My Lifestyle, My Journey, My Happiness

[Dongeng Kontemporer] Perpustakaan Mini Roni


Jam dinding berdentang satu kali di rumah Roni siang ini. Roni, anak laki-laki kelas 5 SD itu baru saja menyelesaikan makan siangnya. Ia segera menuju sudut kamarnya. Di sana ada sebuah rak buku berukuran sedang yang berisi buku-buku dan majalah koleksinya. Dulu, Roni yang suka membaca itu menempelkan sebuah kertas karton berukuran persegi panjang kecil di sisi atas rak bukunya. Kertas itu bertuliskan “Perpustakaan Mini Roni”.

Siang ini Roni memilih untuk membaca Ensi, sebuah buku ensiklopedia anak yang berisi tentang dunia hewan dan tumbuhan. Badan Ensi cukup tebal, bersampul putih dengan pinggiran berwarna hitam. Ensi merasa senang karena dibaca oleh Roni lagi.

“Beberapa hari ini Roni lebih sering membaca Ensi daripada aku,” Komi, si buku komik anak mengeluh.

“Sabar, Komi. Nanti kita semua pasti juga mendapat giliran untuk dibaca,” Mumus, si kamus bergambar berusaha menenangkan Komi yang tampaknya cemburu.

“Betul, Komi. Roni ‘kan suka membaca kita berulang-ulang. Jadi lebih baik kita sekarang tidur saja,” tambah Novi, si novel anak yang juga bertubuh tebal sambil menguap.



Musim penghujan memang sudah datang. Akhir-akhir ini hujan selalu datang di siang hari. Para penghuni perpustakaan mini tidak khawatir kedinginan karena mereka semua disampuli plastik dengan rapi oleh Roni. Badan mereka juga tetap bersih walaupun kertas di tubuh mereka dibolak-balik berkali-kali. Roni dan ibunya rajin membersihkan rak buku itu dari debu.

***

Ada tamu istimewa yang datang dari Jakarta di hari Minggu pagi. Mereka adalah Paman Mono, Bibi Hera dan kedua sepupu Roni yang bernama Kak Wina dan adiknya, Aqila. Kak Wina duduk di bangku kelas 3 SMP, sedangkan Aqila masih berusia tiga tahun. Kak Wina juga suka membaca, maka ia pun asyik memilih buku dan majalah di perpustakaan mini Roni pada sore harinya. Setelah mendapatkan buku yang dicari, Kak Wina meletakkan ponselnya di rak buku itu. Ia segera keluar dari kamar Roni dan asyik membaca di ruang keluarga. 



“Hai, kamu siapa?” sapa Ensi pada ponsel yang berdiri di dekatnya.

“Masak kamu tidak tahu siapa aku?” ponsel yang bernama Ponsi itu balik bertanya dengan sombongnya. 

“Aku Ponsi, si telepon pintar. Aku tahu apa saja, makanya semua orang menyukaiku. Orang-orang sering membaca melalui aku. Kalau membaca kalian ‘kan bikin bosan!”

Para penghuni perpustakaan mini menghela napas. Baru kali ini ada sosok yang terlalu membanggakan diri dan merendahkan yang lainnya. Padahal para penghuni perpustakaan mini biasanya saling menghargai dan menyayangi.

“Tapi Roni tidak pernah bosan membaca kami,” elak Maga. Majalah anak yang tidak tahan dengan sikap angkuh Ponsi itu akhirnya bersuara.

“Hahaha... Apalagi kamu, hai majalah jelek! Lihatlah tubuhmu itu. Sudah lecek begitu. Lihat nih tubuhku yang berwarna-warni dan suaraku yang bisa berganti-ganti,” Ponsi masih saja menyombongkan diri.

“Oh iya, aku baru ingat. Tadi Kak Wina dan Roni berbincang-bincang. Katanya Roni akan membuang kamu dan teman-temanmu itu,” ucap Ponsi sambil menunjuk Maga dan teman-teman Maga dengan edisi yang berbeda, yang bertumpuk-tumpuk di bawahnya.

