My Lifestyle, My Journey, My Happiness

April 30, 2019

Agar Inner Beauty Memancar Dari Dalam Diri

by , in

Inner beauty adalah kecantikan jiwa yang didasari oleh kebaikan-kebaikan universal, seperti: kasih sayang, kecerdasan, kesantunan, ketekunan, ketulusan jiwa yang terpancar keluar dan dirasakan kebaikannya oleh orang lain.

"Cantikan Luna Maya lah ke mana-mana. Cantik natural, tinggi semampai, bule banget. Gak kayak Syahrini, ceb*l gitu. Mukanya oplas, bla... bla... bla..."

"Iya deh cantikan yang sono. Tapi yang dipilih Reino kan Syahrini. Dia cantik dari dalam tuh, selalu nyebarin positive vibes. Luna mah cantik tapi judes. Bla... bla... bla..."

Hehe, mohon maaf kalau saya menampilkan perdebatan antar fans seperti di atas. Komentar senada itu saya dapati saat saya mampir di akun instagram sebuah marketplace. Teteh S yang dikontrak sebagai brand ambassador-nya marketplace itu, rupanya membuat fans-nya Mbak LM panas. Terjadilah perdebatan tentang definisi cantik.


Di dunia nyata pun, pastinya kita pernah sekali-dua kali berbeda pendapat dengan orang lain tentang sosok perempuan mana yang paling cantik. Cantikan Bu RW atau Bu Lurah, sih? :D

Makna Kecantikan

Hmm... kecantikan. Sebenarnya perdebatan tentang makna kecantikan sudah berlangsung sejak lama. Pada abad ke-3 SM, orang-orang Yunani berpendapat bahwa kecantikan itu ada pada mata yang melihatnya. Itu diperkuat oleh pernyataan William Shakespeare: Beauty is bought by judgement of the eye. (Love's Labours Lost, 1588)

Alhasil, keindahan yang ditangkap oleh mata itu berbuah subyektifitas. Mengutip detik (dot) com, beberapa negara di dunia punya standar kecantikan masing-masing. 

Di Brazil, perempuan cantik adalah yang berambut pirang, bentuk mata yang ideal, kulit gelap, serta bertubuh curvy namun atletis. Sementara di Korea Selatan, perempuan cantik versi mereka adalah yang bermata bundar besar dan berkulit putih. Operasi plastik menjadi trend karena para perempuan di sana ingin terlihat cantik alami. Kalau sudah oplas, tidak pakai bedak pun tak masalah karena muka sudah kinclong. Begitulah kira-kira ;)


Kita yang di Indonesia? Luna Maya yang keturunan bule itu cantik. Syahrini yang asli Sunda juga cantik. Yang tidak cantik itu yang suka mengolok-olok keduanya. Setuju?

Saya cantik, teman-teman blogger perempuan juga pasti cantik. Tanyain deh pada suami masing-masing. Yekan? Karena pada dasarnya, semua perempuan itu secara fisik ditakdirkan untuk cantik. 

Lalu bagaimana dengan 'kecantikan khusus' seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini?

Inner Beauty, antara Natural dan Etika

Definisi inner beauty sudah saya sebutkan di atas. Sebuah kecantikan dari dalam yang tidak bisa kita klaim untuk diri sendiri karena yang merasakan adalah orang di sekeliling kita.

Kita biasanya sulit untuk melihat inner beauty secara konkret, tapi kita bisa merasakannya. Saya pernah berjumpa dengan seseorang yang perangainya menyenangkan. Begitu natural. Padahal pendidikannya tidak tinggi, tidak pula banyak harta.

Itu bisa terjadi karena karakter dasarnya adalah bersifat baik, merupakan keturunan orang baik, dan dikelilingi lingkungan yang baik pula. Nah, dia rupanya seorang pembelajar 'alami'. Dia lalu mengenali nilai-nilai kebaikan di sekitar dan menyerapnya untuk diri sendiri.

Hal ini bisa disebut sebagai inner beauty yang hakiki karena dipelajarinya sendiri dari pengalaman hidup dan lingkungan sekitarnya. Kecantikan batinnya itu bisa terus ter-upgrade dengan terus belajar dan mengambil hikmah dari setiap kejadian.



Saat dia mengalami up and down life, kata-katanya tetap tertata. Senjatanya adalah syukur saat up dan sabar saat down. Keren...

Ada juga inner beauty yang timbul bukan karena kesadaran pribadi tetapi karena belajar etika dan tuntutan bisnis. Menurut Rustika Thamrin, Psi, biasanya orang kantoran, orang yang bekerja di bidang jasa, dan public figure akan mempelajari etika agar terlihat anggun dan menarik.

Menurut beliau, mereka yang ahli di bidang etika belum tentu memiliki inner beauty. Sesungguhnya, inner beauty dimiliki oleh mereka yang matang secara spiritual. Bukan hanya soal ritual, tapi juga sikap mawas diri bahwa kita adalah bagian kecil dari alam semesta, kita punya pencipta, dan perlu menciptakan harmoni dengan bagian alam lainnya.



Hmm... mereka yang suka menghujat hanya karena berbeda pilihan saat pemilu harus membaca ini, nih. Create the harmony, please!

Kesadaran Diri, Inner Beauty Lebih Memancar Lagi

Banyak sekali kita temui orang yang secara fisik tidak sempurna, ternyata mereka bisa berprestasi, diterima oleh lingkungan, dan bahkan kemudian menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang 'sempurna'.

Inner beauty yang membuat orang terinspirasi itu biasanya timbul karena kesadaran diri yang tinggi. Mereka sadar memiliki 'kekurangan' lalu menggunakan segala sumber daya yang terbatas menuju potensi diri yang optimal.

Sikap mental penuh ketekunan seperti di atas, yang didasari oleh kesadaran diri itu sering membuat orang yang tidak sempurna secara fisik justru lebih maju daripada mereka yang sempurna. Kesadaran diri inilah yang menjadi faktor utama agar inner beauty lebih memancar keluar dari dalam diri.


Duh, jadi saya teringat salah seorang peserta Hafizh Indonesia 2019 yang tayang perdana di RCTI tanggal 29 April kemarin. Namanya Naja dari Mataram, baru berumur 9 tahun. Dia menderita Celebral Palsy atau kelumpuhan otak tetapi mampu menghafal 30 juz Alquran. Masya Allah.

