My Lifestyle, My Journey, My Happiness

5 Things I Love About Me


Hari ke-6 #BPN30DayChallenge menantang para pesertanya untuk menceritakan 5 fakta tentang dirinya masing-masing. Waini... Bagi saya ini adalah kesempatan untuk seru-seruan. Ini adalah kesempatan untuk mengenalkan diri lebih spesifik kepada publik. *halah


Oh, iya. Saya jadi teringat beberapa hari yang lalu. Saat itu ada seorang blogger yang membagikan hasil kuis di OMG yang terkait dengan dirinya. Tepatnya tentang princess Disney yang sesuai dengan kepribadiannya. By the way, apaan sih OMG? Cari deh aplikasinya di facebook ^^

Biasanya sih saya tidak tertarik bermain begituan. Entahlah waktu itu saya kok jadi penasaran, hehe. Iseng-iseng saja, ah. Daaan... taraaa! Ternyata (katanya) saya itu mirip Pocahontas. 😝  Padahal sebenarnya saya ngarep kalau mirip Rapunzel 😁


Nyoba lagi, ah. Lhooo... di percobaan kedua ini kok saya dimiripkan dengan Merida. Hehe, gak konsisten, nih. Namanya juga mainan, yak. Tapi kalau dipikir, ada sebagian kepribadian mereka yang mirip juga dengan saya, sih. Boleh juga lah sebagai sarana cermin diri.

Not bad. Ada hal lain juga yang bisa saya garis bawahi yaitu semakin ke sini, sosok para princess Disney semakin beragam. Mereka ditampilkan dengan kecantikan dan keunggulannya masing-masing. Not only outer, but also their inner beauty. Makanya, saya tertarik juga menonton film tentang para princess itu.

Walaupun menjadi penonton mereka, pastinya saya tidak ingin menjadi princess, kok. 'Kan sudah menjadi ratu. 😍 Yeah, saya menikmati menjadi diri sendiri yang menerima kelebihan dan kekurangan diri apa adanya. 

Nah, kali ini saya ingin menceritakan tentang sisi diri saya yang positif. Pastinya saya punya banyak sisi negatif, dong. Tapi, dalam rangka mensyukuri keberadaan diri sendiri, saya memilih untuk membahas hal-hal yang membuat saya bersemangat. Insya Allah, bukan dalam rangka menyombongkan diri, ya. Yuuk, mariii...

1. Pecinta Buku

Seperti pada postingan sebelumnya yang membahas tentang tema blog, saya mengaku sebagai pecinta buku. Seberapa cintanya? Setinggi gunung, sedalam lautan. 😝 Enggak, ding. Jujur, mungkin belum pada taraf predator. Tapi, jika disuruh memilih antara membeli baju atau buku yang saya incar, pasti saya mendahulukan membeli buku.

Tidak heran, koleksi buku saya selalu bertambah setiap bulan. Baik itu buku antologi atau buku karya orang lain, dari yang murah sampai yang mahal. Akhirnya, buku-buku itu menumpuk dan saya sering keteteran untuk menyelesaikan bacaan saya akhir-akhir ini. Hiks...


Lha kalau jadi menimbulkan masalah, kenapa dianggap sebagai sisi positif? Iya, dong. Justru itu mendorong saya untuk bisa mengatur waktu lebih baik lagi. Saya tidak menyesal membeli buku-buku itu. Bagi saya, itu adalah sebentuk dukungan sederhana untuk para penulis yang telah bekerja keras. Sejak aktif di dunia literasi, saya merasakan sendiri bahwa menulis itu adalah aktivitas yang penuh perjuangan. 💪

Bahkan untuk buku-buku antologi yang terbit indie, saya tertarik untuk bergabung di dalamnya. It's okay jika ada orang yang memandang remeh keberadaan buku antologi. Misalnya: sudah nulisnya rame-rame, ehh penulisnya harus beli bukunya sendiri. 😇 

Kalau hanya memandang untung rugi, memang sepertinya rugi karena saya harus mengeluarkan biaya. Tapi, insya Allah banyak manfaatnya. Boleh deh dibaca pada postingan 6 Alasan Pribadi Menulis Buku Antologi

Menjadi pecinta buku juga memudahkan saya untuk mengajak anak saya melakukan hal yang sama. Si Afra, anak sulung saya, akhirnya menjadi seorang anak predator buku. Misalnya, dia sudah selesai membaca novel "Ayah"-nya Andrea Hirata. Saya malah belum, hehe.  

Karena Afra kami anggap 'lulus ujian' dalam hal membaca buku, saya dan suami tidak keberatan membelikannya ponsel baru-baru ini. Dia termasuk terlambat memiliki ponsel dibanding teman-temannya. Hmm... akan saya tuliskan tentang ini lain kali saja, ya.

