My Lifestyle, My Journey, My Happiness

May 31, 2019

Catatan Ringan tentang Menyikat Gigi di Bulan Ramadan

by , in


"Ayo sikat gigi dulu sebelum salat Subuh," ujar saya pada si sulung beberapa Ramadan yang lalu.

Saat itu sudah masuk waktu imsak. Kebiasaan keluarga kami adalah menutup sahur dengan minum air putih hangat di akhir imsak. Boleh, dong. Imsak kan belum masuk Subuh tapi waktu bersiap-siap sebelum Subuh.

Agenda lanjutannya adalah menggosok gigi. Anak sulung saya yang mendengar perintah saya seperti di atas pun mengangguk dan bergegas ke kamar mandi untuk menyikat gigi memakai sikat dan pasta gigi kesayangannya. 

Menggosok gigi sebelum Subuh pada bulan Ramadan adalah sebuah kebiasaan yang ditanamkan ayah saya saat saya kecil dulu. Tradisi baik yang kemudian saya teruskan sampai sekarang. Walaupun sebenarnya boleh-boleh saja sih menggosok gigi setelah salat Subuh. Puasanya tidak batal, kok. Hanya saja, itu tidak sesuai dengan anjuran Rasulullah Saw.

“Andaikan tidak memberatkan umatku, niscaya perintahkan mereka untuk gosok gigi setiap hendak salat.” (HR. Bukhari, no. 887)


Nah, anjuran di atas berlaku sepanjang zaman, baik di luar Ramadan dan saat Ramadan. Saat kita menghadap Sang Maha Pengasih pastinya harus dalam penampilan terbaik kita, termasuk napas yang segar, bukan?

Selain itu, saya cenderung memilih bersikat gigi sebelum Subuh karena lebih aman dan tidak menimbulkan keraguan. Pernah dulu saya muntah saat bersikat gigi. Alhamdulillah saat itu belum masuk waktu Subuh sehingga saya bisa membersihkan mulut dan berkumur, lalu meneguk air matang. 

Bayangkan jika saya muntah pada saat bersikat gigi setelah salat Subuh. Batal dong puasa saya karena muntahnya adalah muntah yang sengaja karena melakukan perbuatan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.

Lalu, saya tidak termasuk yang suka menyikat gigi di siang hari saat berpuasa. Ada memang orang-orang yang tidak percaya diri dengan bau mulutnya saat sedang berpuasa, lalu memilih menyikat giginya agar napas kembali segar. Padahal bau mulut saat berpuasa adalah keniscayaan. 

“Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak misk.” (HR. Bukhari no. 1894 dan Muslim no. 1151)

Asalkan sebelum salat Subuh sudah bersikat gigi, itu cukup bagi saya. Ditambah dengan mengkonsumsi air putih yang cukup saat sahur dan saat berbuka sebelumnya. Pun menghindari menyantap makanan yang bisa menyebabkan bau mulut adalah keharusan bagi saya.


Tapi sekali lagi, diperbolehkan kok bersikat gigi kapan saja saat berpuasa. Menurut konsultasisyariah(dot)com, bahkan saat bersikat gigi itu tidak harus meludah habis-habisan untuk membuang air sisa kumur-kumur. Asal air kumur sudah dibuang, itu cukup. Tidak harus memaksakan diri agar mulut kering. Lha wong barusan menyikat gigi, pasti lidah pun ikut basah.

Untuk lebih berhati-hati lagi, sebaiknya saat bersikat gigi kita memakai pasta gigi dengan rasa yang 'standar' sehingga kita tidak membayangkan atau 'menikmati' rasanya. Pasta gigi biasa tanpa rasa mint, misalnya. Saya sih setuju dengan pendapat yang ini. 

“Bersiwak bisa membersihkan mulut dan mendatangkan ridha Allah.” (HR. Nasa’i dan dishahihkan al-Albani)

Sebelum ada pasta gigi, kayu siwak menjadi alat pembersih gigi yang dianjurkan oleh Rasulullah. Hingga hari ini pun kayu siwak yang ujungnya dibuat 'berbulu' masih banyak dipakai oleh kaum muslimin.


