My Lifestyle, My Journey, My Happiness

June 21, 2019

Film Wonderful Life: Menyelami Disleksia, Menemukan Mutiara

by , in

Sebelum menonton film Keluarga Cemara pada bulan Januari kemarin, saya sudah terlebih dahulu menonton film yang juga bertema keluarga berjudul Wonderful Life ini. Tidak di bioskop memang, tapi cukup di rumah saja melalui aplikasi iflix. Zaman now gitu loh. Di tengah keterbatasan waktu me time, menonton film via aplikasi seperti ini amat membantu saya karena acara menontonnya bisa dicicil. 
*Ga cuma kredit panci aja, kan?

Saat film Wonderful Life ini tayang perdana di bioskop pada tanggal 13 Oktober 2016, saya baru saja selesai menjalani masa nifas. Pastinya sedang stay di rumah saja. So, it's okay kalau saya telat menonton. Toh saat saya bertanya ke beberapa teman, mereka malah belum tahu ada film ini. Cuuung juga yang belum nonton, hehe... 

Nah, film Wonderful Life ini diangkat dari kisah nyata kehidupan Amalia Prabowo dan putranya yang mengalami disleksia, Aqil. Sebelumnya, Amalia juga telah menerbitkan buku dengan judul yang sama dengan film ini via Gramedia Pustaka Utama. Saya tidak punya bukunya, sih. Insya Allah, saya berniat meminjamnya via iPusnas saja besok-besok. 



Film bertema keluarga biasanya memang menarik minat saya. Apalagi jika yang membintanginya adalah aktris yang (termasuk) saya sukai yaitu Atiqah Hasiholan yang berperan sebagai Amalia Prabowo. Awalnya berharap ada Rio Dewanto juga di film ini, seperti pada film so sweet mereka, Hello Good Bye. Tapi ternyata suami Atiqah itu 'hanya' berada di belakang layar sebagai produser.

Out of the topic. Karena suka pada pasangan itu, nama keduanya saya selipkan pada salah satu halaman novel saya, The Fear Between Us. *halah, malah ngiklan. 😁

Oke, deh. Lanjuuut ke isi filmnya, ya...

Memaknai Kecerdasan dan Kesuksesan

Di awal film ini, saya sedikit sebel dengan kekakuan Amalia sebagai orang tua tunggal. Iya, sih. Dia digambarkan sebagai sosok wanita karir yang cemerlang, yang teguh memegang prinsip. Kalau A, dia akan bilang A. Membesarkan Aqil seorang diri tanpa kehadiran suami sepertinya biasa saja baginya. Di sebuah scene, tampak Amalia sedang mengunjungi makam. Suaminya kah itu? Hoho... rahasia! 

Amalia juga tidak segan berbantahan dengan ayahnya -yang juga berwatak keras- untuk urusan Aqil. Ya, dia tinggal serumah dengan kedua orang tuanya. Di rumah itu, sosok lembut hanya dijumpai pada diri ibunda Amalia yang diperankan oleh Lidya Kandau.



Amalia sejak kecil dididik oleh ayahnya dengan prinsip: pintar=nilai akademis dan sukses=karir yang bagus, sehingga prinsip itu pulalah yang ingin diterapkannya pada putranya, Aqil (diperankan oleh Sinyo). Tapi niatnya itu menemui kendala besar ketika ternyata Aqil mengalami masalah belajar di sekolah dasarnya. Jangankan nilai akademis yang baik, membaca saja terasa sulit bagi Aqil.

Disleksia dan Awal Petualangan Bermula

Disleksia adalah sebuah gangguan dalam proses belajar yang ditandai dengan kesulitan membaca, menulis, atau mengeja. Pada film ini saya jadi lebih tahu secara visual bagaimana gambaran huruf-huruf di buku yang akan dibaca oleh Aqil. Rangkaian huruf tersebut seakan menari-nari dan terbalik-balik sehingga menyulitkan Aqil untuk mengenal, mengeja, dan menuliskannya. Teman-teman Aqil jadi sering mengejeknya sebagai anak bodoh.



