It's My World Full of Words

July 19, 2018

Catatan Sederhana ala Saya tentang Piala Dunia

by , in


Matahari sudah tenggelam, berganti malam yang kelam. Waktu itu tanggal 15 Juni 2018, kami sekeluarga sedang mudik ke Solo, Jawa Tengah. Saya tengah menidurkan si kecil di kamar, sekaligus merehatkan badan yang seharian merasakan perjalanan panjang.


“Wah, Mesir kalah dari Uruguay,” suara adik ipar saya yang berada di ruang tengah terdengar jelas.
“Kalah kelas emang, tuh.” sahut suami saya yang baru saja selesai berbincang-bincang di luar dengan beberapa orang di teras.

Saya yang mendengar percakapan itu baru ngeh; we lha dalah. Kudet banget saya. Baru tahu jika pembukaan Piala Dunia 2018 di Rusia sudah dimulai sehari sebelumnya. Wajar saja sebenarnya. Kepala saya saat itu terisi seputar Ramadan dan persiapan seputar mudik. Jelas tidak sama dengan kondisi saya dulu saat menjadi remaja pecinta bola.

Sumber: wikipedia

Iyes. Semua ada saatnya. Duluuu saya merasa keren dengan menjadi bola mania. Serba tahu ini-itu tentang si kulit bundar plus mengoleksi pernak-perniknya. Seiring berjalannya waktu, kesukaan itu bergeser sedikit demi sedikit. Menonton bola dan mengetahui info tentang soccer world bukan lagi yang utama.

Tapi saya kira, sedikit-sedikit saya perlu tahu perkembangan dunia sepakbola. Yang paling dekat tentu saja Piala Dunia 2018 yang baru saja berlalu. Lagi pula, ada sedikit renungan terkait peran saya sebagai orang tua yang berangkat dari tontonan itu...

Ternyata Saya Semakin Menua

Kalau dihitung, saya hanya menonton empat pertandingan pada Piala Dunia kemarin. Itu pun tidak full time dan saya memilih yang disiarkan pada malam hari, bukan dini hari.  Ngantuk, bo...

Saya terkesima saat menonton pertandingan tim Inggris versus Belgia. Lebih tepatnya menyimak si pelatih The Three Lions, Gareth Southgate. Lho, udah jadi pelatih timnas aja dia. Pas saya masih bersekolah dulu, dia masih bermain sebagai pemain belakang di klub Aston Villa, Inggris.

Hal yang sama juga saya rasakan saat menonton Perancis mengalahkan Uruguay. Lha, itu manager timnas-nya kan Didier Deschamps. Perasaan baru kemarin dia mengangkat trofi Piala Dunia 1998 di Stade de France, saat menjadi kapten timnas Les Bleus. Sudah dua puluh tahun berlalu ternyata.

Duh, saya langsung merasa sudah tua. (Emang iya. Udah 36 tahun, Buk!) Mereka sudah jadi coach, saya pun jadi coach-nya… anak-anak. Mereka terus bergerak, saya pun harus terus menjadi ibu pembelajar, insya Allah.

VAR, Pengawasan yang (Lebih) Sempurna

Saya sempat bertanya-tanya saat menonton pertandingan final antara Perancis versus Kroasia. Setelah terjadi pergumulan di depan gawang Kroasia, wasit berlari ke pinggir lapangan. Suami saya menjelaskan bahwa si wasit sedang meminta bantuan pada ‘asistennya’ yaitu Video Assistant Referee (VAR).


Sumber: forkom.online

Alhasil, setelah melihat VAR, wasit pun memberi hadiah tendangan penalti untuk Perancis karena pemain Kroasia terbukti melakukan hands ball. Wah, baru tahu saya. Bagus juga, sih. Keputusan yang diambil wasit jadi bisa lebih akurat. Bagaimanapun, wasit juga manusia yang terbatas cakupan pandangannya.

Sebagai orang tua, saya pun seperti itu. Hanya bisa mengawasi anak-anak saat di rumah. Di luar rumah, -khususnya si sulung- saya serahkan pengawasan dan perlindungan kepada Allah Swt. Pengawasan-Nya yang Maha Sempurna pasti akan jadi pertimbangan anak saya jika ingin berbuat yang tidak baik, nauzubillah. Dan… saya nikmati saja tugas mengawasi si kecil yang saat ini menuju usia dua tahun.

Filosofi dari Zabivaka, Serigala Berkacamata

Setiap momen Piala Dunia, selalu ada maskot yang menjadi daya tarik tersendiri. Pada pagelaran Piala Dunia lalu, Zabivaka terpilih sebagai maskotnya. Dia digambarkan sebagai sosok serigala berkacamata yang memesona, percaya diri, dan berjiwa sosial. Wah, mirip saya tuh… kacamatanya! Hehe…

Sumber: tempo.co

Padanan memesona menurut saya adalah akhlak yang baik. Sekarang, penerapannya tidak hanya di lingkungan sekitar tapi juga di dunia maya. Seorang rekan pernah berkata pada saya bahwa dia ilfil pada seseorang yang selama ini dikenalnya baik, tapi di dunia maya begitu tidak tertata kata-katanya. Hobinya marah-marah dan mengeluh melulu. Nah loh… So, saya harus menjadi contoh yang baik bagi anak saya dalam bersosial media.