Baik bersiwak atau menyikat gigi di bulan Ramadan, akan mendatangkan keridaan Allah Swt jika dilakukan sesuai tuntunan. Ada pembolehan di sana, tapi tetap ada kehati-hatian yang harus dijaga agar puasa kita sempurna.

Selamat berpuasa dengan napas segar! 



Salam,
Tatiek Purwanti




Referensi:
https://konsultasisyariah.com/6391-sikat-gigi-saat-puasa.html

Sumber gambar: pexels dan instagram

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge

#Day9
May 31, 2019

Tips Menghilangkan Jerawat dengan Cepat

by , in

Salah satu problem saat saya masih remaja dulu adalah jerawat. Duh, sampai pernah merasa jengkel karenanya. Begitu saya mendapat haid yang pertama, eh si jerawat pun nongkrong dengan manis di dahi saya. Alhasil saya pun panik. Cepat-cepat deh saya membeli lotion anti jerawat dan mengoleskannya. Alhamdulillah, kempes dan mengering. 

Saya kira jerawat itu akan muncul saat menjelang haid saja. Ternyata ia muncul mengiringi masa puber saya. Mati satu tumbuh seribu, hiks. Tidak hanya di dahi tapi mulai merambah kedua belah pipi. Sedih sebenarnya. Tapi saya segera bertindak dengan mulai memperhatikan kebersihan kulit wajah saya yang tipenya berminyak. 


Saya pernah merasa iri pada teman saya yang berjenis kulit normal dan tidak berjerawat. Suatu ketika dia bercerita bahwa dia langsung tidur sepulang bepergian, hanya mencuci muka dengan air. Duh, saya mana bisa seperti itu. Setiap kali pulang sekolah, membersihkan wajah dengan milk cleanser dan toner menjadi agenda wajib bagi saya. Jika tidak, pasukan jerawat bisa muncul dengan cepat. 

Perawatan wajah saya yang lain demi terhindar dari jerawat dan mengatasi jerawat yang terlanjur datang adalah dengan memakai skin care khusus jerawat. So, sejak remaja saya akrab dengan yang namanya peeling mundisari, masker jeruk untuk kulit berjerawat, masker bengkoang, pelembab khusus anti jerawat, dan bedak jerawat. Lumayan membantu walaupun jerawatnya tidak bisa 100% lenyap. 


Jika jerawatnya kecil saja, biasanya akan tersamarkan oleh pelembab dan bedak acne prone yang saya pakai. Yang membuat sedih adalah saat muncul jerawat batu, hiks. Ia tampak lebih besar karena kulit wajah mengalami peradangan. 

Menurut sumber yang saya baca, itu disebabkan karena sebum yang berlebih melewati dinding folikel. Sebum itu bercampur dengan sel kulit mati dan menyebabkan pori-pori tersumbat. Bakteri jerawat berpopulasi, pun radikal bebas merusak jaringan kulit sehingga menyebabkan peradangan dan timbul kemerahan.

Nah, agar jerawat meradang nan bandel itu cepat mengecil dan segera lenyap, saya menerapkan salah satu tips sebagai berikut setelah membersihkan wajah:

1. Ambil selembar kain bersih, letakkan beberapa ice cube di dalamnya. Kompres jerawat yang meradang tadi selama beberapa menit. Jangan terlalu menekan jerawatnya, ya. Jika pecah dan timbul luka, bakteri bisa menyerang bagian luka itu. Jerawat bisa tambah parah. Ulangi sampai kemerahan tersebut berkurang.


2. Gunakan obat tetes mata yang mengandung tetrahydrozoline hydrochloride. Zat ini bisa membantu menghilangkan kemerahan pada jerawat secara cepat. Caranya: Teteskan obat tetes mata pada selembar kapas, taruh di freezer semalaman. Pagi harinya, tempelkan kapas itu pada jerawat yang meradang selama beberapa menit. Obat tetes mata yang terserap kulit membuat pembuluh darah menyempit sehingga peradangan pun berkurang.