Amalia yang tidak 'ngeh' dengan disleksia yang diidap anaknya pun berusaha menempuh jalan apa saja agar anaknya berubah menjadi "anak pintar". Mulai dari berkonsultasi ke psikolog hingga ke dukun! Dalam pikirannya, tidak mungkin keturunannya tidak secerdas dirinya.

Amalia rela meninggalkan urusan kantornya yang sebenarnya sedang sangat sibuk demi mencari "kesembuhan" untuk Aqil. Jarak jauh ditempuhnya berdua dengan Aqil mengendarai mobil; keluar masuk hutan hingga menyeberang danau. Perjalanan berliku inilah yang akhirnya menyadarkan Amalia bahwa rahasia kepintaran Aqil yang dia cari jauh-jauh ternyata sudah tertanam sejak lama. Aqil adalah anak pintar dengan caranya sendiri.

Ya, para pengidap disleksia memang mengalami kesulitan belajar tetapi sebenarnya itu tidak mengurangi tingkat kecerdasannya. Seperti Aqil yang kesulitan membaca, ternyata dia sangat cerdas dalam menggambar. Amalia yang akhirnya menyadari potensi anaknya itu pun menyalurkan bakat Aqil sesuai dengan passion si anak dan all out mendukungnya.

Setiap Anak adalah Mutiara

Tidak ada anak yang bodoh. Frasa ini mungkin sering kita dengar dan baca. Ya, itu benar. Seorang anak hanya perlu diarahkan dengan sabar oleh orang tua (bekerja sama dengan guru) terkait minat dan bakatnya. Sudah ada fitrah belajar dalam diri tiap anak dan orang tua tinggal mengoptimalkan fitrah itu agar tumbuh dengan baik.

Komentar-komentar di luaran pasti ada. Di sinilah ketangguhan orang tua diperlukan dan Amalia pun mampu mengatasinya. Masyarakat sebenarnya hanya perlu contoh nyata dan mereka pun pada akhirnya akan paham dengan sendirinya. Jika tidak paham juga? Bukan tugas kita memaksa mereka dan membahagiakan mereka, bukan? 



Film ini berakhir bahagia. Tak hanya Amalia yang menyadari kekeliruannya tapi juga ayah Amalia yang sebenarnya telah membangun prinsip kurang tepat tentang nilai kecerdasan dan kesuksesan. Sebuah prinsip yang hampir saja diwarisi oleh Amalia. Terjawab pula makam siapa yang dikunjungi oleh Amalia di awal-awal scene. Hmm... 

Karena ini adalah based on true story, kita bisa menyimak perjalanan sukses dan pencapaian Aqil di akun instagram-nya: @aqil_poplop12. Bertebaran di sana hasil gambarnya yang sudah mendunia. Juga, beberapa ilustrasi di film ini memakai gambar karya Aqil sendiri. Salut! Barakallahu fiikum untuk Aqil dan Ummi-nya (Aqil memanggil Amalia dengan sebutan "Ummi"). Sungguh Allah Swt Maha Adil.


Saya cukup puas menonton film ini. Akting Atiqah dan Sinyo cukup bagus, chemistry sebagai ibu dan anaknya dapet banget. Putri saya yang saya ajak nonton bareng pun ikut meneteskan air mata saat ada adegan mengharukan yang ditampilkan. Petualangan di alam-nya juga asyik. Sayangnya, durasi film ini kurang lama menurut saya.


Meraih 3 nominasi Festival Film Indonesia 2016

Judul film: Wonderful Life
Jenis film: Drama keluarga
Durasi film: 79 menit
Rumah Produksi: Creative & Co dan Visinema Pictures
Sutradara: Agus Makkie
Skenario: Jenny Jusuf (Adaptasi dari buku " Wonderful Life" karya Amalia Prabowo)
Produser: Angga Dimas, Rio Dewanto
Pemain: Atiqah Hasiholan, Sinyo, Lidya Kandau, Alex Abbad, Putri Ayudia
Rilis: 13 Oktober 2016


Oh iya, teman-teman juga bisa menyimak ulasan tentang film inspiratif bertema pendidikan, "Hichki" pada blog www.bundaeni.com. Ini adalah blog yang dikelola oleh rekan saya, Mbak Eni Rahayu, seorang mantan guru yang sekarang fokus sebagai seorang full time blogger. Monggo! 



