My Lifestyle, My Journey, My Happiness

White Lie, Ketika Kebohongan Diperbolehkan


Judul buku: White Lie
Jenis Buku: Antologi Fiksi Mini
Penulis: Tannia Margaret, dkk
Tahun terbit: Oktober 2017
Penerbit: Jejak Publisher
Jumlah halaman: 276 halaman
ISBN: 978-602-5455-52-0


Dua hari yang lalu saya mengulas buku antologi kesebelas saya yang berjudul Ramadan Penuh Hikmah. Eh, saya jadi teringat bahwa beberapa antologi sebelumnya malah belum saya ceritakan di sini. Salah satunya adalah buku antologi saya yang kelima yang berjudul White Lie.

Buku antologi ini berisi kumpulan fiksi mini, hasil dari Lomba Cipta Fiksi Mini Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Jejak Publisher, bulan September 2017. Jejak Publisher ini merupakan salah satu penerbit indie yang bermarkas di Sukabumi, Jawa Barat. Dulu, penerbit ini yang saya pilih untuk menerbitkan novel perdana saya, The Fear Between Us

Dari 253 naskah yang masuk, terpilihlah 88 fiksi mini bertema White Lie ini. Buku antologi ini akhirnya terbit pada bulan berikutnya, Oktober 2017. Nah, anggap saja ulasan saya sekarang adalah dalam rangka ulang tahun si buku yang ke-1. Yeay!




By the way, sudah pada tahu yang dimaksud fiksi mini, belum? Ada yang menyebutnya dengan istilah flash fiction. Ada pula yang berpendapat kalau keduanya berbeda. Saya sudah pernah membahas tentang fiksi mini dan flash fiction pada postingan Resensi Antologi Flash Fiction "Tuhan Telah Berbaik Hati"


Mangga atuh, cekidot! ^^


Berkenalan dengan White Lie


White lie adalah salah satu bentuk idiom dalam Bahasa Inggris. Mengartikannya mudah saja yaitu kebohongan putih. Tapi apa ya maksudnya? Salah satu pendapat dari laman Urban Dictionary bisa mewakili makna idiom ini. Di sana disebutkan bahwa white lie is a lie with good intentions. Yeah, sebuah kebohongan dengan maksud yang baik. Lho, kok bisa?

Di bagian belakang buku berwarna hitam ini ada blurb sebagai penjelasan lengkapnya: 

Pernah mendengar istilah White Lie sebelumnya? Manusia, pada dasarnya, pasti pernah membuat sebuah kebohongan. Baik yang sekecil ujung pensil atau bahkan yang besar, sekali pun baik jika tetaplah kebohongan apapun alasan yang membuat kita berbohong, tidak bisa menghapus fakta bahwa kita sudah membuat kebohongan.

Tetapi, beberapa orang beranggapan, bahwa kebohongan yang dibuat demi kebaikan itu boleh-boleh saja. Dan dari sinilah istilah White Lie muncul; kebohongan yang diperbolehkan demi sebuah kebaikan.

Di masa kini, kebohongan ini semakin sering dijumpai dan semakin banyak dibuat oleh manusia. Namun sebenarnya, untuk kebaikan siapa White Lie itu dibuat? Untuk kebaikan orang lain, atau untuk diri sendiri? Karena dengan adanya istilah ini, manusia jadi lebih sering mengatasnamakan kebohongannya dengan White Lie, demi kepentingan diri sendiri.

Jadi bagaimanakah sebenarnya White Lie itu? Apa memang diperbolehkan karena akan ada kebaikan yang didapat, ataukah yang namanya kebohongan tetaplah kebohongan dan tidak boleh dilakukan apa pun alasannya?

Dalam buku inilah, para penulis mengeksplorasi tema White Lie dengan sebebas-bebasnya menjadi sebuah karya fiksi mini yang renyah!

Selamat menikmati kebohongan… ^^

Ketika Kebohongan Mereka Menjadi Cerita

Nah, inilah dia 88 orang penulis yang berhasil mengemas White Lie dengan warna yang berbeda-beda. Mereka terbagi atas:  

3 Orang Juara


5 Orang Penulis Terbaik


10 Orang Penulis Terfavorit



70 Orang Penulis Terpilih

Saya tidak bisa menampilkan semuanya di sini.
Saya sendiri berada di urutan 41, alhamdulillah. Pastinya harus ditampilkan, dong. Heuheu…

Juara ke-1, Tannia Margaret, namanya berhak terpampang di depan sampul buku ini. Yups, ide fiksi mini-nya yang berjudul Rumah Kehidupan memang anti mainstream. Setting tempat yang diambil adalah di kota Roma, Italia. Saat itu Nazi, Jerman sedang berkuasa pada perang dunia kedua.

