My Lifestyle, My Journey, My Happiness

[Sebuah Cerpen] Wasiat Kerinduan



Seperti janji saya pada postingan sebelumnya,  Resensi Buku Antologi "Serpihan Rindu", inilah cerpen saya bertema rindu itu. Idenya datang dari pengamatan saya pada sebuah kejadian nyata, lalu saya padukan dengan kerinduan  pada almarhumah nenek saya. Ya, nama Sumarmi yang saya sebutkan dalam cerpen ini adalah nama beliau. 

Selamat membaca. 🙂


Wasiat Kerinduan
Oleh: Tatiek Purwanti



Sumarmi
Lahir: 21 April 1958
Wafat: 3 Maret 2017

Intan mengusap percikan tanah cokelat yang menutupi sebagian tulisan pada nisan di depannya. Kemarin hujan turun cukup lebat dan membuat tanah pemakaman basah. Sebagian tanah itu terpercik ke sekitarnya. Sebagian lagi memilih bersatu dengan air dan menghasilkan permukaan yang becek.

Sekarang semua tulisan yang mengabadikan nama, tanggal kelahiran, dan kepergian ibu Intan terlihat lebih jelas. Intan mengusap-usap nisan itu, seakan sedang mengelus-elus tangan ibunya. Sesaat kemudian, dia merasakan keharuan menerobos dinding hatinya. Dia memejamkan matanya. 

Aku kangen saat ibu membelai kepalaku. Setitik air dari kedua mata bulatnya menetes pelan, jatuh ke pipinya, setelah Intan mengucap kalimat itu dalam hatinya.

“Setahun sudah ibu pergi dan aku harus menghadapi kenyataan yang sulit ini. Seandainya ibu masih ada, pasti aku tidak...” Intan menghentikan bisikan lirihnya. Dia baru menyadari tentang sebuah pengandaian yang tidak seharusnya dilakukan; mempertanyakan takdir.

Intan menengadahkan kedua tangannya. Untaian doa mengalun lirih dari bibirnya, mengalihkannya dari berandai-andai yang semula menghiasi kepalanya. Bulir-bulir bening kembali menghangatkan pipinya. Dulu jika ia menangis seperti itu, ibunya akan meraih kepalanya. Intan pun bisa puas menangis di bahu penuh kasih ibunya.

Dentingan kecil terdengar dari balik saku celana panjang Intan. Sebuah pesan dari ponselnya masuk, tepat beberapa detik setelah Intan menyelesaikan doanya. Gadis manis berlesung pipi itu buru-buru mengeluarkan ponselnya. Dia berharap pesan itu datang dari seseorang yang sangat ingin ditemuinya saat ini. Ternyata bukan.



Intan berdiri perlahan, menutup pesan itu dan kembali memasukkan ponselnya ke tempat semula. Tidak ingin dibalasnya pesan yang datang dari ayahnya itu. Pesan yang singkat sebenarnya. Hanya menanyakan keberadaan Intan yang sesore itu belum pulang ke rumah. Intan memang tidak berpamitan ketika keluar rumah sejak jam delapan pagi tadi.

“Ibu, aku pulang dulu, ya. Semoga ibu tidur dengan tenang. Aku sangat kangen padamu. Maafkan aku karena rasanya berat sekali melaksanakan wasiatmu.” Intan berbisik lirih lagi, seakan sedang berbicara pada ibunya. Gundukan tanah di hadapannya tentu saja membisu.

Gadis berusia sembilan belas tahun itu melangkah setapak demi setapak, menjauhi tempat peristirahatan terakhir ibunya itu. Sebuah makam sederhana yang tetap berupa gundukan tanah, tidak dikijing seperti beberapa makam yang lain. Itu adalah salah satu wasiat ibunya yang terlaksana. Ada sebuah wasiat lagi yang sedang memberatkan kepalanya.

***

“Dari mana kamu, Tan?” terdengar suara seseorang berikut deru motor dari belakang tubuh Intan. Intan mengerem langkahnya yang sedikit tergesa. Mendung yang menggantung tampak bersiap tumpah menjadi air.