Kita yang sempurna secara fisik seharusnya memiliki kesadaran diri yang lebih kuat lagi. Berlanjut dengan mengoptimalkan sikap mental positif, sehingga bisa juga berkontribusi untuk peningkatan kualitas lingkungan sekitar.

Para sahabat Nabi Muhammad, Mother Theresa, dan Mahatma Gandhi adalah contoh manusia unggulan dengan inner beauty mereka yang memesona. Alangkah indahnya dunia jika dipenuhi orang-orang yang sejenis dengan mereka. 

Yuk, kita juga bisa! Insya Allah.



Salam,
Referensi: Ummi Spesial Juli-Agustus 2010

Sumber foto: pexels
April 30, 2019

5 Tips Agar Anak Mandiri

by , in

Kemandirian itu laksana sebuah pohon. Awalnya, ia harus disebar bibitnya atau ditanam tunasnya sehingga ia akan mengakar dan tumbuh dengan kuat pada diri seorang anak. Ia bukan seperti menunggu buah yang matang, yang siap dipanen atau jatuh dari pohon.

So, menumbuhkan kemandirian memang memerlukan usaha.

Throwback. Seingat saya, saat usia Afra sekitar 4 tahun, ia sudah bersikeras memakai pakaiannya sendiri. Memasangkan kancing baju menjadi saat yang menyenangkan baginya. Begitu juga dengan merapihkan mainan. Lumayan lah, walaupun belum rapih banget.

Mungkin ada juga balita di usia yang sama tapi maunya dilayani saja. Karena si ibu tidak tegaan, pelayanan pun lanjut terus. Hmm...

Mandiri untuk Balita

Tentu saja, mandiri itu bukan singkatan dari mandi sendiri. Hehe... Istilah resmi dari mandiri adalah autonomy yaitu kemampuan untuk melakukan aktivitas secara sendiri. Lingkupnya sangat luas, misalnya: bekerja dan mengambil keputusan.

Nah, kemandirian untuk balita lebih ditekankan pada keterampilan kegiatan sehari-hari. Ini juga merupakan tugas perkembangan anak balita, lho. Menurut tahapan psikososial Erik Erikson, kemandirian ini dimulai pada tahun kedua kehidupan balita.


Pada tahun kedua tersebut, balita umumnya telah mendapatkan kedekatan dan dengan orang tua, saudara kandung, pengasuh, atau kakek-nenek. Ia mulai menyadari keinginan serta kemauannya. Lalu berlanjut dengan mencoba seberapa jauh kemampuannya.

Si Akmal saat berusia 2 tahun dulu, dia menarik-narik tangan Si Abi setiap kali melihat anak tangga. Dia bersikeras naik turun, yakin bahwa Si Abi akan membolehkan. Minimal akan mengawal di dekatnya. Jatuh? Siapa takut.

Bisa dibayangkan jika seorang balita tidak mendapatkan kedekatan itu. Dia akan ragu-ragu mencoba karena merasa tidak ada yang melindunginya.

2 Kunci Utama Kemandirian Balita

1. Kepercayaan

Lingkungan (orang tua, saudara, pengasuh, kakek-nenek) si anak balita harus memberikan kepercayaan bahwa segala aktivitas keseharian balita bisa menjadi ajang latihan kemandirian. Misalnya aktivitas sederhana seperti memakai topinya sendiri dengan benar.


Lingkungan si anak balita seharusnya berupaya memberikan bantuan yang minimal, sampai kepada tanpa memberi bantuan sama sekali. Cukup awasi dan berikan kepercayaan karena si balita sedang penasaran ingin mencoba sendiri. 

2. Konsistensi

Saat si anak balita mencoba makan sendiri dan sepertinya enjoy melakukannya berkali-kali, sebaiknya jangan membuatnya bingung dengan menyuapinya lagi. Yuk, konsisten!


Konsistensi akan membuat si anak balita semakin terlatih dan terbiasa. Ini tentu berdampak positif pada perkembangan kemandiriannya.

Komunikasikan baik-baik faktor konsistensi dengan seluruh anggota keluarga. Harus jadi tim kompak yang tidak mudah kasihan pada balita di saat yang kurang tepat. Semua demi kebaikan si anak balita, kok.

5 Tips Melatih Kemandirian Balita

1. Terlibat tapi Tidak Terlalu Jauh

Untuk memulainya, pasti orang tua akan memberi contoh terlebih dahulu. Biasanya sih tidak hanya sekali. Tapi tetap niatkan itu sebagai keterlibatan awal saja, tidak seterusnya.

Misalnya, orang tua memberi contoh bagaimana memakai sepatu yang berperekat velcro. Sebaiknya saat awal-awal, bukan sepatu bertali, ya. Karena itu cukup rumit untuk ukuran balita.


Sekali, dua kali. Lalu coba biarkan si balita mencoba. Secara normal, si anak balita justru akan suka jika diperbolehkan memakai sepatunya sendiri.

2. Membagi Tugas

Sebaiknya orang tua mengelompokkan apa yang harus dilakukan si anak balita. Ini akan memudahkannya menyelesaikan 'tugasnya'. Berikan instruksi yang jelas dan rinci, bukan hanya kalimat singkat.


Misalnya, orang tua hendak melatih si anak balita untuk melepaskan bajunya sendiri. Katakan, "Lepas kancingnya satu per satu. Mulai dari kancing yang atas, ya. Kalau sudah, buka bajunya. Tangan kiri dulu yang dilepas, ya."

3. Memberi Batas Waktu

Merapihkan mainan biasanya adalah tugas sehari-hari orang tua, khususnya para ibu. Kita pastinya bisa membereskannya dalam waktu singkat. Sat set sat set...


Saat orang tua melatih si anak balita merapihkannya, coba beri batasan waktu juga dengan cara menyenangkan. Misalnya dengan menyalakan alarm yang berbunyi lucu. Ini akan membuat si balita bersemangat, sekaligus berlatih tentang tanggungjawab dan menghargai waktu.

4. Tanggapan Positif

Saat si anak balita mampu melakukan aktivitas hariannya sendiri, sebaiknya pencapaiannya itu kita hargai. Ya, mereka tetap butuh perhatian orang tua, dong. 


