My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Bubur Ayam Abah Odil Malang: dari Tasikmalaya dengan Rasa Juara


Sungguh, rezeki itu tidak hanya berupa uang. Bisa bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi adalah juga bentuk lain dari rezeki. Seperti rezeki yang saya peroleh pada hari Rabu, 16 Januari 2019 yang lalu. Saya dan teman-teman blogger Malang berkesempatan untuk mengunjungi outlet pusat Bubur Ayam Abah Odil Malang.

Mayoritas warga Kota Malang pasti (minimal) mengenal nama rumah makan yang menu andalannya adalah Bubur Ayam Tasikmalaya itu. Saya sendiri lumayan sering melewati lokasi outlet utamanya yang beralamatkan di Jalan Soekarno-Hatta MP 48-49 Kelurahan Jatimulyo, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang tersebut. Lokasinya mudah ditemukan karena dari jalan utama Soehat, outlet Bubur Ayam Abah Odil yang bercat oranye ini jelas terlihat.


Menentramkan, demikian kesan pertama saya saat hendak memasuki pintu depan outlet. Ada tulisan basmalah dalam ukuran besar dengan background kuning yang ditempelkan di atas pintu masuk. Saya menebak: pasti pemiliknya adalah sosok yang religius, nih. 

Tebakan saya ini semakin menguat saat saya menoleh ke arah kanan. Di salah satu pilarnya tertempel tulisan yang berbunyi seperti ini: 



Dari Pekerja Menjadi Pengusaha

Setelah semua blogger datang, acara pun dimulai. Kami menempati ruangan sebelah kanan yang biasanya ditempati oleh pengunjung, tapi saat itu dikhususkan untuk blogger event kami. Yang menemui kami adalah dua orang menantu Abah Odil yaitu Pak Khusnul Yakin dan Pak Amirosyad. Saat itu, Abah Odil sedang tidak di tempat.

Pak Khusnul Yakin dan Pak Amirosyad

Pak Khusnul mulai mengenalkan sosok Abah Odil melalui layar proyektor. Di sana tampak gambar seorang lelaki dengan senyum kebapakannya, masih terlihat muda. Itulah sosok Abah Odil. Unik ya, namanya?

Nah, nama asli Abah Odil sebenarnya adalah Ate Rushendi. Odil berasal dari nama panggilan anak keempat beliau: Abillah. Jadi, Abah Odil maksudnya adalah Abah-nya Si Odil. Begitu. Sebuah ide bagus untuk nama brand karena unik dan mudah diingat.

Gerobak, logo Bubur Ayam Abah Odil

Sebelum menjadi pengusaha kuliner, Abah Odil pernah bekerja sebagai Kepala Produksi di sebuah pabrik tekstil di Gresik, yang memproduksi sarung Atlas. Ya, latar belakang pendidikan Abah Odil adalah Diploma 3 Program Studi Kimia Tekstil di Akademi Tekstil Berdikari, Bandung.

Setelah menjadi pekerja di perusahaan selama 25 tahun, beliau memilih untuk resign dan ingin berwirausaha. Memang, penghasilan rutin selalu beliau dapatkan dengan bekerja di perusahaan. Tapi, Abah Odil merasa bahwa waktunya untuk mengaji menjadi berkurang. 

Di balik penghargaan & sertifikat yang dipajang ini, ada kisah kegagalan yang indah (dok. Richo)

Lalu pada tahun 1997, mulailah beliau pindah ke Malang dan Pasuruan untuk memulai bisnisnya. Mulai dari berdagang pakaian, membuka toko, membuat beraneka kue, menjual es rumput laut, sampai melayani catering pernah beliau coba. Mulus kah jalannya? Ternyata tidak. Tercatat, Abah Odil pernah mengalami kegagalan usaha sebanyak 21 kali!

Pesan Berkesan Orang Tua

Setelah berkali-kali mengalami jatuh bangun dalam berbisnis, Abah Odil sempat kembali lagi ke dunia industri tekstil pada tahun 2002. Namun, pekerjaan di perusahaan tekstil itu tidak bertahan lama. 

