My Lifestyle, My Journey, My Happiness

December 09, 2018

Wisuda Sekolah Tinggi Teknologi Bandung: Siap Berkarya untuk Bangsa

by , in

Wisuda. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata tersebut berarti peresmian atau pelantikan yang dilakukan dengan upacara khidmat. Tanyakan kepada (khususnya) para mahasiswa, betapa mereka merindukan agenda tersebut. Memang kata wisuda hanya terdiri atas 6 huruf, pendek. Tetapi, perjuangan menuju ke sana biasanya memakan waktu yang lumayan panjang. 

Saya dan suami pernah merindukan saat-saat itu. Untuk meraihnya, bahkan kami harus sambil bekerja. Waktu itu, kami adalah perantau yang sedang berjuang di tanah Batam. Alhamdulillah, urusan kami dimudahkan-Nya hingga kami pun bisa merasakan debaran hati yang sama seperti para wisudawan/wisudawati pada umumnya.

Maka, saat kemarin ada tawaran untuk melakukan liputan wisuda secara online, saya tentu saja tidak keberatan. Saya memang tidak bisa hadir di tempat dilangsungkannya wisuda, tapi kecanggihan teknologi telah memudahkan tugas yang saya emban. Ada teman-teman blogger Joeragan Artikel yang mengabarkan langsung dari gedung tempat dilangsungkannya wisuda. Ditambah info dari instagram story. Lengkap.

Teman-teman blogger Joeragan Artikel yang meliput secara offline

Ya, saya menulis ini untuk menyebarkan kebahagiaan. Untuk ikut mengabadikan syukur yang dirasakan para mahasiswa yang telah selesai menunaikan tugas belajarnya. Sekaligus untuk menyampaikan informasi bahwa ada kampus swasta yang cukup bagus kiprahnya di negeri ini.

Profil Singkat STT Bandung

Sekolah Tinggi Teknologi Bandung (STT Bandung) resmi berdiri pada tanggal 5 Oktober 1991, dengan Nomor SK Dirjen DIKTI No: 197/DIKTI/Kep/1992. Saat ini, STT Bandung memiliki dua jurusan yaitu Strata-1 Teknik Industri dan Strata-1 Teknik Informatika. 

Adapun kepengurusan terbaru STT Bandung (tahun 2015 sampai dengan sekarang) adalah sebagai berikut:
Ketua : Muchammad Naseer, S.Kom., M.T
Puket 1 : Agus Rahmat H., SH., MM
Puket 2 : Aceng Kurniawan, MM
Puket 3 : Indra Julias, S.Kom
Ketua Jurusan Teknik Industri : Herman R. Suwarman, MT., MT
Ketua Jurusan Teknik Informatika : M. Sabar, MT



Jumlah tenaga pengajar STT Bandung saat ini berjumlah 120 orang. Dari jumlah tersebut, 96%-nya sudah berijazah Strata-2. Untuk terus meningkatkan kualitas, STT Bandung mentargetkan 70% dosen-dosennya sudah memiliki gelar Strata-3 pada tahun 2019 nanti. Mantap!

Sekolah Tinggi yang website-nya bisa dikunjungi di www.sttbandung.ac.id ini mempunyai visi menjadi perguruan tinggi yang berdaya saing dan unggul secara nasional pada tahun 2020. Wah, kurang dua tahun lagi. Membaca sepak terjangnya, visi tersebut mudah-mudahan bisa diraih tepat waktu. Aamiin.

Pada tahun 2018, STT Bandung telah menerima 1.250 orang mahasiswa baru. Ada peningkatan jumlah mahasiswa baru sebanyak 20% dari tahun sebelumnya. Nah, dari jumlah tersebut, 75 %-nya berasal dari Jawa Barat. Sedangkan sisanya berasal dari luar Pulau Jawa. Bahkan ada mahasiswa yang jauh-jauh datang dari Qatar, Malaysia, dan Timor Leste untuk menuntut ilmu di STT Bandung.

Bagi teman-teman yang ingin tahu lebih jauh tentang Sekolah Tinggi ini, silakan kunjungi kampusnya yang beralamat di: 
Jl. Soekarno Hatta No.378 Bandung 40235 
Phone. (+6222) 522 4000 
Fax. (+6222) 520 9272 
Hp. +6281 2222 55 777 
Email: info@sttbandung.ac.id

Wisuda ke-13 yang Penuh Makna

STT Bandung menyelenggarakan wisuda ke-13 pada hari Sabtu, tanggal 8 Desember 2018 kemarin. Prosesi wisuda tersebut bertempat di Harris Hotel & Conventions Festival Citylink, Bandung. Karena tidak diselenggarakan di kampus, ini benar-benar mengingatkan pada wisuda suami saya yang kebetulan dulu juga berkuliah di sebuah Sekolah Tinggi.

