Read, Write, Think, Thankful

October 18, 2018

Ini Dia 11 Benda Pengisi Tas Siaga Bencana

by , in


“Pantai Nganteb ini, pantai Tamanayu di sebelahnya, pantai Balekambang dan semua pantai yang sederet dengan mereka memang akan membuat orang jatuh cinta dengan keindahannya.” Randy melanjutkan kalimatnya.
“Tapi Mbak, gempa bumi yang mengguncang Malang akhir-akhir ini, titik pusatnya sering berada di laut dekat sini.”


Kalimat-kalimat di atas terdapat dalam novel perdana saya, The Fear Between Us. Karena novel itu mengambil setting tempat di Malang Raya, maka saya selipkan kejadian nyata yang pernah terjadi di sini pada beberapa percakapan. Ya, gempa bumi itu juga akrab dengan kami.

Misalnya, pada tanggal 19 Juni 2018 yang lalu. Terjadi gempa bumi tektonik berkekuatan 4.6 SR yang mengguncang sebagian wilayah Malang. Kecil memang. Tidak berpotensi tsunami walaupun pusatnya di laut yang diakibatkan oleh aktivitas pergerakan subduksi. Tapi sekali lagi, ini sering terjadi.

Terakhir, saya merasakan guncangan yang cukup keras itu 7 hari yang lalu, tanggal 11 Oktober 2018. Kali ini pusatnya memang tidak di laut wilayah Malang, tapi di laut wilayah Situbondo, Jatim. Guncangan sebesar 6,4 SR itu terasa sampai ke Bali. Menurut berita, ada tiga orang korban yang meninggal dunia dan beberapa rumah mengalami kerusakan di Sumenep, Madura.  

Saat itu saya tengah terjaga dan merasakan tubuh saya seperti diayun-ayunkan ke kanan dan ke kiri. Saya beristighfar berkali-kali. Anak-anak saya rupanya tidak merasakan itu, tetap tertidur pulas. Saya sempat berpikir yang tidak-tidak, hiks. Alhamdulillah, tak lama kemudian guncangan itu berhenti juga.


Info BMKG saat itu

Dengan masih merasakan debar-debar di dada, saya spontan meraih tablet dan langsung mencari info di akun twitter Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Klik, klik. Ternyata benar ada gempa. Saya spontan me-retweet info tersebut. Tampak di layar, ratusan orang melakukan hal yang sama. Oh, gempa...

Indonesiaku yang Rawan

Selama tinggal di Malang, wilayah saya memang belum pernah terkena dampak bencana yang parah. (Nauzubillahi min dzalik).  Baik itu bencana geologi atau hidrometeorologi (banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, dan kebakaran hutan). Pernah terjadi sih, tapi di daerah Ngantang, Malang Utara. Saat itu, Februari 2014, daerah yang dekat dengan Kediri itu ikut terkena dampak erupsi Gunung Kelud. Ya, nyaris saja.

Belum pernah bukan berarti tenang-tenang saja. Saya tetap merasa harus bersiaga. Lombok, Palu, dan Donggala sudah cukup menjadi bukti bahwa wilayah Indonesia memang rawan bencana. Khusus bencana geologi, -menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)- ancaman itu tersebar di hampir seluruh wilayah Kepulauan Indonesia, baik dalam skala kecil hingga skala besar yang merusak.

Bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, dan letusan gunung berapi kerap terjadi karena letak Indonesia yang berada di antara tiga lempeng tektonik; Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia. Hanya di Pulau Kalimantan bagian barat, tengah dan selatan sumber gempa bumi tidak ditemukan. Tapi masih ada goncangan yang berasal dari sumber gempa bumi yang berada di wilayah Laut Jawa dan Selat Makassar.

Sumber: BNPB

Saya menarik napas panjang setelah tahu bahwa wilayah rawan bencana gempa bumi di Indonesia tersebar mulai dari Provinsi Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Lampung, Jawa Barat, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara, Pulau Sulawesi, Kepulauan Maluku, Maluku Utara dan wilayah Papua. Astaghfirullah...

Tas Siaga Bencana (TSB), Harus Ada!