3. Ternyata kita bisa memakai aspirin sebagai obat luar untuk mengurangi peradangan dan kemerahan pada jerawat, lho. Tak lain karena aspirin mengandung asam salisilat yang bekerja mengelupas kulit dan mengatasi kemerahan melalui penyempitan pembuluh darah.Caranya: Ambil separuh aspirin lalu tambahkan air. Segera oleskan pada jerawat yang meradang. Tutup dengan plester dan diamkan selama 30 menit.

4. Pasta gigi bisa dipakai untuk mengobati jerawat? Itu benar, tapi dengan catatan: pasta giginya tidak mengandung mentol dan fluoride. Alih-alih mengatasi jerawat, dua kandungan ini justru bisa mengiritasi kulit dan memicu timbulnya jerawat yang lebih banyak. 


Nah, kandungan silica di dalam pasta gigi lah yang bisa mengeringkan jerawat, tak lagi meradang. 

Selain menjalani empat tips di atas, saya juga tetap mengandalkan lotion anti jerawat untuk mempercepat penyembuhan jerawat. Pun saat itu saya juga mengobati dari dalam dengan meminum pil bersih darah yang disebut bisa membasmi jerawat yang berasal dari darah kotor.

Yang kurang terjaga saat itu adalah pola makan. Maklum masih remaja. Padahal membatasi asupan produk susu, gula, gluten, dan daging sangat membantu mengatasi jerawat. Porsi buah dan sayur harus lebih mendominasi dalam santapan sehari-hari, plus minum air putih yang cukup.

Saya baru benar-benar terbebas dari jerawat membandel setelah menikah, hehe. Mungkin itu adalah obat jerawat paling ampuh bagi saya. Alhamdulillah, sekarang si jerawat jarang sekali muncul. Kadang ada sih satu biji, untuk menunjukkan haid saya sudah dekat.


So, tidak perlu minder jika ternyata kita terpilih menjadi sahabatnya jerawat. Apalagi jika penyebab utamanya adalah faktor hormonal. Hmm... itu seperti takdir yang melekat. Jalani saja dan basmi jerawat dengan semangat. Ganbatte



Salam, 
Tatiek Purwanti



Referensi: 
https://www.kompas.com/lifestyle/read/2017/11/19/132100120/5-cara-kilat-menghilangkan-jerawat-dalam-semalam

Sumber gambar: pixabay

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge

#Day8


May 31, 2019

7 Cara Jitu Atasi Ketombe

by , in

Rambut adalah mahkota wanita. Maka setiap gangguan yang menyebabkan berkurangnya keindahan mahkota itu harus segera diatasi. Untuk saya, masalah terbesarnya adalah ber ketombe. Duh, serpihan sel kulit kepala mati yang menumpuk itu memang bikin gerah. Rasa percaya diri pun menjadi rendah. Selain membuat saya senantiasa menggaruk rambut, serpihan itu sungguh tidak sedap dipandang mata.

Penyebab ketombe paling umum adalah karena adanya mikroba yang terjadi secara alami di kulit kepala, dinamakan Malassezia Globosa. Menurut penelitian, mikroba ini hanya menyebabkan ketombe pada sebagian orang, sih. Kira-kira, 50% penyebab ketombe adalah karena mikroba ini.

Berikut ini cara bekerja si mikroba Malassezia Globosa itu:
  • Malassezia globosa mengkonsumsi minyak kulit kepala alami yang dinamakan sebum. Sebum inilah yang berfungsi untuk membuat kulit kepala kita tetap lembab.
  • Pasca penguraian sebum, akan dihasilkan 'limbah' yang disebut asam oleat. Bagi mereka yang kulit kepalanya sensitif terhadap asam oleat ini akan bereaksi dengan timbulnya iritasi.
  • Iritasi ini berwujud kulit kepala yang meradang, memerah, lalu terasa gatal. Sel-sel kulit kepala pun menunjukkan 'gelagat tak biasa' dengan meluruhkan diri lebih cepat. Terjadilah ketombe. 


Masalah ketombe saya itu terjadi pada masa muda saya. Alhamdulillah, itu telah teratasi karena saya rutin mencuci rambut memakai shampo anti ketombe. Keramas atau mencuci rambut secara rutin memang cara paling praktis untuk membasmi ketombe. Kulit kepala jadi bersih sehingga pertumbuhan tak normal mikroba atau jamur yang menjadi penyebab ketombe pun bisa diatasi secara berangsur-angsur. 