Ada sejumlah 183 orang wisudawan/wisudawati yang dilantik. Mereka terdiri dari 77 orang Sarjana Teknik Informatika dan 106 orang Sarjana Teknik Industri. Tentu saja mereka didampingi oleh keluarganya, baik orang tua maupun anak-istri. Karena sebagian mahasiswa STTB memang ada yang sudah bekerja dan berkeluarga. Salut, karena masih bersemangat untuk belajar.


Sesuai dengan undangan yang dibagikan, susunan acara wisudanya adalah sebagai berikut:
1. Pembukaan
2. Lagu Indonesia Raya
3. Laporan Ketua STT Bandung
4. Sambutan-Sambutan
5. Orasi ilmiah
6. Pembacaan SK Ketua STT Bandung
7. Pelantikan Wisudawan
8. Penandatanganan MoU
9. Penyampaian Kesan dan Janji Wisudawan
10. Pembacaan Doa
11. Penutupan Sidang Senat Terbuka
12. Ramah Tamah

Prestasi Mahasiswa dan Dosen yang Membanggakan

Pada sesi laporan Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom., M.T menjelaskan tentang prestasi mahasiswanya. Menurut beliau, rata-rata alumni mahasiswa STT Bandung 'hanya' memerlukan waktu tunggu 45 hari untuk memasuki dunia kerja maupun menjadi wirausahawan. Ini disebabkan tingginya permintaan tenaga kerja dari berbagai sektor industri dan instansi, baik di wilayah Jawa Barat ataupun dari luar daerah.

Ketua STT Bandung, Bapak Muchammad Naseer, S.Kom, M.T (dok. Eva Sri Rahayu)

Lalu, ada beberapa mahasiswa yang mengikuti program internship di Taiwan selama 6 bulan. Internship adalah suatu program yang disiapkan oleh perusahaan untuk para lulusan baru -maupun yang akan lulus- dari institusi pendidikan yang belum memiliki pengalaman kerja. 

Selama di sana, mereka menerima gaji yang jumlahnya 4-6 kali lipat dibandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) di Bandung. Lebih mantap lagi karena para mahasiswa itu memperoleh kesempatan untuk melanjutkan kuliah mereka ke jenjang Strata-2 di Jepang atau Taiwan, berbekal pengalaman internship tersebut.

Ada juga capaian prestasi hasil kolaborasi dosen dan mahasiswa berupa produk inovasi teknologi yang diberi nama Smart Kitchen System. Produk ini dipamerkan dalam ajang "Inovator Inovasi Indonesia Expo" yang diselenggarakan di Yogyakarta pada bulan Oktober 2018 lalu. Keren, produk inovasi tersebut berhasil lolos sebagai calon perusahaan pemula berbasis teknologi Perguruan Tinggi untuk tahun ini. 

Para Wisudawan yang Menawan

Tibalah pada puncak acara yaitu pelantikan wisudawan. Wajah-wajah lega penuh haru dan bangga itu pun maju satu per satu ke atas panggung utama. Diumumkan pula para wisudawan terbaik, yaitu:
• Iin Indrayani, S.Kom (S-1 Teknik Informatika)
• Srikanti Astuti, S.T (S-1 Teknik Industri)

Dua wisudawan terbaik

Disebut pula nama Tina Sri Handayani, S.Kom sebagai mahasiswa penyandang disabilitas yang berprestasi dalam bidang olahraga. Gadis itu berhasil menyabet tiga medali pada Pekan Paralimpik Daerah (Peparda) V tahun 2018, yaitu: Medali Emas di cabang olah raga lari 200 meter, Medali Perak di cabang olahraga lompat jauh, dan Medali Perunggu di cabang olahraga lari 100 meter. Sungguh menginspirasi!

Tina Sri Handayani, S.Kom

Tentu saja wisudawan yang lain tetap boleh berbangga karena mereka pun telah berhasil melewati ujian mereka masing-masing. Rasa lega itu tampak saat Tina Sri Handayani mewakili teman-temannya untuk mengucapkan terima kasih atas dukungan dari keluarga mereka selama ini. Menurut teman-teman blogger yang hadir di sana, sesi ini sungguh mengharukan.




Selamat Berkarya untuk Bangsa

Penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) menjadi agenda berikutnya. STT Bandung menjalin nota kesepahaman dengan pihak-pihak seperti: PT. Pos Indonesia, Bank Sampah Bersinar, Universitas Nasional PASIM, PT. SLU, CMYK, dan Hungchi Taiwan. Ini menunjukkan langkah awal STT Bandung yang lebih serius dalam sebuah kontrak atau perjanjian yang lebih mengikat dengan pihak-pihak tersebut.



