My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Istimewanya Masjid Jogokariyan Yogyakarta


Being a Muslim is more than just going to the masjid. Allah wants your ‘attention’, not just your ‘attendance’. – Dr. Bilal Philips

Setiap kali saya bepergian sekeluarga, tempat yang hampir selalu kami kunjungi adalah masjid. Sejauh apapun kami pergi, ke tempat sekeren apapun, mendirikan salat adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan. Bagi kami, rasanya lebih sreg jika saya sekeluarga melaksanakan salatnya di masjid. Sambil salat, sambil beristirahat, bahkan bisa sambil menitipkan infak yang dimasukkan ke kotaknya.

Ini bukan riya', InsyaAllah. Memang itu menjadi kebiasaan saya dan suami sejak punya anak. Setiap kali mampir ke masjid, maka masjid tersebut berhak menerima infak yang biasanya dimasukkan oleh anak-anak kami. Itu terjadi saat Afra masih kecil dan sekarang itu menjadi "tugas" adiknya, Akmal.

Infak ini begitu penting. Dari infak inilah operasional dan sebagian roda dakwah masjid yang membutuhkan dana dijalankan. Jika bukan kita sebagai jamaah yang "membantu" masjid, lalu siapa lagi? Maka menjadi sebuah kewajiban dari pengurus masjid untuk mengelola infak itu dengan baik. Mulai dari mengumpulkan, menghitung, mengatur penggunaan, sampai melaporkannya kepada jamaah. Ya, karena infak adalah amanah dari jamaah untuk jamaah.

IG: @masjidjogokariyan

Di masa muda dulu, saya pernah menjadi pengurus remaja masjid yang terletak di kawasan industri tempat saya bekerja di Batam. Ada sebuah kebiasaan dari pengurus masjid untuk mengumumkan perolehan infak yang didapatkan sebelum mengadakan pengajian umum di malam Ahad. Ini juga rutin dilakukan saat hendak salat Jumat. 

Bila perolehan infaknya banyak, tentu saja semua yang mendengarkan juga ikut bersyukur. Pengumuman lanjutannya adalah jumlah saldo infak tersebut yang biasanya masih dalam hitungan jutaan. Alhamdulillah, masih banyak, begitu biasanya komentar orang-orang yang menyimak dan mendengar pengumuman itu.

Apakah di tempat teman-teman juga begitu?

Nah, kebiasaan itu ternyata tidak berlaku bagi pengurus Masjid Jogokariyan, Yogyakarta. Masjid yang terletak di daerah Mantrijeron ini dikenal sebagai masjid dengan saldo infak nol rupiah. Tentunya semua infak itu "larinya" pada kegiatan-kegiatan inovatif yang bernilai sosial keumatan. Antimainstream, bukan? 


Atas prestasi Masjid Jogokariyan ini, Ustaz Muhammad Jazir, Ketua Dewan Syura Takmir Masjid Jogokariyan, mendapatkan penghargaan sebagai Tokoh Perubahan Republika 2018. Beliaulah tokoh penting di balik "keberanian" Masjid Jogokariyan mendobrak kebiasaan lama masjid-masjid di Indonesia yang "suka menumpuk infak" namun justru kurang gerak. Masjid "hanya" sekadar megah tapi kekuatan dakwahnya lemah.

Tentu, tidak dilarang untuk membangun masjid dengan bentuk seindah dan semegah mungkin. Bagaimanapun kita yang salat di masjid seperti itu akan merasa nyaman. Bisa jadi hal itu juga akan menambah kekhusyukan. Namun, seharusnya kemegahan itu juga diiringi dengan kemampuan solutif masjid untuk jamaah sekitarnya sebagai salah satu bentuk nilai dakwah.