Misalnya saat si anak balita bisa mencuci tangannya sendiri dengan sabun di bawah keran dan mematikan keran dengan baik. Ucapkan, "Wah, anakku pintar. Sudah bisa mencuci tangan sendiri. Menang lawan kuman, ya. Horeee!"

5. Latihan Membuat Keputusan

Sejak kecil, si anak balita sudah bisa kita ajak untuk belajar mengambil keputusan secara bijak. Itu bisa dimulai dengan mengajak si anak untuk memilih di antara dua hal. Misalnya, memilih warna pakaian.


Bisa juga dengan membuat si anak balita sebagai decision maker saat berlangsung piknik keluarga ke kebun binatang. Persilakan dia memilih kandang binatang mana yang hendak dikunjungi terlebih dahulu. 

Si anak akan merasa senang karena opininya jadi bahan pertimbangan. Jika pun tidak sesuai dengan kondisi, jelaskan pelan-pelan saja. 

So, kita sebagai orang tua harus optimis dan berpikiran positif bahwa si balita bisa. Kepercayaan dirinya akan terus tumbuh, perkembangan kemandiriannya pun meningkat. 


Ujungnya, kita akan merasa lega dan bahagia karena buah hati telah melewati tahap perkembangan yang sesuai dengan usianya. Anak mandiri? Pasti bisa!


Salam,






Sumber info: Parentsguide Magazine No. 11/ Agustus 2008
Sumber gambar: pexels




April 30, 2019

Melepas Rindu pada Proklamatorku

by , in


"Bagi saya, ilmu pengetahuan hanyalah berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi kepada praktik hidupnya manusia, atau praktik hidupnya bangsa, atau praktik hidupnya dunia kemanusiaan."

(Pidato Bung Karno saat menerima gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, 19 September 1951)


Waktu sudah menunjukkan pukul 13.30 WIB ketika saya sekeluarga menginjakkan kaki di depan gerbang Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Blitar, Jawa Timur. Di atas gerbang bernuansa abu-abu itu tampak running text LED berwarna merah bertuliskan: Amanat Presiden Sukarno. (Memakai ejaan baru). Kalimat selanjutnya adalah yang saya tuliskan di atas. Seems familiar, right?


Alhamdulillah, akhirnya saya sekeluarga sampai juga di perpustakaan yang merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tersebut, setelah sekian lama tertunda. Padahal jarak perpustakaan ini dengan rumah Eyang saya di Blitar hanya sekitar 15 kilometer saja. 

Biasanya, kami ke rumah Eyang dan keluarga besar dahulu. Kalau sudah ngobrol begitu, kami jadi keasyikan dan enggan ke mana-mana lagi. Maka saat itu, Jumat (19/04/19) kami memutuskan untuk mengunjungi Makam Bung Karno terlebih dahulu sebelum sowan ke Eyang.

Layanan Koleksi Memorabilia, Semua Benda tentang Soekarno

Lho, kok Makam Bung Karno? Tadi katanya perpustakaan?

Nah, bagi teman-teman yang belum tahu, Makam Bung Karno ada di bagian belakang Perpustakaan Proklamator Bung Karno tersebut. Sejak diresmikan oleh Presiden Indonesia saat itu, Megawati Soekarnoputri (3/07/04), para pengunjung Makam Bung Karno tidak hanya sekadar nyekar. Mereka bisa menambah pengetahuan tentang Bung Karno dan segala jejak pemikirannya dengan mengunjungi perpustakaan itu.


Hari itu, pengunjungnya terlihat cukup ramai. Maklum, bertepatan dengan tanggal merah. Bahkan saat saya berpose di depan patung besar Bung Karno yang terletak di tengah jalan perpustakaan, beberapa anak sekolah berlalu-lalang. Sepertinya tidak sabar untuk menunggu antrean berfoto. Duh...


Oke, deh. Saya dan Afra segera saja menuju ke Perpustakaan Proklamator Bung Karno bagian Gedung A Barat. Bagian ini disebut juga dengan Bagian Layanan Koleksi Memorabilia. Di dalamnya tersimpan koleksi foto, patung, lukisan, dan benda-benda peninggalan Bung Karno.


Tidak perlu mengeluarkan biaya alias gratis. Saya hanya perlu mengisi buku tamu yang disediakan. Sampai saya selesai mengisi buku tamu, si kecil beserta Si Abi dan ibunda saya sepertinya masih betah di luar. Yo wis lah. Saya berkeliling ruangan dengan Afra saja.

Ruangan Memorabilia di lantai 1 itu cukup luas dan bersih. Terlihat di bagian kanan ada foto Bung Karno memegang wayang. Di sebelahnya, terdapat foto ibunda beliau yang berdarah Bali, Ida Ayu Nyoman Rai. Berikutnya, foto Bung Karno sungkem pada ibu, dan foto orang tua Bung Karno, Raden Soekemi Sosrodihardjo beserta istri. 


Bagi saya, itu seperti mengulang pelajaran sejarah saat SD dulu yaitu menghapal nama-nama. Setelah beranjak dewasa, saya akhirnya tahu bahwa mempelajari sejarah tidak hanya tentang menghapal nama dan tanggal, tapi juga memahami kisah di baliknya untuk dijadikan pelajaran hidup di masa kini.

Saat menatap foto kedua orang tua Bung Karno itu, teringat kembali kisah cinta mereka yang heroik. Dua insan berbeda suku dan agama itu akhirnya bisa bersatu setelah melewati pertentangan berat dari keluarga. Lebih lengkapnya, gugling saja, yak. Hehe...

Lanjuuut...

Benda paling menarik perhatian saya di ruangan itu adalah baju kebangsaan Bung Karno yang berwarna coklat muda dengan empat saku. Baju tersebut sering dipakai Bung Karno saat acara kenegaraan atau kunjungan ke luar negeri. Akhirnya, saya bisa melihat langsung baju bersejarah itu walaupun hanya dari balik kaca.


Koleksi yang lain tentu saja menarik pula, seperti: replika pesawat udara masa kemerdekaan, replika bendera merah putih, mata uang kertas Orde Lama yang bergambar Bung Karno, koper pribadi Bung Karno, Keris Kyai Sekar Jagad milik Bung Karno, dan lukisan sosok Bung Karno yang lain.


