My Lifestyle, My Journey, My Happiness

The Fear Between Us: Terbit Novelku, Hilang Takutku




Bertahun-tahun yang lalu saya membaca sebuah artikel pendek yang ditulis oleh M. Irfan Hidayatullah tentang membangun makna lewat remah kata. Ketua Umum Forum Lingkar Pena periode 2005-2009 itu menyebutkan bahwa kata adalah kendaraan bagi makna. Ya, berbagai kata yang dikumpulkan oleh seorang penulis dimaksudkan sebagai sarana penyampai makna. Metaforanya menurut saya unik, yaitu:

Puisi adalah motor bagi kata
Cerpen adalah angkot bagi kata
Novel adalah bus bagi kata
Skenario adalah pesawat bagi kata
Artikel adalah taksi bagi kata
Esai adalah bajaj bagi kata

Psst... waktu itu belum ada taksi online atau ojek online. Jadi mereka gak masuk hitungan, ya. :D So, saya yang ingin terus belajar menulis akhirnya jadi berpikir: harus nih mencoba naik semua kendaraan yang tersebut di atas. Yang paling menarik perhatian saya adalah novel. Asli saya penasaran sekali. Ingin banget menulis cerita minimal seratus halaman seperti jumlah halaman novel pada umumnya. Tapi bagaimana memulainya?

Novel adalah bus bagi kata

Mengikuti Lomba, Memacu Asa
Di tengah kerempongan menemani anak-anak bermain, ada sebuah tantangan menggoda pada bulan Agustus 2017 yang lalu. Yups, lomba novel. Boleh nih dicoba, pikir saya. Apalagi tema yang dilombakan ternyata sudah ada di dalam angan-angan saya. Walaupun sebenarnya saya kurang yakin juga karena deadline-nya tinggal sebulan lagi. Take it or leave it?

Bismillah... akhirnya saya memutuskan untuk mencoba dulu. Mumpung ide sedang berdesakan di otak dan meminta untuk dikeluarkan. Maka langkah pertama saya adalah meminta izin suami dulu. Iya, dong. Karena selama sebulan-an pastinya saya akan berusaha lebih fokus menulis dan saya perkirakan akan ada sedikit family time yang terpangkas. Alhamdulillah, suami saya yang baik dan ganteng pun mengizinkan. Ia pun jadi lebih sering mengajak anak-anak bermain dan membiarkan saya sendirian di jam-jam tertentu yang kami sepakati.

Mulailah saya  membuat outline cerita di sebuah notes kecil. Coret sana, coret sini. Meriset dari berbagai sumber seperti Mbah Gugel, buku-buku, dan pengalaman orang lain. Lalu mulai mengetik sedikit demi sedikit setiap harinya. Ternyata tantangannya lumayan juga. Apalagi saat  tiba-tiba ada ide yang mengubah outline awal yang dibuat sebelumnya. Karena saya rasa ide barunya lebih oke, perombakan kecil pun saya lakukan. Merasa jenuh dan mentok? Pernah, dong. Jika sudah seperti itu, saya memilih menjauhi laptop dan... tidur :D

Pilihan refreshing yang saya lakukan tersebut ternyata memang cocok buat saya. Saya tidak perlu piknik jauh-jauh, cukup piknik ke pulau kapuk, hehe. Setelahnya, pikiran terasa fresh sehingga saya bisa melanjutkan tulisan saya lagi. Saya menikmati prosesnya dan sering menemukan lanjutan cerita justru saat saya membiarkan jari-jari saya menari di atas keyboard. Menurut yang saya pahami, itulah yang namanya metode fast and free writing.Yups... just type and find the magic!

Ketika Kalah, Jangan Menyerah!
Alhamdulillah, naskah novel saya pun bisa kelar tepat pada waktunya. Mepet deadline, sih. Tapi saya masih sempat melakukan beberapa kali self editing. Lega, karena beberapa opini dan imajinasi saya sudah tersalurkan di dalam naskah novel tersebut, tidak hanya dipendam di dalam hati saja. Hasilnya? Ternyata naskah saya tidak terpilih. Ada sedih, sih. Tapi saya segera menyadari bahwa niat awal saya memang ingin belajar. Hasil itu juga menunjukkan bahwa saya masih butuh banyak jam terbang. 


Saya tetap bersyukur karena berhasil melewati tantangan menulis selama sebulan yang saya tetapkan sendiri. Ya, di bulan Agustus 2017 itu teman-teman member Blogger Muslimah Indonesia sedang melakukan writing challenge juga selama sebulan yaitu One Day One Post  (ODOP). Saya sudah melakukan hal yang sama dengan ranah yang berbeda. So... bye sadness!