Dua tahun kemudian Abah Odil kembali mengundurkan diri dari pekerjaannya. Beliau mulai mantap lagi berwirausaha setelah diberi dukungan moral oleh orang tuanya yang asli Tasikmalaya. Orang tua Abah Odil mendorongnya untuk mencoba menjual bubur ayam Tasikmalaya yang memang belum ada di Malang.


Kebiasaan sarapan menggunakan bubur memang biasa ditemukan di Jawa Barat dan Jawa Tengah. Namun hal itu bukanlah budaya di Malang sehingga Abah Odil menangkap peluang itu. Beliau bertekad untuk memasyarakatkan bubur ayam Tasikmalaya dengan sedikit penyesuaian dengan lidah orang Malang. 

Tekad Abah Odil tersebut tertuang dalam visi misinya berikut ini:

Di atas tulisan ini ada label halal MUI. Terpotong :')


Sedekah yang Membawa Berkah

Kenangan tak terlupakan saat memulai berjualan bubur adalah di hari pertama. Saat itu, tahun 2004, Abah Odil sempat nervous ketika harus mendorong gerobak buburnya keluar dari rumahnya di daerah Jalan Candi Panggung. Jadi, enggak, jadi, enggak... 

Akhirnya salah saeorang temannya mengusulkan agar Abah Odil mangkal saja di depan Masjid Ramadan di dekat situ. Alhasil, di hari pertama itu omzet penjualannya adalah Rp 14.000. Ya, buburnya lebih banyak diberikan secara gratis kepada jemaah masjid, teman-teman, dan tetangganya.

Secara finansial, apa yang dilakukan Abah Odil itu rugi. Tapi sedekah beliau itu tidak sia-sia. Perlahan-lahan namanya mulai dikenal, pelanggannya sering kembali lagi untuk membeli, dan pelanggan baru pun berdatangan. 

Dua tahun kemudian, Abah Odil berhasil menyewa tempat di Jalan Soekarno-Hatta yang merupakan pusat bisnis, pendidikan, dan kuliner di Kota Malang. Rumah makannya yang dibuka setiap jam 6 pagi itu laris manis diserbu pembeli. Omzet penjualan pun naik dengan pesat hingga hari ini. 

Tak lain karena Abah Odil juga 'rajin belajar' melalui berbagai seminar entrepreneurship untuk mengembangkan bisnisnya. Prestasi sebagai Executive & Entrepreneur Of The Year 2015 pun disabetnya. Saat itu, acara penganugerahannya diselenggarakan di Hotel Noormans, Semarang, pada tanggal 29 Mei 2015. Keren!

Rasa Berbicara Sejak Suapan Pertama

Kalimat di atas adalah motto dari outlet Bubur Ayam Abah Odil yang dalam perkembangannya tidak hanya menyajikan bubur ayam saja. Berdasarkan pengamatan, beberapa pelanggan nampak kurang kenyang jika hanya menyantap bubur saja.


Akhirnya ditambahkan menu lain seperti Lontong Sayur, Nasi Uduk, Nasi Kuning, dan Nasi Pecel Madiun. Menu yang disebut terakhir adalah wasiat dari almarhumah Ibu Lis Setyowati, istri dari Abah Odil yang berasal dari Madiun. Maka semakin semaraklah jenis makanan yang disajikan.


Saya dan teman-teman lalu membuktikan rasa bubur ayam dan berbagai menu lainnya. Diawali dengan cireng yang masih hangat yang dihidangkan dengan sambal pedas manis. Hmm, enaaak. Cirengnya tebal tapi tetap empuk. Rasa sambalnya dominan manis, tapi pedasnya tetap huh-hah di lidah saya.

Rujak cireng. Yummy...

Berlanjut dengan menu andalannya yaitu bubur ayam Tasikmalaya dalam berbagai varian. Buburnya diproses secara higienis dengan mesin sehingga campuran antara beras dan kaldu ayamnya merata. 

Nah, yang membedakan varian bubur di bawah ini adalah topping-nya. Berikut penampakannya: 

Bubur Ayam Istimewa
Bubur Ayam Spesial
Bubur Sayur

Buburnya tanpa kuah tapi sudah terasa gurih. Asinnya memang pas di lidah orang Malang. Sedang, menurut saya. Cakue dan ayamnya yang diiris dengan alat khusus pun terasa gurih. Wah, kapan-kapan harus mengajak duo krucil saya ke sini. Pasti mereka suka.

