My Lifestyle, My Journey, My Happiness

5 Benda Penghuni Tas dan Kisahnya



Alhamdulillah, sudah memasuki hari ke-8 di tantangan #BPN30DayChallenge2018. Untuk saya, sih. Telat, hehe. Yang penting tetap semangat merapel. Nah, kali ini tema challenge-nya adalah tentang 5 benda yang mengisi tas saya. Duh, tema penuh kekepoan ini mah. 

Hmm... Oke, deh. No problemo, Fernando. 😁 Untungnya bukan tentang berapa jumlah lembaran merah di dalam dompet.🙈

Bagi mayoritas perempuan, tas adalah teman setia kemana pun mereka pergi. Biasanya sih saat keluar rumah dengan jarak agak jauh. Saya pun demikian. Rasanya aneh jika keluar rumah hanya 'membawa diri' saja. Kata orang Jawa: nglenthung alias tangan kosong.

Bahkan bagi sebagian perempuan, tas kerap menjadi bagian dari OOTD alias Outfit of The Day. Tidak heran, mereka yang memerhatikan betul OOTD-nya akan selektif apakah model tas yang dibawanya sudah sesuai. Model sling bag, handbag, tote bag, atau clutch? Begitu pun dengan warna tasnya. Harus matching dengan bajunya, dong.

Saya sendiri punya 4 model tas yang tersebut di atas, yang tentu saja saya pakai bergantian saat keluar rumah. Setelah si kecil lahir, ada tas tambahan yang selalu saya bawa. Yups, tas bayi. Isinya? Seputar baju, diaper, tisu basah, dan teman-temannya lah. Seperti pada umumnya.


Nah, sebenarnya 5 benda yang ada di dalam sling bag rajutan saya ini pun biasa saja, sih. Mungkin hampir sama dengan yang teman-teman bawa, yaitu:

1. Dompet

Yang satu ini adalah benda berharga yang tidak boleh sampai tertinggal. Bisa berabe, deh. Biarpun sekarang sudah banyak aplikasi dompet virtual, dompet real pasti tidak bisa sepenuhnya tergantikan. Yekan?

Ini adalah dompet kesayangan saya. Usianya sudah sekitar 4 tahun-an, tapi masih tetap saya pakai. Begitulah, saya memang orangnya setia. Dompet aja saya jaga, apalagi kamu. 😝 *colek misua


Dompet ini adalah produk yang dihasilkan oleh salah satu UKM unggulan dari Kabupaten Malang yaitu "Butik Tas dan Pusat Kerajinan Lufas Gallery". Produknya cantik-cantik tapi harganya terjangkau, lho. 

Kalau teman-teman sedang berlibur ke Malang, sempatkan mampir ke showroom-nya, ya. Alamatnya ada di Jalan Sidoluhur No.15 Desa Dilem, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. IG: @lufasgallery

Btw, isi dompetnya tidak usah disebutkan, ya. Yang jelas, kalau tanggal muda begini, si dompet sedang gemuk. 😉 Alhamdulillah...

2. Ponsel

Benda yang kedua ini juga selalu saya pastikan ada di dalam tas. Buat saya, kedudukannya sama dan sederajat dengan dompet. 

Pernah sih saya meninggalkan si ponsel di rumah. Saat itu kami sekeluarga jalan-jalan sore ke arah Malang selatan. Saya pikir, karena jaraknya tidak terlalu jauh dan sedang ingin no gadget, si ponsel pun saya taruh di dalam lemari.

Tak dinyana, suami pun melakukan hal yang sama: meninggalkan tabletnya di rumah. Biasanya jika di rumah, dia memang nyaris tidak menyentuh tabletnya karena ingin full bermain dengan anak-anak.


Ternyata... mobil kami mengalami masalah di tengah jalan. Padahal saat itu hari sudah mulai gelap. Untunglah TKP-nya dekat dengan bengkel panggilan. Ada banner yang terpampang di dekat situ. O-ow... Tapi bagaimana kami menghubungi montirnya?

Alhamdulillah, ada sekumpulan orang di dekat situ yang mau meneleponkan si montir. Suami memutuskan untuk nungguin montirnya sampai datang. Sementara saya dan anak-anak disuruh pulang duluan. Iyes, kasihan dengan si kecil.

Kami pulang naik angkot, setelah menunggu agak lama. Ya, biasanya angkot memang jarang ada pada jam segitu. Belum lagi daerahnya jauh dari jalan provinsi sehingga jarang dilalui angkot. Coba kalau saat itu saya membawa ponsel. Tinggal klik aplikasi G* Car, kan.

