My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Belajar Istiqamah dari Bilal bin Rabah


Segala puji bagi Tuhan
Hadir Muhammad bawa kebenaran
Walau disiksa dihina
Takkan sekali kuberpatah arah
Untukmu agamamu
Untukku kebenaran Tuhanku

Siksalah jasadku
Takkan kutunduk pada kejahilanmu
Kerna mengalir di seluruh tubuhku
Kalimah Tuhan dari lidah Rasulku
Dan itu yang kupercaya

Deritaku menjadi saksi bisu
Tanda kasihku kepada yang terulung
Walau disirami debu yang menangis
Genggamku ini tak kulepaskan

Panaslah Sang Mentari
Lafaz kalimah takkan kuhenti

("Kesaksian", by Tim Nasyid Brothers)


Jika ada kata-kata asing dari lirik nasyid di atas, memang demikianlah adanya. Bukan typo. Anak-anak rohis atau penggemar nasyid era di awal tahun 2000-an yang se-zaman dengan saya pasti paham. Yups, munsyid alias pembawa nasyid di atas berasal dari negeri jiran, Malaysia.

Saat kali pertama mendengarnya, saya kurang ngeh tentang maksud nasyid di atas. Itu tentang apa, sih? Saya baru paham saat mendengar penjelasan langsung personel The Brothers saat mereka melakukan jumpa fans di Masjid Nurul Islam, Muka Kuning, Batam pada tahun 2002. (Duh, jadi kangen masa-masa kejayaan nasyid 😢) 

Ternyata isi nasyid tersebut menceritakan tentang keteguhan Bilal bin Rabah, sahabat Rasulullah yang berasal dari kalangan budak itu. Barulah saya mengerti. Saat mendengarkan ulang nasyidnya, ada getar-getar keharuan di hati saya. Betapa Islam telah memuliakan sosok sepertinya. Betapa Bilal bin Rabbah memang adalah sosok istimewa dengan segala keistiqamahannya.

1. Istiqamah Bertauhid Walau Disiksa

Nama lengkapnya adalah Bilal bin Rabah Al Habasyi. Ya, dia berasal dari Habasyah yang pada masa sekarang dikenal sebagai Ethiopia, Afrika. Bilal lahir di daerah As-Sarah sekitar 43 tahun sebelum hijriah. Dia menjadi budak dari Umayyah bin Khalaf sejak kecil karena ibunya bekerja pada pembesar Quraisy tersebut.

Suatu ketika, Bilal mendengar tentang risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah. Bilal mendengar bahwa Islam memandang semua manusia itu setara, yang membedakan hanyalah keimanan serta ketakwaannya. Hal itu membuat Bilal tertarik untuk mendengar lebih jauh tentang dakwah Rasulullah yang saat itu disampaikan secara sembunyi-sembunyi.

Dengan tekad kuat, akhirnya Bilal mengucapkan dua kalimat syahadat. Itu menjadikannya termasuk Assabiqunal Awal untuk atau golongan yang pertama masuk Islam dari kalangan budak. Sebuah keberanian yang penuh risiko pada masa itu dimana seorang budak tidak seharusnya menyimpang dari kepercayaan yang dianut oleh majikan mereka.

Umayyah bin Khalaf marah besar ketika tahu tentang keislaman Bilal. Bagaimana mungkin seorang budak hitam legam ingin dianggap setara sepertinya, pikir Umayyah. Maka disiksanya Bilal di hamparan padang pasir yang terik dan ditindih dadanya dengan batu besar. 😢

Siksalah jasadku, takkan kutunduk pada kejahilanmu... 

Bilal tidak goyah. Dia tetap istiqamah memegang aqidahnya dan berucap, "Ahad... Ahad... Ahad."

Walaupun merasakan kesakitan, Bilal tetap meyakini bahwa Allah Swt adalah satu-satunya Rabb-nya. Masya Allah.

Kabar disiksanya Bilal itu didengar oleh Rasulullah. Maka diutusnya Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk membebaskan Bilal dengan sejumlah uang tebusan yang cukup besar. Akhirnya Bilal pun bebas dengan diiringi pandangan melecehkan Umayyah: budak yang hina tidak sebanding dengan uang melimpah yang diterimanya.