So, seharusnya OMG memiripkan saya dengan Rapunzel, dong. 'Kan dia suka membaca buku juga. 😝 *halah, mbahas itu lagi...

2. Sederhana

Singkatnya, saya terbiasa hidup sederhana dan menjadikan hal yang sederhana di mata orang lain menjadi hal yang tetap berharga dalam pandangan saya.

Menurut saya, sederhana itu adalah sebuah kekuatan yang penuh keanggunan. Ia adalah kebiasaan hidup yang baik untuk diterapkan pada saat kaya maupun memang pas-pasan. Kadang sulit lho untuk mengerem berbagai keinginan konsumtif di saat kita berkelimpahan. 


Pun di saat pas-pasan, ada juga yang memaksakan diri untuk hidup dengan standar yang sebenarnya tidak tercapai olehnya. Demi apa? Biasanya sih demi memperoleh pujian orang lain. Wallahu a'lam. Insya Allah, saya terus berusaha tidak terjebak di dalam kedua arus tersebut.

"Tik, kok nggak beli mobil Xe*ia yang baru saja?" tanya seseorang waktu itu.
"Kami mampunya beli mobil bekas, Mbak," jawab saya enteng.

Itu salah satu contoh peristiwa yang pernah saya alami. Ini bukan berarti para pembeli mobil sekelas Xe*ia atau bahkan Alph*rd adalah yang tidak hidup sederhana lho, ya. Bisa jadi mereka hidup sederhana dengan standarnya tersendiri. Dan saya merasa cukup dengan memiliki mobil sederhana yang bisa membawa kami mudik ke Solo. Alhamdulillah.

3. Suka Belajar

Berani menerima tantangan #BPN30DayChallenge2018 adalah salah satu bukti kalau saya suka belajar. Iyain aja, ya. Biar cepat selesai 😁 

Yups, jika ada hal yang menarik perhatian saya, biasanya saya akan berusaha mempelajarinya. Tentunya yang sesuai dengan minat saya dong, ya. It's okay jika awalnya belum tahu karena itu bukan aib. Masih ada kesempatan untuk mencari tahu lebih dalam. Yang salah adalah tidak mau tahu dan sok tahu, yekan?

Flashback sebentar. Di zaman saya kecil, nilai akademis masih menjadi tolok ukur kecerdasan seorang anak. Saya aman di bagian ini karena sering nongkrong sebagai juara kelas. Ya, kesukaan saya belajar telah membuahkan hasil itu. Biidznillah.


Suka belajar itu juga yang dulu mendorong saya untuk beraktivitas sepulang bekerja saat masih di Batam. Menjadi santriwati, pengurus remaja masjid, dan meneruskan kuliah tetap saya jalani walaupun waktu dan tenaganya sebenarnya terbatas. Sekarang, itu semua indah untuk dikenang.

Setelah menjadi ibu dan resign dari pekerjaan, saya tetap merasa harus terus belajar. Otak ini harus terus diajak berpikir dan bergerak. Pastinya banyak hal yang masih harus saya pelajari. Tentu saja masih jauh dari sempurna. Tapi, 'modal' suka belajar ini akan menjadi trigger bagi saya untuk terus menjadi ibu pembelajar. Insya Allah.

4. Berani Berbeda

Sejak remaja, saya tidak takut menjadi pribadi yang berbeda dengan teman yang lainnya. Tentunya dalam hal yang positif. Prinsip sederhana saya waktu itu: setiap orang 'kan unik. Maka saat teman-teman mulai berpacaran, saya lempeng saja. Saya malah asyik menikmati dunia saya sebagai sport and music lover.

Hal itu terus berlanjut sampai saya memasuki usia dewasa muda. Setelah berhijrah, saya bertekad untuk bisa menikah tanpa pacaran. Keukeuh pokona mah. Alhamdulillah, itu bisa terlaksana. Btw, tanggal 27 November ini adalah our 13th Wedding Anniversary 😍💗


Berani menjadi pribadi yang berbeda dengan pilihan yang berbeda ini dalam banyak hal telah menentramkan saya. Misalnya lagi, tentang pilihan sekolah anak, jumlah anak, sampai kepada keputusan LDR yang saat ini kami jalani. 

Anak saya bersekolah di desa: aku rapopo. Anak saya saat ini 'cuma' dua: aku rapopo. Saat ini saya tidak bisa face to face dengan suami dari Senin-Kamis: aku rapopo. Sampai kepada keputusan saya untuk menjadi blogger yang belum lazim bagi orang-orang di sekitar saya: aku rapopo. Beneran, deh. 😎

5. Setia

Wah, kalau ini bisa deh ditanyakan ke suami saya. Hehe... Saya bertekad menjadikan my husband sebagai cinta pertama dan terakhir, maka setia menjadi senjata saya. Alhamdulillah, ini juga menjadi modal saat harus berjauhan seperti sekarang.