So, cara pertama yaitu saya selalu memakai shampo khusus anti dandruff. Merk apa saja cocok asal yang anti ketombe. Jika memakai selain shampo jenis itu, alamat deh si ketombe bakal datang lagi. Biasanya, shampo anti ketombe memiliki kandungan zinc pyrithione, zat aktif yang telah disetujui oleh Food and Drug Association (FDA) untuk melawan ketombe secara efektif. Selain itu, ada kandungan selenium sulfida yang punya fungsi hampir sama untuk kesehatan kulit kepala.


Cara kedua adalah dengan menjemur rambut dan kulit kepala selama beberapa menit, lebih bagus di pagi hari sekitar jam 9-10. Selain bagus untuk kulit tubuh, sinar matahari yang berfungsi menstimulasi produksi vitamin E ini juga bisa menjaga kesehatan kulit kepala, lho. Tapi ingat, cukup beberapa menit saja sampai kulit kepala terasa hangat. Tentunya kita tidak ingin terpapar radiasi Ultraviolet, bukan?

Cara ketiga adalah dengan menjaga pola makan. Kita sebaiknya mengkonsumsi makanan yang mengandung vitamin B, zinc dan minyak esensial. Ketiga jenis bahan itu dapat membantu menyehatkan sel kulit kepala, membuat rambut lebih sehat sehingga terhindar dari masalah rambut seperti ketombe. Contoh makanan yang mengandung tiga bahan tersebut adalah brokoli, bayam, daging sapi, udang, dan kacang panggang.

Cara keempat adalah dengan mengoleskan minyak alami secara rutin pada kulit kepala. Tujuannya untuk menutrisi kulit kepala sehingga sel kulit kepala tetap lembab. Ingat, kondisi kulit kepala yang kering bisa memperparah timbulnya ketombe. Contoh minyak yang bisa kita gunakan yaitu minyak zaitun, minyak kemiri, minyak rosemary, dan minyak kelapa. 


Cara kelima adalah dengan berolahraga secara teratur. Sebagaimana kita ketahui, peredaran darah akan menjadi lancar karena efek olahraga. Kandungan oksigen pada kulit kepala pun terjaga dengan baik sehingga kelembabannya terjaga. Saya sih lebih memilih jogging selama 30 menit. Tidak jauh-jauh, cukup di sekitar perkampungan saja.

Cara keenam adalah dengan sedapat mungkin menghindari stress. Badan dan pikiran yang terlalu lelah ternyata berefek juga pada kesehatan kulit kepala. Solusinya, relaksasi badan dan pikiran menjadi agenda wajib setiap hari. Kita sendiri yang paling tahu cara yang paling nyaman. Saya sih biasanya memilih menonton film, membaca bacaan ringan, atau... tidur ;)

Cara ketujuh ini harus ditempuh jika keenam cara di atas tidak mempan juga untuk mengatasi ketombe. Itu berarti ketombenya sudah akut. Silakan berkonsultasi pada ahli dermatologi, ya. Nanti akan ada saran untuk mengikuti terapi khusus ketombe. Segala sesuatu yang diserahkan pada ahlinya biasanya akan berhasil, insya Allah. 


Nah, sembari berjuang mengatasi ketombe yang bikin risih itu, kita bisa menyiasati dengan memakai pakaian berwarna terang saat keluar rumah. Bisa dibayangkan seperti apa jadinya baju berwarna gelap kita jika ketombe berguguran. Hiii... 

Bukan iklan, saya hanya ingin berucap, "Ketombe, siapa takut?"

Yekan? 



Salam,
Tatiek Purwanti



#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge

#Day7


Sumber gambar: pixabay

May 30, 2019

4 Waktu Promo Belanja Online yang Ditunggu

by , in

Di zaman kiwari seperti sekarang ini, hampir setiap orang punya ponsel pintar dalam genggaman. Berselancar di dunia maya tak perlu lagi harus membuka laptop dahulu. Tinggal klik-klik, informasi pun berhamburan, Begitu juga dengan urusan belanja yang bisa dilakukan secara online sejak menjamurnya online shop dan marketplace.