Salam, 
Tatiek Purwanti



Tulisan ini diikutsertakan pada program Collabs Pasukan Blogger Joeragan Artikel Grup 3 Putaran ke-4 

Sumber gambar: instagram @wonderfullifemovie
June 04, 2019

Bahagia Hati Menyambut Idulfitri

by , in

Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar
Allahu Akbar

Tak terasa satu bulan berpuasa
Menahan lapar dahaga
Nafsu juga amarah
Hari ini semua gembira bersama
Mendengar takbir berkumandang
Di sekitar kita

(Lirik lagu "Idul Fitri" by Sabyan) 

Perasaan saya sedang bercampur-aduk sekarang. Di satu sisi hati ada kesedihan karena Ramadan telah pergi. Di sisi yang lain ada suka cita karena salah satu hari raya umat Islam akan segera saya jumpai.

Baiklah, waktu tidak mungkin berhenti. Insya Allah, hari Rabu esok (05/06/2019)nyang bertepatan dengan 1 Syawal 1440 Hijriyah, umat Islam di Indonesia akan melaksanakan salat Ied. Sebuah salat sunnah yang dianjurkan untuk dilaksanakan di hari kemenangan atas ujian selama sebulan. Insya Allah, hari raya Idulfitri kali ini dilaksanakan serentak, tidak ada perbedaan penetapan 1 Syawal antara pemerintah dan ormas-ormas Islam. Alhamdulillah.

Ada beberapa hal yang saya lakukan bersama keluarga dalam menyambut datangnya hari raya Idulfitri, yaitu:

1. Memberi Hantaran Makanan

Ini adalah tradisi turun-temurun yang berlaku di wilayah kami. Setiap akhir Ramadan, kami terbiasa memasak makanan lalu ditempatkan pada kotak kardus. Selanjutnya kotak-kotak itu dihantarkan ke seluruh tetangga dekat. Kadang ada juga yang diletakkan di musalla dan nantinya dibagi rata untuk jemaah salat yang hadir. 

Itu adalah wujud rasa syukur telah berhasil melewati ujian selama Ramadan. Tidak wajib, tentu saja. Semangat berbagi dan berbuat baik pada tetangga sungguh terterapkan di sini.

2. Membersihkan Rumah

Ini adalah aturan tak tertulis setiap kali hari raya Idulfitri tiba. Tidak hanya menyapu lantai dan mengepel, tapi juga merapikan segala benda yang selama ini kurang tertata. Dilanjutkan dengan mengecat tembok rumah yang mulai kusam. Tak lupa, hidangan lebaran juga mulai ditata rapi di atas meja. 

Pesan yang ingin disampaikan adalah kami siap menyambut para tamu yang hendak bersilaturahmi dengan kondisi rumah yang bersih dan rapi. Rumah tertata, silaturahmi pun lancar jaya. 

3. Membayar Zakat Fitrah

Zakat fitrah adalah zakat yang wajib dikeluarkan oleh tiap-tiap muslim, mulai dari bayi baru lahir sampai mereka yang lanjut usia. Saya sekeluarga terbiasa membayar zakat fitrah berupa beras di musalla dekat rumah yang menjadi basecamp penerimaan zakat fitrah. 

Biasanya kami membayar zakat fitrahnya begitu takbir berkumandang. Sangat dekat waktunya dengan Idulfitri. Asal tidak boleh telat membayarnya agar tunai segala kewajiban. Memasuki hari raya idulfitri pun bisa tenang dan riang. 

4. Mempersiapkan Mudik

Sebagai keluarga yang punya agenda mudik setiap kali lebaran, saya dan suami menyiapkan segala sesuatunya agar agenda mudik kami lancar tanpa hambatan. 


Suami saya mengecek kondisi mobil yang akan membawa kami mudik ke Solo, Jawa Tengah. Saya dibantu putri sulung saya mempersiapkan pakaian dan perbekalan untuk di jalan. Berharap kami dilindungi oleh Allah SWT sepanjang perjalanan yang kami niatkan untuk bersilaturahmi itu. Aamiin. 