Fiksi mini tersebut menceritakan tentang perjuangan seorang dokter bernama Ignacio Conte bersama rekannya, dokter Andrea Verratti. Keduanya berupaya mengelabui tentara Nazi yang waktu itu memburu orang-orang Yahudi yang tidak bersalah di Roma.



Keduanya sepakat menggunakan ilmunya di bidang kedokteran untuk menghasilkan sebuah penelitian. Fiktif, memang. Mereka menyebarkan hasil penelitian itu bahwa orang-orang Yahudi di kota Roma menderita penyakit Syndrome K. Penyakit itu sangat menular, karenanya semua orang harus menjauh dari orang-orang Yahudi jika tidak ingin terpapar penyakit tersebut.

“Kami mampu berperang dan menyelamatkan orang dengan cara kami sendiri.” (Rumah Kehidupan, halaman 231)

Fiksi mini Monochrome yang menjadi juara ke-2, karya Ogie Munaya, berkisah tentang Harun yang memutuskan untuk membohongi Dely, kekasihnya. Sejatinya, keduanya adalah saudara tiri yang terpisah. Kenyataan pahit itu baru diketahui Harun justru setelah ia benar-benar jatuh cinta kepada Dely.

“Kau tidak perlu tahu jawabannya. Yang jelas, aku sudah tidak mencintaimu. Kau membuatku melihat diriku sendiri dan itu benar-benar membuatku takut.” (Monochrome, halaman 194)

Sedangkan Vanya Salsabila Rofinanda, sang juara ke-3, bercerita tentang sebuah kebohongan yang menyembuhkannya dalam Her Lie Heals Me. Adalah tokoh ‘aku’ yang harus dirawat di rumah sakit pasca kecelakaan parah yang menimpanya dan kedua orangtuanya.

‘Aku’ mendapatkan luka di matanya, tak bisa menemui ayah dan ibunya. Sang adik menyampaikan salam dari kedua orang tua mereka. Berharap si ‘aku’ tetap tenang dan segera sembuh.  Si ‘aku’ pun akhirnya bisa pulih dan bisa bertemu dengan ayah ibunya.

“Dua gundukan tanah dengan nisan bertuliskan nama ayah dan ibuku. Deretan tulisan 29 Februari 2012 terpampang jelas di depan mataku. Hari dimana kecelakaan itu terjadi.” (Her Lie Heals Me, halaman 249)

Kisah-kisah kebohongan putih yang lain juga tidak kalah menariknya. Walaupun singkat, tapi selalu ada pesan kebaikan yang bisa diambil. So, silakan berbohong asal yang putih-putih aja, ya? ^^

Ternyata Pemicu Mom War Itu...

Nah, ini dia fiksi mini saya, Mom War by The Dads. Seingat saya, jumlah katanya hampir mendekati 700 kata. Monggo disimak. Anggap saja sebagai hadiah ulang tahun si buku. ^^

Mom War by The Dads
Oleh: Tatiek Purwanti

Hari kedua puluh satu. Tangisan bayi, aroma minyak telon, dan kesibukan yang lebih padat di pagi hari.

“Abang Hafiz main sama Eyang Uti, yuk.” Bu Rohana membujuk cucunya agar menjauh dari Sabrina.

Bocah lucu berusia dua tahun itu akhirnya digandeng neneknya ke arah taman. Sebuah bola sementara bisa mengalihkan perhatiannya. Di dalam kamar, Sabrina, sang ibunda tengah menyusui adiknya yang sejak tadi rewel.

“Undangan aqiqah sudah beres kan, Yah?” Sabrina bertanya kepada Andy, suaminya. Sore bakda Ashar nanti mereka akan mengadakan hajatan aqiqah anak kedua mereka.

“Alhamdulillah, sudah semua. Termasuk teman-teman di perusahaan,” jawab Andy.

Ia memijit pelan punggung istrinya. Bayi merah di gendongan Sabrina akhirnya tertidur, kenyang.