Letak geografis Indonesia adalah takdir, tapi kita pastinya harus melakukan usaha dengan bersiap-siaga sebelum bencana itu tiba. BNPB bahkan menetapkan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional setiap tanggal 26 April. Di antara perwujudan siap-siaga itu adalah dengan menyiapkan Tas Siaga Bencana (TSB).

Tas Siaga Bencana (TSB) adalah tas yang dipersiapkan oleh anggota keluarga apabila terjadi bencana atau kondisi darurat yang lain. Tujuannya sebagai persiapan untuk bertahan hidup saat bantuan belum datang dan memudahkan evakuasi korban saat menuju tempat yang aman. Sip! Anggap saja kita sedang menyiapkan bekal untuk keluarga seperti biasa.

BNPB memberi contoh kebutuhan dasar Tas Siaga Bencana untuk 3 hari yang berisi 11 benda, yaitu:

1. Surat-surat Penting
Seperti surat tanah, surat kendaraan, ijazah, dan akta kelahiran. Sebaiknya mereka dijadikan satu di dalam sebuah plastik besar mengingat surat-surat tersebut terbuat dari kertas.

2. Pakaian untuk 3 Hari
Pakaian dalam, celana panjang, jaket, handuk, selimut, jas hujan adalah benda-benda yang harus dibawa. Untuk perempuan berhijab seperti saya, pastinya jilbab juga disertakan. Bila punya bayi atau batita, tambahan diapers mungkin diperlukan.

3. Makanan Ringan Tahan Lama
Mie instant menjadi makanan darurat yang pas. Boleh juga membawa biskuit, abon, dan cokelat punya kecukupan kalori serta bisa menimbulkan efek menenangkan.

4. Air Minum
Siapkan air minum dalam kemasan sedang agar mudah dibawa dan dibagikan sejumlah anggota keluarga dan cukup untuk 3 hari.

5. Kotak Obat-obatan/P3K
Bagi kita yang sudah mempunyai persediaan P3K di rumah, tinggal memasukkan kotak obat itu ke dalam TSB. Jika belum, ini saatnya mengumpulkan obat merah, plester luka, gunting, rivanol, dsb dalam satu tas atau kotak kecil.

6. Ponsel, Charger, Powerbank
Saat ini, biasanya ponsel adalah benda yang ada di genggaman kita. Pastikan kondisi baterainya selalu penuh atau Powerbank-nya selalu terisi daya.

7. Perlengkapan Mandi
Kebersihan badan tetap mutlak diperlukan saat bencana datang. Sabun mandi, sikat dan pasta gigi, shampo, dan cotton bud harus juga disertakan.

8. Masker
Saat ini, masker sekali pakai banyak dijual bebas di pasaran dengan harga terjangkau. Fungsinya untuk melindungi pernapasan kita dari paparan debu dan kotoran yang mungkin  banyak saat bencana.

9. Peluit
Jika selama ini peluit hanya ada di genggaman Polisi atau anak Pramuka, maka sekarang kita harus punya. Peluit bisa digunakan untuk meminta bantuan, misalnya: saat terperangkap di reruntuhan.

10. Uang
Besar uangnya tergantung kebutuhan kita selama 3 hari. Sisihkan uang cash hanya untuk TSB ini, usahakan jangan digunakan untuk yang lain.

11. Alat Bantu Penerangan
Walaupun di setiap ponsel masa kini memiliki lampu senter, tapi kita tetap perlu menyediakan ‘senter manual’, korek api, dan lilin.

Nah, kesebelas golongan benda-benda di atas harus dimasukkan ke dalam tas besar yang kondisinya masih baik. Simpan tas tersebut di tempat yang disepakati oleh semua anggota keluarga. Lebih bagus jika diletakkan tidak jauh dari pintu keluar.

Pixabay
Kalau saya pribadi, mungkin ada tambahan berupa mushaf Alquran dan buku-buku, baik buku saya sendiri atau buku untuk anak-anak saya. I believe they will heal us.

Sambil menyiapkan Tas Siaga Bencana, tak lupa saya pun mengucapkan doa ini:

Bismillahilladzi laa yadhurru ma'asmihi syai'un fil ardhi wa la fis samaa'i wahuwas sami'ul alim.



Artinya:
Dengan menyebut nama Allah yang bersama nama-Nya sesuatu itu tidak berbahaya di bumi dan di langit. Dan Dia Maha Mendengar lagi Mengetahui.