“Eh... Mas Wiryo.” Intan balas menyapa setelah si pengemudi membuka helm yang menutupi kepalanya. 

Wiryo adalah mantan ketua karang taruna desanya yang sudah lama merantau ke kota. Sebuah kelaziman yang terjadi pada para pemuda di desanya selepas lulus SMP atau SMA. Pemuda berusia dua puluh enam tahun itu termasuk yang terakhir merantau. Sebelumnya dia menekuni usaha pembuatan batu bata yang akhirnya bangkrut.

“Aku dari makam ibuku,” lanjut Intan.

“Oh, kok tidak Kamis Kliwon?” Wiryo mematikan mesin motornya agar bisa leluasa bercakap-cakap dengan Intan.

“Lagi kangen berat sama ibu. Lagi pula tidak ada larangan kan kalau aku berziarah di hari biasa?” Intan memberikan alasan, berikut pertanyaan retorisnya.

“Iya, sih.” Wiryo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Ditatapnya Intan, gadis yang pernah mengisi ruang hatinya saat dia masih bersekolah dulu itu. Gadis itu terlihat semakin dewasa dan manis. Sudah hampir enam bulan Wiryo tidak pulang kampung. Tak dinyana, gadis pertama yang dilihatnya di jalan desa adalah Intan.

“Wah, mulai hujan, nih…” Intan merasa canggung ditatap Wiryo seperti itu. Dia menemukan kalimat pengalihan saat dirasakannya air hujan mulai menetes di atas rambut hitam panjangnya.

“Eh, iya. Kalau gitu, sini bonceng aku saja.” Wiryo menawarkan tumpangan diiringi senyuman khasnya. Membonceng Intan dalam kondisi darurat pasti tidak akan membuat Pak Kardi, ayah Intan, marah.

Intan terdiam sejenak. Sedetik kemudian dia mengangguk dan bergegas mengambil posisi di belakang Wiryo. Motor matic berwarna biru itu segera melesat, membelah jalanan desa yang tampak lengang sore itu. Tidak banyak yang mereka perbincangkan dalam kondisi hujan yang semakin deras itu. 

Sepuluh menit kemudian, motor itu berhenti tepat di depan rumah Intan. Setelah berterima kasih pada Wiryo, Intan bergegas menapakkan kakinya ke teras rumah. Dia menoleh ke arah pintu depan yang terbuka, belum ingin mengucapkan salam. Dilihatnya Budhe Darmi muncul dari dalam dan mendekat ke arahnya.

“Kamu dari mana, Nduk?” suara Budhe Darmi menandakan kecemasan. 

“Maafkan Intan tadi tidak pamit, Budhe.”  Intan meraih tangan kakak dari ayahnya itu. “Saya dari makam ibu. Saya… mandi dulu, ya.”

Intan merasa beruntung mendapati dirinya yang kehujanan seperti itu. Ada alasan baginya untuk menghindari perbincangan panjang dengan Budhe Darmi. Sebuah kebiasaan baru Intan sejak sepekan terakhir ini. Budhe Darmi tentu saja tidak bisa mencegah Intan yang tergesa pergi ke kamarnya.


“Intan…” suara bariton milik Pak Kardi membuat Intan yang sedang menuju kamar mandi menghentikan langkahnya sejenak. 

Intan memilih untuk tidak menoleh. Bagus jika tadi ayah melihat aku dibonceng Mas Wiryo, pikirnya. Momen tadi dianggap Intan sebagai pelengkap dari aksi menghindarkan diri dari Pak Kardi. Aksi yang dilakukan Intan setelah peristiwa sepekan yang lalu. Sebuah peristiwa mengejutkan yang menjadi jawaban tentang rasa keberatan Pak Kardi jika Intan berdekatan dengan laki-laki.

“Jangan larang saya berpacaran dengan Mas Wiryo, Pak,” ucap Intan tanpa menoleh. Tiba-tiba saja sebuah ide melintas di kepalanya. 