Nah, Masjid Jogokariyan ini memang bentuknya tergolong sederhana dan tidak terlalu besar. Ia terletak di tengah-tengah pemukiman penduduk yang lumayan padat. Tapi masjid ini istimewa. Setiap kali waktu salat tiba, pasti jumlah jamaahnya membludak, termasuk saat Salat Subuh tiba. Sementara masjid lain hanya punya 1 shaff jamaah saat subuh yang itupun tidak penuh. Apa rahasianya?

Tidak lain karena Masjid Jogokariyan telah menjalankan fungsinya dengan baik. Tidak hanya sekadar tempat ibadah tapi juga "rumah yang ramah" bagi jamaah. Saldo nol rupiah itulah bukti bahwa Masjid Jogokariyan turut menyelesaikan persoalan keumatan. Misalnya, pernah ada seorang jamaah yang sakit dan dia tidak mampu membayar biaya pengobatan. Takmir masjid Jogokariyan tergerak untuk mengalokasikan infak amanah jamaah untuk jamaah lain yang memang membutuhkan. 

Ust. Jazir (republika.co.id)

Menurut Ustaz Jazir yang gemar berpakaian adat Jawa ini, pemenuhan kebutuhan masyarakat memang menjadi tujuan utama atas apapun yang akan dilakukan Masjid Jogokariyan. Masjid harus kembali menjadi pusat peradaban sekaligus mengambil tiga peran pendidikan sebagaimana prinsip Ki Hajar Dewantara: Ing ngarso sung tulodo atau di depan memberi contoh, ing madyo mangun karso atau di tengah memberi semangat dan tut wuri handayani atau di belakang memberi dorongan kepada masyarakat.

Lha kalau saldonya nol rupiah begitu, apa tidak takut kehabisan dana?

Ternyata, tingkat kepercayaan masyarakat yang berinfak dan berkunjung ke masjid itu justru meningkat. Sungguh sebuah keberkahan; semakin membantu orang, semakin banyak bantuan yang datang.


Sebagai perbandingan, kalau di tahun 2003, infak yang diterima dalam setahun "hanya" sejumlah 43 juta rupiah, maka di tahun 2018 sudah jauh meningkat menjadi 3,6 miliar rupiah. Dana selalu ada, mengalir, dan terus bermanfaat bagi masyarakat sekitarnya. Masyarakat terayomi, pergi ke masjid pun dengan senang hati. 

Mampir ke Jogokariyan yang Menawan

Alhamdulillah, saya sendiri berkesempatan untuk mengunjungi masjid penuh berkah itu pada libur lebaran kemarin. Sambil mudik ke Solo, saya sekeluarga memanfaatkan waktu senggang selama sehari semalam untuk pergi ke Yogyakarta.

Tujuan utamanya memang ke Masjid Jogokariyan, yang sudah lama ingin saya kunjungi tapi tak kunjung jua terjadi. Kalau suami saya sih sudah dua kali mampir ke sana dan itu membuat saya iri, hihi. Mungkin itu juga yang dirasakan banyak orang dari penjuru negeri ini yang penasaran dengan Jogokariyan dan ingin merasakan atmosfer keberkahannya.


Ternyata memang benar. Masjid itu tidak terlalu besar, tapi ada sesuatu yang berbeda. Saya merasa nyaman sekali berada di sana. Setiap kali waktu salat tiba, masjidnya langsung terisi penuh. Selesai salat, masjid itu juga tak kunjung sepi. Ada saja para pengunjung yang datang dari daerah yang jauh. 

Saya sendiri sempat berbincang-bincang dengan salah seorang pengunjung perempuan yang berasal dari Jakarta. Beliau dan rombongannya memang bertujuan ingin bertemu pengurus masjid dan melakukan studi banding. Beliau juga bertanya pada saya tentang "lowongan" penginapan yang terdapat di lantai dua masjid.


Nah, kalau penginapan Jogokariyan itu yang saya kurang tahu. Pastinya full booking, wong suasana lebaran begitu. Saya sekeluarga saat itu memilih untuk menginap di sebuah hotel kecil yang terletak tidak jauh dari Masjid Jogokariyan. Tujuannya pasti: ingin salat berjamaah di sana.