Sedangkan rasa percaya diri seorang ibu akan memudahkannya mendidik anak-anak sesuai prinsip parenting yang diyakininya. Dia juga percaya bahwa anak-anak yang menjadi amanahnya pasti punya kelebihan yang harus digali dan kekurangan yang harus dimaklumi. Percaya diri juga merupakan wujud rasa syukur pada-Nya bahwa kondisi yang dijalani adalah yang terbaik dari-Nya.

Anak-anak saya kelak menghadapi dunianya yang berbeda dengan dunia saya. Langkahnya mungkin akan lebih panjang, karena jarak antar negara ibarat terlipat. Mereka akan bertemu dengan keberagaman. Berjiwa sosial akan membuat mereka lebih mudah bergaul dan berbuat baik dengan siapa saja. Dan saya… sedang terus belajar memiliki jiwa seperti itu.

Menang dan Kalah adalah Sunatullah

Anda menjagokan siapa kemarin? Perancis atau Kroasia? Kalau saya sih yang mana saja, deh. Hehe… Alasannya seperti tersebut di atas: saya kurang begitu tahu kondisi dunia persepakbolaan hari ini. Jadi, siapapun pemenangnya pasti adalah tim yang menampilkan permainan lebih baik dari lawannya. Pasti di baliknya juga ada latihan yang matang, doa, serta dukungan segenap bangsa mereka. Selamat buat timnas Perancis. Tapi Kroasia, si kuda hitam, juga hebat kok.


Sumber: pixabay

Menang dan kalah adalah keniscayaan dalam setiap perlombaan. Itu yang saya tekankan pada anak saya, khususnya si sulung. Jika sudah berupaya keras dan berdoa namun belum berhasil, pasti ada hikmah di baliknya. Yang menjadi masalah sebenarnya adalah sikap kita pasca kompetisi tersebut; memilih terpuruk atau mengevaluasi diri.


Pastinya banyak hal menarik lain dari peristiwa pada Piala Dunia 2018 yang bisa dijadikan renungan. Begitulah sepak bola, olahraga paling populer di dunia yang selalu diperbincangkan kaum tua maupun muda. Saya punya anak laki-laki, dan kelak ingin mengobrol panjang dengannya tentang sepak bola. Tidak hanya tentang permainannya tapi juga pelajaran di baliknya.

Sumber: pixabay

Nah, apa peristiwa atau hal menarik di Piala Dunia 2018 versi Anda?


Salam fair play,


July 09, 2018

Antara Jendela dan Rasa Syukur Kita

by , in

Judul buku : Rumah Tanpa Jendela
Penulis : Asma Nadia

Tahun terbit : Cetakan ke-1, Oktober 2017
Penerbit : Republika
Jumlah halaman : 215 halaman
ISBN : 978-602-0822-85-3


Jendela adalah salah satu komponen bangunan yang penting. Sama pentingnya dengan keberadaan pintu. Jika pintu berfungsi sebagai tempat keluar masuknya sang penghuni bangunan, jendela dimaksudkan sebagai tempat sirkulasi udara dan cahaya. Keberadaannya menjadikan kondisi bagian dalam bangunan lebih sehat dan tidak pengap. 

Tapi ternyata tidak semua bangunan memiliki jendela. Asma Nadia, salah satu penulis perempuan produktif Indonesia,  melukiskan kisah tentang rumah tak berjendela milik Rara. Dia adalah seorang gadis kecil ceria berusia delapan tahun yang amat menginginkan sebuah jendela bagi rumah tripleksnya. Rara dan kedua orang tuanya yang bekerja sebagai pemulung itu tinggal di sebuah perkampungan kumuh di daerah Menteng Pulo, Jakarta, dekat dengan kompleks pekuburan Cina. 

Semua rumah sempit di situ tidak memiliki jendela. Padahal Rara ingin sekali bisa menatap apa yang terjadi di luar rumahnya dari dalam saja, tanpa perlu membuka pintu. Dia ingin menyaksikan titik air hujan yang turun satu-satu. Juga cahaya bulan di malam hari. Caranya? Tentu saja harus ada jendela di rumahnya.

Mimpi sederhananya untuk memiliki jendela itu kerap mendapatkan ejekan dari teman-teman bermainnya. Mimpi yang aneh, kata mereka. Karena biasanya keinginan anak seusia Rara adalah seputar baju bagus atau mainan. Tapi Rara tetap yakin bahwa suatu hari nanti rumahnya akan memiliki jendela. Keyakinan itu ia tuangkan dalam gambar-gambar yang dibuatnya.

Sejak itu, goresan di buku gambar berubah. Tak lagi bangunan reyot segi empat berwarna cokelat dengan satu pintu, melainkan dilengkapi dua jendela besar dengan pot bunga cantik. (halaman 17)

Rara terus memelihara mimpi itu. Ayah dan ibunya yang penyabar berusaha mengabulkan keinginan putri semata wayang mereka. Ayahnya bekerja lebih keras, ibunya menyemangati Rara agar semakin sering berdoa. Juga mengajarinya untuk membayangkan hal-hal indah dengan memejamkan mata. Setiap melakukannya, Rara serasa berada di dunia lain yang penuh warna. Pintu mimpi, begitu Rara menyebutnya. Sampai suatu hari, pintu mimpi itu menghilang karena Rara dilanda kesedihan. Ibunya yang tengah mengandung adiknya, meninggal dunia karena pendarahan.