Berbelok ke kiri, ada deretan miniatur tempat pengasingan Bung Karno yang diletakkan dekat dengan tembok. Tercatat, Bung Karno pernah diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda ke Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (1934-1938), ke Brastagi dan Parapat, Sumatera Utara (1948), dan ke Bengkulu (1938-1942).

Saya merenung di depan 4 miniatur itu. Betapa dipenjara dan diasingkan tidak membuat semangat juang Bung Karno surut. Pernah hampir menyerah, sih. Tapi beliau segera bangkit lagi. Salah satunya atas dorongan istrinya saat berada di pengasingan Ende, Inggit Ganarsih. Ah, apa kabar kita yang terkena cobaan hidup sedikit lalu mutung? Hiks...


Lalu, di seberang miniatur-miniatur tersebut berjajar rapi puluhan foto yang menceritakan kehidupan pribadi Bung Karno maupun kiprah beliau sebagai pejuang dan pemimpin negara. Foto-foto itu di-copy dari sumber aslinya dan dicetak dengan resolusi tinggi sehingga nyaman dilihat. 


Butuh waktu yang lumayan lama untuk melihat momen-momen bersejarah di dalam foto-foto tersebut. Kesimpulannya: Masya Allah, bangsa Indonesia sungguh bangga pernah memiliki salah satu putra terbaik seperti Bung Karno.


Di sudut paling akhir menuju pintu keluar, ada salinan teks proklamasi berukuran besar yang diapit gambar Bung Karno dan Bung Hatta. Sejak kecil, saya suka mendengar saat teks proklamasi dibacakan. Merinding dan haru. Hormat saya kepada Anda berdua, wahai pahlawan proklamator.


"Yuk, ke gedung sebelah," kata Si Abi yang ternyata sudah membuntuti saya sejak tadi. Sementara itu, Afra sedang bercanda dengan Eyang Uti dan adiknya di sudut perpustakaan lain, di dekat patung Garuda Pancasila.

"Gedung sebelah Timur tutup hari ini, Bi. Sayang banget, jadi gak bisa lihat buku-buku," sahut saya.


Gedung A Timur yang berisi koleksi buku-buku sejarah Indonesia dan dunia itu sedang tutup. Sayang sekali. Saya tidak dapat melihat-lihat koleksi perpustakaan yang disebut sebagai yang terbaik dibandingkan koleksi seluruh kampus di Indonesia. Ya, Perpustakaan Proklamator Bung Karno memang dibiayai oleh APBN dan memperoleh hibah buku dari banyak pihak.

Maka pilihan kami selanjutnya begitu keluar dari pintu Ruangan Memorabilia tentu saja ke arah Makam Bung Karno.

Tempat Peristirahatan Terakhir Putera Sang Fajar

Dari jauh, terlihat jelas gapura yang menjadi pintu gerbang Makam Bung Karno. Beberapa orang tampak berada pada sisi jalan yang mengarah ke tangga tinggi menuju makam. Di sisi kiri tembok ada deretan penjual cinderamata, sedang di sisi kanan berderet ukiran semen yang menggambarkan sosok Bung Karno. 


Saya sekeluarga mengambil pose beberapa kali di depan ukiran tersebut. Afra dan adiknya tampak asyik mengamati ukiran-ukiran dinding itu. Si Adek kegirangan saat melihat ukiran mobil kepresidenan Bung Karno. Anak cowok, sih. Apapun yang berbau mobil pasti suka ;)


Kami pun segera menaiki tangga, lalu berbelok ke kanan. Di pojok kanan itu terdapat Sekretariat Makam Bung Karno. Setiap pengunjung yang ingin mengunjungi makam harus mengisi buku tamu, cukup perwakilannya saja yang mengisi, sih. Sekaligus membeli tiket retribusi seharga Rp. 3.000 per orang.


Done. Tidak terlalu lama antreannya, alhamdulillah.

Saya sekeluarga segera memasuki gerbang makam yang dijaga ketat security. Di sisi kanan gerbang, tampak jelas plakat bertuliskan tanggal peresmian oleh Presiden Soeharto, 21 Juni 1979. Itu persis 9 tahun sejak wafatnya Bung Karno pada tanggal 21 Juni 1970.


Sebenarnya, Bung Karno berwasiat agar dimakamkan di Bogor. Tapi saat itu Presiden Soeharto menilai bahwa sebaiknya Bung Karno dimakamkan di dekat makam kedua orang tuanya di Blitar saja. Mengingat Bung Karno adalah sosok yang sangat dekat dengan ibunya, kata Pak Harto saat itu. Hingga kini, anak-anak Bung Karno masih berbeda pendapat tentang wasiat Bung Karno tersebut.


Sebagai keturunan orang Blitar yang sekarang tinggal di Malang, saya tentu saja ikut bangga karena Makam Bung Karno berada tidak terlalu jauh dari tempat tinggal saya. Semoga makam beliau tetap di Blitar ya, Bu Mega :)

Back to the laptop...

Dari pintu gerbang itu, terlihat Cungkup atau bangunan utama makam sudah dipenuhi oleh banyak peziarah. Semakin mendekat, semakin terdengar jelas lantunan ayat-ayat suci Alquran. Kami mendekat, menaiki anak tangga Cungkup. Para peziarah yang khusyu berdoa tampak mengelilingi tiga makam. Bung Karno sedang tertidur dengan damai di dalam sana, diapit oleh kedua orang tuanya. Ah, tiba-tiba saja ada gerimis turun di mata saya.

Saya tiba-tiba teringat sesuatu. Saya pernah  membaca cuplikan tulisan Bung Karno dalam bukunya, Penyambung Lidah Rakyat. Beliau bercerita tentang masa kecilnya yang indah bersama sang ibunda.

Ibu telah memberikan pangestu kepadaku ketika aku baru berumur beberapa tahun. Di pagi itu ia sudah bangun sebelum matahari terbit dan duduk di dalam gelap di beranda rumah kami yang kecil, tiada bergerak.

Ia tidak berbuat apa-apa, ia tidak berkata apa-apa, hanya memandang arah ke timur dan dengan sabar menantikan hari akan siang.

Aku pun bangun dan mendekatinya. Diulurkannya kedua belah tangannya dan meraih badanku yang kecil ke dalam pelukannya.