Selain kepada pasangan, rasa setia itu pernah saya terapkan saat menjalani pekerjaan. Saya enjoy saja menjalaninya. Itu membuat saya bisa menikmati pekerjaan saya, terutama saat berada di Batam selama 10 tahun. Dulu ada seseorang yang berkomentar: mending tetap di Malang walaupun serabutan daripada jauh-jauh ke Batam. Belum tahu dia bahwa saya justru menjalaninya dengan setia.


Begitu juga saat harus kembali ke Malang dan memulai dari nol lagi. Saya (dan suami) setia menjalani hari-hari yang tidak mudah. Sampai akhirnya saya memilih untuk 'bekerja di rumah', saya pun setia menjalaninya hingga hari ini. Bosan? Alhamdulillah, jarang karena saya sudah menentukan resepnya. 🙂

Fiuhh, lengkap sudah celoteh mengenai 5 hal tentang saya yang saya sukai. Sekali lagi, ini bukan dalam rangka narsis tapi tugas. Hehe... Entahlah, kok Blogger Perempuan Network suka dengan angka 5, ya? Ada yang tahu?

Oke, deh. Terima kasih sudah menyimak. Boleh kok protes tentang kelima hal yang saya ceritakan di atas. Monggo...


Salam,







#BPN30DayChallenge2018
#BloggerPerempuan
#Day6
#Tentang5FaktaDiri

17 comments:

  1. Wah sama mbak, aku juga seneng 'belajar' baik pelajaran sekolah atau belajar hal yang baru. Enggak kapoklah saya baca-baca sama belajar. malah bikin lupa waktu.

    ReplyDelete
  2. Whuaaa... Sekarang aku jadi makin mengenal mba Tatik... Senang punya teman yg mau belajar, berani beda, namun tetap bersahaja. Semoga ukhuwah kita terus terjalin hingga jannahNya.

    ReplyDelete
  3. Wow....jadi tahu nih bagaimana Mbak Tatiek. Sukses slalu Mbak.

    ReplyDelete
  4. Terbukti ya, dg byk belajar dan berani tampil beda, mba sering menang lomba. Selamat ya mb.

    ReplyDelete
  5. Berani tampil beda, terkadang itu yang membuat kita menguji mental dan mempertimbangkan peraturan yang ada. Seringkali pertanyaan kecil di benak apa ini bisa ditera secara umum? Hal-hal itu cukup menantang dan membuatvkita makin kreatif ya mbak tatiek��

    ReplyDelete
  6. Mba Tatiek...saya tidak termasuk orang yang meremehkan penulis buku antologi lho. Buat saya itu keren, soalnya masih cita2. Hehe...Dan byk penulis buku solo yang mengawali dari buku antologi 😊

    ReplyDelete
  7. Alhamdulillah, bisa mengenal siapa dirimu dengan lebih jelas, Mba. Btw, saya suka yang bagian sederhana. Egp dengan omongan orang yang penting rapopo.

    ReplyDelete
  8. Mantap, mba. Ada beberapa sifat yang kita sama punyai, lho. Hihihiii yang penting tetap semangat ya, mba.

    ReplyDelete
  9. Mbak Tati keren banget. Sukses terus ya

    ReplyDelete
  10. Selamat ya udah memasuki tahun ke-13 pernikahannya. Btw ... Jadi tahu resepnya kenapa selalu menang, suka belajar...
    Moga-moga saya ketularan ya mb...sukses deh...

    ReplyDelete
  11. Suka belajar, wuiih ini nih perempuan pebelajar banget. Saya juga suka.

    ReplyDelete
  12. Saya yang sama apa ya..sederhana kayaknya, karena meski bisa beli #halah, kalau ketemu saya sering lihat tas atau kerudung itu lagi itu lagi hihihi..

    Hmm..apa lagi, suka belajar juga toss kita, sampe dikatain sama mamanya teman anak saya, ini rajin banget masih belajar hahah

    Tapi, apapun kelebihan bisa kita jadikan kekuatan untuk jadi diri yang lebih baik lagi

    ReplyDelete
  13. Setujuuu...saya juga suka belajar. Belajar bisa darimana saja, engga harus sekolah formal. Sip...
    Semangat yaa ikut challenge nya...

    ReplyDelete
  14. Sederhana. Suka dengan orang orang berkarakter seperti ini. Gak neko-neko dan nggak ngoyo. Sukses terus mba Tatiek!

    ReplyDelete
  15. Tantangan nulis itu memaksa untuk lebih mengenal diri sendiri ya mba ...

    ReplyDelete
  16. keren mbak tatik... nulis sifat kita itu suliiit banget dan suatu tantangan ya

    ReplyDelete
  17. Berani berbeda, tetap pegang prinsip. Ini yang aku sukaaaaah

    ReplyDelete