Alhamdulillah, bersamaan dengan menulis postingan ini, saya ucapkan "Selamat Hari Raya Idulfitri. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir dan batin"

Terima kasih untuk Blogger Perempuan Network yang telah membuka kesempatan untuk menuangkan segala ide di kepala menjadi rangkaian postingan bertema Ramadan yang tak terlupakan. 



Salam, 
Tatiek Purwanti



#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day30
June 04, 2019

Doa dan Harapan Selepas Ramadan

by , in

Saat saya menulis postingan ini, di luar rumah sedang marak suara anak-anak. Mereka sedang bersiap-siap mengikuti takbiran keliling. Ya, takbiran keliling adalah salah satu tradisi sambut lebaran yang rutin dilaksanakan oleh remaja karang taruna di sini. Oh, Ramadanku sudah benar-benar berlalu. Hiks... 

Ada sebuah getaran di dalam dada saat takbiran berkumandang dengan megah. Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar... Laa ilaha illallahu Allahu Akbar... Allahu Akbar wa lillahilhamdu... Kami memuji kebesaran-Mu yaa Allah. Atas kasih sayang dan izin-Mu lah kami bisa berpuasa tanpa kendala yang berarti. Kami bisa menikmati jamuan Ramadan dengan penuh kesyukuran. 

Tapi ada sedih yang merayapi hati karena itu berarti Ramadan telah pergi. Begitu cepatnya waktu berlalu dan kita tentu saja tidak bisa menahan jam dinding untuk berhenti berdetak. Ingin rasanya Ramadan itu berlangsung sepanjang tahun. Sebuah mimpi yang tidak mungkin terjadi tapi selalu begitu saat Ramadan berlalu. 

Ada doa dan harapan selepas bulan mulia itu pergi meninggalkan kita semua. Berikut adalah beberapa diantaranya:

1. Memperoleh Gelar Takwa

Allah memerintahkan orang-orang beriman berpuasa agar menjadi insan yang bertakwa. Gelar takwa akan benar-benar bisa diraih jika kita melaksanakan puasa dengan sungguh-sungguh. Tak hanya menahan lapar dahaga, tapi juga tidak melakukan hal-hal yang mendatangkan dosa. 

Sungguh, saya berharap agar gelar takwa itu pantas untuk saya. 

2. Istiqamah dalam Ibadah

Bulan Ramadan, bulan pembinaan
Jangan dilupakan, ditinggalkan
Yang dijalankan adalah latihan untuk hidup dalam keseharian

Itu adalah cuplikan sebuah nasyid lawas tentang Ramadan yang menjadi favorit saya di masa lalu. Ya, hakikatnya Ramadan adalah bulan untuk berlatih yang berguna untuk kehidupan selama 11 bulan ke depan. 

Saya sungguh berharap agar bisa istiqamah atau rutin melakukan kebaikan yang sudah saya lakukan selama Ramadan. Istiqamah memang sulit, tapi semoga saya bisa berusaha keras melaksanakannya. Dengan izin Allah. 

3. Memperbaiki Jalinan Silaturahmi

Ada beberapa orang teman yang luput saya temui selama Ramadan kali ini. Saya hanya bisa bersua lewat WhatsApp saja. Rasanya ada yang kurang. Walaupun silaturahmi kekinian katanya cukup via dunia maya, tapi saya tidak sepenuhnya setuju. Kopdar itu perlu! 

Harapan saya yaitu bisa bertemu lagi dengan teman-teman saya itu. Saling bertatap muka dan bertukar cerita. Oh, indahnya. 

4. Berharap Menjadi Tamu Allah

Setiap kali membaca atau menyaksikan kisah-kisah perjalanan haji dan umrah, hati saya bergetar hebat. Betapa inginnya saya dan suami pergi ke Baitullah segera. Ingin rasanya menjadi tamu Allah secepat mungkin.

Ramadan kali ini, doa agar bersegera menuju ke tanah suci begitu kerap saya lantunkan. Semoga Allah SWT mudahkan jalan rezeki kami dan beri kesehatan serta umur panjang agar mimpi itu menjadi kenyataan. Aamiin. 