***

Intan, ibu saya mau bertemu kamu. Kangen katanya. Saya jemput besok di depan kantor kecamatan, ya.

Sebuah pesan WA masuk di ponsel Intan. Dari Brian, seorang pemuda yang dikenalnya secara tidak sengaja setahun yang lalu. Pemuda yang seharusnya dibencinya karena menjadi penyebab kematian Bu Sumarmi dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. Tapi pertemuan Intan dengan Bu Aziza, ibu Brian, mengubah segalanya.

Intan mengetik cepat,

Boleh, Mas. Jam sembilan pagi saja, ya. Saya juga merindukan beliau.

Gadis itu meletakkan ponselnya di meja, lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang. Langit-langit kamarnya yang berwarna putih itu menjadi sasaran lamunannya. Selalu ada wajah ibunya di sana. Wajah yang menyejukkan walaupun kata orang-orang: Sumarmi kuwi ayu atine, senajan ora ayu rupane. Artinya: Sumarmi itu cantik hatinya, walaupun tidak cantik wajahnya.

Intan mengenang ibunya dengan hati gerimis. Bu Sumarmi, perempuan desa yang memiliki tanda lahir besar berwarna hitam di pipi kanannya itu memang bukan ibu kandung Intan. Dia menemukan Intan yang saat itu masih bayi merah di dekat lapangan sekolah dasar tempatnya mengajar pada suatu pagi. 

Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Bu Sumarmi mendapatkan hak pengasuhan bayi perempuan cantik itu. Diberinya nama Intan Berliana. Tentu saja nama yang unik dan langka di desanya. Nama yang menggambarkan bahwa Bu Sumarmi telah menemukan sesuatu yang berharga.

Saat itu Bu Sumarmi sudah berusia empat puluh tahun. Seorang guru yang sedari muda menjadi guru honorer di sebuah SD sampai memasuki masa tuanya. Dia adalah sosok guru penyabar yang disukai murid-muridnya, masih juga melajang. 

Bukannya dia tidak ingin menikah. Sangat ingin malah. Tapi entahlah apa yang ada di pikiran para pemuda yang melihat wajahnya. Tidakkah sebuah kecerdasan dan sifat penyayang seorang perempuan itu bisa menutupi kekurangan fisiknya?



Bu Sumarmi merawat bayi mungilnya dengan penuh kasih sayang. Kedua orang tua sepuhnya yang sudah rindu menimang cucu ikut membantu mengasuh Intan kecil. Sepulang mengajar, perhatiannya tercurah untuk Intan. 

Bu Sumarmi merasa bersyukur sudah meraih gelar sarjana pendidikan di Universitas Terbuka beberapa tahun sebelumnya. Dia tidak lagi harus mengerjakan tugas-tugas kuliah, tapi bisa fokus belajar menjadi ibu.

Suatu hari, Bu Sumarmi menenangkan Intan yang saat itu berusia sembilan tahun. Gadis kecil itu menangis karena diejek teman-temannya. Anak haram, kata mereka. Ah, tidak ada anak haram karena setiap bayi itu terlahir suci. Perbuatan haram lah yang membuat Intan seakan terlahir yatim piatu. Intan kembali merasakan kedamaian dalam dekapan ibunya.

Saat usia Bu Sumarmi menjelang lima puluh tahun, seorang duda yang masih tergolong kerabatnya berniat melamarnya. Dialah Pak Sukardi, duda tampan yang berusia lebih muda lima belas tahun dari Bu Sumarmi. Demi agar melihat kedua orangtuanya yang semakin renta merasa bahagia, Bu Sumarmi menerima lamaran itu. Walaupun sebenarnya keberadaan Intan sudah cukup untuk menutup lubang di hatinya. 

