyan mendobrak kebiasaan lama masjid-masjid di Indonesia yang "suka menumpuk infak" namun justru kurang gerak. Masjid "hanya" sekadar megah tapi kekuatan dakwahnya lemah.

Tentu, tidak dilarang untuk membangun masjid dengan bentuk seindah dan semegah mungkin. Bagaimanapun kita yang salat di masjid seperti itu akan merasa nyaman. Bisa jadi hal itu juga akan menambah kekhusyukan. Namun, seharusnya kemegahan itu juga diiringi dengan kemampuan solutif masjid untuk jamaah sekitarnya sebagai salah satu bentuk nilai dakwah.


Nah, Masjid Jogokariyan ini memang bentuknya tergolong sederhana dan tidak terlalu besar. Ia terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk yang lumayan padat. Tapi masjid ini istimewa. Setiap kali waktu salat tiba, pasti jumlah jamaahnya membludak, termasuk saat Salat Subuh tiba. Sementara masjid lain hanya punya 1 shaff jamaah saat subuh yang itupun tidak penuh. Apa rahasianya?

Tidak lain karena Masjid Jogokariyan telah menjalankan fungsinya dengan baik. Tidak hanya sekadar tempat ibadah tapi juga "rumah yang ramah" bagi jamaah. Saldo nol rupiah itulah bukti bahwa Masjid Jogokariyan turut menyelesaikan persoalan keumatan. Misalnya, pernah ada seorang jamaah yang sakit dan dia tidak mampu membayar biaya pengobatan. Takmir masjid Jogokariyan tergerak untuk mengalokasikan infak amanah jamaah untuk jamaah lain yang memang membutuhkan. 

Republika.co.id

Menurut Ustaz Jazir yang gemar berpakaian adat Jawa ini, pemenuhan kebutuhan masyarakat memang menjadi tujuan utama atas apapun yang akan dilakukan Masjid Jogokariyan. Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban sekaligus mengambil tiga peran pendidikan sebagaimana prinsip Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo atau di depan memberi contoh, ing madyo mangun karso atau di tengah memberi semangat dan tut wuri handayani atau di belakang memberi dorongan kepada masyarakat.

Lha kalau saldonya nol rupiah begitu, apa tidak takut kehabisan dana?

Ternyata, tingkat kepercayaan masyarakat yang berinfak dan berkunjung ke masjid itu justru meningkat. Sungguh sebuah keberkahan; semakin membantu orang, semakin banyak bantuan yang datang.


Sebagai perbandingan, kalau di tahun 2003, infak yang diterima dalam setahun "hanya" sejumlah 43 juta rupiah, maka di tahun 2018 sudah jauh meningkat menjadi 3,6 miliar rupiah. Dana selalu ada, mengalir, dan terus bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Masyarakat terayomi, pergi ke masjid pun dengan senang hati. 

Mampir ke Jogokariyan yang Menawan

Alhamdulillah, saya sendiri berkesempatan untuk mengunjungi masjid penuh berkah itu pada libur lebaran kemarin. Sambil mudik ke Solo, saya sekeluarga memanfaatkan waktu senggang selama sehari semalam untuk pergi ke Yogyakarta. 

Tujuan utamanya memang ke Masjid Jogokariyan, yang sudah lama ingin saya kunjungi tapi tak kunjung jua terjadi. Kalau suami saya sih sudah dua kali mampir ke sana dan itu membuat saya iri, hihi. Mungkin itu juga yang dirasakan banyak orang dari penjuru negeri ini yang penasaran dengan Jogokariyan dan ingin merasakan atmosfer keberkahannya.


Ternyata memang benar. Masjid itu tidak terlalu besar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Saya merasa nyaman sekali berada di sana. Setiap kali waktu salat tiba, masjidnya langsung terisi penuh. Selesai salat, masjid itu juga tak kunjung sepi. Ada saja para pengunjung yang datang dari daerah yang jauh. 

Saya sendiri sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pengunjung perempuan yang berasal dari Jakarta. Beliau dan rombongannya memang bertujuan ingin bertemu pengurus masjid dan melakukan studi banding. Beliau juga bertanya pada saya tentang "lowongan" penginapan yang terdapat di lantai dua masjid.