5. Kemudahan Si Sulung Menjadi Santriwati

Putri sulung saya, Afra, lulus dari SD tahun ini. Dia sudah kami daftarkan ke sebuah pesantren tahfiz, sudah daftar ulang juga. Tinggal menunggu saat masuknya dia ke pesantren barunya pada tanggal 3 Juli 2019 nanti. 

Saya belum bisa membayangkan berpisah dengannya dalam jangka waktu yang lama. Ya, selama 3 tahun ke depan dia akan menuntut ilmu dan harus jauh dari kami. Sedih tapi harus tega. Seraya kami lantunkan doa agar dia diberi kemudahan dalam memahami ilmu, menerapkannya dalam keseharian, dan bisa melewati masa akil baligh-nya di sebuah tempat baik. 

Sebenarnya banyak sekali doa dan harapan saya selepas Ramadan ini. Layaknya manusia biasa yang punya banyak keinginan, lah. Tapi saya sadar bahwa doa dan harapan pun harus diiringi dengan usaha yang penuh kesungguhan. 


Ramadan telah mengajarkan kami tentang bersungguh-sungguh dalam beribadah dan berusaha. We will miss you, Ramadan :'(


Salam, 
Tatiek Purwanti


#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day29
June 04, 2019

Momen-momen Terbaik Ramadan Tahun Ini

by , in


Jika saya ditanya tentang momen terbaik yang terjadi pada Ramadan tahun ini, ingin rasanya saya menjawab bahwa setiap hari di bulan Ramadan itu istimewa. Bagaimana tidak. Suasana religiusnya saja begitu terasa baik di dalam rumah atau di luar rumah.

Rumah saya berdekatan dengan sebuah musalla yang sehari-harinya sedang saja keramaiannya. Begitu Ramadan datang, jemaah pun membludak tidak seperti biasanya. Sebuah tanda bahwa Ramadan memang istimewa sehingga orang-orang beriman berlomba untuk mengisinya dengan amal-amal ibadah terbaik. 

Berikut ini beberapa momen terbaik saya selama Ramadan kali ini:

1. Berhasil Membayar Utang Puasa

Sejatinya, Ramadan adalah bulan memanen. Dua bulan sebelumnya yaitu Rajab dan Sya'ban adalah bulan menyemai benih dan merawat tanaman. Sebaiknya setiap muslim sudah bersiap-siap sejak dua bulan tersebut. Diantara persiapannya adalah membayar hutang puasa jika masih mempunyai.

Alhamdulillah, kekurangan utang puasa saya sudah lunas. Ada kelegaan tersendiri saat memasuki Ramadan tanpa beban utang. Bisa lebih fokus dan tenang. 

2. Merasa Gembira dengan Datangnya Ramadan

Adakah orang Islam yang tidak suka dengan datangnya Ramadan? Pasti ada. Ya, kalau hanya sekadar beragama Islam, belum tentu seseorang itu akan gembira saat Ramadan datang. Bukankah yang diseru oleh Allah untuk berpuasa itu adalah orang-orang yang beriman? 

Alhamdulillah, saya merasa bahwa saya adalah salah satu muslimah yang bergembira dengan hadirnya bulan Ramadan. Bersyukur bahwa umur saya disampaikan lagi pada Ramadan 1440 Hijriyah kali ini. 

Salah satu 'sambutan' saya jelang Ramadan datang adalah dengan membuat postingan blog spesial tentang menghidupkan tradisi sebelum Ramadan datang. 

So, jika hati kita tidak bergembira dengan kehadiran Ramadan, waspadalah! 

3. Merasakan Kedamaian Hati

Ramadan kali ini hadir setelah agenda Pemilu 2019 negeri ini. Awalnya saya sungguh berharap dengan hadirnya Ramadan, suasana panas di media sosial akan mereda. Ternyata tidak. 

Saya sesekali saja sih membaca newsfeed facebok. Wuih, ternyata masih banjir caci maki. Hmm, jagad facebok memang lebih panas daripada jagad instagram saya. 

Tentu saja saya memilih untuk tidak ikut berdebat kusir. Saya memilih untuk menuangkan ide sederhana tentang politik Indonesia lewat unggahan di instagram. Saya juga ikut menandatangani petisi yang berkaitan dengan perbaikan Indonesia. Selebihnya, saya berdoa pada bulan penuh rahmat dan ampunan ini. 