Pintu mimpi Rara hadir kembali saat dia dan teman-temannya mulai bersekolah di sekolah singgah. Sebuah sekolah sederhana bagi anak-anak pemulung yang didirikan oleh Bu Alia dan teman-temannya. Pertemuan dengan Bu Alia, guru muda berhijab yang cantik dan baik hati itu dicatat Rara sebagai salah satu hari terindah dalam hidupnya. Ya, dia akhirnya bisa bersekolah tanpa harus memberatkan orang tuanya dari segi biaya.

Sementara itu, bahan baku jendela sudah ada di tangan ayah Rara, siap untuk dipasang di rumah sederhana mereka. Tapi kebakaran besar mengubah lagi jalan hidup Rara. Dia harus kehilangan rumah sekaligus ayahnya. Padahal baru saja hidup Rara lebih berwarna saat dia bertemu dengan Aldo secara tidak sengaja. Rara terserempet mobil yang dikendarai Aldo dan neneknya. 

Rara pun akhirnya berteman baik dengan Aldo, seorang anak autis yang kondisinya membuat malu kedua orang tua dan kakak perempuannya, Andini. Hanya nenek dan Adam, kakak laki-lakinya, yang peduli pada kondisi Aldo. Pertemuan Rara dan Aldo adalah sebuah anugerah. Aldo bersuka cita karena bertambah teman yang peduli padanya. Sementara Rara bisa menikmati jendela-jendela besar dan indah saat dia bermain di rumah Aldo yang mewah. Mimpinya tentang jendela masih akan diteruskannya.

Hal pertama yang akan dilakukan Rara setelah bangun tidur adalah berlari ke arah jendela besar kamar yang ditempatinya. Melemparkan pandangan ke perkebunan teh menghijau yang terhampar ke mana pun mata memandang. (halaman 181)

Membaca novel yang pernah diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama ini akan membuat kita berpikir ulang jika ingin mengeluh tentang kondisi keseharian. Kita yang pada umumnya memiliki jendela lebih dari satu di rumah, seharusnya menjadi manusia yang pandai bersyukur. Kehadiran jendela yang bagi kita biasa-biasa saja ternyata bagi orang lain yang kurang mampu adalah sebuah mimpi dan kemewahan tersendiri.

Dengan bahasa yang mudah dipahami dan diksi khas ala Asma Nadia, novel ini juga memberi pesan syukur dari sudut yang lain melalui tokoh Aldo. Bagaimanapun kondisi seorang anak, dia adalah anugerah terindah bagi orang tua dan keluarganya. Autis itu bukan aib dan sangat bisa diatasi dengan serangkaian terapi. Harus berbekal sabar memang, harus yakin bahwa setiap anak itu unik dan punya kecerdasan sendiri-sendiri. []


Sumber: debbieohi.com

Tidak seperti resensi buku lain yang saya tulis di blog ini, resensi di atas terlihat ‘resmi sekali’. Yups, karena sebenarnya tulisan di atas adalah hasil dari training resensi buku yang saya ikuti pada tanggal 8 Mei 2018 yang lalu. Training yang diadakan oleh Joeragan Artikel itu dimentori oleh Uni Zurnila Emhar Ch, seorang penulis yang resensinya sering dimuat di media.

Flyer training resensi buku yang pernah saya ikuti

Training resensi buku yang saya ikuti itu adalah batch yang kedua, sebelumnya sudah pernah diselenggarakan. Kami -para peserta- digabungkan di dalam sebuah grup di facebook dan belajar tentang meresensi buku yang baik. Di akhir materi, kami diberikan tugas untuk meresensi buku yang pernah kami baca. Pementornya nanti akan mengoreksi hasil tulisan kami, apakah sudah layak muat di media atau belum.

Nah, resensi saya di atas termasuk yang langsung lolos tanpa koreksi. Alhamdulillah. Pementornya menyarankan agar tulisan tersebut langsung dikirim saja ke media, seperti yang telah  dicontohkan. Tapi belakangan saya memutuskan untuk menaruh tulisan itu di blog ini saja. Maaf ya, Uni. Insya Allah sedang saya persiapkan draft lain dari buku yang lebih baru.
😅

Anda berminat mengikuti training yang sangat bermanfaat ini? Silakan rutin menyimak akun facebook Joeragan Artikel, ya. Mungkin akan ada batch yang selanjutnya. Yang jelas, membaca lalu menuliskan resensinya itu asyik sekali.



Salam pecinta buku,


July 03, 2018

Dari Jumat ke Jumat, Mudik Lebaran yang Selalu Diingat

by , in

Hari ini tepat 18 Syawal 1439 Hijriyah, masih belum terlambat untuk menuliskan cerita tentang mudik lebaran kemarin. Lagipula, saya tidak ingin blog ini berdebu lebih banyak lagi, hehe. Kisah seputar lebaran pastinya penuh warna dan layak untuk dikenang dengan dituliskan. Agree?