2. Istiqamah Meyakini Pertolongan Allah Swt

Semenjak dibebaskan dari perbudakan, Bilal semakin meyakini bahwa Allah Swt pasti akan senantiasa menolong hamba-Nya yang mau menolong agama Allah. Dia setia menemani dakwah Rasulullah kemanapun, termasuk saat harus berjihad di Perang Badar saat bulan Ramadan.

Pada Perang Badar itulah, Bilal kembali bertemu dengan Umayyah bin Khalaf yang berada di pihak lawan. Mantan majikannya itu begitu bernafsu ingin membunuh Bilal, tapi justru Bilal lah yang menang atas pertarungan itu. Pun dua orang anak buah Umayyah yang dulu ikut menyiksa Bilal juga ikut terbunuh pada Perang Badar yang dimenangkan oleh kaum muslimin itu.

Bilal bin Rabah memuji Allah sepenuh hati. Keyakinannya tak pernah berubah dan selalu terbukti: Allah Maha Besar!

3. Istiqamah sebagai Muazin Rasulullah

Saat itu kaum muslimin sudah hijrah ke Madinah dan sedang mencari cara untuk mengumpulkan kaum muslimin ketika waktu salat tiba. Tentu saja harus berbeda dengan cara Kaum Nasrani dan Majusi ketika memanggil para pemeluknya.

Rasulullah pun akhirnya memilih Bilal yang memiliki suara keras, lantang, dan indah itu untuk mengumandangkan azan sebagai cara tepat untuk panggilan salat. Bilal naik ke atas bukit. Suara merdunya menghiasi penjuru Madinah, membuat kaum muslimin bergegas untuk bersama-sama mendirikan salat.

Tugas menjadi muazin atau orang yang mengumandangkan azan itu terus dijalaninya sepanjang Rasulullah masih hidup. Dijalaninya dengan penuh gembira dan bersemangat. Maka namanya abadi hingga kini, termasuk di kampung saya.

"Sopo sing Mbilali?" (Siapa yang menjadi Bilal?). Tradisi itu sering dilontarkan saat Ramadan tiba, saat para lelaki bergantian menjadi Bilal alias orang yang berseru melantunkan puji-pujian di sela salat Tarawih.

4. Istiqamah Menjaga Wudhu

Suatu malam, Rasulullah bermimpi tentang terompah Bilal yang terdengar di surga. Ada hadits sahih yang menceritakan peristiwa ini:

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, beliau Radhiyallahu 'anhu mengatakan, 

“Rasulullâh bersabda kepada Bilâl setelah menunaikan shalat Subuh, ‘Wahai Bilâl, beritahukanlah kepadaku tentang perbuatan-perbuatanmu yang paling engkau harapkan manfaatnya dalam Islam! Karena sesungguhnya tadi malam aku mendengar suara terompahmu di depanku di surga.’ 

Bilâl Radhiyallahu 'anhu menjawab, ‘Tidak ada satu perbuatan pun yang pernah aku lakukan, yang lebih kuharapkan manfaatnya dalam Islam dibandingkan dengan (harapanku terhadap) perbuatanku yang senantiasa melakukan salat (sunnah) yang mampu aku lakukan setiap selesai bersuci dengan sempurna di waktu siang ataupun malam.’ 
[HR Muslim]

Masya Allah. Betapa "amalan sederhana" Bilal bin Rabah telah mengantarkan terompah yang dipakainya untuk berwudhu dan salat itu terlebih dahulu "sampai" di surga. Padahal pemiliknya masih ada di dunia.

Ya, sederhana. "Hanya" menjaga wudhu setiap kali beliau berhadats, lalu dilanjutkan dengan salat sunnah wudhu sejumlah dua rakaat. Amalan ringan tapi dilakukannya secara terus-menerus; istiqamah. Sangat layak jika Bilal bin Rabah termasuk dalam golongan 10 sahabat yang dijamin masuk surga.

Menulis ulang kembali kisah-kisah sahabat Rasulullah seperti Bilal bin Rabah ini sungguh sebuah nasihat ampuh untuk saya sendiri. Betapa amat jauuuhnya ketaatan saya dibandingkan mereka. 


Ah, iya. Saya jadi teringat bahwa sosok Bilal bin Rabah pun telah dijadikan film animasi di Uni Emirat Arab sana, sudah dirilis sejak Mei 2019 yang lalu. Judulnya "Bilal, a New Breed of Hero". Ada yang sudah menonton? 




Salam, 






#ODOPDay24

No comments:

Post a Comment