Sedangkan menu yang lain, saya mencicipi nasi kuningnya. Tekstur nasi kuningnya tidak terlalu lembek, tapi juga tidak pera. Lauk pendampingnya juga pas di lidah. Satu porsi nasi kuning itu cukup mengenyangkan sih buat saya.

Makan bareng (dok. Erny)

Insya Allah, nanti saya sekeluarga akan balik lagi ke sini dan mencoba menu yang lainnya. Biar tidak penasaran, hehe.

Dari Satu Menjadi Delapan

Nah, teman-teman yang ingin mencoba kelezatan Bubur Ayam Abah Odil bisa mendatangi salah satu outletnya berikut ini. Ada sekitar 50 orang karyawan yang bekerja di semua outletnya.

Salah satu cabang Bubur Ayam Abah Odil

1. Bubur Ayam Abah Odil Pusat Malang (Jalan Soekarno Hatta Ruko Griya Shanta Executive MP 48-49, Depan Taman Krida Budaya, Jawa Timur)

2. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Candi Panggung (Jl. Candi Panggung No. 9 Malang)

3. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Sawojajar (Jl. Danau Maninjau, tepatnya di Taman Jajan Al-Fatih, Sawojajar)

4. Bubur Ayam Abah Odil Cabang ITN (Jl. Bendungan Kedung Ombo, Pujasera Abilowo)

5. Bubur Ayam Abah Odil Cabang PTM (Ruko Mutiara Jingga Residence, Kavling AI)

6. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Arhanud (Donowarih, Karangploso)

7. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Karangploso (Rest Area Karangploso)

8. Bubur Ayam Abah Odil Cabang Jetis, Dau (Jl Raya Mulyoagung Jetis, Dau)

Kesempatan Bermitra dengan Abah Odil

Beberapa saat kemudian Abah Odil datang di hadapan kami. Beberapa nasihat bijaknya sampai di telinga saya. Diantaranya adalah beliau ingin usahanya diturunkan ke anak cucunya. Harus ada yang mewarisi dan belajar berwirausaha juga. 

Abah Odil (tengah)

Ya, karena nama beliau sudah dikenal sehingga anak cucunya tinggal mempertahankan kualitas dan mengembangkan bisnisnya agar lebih besar lagi. Bahkan Abah Odil punya mimpi jika usaha buburnya nanti bisa merambah Timur Tengah. Aamiin yaa Rabb.

Tahun lalu bisnis Bubur Ayam Abah Odil sudah beromzet sekitar 2.8 miliar per tahun. Salah satu yang mendongkrak penjualan adalah adanya layanan Go Food dan Go Resto. Seiring perkembangannya zaman, Abah Odil pun memberikan layanan pesan antar via aplikasi Go-Jek tersebut.

Pun seiring dengan kemajuan bisnisnya itu, Abah Odil menawarkan kemitraan dengan siapa saja yang berminat dalam bisnis kuliner. Sistem yang ditawarkan adalah profit and lost sharing (bagi hasil) yang dikemas secara syariah yaitu dengan menggunakan akad musyarakah. Nantinya, pelaporan hasil penjualan akan di-share secara terbuka setiap harinya kepada mitra bisnisnya.

Berfoto bareng usai acara

Kenapa akadnya bagi hasil secara musyarakah? Menurut Abah Odil, akad tersebut dirasa paling adil jika dilihat dari sudut pandang hukum Islam. Adil untuk mitra bisnis maupun pihak Abah Odil sebagai pengelolanya. Akad yang demikian akan membawa keberkahan, manfaat, dan diharapkan dapat menggerakkan ekonomi umat.

Dengan dibukanya cabang yang baru, diharapkan akan muncul jiwa-jiwa pengusaha yang mandiri dan berdaya. Pastinya itu juga akan membuka lapangan pekerjaaan baru untuk masyarakat luas. Ujungnya, masyarakat dan bangsa ini akan semakin sejahtera.

Wah, mulia sekali tujuannya, ya. Ini namanya mengajak sukses bersama dalam keberkahan-Nya.

