My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Sederet Kenangan tentang Batam yang Tak Terlupakan



BATAM = Bila Anda Tiba Anda Menyesal
BATAM = Bila Anda Tabah Anda Menang

Sudah delapan belas tahun berlalu, akronim di atas tetap tersimpan rapi di kepala saya. Pertama kali mendengarnya adalah saat saya dan teman-teman diberi pengarahan oleh seorang bapak dari pihak penyalur tenaga kerja. Saat itu, Agustus 2000, saya memutuskan untuk bekerja di Batam, Kepulauan Riau. Sebuah pilihan hidup yang harus saya ambil selepas lulus SMK.

Saya masih ingat, bapak itu berkata bahwa para pekerja muda biasanya kaget dan menyesal saat baru tiba di Batam. Kaget, karena kondisi Batam yang jauh berbeda dengan kampung halaman. Cuaca di sana panas menyengat, tapi hujan bisa turun dengan tiba-tiba. Masyarakatnya sangat heterogen, tidak hanya orang Melayu. Ibaratnya, perwakilan berbagai suku di Indonesia ada di sana. Adaptasi harus cepat dilakukan jika tidak ingin rasa kagetnya berkelanjutan.

Saya dan ikon kota Batam: Jembatan Barelang

Menyesal bisa pula dirasakan jika kondisi pekerjaan ternyata tidak sesuai harapan. Kota industri itu tentu saja meminta para pekerjanya habis-habisan demi target-target perusahaan. Cepat dan tepat dalam bekerja adalah rumus yang harus diterapkan jika tidak ingin ditegur mandor atau atasan. Tidak betah dan mau melarikan diri? Hoho… Sulit. Rata-rata pekerja muda direkrut dari luar Batam dengan ijazah ditahan sebagai jaminan.

Tabah. Ya, itu adalah satu-satunya jalan agar bisa menang. Baik menang karena berhasil menuntaskan pekerjaan, ataupun menang karena bisa membawa diri dan hati-hati. Bukan rahasia lagi jika pergaulan bebas dan berfoya-foya adalah godaan mematikan selepas bekerja di sana. Rasa penat, uang di tangan, dan jauh dari orang tua: ahh… bebas!

Alhamdulillah, saya terus berusaha untuk tabah. Berat di awal, tapi akhirnya bertemu kemenangan. Alhasil, episode hidup di Batam selama satu dasawarsa adalah salah satu momen hidup yang tidak akan saya lupakan. Foto-foto saat berada di Batam bercerita bahwa banyak kenangan indah yang tercipta di sana, yaitu:

1. Saya Berani Merantau

Dulu, saya adalah gadis muda pendiam yang lebih senang berdiam di rumah sepulang sekolah. Paling jauh, saya hanya pergi ke Blitar dan Surabaya. Tapi, keinginan untuk meringankan beban orang tua membuat saya memberanikan diri untuk pergi. Jauh sekali.

Berpose dengan seragam kerja di belakang perusahaan; masih banyak hutannya.

Saat itu, Batam yang berjarak sekitar 2000 kilometer dari tempat tinggal saya - Malang - adalah primadona bagi para pekerja muda. Upah Minimum Regional (UMR) yang tinggi adalah tujuan utama saya merantau ke sana. Sekali lagi, demi orang tua. Walaupun tidak ada satu pun kerabat yang tinggal di sana. Ya, saya adalah orang pertama di keluarga besar saya yang memberanikan diri terbang ke pulau yang berdekatan dengan Singapura itu.

2. Saya Menemukan Hidayah

Sungguh, bekerja di dunia industri yang menuntut serba cepat seperti robot itu berat. Apalagi sebenarnya saya adalah gadis yang tidak cerdas kinestetik. Saya berusaha mengatasi tekanan itu dengan berpikir positif; ini adalah tantangan yang pasti bisa saya taklukkan. Saya harus tabah, sebagaimana tekad saya di awal-awal bekerja.

Saya di sebuah pantai di Pulau Galang Baru

Suatu hari, saya tersadar bahwa bekerja itu harus ikhlas, tidak sekadar bekerja keras dan bekerja cerdas. Bekerja ikhlas karena Allah Swt akan bernilai ibadah sekaligus meringankan beban yang dirasa berat. Kesadaran itu semakin menguat seiring semakin seringnya saya menghadiri kajian-kajian keislaman. Pelan-pelan saya mulai menata diri dan menata hati. Saya bertekad untuk berubah menjadi lebih baik. Alhamdulillah, akhirnya saya mantap berhijab di tahun 2001.