Saya yang bukan maniak belanja online saja punya satu aplikasi belanja online kesayangan. Apalagi mereka yang hobi belanja online; pasang deh semua aplikasi belanja. Hampir setiap hari saya pantengin; ingin tahu barang apa saja yang sedang hits. Kalau cocok dan saya sedang butuh, cuzz... 


Sumber: pinterest
So, harus diakui bahwa berbelanja online begitu diminati. Kita tak harus keluar rumah lalu berpanas-panas ria dan mengantre di kasir. Cukup mainkan jari kita, selesaikan transaksi, dan barang pesanan pun datang sendiri. Ya, mudah. Selain itu, biasanya orang tergiur berbelanja online karena banyak tawaran cash back dan promo.

Nah, ada 4 waktu dimana promo belanja online begitu ditunggu yaitu:

1. Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas)

Setiap tahunnya, puncak Harbolnas terjadi pada tanggal 12 Desember atau disebut 12-12. Sungguh itu adalah tanggal cantik yang paling ditunggu para pejuang belanja online. Sebelumnya memang ada 'pemanasan' Harbolnas pada bulan-bulan sebelumnya, tapi pada puncak Harbolnas-lah marketplace berlomba-lomba menawarkan banyak diskon gila-gilaan dan cashback besar. 


Sumber: Bukalapak(dot)com

2. Berbelanja di Tengah Malam

Namanya juga belanja online, jadi kita bisa jadi pembeli kapan saja. Khususnya pada saat Harbolnas dan pesta diskon, berbelanja tengah malam akan sangat menguntungkan kita sebagai pembeli karena banyak promo. Syaratnya pasti, dong: harus kuat melek.

3. Momen Natal dan Tahun Baru

Pasca Harbolnas, keseruan promo belanja online terus berlanjut karena ada momen hari raya natal dan tahun baru setelahnya. Marketplace menggelar cuci gudang di akhir tahun seperti itu sehingga barang diskonan pun melimpah ruah. Cashback pun tak ketinggalan banyak diberikan.

4. Ramadan dan Lebaran

Program religi lebih banyak ditayangkan oleh stasiun televisi pada saat bulan Ramadan seperti ini. Tak ketinggalan, iklan promo belanja online saat Ramadan pun gencar ditayangkan. Duh, benar-benar menggoda iman. 

Pihak marketplace tentu saja jeli melihat peluang. Ramadan dan lebaran adalah saat umumnya manusia lebih royal berbelanja. Baik kebutuhan pangan ataupun sandang, etalase para marketplace dan online shop siap melayani keinginan kita.

Sumber: shopee(dot)co(dot)id

Seperti prinsip belanja konvensional, kita harus tetap memegang prinsip "kendalikan diri". Biasanya, melihat barang-barang bagus saja kita akan tergoda apalagi jika ditambah promo-promo menarik. Bisa-bisa kantong atau rekening kita jebol jika tidak waspada.

So, tetap perhatikan hal-hal berikut ini sebelum terjun berbelanja pada 4 waktu emas seperti di atas:

▪Tak ada salahnya kita menyisihkan ubah jauh-jauh hari sebelum masa-masa promo di atas datang. Menabung sebelum 'berjuang' ;)
▪Jangan salah pilih marketplace atau online shop. Berbelanja lah hanya pada yang kredibel dan tanpa masalah. 
▪Catat barang-barang yang ingin kita beli. Walaupun sekadar catatan kecil, ini penting sebagai 'alarm'. 
▪Selalu cek harga asli barang sebelum membeli barang diskonan. Jika kita tahu harga rata-rata barang itu di tempat lain, akan lebih baik. Tetap, dong: teliti sebelum membeli. 
▪Manfaatkan promo flash sale/flash deal yang biasanya menghadirkan harga barang sangat miring. Butuh kecepatan jari untuk ini. Tetap ya: jagalah hati!

Sumber: pinterest

Alhamdulillah, beberapa kebutuhan Ramadan dan lebaran sudah di tangan saya setelah berbelanja online. Memang menyenangkan sih setiap kali barang pesanan kita datang. Bagaimana dengan teman-teman? Pastinya tidak ketinggalan dengan berbagai promo belanja online pada Ramadan kali ini, bukan? 