“Tuh, kesempatan buat ikut tidur sebentar,” Andy menatap mata Sabrina. Masih terdapat ‘mata panda’ di sana.


Sabrina mengangguk. Sedikit tersenyum. Lalu mengambil posisi berbaring di sebelah bayi mereka.

Sesuatu yang sudah pernah dialaminya saat Hafiz masih bayi. Bulan pertama kelahiran adalah masa-masa begadang. Bayi belum mengenal pergiliran pagi dan malam. Maka orang tuanya akan terjaga juga jika si bayi mengajak ‘bercanda’ malam-malam.

Tapi ada yang sedikit berbeda bagi Sabrina kali ini; Baby blues. Sabrina hampir saja tidak kuasa melawannya. Beruntung suaminya cukup siaga. Juga bantuan dari ibu mertuanya yang bersedia menginap sebulan di rumah mereka.

***

“Normal atau sesar?”
Duh, pertanyaan itu lagi.

“Alhamdulillah, normal, Pak,” jawab Sabrina kemudian.
Andy menatap istrinya, diam saja.

“Baguslah,” sahut Pak Sasmito, kepala divisi di tempat Andy bekerja.
Ia dan istrinya berhalangan hadir di acara aqiqah kemarin. Hari ini mereka baru bisa menjenguk bayi Sabrina.

“Tiga anak saya lahir secara normal semua. Ya kan, Ma?” Pak Sasmito menoleh ke arah istrinya, Bu Intan. Perempuan pendiam itu mengangguk sambil tersenyum.

“Istri saya selalu menurut pada saya. Termasuk tentang meminum air rendaman rumput Fatimah, agar lancar ‘pembukaannya’. Pokoknya tidak boleh sampai operasi, agar perjuangan melahirkannya benar-benar sempurna,” lanjut Pak Sasmito.

Sabrina menggigit bibirnya. Andy mengetahui gelagat itu. Cepat dialihkannya pembicaraan ke topik yang lainnya. Tapi tetap saja, Pak Sasmito mendominasi perbincangan. Atasannya itu memang susah dihentikan jika sudah mengemukakan argumen-argumennya.

***

“Seharusnya para bapak itu belajar peka.” Sabrina mengeluh.
Sudah tengah malam. Bayi mereka tertidur beberapa menit yang lalu.

“Di saat para ibu berusaha menghindari Mom War, kenapa justru para bapak  menyulutnya?” Sabrina tidak tahan. Dikeluarkannya segala uneg-uneg terkait kunjungan beberapa tamu mereka.

“Ya, ya... Ayah paham. Mungkin mereka...” Andy berusaha menenangkan istrinya.

“Pintar saja tidak cukup, seorang pria harus juga beradab,” potong Sabrina.

Matanya mulai berkaca-kaca. Andy merangkul istrinya. Dibiarkannya Sabrina melanjutkan keluhnya.

“Bunda menjalani sesar juga karena ada indikasi medis. Memangnya kenapa kalau sesar?” Sabrina bertanya, tapi tidak butuh jawaban Andy.

“Teman ayah yang satunya itu juga sama, si Pras.”

Andy mengangguk-angguk. Pras yang datang saat acara aqiqah juga melakukan offside. Masih diingatnya saat Pras bertanya apakah Sabrina akan kembali bekerja setelah melahirkan anak keduanya. Sabrina dan Andy sudah jauh-jauh hari bersepakat bahwa Sabrina akan resign dari pekerjaannya.

“Duh, sayang dong kalau Sabrina jadi pengangguran,” celetuk Pras waktu itu.

“Oh, saya berjualan online, kok,” jawab Sabrina.

Hatinya sungguh gusar dikomentari seperti itu. Seorang ibu dengan dua orang anak disebut pengangguran? Oh, come on!

“Nah, boleh juga itu. Istri saya selain bekerja juga hobi berjualan. Bla... bla... bla...” Pras meneruskan kalimatnya. Istri Pras yang duduk di sampingnya mengiyakan perkataan suaminya itu.

Sabrina tersadar dari flashback-nya.
“Ayah paham kan kalau Bunda tidak akan berjualan apapun saat ini?”

“Iya. Tidak apa-apa kok Bunda bilang seperti itu,” Andy mendukung kebohongan yang telah dilakukan istrinya.