Sejak saya kecil, mudik -yang merupakan tradisi lebaran di Indonesia- adalah rutinitas yang kami lakukan setiap tahun. Tidak lain karena ibu saya tinggalnya terpisah dari kakek, nenek, dan saudara-saudaranya di Blitar sana. Maka setiap lebaran hari kedua, kami sekeluarga langsung meluncur ke kota sebelah tersebut. Tidak terlalu jauh memang, tapi sungguh mengasyikkan.

Setelah menikah di tahun 2005, saya dan suami sempat menjadi penduduk Batam sampai akhir tahun 2010. Setelahnya, kami pulang seterusnya ke Jawa agar lebih dekat dengan orangtua. Kami pun memutuskan tinggal di Malang, Jawa Timur. Maka, mudik ke Solo, Jawa Tengah adalah keniscayaan bagi keluarga kecil saya setiap lebaran tiba. Di sanalah mertua dan para saudara ipar saya tinggal.

Pertama Kali Mudik dengan Kendaraan Pribadi

Alhamdulillah, lebaran tahun 2018 ini kami bisa mudik ke Solo memakai kendaraan pribadi. Sebelumnya, kami berganti-ganti moda transportasi mulai dari carter mobil, bus Rosalia Indah, kereta api, dan mobil travel. Hanya pesawat saja yang belum pernah kami tumpangi menuju Solo, hehe. Terlalu dekat dan… mahal, atuh.

Nah, yang terakhir saya sebut itu menjadi pertimbangan kami. Ya, mahal. Tiket travel tiap tahun selalu naik harganya. Sementara anggota keluarga kami bertambah satu dengan hadirnya si adek. Semakin besar dia, tentunya dia akan dikenai biaya tiket sendiri suatu hari nanti. So, memiliki kendaraan pribadi akhirnya menjadi keputusan kami beberapa bulan yang lalu. Bukan mobil baru memang, karena kami menyesuaikan dengan isi kantong. Yang penting kondisinya masih tergolong bagus dan mesinnya oke.


Selain ingin lebih hemat, saya dan suami ingin mengajarkan kepada anak kami tentang arti kesabaran dan kerja sama tim dalam sebuah perjalanan. Jika sebelumnya kami banyak tertidur saat berada di dalam kendaraan umum, tentunya itu tidak bisa kami lakukan lagi jika memakai kendaraan pribadi. Maka si Afra pun menjadi navigator dengan google map di tangan, duduk di samping suami saya yang mengendali mobil supaya baik jalannya, hehe. Ya, suami saya hanya hapal rute dari Malang ke Tulungagung. Beliau masih perlu panduan saat menyusuri jalanan di Kediri, Nganjuk, Madiun, dan Ngawi. Saya tentu saja berada di jok belakang bersama si kecil yang tangannya tidak bisa diam itu :)

Mudik Tepat di Hari Lebaran

Sejak beberapa hari sebelum lebaran, televisi sudah memberitakan arus mudik. Menurut saya mereka itu keren karena sanggup melakukan perjalanan -yang mungkin jauh- saat berpuasa. Mereka punya senjata dua doa yang makbul. Ya, doa yang niscaya dikabulkan Allah Swt adalah doanya orang yang sedang di dalam perjalanan dan doa orang yang sedang berpuasa.


Kami sendiri memutuskan untuk mudik ke Solo pas di hari H lebaran. Libur lebaran suami saya baru dimulai pada hari H-2 dan itu kami manfaatkan untuk kebersamaan keluarga di akhir Ramadan. Menurut pertimbangan kami pun jalanan akan sedikit sepi saat hari H sehingga bisa meminimalisir bertemu dengan kemacetan. Walaupun menurut informasi yang berseliweran, kemacetan jauh berkurang dari tahun lalu karena sudah aktifnya beberapa ruas jalan tol yang baru diresmikan pemerintah.

Jalanan masih sepi saat kami sekeluarga menembus  Jumat pagi pada tanggal 15 Juni 2018 atau 1 Syawal 1439 Hijriyah. Saat itu masih pukul setengah lima pagi, udara masih lumayan menusuk tulang. Sisa-sisa petasan yang biasa dibunyikan saat malam takbiran tampak bertebaran di jalan. Sayup-sayup terdengar takbir dilantunkan selepas Subuh. Duh, ada rasa yang tidak bisa saya lukiskan. Sedih karena Ramadan telah benar-benar pergi, tapi juga bahagia karena kami akan segera bertemu keluarga.

Sekitar pukul enam, kami tiba di daerah Wlingi, kabupaten Blitar. Banyak mobil berjajar di area pom bensin yang dekat dengan Masjid Agung Miftahul Jannah, Wlingi. Rupanya itu milik para pemudik seperti kami yang akan menunaikan salat Ied di sana. Kami pun berhenti dan bergabung bersama mereka. Untuk pertama kalinya kami mendirikan salat sunnah muakkad itu bukan di masjid desa kami. Jumlah jamaah salatnya tentu saja banyak dan padat. Allahu akbar wa lillahilhamd...

