My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Mobil Pribadi dan Kebun Raya Purwodadi


"Nanti kalau ada dana 'kan ya mobilnya bisa ditukar dengan yang baru," begitu kira-kira komentar beberapa orang. Termasuk saat mudik lebaran kemarin, saat para pemudik memamerkan tunggangannya. 😅

Begitulah. Sekarang ini, memiliki mobil pribadi seakan menjadi sebuah kebutuhan primer bagi sebagian orang sekaligus sarana untuk menaikkan gengsi. Cara memperolehnya yang relatif mudah dengan Down Payment yang terjangkau, membuat orang seakan mudah saja mengambil cicilan mobil baru. Lha wong dengan sekitar 10 juta saja bisa "bawa pulang" mobil baru sekelas city car.

Bagaimana dengan suami saya? Dia hanya tersenyum, "Cukup ini saja lah. Alhamdulillah."

Yes. Itu yang kami sepakati sejak awal. Kami memang butuh kendaraan untuk mudik ke Solo, mengantar ibunda ke Blitar, dan jalan-jalan sekeluarga tentunya. Syaratnya cukup mudah: sesuai dengan kemampuan kami dan kondisinya masih cukup baik. Sudah itu saja.

Jika kami punya dana lebih, tentu saja bisa untuk mewujudkan mimpi yang lain. InsyaAllah. Yang jelas impian terbesar kami yang berkaitan dengan "dana besar" memang bukan tentang mobil. Setiap orang punya prioritas hidup masing-masing, bukan? 

Jadi, kami memutuskan untuk memiliki mobil bekas yang kondisinya masih cukup bagus. Lebih tentram di hati karena tidak memaksakan diri. Pun ini juga sesuai dengan hobi suami saya: mengutak-atik mesin. Pastinya, ada satu dua hal yang perlu diutak-atik pada mesin mobil bekas. Wajar dan memang itu yang dicari, kok. 😉

Belajar dari Dahlan Iskan

Saya pernah membaca tulisan Pak Dahlan Iskan tentang penghematan atau efisiensi pada perusahaan yang dipimpinnya. Saat memberikan pengarahan tentang itu, tiba-tiba ada anak buahnya yang mengkritik keseharian beliau. Tak lain karena saat itu Pak DI masih menaiki Mercy saat ke kantor.

Mendapat kritikan seperti itu, Pak DI menerima. Keesokan harinya, beliau mengganti Mercy-nya dengan Hyundai bekas. Dipakainya terus dalam keseharian sehingga Si Mercy terlupakan dan rusak. Hehe. Duh, sayang sekali. Kasih ke saya aja, Pak 🤣

Nah, suami saya jelas tidak sehebat Pak Dahlan Iskan. Ini bukan berarti saya membandingkan dan tidak mensyukuri kehebatan suami, lho ya. Dari segi kiprah untuk sekitarnya, kita semua tahu lah siapa Dahlan Iskan. 


Walaupun tidak sehebat beliau, namun bolehlah suami saya meniru jejak Pak DI dengan memilih Hyundai Accent bekas sebagai sahabatnya. Kendaraan berwarna coklat metalik itu lantas membuatnya bisa berkumpul di dalam komunitas HACK (Hyundai Accent Community Kaskus) Jawa Timur.

Kopi Darat di Kebun Raya Purwodadi

Komunitas pemilik mobil bekas merk Hyundai itu sehari-harinya "berkumpul" di grup Whatsapp, sebagaimana jalinan pertemanan yang lain. Mereka berasal dari berbagai kota di Jawa Timur seperti: Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Malang, Mojokerto, Blitar, dan Kediri. Setahu saya, sih. Mereka saling sapa dan bertukar informasi tentang mesin mobil, perawatan mobil, dan akhirnya membahas tentang kopi darat.

Kopi darat yang pertama sudah dilakukan di Pantai Kenjeran Surabaya, sekitar bulan Maret. Waktu itu suami saya belum tergabung sebagai anggota. Nah, pada kopdar kedua, suami saya baru bisa bergabung bersama mereka. Sebagai seorang istri yang baik, saya pun mengintili agenda beliau, dong. Kami pun hadir pada Kopdar HACK Jatim beberapa waktu yang lalu (21/07/19) di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan.


Sebuah pilihan tempat yang tepat karena biasanya kopdar komunitas mobil itu membutuhkan tempat yang luas untuk memajang mobil mereka. Istilahnya adalah display unit. Nah, Kebun Raya Purwodadi yang terletak di Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Pasuruan ini memiliki luas 85 hektar. Wow!

Saya sekeluarga tiba di sana sekitar pukul delapan pagi. Tiket masuk sudah dipesankan oleh koordinator Hack, jadi kami tinggal masuk saja. Per orangnya dikenal biaya sepuluh ribu rupiah. Cukup murah meriah untuk bisa menikmati pepohonan rindang dan beraneka spesies tumbuhan cantik yang ada di sana. Di sepanjang jalan masuk, berjajar para pedagang resmi yang menjual makanan ringan dan minuman. So, tak perlu khawatir kelaparan jika tak membawa bekal atau bekalnya kurang.

Sumber: krpurwodadi.lipi.go.id

By the way, Kebun Raya Purwodadi ini berada di bawah naungan Lembaga IImu Pengetahuan Indonesia (LIPI) , dengan tugas melaksanakan konservasi ex-situ tumbuhan dataran rendah kering. Maka, selalu ada papan nama kecil berisi informasi tentang pohon atau tumbuhan yang hidup di sana yang bisa menambah pengetahuan bagi para pengunjung.


Suami saya mengarahkan Si Hyundai di salah satu area lapangan luas yang biasanya dijadikan tempat piknik atau bermain bola oleh para pengunjung. Rupanya sudah ada beberapa Hacker (sebutan untuk anggota Hack) yang hadir dan menjajarkan mobilnya di pinggir lapangan.

Seru. Agenda inti berupa perkenalan antar anggota pun berlangsung lancar. Akrab, seakan mereka sudah kenal lama satu sama lain. Entah apa yang diobrolkan para bapak Hacker yang ternyata rame juga, melebihi rupiah ibu-ibu di kampung. Hehe...


Saya juga berkenalan dengan beberapa istri Hacker dengan berbagai celotehannya. Intinya sama: kami mensyukuri hidup kami dan berniat menjalin persaudaraan. Pun si kecil Akmal bisa bermain bola bareng anak-anak kecil lain yang ada di situ. Lapangan luas adalah surga buatnya. Yeay!


Karena tujuan utamanya adalah kopdar Hack, saya dan suami kurang leluasa berkeliling Kebun Raya Purwodadi saat itu. It's okay. Kapan-kapan kami bisa ke sana lagi dengan mengajak serta kerabat kami yang lain. InsyaAllah.

Ke Kebun Raya Purwodadi aku 'kan kembalii... 

Teman-teman sekalian, ada yang sudah pernah pergi ke Kebun Raya Purwodadi?



Salam, 












#ODOPDay23

No comments:

Post a Comment