3. Saya Bertemu Jodoh

Setelah berhijab, saya terdorong untuk menjadi aktivis remaja masjid yang berada di kawasan industri itu. Setelah bekerja dari pagi sampai sore, saya mengabdikan diri mengurus kegiatan dakwah di masjid bersama teman-teman sesama aktivis. Senang rasanya. Rasa capek setelah bekerja seakan hilang entah ke mana.

Saya dan suami saat acara Family Gathering di Palm Spring

Rasa gembira itu membuat saya memutuskan untuk memperpanjang kontrak kerja. Di tahun ketiga, saya bahkan  memutuskan untuk menjadi karyawan permanen. Sebuah keputusan yang diikuti takdir saya yang lain: bertemu dengan jodoh. Dia yang awalnya adalah teman sesama aktivis remaja masjid, akhirnya menjadi teman sehidup sesurga. Insya Allah.

4. Saya Meneruskan Kuliah

Sejak awal di Batam, saya bertekad untuk menabung agar bisa kuliah di sana. Tapi saat itu belum ada universitas negeri di sana. Yang swasta? Duh, mahal sekali biayanya. Jauh pula jaraknya. Mimpi itu sempat terlupakan setelah saya asyik menjadi aktivis remaja masjid. Ya, waktu saya memang tercurahkan di sana.

Setelah menikah, keinginan itu muncul kembali. Suami yang juga lulusan SMK pun ingin melanjutkan kuliahnya. Bukankah tak ada kata terlambat untuk belajar? Akhirnya dia berkuliah di STMIK Putera Batam (sekarang Universitas Putera Batam), sedangkan saya memilih di Universitas Terbuka. Walaupun ada yang mencibir: kuliah kok di situ? Saya tersenyum saja. Saya yang belajar kok situ yang ribut? ^^

Saya harus realistis karena berat biayanya jika saya pun berkuliah di kampus suami. Yang penting bagi saya adalah bisa melanjutkan belajar di jurusan yang saya sukai: Bahasa Inggris. Tidak terlalu sulit untuk belajar secara mandiri dan sesekali di kelompok belajar (pokjar). Alhamdulillah, kami bisa lulus bersamaan. Lalu, kami memutuskan untuk resign dari perusahaan dan pulang kampung ke Malang di akhir tahun 2010.

Saya di depan kampus UT Batam. 

Harap maklum ya jika foto-foto penuh kenangan di atas berkualitas seadanya. Ya, foto-foto tersebut diambil menggunakan kamera poket. Ponsel pertama saya di tahun 2003 tentu saja masih berwujud ponsel polyphonic, belum ada kameranya. Saya baru punya ponsel berkamera saat si sulung lahir pada 7 Maret 2007.

Saat memandang foto-foto itu, saya jadi punya mimpi untuk terbang lagi ke Batam. Ingin sekali mengunjungi teman-teman yang masih berada di sana. Ingin mengunjungi tempat-tempat penuh kenangan yang pastinya sudah banyak berubah. Ingin mengunjungi tempat-tempat wisata baru yang dulu belum ada saat saya tinggal di sana.

Sambil menunggu saat itu tiba, saya harus menyiapkan ‘alat tempurnya’. Ya, apalagi kalau bukan ponsel berkamera canggih agar momen yang terbidik nantinya jauh lebih indah dari foto-foto di atas. Belakangan ini saya memang sedang merencanakan membeli ponsel pintar baru, karena ponsel pintar yang saya pakai sekarang sudah sering error.


Saya pun berunding dengan suami. Googling sana, googling sini. Survei juga ke konter ponsel. Daaan… Taraaa! Semua itu saya temukan pada ponsel pintar Huawei nova 3i


Si cantik Huawei nova 3i (sumber: consumer.huawei.com)

Ada Apa dengan Huawei nova 3i?

Ponsel pintar Huawei nova 3i dilaunching pada tanggal 31 Juli 2018 di Jakarta. Ponsel kelas menengah ini berciri khas desain yang fashionable dan berkamera ciamik, pas banget digunakan sebagai smartphone fotografi. Selengkapnya, ini dia keunggulan desain Huawei nova 3i :

Quad AI Camera

Tidak hanya dua, Huawei nova 3i dilengkapi dengan 4 kamera yang sudah mendukung Artificial Intelligent (AI) atau kecerdasan buatan. 