Akhirnya, selamat dan sukses untuk para wisudawan STT Bandung. Wisuda bukanlah garis finish, tapi justru garis start untuk memulai tantangan kehidupan yang sesungguhnya. Bukan hanya untuk diri sendiri dan keluarga, lebih jauh lagi: untuk kemajuan bangsa.


Selamat mengamalkan ilmu dan semoga tidak bosan untuk terus berburu ilmu dimana pun berada. Baarakallahu fiikum 😊


Salam,











December 06, 2018

5 Blogger Idola Versi Saya

by , in


Siapa blogger idolamu?
Jika ada pertanyaan seperti itu, apa jawaban teman-teman? Mudah atau susah? Kalau saya sih (sedikit) susah, karena sungguh melimpah jumlah blogger kece yang tulisannya inspiratif, informatif, sekaligus edukatif. Apalagi jika harus menyebutkan 5 orang blogger saja. O-ow...

Lha maunya berapa? 100 orang?

Hehe, jangaaan... Ini saja saya masih tertinggal #BPN30DayChallenge2018. Kalau harus menyebutkan 100 orang, wuih... *semaput.

Okelah kalau begitu. Tema kali ini akan tetap saya jalani dengan lebih mengerucutkan ulasannya yaitu tentang 3 orang blogger keren yang pernah (bahkan sering) berinteraksi dengan saya. Ditambah 2 orang lagi yang blog-nya jauh-jauh hari sering saya buka, sebelum saya bergabung dengan komunitas-komunitas blogger dan rutin melakukan blogwalking. Artinya, sejak awal saya memang menyukai tulisan mereka.

Siapa sajakah mereka? Yuk, simak! 🙂

1. Dian Restu Agustina

Lifestyle blogger yang rajin memposting tulisannya di www.dianrestuagustina.com ini saya kenal pada bulan Juli 2017. Berawal dari masuknya saya sebagai anggota baru grup Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) di Facebook. Saya celingak-celinguk, duh banyak sekali link blog berseliweran di dinding grup kepenulisan yang diketuai Mbak Widyanti Yuliandari itu.

Ya, saat itu belum ada jadwal harian di grup sehingga banyak anggotanya yang membagikan link URL blog mereka. Banyak juga link tulisan di emakpintar.org yang kemudian saya ketahui sedang diikutsertakan lomba menulis dalam rangka ulang tahun IIDN ke-7. Wah, saya langsung tertarik untuk ikut.

Setelah tulisan saya rampung dan terposting di laman emakpintar, saya pun membagikannya di grup IIDN. Eh, ada yang berkomentar dengan nada penuh persahabatan. Dialah Mbak Dian Restu Agustina. Alangkah senangnya saya, si newbie yang memang sedang mencari kenalan baru.


Baiknya Mbak Dian, ngasih selamat pas kami sebuku di antologi Flash Fiction setahun lalu.

Saya pun mengintip profilnya dan langsung kagum: penulis dan blogger yang produktif, nih. Saya mengajukan pertemanan, tak lama kemudian diterimanya. Sejak saat itulah saya menjadikannya panutan.

Walaupun belum pernah kopdaran karena beliau tinggal di Jakarta dan saya di Malang, rasanya nyaman chatting dengan Mbak Dian. Sebelum blog saya TLD, bahkan Mbak Dian rajin komen di blog lama saya itu. Kadang jadi komentator satu-satunya, hehe. Maklum saya belum rutin blogwalking juga, sih.

Karena ngintip blog-nya, saya jadi mengenal komunitas Blogger Perempuan Network (BPN) dan Blogger Muslimah Indonesia (BMI). Khususnya di komunitas BMI, Mbak Dian membuat saya bersemangat mengikuti aktivitas ngeblog di sana. Alhasil, saya bisa mengikuti jejaknya: memenangkan dua challenge yang diselenggarakan BMI yaitu postingan tematik dan One Day One Post (ODOP).

Di luar blogging, Mbak Dian juga bersedia membeli novel sederhana saya, The Fear Between Us. Bahkan beliau bersedia mengulas novel bondo nekat itu, hehe. Matur nuwun, Mbak.

Bak model 🙂
IG : @dianrestuagustina
Panjang jika harus menceritakan semua tentang Mbak Dian. Mengagumkan, sih. Saya jadi punya mimpi yaitu bisa kopdaran dengan beliau suatu hari nanti.

Di Kediri atau Malang, Mbak? 😁 *maunya...

2. Diana Fitri

Kalau saya sebutkan nama aslinya, mungkin teman-teman masih mengira-ngira. Siapa, sih itu? Oke, kalau begitu, saya sebutkan nama blognya saja: dipidiff.com. Nah, kalau sudah nyebut nama blog, biasanya banyak yang ngeh, nih.

Masih belum kenal beliau? Yuk-yuk saya ajakin kenalan...