Kenyataannya, di dunia nyata yaitu di lingkungan rumah saya, tidak ada tuh gontok-gontokan karena perbedaan pilihan. Obrolan politik di warung berjalan aman, beda pendapat tapi tidak sampai mengumpat. Nauzubillah... 

Alhasil, pada Ramadan kali ini saya tetap bisa menjaga kedamaian hati. Alhamdulillah. 

4. Menyelesaikan Target Ramadan

Rangkaian ibadah ritual yang lebih baik adalah target saya selama Ramadan berlangsung. Ya, Ramadan menjadi pengingat yang ampuh saat ibadah sunnah saya mulai kendor. Misalnya: salat dhuha dan salat sunnah rawatib. Jadi lebih rajin dari biasanya. Begitu juga dengan intensitas bersedekah. 

Sedangkan tilawah Alquran, saya menargetkan khatam minimal 1 juz. Kali ini saya hanya mencapai batas minimal itu. Tetap saya syukuri, sih. Alhamdulillah. 

4. Menyelesaikan Tantangan Ngeblog

Nah, ini dia aktivitas baru yang belum pernah saya lakukan pada Ramadan sebelumnya. Saya mengikuti tantangan menulis blog selama 30 hari pada programnya Blogger Perempuan Network (BPN). Tajuknya adalah #30HariKebaikanBPN. Sebuah dorongan untuk menulis tentang seputar Ramadan dan lebaran dengan tema harian yang sudah ditentukan. 

Alhamdulillah, walaupun harus merapel, saya bisa menuntaskannya. Lega. Saya bisa mudik dengan tenang di esok hari :) 

Ada target yang luput sih yaitu i'tikaf di masjid. Saya belum bisa melakukan tahun ini. Semoga tahun depan bisa, insya Allah. Pastinya semoga umur saya dipanjangkan sampai Ramadan tahun depan, aamiin. 


Salam, 
Tatiek Purwanti


#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day28
June 04, 2019

Kue-kue Lebaran yang Disuka Keluarga

by , in

Menyajikan hidangan istimewa saat lebaran sudah merupakan tradisi umat muslim di Indonesia, turun-temurun. Baik hidangan berupa sajian untuk makan berat maupun cemilan berupa kue-kue yang menggiurkan. Begitu pula di keluarga kami. Selalu tersaji beraneka kue lebaran yang biasanya jadi favorit kami sekeluarga. 

Kue-kue lebaran tersebut ada yang kami beli di toko, memesan pada tetangga, ataupun saya bikin -berkolaborasi dengan ibunda. Sejak saya kecil, ibu memang selalu menyempatkan membuat kue-kue kering untuk menyambut lebaran. Sejak zaman beliau belum memiliki mixer sampai sekarang si mixer-nya sudah tua, tangan terampil ibu masih saja cekatan mencetak kue-kue kering itu. 

Saya belum semahir beliau, sih. Tepatnya, praktik saya masih kurang. Kadang ada rasa enggan mengeluarkan oven, hehe. Padahal kue kering dan oven adalah dua sejoli. Bisa sih membuat kue kering dengan memanggang nya di teflon seperti resep-resep praktis yang beredar di laman facebok itu. Tapi pasti itu akan memakan waktu yang lama karena biasanya harus memakai api kecil.

Nah, biasanya saya membuat kue-kue kering itu di akhir bulan Syaban, jelang masuk Ramadan. Tujuannya agar saya bisa leluasa mencicipi, hehe. Bukan itu yang utama, sih. Tepatnya agar agenda Ramadan saya tidak terganggu dengan kerempongan membuat kue kering. Toh, kue-kue kering itu akan bertahan selama beberapa bulan, kok. Apalagi jika disimpan dalam wadah tertutup rapat.

Inilah beberapa kue kering favorit keluarga kami yang pernah saya buat sendiri:

1. Semprit

Kue kering ini adalah yang kali pertama dibuat oleh ibu saya. Waktu itu beliau belum mempunyai mixer, jadi beliau memakai pengocok manual untuk mengembangkan telur. Bahan dasar semprit alami keluarga kami adalah tepung garut, bukan tepung terigu. 