Nah, untuk keperluan swafoto, tersedia 2 kamera di bagian depan. Keduanya ditanam di bagian poni atau notch  yang menjorok ke dalam layar di sisi atas, mengapit earpiece. Kamera utama mempunyai resolusi 24 MP, sedangkan yang kedua adalah 2 MP. Mantap, kan?


Sumber: consumer.huawei.com

Saat kita berfoto selfie, lensa utama dan kedua bersinergi menghasilkan foto-foto keren nan menakjubkan, dengan efek bokeh yang otentik. Bokeh adalah background blur, di mana latar belakang foto tampak buram sementara subyek utama tetap tajam. Lagi ngetrend, tuh.

Di dalamnya ada algoritma beautification yang bertugas mendeteksi jenis kelamin penggunanya. So, jika  suami saya ber-selfie memakai Huawei nova 3i, hasil fotonya akan menunjukkan sosok pria yang ganteng, bukan jadi pria cantik. Hehe...

Sedangkan untuk kamera ganda di bagian belakang, masing-masing memiliki resolusi 16 MP dan 2 MP. Hasilnya? Kombinasi keduanya akan menghasilkan foto dengan tingkat kejernihan yang tinggi dan efek bokeh profesional yang tampak alami. 

Ini karena teknologi AI bertindak sebagai photography mastermind, yang dapat membedakan lebih dari 500 skenario, memilah-milahnya ke dalam 22 tipe dan melakukan optimalisasi pada tiap pengambilan gambar. Menurut Huawei, teknologi AI mereka adalah yang terbaik di industri smartphone, lho. Keren, kan?

Performa yang Menjanjikan

Bermain game dan menjalankan multitasking lainnya di saat yang sama sih bukan masalah buat Huawei nova 3i. Lancar jaya! Ini karena prosesor yang digunakan adalah Octa Core dengan chipset Hisilicon Kirin 710.


Sumber: IG @huaweimobile.id

Nah, ini juga penting, nih. Kapasitas RAM-nya 4 GB dengan internal memori sebesar 128 GB. Mau mengunduh banyak  aplikasi? Ayo aja! Foto-foto dan video yang sudah dibidik juga akan nyaman bersarang di sini. Masih kurang? Slot micro SD-nya sampai 256 GB, lho. Merdeka!

Desain Fashionable dan Cantik

Duh, tampilannya cantik, ya? Huawei nova 3i memiliki dua pilihan warna yaitu hitam dan iris purple. Nah, iris purple adalah perpaduan antara warna biru dan ungu. Jika terkena cahaya, bagian belakangnya akan lebih terlihat futuristik dan keren.

Huawei nova 3i memiliki panjang 75,2 mm, tinggi 157,6 mm, dan lebar 7,6 mm. Beratnya kira-kira 169 gram (termasuk dengan baterai). Sedangkan ukuran layarnya cukup luas yaitu 6,3 inchi dengan aspek rasio layar 19,5:9. Pas sekali dengan yang saya cari.

Smartphone Termurah di Kelasnya dengan Storage 128 GB

Setelah saya bandingkan, harga Huawei nova 3i ini paling murah lho dibandingkan dengan smartphone kelas menengah yang sama-sama berkapasitas 128 GB. Nah, ini dia! Lebih murah tapi berkualitas adalah dambaan emak-emak seperti saya.

Saya dan suami saat di Mega Wisata Ocarina



Saya membayangkan, alangkah indahnya bisa menaiki si burung besi sekeluarga menuju sebuah pulau penuh kenangan. Bandara Hang Nadim pasti akan tersenyum menyambut kami.  Akan saya ajak anak-anak ke Masjid Nurul Islam, tempat kami menikah dulu. Semoga saat itu bunga Sakura sedang bermekaran di sana.

Apa kabar Jembatan Barelang? Jembatan yang merupakan ikon Batam ini menghubungkan pulau Batam, pulau Rempang, dan pulau Galang. Pasti sekarang bertambah ramai suasananya. Lalu, secantik apa sekarang Mega Wisata Ocarina? Ah, tunggu kami datang dan berfoto bersama kalian, ya. Insya Allah.