Sambil mendekapkan tubuhku ke dadanya, ia memelukku dengan tenang. Kemudian ia berbicara dengan suara lunak:

"Engkau sedang memandangi fajar, Nak. Ibu katakan kepadamu, kelak engkau akan menjadi orang yang mulia, engkau akan menjadi pemimpin dari rakyat kita. Karena ibu melahirkanmu jam setengah enam pagi di saat fajar mulai menyingsing.

Kita orang Jawa mempunyai suatu kepercayaan, bahwa orang yang dilahirkan di saat matahari terbit, nasibnya telah ditakdirkan terlebih dulu.


Jangan lupakan itu, jangan sekali-kali kaulupakan, Nak. Bahwa engkau ini putera dari sang fajar."



Kami pun ikut berbaur bersama mereka. Duduk bersimpuh, menundukkan kepala, berdoa agar Allah menerima segala amal dan mengampuni segala kesalahan presiden pertama Indonesia itu.

Selesai berdoa, saya mengamati langit-langit Cungkup yang berhias ukiran indah. Angin cukup semilir menerpa, seperti ada AC di tempat itu. Tidak sama dengan hawa di luar Cungkup yang sedikit panas. Apakah banyak malaikat sedang mengelilingi tempat itu?


Anggota keluarga saya pun meninggalkan area Cungkup, namun saya masih betah berlama-lama di situ. Mengabadikan para peziarah yang datang silih berganti sekaligus memutar kembali ingatan saya tentang hari-hari terakhir Bung Karno yang pernah saya baca. Oh, Putera Sang Fajar...

"Mi, ayo!" Si Abi memberi isyarat agar saya segera turun, saat saya mengedarkan pandangan ke sekeliling.

Rupanya langit berubah lebih gelap dari sebelumnya. Sudah saatnya pergi dari situ. Saya menatap makam penuh taburan bunga itu sekali lagi. 


Saya pamit, Bung Karno. Terima kasih atas keteladanan dalam mencintai negeri ini. Saya akan melakukan hal yang sama dengan cara terbaik saya, insya Allah.

Cinderamata, Memberdayakan Masyarakat



Saya sekeluarga pun segera meninggalkan pelataran makam. Pintu keluarnya ada di sebelah kanan. Begitu keluar, wuiihh... deretan penjual cinderamata resmi berjajar menyambut kami. Ada gantungan kunci, tas, beraneka kerajinan kayu, baju, oleh-oleh khas Blitar, dll. Dipilih... dipilih...


Sebuah strategi marketing yang bagus, nih. Hanya ada satu pintu keluar sehingga para pengunjung mau tak mau harus berhadapan dengan para penjual. Saya kira mereka adalah masyarakat sekitar yang ikut merasakan manfaat keberadaan wisata sejarah di Blitar tersebut. Jumlah lapaknya banyak pula. Deretan lapak itu berbelok-belok tak habis-habis seperti labirin. Fiuhhh...

Setelah labirin berakhir, rasanya napas sedikit lega. Hehe... Kami sudah membeli sedikit cinderamata. Lalu, cuzz ke arah parkiran dan menuju arah pulang.

Overall, saya sekeluarga senang karena bisa mengunjungi Makam Bung Karno lagi. Saya tidak pernah bosan pergi ke sana dan ingin ke sana lagi suatu hari nanti. Bagaimana dengan teman-teman?




Salam,






April 27, 2019

Melalui Goresan Penaku, Kupersembahkan Cinta Untuk-Mu

by , in


Malam semakin erat memeluk bumi dengan selimut kelamnya. Saat seperti ini adalah waktu yang tepat untuk membaca buku atau melanjutkan PR menulis yang tertunda. Tanpa sengaja, mata saya tertumbuk pada sebuah buku bersampul hijau tua di sudut rak buku. Buku harian lama, tempat saya mencurahkan segala isi hati saat muda dulu.

Sudah lama sekali saya tidak menyentuhnya. Saat membuka lembarannya, saya seakan dibawa ke masa lalu yang penuh kenangan indah. Selepas lulus SMK pada tahun 2000, saya mengadu nasib ke Batam. Setiap hari saya harus bergelut dengan target kerja, membagi waktu yang tersisa untuk menjadi aktivis remaja masjid, dan kuliah di akhir pekan. Rasa penat, gembira, sedih, galau, dan rindu akan kampung halaman tertuang semua di dalam buku itu. Setelah menuliskannya, saya akan merasa lega dan bisa tertidur nyenyak.

Saya berusaha menggali kembali pelajaran yang menyertai setiap kejadian yang saya tuliskan. Setelah memutuskan untuk berhijab pada tahun 2001, tulisan-tulisan saya semakin berwarna. Saya akhirnya tahu bahwa pelajaran yang berusaha saya ambil itu bernama ibrah

Saya pun semakin menyadari bahwa setiap peristiwa, baik dan buruk, seharusnya mengingatkan kepada Allah Swt yang menciptakan peristiwa tersebut. Maka, segala curahan hati di buku harian tersebut seakan menjadi zikir saya yang berwujud tulisan.

Puisi religi saya yang berjudul “Semalam Bersama-Mu” dimuat di sebuah buletin lokal. Saat itulah saya mengenal kata dakwah bil qalam yaitu berdakwah melalui goresan pena. Ya, berdakwah adalah kewajiban bagi setiap muslim. Sarananya bisa lewat apa saja, termasuk melalui tulisan-tulisan pencerahan yang akhirnya bisa lebih mendekatkan pembacanya kepada Allah Swt. Saya yang kurang pandai dalam public speaking tetap bisa berkontribusi dalam menyampaikan nilai-nilai religi dan kebaikan melalui tulisan.

Pada tahun 2010, saya mengenal Blog dan Facebook, dilanjutkan dengan mengenal Kompasiana pada tahun 2014. Hobi menulis di buku harian mulai terbagi pada tiga media tersebut. Pada setiap tulisan, saya biasanya menyelipkan nilai kebaikan atau muatan religi, sekecil apa pun itu.

Sayangnya mood menulis saya masih naik turun. Saat itu saya belum bergabung dengan komunitas menulis mana pun. Saya juga sering berhenti menulis karena merasa kelelahan bekerja di kantor dan merasa rempong mengasuh anak. Alasan yang di kemudian hari saya sadari, seharusnya bisa ditaklukkan.