Pak Kardi adalah tipe suami pendiam tapi penyayang. Bu Sumarmi yang merasa terlambat mengenal cinta akhirnya bisa mengecap manisnya berumah tangga. Pak Kardi yang sehari-harinya berdagang di pasar itu memang jarang berbincang-bincang dengan Intan. Tapi Bu Sumarmi tahu bahwa Pak Kardi menyayangi Intan seperti anaknya sendiri. Keluarga itu hidup tenteram dan harmonis. Ada yang berkurang memang; kakek dan nenek Intan dipanggil Ilahi satu per satu.

Kini, ada yang berubah pada diri Pak Kardi. Tatapan matanya pada Intan bukan lagi tatapan seorang ayah kepada anak gadisnya, tapi adalah tatapan romantis lelaki yang penuh cinta. Kalau boleh berkata kasar, Intan ingin berkata bahwa itu sebuah kegilaan. Bayangan Pak Kardi yang mengungkapkan keinginannya dengan penuh ketenangan sepekan yang lalu kembali memasuki kepalanya: Intan, saya ingin menikahimu.

***



Mobil berwarna hitam metalik yang menjemput Intan sudah memasuki halaman rumah megah milik Brian. Mata Intan segera menangkap sosok Bu Aziza yang berdiri menyambut kedatangan Intan dan Brian. Ah, setiap kali Intan menatap Bu Aziza, seakan Intan mendapati ibunya hidup lagi. Seperti ada kemiripan sifat di antara ibunya dan Bu Aziza. Sebuah kehilangan yang seakan menemukan penggantinya.

Bu Aziza adalah seorang perempuan kaya raya yang ramah dan baik hati. Dia bertahun-tahun menjadi single mom tangguh bagi Brian, walaupun sering sakit-sakitan. Bu Aziza menanggung semua biaya rumah sakit, lalu menyerahkan uang puluhan juta rupiah kepada Pak Kardi. Masalah selesai secara kekeluargaan. Bahkan kemudian Intan cepat akrab dengan Bu Aziza karena perempuan itu sering mengunjunginya.

“Alangkah senangnya saya jika Intan bersedia berkuliah di kampusnya Brian. Bukan negeri, tapi akreditasinya bagus. Biar saya yang menanggung semua biayanya. Agar ibu Intan bahagia di sana karena putrinya mengikuti jejaknya menjadi guru,” Bu Aziza memandang Intan dari balik kaca matanya dengan penuh harap. 

Intan hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia masih belum mengeluarkan sepatah kata pun. Hanya seulas senyum dan mata berkaca-kaca yang ditampakkannya pada perempuan berwajah teduh di depannya. Intan yang terpukul ditinggal ibunya, tidak lolos tes masuk perguruan tinggi negeri setahun yang lalu. Dia memang berencana mencoba lagi tahun ini. Sembari menunggu, Intan mengajar les di rumahnya.

“Bu Aziza terlalu baik pada saya. Tapi kalau harus kuliah gratis, saya malu. Sebaiknya saya tetap bekerja sampingan.” Intan belum sepenuhnya bisa menguasai dirinya. Wasiat ibunya agar dia kelak menjadi guru sedang menunggu diambang mata untuk diwujudkan.

“Itu bisa diatur, Nak. Nanti saya juga akan meminta izin Pak Kardi." Bu Aziza menepuk bahu Intan pelan. Kepala Intan mendadak berdenyut mendengar nama Pak Kardi disebut. Tiba-tiba dia teringat akan wasiat lain dari ibunya; menyetujui siapapun perempuan yang dipilih Pak Kardi untuk menjadi istrinya. []


- Selesai -


Saat saya menyetorkan cerpen di atas, kata editornya sih sudah oke. Tidak ada jalan cerita yang perlu direvisi. Beliau hanya mengedit beberapa kesalahan ejaan baku. Menurutnya cerpen ini masuk dalam nominasi 7 cerpen terbaik pada antologi Serpihan Rindu yang diterbitkan oleh AE Publishing, penerbit indie dari Malang. Alhamdulillah.

Tapi pastinya tak ada gading yang tak retak. Teman-teman boleh memberi kritik dan saran. Akan saya jadikan catatan walaupun saya tidak mungkin mengubah isi cerpen di atas. 🙂

Thanks for reading.
Let's enjoy the life attraction by writing fiction



Salam,








Postingan ini diikutsertakan dalam program One Day One Post bersama Estrilook Community.