Sayangnya, saya justru tak banyak berfoto di sana. Mungkin karena sudah merasa lega dan terpesona dengan suasananya. Tapiii... Suatu hari saya ingin ke Jogokariyan lagi. InsyaAllah. 

Yuk, teman-teman, kita mampir ke Masjid Jogokariyan! 



Salam pecinta masjid,










#ODOPDay25

Sumber informasi: republika.co.id & pengalaman pribadi

12 comments:

  1. Wah jadi kepo nih sama masjid Jogokarian. Masya Allah ... Berkah insya Allah kalau dananya memang berputar seperti itu untuk kemaslahatan umat juga.

    ReplyDelete
  2. Saya baru dua kali ke sana mbak. Yang pertama pas shalat ashar, hari biasa. Satu hari di bulan puasa, kami menyempatkan diri, merasakan sensasi berbuka puasa gratis di sana. Kebersamaan kental terasa. Kabarnya, pada saat buka puasa gratis itulah, infak mengalir dari jamaah yang mencari kebekahan dari berbuka puasa di sini. Alhamdulillah

    ReplyDelete
  3. Alhamdulillah saya sudah pernah ke sana Mbak sekali. Memang suasanya sangat khusyuk sekali. Semoga suatu hari nanti bisa berkunjung ke sana lagi.

    ReplyDelete
  4. Dulu, saat pertama tahuinovasi infak Masjid Jogokariyan saya beneran speechless. Ternyata madjid bisa sedemikian hidup berkat kepedulian umat. Semoga makin banyak masjid yang mengadopsi pola ini, agar kesejahteraan warga meningkat.

    ReplyDelete
  5. MasyaAllah, aku pernah membaca tulisan juga tentang keistimewaan Masjid Jogokariyan ini. Memang betul-betul anti mainstream, ya. Kebanyakan dari kita memang bangga saat saldo infak jumlahnya jutaan, belasan, bahkan puluhan juta.

    Masjid-masjid lain ada baiknya turut mengadopsi kebiasaan dari masjid ini. Tentunya nggak perlu mirip plek, tapi lebih ke seberapa besar manfaat yang bisa diberikan kepada umat.

    ReplyDelete
  6. Benar masjid ini selalu jadi tujuan wisata juga buat keluarga kuh mbak

    ReplyDelete
  7. MasyaAllah... jadi pengen berkunjung kesana, pengen ngeraasain kenyamanan & atmosfer keberkahannya

    ReplyDelete
  8. Kebetulan mertua di Jogja, pastinya setiap idul fitri kami lebaran di pondok mertua indah. Daaaan..tempat yg wajib di kunjungi waktu malam takbiran adalah Masjid Jogokariyan! Selalu ada kemeriahan yg nyeess. Bukan cuma masjidnya, tapi juga masyarakat sekitar Jogokariyan yg masyaAllah, luar biasa sambutannya.

    ReplyDelete
  9. Wah, begitulah prinsip kebaikan bekerja. Semakin kita membantu sesama, maka bantuan akan semakin deras menghampiri kita jika kita membutuhkannya. Keren.

    ReplyDelete
  10. Saya juga belum berkesempatan ke Jogokariyan. Ke Jogja selalu ke daerah atas karena kakak di daerah Kaliurang. Akhirnya cuma malas-malasan. Ya sudah, niat ke Jogokariyan masih di bucket list aja.

    ReplyDelete
  11. Sudah lama dengar kabar masjid Jagokaryan dan kemampuannya mengedukasi jamaah, pengen deh kesana

    ReplyDelete
  12. Setuju besarnya masjid harusnya berbarengan dengan besarnya jamaah juga ya mba. InsyaAllah kalau ke jogja tak sempetin kesini.

    ReplyDelete