Maga dan teman-temannya terkejut. Begitu juga dengan Ensi, Mumus, Novi, dan Komi. Sementara itu Ponsi masih saja tersenyum mengejek. Tidak lama kemudian Kak Wina masuk ke kamar Roni dan membawa Ponsi keluar dari situ.



“Tenanglah Maga,” hibur Mumus yang bijaksana. “Aku tidak percaya dengan perkataan Ponsi yang sombong itu.”

“Betul, Maga. Jangan menangis. Setahuku, Roni tidak akan membuangmu. Ia akan membawamu dan teman-teman sejenismu yang lain ke panti asuhan. Di sana banyak anak yatim piatu yang butuh bahan bacaan,” Novi yang suka tidur ternyata mempunyai informasi berharga.

“Benarkah itu, Novi?” Maga menghapus air matanya.

“Benar, dong. Aku mendengar sendiri Roni dan ayahnya berbicara tentang itu saat Roni membacaku kemarin,” jelas Novi.

Maga menarik napas lega. Tapi ia tiba-tiba bersedih lagi.

“Berarti aku akan berpisah dengan kalian. Hiks...”

“Menurutku itu tidak masalah, Maga. Bukankah kita dulu juga berpisah dengan teman-teman lain saat di toko buku?” kali ini Komi ikut bersuara.

“Aku setuju dengan Komi,” giliran Ensi yang menimpali.

“Kita mungkin akan berpisah tapi yang terpenting kita tetap dibaca oleh anak-anak. Siapapun mereka, yang jelas mereka akan terhibur dan bertambah pintar dengan membaca kita,” Mumus mengemukakan pendapatnya.



Maga dan teman-temannya akhirnya tersenyum mendengar penjelasan Mumus itu.

“Untung Roni tidak punya ponsel seperti si Ponsi yang sombong itu, ya,” kata Ensi.

“Kurasa Roni baru akan dibelikan ponsel saat duduk di SMP nanti,” sahut Komi.

“Fiuhh... Orang tua Roni memang bijaksana. Jadinya Roni tetap mencintai kita semua,” Novi berkata dengan lega. Disambut dengan senyum gembira para penghuni perpustakaan mini yang lainnya.

***

“Ada ribut-ribut apa sih di luar sana?” Novi yang baru bangun tidur bertanya kepada Komi. Komi yang baru dibaca Roni beberapa menit yang lalu tentu saja tahu apa yang terjadi.

“Si Ponsi akhirnya kena batunya. Ia justru yang dibuang ke kolam oleh si kecil Aqila.”

Para penghuni perpustakaan mini tidak dapat menahan tawa.

“Stop tertawanya teman-teman,” Mumus berusaha menghentikan tawa teman-temannya. “Kasihan juga si Ponsi. Bagaimana ceritanya, sih?”

“Tadi Kak Wina menaruh Ponsi sembarangan di kursi. Aqila bisa meraihnya dan membawanya keluar rumah. Lalu dilempar-lempar begitu, deh,” jelas Komi.

“Kita doakan semoga Ponsi baik-baik saja dan tidak sombong lagi,” sahut Maga. Para penghuni perpustakaan mini yang kompak itu pun meyetujui perkataannya.



Malam itu mereka berbincang-bincang dengan seru. Esok hari, ayah Roni akan membawa Maga dan teman-teman sejenisnya ke panti asuhan. Maga tetap bahagia walaupun berpindah tempat. Ia tidak akan melupakan kebersamaan dengan teman-teman baiknya di perpustakaan mini Roni. 

- Selesai -


Quotes:

Setiap anak diciptakan Tuhan dengan keunikan masing-masing. Anak-anak bisa menebar manfaat dan kebaikan dengan caranya sendiri-sendiri berbekal keunikan itu. Maka, kita tidak boleh menjadi anak sombong jika dikaruniai keunikan dan kelebihan. Sebaliknya, kita harus tetap rendah hati, saling menyemangati, dan bekerja sama dengan teman yang lainnya.

💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜💜

Tulisan di atas dimuat dalam buku antologi Dongeng Kontemporer "43 Dongeng Amazing" yang diterbitkan oleh Wonderland Family, 2018.

Dongeng kontemporer adalah dongeng yang tokoh-tokohnya bisa berbicara layaknya manusia.


No comments:

Post a Comment