Saya biasa memanggilnya Teteh Dipi, sesuai nama panggilannya. Beliau adalah salah seorang book blogger keren yang langsung membuat saya kagum pada perkenalan pertama. Waktu itu, alamat blognya masih di www.dipiwarawiri.com.

Saya yang pertama kali menyapanya via inbox messenger, sekitar setahun yang lalu. Eh, beliau menjawab dengan hangat. Tepatnya, saya sedang galau, hehe. Ini sedikit bocoran chat kami :)

Baru kenal, eh saya curcol 😁

Setelah itu, pertemanan kami berlanjut. Saya semakin kagum dengan beliau. Wuih, buku-buku yang diulas sungguh ngeri-ngeri. Mayoritas tebal dan sering mengulas buku impor. Saya langsung membayangkan kecepatan beliau membaca dan memahami buku-buku yang menurut saya 'berat' itu.

Book blogger keren
IG : @dipidiff

Selain sebagai blogger, beliau juga seorang announcer radio, suka olahraga panahan, membatik, dan punya bisnis cookies. Walaupun keren begitu, beliau tetap ramah dan low profile, lho. Sama seperti harapan saya pada Mbak Dian, suatu saat saya pengen ketemuan dengan Teh Dipi juga. 🙂

3. Novia Syahidah Rais

Saat kali pertama masuk di grup komunitas Blogger Muslimah Indonesia (BMI), saya seperti diajak bernostalgia. Tidak lain karena akhirnya saya tahu bahwa founder komunitas ini adalah Uni Novia Syahidah, seorang penulis cerpen dan novel Islami yang tidak asing bagi saya di masa lalu. Tepatnya, saat saya masih jadi pembaca setia majalah Annida.

Sudah lama saya tidak mendengarkan kabar beliau, karena kekudetan saya, sih. Padahal walaupun Uni Novia tidak segencar dulu lagi menerbitkan buku, tapi ternyata passion menulisnya tetap tersalurkan pada blog-nya: www.tintaperak.com. Saya pernah menang giveaway di blog ini, alhamdulillah...

Uni Novia mengomentari postingan di blog lama saya. Tulisan saya itu tentang cerpen Islami lawas karya beliau.

Saya menyukai sudut pandang beliau saat menulis tentang tema keislaman. Ulasannya panjang lebar tapi tidak terkesan menggurui. Kadang opininya berbeda dari apa yang sering beredar di luar sana, tapi akhirnya bikin manggut-manggut. Saya cocok sih dengan prinsip beliau yang menyukai persaudaraan antar muslimah walaupun berbeda organisasi dan pergerakan.

Uni Novia dengab niqab-nya sekarang
IG @noviasyahidah
Belakangan, beliau memilih untuk memakai cadar. Sebuah keputusan besar yang behind the scene-nya ditulisnya pula di blog. Perubahan penampilan itu tetap membuat Uni Novia luwes bergaul dengan orang-orang di sekitarnya. Termasuk memimpin rombongan Muslimah Trip (MozTrip) untuk travelling bareng, baik di dalam maupun luar negeri. Duh, mupeng saya :-D

4. Wulan Darmanto

Saya mengetahui nama beliau kali pertama melalui facebook, kira-kira empat tahun yang lalu. Awalnya, ada sebuah tulisan tak bertuan yang dibagikan di sebuah grup WA yang saya ikuti. Isinya seputar kehidupan rumah tangga yang ditulis dengan gaya bahasa renyah. Saya penasaran dengan penulis aslinya. Dalam hati saya berucap: biasanya tulisan hasil copasan begini asalnya dari facebook.


Statusnya di facebook laris manis dibagikan
IG @wulandarmanto

Mulailah saya menelusurinya. Dugaan saya benar, penulisnya bernama Wulan Darmanto. Beliau adalah ibu rumah tangga dengan tiga orang anak yang juga seorang penulis buku. Status facebooknya umumnya panjang, berisi tulisan-tulisan bagus yang sering dibagikan oleh para facebooker. Juga dicopas seenaknya seperti yang saya sebutkan di atas. Pssst... jangan ditiru, yak!

Belakangan, saya tahu bahwa Mbak Wulan juga seorang blogger. Alamat blog-nya sama dengan namanya: www.wulandarmanto.com. Walaupun di blognya tidak terdapat banner komunitas blogger apapun, kepopuleran tulisannya tidak diragukan lagi. Misalnya, tulisan di blognya yang berjudul Jika Anakmu 'Pecicilan' telah dilihat sebanyak 9.400-an kali Dan dibagikan sebanyak 2300 kali. Wow!


Pastinya, kepopuleran beliau didapat dari tulisannya yang mengena di hati pembacanya, terutama ibu-ibu. Ya, pembahasan seputar rumah tangga dan anak bisa dikemasnya dengan menarik. Kadang beliau juga membicarakan hal kekinian dan menimpalinya dengan sudut pandangnya yang bijak menurut saya. 