Source: tastemade(dot)com 

Nama kue semprit konon diambil dari cara mencetaknya yaitu menggunakan spuit. Nah, spuit ini sulit diucapkan oleh masyarakat Indonesia. Sehingga terucaplah kata "semprit" yang lebih mudah dilafalkan. Hehe, ada-ada saja, ya.

Bentuk semprit ada yang menyerupai huruf "S" dan ada pula yang berbentuk bunga sehingga sering disebut semprit mawar. Rasanya gurih karena ditambahkan santan pada bahan pembuatnya. 

2. Kastengel

Kalau yang satu ini sih kue favorit saya. Saya tahan tidak mencicipi kue lain, tapi kalau tidak mencicipi kastengel saat lebaran, rasanya ada yang kurang lengkap. Saya penyuka keju, sih. Jika tidak membuat sendiri, saya harus merogoh kocek agak dalam karena harga kastengel tergolong mahal dibanding kue-kue kering lain. 


Ya, kue kering yang konon berasal dari Belanda ini memang "ngeju" banget. Menurut sejarah, kastengel berasal dari kata "kaas" yang berarti keju dan "stengels" yang berarti batangan. Pas banget dengan penampakannya yang berupa batangan sebesar jari dengan taburan keju di atasnya. Yummy...

3. Nastar 

Tidak ada nastar, tidak ada lebaran. Hehe... Kalau itu sih kata kerabat saya yang nastar mania. Kenyataannya, kue kering berbentuk bulat berisi selai nanas itu memang identik dengan hari raya Idulfitri. 


Bahan pembuat nastar hampir sama dengan kastengel, kadang ditambah dengan keju juga. Nastar kreasi baru pun ada juga yang berisi keju, bukan selai nanas. Lebih praktis karena kalau berisi selai nanas biasanya harus membuat selai sendiri. Ada juga sih selai nanas dijual di pasaran tapi biasanya kurang kental. 

4. Kue Kacang

Kue kacang ini berbahan baku kacang tanah yang disangrai lalu kulit arinya dihilangkan. Tujuannya agar warna kue lebih menarik, tidak gelap. Lalu, kacang tanah sangrai itu diblender kering. 


Kue ini tidak memakai telur sehingga hasil akhirnya padat, tidak mengembang. Bahan lainnya adalah tepung terigu, telur, gula halus, dan minyak goreng. Dulu saya sempat heran: kok minyak goreng? Ternyata fungsi minyak goreng adalah untuk melekatkan adonan agar mudah dibentuk.

Kue kacang biasanya dicetak dalam beraneka bentuk seperti bulan sabit, hati, atau bunga. Ada pulasan kuning telur di atas adonan yang telah dicetak. 

5. Kukis Cokelat

Kue kering ini terinspirasi dari chocolate chip cookies yang sudah terkenal itu. Adonan berwarna cokelatnya berasal dari cokelat bubuk yang pekat. Ada taburan cokelat chips, kadang ditambah juga dengan taburan kacang tanah sangrai yang ditumbuk kasar. 


Proses pembuatannya unik dan menyenangkan. Anak saya sering ikut nimbrung untuk membentuk bulatan-bulatan lalu diletakkan di atas loyang. Nanti saat dioven, bulatan itu akan melebar atau memipih. Jadi mirip deh dengan chocolate chip cookies yang diproduksi pabrik itu. 

Hmm, kue-kue keringnya begitu menggoda. Tetap harus waspada dengan manis dan gurihnya mereka. Jangan sampai deh karena makan kue-kue kering terlalu banyak, badan jadi lebar. Setuju? 

Lalu, apa kue kering favorit teman-teman? 




Salam, 
Tatiek Purwanti

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day27
June 04, 2019

Beragam Aktivitas Kebaikan di Bulan Ramadan

by , in

(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). 

Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. 

Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
(QS. Al Baqarah: 185)


Saat Ramadan tiba dan kita melaksanakan ibadah puasa, biasanya ada salah satu aktivitas tambahan yang menyertainya. Itu tak lain adalah membaca Alquran. Mereka yang terbiasa membaca Al-Quran setiap hari akan menambah jumlah juz yang mereka baca. Yang sering bolong-bolong baca Alquran, biasanya akan mulai mengaji lagi. Betul? Tak lain karena Ramadan itu aromanya adalah 'Alquran banget'.