Yuk terus berdoa dan bersiap-siaga!


Salam siaga,




Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.
#ODOP_Day6

October 17, 2018

Siang Penuh Makna di Museum Radya Pustaka

by , in

Beberapa hari yang lalu, tepatnya tanggal 12 Oktober, ada seorang rekan di grup WhatsApp yang membagikan video  tentang Hari Museum Indonesia 2018. Di dalamnya, ada himbauan dari Pak Hilmar Farid selaku Direktur Jendral Kebudayaan untuk generasi milenial. Kata beliau, “Ke museum, yuk!”

Duh, saya jadi ingat bahwa saya punya PR untuk menceritakan kunjungan ke Museum Radya Pustaka, Surakarta. Saya sekeluarga mengunjunginya saat mudik ke Solo pada lebaran yang lalu. Sebelumnya, saya pernah menceritakan rencana itu pada postingan Museum Radya Pustaka dan Sebuah Kenangan Bersahaja



Akhirnya ke Radya Pustaka

Siang itu matahari bersinar cukup terik. Hawa Solo Raya yang biasanya memang panas menjadi semakin panas saja rasanya. Entahlah, mungkin karena saya terbiasa tinggal di daerah yang suhunya lebih rendah dari tempat asal suami saya itu. Tapi, the show must go on!

Biarlah terasa gerah. Kami telah membulatkan tekad untuk mengunjungi Museum Radya Pustaka setelah sekian lama tertunda-tunda. Padahal jarak museum tersebut dari rumah mertua saya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 10 kilometer saja. Pada libur lebaran sebelumnya kami malah melanglang buana sampai ke Karanganyar yang letaknya lebih jauh. Duh…

Suasana jalan raya yang tidak terlalu ramai membuat perjalanan kami lancar jaya. Karena terdapat larangan parkir di halaman museum, suami saya memarkirkan mobil di pinggir jalan raya Brigjen Slamet Riyadi. Letaknya berseberangan dengan Kompleks Taman Sri Wedari, lokasi Museum Radya Pustaka berada.

Seorang petugas parkir yang memakai baju warna biru cerah  melayani dengan ramah. Wah, baju seragam parkirnya baru, pikir saya waktu itu. Belakangan saya baru tahu bahwa baju lurik tidak lagi menjadi seragam para juru parkir di Solo. Mungkin Anda sudah cukup familiar dengan bentuk baju ini. Ya, baju lurik adalah baju khas Solo berwarna coklat dengan garis-garis vertikal berwarna hitam. Biasanya dipakai berpasangan dengan blangkon.

Dari situ, kami segera menyeberang ke sasaran. Gerbang Radya Pustaka yang megah menyambut kami. Saya menggandeng si sulung, Afra, sementara suami saya dengan sigap menggendong si kecil Akmal. Kami melangkah menapaki halaman museum yang tertutup paving itu. Di sana, patung kepala Rangga Warsita seakan mengucapkan, “Sugeng rawuh!” alias selamat datang.

“Mi, ayo foto dulu,” ucap Afra yang terlihat antusias.

Dia segera mengambil posisi di depan kiri patung kepala Rangga Warsita. Di sana ada papan beton lebar berwarna abu-abu tua yang bertuliskan huruf besar berwarna kuning, Museum Radya Pustaka Surakarta.



Saya mengiyakan dan segera mengambil ponsel dari dalam tas. Ah, saya baru tersadar bahwa baterai ponsel sedang low. Duh, teledornya saya! Untungnya saya masih membawa si kamera digital tua. Alhamdulillah.

Setelah selesai bergaya di sana, kami bergegas menyusul si Abi dan adek yang sudah terlebih dahulu menuju teras museum. Sudah tidak sabar rupanya mereka.

Di depan teras museum, di sisi sebelah kiri, seorang petugas menyambut kedatangan kami. Saya dipersilakan mengisi buku tamu. Oke, done! Saat saya tanyakan berapa harga tiket masuknya, si petugas menjawab: gratis. Lho? Padahal menurut informasi, HTM-nya sebesar lima ribu rupiah untuk pengunjung lokal.