#ODOPEstrilookCommunity
#ODOPJanuary2019
#Day4

17 comments:

  1. Duh, mbak tatiek apiik critane. Tapi aq kok masih nunggu yo. Kyknya bisa dibuat cerbung. Bikin lagi lanjutannya mb, hehe

    ReplyDelete
  2. Meleleeeeeeh hati dan airmata nih, mbak Tatiek. Setuju lanjuuuut

    ReplyDelete
  3. Ceritanya bisa dibuat bersambung, masih bisa diceritakan kelanjutan pak Kardi dan mas Wiryo. Yg pasti, Selamat ya masuk 7 nominasi

    ReplyDelete
  4. Saya sampai baca bolak-balik. Wah...bingung nih Intan harus memenuhi wasiat Ibu yg mana...

    ReplyDelete
  5. Oke mbak ceritanya, cuma kok saya kurang dapet perasaan Intan tentang kerinduannya, saya malah terbelokkan pengen tahu Intan itu sukanya sama Wiryo atau Brian :) .. mungkin perlu ada cerita sambungannya nih ya.

    ReplyDelete
  6. Bagus mbak ceritanya. Tapi pengennya ada sambungannya, bagusnya jadi novel ini mah heehe

    ReplyDelete
  7. Kalau aku kerinduannya Intan yang kurang dapat feel-nya, malah yang langsung terasa itu kegamangannya Intan. Tapi overall udah bagus sih, kalau mau dilanujut cerbung mgkn bisa dieksplor perasaan Intan aja.

    ReplyDelete
  8. Dari awal baca cerpen ini saya langsung tersedot ingatan pada almarhumah mamah. rindu sekali :(

    ReplyDelete
  9. Hai Mba, cerpennya manis. Cuma saya juga belum menemukan titik kerinduan yang benar-benar menggigit dari Intan untuk Ibunya. Selain itu, endingnya juga kurang jelas apakah twisted ending atau open ending. Maksudnya Intan akan milih siapa nanti hahaha. kepoooo. Over all, good job mba

    ReplyDelete
  10. Selamat bun buku antologinya telah terbit. Keren cerpennya, ku penasaran pas baca. Tapi itu gimana kelanjutannya hehe, ayo di bikin novel, kutungguin cerita selanjutnya. kepoooo ~

    ReplyDelete
  11. Selamat mba Tatiek...aku nunggu cerita lanjutannya 😬
    #kepo

    ReplyDelete
  12. Jadi bagaimana ayooo Intan melaksanakan wasiat Ibunya? Ini pembaca dipersilakan menyimpulkan sendiri, ya. Suka nih cerita seperti ini. Mungkin ada pembaca yang berada di timnya Pak Kardi, Brian, atau malah Wiryo. Kalau aku, pilih siapa, ya? Bingung juga jadinya hahaha ...

    ReplyDelete
  13. Bikin saya terharu nih ceritanya mbak, bergetar hati ini dengan kerinduan. Perlu lanjutan nih kayaknya... Hehehhe...

    ReplyDelete
  14. Ceritanya bagus mbak. Pesannya masuk. Tapi menurut saya terlalu banyak tokoh yg masuk. Hehe... *Sok tahu ya saya padahal bikin cerpen aja masih satu. Hehe
    Saya baca sampai akhir. Artinya kata2 dalam cerpen ini tidak membosankan. Heheh

    ReplyDelete
  15. Keren mbak ceritanya, cukup menegangkan, dan mengalir
    Sukaaaa

    ReplyDelete
  16. ceritanya sudah bagus. kerinduan intan terhadap sang ibu bisa lebih dieksplor lagi. Overall ok. Ini yang kita sebuku kan?

    ReplyDelete
  17. Mantap nih cerpennya mb Tatiek. Tapi sy lbh puas lgi klu ceritanya bersambung. Dituggu klnjutannya

    ReplyDelete