Nah, kalau penginapan Jogokariyan itu yang saya kurang tahu. Pastinya full booking, wong suasana lebaran begitu. Saya sekeluarga saat itu memilih untuk menginap di sebuah hotel kecil yang terletak tidak jauh dari Masjid Jogokariyan. Tujuannya pasti: ingin salat berjamaah di sana.

Sayangnya, saya justru tak banyak berfoto di sana. Mungkin karena sudah merasa lega dan terpesona dengan suasananya. Tapiii... Suatu hari saya ingin ke Jogokariyan lagi. InsyaAllah. 

Yuk, teman-teman, kita mampir ke Masjid Jogokariyan! 



Salam pecinta masjid,










#ODOPDay25

Sumber informasi: republika.co.id & pengalaman pribadi

October 07, 2019

Belajar Istiqamah dari Bilal bin Rabah

by , in

Segala puji bagi Tuhan
Hadir Muhammad bawa kebenaran
Walau disiksa dihina
Takkan sekali kuberpatah arah
Untukmu agamamu
Untukku kebenaran Tuhanku

Siksalah jasadku
Takkan kutunduk pada kejahilanmu
Kerna mengalir di seluruh tubuhku
Kalimah Tuhan dari lidah Rasulku
Dan itu yang kupercaya

Deritaku menjadi saksi bisu
Tanda kasihku kepada yang terulung
Walau disirami debu yang menangis
Genggamku ini tak kulepaskan

Panaslah Sang Mentari
Lafaz kalimah takkan kuhenti

("Kesaksian", by Tim Nasyid Brothers)


Jika ada kata-kata asing dari lirik nasyid di atas, memang demikianlah adanya. Bukan typo. Anak-anak rohis atau penggemar nasyid era di awal tahun 2000-an yang se-zaman dengan saya pasti paham. Yups, munsyid alias pembawa nasyid di atas berasal dari negeri jiran, Malaysia.

Saat kali pertama mendengarnya, saya kurang ngeh tentang maksud nasyid di atas. Itu tentang apa, sih? Saya baru paham saat mendengar penjelasan langsung personel The Brothers saat mereka melakukan jumpa fans di Masjid Nurul Islam, Muka Kuning, Batam pada tahun 2002. (Duh, jadi kangen masa-masa kejayaan nasyid 😢) 

Ternyata isi nasyid tersebut menceritakan tentang keteguhan Bilal bin Rabah, sahabat Rasulullah yang berasal dari kalangan budak itu. Barulah saya mengerti. Saat mendengarkan ulang nasyidnya, ada getar-getar keharuan di hati saya. Betapa Islam telah memuliakan sosok sepertinya. Betapa Bilal bin Rabbah memang adalah sosok istimewa dengan segala keistiqamahannya.

1. Istiqamah Bertauhid Walau Disiksa

Nama lengkapnya adalah Bilal bin Rabah Al Habasyi. Ya, dia berasal dari Habasyah yang pada masa sekarang dikenal sebagai Ethiopia, Afrika. Bilal lahir di daerah As-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijriah. Dia menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf sejak kecil karena ibunya bekerja pada pembesar Quraisy tersebut.

Suatu ketika, Bilal mendengar tentang risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah. Bilal mendengar bahwa Islam memandang semua manusia itu setara, yang membedakan hanyalah keimanan serta ketakwaannya. Hal itu membuat Bilal tertarik untuk mendengar lebih jauh tentang dakwah Rasulullah yang saat itu disampaikan secara sembunyi-sembunyi.

Dengan tekad kuat, akhirnya Bilal mengucapkan dua kalimat syahadat. Itu menjadikannya termasuk Assabiqunal Awal untuk atau golongan yang pertama masuk Islam dari kalangan budak. Sebuah keberanian yang penuh risiko pada masa itu dimana seorang budak tidak seharusnya menyimpang dari kepercayaan yang dianut oleh majikan mereka.

Umayyah bin Khalaf marah besar ketika tahu tentang keislaman Bilal. Bagaimana mungkin seorang budak hitam legam ingin dianggap setara sepertinya, pikir Umayyah. Maka disiksanya Bilal di hamparan padang pasir yang terik dan ditindih dadanya dengan batu besar. 😢

Siksalah jasadku, takkan kutunduk pada kejahilanmu... 

Bilal tidak goyah. Dia tetap istiqamah memegang aqidahnya dan berucap, "Ahad... Ahad... Ahad."