Masjid Agung Miftahul Jannah, Wlingi, Blitar
Sumber: flickr.com

Khutbah Idulfitri yang disampaikan khatib cukup panjang. Kami baru meninggalkan area tersebut menjelang pukul delapan. Alhamdulillah, perkiraan kami benar karena jalanan yang kami lalui lumayan lengang. Tapi ada sedikit problem saat kami mulai masuk wilayah Kediri. Maunya sih mencari jalan pintas tapi akhirnya malah muter-muter gak jelas. Hoho, navigatornya bingung. Alhasil pak sopir ikutan bingung, deh. Kami memutuskan rehat sejenak di sebuah pom bensin yang ada di situ. (lupa di daerah Kediri sebelah mana).

Alhamdulillah, akhirnya kami bisa keluar juga dari Kediri beberapa saat kemudian. Merdeka! Hehe... Selanjutnya, suami memutuskan untuk tidak masuk tol karena toh -di luar kasus tersesat- perjalanan kami tergolong lancar jaya. Ada sih tantangan lain yaitu kejenuhan si kecil di dalam mobil. Bisa dimaklumi karena ini adalah perjalanan jauh pertamanya di siang hari. Lebaran tahun lalu, dia asyik tertidur di dalam mobil travel yang berangkat malam hari. Akhirnya kami mengambil jeda istirahat agak lama di masjid di daerah Karangjati, kabupaten Ngawi, saat Zuhur tiba. Si kecil berlarian riang begitu kakinya menginjak lantai masjid tersebut.

Senangnya dia saat 'dilepas' keluar 😁

Nah, dalam perjalanan kami tersebut, suami saya melaksanakan salat Zuhur dan tidak melaksanakan salat Jumat. Beliau memilih pendapat berdasarkan hadits berikut:

Diriwayatkan dari Iyas bin Abi Romlah Asy Syamiy, ia berkata, “Aku pernah menemani Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ia bertanya pada Zaid bin Arqom,
“Apakah engkau pernah menyaksikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertemu dengan dua Ied (Idulfitri atau Idul Adha bertemu dengan hari Jumat) dalam satu hari?”
“Iya,” jawab Zaid.
Kemudian Mu’awiyah bertanya lagi, “Apa yang beliau lakukan ketika itu?”
“Beliau melaksanakan shalat Ied dan memberi keringanan untuk meninggalkan shalat Jum’at,” jawab Zaid lagi.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang mau shalat Jumat, maka silakan.”
(HR. Abu Daud no. 1070, An-Nasai no. 1592, dan Ibnu Majah no. 1310. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini hasan)

Rencana ke Jogja yang Tertunda

Sekitar pukul setengah tiga sore, mobil kami berhasil tiba di depan rumah mertua dengan selamat. Alhamdulillah, not bad. Tiga ratus kilometer-an kami tempuh dalam waktu sepuluh jam, dengan tiga kali berhenti yang cukup lama. Capek, sih. Tapi bahagianya tak terkira.

Good job, Sir 😊👍

Karena masih merasa lelah, keesokan harinya kami baru bisa berkeliling ke rumah saudara dan kerabat. Senangnya bisa bertukar cerita dan kisah setelah satu tahun kami tidak berjumpa. Dua hari setelahnya pun kami masih berkeliling untuk mengunjungi kerabat di Klaten dan menjenguk kerabat yang sakit. Ada pula acara arisan keluarga besar yang diselenggarakan di rumah mertua. Walaupun acara itu di luar rencana kami, tentu saja kami senang karena bisa berkumpul dengan para sepupu jauh yang selama ini sulit ditemui.

Setelah kelar rangkaian silaturahmi, kami berencana untuk menyisihkan waktu dua hari agar bisa pergi ke Jogja. Eh, ternyata si mobil sedikit bermasalah setelah pengisian freon. Kutak-kutik dulu, deh seharian. Praktis kami hanya punya waktu luang di hari Kamis dan planning-nya sih kami akan pulang di hari Jumat-nya. Mosok ke Jogja cuma sehari? Ah, jadi terburu-buru, dong…

Suami saya sih lempeng saja karena dia setiap tahun pergi ke Jogja selama tiga tahun terakhir ini. Sementara saya sendiri, terakhir kali ke Jogja empat tahun yang lalu. Lalu kecewa kah saya? Alhamdulillah, tidak, saudara-saudara. Masih ada banyak waktu, insya Allah. Karena bagi saya yang paling penting adalah agenda silaturahmi sudah terlaksana semua.



Akhirnya, kami memutuskan berkeliling kota Solo pada hari Kamis. Kami ngadem di Taman Sriwedari dan melihat-lihat museum Radya Pustaka. Duh, baru sekali saya masuk ke Museum itu walaupun sebelumnya sudah melewatinya berkali-kali. Selengkapnya akan saya ceritakan di tulisan selanjutnya, ya.

Balik (juga) di Hari Jumat

Ingin rasanya lebih lama berada di Solo. Walaupun hawanya lebih panas dari Malang, tapi suasananya  selalu ngangenin. Apalah daya ada batas waktu yang tidak bisa kami langgar. Kami masih harus mudik (lagi) ke Blitar di hari Sabtu dan Ahad. Lalu, suami saya harus kembali masuk kerja di hari Senin tanggal 25 Juni 2018. Duh, kemesraan ini kenapa cepat berlalu?

Saya dan areal persawahan di Sukoharjo,
lumbung padi terbesar di Jawa Tengah.