Pada akhir tahun 2013, saya bergabung dengan sebuah komunitas pecinta Alquran. Ada beberapa teman di komunitas itu yang juga mempunyai hobi menulis. Kami kemudian sepakat untuk menulis kisah nyata kami tentang kecintaan pada Alquran dalam sebuah buku antologi.

Lalu, lahirlah buku antologi pertama saya di tahun 2014 yang diterbitkan secara indie dan diperjualbelikan secara online. Duh, senang rasanya. Sebagian mimpi saya mulai terealisasi dan itu menjadi pendorong untuk lebih rajin lagi menulis.

Buku antologi kedua menyusul lahir di tahun berikutnya, masih juga secara indie. Bedanya, kali ini proyeknya lebih dahsyat karena ada event grand launching. Formatnya, kami membagikan seribu eksemplar buku bertema pergaulan remaja di dalam Islam secara gratis kepada para remaja yang menghadiri acara grand launching tersebut. Sebuah proyek kebaikan yang sampai saat ini menggetarkan dada saya. Di baliknya, ada kisah kerja keras tim penulis, tim ilustrator, tim editor, tim marketing, dan tim crowdfunding selama hampir enam bulan lamanya. 

Beberapa waktu kemudian, saya memutuskan untuk resign dan akhirnya memperoleh momongan yang kedua pada bulan Agustus 2016. Saat itu saya sempat mengalami baby blues. Saya juga vakum nge-blog hampir satu tahun lamanya.

Rasanya ada yang hilang dari diri saya waktu itu. Saat si kecil menjelang usia satu tahun, barulah saya mulai aktif lagi membaca buku dan mulai menulis catatan-catatan ringan. Saya terus memohon kepada Allah Swt agar dikaruniai ketenangan hati. Memiliki bayi dan harus ber-Long Distance Relationship dengan suami, mengharuskan saya banyak berdiam di rumah. Tetapi haruskah saya tidak “bergerak” dan “berkembang”?

Akhirnya, saya memutuskan untuk bergabung dengan beberapa komunitas penulis secara online agar semangat menulis tumbuh kembali, tanpa meninggalkan kewajiban utama. Saya menyadari bahwa semua ada masanya. Dulu saya bebas pergi ke mana saja untuk menghadiri seminar atau pelatihan. Kini saatnya harus lebih fokus mendidik kedua anak saya. Dan, belajar via online menjadi pilihan yang tepat.

Dari sana, saya mendapat banyak teman baru, bisa menerbitkan beberapa buku antologi baru, mengubah platform blog menjadi Top Level Domain, dan akhirnya bisa menghasilkan buku solo pertama pada bulan Januari 2018. Buku solo tersebut berupa novel indie, berjudul The Fear Between Us. 

Novel tersebut mengangkat tema tentang fobia dan bergenre romance religi. Menurut saya, kisah romansa tetap harus dibarengi dengan nilai-nilai Islam sebagai tuntunannya karena cinta kepada manusia adalah cabang dari cinta kepada Allah Swt. Beberapa perenungan akan hikmah kehidupan juga saya tuangkan di sana. Segala puji bagi Allah Swt yang telah memudahkan urusan dalam menulis buku itu, di tengah kondisi yang bagi sebagian orang bisa dikategorikan tidak ideal.

Saya menyadari bahwa masih harus terus belajar merangkai kata. Apalagi untuk menyisipkan pesan-pesan Ilahi, sebaiknya menghindari kesan menggurui. Menulis banyak nasihat juga mendorong diri saya untuk berkaca, “Sudah sejauh mana kedekatan saya pada Sang Pencipta?”

Insya Allah, saya mantap memilih jalan juang ini, jalan yang bisa saya tempuh dari rumah. Jalan yang sebenarnya dilalui oleh para ulama.Ya, para ulama menuliskan ilmu mereka sehingga ilmu tersebut tersimpan rapi dan diwarisi secara turun temurun, dari generasi ke generasi.

Saya juga teringat akan perkataan Asma Nadia, “Ketika kita menulis, lalu ada kebaikan yang diperoleh oleh pembaca dan kita ikhlas menuliskannya, mudah-mudahan itu menjadi pengurang dosa-dosa. Ketika meninggal dan buku tersebut masih dibaca, akan terus mengalirkan pahala-pahala.”

Menulis dengan niat karena Allah Swt adalah landasan utama bagi saya. Niat tersebut berusaha saya perbaiki, selama berproses dan sesudahnya. Dengan niat tersebut, rasa berat dalam menyelesaikan sebuah tulisan akan berkurang karena saya merasa sedang beribadah kepada-Nya. Bukankah sebuah ibadah itu harus dijalankan dengan bersungguh-sungguh? 

Dengan niat itu pula, saya terhindar dari kesedihan saat harus “kalah” dalam lomba kepenulisan. Saya yakin bahwa Allah Swt menilai usaha saya dan bukan dari hasilnya. Setelahnya tentu saja ada pelajaran berharga agar saya belajar lebih baik lagi.

Saya ingin terus menulis sampai tua nanti. Saya ingin agar anak-anak menjadi pembelajar sejati karena melihat ibunya tidak berhenti belajar. Saya senatiasa berdoa agar anak-anak menjadi hamba yang mencintai dan dicintai-Nya, sebagaimana saya sering menyebut nama-Nya dalam banyak tulisan.


Malang, 21 Maret 2018


*Tulisan ini dimuat dalam buku antologi "The Gift of Writing" (2018) oleh para penulis alumni Joeragan Artikel.
April 22, 2019

6 Tips Berbelanja Menyenangkan dan Menentramkan ala Saya

by , in

Berbelanja adalah aktivitas yang identik dengan para perempuan. Setuju, bukan? Hal tersebut mulai tertanam dalam benak saya sejak kecil karena kegiatan rutin ibu saya setiap pagi adalah berbelanja di pasar. Tidak berbelanja berarti tidak ada masakan yang terhidang untuk hari itu.

Begitu juga saat awal bulan tiba -saat ibu menerima sebagian besar gaji ayah- aktivitas rutinnya adalah berbelanja bulanan. Saya selalu diajak ke toko kelontong langganan ibu. Pastinya sih untuk membantu membawakan belanjaan seperti: gula, minyak, sabun, pasta gigi, deterjen, mie, dan teman-temannya.