Titip rindu buat Batam,








19 comments:

  1. Wah iya, dulu saat saya lulus aliyah sempat ditawari kerja di perusahan dengan jaminan ijazah ditahan. tapi untungnya nggak jadi, karena anaknya cemen, berat sama yang di rumah hehee
    Mbak nya berarti sudah berhasil dengan mendapatkan kemenangan saat berada di Batam yah, heheee
    Semoga esok bisa ke Batam lagi dengan mengulang memori di masa lampau yah mbak, dengan membawa smartphone Huawei Nova 3i.
    Good Luck mbak
    Salam kenal dari Bumi Jember ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, Mbak. Saya sih ngerasa menang :) Allah yg memudahkan semuanya. Terima kasih atas doanya. Salam kenal balik dari Malang ^^ Makasih sudah mampir ke sini.

      Delete
  2. Masya Allah..kisahnya Mbak Tatiek..speechless saya dengan semangat dan tekadnya! Salut
    Ikut bangga saya Mbak dnegan perjuangannya bersama suami. Semoga makin sukses bersama keluarga dan apa yang dicita-citakan kesampaian...termasuk mengunjungi Batam lagi satu hari nanti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, perjuangan yg tak terlupakan di atas tentunya karena dimudahkan oleh Allah Swt. Makasih doanya, Mbak 😘 Masih menunggu 'a dream comes true' 😊

      Delete
  3. salut….kerja sambil kuliah.

    Thank you for sharing

    ReplyDelete
  4. MasyaAllah mba hebat berani hijrah ke kota orang..

    Oiya mba huawei ini ada fitur fast chargingnya ga yah? Soalnya kadang suka lupa bawa powerbank

    ReplyDelete
  5. Kisahnya menarik. Bagus. Coba dijadikan buku inspirasi Mbak 😁

    ReplyDelete
  6. 10 jempol untuk keberaniannya meranatu seorang diri. Betewe foto-fotonya bags kok. Apakah fotonya akan lebih bagus jika menggunakan hp Huawei nova 3i?

    ReplyDelete
  7. Dari dulu selalu penasaran sama batam, katanya kalo mau ke singapore gampang tinggal naik boat aja. Duh mauuu lah wkwk. Insya Allah kalo diijinkan traveling kesana ah. Makasih ya mba sharingnya.

    ReplyDelete
  8. Bisa yaa bikin kepanjangan dari BATAM kecelah 😄

    ReplyDelete
  9. Saya baru 2 kali ke Batam mba, itupun karena mau ke Singapur hahah. Puanas pol dan gerah, itu yang daya rasakan. Tapi gak tahu kalau untuk stay mungkin menuenangkan juga kali ya beberapa malam di sana gitu, #ngarep#

    ReplyDelete
  10. Wah, ternyata Mbak Tatiek sudah melanglang buana jauh ke Batam, gak nyangka ,Mbak. Adik saya pernah juga kerja di Batam. tapi akhirnya pulang karena nggak kuat. Ya ya ya, memang intinya kita harus tahan uji. Tapi yang penting masih ada kenangan ya Mbak. Besok2 ke sana lagi sama kakak dan adik udah bawa Huawei, amin.

    ReplyDelete
  11. Wah belum kebayang batam kayak gimana..alhamdulillah jadi tau batam setelah baca blog inih.
    Nanti aplod batam pake hua

    ReplyDelete
  12. Keren banget sangat inspiratif, gadis tangguh terus menjadi wanita tangguh dan akhirnya menjadi ibu tangguh luar biasa

    ReplyDelete
  13. wah jauh merantaunya.Tapi salut bisa selalu positif di perantauan. Keren banget...

    ReplyDelete
  14. cocok ni kamera Huawei Nova 3i untuk teman perjalanan, sudah dilengkapi teknologi AI ya. keren!

    ReplyDelete
  15. Cocoknya smartphonenya Samsung Galaxy Note 9 atau Iphone X mbak Tatiek :-)

    ReplyDelete
  16. Kerennyaaa, merantau tanpa sanak saudara. Kalau aku masih maju mundur cantik mbak, baru setelah menikah baru berani jauh dari keluarga. Hihi. Handphone keluaran Huawei mmg berkualitas mbak, aku aja make yg seri jadul udah lamaaaa banget, tp ttp oke dan kuat utk multitasking. Tp liat yg Nova 3i ini jadi pengen juga.

    ReplyDelete
  17. Wah mba tatiek keren, merantaunya jauuuh. Sy malah blum pernah ke Batam hehe.

    Wah hape Huawei Nova 3i asik nih buat mengabadikan momen spesial bareng keluarga :)

    ReplyDelete