Saya tidak sempat bertanya kenapa, sih. Mungkin saja karena hari itu adalah hari pertama museum-nya dibuka pasca libur lebaran. Ya, saat itu hari Kamis, tanggal 21 Juni 2018. Pengunjungnya masih relatif sepi. Asyik juga, nih. Bisa lari-larian di dalam. Hehe… Enggak ding.

Saya dan Afra bergegas menuju teras. Si Abi yang sudah nyelonong duluan melambai-lambaikan tangannya, menyuruh kami mendekat. Dia berdiri di dekat sebuah meriam tua yang diletakkan di sana, masih menggendong si kecil. Ada juga patung Ganesha, si lambang ilmu pengetahuan. Pas ini. Kami pergi ke sana karena ingin tahu lebih banyak.

Kami pun bersama-sama menuju pintu masuk yang berwarna putih dihiasi biru muda. Saya menengok sejenak ke sebelah kanan. Ada sesosok patung wanita. Oh, ini rupanya patung Dewi Durga, istri Dewa Siwa. Sepengetahuan saya, banyak patung peninggalan kerajaan Hindu di abad ke-7 yang tersimpan di situ.

Lanjut ke dalam, yuk!

Dari Kotak Musik sampai Makam Para Raja

Benda pertama yang kami jumpai begitu melewati pintu masuk adalah patung kepala sang pendiri museum yaitu Kanjeng Raden Adipati Sosrodiningrat IV. Berkat ide cemerlang beliau, warisan sejarah yang terbentang di hadapan kami bisa dinikmati dari generasi ke generasi. Ngaturaken sembah nuwun nggih, Kanjeng. Harus diabadikan, nih.



Saya pun mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan pertama itu. Terlihat banyak koleksi topeng yang diletakkan di dalam lemari kaca. Penutup wajah dengan berbagai macam warna itu biasanya dipakai dalam tari-tarian khas Jawa. Warna topeng biasanya menggambarkan watak tokohnya, sebagaimana rupa-rupa sifat manusia. Misalnya, topeng yang berwarna merah biasanya untuk tokoh yang galak. Hiii...

By the way, saya jadi ingat, duluuu pas masih SD pernah belajar menari Topeng Bapang, khas Malang. Cukup gerah juga kalau memakainya lama-lama. Buka dulu topengmuuu… buka dulu topengmuuu...


Agak gelap, nih :P

Lemari kaca yang lain menyimpan koleksi beraneka tutup kepala khas Jawa seperti blangkon, kuluk, dan topi-topi untuk para bangsawan. Ada deretan senjata tradisional  seperti keris, tombak, pedang, dan panah yang menghuni lemari kaca di sebelahnya. Selain itu, terdapat arca-arca kecil peninggalan kerajaan Hindu-Budha juga.

Beraneka keris dan warangka (sarung)-nya.
Selain sebagai senjata, keris adalah lambang keagungan.
Tapi justru filosofinya berpesan agar si pemilik tidak boleh bersikap angkuh dan sewenang-wenang.

Daan… ini dia dua benda bersejarah yang paling ingin saya lihat: piala porselen dan kotak musik hadiah dari Napoleon Bonaparte. Wah, hubungan bilateral zaman dahulu keren juga, ya. Ada TV Led di sebelahnya yang menerangkan tentang dua benda dari Perancis itu. Tapi saya tidak begitu menyimaknya, sih. Hehe...


Kotak musiknya gede.
Bukan seperti kotak musik yang ada ballerina-nya :D

Piala porselen dari Napoleon Bonaparte

Si Abi dan adek entah sedang beredar dimana setelah itu. Saya tetap berjalan beriringan dengan Afra yang terkagum-kagum dengan koleksi museum itu. Saya menerangkan sedikit padanya saat kami berada di ruangan kedua. Ada satu set lengkap gamelan yang diletakkan di tengah-tengah ruangan. Sementara berbagai macam wayang di lemari kaca mengelilinginya.

“Itu seperti gamelan milik Mbah Buyutmu dulu, Nak. Ummi pernah bilang kan bahwa Ummi sering memainkannya saat Mbah Buyut masih ada dulu ,” jelas saya.