Setelah kejadian itu, saya kekep tuh ponsel kalau keluar rumah, hehe. Kapok, deh... 

3. Kacamata

Sebagai manusia bermata empat, saya pastinya tidak terpisahkan dengan kacamata saat keluar rumah. Di rumah sih bisa lepas kacamata, kalau di luar... burem, euy. Sudah minus 2, sih.

Tak lupa, saya membawa serta tempatnya. Saat bepergian agak lama, pastinya saya sekeluarga mampir masjid untuk salat. Saat mengambil air wudhu, lebih aman jika kacamata ditaruh di tempatnya dan dimasukkan ke dalam tas. 


Pernah juga sih tempatnya tertinggal di rumah. Saat itu saya masih memakai kacamata yang lama. Saya taruh deh kacamatanya di tempat wudhu. Eeh... kelupaan. Saya dengan santai meninggalkannya bahkan hampir saja pergi dari situ. Untungnya saat saya ingat, si kacamatanya masih nangkring di tempatnya. Fiuhh... alhamdulillah.

4. Bedak dan Lip Gloss

Dua benda ini saya sebut bersamaan karena mereka bersimbiosis mutualisme untuk kebaikan wajah saya, hehe. Biasanya mereka saya pakai seusai salat di perjalanan. Ya... biar sedikit segar, gitu. 

Sebagai emak yang tidak doyan dandan, kedua benda itu cukup buat saya. Simpel dan praktis. Si kecil tidak kelamaan menunggu, perjalanan pun siap dilanjutkan kembali.


Pernah juga sih lupa tidak membawa keduanya. Saat itu saya sudah selesai salat dan baru menyadarinya. It's okay. Namanya juga lupa. Saya pun meminum air mineral lebih banyak agar bibir tidak kering.

Lalu, saya numpang lagi ke ruangan wudhu untuk berkaca. Kali aja jilbabnya miring. Baru deh sadar bahwa membawa bedak itu tak sekadarnya tentang urusan puk-pukin muka. 😅 

Setelahnya, saya berusaha tidak lupa lagi  memasukkan dua benda kecil itu ke dalam tas. 

5. Buku

Walaupun tidak selalu dibaca saat di perjalanan, saya kok merasa sreg aja jika ada setidaknya satu buku di dalam tas. Kadang bukan hanya buku saya, tapi bukunya anak-anak juga. Rehat di jalan sambil membuka buku, why not?

Lagipula, banyak spot bagus luar sana yang bisa dijadikan sebagai latar untuk keperluan book photography. Sambil jalan-jalan, calon banner blog yang membahas tentang review buku pun beres. 

Bersama "You Are My Hero", buku antologi ke-15 saya

Saya belum rutin cekrek-cekrek si buku saat di luar, sih. Dengan menulis tema ini, saya jadi punya rencana untuk melakukannya saat pergi besok. Insya Allah.

Ada saatnya sih saya tidak memasukkan buku ke dalam tas sebelum berangkat. Kapan itu? Sewaktu saya sekeluarga mampir ke toko atau bazar buku, dong. No book found pada awalnya, tapi dapet setumpuk saat pulangnya. 

Bagaimana dengan mushaf Alquran? Saya lebih memilih membawa aplikasinya saja jika bepergiannya ke tempat umum. Kalau ada acara ngaji, baru deh membawa mushafnya. Begitu...

Setelah saya renungkan, kelima benda yang saya sebutkan di atas tidak hanya sekadar printilan. Ada pesan tentang pentingnya sebuah persiapan sebelum bepergian. Seperti kata Stephen Keague, seorang penulis buku tentang public speaking, “Proper preparation prevents poor performance.”

Iya, sih. Kali ini performing-nya bukan dalam rangka presentasi tapi lebih kepada kelancaran perjalanan dan agenda yang saya jalani. Ada benda penting yang tertinggal, bisa berakibat fatal. 

Nah, bagaimana dengan teman-teman semua? Sudah lengkap kan isi tasnya? Atau pernah mengalami kejadian yang mirip saya kah? Silakan berbagi di sini ^^


Salam,








#BPN30DayChallenge
#BloggerPerempuan
#Day8
#Tentang5BendaDiDalamTas





3 comments:

  1. Isi tasku juga begituan mbaa hehe khas isi tas emak blogger ya :D

    ReplyDelete
  2. Halo Mbak...isi tasku, selain ponsel, tambah powerbanknya, dan tas belanja. Hehe...

    ReplyDelete
  3. Isi tasku kebanyakan properti milik si kecil 😂

    Salam kenal ya mbak 🤗🤗

    ReplyDelete