5. Farchan Noor Rachman

Teman-teman travel blogger pasti tidak asing dengan blog www.efenerr.com, bukan? Yups, nama blog itu adalah akronim dari huruf awal nama pemiliknya: F-N-R. Mas Farchan adalah seorang ASN Ditjen Pajak yang aktif ngeblog dengan niche travelling, yang juga penulis buku.

Mas Chan, satu-satunya blogger pria yang saya sebut di sini ( IG: @efenerr)

Seperti saat tahu tentang Mbak Wulan, saya mengetahui blog Mas Farchan juga berawal dari facebook. Sekitar empat tahun yang lalu juga. Saat itu (kalau tidak salah) sedang ada ribut-ribut tentang pakaian muslimah Aceh di linimasa. Beliau ternyata punya referensi lebih akurat dibandingkan dengan yang beredar di kalangan warganet. 

Nah, saat itulah saya mulai menjadikan info dan opini beliau sebagai salah satu referensi. Hal itu sering berulang di setiap kejadian yang membuat saya berpikir: ini orang sudut pandangnya bisa lain dari yang lain. Bijak! Saya menebak karena seringnya beliau 'berjalan' itulah yang membuatnya kaya pengalaman.

Walaupun seorang travel blogger, beliau sering tidak mencantumkan itinerary. Karena menurut blogger yang jago memotret ini, travelling adalah cara masing-masing. Hmm, kita-nya sendiri yang disuruh kreatif, nih... Saya sih setuju dengan tagline blog-nya yang berbunyi: Mari Berjalan, Kawan! Dalam pandangan saya, itu seakan terbaca: Mari terus berpikir dalam setiap perjalanan kita. 
Siap, Insya Allah 🙂


Nah, itulah 5 blogger inspiratif di mata saya. Masing-masing mewakili sebagian tema yang saya sukai: lifestyle, buku, keislaman, keluarga, dan travelling. Sekali lagi, susah sebenarnya menyaringnya. Buanyak blogger lain yang juga menarik perhatian saya.

Seiring berjalannya waktu dan berprosesnya saya dalam blogwalking, siapa tahu my next favorite blogger is you. Iya, kamu! 🙂


Salam,








#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan
#Day9
#5BloggerFavorit







December 04, 2018

Air Terjun Jumog, Wonderful Indonesia di Tengah Pulau Jawa

by , in

Saya begitu menyukai air terjun. Pancaran airnya yang melimpah jatuh ke bawah adalah sebentuk keperkasaan alam yang indah. Biasanya, ada hiasan penuh kehijauan di sekitarnya yang memanjakan mata. Salah satu keajaiban alam yang pernah saya kunjungi itu adalah Air Terjun Jumog, Karanganyar, Jawa Tengah.



Sebelumnya, saya mengira bahwa primadona wisata berupa air terjun di Karanganyar itu hanya Air Terjun Grojogan Sewu di Kecamatan Tawangmangu. Padahal, selain Grojogan Sewu, ada juga Air Terjun Jumog yang tidak kalah eksotisnya. Ya, keduanya sama-sama terletak di kaki Gunung Lawu. Air Terjun Jumog pun merupakan wisata andalan Karanganyar, kabupaten berhawa dingin yang masuk dalam wilayah Solo Raya itu.



Surga yang Sempat Tersembunyi

Alangkah senangnya ketika kakak ipar mengajak saya sekeluarga untuk mengunjungi Air Terjun Jumog, saat kami mudik ke Solo beberapa waktu yang lalu. Setelah berunding sejenak, kami memutuskan untuk naik sepeda motor secara rombongan menuju kawasan air terjun yang terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso tersebut.

Kami berangkat sekitar jam tujuh pagi dari arah Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Dengan kecepatan sedang, kami harus menempuh jarak sekitar 38 kilometer ke arah timur. Jalanan tidak terlalu padat saat kami sampai ke Jalan Raya Solo-Tawangmangu. Suami saya mengikuti kakak ipar yang membelokkan motornya ke arah Jalan Lawu, terus ke timur menuju Jalan Karangpandan.

Sejuknya udara mulai terasa. Berbeda sekali dengan hawa Kota Solo yang panas. Ah, saya begitu menikmatinya. Sampai saya tidak menyadari bahwa kami sudah memasuki area parkir di kawasan wisata Air Terjun Jumog. Sekitar satu jam sepuluh menit ternyata waktu perjalanan kami.

Ucapan selamat datang di Air Terjun Jumog (dok.pribadi)

Banyak pengunjung lain yang juga bersiap memasuki kawasan wisata yang dibuka mulai jam delapan pagi itu. Maklum, libur lebaran. Seusai membayar biaya parkir sebesar Rp 2.000, kami membeli tiket masuk yang harganya Rp 5.000 per orang. Sebuah harga yang cukup murah untuk menikmati sebuah surga yang pernah tersembunyi.