Sabrina tidak berminat pada bisnis online sejauh ini. Cita-citanya adalah fokus pada dua buah hati mereka. Khususnya Hafiz yang selama dua tahun terakhir ini kurang mendapatkan perhatiannya.

***

Sabrina menaburkan bunga pada gundukan tanah kecil di hadapannya. Matanya basah. Haliza, putrinya, terbaring abadi di situ. Salah satu bayi kembarnya itu bertahan hidup beberapa jam saja di rumah sakit. Akhirnya, ia dan Andy hanya bisa mendekap Haidar, putra keduanya saat ini.

Masih diingatnya pertanyaan Riko, teman lamanya. Saat itu Sabrina mengunggah foto Haidar yang baru lahir di facebook sebagai profile picture-nya. Tanpa caption.

“Selamat, ya. Cowok apa cewek nih?” tanya Riko.

“Cewek,” balas Sabrina.

Sabrina sadar bahwa ia telah berdusta. Tapi sebenarnya tidak juga. Semata agar Riko tidak melanjutkan komentarnya dengan: “Cowok lagi? Nambah atuh, biar lengkap!”

-Selesai-  




Salah satu yang menginspirasi saya untuk menulis fiksi mini di atas adalah hadits yang berbunyi seperti ini:

Ibnu Syihab berkata, “Aku tidaklah mendengar sesuatu yang diberi keringanan untuk berdusta di dalamnya kecuali pada tiga perkara, “Peperangan, mendamaikan yang berselisih, dan perkataan suami pada istri atau istri pada suami (dengan tujuan untuk membawa kebaikan rumah tangga).”
(HR. Bukhari no. 2692 dan Muslim no. 2605, lafazh Muslim).

Nah, fiksi mini saya di atas boleh di-krisan, tapi pastinya tidak bisa saya perbaiki. ^^

Thanks for reading,








Tulisan ini disertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community

16 comments:

  1. Selamat ya, Ibu. Semoga bisa melahirkan karya-karya luar biasa lainnya

    ReplyDelete
  2. Wah hebat mbak, saya dulu jg ikut, tapi nggak masuk...

    ReplyDelete
  3. Mbak,ini ngeblognya pake lapi atau android? Pingin deh punya blog bagus begini

    ReplyDelete
  4. Baca fikai mini yg mom war by the dads, kok ikutan sebel ya mba bacanya hahahaha. Kebayang soalnya zaman aku abis lahiran dulu :p. Tp bedanya kalo di fiksi ini tokohnya milih bohong putih, aku lbh nantangin.

    "cesar ato normal? "

    "cesar. Emg kenapa. Dr wal mau lahiran aku males ngerasain sakitnya. Mau yg cepet aja.dicover asuransi semuanya kok"

    Wkwkwkwk ngajakin berantem sih memang. Tp aku udh terlalu sebel soalnya ama semua org yg ngwrasa sok tau ttg diri org lain :)

    Jd penasaran pgn baca kompilasi bukunya :) . Kalo fiksi mini gini aku suka mba. Asik dibaca pas traveling, sambil nunggu :)

    ReplyDelete
  5. Selamat ya mba. Walapun urutan 41. Tp tetap terangkut.

    ReplyDelete
  6. Selamat ya mbak, jadi penasaran sama cerita yang lainnya juga.

    ReplyDelete
  7. Keren, Mba, jadi penasaraan sama bukunya 😃

    ReplyDelete
  8. Selamat mbak, atas kelahiran bukunya...sepertinya ceritanya bagus2.

    ReplyDelete
  9. Keren sekali, Mbak...selamat ya terpilih ceritanya.. Barakallah :)

    ReplyDelete
  10. Saya suka cerita fikminnya. Dalam certa Sabrina ini white lie memang perlu, untuk ngejawab pertanyaan bapak-bapak nyebelin yang suka menghakimi. Pada penjelasan tentang white lie ada satu paragraf yang agak membingungkan. Yang ini, Mbak.

    Pernah mendengar istilah White Lie sebelumnya? Manusia, pada dasarnya, pasti pernah membuat sebuah kebohongan. Baik yang sekecil ujung pensil atau bahkan yang besar, sekali pun baik jika tetaplah kebohongan apapun alasan yang membuat kita berbohong, tidak bisa menghapus fakta bahwa kita sudah membuat kebohongan.


    Menurut saya kalimatnya agak kurang jelas.

    ReplyDelete