Betapa mengkhatamkan Alquran pada bulan Ramadan itu terasa lebih mudah daripada bulan-bulan lain. Seperti ada dorongan dari dalam diri untuk bisa menyelesaikan. Juga dorongan dari lingkungan sekitar, misalnya jemaah masjid yang berlomba mengkhatamkan Alquran lalu mensyiarkan keberhasilannya itu pada teman-teman.


Aktivitas lain yang hanya ditemukan saat Ramadan adalah salat tarawih. Sebenarnya salat tarawih ini adalah salat qiyamullail atau salat malam pada bulan-bulan lain. Saat Ramadan, pelaksanaannya (mayoritas) dimajukan. Tak lain karena melaksanakan salat tarawih secara beramai-ramai itu membawa kesejukan tersendiri.

Perempuan sebenarnya boleh salat tarawih di rumah. Saya pun sesekali di rumah jika si adek tidur menjelang isya'. Tidak mungkin dong memaksanya bangun hanya untuk ikut saya. It's okay. Tapi harus saya akui, beda rasanya jika salat tarawih sendirian. 

Sementara itu, aktivitas memasak kaum emak menjadi bergeser waktunya. Saya memasak di sore hari. Kadang untuk menu berbuka saja, kadang sekaligus untuk sahur. Ya, aktivitas memasak di bulan Ramadan pun bernilai kebaikan karena kita memudahkan orang yang berpuasa untuk berbuka dengan makanan yang kita olah sepenuh cinta. 

Nah, selain aktivitas di atas, ada pula aktivitas di dunia maya yang bisa bernilai kebaikan saat Ramadan tiba. Terutama saat saya mendapatkan haid sehingga tidak puasa, tidak salat, dan tidak mengaji/menyentuh mushaf. Saya tetap bisa menggantinya dengan aktivitas online yang juga bermanfaat. 

Pertama, mendengarkan Alquran via aplikasi di ponsel. Suara Syaikh Misteri Rasyid yang merdu itu begitu menyejukkan kalbu. Kedekatan dengan Alquran tetap terjaga. Pun itu menjadi saat yang tepat untuk juga mempelajari arti dari Alquran. 

Kedua, menyimak kajian keislaman pada berbagai channel Youtube. Apalagi di musalla saya tidak menyelenggarakan kultum (kuliah tujuh menit) setelah selesai tarawih. Hanya masjid-masjid besar yang menjadwalkan adanya ceramah seusai tarawih dan salat subuh. 


So, berbagai ceramah keislaman yang bermanfaat itu tetap bisa saya lihat dan dengar via ponsel yang saya genggam.

Ketiga, berdonasi secara online. Berinfaq dan bersedekah semakin mudah saja sekarang. Berbagai aplikasi belanja dan dompet digital membuka kesempatan bagi kita untuk beramal dengan mudah: cukup klik-klik. Potong saldo dan beres! Infaq kita pun segera tersalurkan kepada mereka yang membutuhkan. 

Keempat, membaca artikel keislaman dan nasihat-nasihat bagus via browser. Ya, Ramadan bukan berarti tidak menyentuh ponsel sama sekali. Banyak info bermanfaat yang bisa saya serap saat saya jeda tidak berpuasa. Wawasan bertambah, pikiran pun lebih cerah. Ingat, waspada info hoax!

Kelima, bersilaturahmi via jejaring sosial seperti facebook, twitter, dan instagram. Idealnya, silaturahmi itu harus bertatap muka. Tapi jika berhalangan, kita bisa memanfaatkan tiga jejaring sosial seperti di atas untuk menyapa saudara dan teman saat Ramadan. Saling menyemangati agar rajin beribadah itu perlu. Yang tidak perlu adalah debat kusir saat ada perbedaan pendapat. 


Nah, itu dia beragam aktivitas kebaikan saya saat Ramadan, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Berharap semuanya bernilai ibadah dalam pandangan Allah Swt. Aamiin. 


Salam, 
Tatiek Purwanti

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day26

Sumber gambar: instagram