The Hidden Paradise, begitulah Air Terjun Jumog dijuluki. Sebabnya, dulu keindahan air terjun tersebut tertutupi oleh rerimbunan semak. Atas inisiatif warga Desa Berjo, semak-semak tersebut disiangi untuk membuka jalan. Pada tahun 2004, Air Terjun Jumog mulai dikenal luas karena sudah dibuka untuk umum di bawah pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Berjo.

Antara Kebanggaan Negeri dan Filosofi

Setelah melewati pintu masuk, kami disambut oleh pemandangan sungai kecil jernih di sebelah kanan yang bersumber dari aliran air terjun. Tampak pula deretan stand penjual makanan yang berjajar rapi. Rupanya mereka adalah pelaku UKM binaan BUMDes Berjo. Saya mengedarkan pandangan dengan kagum karena kawasan wisata tersebut cukup terjaga kebersihannya. 

Aliran sungai yang berasal dari air terjun (Sumber: IG @nyk_wisata)

Kami meneruskan langkah menuju arah air terjun. Karena membawa anak-anak, kami memilih melewati jalur bawah yang lebih landai. Sedangkan jalur atas lebih menantang karena para pengunjung harus menuruni sebanyak 116 anak tangga. Wah, sehatnya!

Terus melangkah ke atas, kami berbaur dengan para pengunjung lain yang hilir mudik. Beberapa diantara mereka bermain di aliran sungai kecil berbatu-batu. Ada juga yang duduk-duduk di atas tikar yang digelar di sepanjang pinggir sungai. Warung-warung tenda di sebelah kanan adalah jawaban jika ada pengunjung yang tidak sempat sarapan.

Saya sendiri cukup terhibur karena pepohonan rindang memayungi di kiri dan kanan. Udara yang sejuk membuat peluh tak sempat menggerahkan tubuh. Semakin lama, jaraknya semakin dekat. Dalam pandangan saya, air terjun lukisan Tuhan itu seakan melambaikan tangan. 

Air Terjun Jumog dari dekat (dok. pribadi)

Daaan... inilah Air Terjun Jumog yang tingginya mencapai 30 meter itu. Cantik sekaligus gagah. Ah, susah mendeskripsikannya. Saya kira, air terjun ini tidak hanya menjadi kebanggaan Karanganyar dan Jawa Tengah saja. Ya, inilah salah satu perwujudan Wonderful Indonesia.

Saya bertasbih, lalu menengadahkan wajah dan memejamkan mata. Terasa titik-titik air memercik, seakan memberikan pijatan lembut pada wajah saya. Sementara itu, anak saya dan para sepupunya berteriak riang di dekat kaki saya. Tak mau kalah, suami saya pun berbasah ria bersama para kakak ipar.

Berdekatan dengan Jumog (dok. pribadi)

Saat itulah tiba-tiba saya berpikir tentang sebuah filosofi air terjun. Sebuah filosofi yang di kemudian hari saya sisipkan dalam novel perdana saya, The Fear Between Us. 

"Air terjun baginya selalu memesona. 
Meski ia terlihat tinggi, 
justru pesonanya karena ia tak pernah lupa untuk mengaliri dan berbaur 
dengan air di bawahnya. 
Ia memang selalu terjatuh dari atas, 
tapi ia tak bosan menjatuhkan dirinya 
demi sebentuk keindahan." 
(The Fear Between Us, halaman 40)

Alangkah indahnya perangai manusia Indonesia jika dia bisa seperti air terjun itu. Setuju?

Kolam Renang Alami dan Sate Kelinci

Puas menikmati kedekatan dengan Air Terjun Jumog, kami turun lagi ke bawah. Kami kembali berbaur dengan arus pengunjung yang sepertinya semakin banyak. Terlihat ada sebuah jembatan mungil yang membelah sungai kecil berair jernih yang saya sebutkan di awal tadi. Orang-orang tampak bergantian meniti jembatan mungil itu dan berfoto di sana.

Jembatan kecil, spot foto favorit di Jumog (Sumber: IG @nyk_wisata)

Kakak ipar saya mengajak kami ke arah kolam renang, waktunya anak-anak bersenang-senang. Ya, di sana ada kolam renang yang airnya bersumber langsung dari Gunung Lawu. Brrr... airnya dingin. Tapi anak-anak tampak riang menceburkan diri di sana.

Anak saya riang bermain di kolam renang

Sambil menunggu anak-anak, kami membeli penganan kecil yang dijual para pedagang lokal di sana. Ada cilok, gorengan, beraneka keripik, dan lain-lain. Ya, keberadaan kawasan wisata ini memang turut meningkatkan pendapatan masyarakat setempat.