Saya tetap berniat untuk melakukan editing ulang dan menerbitkan naskah novel tersebut secara indie. Seorang teman saya menyarankan agar saya mengajukan naskah tersebut ke penerbit mayor. Pingin, sih. Tapi rasanya wilayah saya sekarang indie dulu, deh. Menerbitkan secara indie bagi saya hampir sama dengan mem-publish tulisan di blog. Sebuah blog tidak pernah menolak tulisan kita, bukan? Seorang blogger juga bebas menerbitkan post barunya kapan saja dan tidak perlu menunggu lama. Minusnya  jika menerbitkan secara indie tentu saja harus keluar biaya dulu. :)

Selamat Datang Buku Solo Pertama!
Setelah melakukan editing ulang di sana-sini dengan durasi yang cukup lama, akhirnya saya pun menemukan sebuah penerbit indie yang sesuai. Pilihan saya jatuh kepada Jejak Publisher, sebuah penerbit buku indie yang aktif menyelenggarakan lomba menulis dan website-nya selalu ter-update. Saya pernah mengikuti sebuah lomba menulis fiksi mini yang diselenggarakan Jejak Publisher dan berhasil menjadi salah satu kontributor. Kinerja mereka oke dari segi ketepatan waktu informasi lomba, penerbitan sertifikat peserta, dan pengiriman buku hasil lombanya. Hal-hal itu menjadi pertimbangan saya, selain memang biaya penerbitannya yang pas di kantong.

Saya mulai mengajukan naskah saya pada tanggal 8 Desember 2017 dan terus melakukan kontak via e-mail dengan penerbit. Saya jadi mengetahui tentang seluk beluk perjanjian penerbitan itu seperti apa. Sebuah hal baru yang pastinya menambah pengalaman saya. Alhamdulillah, novel saya yang berjudul “The Fear Between Us” sekarang sudah masuk ke tahap Pre Order. Berikut info lengkapnya:


KATEGORI BUKU: Novel
JUDUL BUKU: The Fear Between Us
PENULIS: Tatiek Purwanti
EDITOR: WijaeHan
PENYUNTING DAN PENATA LETAK: Tim CV Jejak
DESAIN SAMPUL: Andi Tri Saputra
PENERBIT: CV Jejak (Jejak Publisher)
JUMLAH HALAMAN: 180 Halaman
DIMENSI: 14 x 20 cm
ISBN: 978-602-5455-93-3

Blurb:
Lihatlah ia: Dania.
Gadis manis yang lincah dan energik. Ia baru saja menyelesaikan study-nya sebagai seorang mahasiswi jurusan Desain Komunikasi Visual di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Malang.
Di balik cerianya, ia punya Aviophobia.

Lihatlah ia: Randy.
Laki-laki menawan dari desa, seorang wirausahawan muda di bidang konveksi yang tengah menanjak bisnisnya, tapi tetap hidup sederhana.
Di balik suksesnya, ia punya Philophobia.

Apa yang terjadi bila keduanya bertemu?
Akankah mereka bisa menaklukkan ketakutan itu?


Yuk, Pesan Sekarang!
Novel saya yang bergenre romance religi ini mengambil setting di wilayah Malang Raya, tempat tinggal saya sendiri. Sedangkan setting waktunya adalah di menjelang bulan Ramadan, saat bulan Ramadan, dan Idul Fitri. Ingin tahu bagaimana kisah Dania dan Randy menaklukkan rasa takut mereka? Yuk, pesan saja! :) Karena jika memesan saat Pre Order, harganya hanya Rp 45.000 (belum ongkir). PO-nya sampai tanggal 15 Januari 2018, lho! 

======= CARA PEMESANAN =======
Whatsapp atau SMS ke 085771233027

atau pesan melalui message FB Jejak Publisher (https://www.facebook.com/JejakOfficial) dengan format pemesanan:

Judul Buku/Jumlah Buku/Nama Pemesan/Alamat Lengkap/No HP/
Contoh: The Fear Between Us/2/Budi Hartono/Jln Jenderal Sudirman No 4, Sukabumi 43355/081234567

Setelah mendapat balasan konfirmasi, silahkan transfer harga buku + ongkos kirim sesuai alamat yang telah dituju ke rekening. Lalu kirimkan bukti tanda transfernya melalui balasan pesan/whatsappnya.
================


Menulis buku itu sungguh seru. Dari novel perdana saya yang bertema fobia ini saya belajar tentang sebuah kesungguhan: jika punya ide segera  realisasikan! Waktu luang saya sebagai seorang emak pejuang LDR yang digelendotin batita dan kakaknya sebenarnya tidak banyak. Tapi dari novel ini saya belajar juga tentang menulis secara kontinyu dan menulis kapan saja. Ya, tidak akan ada waktu luang jika saya tidak meluangkannya sendiri. Pastinya karya saya itu belum sebaik novel-novel para mastah yang sudah lama menjadi pendekar di dunia per-novel-an. Tapi saya tidak takut mencoba dan akan terus mencoba. Insya Allah.

Salam,




Sumber gambar: pixabay

4 comments:

  1. Selamat ya mbak buku nya sudah terbit, hehe. Sukses untuk penjualan bukunya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin yaa Rabb. Makasih, Mbak. Semoga kapan2 saya bisa ikutan event-nya AE. Kudet saya kalo ada AE di dekat sini :D

      Delete
  2. Masya Allah jadi bengini kronologi lahirannya...!
    Selamat ya Mbak Tatiek..
    Semoga ini jadi awal bagi lahirnya karya-karya selanjutnya:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah, Mbak. Alhamdulillah, salah satu rasa penasaran saya sudah terobati. Makasih, Mbak. Sukses juga buat Mbak Dian 😘

      Delete