Putri saya itu manggut-manggut. Sambil memotret, sesekali dia bertanya. Saya pun menjelaskan tentang apa yang saya tahu. Termasuk saat kami menyaksikan Canthik Perahu Rajamala, hiasan berupa kepala raksasa Rajamala yang diletakkan di ujung kapal. Canthik itu diletakkan di sebuah kamar tersendiri dengan penerangan remang-remang.

“Bau apa ini, Mi?” tanyanya.
“Oh, ini bau dupa. Si Canthik rupanya masih dianggap keramat. Ada pihak yang masih percaya kalau Canthik itu memiliki kekuatan magis, Nak,” jawab saya.

Terlihat beberapa batang dupa ratus yang dibakar di kamar itu. Saya menjelaskan padanya tentang ritual adat yang memang masih dijalankan oleh beberapa lapisan masyarakat Jawa. Agar dia tidak merasa heran, sih. Begitulah.


Canthik alias hiasan di ujung depan kapal. Berbau mistis.

Angin yang berembus melalui jendela-jendela besar museum lumayan menyejukkan ruangan itu. Kami masih saja asyik menelusuri jejak sejarah yang berharga lewat benda-benda yang ditampilkan. Sayang, ruang pustaka sedang ditutup untuk umum. Di ruangan itu tersimpan ratusan kitab yang sudah usang dari masa lalu. Kabarnya, kitab dan buku-bukunya sedang dalam proses pemilahan dan digitalisasi. Hmm, bagus. Kita tidak boleh kalah dengan rayap!


Ruang pustaka yang disebut Kapustakan Jawi.
Pintunya sedang ditutup rapat untuk umum.

Di ruangan paling akhir, ada maket makam raja-raja Jawa. Sebuah perwujudan ikatan darah antara Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Mengamatinya membuat saya berpikir: semuanya memang akan berakhir. Ya, sekadar pendapat saya saja, sih. Ruangan-ruangan di depan menunjukkan beraneka kejayaan dan kemegahan. Tapi di sini, orang-orang diajak merenung bahwa kita tidak akan selamanya ada di dunia.

Sebuah suara menyadarkan saya dan Afra untuk bergegas pulang; suara si Abi. Dia dan si adek muncul dari sisi sebelah kanan pintu ruangan belakang itu. Entah waktu itu pukul berapa. Sebenarnya saya masih merasa belum puas, sih. Berharap suatu hari nanti bisa ke sana lagi.



Radya Pustaka, salah satu cagar budaya di Surakarta itu masih terus berbenah sampai sekarang. Masih terus disempurnakan penataannya. Saya sudah ke sana; sudah ke museum dan belajar banyak dari situ. Bagaimana dengan Anda?

Salam pecinta budaya,








Tulisan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community

#ODOP_Day5
October 16, 2018

White Lie, Ketika Kebohongan Diperbolehkan

by , in

Judul buku: White Lie
Jenis Buku: Antologi Fiksi Mini
Penulis: Tannia Margaret, dkk
Tahun terbit: Oktober 2017
Penerbit: Jejak Publisher
Jumlah halaman: 276 halaman
ISBN: 978-602-5455-52-0


Dua hari yang lalu saya mengulas buku antologi kesebelas saya yang berjudul Ramadan Penuh Hikmah. Eh, saya jadi teringat bahwa beberapa antologi sebelumnya malah belum saya ceritakan di sini. Salah satunya adalah buku antologi saya yang kelima yang berjudul White Lie.

Buku antologi ini berisi kumpulan fiksi mini, hasil dari Lomba Cipta Fiksi Mini Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Jejak Publisher, bulan September 2017. Jejak Publisher ini merupakan salah satu penerbit indie yang bermarkas di Sukabumi, Jawa Barat. Dulu, penerbit ini yang saya pilih untuk menerbitkan novel perdana saya, The Fear Between Us

Dari 253 naskah yang masuk, terpilihlah 88 fiksi mini bertema White Lie ini. Buku antologi ini akhirnya terbit pada bulan berikutnya, Oktober 2017. Nah, anggap saja ulasan saya sekarang adalah dalam rangka ulang tahun si buku yang ke-1. Yeay!