Setelah anak-anak puas berenang dan membilas diri di kamar mandi yang tersedia, kami bersama-sama menuju deretan warung sate. Hari sudah siang, perut pun keroncongan. Hmm... sedap! Ada Sate Ayam dan Sate Kelinci yang merupakan kuliner khas di daerah itu. Tinggal pilih saja. Harganya pun cukup terjangkau yaitu Rp 10.000 per porsinya. 

Sungguh, rasanya saya ingin berlama-lama berada di Air Terjun Jumog. Tapi saat itu rombongan kami harus meneruskan perjalanan ke tujuan wisata yang lainnya. Saya berjanji, suatu hari saya akan kembali ke sana lagi. Insya Allah.

Suatu hari, kami ingin kembali (dok. pribadi)

Begitulah, keindahan alam Indonesia memang bisa membius kita. Jangan sampai kenangannya kita simpan sendiri. Yuk, tuliskan dengan mengikuti Wonderful Indonesia Blog Competition 2018 seperti saya.



Salam Pecinta Wisata,
Salam #WonderfulIndonesia,



December 01, 2018

5 Benda Penghuni Tas dan Kisahnya

by , in


Alhamdulillah, sudah memasuki hari ke-8 di tantangan #BPN30DayChallenge2018. Untuk saya, sih. Telat, hehe. Yang penting tetap semangat merapel. Nah, kali ini tema challenge-nya adalah tentang 5 benda yang mengisi tas saya. Duh, tema penuh kekepoan ini mah. 

Hmm... Oke, deh. No problemo, Fernando. 😁 Untungnya bukan tentang berapa jumlah lembaran merah di dalam dompet.🙈

Bagi mayoritas perempuan, tas adalah teman setia kemana pun mereka pergi. Biasanya sih saat keluar rumah dengan jarak agak jauh. Saya pun demikian. Rasanya aneh jika keluar rumah hanya 'membawa diri' saja. Kata orang Jawa: nglenthung alias tangan kosong.

Bahkan bagi sebagian perempuan, tas kerap menjadi bagian dari OOTD alias Outfit of The Day. Tidak heran, mereka yang memerhatikan betul OOTD-nya akan selektif apakah model tas yang dibawanya sudah sesuai. Model sling bag, handbag, tote bag, atau clutch? Begitu pun dengan warna tasnya. Harus matching dengan bajunya, dong.

Saya sendiri punya 4 model tas yang tersebut di atas, yang tentu saja saya pakai bergantian saat keluar rumah. Setelah si kecil lahir, ada tas tambahan yang selalu saya bawa. Yups, tas bayi. Isinya? Seputar baju, diaper, tisu basah, dan teman-temannya lah. Seperti pada umumnya.


Nah, sebenarnya 5 benda yang ada di dalam sling bag rajutan saya ini pun biasa saja, sih. Mungkin hampir sama dengan yang teman-teman bawa, yaitu:

1. Dompet

Yang satu ini adalah benda berharga yang tidak boleh sampai tertinggal. Bisa berabe, deh. Biarpun sekarang sudah banyak aplikasi dompet virtual, dompet real pasti tidak bisa sepenuhnya tergantikan. Yekan?

Ini adalah dompet kesayangan saya. Usianya sudah sekitar 4 tahun-an, tapi masih tetap saya pakai. Begitulah, saya memang orangnya setia. Dompet aja saya jaga, apalagi kamu. 😝 *colek misua


Dompet ini adalah produk yang dihasilkan oleh salah satu UKM unggulan dari Kabupaten Malang yaitu "Butik Tas dan Pusat Kerajinan Lufas Gallery". Produknya cantik-cantik tapi harganya terjangkau, lho. 

Kalau teman-teman sedang berlibur ke Malang, sempatkan mampir ke showroom-nya, ya. Alamatnya ada di Jalan Sidoluhur No.15 Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. IG: @lufasgallery

Btw, isi dompetnya tidak usah disebutkan, ya. Yang jelas, kalau tanggal muda begini, si dompet sedang gemuk. 😉 Alhamdulillah...

2. Ponsel

Benda yang kedua ini juga selalu saya pastikan ada di dalam tas. Buat saya, kedudukannya sama dan sederajat dengan dompet. 

Pernah sih saya meninggalkan si ponsel di rumah. Saat itu kami sekeluarga jalan-jalan sore ke arah Malang selatan. Saya pikir, karena jaraknya tidak terlalu jauh dan sedang ingin no gadget, si ponsel pun saya taruh di dalam lemari.

Tak dinyana, suami pun melakukan hal yang sama: meninggalkan tabletnya di rumah. Biasanya jika di rumah, dia memang nyaris tidak menyentuh tabletnya karena ingin full bermain dengan anak-anak.


Ternyata... mobil kami mengalami masalah di tengah jalan. Padahal saat itu hari sudah mulai gelap. Untunglah TKP-nya dekat dengan bengkel panggilan. Ada banner yang terpampang di dekat situ. O-ow... Tapi bagaimana kami menghubungi montirnya?