Sudah kodratnya perempuan, pikir saya saat itu. Maka saat saya mulai bekerja dan memiliki gaji sendiri, aktivitas yang langsung saya lakukan adalah berbelanja. Horeee! Senang rasanya bisa membeli ini-itu dengan hasil keringat sendiri. Pastinya saya menyisihkan sebagian uang untuk ditabung juga sebelumnya.

Aktivitas berbelanja itu pun terus berlanjut hingga kini. Saya akhirnya bisa merasakan apa yang ibu saya rasakan dulu: harus hemat, cermat, dan bersahaja agar berbelanja menjadi agenda yang menyenangkan dan menentramkan.


Menyenangkan; salah satu me time perempuan adalah dengan berbelanja. Adalah sebuah pemandangan yang lazim terjadi saat seorang istri lebih kuat berkeliling mall dibanding suaminya, hehe.

Menentramkan; pasca berbelanja, kita harus tetap nyaman dan merasa tentram. Jangan sampai aktivitas berbelanja kita menimbulkan penyesalan di kemudian hari. Gara-gara terlalu bernafsu memborong barang-barang, lupa kalau ada batasan anggaran yang harus dipatuhi.

Nah, di bawah ini adalah tips berbelanja ala saya, berdasarkan pengalaman saya sehari-hari:

1. Membuat Daftar Belanja

Baik itu berbelanja kebutuhan bulanan atau berbelanja kebutuhan harian, catatan belanja bisa meminimalisir lupa. Namanya juga manusia, ya. Dulu, ini sering saya alami saat saya tidak membuat catatan belanja. Saat sampai di rumah, tepuk dahi sekeras-kerasnya. Hiks.


Menulis barang apa saja yang hendak saya beli juga membuat waktu berbelanja menjadi lebih efisien. Ini menjadikan saya memprioritaskan barang yang saya tuju daripada melihat-lihat dulu. Cuci mata tidak salah, sih. Tapi kebanyakan cuci mata bisa perih. 😉

2. Mendukung Warung Sebelah dan Pasar Tradisional

Seperti yang saya sebutkan di atas, ibu saya pergi berbelanja setiap hari. Tempat yang dituju beliau adalah Pasar Pakisaji, pasar tradisional terbesar di wilayah kami. Jaraknya lumayan dekat, bisa ditempuh dengan berjalan kaki.

Kebiasaan itu saya teruskan. Ya, jarang sekali ada tukang sayur bergerobak yang lewat di kampung saya karena orang-orang lebih memilih berbelanja di pasar. Sudah dekat, harga di pasar pun lebih bersahabat.


Selain itu, beberapa orang tetangga saya dan warga kampung sebelah membuka warung. Keberadaan warung itu lumayan membantu saya jika ada barang ini-itu yang ingin dibeli tapi pasar tradisional sudah tutup. Tak seperti pasar induk, Pasar Pakisaji biasanya tutup sekitar jam 14.00 WIB.

Warung tetangga juga menjadi salah satu sarana saya bersilaturrahmi. Sambil membeli tepung, sambil ngobrol dari A-Z. Tetangga senang, saya pun riang. Tapi saya tim anti ngerumpi dan anti utang warung lho, ya. 😁

3. Membatasi Diri Berbelanja Online

Zaman kiwari membuat aktivitas belanja pun bisa dimulai dari ujung jari. Transaksi perdagangan yang awalnya harus bertatap muka bisa beralih menjadi transaksi online atau e-commerce. Tak harus menempuh jarak jauh lagi. Tinggal klik, barang pesanan pun datang sendiri.


Iklan dari marketplace dan online shop pun membanjiri ponsel kita hari ini. Saya sendiri kadang tergoda untuk melihat-lihat iklan yang berseliweran itu. Seringnya sih hanya melihat saja, membeli hanya sesekali. Hanya ada satu aplikasi marketplace di ponsel saya, sih.

Yang lumayan sering berbelanja online di marketplace justru suami saya. Saya yang tergolong anteng dalam urusan belanja online semoga membuatnya bersyukur. Tidak anti, hanya sedikit membatasi. Agar kantong tidak jebol lebih dini. Hehe...

4. Memanfaatkan Waktu Promo Toko Waralaba

Toko waralaba seperti Ind*mar*t dan Alf*m*t pun terletak tidak begitu jauh dari tempat saya. Secara umum, harga barang pada keduanya lebih mahal dari harga di pasar tradisional. Bisa dimaklumi, sih. Ada kenyamanan, ada harga lebih.

Pernah ada seruan boikot pada keduanya, namun saya tidak sepenuhnya setuju. Menurut saya, keberadaan toko waralaba itu juga membuka lapangan kerja. Lagipula, barang-barang yang dijual pun tidak terlalu lengkap sehingga banyak orang tetap memadati pasar tradisional.


Nah, saya sendiri sering memanfaatkan waktu promo kedua toko waralaba tersebut. Biasanya di akhir pekan dan di awal bulan. Harga barang saat promo itu lumayan, lho. Beli 2 gratis 1 juga kadang saya pertimbangan. Asyik-asyik aja, sih.

5. Tidak Pergi ke Supermarket di Hari Minggu

Sedangkan supermarket dan hypermarket terletak di Kota Malang sana. Yang paling dekat sih Giant Ekstra Kebonsari. Selain yang itu, saya sekeluarga harus menempuh jarak yang lumayan jauh. Kemacetan biasanya kami temui jika berangkat di hari Minggu, apalagi jika bertepatan dengan agenda besar yang diselenggarakan di pusat kota.


Ya, ya. Sebenarnya itu adalah sebuah pemandangan yang biasa terjadi untuk Kota Malang saat ini. Tapi belajar dari pengalaman, saya sekeluarga lebih suka berbelanja di supermarket/hypermarket di hari Sabtu. Bebas macet, waktu untuk berbelanja pun tidak 'terbuang percuma' di jalanan. Biasanya, pengunjung pun tidak begitu membludak.

Lho, kok tidak berbelanja pada weekdays?

Karena eh karena... suami saya hanya ada di rumah saat weekend saja. Berbelanja tanpa ditemani suami itu kurang seru, ah.

6. Berbelanja di Toko Grosir

Toko grosir dikenal sebagai pusat perkulakan para pedagang eceran. Tapi banyak juga konsumen biasa yang berbelanja langsung di toko grosir. Harapannya tentu saja mendapatkan harga barang yang lebih murah dan biasanya berbagai macam promo sedang menunggu.