By the way, sudah pada tahu yang dimaksud fiksi mini, belum? Ada yang menyebutnya dengan istilah flash fiction. Ada pula yang berpendapat kalau keduanya berbeda. Saya sudah pernah membahas tentang fiksi mini dan flash fiction pada postingan Resensi Antologi Flash Fiction "Tuhan Telah Berbaik Hati"


Mangga atuh, cekidot! ^^


Berkenalan dengan White Lie


White lie adalah salah satu bentuk idiom dalam Bahasa Inggris. Mengartikannya mudah saja yaitu kebohongan putih. Tapi apa ya maksudnya? Salah satu pendapat dari laman Urban Dictionary bisa mewakili makna idiom ini. Di sana disebutkan bahwa white lie is a lie with good intentions. Yeah, sebuah kebohongan dengan maksud yang baik. Lho, kok bisa?

Di bagian belakang buku berwarna hitam ini ada blurb sebagai penjelasan lengkapnya: 

Pernah mendengar istilah White Lie sebelumnya? Manusia, pada dasarnya, pasti pernah membuat sebuah kebohongan. Baik yang sekecil ujung pensil atau bahkan yang besar, sekali pun baik jika tetaplah kebohongan apapun alasan yang membuat kita berbohong, tidak bisa menghapus fakta bahwa kita sudah membuat kebohongan.

Tetapi, beberapa orang beranggapan, bahwa kebohongan yang dibuat demi kebaikan itu boleh-boleh saja. Dan dari sinilah istilah White Lie muncul; kebohongan yang diperbolehkan demi sebuah kebaikan.

Di masa kini, kebohongan ini semakin sering dijumpai dan semakin banyak dibuat oleh manusia. Namun sebenarnya, untuk kebaikan siapa White Lie itu dibuat? Untuk kebaikan orang lain, atau untuk diri sendiri? Karena dengan adanya istilah ini, manusia jadi lebih sering mengatasnamakan kebohongannya dengan White Lie, demi kepentingan diri sendiri.

Jadi bagaimanakah sebenarnya White Lie itu? Apa memang diperbolehkan karena akan ada kebaikan yang didapat, ataukah yang namanya kebohongan tetaplah kebohongan dan tidak boleh dilakukan apa pun alasannya?

Dalam buku inilah, para penulis mengeksplorasi tema White Lie dengan sebebas-bebasnya menjadi sebuah karya fiksi mini yang renyah!

Selamat menikmati kebohongan… ^^

Ketika Kebohongan Mereka Menjadi Cerita

Nah, inilah dia 88 orang penulis yang berhasil mengemas White Lie dengan warna yang berbeda-beda. Mereka terbagi atas:  

3 Orang Juara


5 Orang Penulis Terbaik


10 Orang Penulis Terfavorit



70 Orang Penulis Terpilih

Saya tidak bisa menampilkan semuanya di sini.
Saya sendiri berada di urutan 41, alhamdulillah. Pastinya harus ditampilkan, dong. Heuheu…

Juara ke-1, Tannia Margaret, namanya berhak terpampang di depan sampul buku ini. Yups, ide fiksi mini-nya yang berjudul Rumah Kehidupan memang anti mainstream. Setting tempat yang diambil adalah di kota Roma, Italia. Saat itu Nazi, Jerman sedang berkuasa pada perang dunia kedua.

Fiksi mini tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang dokter bernama Ignacio Conte bersama rekannya, dokter Andrea Verratti. Keduanya berupaya mengelabui tentara Nazi yang waktu itu memburu orang-orang Yahudi yang tidak bersalah di Roma.



Keduanya sepakat menggunakan ilmunya di bidang kedokteran untuk menghasilkan sebuah penelitian. Fiktif, memang. Mereka menyebarkan hasil penelitian itu bahwa orang-orang Yahudi di kota Roma menderita penyakit Syndrome K. Penyakit itu sangat menular, karenanya semua orang harus menjauh dari orang-orang Yahudi jika tidak ingin terpapar penyakit tersebut.

“Kami mampu berperang dan menyelamatkan orang dengan cara kami sendiri.” (Rumah Kehidupan, halaman 231)

Fiksi mini Monochrome yang menjadi juara ke-2, karya Ogie Munaya, berkisah tentang Harun yang memutuskan untuk membohongi Dely, kekasihnya. Sejatinya, keduanya adalah saudara tiri yang terpisah. Kenyataan pahit itu baru diketahui Harun justru setelah ia benar-benar jatuh cinta kepada Dely.