Dengan berat hati kami pun berpamitan pada Jumat pagi, selepas Subuh. Ada keharuan yang menyeruak saat bersalaman dengan bapak mertua yang sedang diuji sakit yang berkepanjangan. Semoga lekas sembuh ya, Eyang Kakung. Aamiin.

Alhamdulillah, perjalanan pulang berlangsung lebih lancar. Tidak ada kemacetan yang berarti. Tidak ada acara tersesat, berhenti pun hanya sesaat. Kami berhenti agak lama di Tulungagung saat waktu salat Jumat tiba. Tentu saja suami saya kali ini menunaikan salat Jumat seperti biasanya. Berhenti lagi agak lama di Blitar untuk mengisi perut yang keroncongan. Setelah itu, lanjuuut...

Sekitar pukul tiga sore, Allah Swt pun menyampaikan kami di rumah dengan selamat. Ah, sungguh perjalanan yang seru. Ibunda saya segera menyambut kami dengan hangat. Sementara itu, udara dan air khas Malang menyambut kami dengan dingin. Brrrr…

Solo, we will miss you!




Sumber hadits: rumaysho.com
May 15, 2018

Meraih 5 Sumber Kekayaan Ramadan. Siapa Tahu Ini Adalah Ramadan Terakhirku

by , in


Love is everywhere

So much peace fills up the air

Ramadan month of the Quran

I feel it inside of me, strengthening my iman

But how I wish you’d be here with me all year around 

(Ramadan by Maher Zain)


Tidak terasa sebentar lagi bulan Ramadan 1439 Hijriyah akan segera tiba. Waktu begitu cepat berlalu. Seakan baru kemarin kita menangis tersedu karena berpisah dengan bulan Ramadan tahun lalu. Seolah-olah baru beberapa saat saja kita melantunkan doa agar umur kita disampaikan pada Ramadan tahun berikutnya. Sekarang, saat-saat indah itu akan segera tiba. Segala puji bagi Allah Swt yang telah memberikan kesempatan sekali lagi bagi kita untuk memasuki gerbang bulan suci itu.

Saat menulis ini, Ramadan tinggal dua hari lagi. Doa saya terus terlantun agar umur saya disampaikan hingga nikmat berpuasa Ramadan tahun ini saya rasakan. Ya, siapa yang bisa menjamin panjang usia seseorang? Tiga orang kerabat saya yang Ramadan tahun lalu berpuasa, saat ini sudah terbaring abadi di pemakaman. Beberapa bulan yang lalu mereka dipanggil oleh Allah Swt sehingga Ramadan tahun lalu adalah Ramadan terakhir mereka. Duh, bagaimana jika hal itu terjadi kepada saya tahun depan? Apakah tahun ini akan menjadi Ramadan terakhir bagi saya?

Setiap pertemuan pasti berpasangan dengan perpisahan. Itulah sunatullah, ketetapan Allah Swt yang pasti terjadi. Seperti yang saya tuliskan di atas, kita akan sangat berat berpisah dengan Ramadan yang sebulan penuh dihadirkan Allah Swt dalam keseharian kita. Mengapa? Karena kita mencintai Ramadan, merasakan nikmat beribadah di dalamnya, dan merasa masih kurang menjalaninya. Karena kita cinta, maka kita bersedih saat harus kehilangan. Sebuah kewajaran pada sisi kemanusiaan kita. Kewajaran pada sisi seorang hamba yang memperoleh karunia berupa kesempatan mendulang pahala di bulan mulia.

Perpisahan dengan Ramadan akan terjadi selama-lamanya saat kita ditakdirkan menghadap-Nya. Jujur saja, yang saya takutkan bukan tentang kematiannya karena itu pasti dialami setiap makhluk yang bernyawa. Saya takut karena merasa masih banyak dosa. Saya takut jika beberapa Ramadan yang telah saya lalui ternyata tidak menghapuskan dosa-dosa saya. Saya memang memasuki Ramadan tapi keluar dengan tangan hampa. Menjadi hamba yang merugi karena dosa saya tidak diampuni. Astaghfirullah...

“Dari Ramadan ke Ramadan berikutnya menjadi pengampun dosa-dosa selama dia tidak melakukan dosa besar.” (HR. Ahmad)

Menyimak Ramadan Terakhir Rasulullah
Sebagai hamba Allah Swt yang biasa, kita pasti tidak diberikan tanda-tanda menjelang tutup usia. Kita tidak tahu Ramadan yang manakah yang menjadi Ramadan terakhir bagi kita. Sedangkan tanda-tanda perpisahan diperlihatkan oleh Allah Swt pada diri Rasulullah Saw di Ramadan terakhir beliau. Saat itu, ada yang tidak biasa pada bulan Ramadan tahun 10 Hijriyah. Malaikat Jibril mengetes bacaan Alquran Rasulullah dua kali, padahal pada Ramadan-Ramadan sebelumnya hanya sekali. Lalu, Rasulullah beri’tikaf pada dua puluh hari terakhir Ramadan. Padahal biasanya beliau melakukannya hanya di sepuluh hari terakhir saja.