Jika teman-teman ada yang berminat dengan kemitraan ini, silakan langsung menghubungi nomor WA di atas untuk perbincangan lebih lanjut.

Bubur Ayam Abah Odil Malang
Facebook Fanpage: Buryam Abah Odil
Instagram: @buryam.abahodil



Salam,








Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community

#ODOPEstrilook
#Day8

20 comments:

  1. Nyam nyam nyaaaammm enaaakkk bgt ini BurYamnya, aku mauuuukkk
    Kindly visit my blog: bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  2. wah saya doyan bangeet sama buryam, hehe. Duh duh ngiler banget lihatnya, apalagi kalo buryamnya pedes. beuh, endeus. Tadi pagi barusan sarapan buryam hehe. duh jadi pengen cepat2 ke malang, pengen nyoba, kabita!

    ReplyDelete
  3. Wah buryam abah odil lagi nih. Emang bisnis kuliner ga ada habisnya yah mbak. Salah satunya ya ini jualan bubur ayam. Kalo malang punya buryam abah odil, kalo bandung punya buryam H oyo hehe

    ReplyDelete
  4. Whaaa , lihat tampilan bubur ayamnya aja udah ngiler, gimana kalau ada di hadapannya langsung ya. Langsung haaap.
    Haruskah aku ke Malang??? Huhuhu lapeeeer

    ReplyDelete
  5. Waah keren ceritanya menginspirasi banget ya. Liburnya bikin ngiler, unik juga ada bubur sayur lezat kayanya. Kalau ke Malang harus coba ini berarti ya

    ReplyDelete
  6. Sajian bubur ayamnya begitu menggoda...yam yam... Kisah di balik kesuksesannya pun sangat inspiratif.

    ReplyDelete
  7. Kenapa juga aku buka ini pas waktu maksi..kan aku lapar jadinya..kwkwkw
    Mantul nih bubur ayam Abah Odil ini. Kisa suksesnya sunggguh menginspirasi. Saluut!!
    Dan bisnisnya mengikuti jaman, menawarkan pola kemitraan juga. Keren..

    ReplyDelete
  8. Salut dengan kegigihan pengusaha yang mengawali usahanya meski jatuh beberapa kali. Tetap semangat usaha, akhirnya keliatan sekarang semakin sukses ya....

    ReplyDelete
  9. Duh, jadi pengen jualan bubur ayam #eh jadi pengen makan bubur ayam. hihihiii

    Semoga sukses terus usahanya, Abah Odil

    ReplyDelete
  10. Hayo tim bubur yg diaduk atau tak diaduk? Saya cung tak diaduk.Wah...itu ada bubur toping sayur. Sehat tuh.Variasi baru...

    ReplyDelete
  11. Kami sekeluarga pecinta bubur mbak, apalagi si kakak,doyan banget bubur. Btw, jadi oenasaran sama bubur ayam tasik, beda rasamya gimana ya? Hihi..

    ReplyDelete
  12. Wah, saya baru tau di malang ada bubur rasa tasik yang biasanya di daerah sunda. Sepertinya enak dan lengkap ya variannya. Jadi pengen nyoba

    ReplyDelete
  13. Wah sejarahnya sampai terkenal itu
    Dari mulai gerobak hingga menjadi beberapa oitlet sangat menginspirasi ya Mbak.

    ReplyDelete
  14. Wah sukaan saya nih, buryam. Jadi inbet waktu hamil dulu makannya buryam melulu yang lain enggak mau...jadi pengen

    ReplyDelete
  15. ceritanya sangat inspiratif. Jadi ingin membuka usaha serupa di Kudus

    ReplyDelete
  16. Boleh nih jadi tujuan kuliner kalau ke Malang. Jadi penasaran, seperti apa rasanya.

    ReplyDelete
  17. waduuuuh itu pake telur mentah ya mba?? huahahaha aku skip sepertinya, ato kalopun mesen, bakal bilang jangan dikasih telur mentah :D. aku ga ketelan makan itu , bisa muntah2 :D.

    ReplyDelete
  18. Makanan lagi, ngences lagi. Waaaaa mauuuu

    ReplyDelete
  19. Wuenakkkk bubur ayame mbaaa...kmrin aq dh kesana lgi...

    ReplyDelete