“Kau tidak perlu tahu jawabannya. Yang jelas, aku sudah tidak mencintaimu. Kau membuatku melihat diriku sendiri dan itu benar-benar membuatku takut.” (Monochrome, halaman 194)

Sedangkan Vanya Salsabila Rofinanda, sang juara ke-3, bercerita tentang sebuah kebohongan yang menyembuhkannya dalam Her Lie Heals Me. Adalah tokoh ‘aku’ yang harus dirawat di rumah sakit pasca kecelakaan parah yang menimpanya dan kedua orangtuanya.

‘Aku’ mendapatkan luka di matanya, tak bisa menemui ayah dan ibunya. Sang adik menyampaikan salam dari kedua orang tua mereka. Berharap si ‘aku’ tetap tenang dan segera sembuh.  Si ‘aku’ pun akhirnya bisa pulih dan bisa bertemu dengan ayah ibunya.

“Dua gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama ayah dan ibuku. Deretan tulisan 29 Februari 2012 terpampang jelas di depan mataku. Hari dimana kecelakaan itu terjadi.” (Her Lie Heals Me, halaman 249)

Kisah-kisah kebohongan putih yang lain juga tidak kalah menariknya. Walaupun singkat, tapi selalu ada pesan kebaikan yang bisa diambil. So, silakan berbohong asal yang putih-putih aja, ya? ^^

Ternyata Pemicu Mom War Itu...

Nah, ini dia fiksi mini saya, Mom War by The Dads. Seingat saya, jumlah katanya hampir mendekati 700 kata. Monggo disimak. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun si buku. ^^

Mom War by The Dads
Oleh: Tatiek Purwanti

Hari kedua puluh satu. Tangisan bayi, aroma minyak telon, dan kesibukan yang lebih padat di pagi hari.

“Abang Hafiz main sama Eyang Uti, yuk.” Bu Rohana membujuk cucunya agar menjauh dari Sabrina.

Bocah lucu berusia dua tahun itu akhirnya digandeng neneknya ke arah taman. Sebuah bola sementara bisa mengalihkan perhatiannya. Di dalam kamar, Sabrina, sang ibunda tengah menyusui adiknya yang sejak tadi rewel.

“Undangan aqiqah sudah beres kan, Yah?” Sabrina bertanya kepada Andy, suaminya. Sore bakda Ashar nanti mereka akan mengadakan hajatan aqiqah anak kedua mereka.

“Alhamdulillah, sudah semua. Termasuk teman-teman di perusahaan,” jawab Andy.

Ia memijit pelan punggung istrinya. Bayi merah di gendongan Sabrina akhirnya tertidur, kenyang.

“Tuh, kesempatan buat ikut tidur sebentar,” Andy menatap mata Sabrina. Masih terdapat ‘mata panda’ di sana.


Sabrina mengangguk. Sedikit tersenyum. Lalu mengambil posisi berbaring di sebelah bayi mereka.

Sesuatu yang sudah pernah dialaminya saat Hafiz masih bayi. Bulan pertama kelahiran adalah masa-masa begadang. Bayi belum mengenal pergiliran pagi dan malam. Maka orang tuanya akan terjaga juga jika si bayi mengajak ‘bercanda’ malam-malam.

Tapi ada yang sedikit berbeda bagi Sabrina kali ini; Baby blues. Sabrina hampir saja tidak kuasa melawannya. Beruntung suaminya cukup siaga. Juga bantuan dari ibu mertuanya yang bersedia menginap sebulan di rumah mereka.

***

“Normal atau sesar?”
Duh, pertanyaan itu lagi.

“Alhamdulillah, normal, Pak,” jawab Sabrina kemudian.
Andy menatap istrinya, diam saja.

“Baguslah,” sahut Pak Sasmito, kepala divisi di tempat Andy bekerja.
Ia dan istrinya berhalangan hadir di acara aqiqah kemarin. Hari ini mereka baru bisa menjenguk bayi Sabrina.

“Tiga anak saya lahir secara normal semua. Ya kan, Ma?” Pak Sasmito menoleh ke arah istrinya, Bu Intan. Perempuan pendiam itu mengangguk sambil tersenyum.