Saat itu, para sahabat tidak memahami isyarat perpisahan itu. Mereka tidak menyadari bahwa pada Ramadan tahun berikutnya, Rasulullah tidak akan lagi bersama mereka. Bahkan pada bulan Zulhijjah saat Rasulullah berhaji wada’, para sahabat -selain Abu Bakar- masih saja belum menyadari hal itu. Rasulullah berkata, “Aku tidak tahu pasti, boleh jadi aku tidak akan bisa  bertemu kalian lagi setelah tahun ini dengan keadaan seperti ini.”

Kita bisa belajar tentang melipat gandakan amalan dari peristiwa Ramadan tahun 10 Hijriyah itu. Ya, Rasulullah beribadah lebih banyak dari Ramadan sebelumnya. Maka bagi kita yang hanya bisa berharap-harap cemas akan jatah Ramadan terakhir kita, bukankah seharusnya memaksimalkan amal ibadah kita di bulan Ramadan? Sambil menulis ini, saya berniat akan memperbaiki kualitas amal ibadah saya di bulan Ramadan nanti. Ramadan ini harus lebih baik dari tahun sebelumnya karena siapa tahu ini adalah Ramadan terakhir saya.



Meraih 5 Sumber Kekayaan di Bulan Ramadan
Ramadan adalah bulan penuh sumber kekayaan dan kita diberi kesempatan oleh Allah Swt untuk meraihnya begitu memasukinya. Tapi untuk meraihnya, kita memang memerlukan persiapan di bulan-bulan sebelumnya agar terbiasa. Maka kesungguhan kita mempersiapkan diri sejak Rajab dan Sya’ban akan melatih kita siap bertempur saat Ramadan tiba. Alangkah beruntungnya orang-orang yang beriman yang mampu meraih kelima sumber kekayaan Ramadan berikut ini:

1. Kunuzu Alquran (Sumber Kekayaan Alquran)
Nama lain dari Ramadan selain Syahru Shiyam adalah Syahrul Quran atau bulannya Alquran. Sebagaimana yang tercantum pada awal surat Al Baqarah ayat 185:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ


“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).”


Lantunan kalamullah biasanya terdengar lebih sering di bulan ini. Bersahutan dari masjid ke masjid atau musala ke musala. Banyak pula yang membacanya di rumah saja. Alangkah syahdunya suasana Ramadan yang dihiasi ayat-ayat suci itu. Suasana tersebut membuat muslimin yang di luar bulan Ramadan jarang membaca Alquran, menjadi lebih rajin berinteraksi dengannya. Sudah lazim terjadi mereka meng-khatamkan bacaan Alquran di bulan Ramadan, bahkan lebih dari sekali.



Saya bertekad untuk bisa meng-khatamkan Alquran dua kali pada Ramadan kali ini. Di luar Ramadan saya terbiasa membaca setengah juz sampai satu juz sehari. Tinggal mengatur ulang jadwal harian dan mengefektifkan kegiatan selama Ramadan agar bisa menyelesaikan dua juz dalam sehari. Penyemangatnya adalah suami saya yang -Insya Allah- adalah pecinta Alquran, juga putri saya yang bertekad untuk ber-one day one juz. Sungguh saya tidak ingin menunda-nunda kesempatan bermesraan dengan Alquran, karena siapa tahu inilah kesempatan terakhir saya menikmati Ramadan.

2. Kunuzu Tarawih (Sumber Kekayaan Tarawih)
Ibadah khas yang mewarnai Ramadan adalah salat Tarawih. Makna dari tarawih adalah istirahat sejenak. Jadi salat tarawih adalah salat sunnah yang ditunaikan setelah beristirahat sejenak selepas melaksanakan sunnah bakdiyah Isya. Maka tujuan dari salat tarawih adalah mengistirahatkan tubuh, membersihkan hati, dan meninggikan jiwa. Boleh memilih 11 rakaat atau 23 rakaat asalkan tujuan salat Tarawih bisa dicapai. Tidak sekadar melaksanakan tapi bisa menikmati ketenangan yang ditimbulkannya. Karena pada dasarnya salat Tarawih adalah salat tahajjud yang ‘dimajukan’ waktunya pada bulan Ramadan.

Kekhasan dari salat Tarawih inilah yang menggembirakan bagi saya. Apalagi tahun ini insya Allah saya akan mencoba membawa serta si kecil ke musala untuk melaksanakan salat Tarawih berjamaah. Maksud saya tentu saja mengenalkan padanya akan suasana salat berjamaah. Ramadan tahun lalu belum bisa karena dia masih terlalu kecil. Strateginya, saya bergantian dengan ibunda saya untuk menjaganya. Kami akan salat bergantian nantinya. Pastinya saya jadi tidak full melaksanakan 23 rakaat tarawih di musala. Insya Allah bisa saya lengkapi di rumah jika si kecil sudah tidur.



Seorang muslimah lebih baik salat di rumah. Tentu saja tidak dilarang untuk pergi salat berjamaah di musala atau masjid, asalkan dia bisa menjaga batasan-batasan yang ditentukan oleh syariat. Bagi saya, salat tarawih akan terasa lebih afdhal jika dilaksanakan berjamaah. Sebagaimana awal mula salat tarawih ini terjadi karena para sahabat menyaksikan Rasulullah melakukan salat tahajjud di bulan Ramadan. Lalu mereka pun menjadi makmum dan Rasulullah mengimami salat tahajjud tersebut yang di kemudian hari disebut sebagai salat tarawih.