Alhamdulillah, ada sekumpulan orang di dekat situ yang mau meneleponkan si montir. Suami memutuskan untuk nungguin montirnya sampai datang. Sementara saya dan anak-anak disuruh pulang duluan. Iyes, kasihan dengan si kecil.

Kami pulang naik angkot, setelah menunggu agak lama. Ya, biasanya angkot memang jarang ada pada jam segitu. Belum lagi daerahnya jauh dari jalan provinsi sehingga jarang dilalui angkot. Coba kalau saat itu saya membawa ponsel. Tinggal klik aplikasi G* Car, kan.

Setelah kejadian itu, saya kekep tuh ponsel kalau keluar rumah, hehe. Kapok, deh... 

3. Kacamata

Sebagai manusia bermata empat, saya pastinya tidak terpisahkan dengan kacamata saat keluar rumah. Di rumah sih bisa lepas kacamata, kalau di luar... burem, euy. Sudah minus 2, sih.

Tak lupa, saya membawa serta tempatnya. Saat bepergian agak lama, pastinya saya sekeluarga mampir masjid untuk salat. Saat mengambil air wudhu, lebih aman jika kacamata ditaruh di tempatnya dan dimasukkan ke dalam tas. 


Pernah juga sih tempatnya tertinggal di rumah. Saat itu saya masih memakai kacamata yang lama. Saya taruh deh kacamatanya di tempat wudhu. Eeh... kelupaan. Saya dengan santai meninggalkannya bahkan hampir saja pergi dari situ. Untungnya saat saya ingat, si kacamatanya masih nangkring di tempatnya. Fiuhh... alhamdulillah.

4. Bedak dan Lip Gloss

Dua benda ini saya sebut bersamaan karena mereka bersimbiosis mutualisme untuk kebaikan wajah saya, hehe. Biasanya mereka saya pakai seusai salat di perjalanan. Ya... biar sedikit segar, gitu. 

Sebagai emak yang tidak doyan dandan, kedua benda itu cukup buat saya. Simpel dan praktis. Si kecil tidak kelamaan menunggu, perjalanan pun siap dilanjutkan kembali.


Pernah juga sih lupa tidak membawa keduanya. Saat itu saya sudah selesai salat dan baru menyadarinya. It's okay. Namanya juga lupa. Saya pun meminum air mineral lebih banyak agar bibir tidak kering.

Lalu, saya numpang lagi ke ruangan wudhu untuk berkaca. Kali aja jilbabnya miring. Baru deh sadar bahwa membawa bedak itu tak sekadarnya tentang urusan puk-pukin muka. 😅 

Setelahnya, saya berusaha tidak lupa lagi  memasukkan dua benda kecil itu ke dalam tas. 

5. Buku

Walaupun tidak selalu dibaca saat di perjalanan, saya kok merasa sreg aja jika ada setidaknya satu buku di dalam tas. Kadang bukan hanya buku saya, tapi bukunya anak-anak juga. Rehat di jalan sambil membuka buku, why not?

Lagipula, banyak spot bagus luar sana yang bisa dijadikan sebagai latar untuk keperluan book photography. Sambil jalan-jalan, calon banner blog yang membahas tentang review buku pun beres. 

Saya belum rutin cekrek-cekrek si buku saat di luar, sih. Dengan menulis tema ini, saya jadi punya rencana untuk melakukannya saat pergi besok. Insya Allah.

Ada saatnya sih saya tidak memasukkan buku ke dalam tas sebelum berangkat. Kapan itu? Sewaktu saya sekeluarga mampir ke toko atau bazar buku, dong. No book found pada awalnya, tapi dapet setumpuk saat pulangnya. 

Bagaimana dengan mushaf Alquran? Saya lebih memilih membawa aplikasinya saja jika bepergiannya ke tempat umum. Kalau ada acara ngaji, baru deh membawa mushafnya. Begitu...

Setelah saya renungkan, kelima benda yang saya sebutkan di atas tidak hanya sekadar printilan. Ada pesan tentang pentingnya sebuah persiapan sebelum bepergian. Seperti kata Stephen Keague, seorang penulis buku tentang public speaking, “Proper preparation prevents poor performance.”

Iya, sih. Kali ini performing-nya bukan dalam rangka presentasi tapi lebih kepada kelancaran perjalanan dan agenda yang saya jalani. Ada benda penting yang tertinggal, bisa berakibat fatal. 

Nah, bagaimana dengan teman-teman semua? Sudah lengkap kan isi tasnya? Atau pernah mengalami kejadian yang mirip saya kah? Silakan berbagi di sini ^^


Salam,




#BPN30DayChallenge
#BloggerPerempuan
#Day8
#Tentang5BendaDiDalamTas