“Istri saya selalu menurut pada saya. Termasuk tentang meminum air rendaman rumput Fatimah, agar lancar ‘pembukaannya’. Pokoknya tidak boleh sampai operasi, agar perjuangan melahirkannya benar-benar sempurna,” lanjut Pak Sasmito.

Sabrina menggigit bibirnya. Andy mengetahui gelagat itu. Cepat dialihkannya pembicaraan ke topik yang lainnya. Tapi tetap saja, Pak Sasmito mendominasi perbincangan. Atasannya itu memang susah dihentikan jika sudah mengemukakan argumen-argumennya.

***

“Seharusnya para bapak itu belajar peka.” Sabrina mengeluh.
Sudah tengah malam. Bayi mereka tertidur beberapa menit yang lalu.

“Di saat para ibu berusaha menghindari Mom War, kenapa justru para bapak  menyulutnya?” Sabrina tidak tahan. Dikeluarkannya segala uneg-uneg terkait kunjungan beberapa tamu mereka.

“Ya, ya... Ayah paham. Mungkin mereka...” Andy berusaha menenangkan istrinya.

“Pintar saja tidak cukup, seorang pria harus juga beradab,” potong Sabrina.

Matanya mulai berkaca-kaca. Andy merangkul istrinya. Dibiarkannya Sabrina melanjutkan keluhnya.

“Bunda menjalani sesar juga karena ada indikasi medis. Memangnya kenapa kalau sesar?” Sabrina bertanya, tapi tidak butuh jawaban Andy.

“Teman ayah yang satunya itu juga sama, si Pras.”

Andy mengangguk-angguk. Pras yang datang saat acara aqiqah juga melakukan offside. Masih diingatnya saat Pras bertanya apakah Sabrina akan kembali bekerja setelah melahirkan anak keduanya. Sabrina dan Andy sudah jauh-jauh hari bersepakat bahwa Sabrina akan resign dari pekerjaannya.

“Duh, sayang dong kalau Sabrina jadi pengangguran,” celetuk Pras waktu itu.

“Oh, saya berjualan online, kok,” jawab Sabrina.

Hatinya sungguh gusar dikomentari seperti itu. Seorang ibu dengan dua orang anak disebut pengangguran? Oh, come on!

“Nah, boleh juga itu. Istri saya selain bekerja juga hobi berjualan. Bla... bla... bla...” Pras meneruskan kalimatnya. Istri Pras yang duduk di sampingnya mengiyakan perkataan suaminya itu.

Sabrina tersadar dari flashback-nya.
“Ayah paham kan kalau Bunda tidak akan berjualan apapun saat ini?”

“Iya. Tidak apa-apa kok Bunda bilang seperti itu,” Andy mendukung kebohongan yang telah dilakukan istrinya.

Sabrina tidak berminat pada bisnis online sejauh ini. Cita-citanya adalah fokus pada dua buah hati mereka. Khususnya Hafiz yang selama dua tahun terakhir ini kurang mendapatkan perhatiannya.

***

Sabrina menaburkan bunga pada gundukan tanah kecil di hadapannya. Matanya basah. Haliza, putrinya, terbaring abadi di situ. Salah satu bayi kembarnya itu bertahan hidup beberapa jam saja di rumah sakit. Akhirnya, ia dan Andy hanya bisa mendekap Haidar, putra keduanya saat ini.

Masih diingatnya pertanyaan Riko, teman lamanya. Saat itu Sabrina mengunggah foto Haidar yang baru lahir di facebook sebagai profile picture-nya. Tanpa caption.

“Selamat, ya. Cowok apa cewek nih?” tanya Riko.

“Cewek,” balas Sabrina.

Sabrina sadar bahwa ia telah berdusta. Tapi sebenarnya tidak juga. Semata agar Riko tidak melanjutkan komentarnya dengan: “Cowok lagi? Nambah atuh, biar lengkap!”

-Selesai-  




Salah satu yang menginspirasi saya untuk menulis fiksi mini di atas adalah hadits yang berbunyi seperti ini:

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).”
(HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Nah, fiksi mini saya di atas boleh di-krisan, tapi pastinya tidak bisa saya perbaiki. ^^

Thanks for reading,








Tulisan ini disertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community