Beberapa kali saya mencoba berbelanja di toko grosir, baik di Kepanjen atau Kota Malang. Terakhir, saya sekeluarga mengunjungi Indogrosir Malang pada hari Sabtu, tanggal 30 Maret 2019 yang lalu.


Indogrosir adalah jaringan pusat perkulakan dengan format distribusi ke pedagang retail/pedagang eceran tradisional dan modern. Toko Indogrosir ini sudah berdiri sejak tahun 1993, lho. Tapi asli... saya baru tahu ketika Indogrosir cabang Malang resmi dibuka pada tanggal 22 Maret 2019. Saat masih dalam proses pembangunan dan tertutup, saya kira akan dibangun mall, gitu.

Selain di Malang, ada 21 gerai Indogrosir lain yang tersebar di seluruh Indonesia, yaitu: Cipinang, Surabaya, Bandung, Tangerang, Yogyakarta, Medan, Bekasi, Palembang, Kemayoran, Pekanbaru, Samarinda, Semarang, Bogor, Pontianak, Banjarmasin, Manado, Makassar, Jambi, Kendari, Ciputat, dan Karawang. Kotanya teman-teman yang mana, nih?

Area parkir mobil, tepat di depan gerai.
Luas dan gratis, tapi tanpa atap.

Jarak Indogrosir Malang lumayan dekat dengan rumah yaitu sekitar 6,3 kilometer. Sekitar 15-20 menit saja kami sekeluarga sudah tiba di sana siang itu. Berbelok ke kiri, tampak area parkir yang luas itu sudah dipenuhi beraneka kendaraan roda empat. Bebas biaya parkir, kok. Hanya dicatat dan diberi tiket parkir oleh pihak security.

Lokasi Indogrosir Malang (IG @indogrosir_mlg)

Langsung saja kami memasuki arena. Lumayan banyak juga pengunjungnya. Tempat penitipan barang yang ada di sebelah kiri pintu masuk tampak ramai. Beberapa karyawan Indogrosir tampak melayani penitipan barang, penukaran bonus, dan juga pendaftaran member baru.


Rupanya, setiap pengunjung baru disarankan untuk menjadi member Indogrosir. Ada dua jenis sebutan untuk member, yaitu member merah (Anggota Khusus) dan member biru (Anggota Umum). 

Anggota Khusus Indogrosir yaitu pelanggan Indogrosir yang bergerak dibidang retailer, misalnya: toko kelontong, pengecer di pasar, pengecer di perumahan, koperasi, warung/kantin, restoran/rumah makan, Rumah Sakit, apotik, dan hotel. Pastinya, Anggota Khusus ini akan mendapatkan harga khusus dari Indogrosir.

Member Biru dengan kartu berwarna biru (IG @indogrosir_mlg)

Sedangkan Anggota Umum itu ya seperti saya ini; konsumen biasa yang tidak punya toko, tapi pasti punya cinta, hohoho... Syarat pendaftarannya sebenarnya mudah. Hanya mengisi formulir dan menunjukkan KTP. Tapi karena saat itu cukup crowded di bagian pendaftaran, saya menunda dulu menjadi member. Bulan depan saja, insya Allah.

Cuzz... ambil troli belanja dan bareng-bareng masuk ke dalam arena pertempuran. Tidak ada AC di sana, jadi udaranya tidak begitu dingin. Sepertinya yang dipasang adalah kipas angin besar atau blower. Rak-rak tinggi tampak berdiri kokoh dengan penataan barang yang padat.


Tidak seperti di supermarket/hypermarket, barang yang dijual di Indogrosir ditata berikut kardusnya. Ada label harga yang menunjukkan harga beli satuan, beli 3 pcs, 6 pcs, dst. Semakin berkelipatan barang yang dibeli, harganya semakin murah.

Koleksi barangnya cukup lengkap, lebih lengkap dari toko grosir lain yang pernah saya kunjungi. Memang pantas jika Indogrosir ini disebut sebagai pusat perkulakan. Ibunda saya yang cukup hapal harga barang-barang di pasar pun mengakui jika harga di situ lebih murah. Cuzz keliling terusss... kira-kira satu jam lamanya. Alhamdulillah, Si Adek anteng dan terlihat nyaman duduk di troli belanjaan.


Perjuangan mengantre pun dimulai saat saya berniat menuju kasir. Waah, terlihat banyak orang membeli dalam jumlah besar, bahkan berkardus-kardus. Sabaaar, pasti nanti juga kelar. Daaan... akhirnya tiba juga giliran saya.


Saya membayar secara non tunai, menggunakan aplikasi i-Saku. Aplikasi ini memang sudah saya pakai sebelumnya saat berbelanja di Ind*m*r*t. Lumayan, lho. Ada potongan harga jika membayar memakai i-Saku, plus memperoleh tambahan poin di MyPoin. Sekecil apapun, kan harus saya manfaatkan. 😉 

IG @indogrosir_mlg

Dalam rangka pembukaan gerai baru Indogrosir ini, ada undian berhadiah yang bisa diikuti pembeli. Setiap pembelian senilai Rp 250.000 akan mendapatkan kupon undian (berlaku kelipatan). Boleh juga, nih. 

Setelah barang lunas saya bayar, masih diadakan re-checker oleh karyawan Indogrosir. Kirain bisa langsung ngacir bersama troli ke parkiran. Katanya, ini adalah wujud cek manual sekaligus mengingatkan pembeli jika ada bonus atau hadiah yang harus diambil di bagian penitipan barang. Ya, sebenarnya sama sih dengan aturan di toko grosir 'sebelah'.


Alhamdulillah, selesai sudah acara belanja bulanan saya di akhir bulan Maret kemarin. Mungkin akhir bulan ini saya sekeluarga akan kembali lagi ke Indogrosir. Tetap 'berbagi rezeki' dengan berbagai pilihan tempat belanja seperti di atas juga, dong. Insya Allah.

Bagaimana dengan teman-teman semua? Tips berbelanjanya ada yang sama dengan saya, kah?



Salam,






Tulisan ini disertakan dalam program Collabs Pasukan Blogger Joeragan Artikel kelompok 3 putaran ke-3.

Sumber gambar: pexels dan dok. pribadi.