“Barangsiapa bangun malam untuk menjalankan salat pada bulan Ramadan, disertai iman dan karena ingin memperoleh perkenan (ridha) ilahi, dosanya akan diampuni.” (HR. Bukhari)

3. Kunuzul Fajr Ila Dhuha (Sumber Kekayaan Pagi hingga Dhuha)
Seorang muslim yang selesai salat Subuh lalu tetap duduk di tempatnya sampai waktu Dhuha untuk berzikir, pasti akan mendapatkan limpahan pahala yang sangat besar. Apalagi jika itu dilakukan di bulan Ramadan. Bagi saya, Ramadan memberi kesempatan bagus untuk itu karena kesibukan menyiapkan sarapan atau memasak di pagi hari teralihkan ke sore hari. Nikmat kesempatan untuk lebih fokus berzikir itu mulai saya dapatkan setelah saya memutuskan untuk ‘bekerja’ di rumah. Alhamdulillah…

Allah Swt Maha Baik. Tetap ada limpahan pahala yang sama bagi mereka yang harus bersegera melakukan aktivitas setelah salat subuh dan tidak memungkinkan untuk duduk berzikir sampai Dhuha. Rasulullah mencontohkan untuk mengucapkan kalimat thayyibah ini sebanyak tiga kali di waktu pagi: “Subhanallah, wabihamdihi adada khalqihi wa ridha nafsihi wa zinata arsyihi wa midada kalimaatihi.” Maka saya ingin rutin mengucapkan itu setiap pagi di bulan Ramadan ini. Semoga amalan ringan tapi berpahala besar itu bisa menjadi bekal baik saya.

4. Kunuzul Masajid (Sumber Kekayaan di Masjid)
Bulan Ramadan menjadikan keramaian masjid meningkat dari sebelumnya. Membuka peluang bagi kaum muslimin untuk berlomba memakmurkan masjid dengan berbagai aktivitas keislaman. Tidak hanya salat berjamaah tapi juga kajian-kajian seputar Ramadan yang menjanjikan kesejukan bagi hati yang merindukan nasihat dan ilmu. Keramaian yang mengingatkan akan sabda Rasulullah tentang salah satu golongan yang akan mendapat naungan dari Allah Swt di hari akhir yaitu para pecinta masjid.



Pada sepuluh hari terakhir Ramadan, biasanya masjid penuh oleh kaum muslimin yang ingin beri’tikaf. Tahun lalu saya tidak bisa melakukannya, semoga tahun ini bisa walaupun sepertinya tidak bisa full sepuluh hari. Tantangannya adalah letak masjid yang menggelar i’tikaf cukup jauh dari tempat saya, sementara suami saya yang bekerja di luar kota baru datang di akhir pekan. Saya tidak mungkin memaksakan diri. Saya tetap bisa mencurahkan kecintaan kepada masjid dengan beberapa kali salat tarawih di sana, bergantian dengan kehadiran di musala. Juga menghadiri beberapa kajian yang diselenggarakan. Insya Allah.

“Berilah kabar gembira kepada mereka yang berjalan dalam kegelapan ke masjid, bahwa mereka akan memperoleh cahaya yang sempurna di hari kiamat.” (HR. Abu Daud)

5. Kanzul Istighfar (Sumber Kekayaan Istighfar)
Ramadan adalah bulan ampunan. Ini adalah saat yang tepat untuk banyak-banyak memohon ampunan-Nya atas segala dosa yang telah kita lakukan. Saya sendiri bertekad untuk memperbanyak istighfar di bulan ini. Mengucapkan “astaghfirullah” sembari merenungi maknanya semoga bisa melunturkan dosa-dosa yang saya khawatirkan akan terbawa hingga akhir kehidupan.

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.” (QS. Ali Imran: 135)

Anas bin Malik mencontohkan waktu terbaik di bulan Ramadan untuk berdoa dan memohon ampunan yaitu menjelang berbuka puasa. Beliau biasanya memanggil anak dan cucunya untuk berdoa bersama di waktu itu. Pelajaran berharga bagi kita agar tidak sekadar mementingkan hidangan untuk berbuka dan malah melalaikan waktu mustajabnya doa tersebut.



Alangkah bahagianya saya jika bisa optimal meraih kelima sumber kekayaan Ramadan di atas sehingga saya pantas berpredikat hamba yang bertakwa. Kewaspadaan bahwa Ramadan ini adalah yang terakhir kali dalam hidup semoga bisa memacu semangat saya agar bisa istiqamah setelah Ramadan berlalu. Sulit memang karena iman ini biasanya berfluktuasi. Hanya rahmat Allah Swt yang bisa menyelamatkan saya. Duhai Allah, hamba memohon kasih sayang-Mu selalu. Aamiin.

Selamat menjalankan ibadah puasa Ramadan 1439 Hijriyah.







Tulisan ini diikutsertakan dalam program Postingan Tematik Spesial Sambut Ramadan yang diselenggarakan oleh Blogger Muslimah Indonesia dengan tema: Jika Ini Ramadan Terakhirku

#PostinganTematik
#PosTemSpesialRamadan
#BloggerMuslimahIndonesia

Sumber bacaan: Majalah Tarbawi edisi 72/ November 2003
Sumber gambar: pixabay