Walaupun merasakan kesakitan, Bilal tetap meyakini bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Rabb-nya. Masya Allah.

Kabar disiksanya Bilal itu didengar oleh Rasulullah. Maka diutusnya Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk membebaskan Bilal dengan sejumlah uang tebusan yang cukup besar. Akhirnya Bilal pun bebas dengan diiringi pandangan melecehkan Umayyah: budak yang hina tidak sebanding dengan uang melimpah yang diterimanya.

2. Istiqamah Meyakini Pertolongan Allah Swt

Semenjak dibebaskan dari perbudakan, Bilal semakin meyakini bahwa Allah Swt pasti akan senantiasa menolong hamba-Nya yang mau menolong agama Allah. Dia setia menemani dakwah Rasulullah kemanapun, termasuk saat harus berjihad di Perang Badar saat bulan Ramadan.

Pada Perang Badar itulah, Bilal kembali bertemu dengan Umayyah bin Khalaf yang berada di pihak lawan. Mantan majikannya itu begitu bernafsu ingin membunuh Bilal, tapi justru Bilal lah yang menang atas pertarungan itu. Pun dua orang anak buah Umayyah yang dulu ikut menyiksa Bilal juga ikut terbunuh pada Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum muslimin itu.

Bilal bin Rabah memuji Allah sepenuh hati. Keyakinannya tak pernah berubah dan selalu terbukti: Allah Maha Besar!

3. Istiqamah sebagai Muazin Rasulullah

Saat itu kaum muslimin sudah hijrah ke Madinah dan sedang mencari cara untuk mengumpulkan kaum muslimin ketika waktu salat tiba. Tentu saja harus berbeda dengan cara Kaum Nasrani dan Majusi ketika memanggil para pemeluknya.

Rasulullah pun akhirnya memilih Bilal yang memiliki suara keras, lantang, dan indah itu untuk mengumandangkan azan sebagai cara tepat untuk panggilan salat. Bilal naik ke atas bukit. Suara merdunya menghiasi penjuru Madinah, membuat kaum muslimin bergegas untuk bersama-sama mendirikan salat.

Tugas menjadi muazin atau orang yang mengumandangkan azan itu terus dijalaninya sepanjang Rasulullah masih hidup. Dijalaninya dengan penuh gembira dan bersemangat. Maka namanya abadi hingga kini, termasuk di kampung saya.

"Sopo sing Mbilali?" (Siapa yang menjadi Bilal?). Tradisi itu sering dilontarkan saat Ramadan tiba, saat para lelaki bergantian menjadi Bilal alias orang yang berseru melantunkan puji-pujian di sela salat Tarawih.

4. Istiqamah Menjaga Wudhu

Suatu malam, Rasulullah bermimpi tentang terompah Bilal yang terdengar di surga. Ada hadits sahih yang menceritakan peristiwa ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, beliau Radhiyallahu 'anhu mengatakan, 

“Rasulullâh bersabda kepada Bilâl setelah menunaikan shalat Subuh, ‘Wahai Bilâl, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ 

Bilâl Radhiyallahu 'anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan salat (sunnah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’ 
[HR Muslim]

Masya Allah. Betapa "amalan sederhana" Bilal bin Rabah telah mengantarkan terompah yang dipakainya untuk berwudhu dan salat itu terlebih dahulu "sampai" di surga. Padahal pemiliknya masih ada di dunia.

Ya, sederhana. "Hanya" menjaga wudhu setiap kali beliau berhadats, lalu dilanjutkan dengan salat sunnah wudhu sejumlah dua rakaat. Amalan ringan tapi dilakukannya secara terus-menerus; istiqamah. Sangat layak jika Bilal bin Rabah termasuk dalam golongan 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Menulis ulang kembali kisah-kisah sahabat Rasulullah seperti Bilal bin Rabah ini sungguh sebuah nasihat ampuh untuk saya sendiri. Betapa amat jauuuhnya ketaatan saya dibandingkan mereka. 


Ah, iya. Saya jadi teringat bahwa sosok Bilal bin Rabah pun telah dijadikan film animasi di Uni Emirat Arab sana, sudah dirilis sejak Mei 2019 yang lalu. Judulnya "Bilal, a New Breed of Hero". Ada yang sudah menonton? 




Salam, 






#ODOPDay24