Salam, 
Tatiek Purwanti


#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge

#Day6
May 29, 2019

Lezatnya Nasi Goreng Cabe Hijau: Diet pun Kacau

by , in


"Kamu pesan apa, Nak?" tanya saya pada suatu hari saat kami sekeluarga makan di luar. 

"Nasi goreng Pattaya," jawabnya mantap. 

Duh, anak ini. Tidak bosan-bosannya makan nasi goreng. Padahal saat di rumah, dia lumayan sering request nasi goreng.

"Paling Afra itu ketularan Abi," sahut suami saya. "Sejak kecil kan Abi doyannya nasi goreng. Dulu Abi pas kecil gendut juga karena nasi goreng."

"Tuh, Mbak. Nanti bisa gendut, lho," goda saya. Eh, Afra nyengir saja. 

Begitulah. Anak dan bapak itu lumayan menyukai nasi goreng. Karena cara membuatnya mudah, saya sih oke saja memasak itu untuk mereka. Tidak setiap hari, sih. Paling sepekan dua kali saat kami sarapan.

Ya, saya pernah membaca bahwa di balik kelezatan nasi goreng itu ada kandungan kalori yang sangat tinggi. Minyak goreng, margarin, atau mentega yang diserap oleh nasi lah penyebabnya. Maka nasi goreng adalah musuh besar bagi mereka yang sedang mengatur pola makan atau berdiet. 

Saat saya menerapkan pola makan food combining dulu, saya menghindari menyantap nasi goreng. Apalagi jika di dalam nasi gorengnya ada campuran daging dan telur. Sekarang sih tidak anti lagi tapi cukup sesekali. 


Cabe rawit hijau seperti ini yang jadi bahan baku nasi goreng cabe hijau versi saya (sumber: tokopedia(dot)com) 

Beragam resep nasi goreng pernah saya coba, tapi yang paling saya sukai adalah nasi goreng cabe hijau. Ya, memakai cabe rawit hijau yang biasanya menjadi teman makan gorengan itu, lho. Entahlah, segala makanan yang memakai cabe hijau cukup menarik minat saya dibandingkan yang berbahan cabe rawit merah. Dan nasi goreng cabe hijau ini sering kali membuat saya khilaf, hiks. 

Nasi goreng cabe hijau versi saya sih sederhana sekali. Bawang merah, bawang putih, dan cabe hijaunya cukup diiris tipis lalu ditumis. Setelah harum, seperti biasa masukkan nasi dan telur orak-arik. Aduk rata. Garamnya nanti ditaburkan setelah api dimatikan. Yummy. Penampakan nasi gorengnya memang tidak kecoklatan karena tanpa kecap. Rasanya beda lho jika yang dipakai adalah cabe rawit merah. 

Suatu hari saya melihat iklan di televisi tentang bumbu nasi goreng cabe hijau dari Royco. Wah, saya jadi penasaran. Sukses deh iklannya bikin saya ingin mencari-cari produknya, hehe. Padahal biasanya saya memakai bumbu ulekan sendiri. Hmm... Sesekali tidak apa-apa lah.

Sumber: royco(dot)co(dot)id

Singkat kata, bumbu nasi goreng cabe hijau Royco itu pun saya dapatkan. Langsung deh saya eksekusi untuk sarapan pagi. Tidak ada kategori bumbu pedas pada bungkusnya jadi pasti rasanya tidak pedas. Pas buat Afra yang tidak terlalu suka pedas. 

"Tumben pakai bumbu seperti itu, Mi" komentar Afra saat saya mempersiapkan bahan-bahannya. 

Nah, kan.

"Pengin tahu saja, sih. Pastinya rasanya beda dengan yang biasa ummi bikin. Tuh cabe hijaunya yang versi besar," jawab saya sambil menunjuk kemasan bumbu nasi goreng itu. 

Baiklah. Saya pun menyiapkan bahan-bahan seperti yang tertera pada bungkusnya, agar hasilnya bisa maksimal, yaitu:


2 piring nasi putih
100 gram daging ayam (saya kukus dulu, suwir-suwir) 
2 butir telur ayam
3 siung bawang putih, cincang
5 siung bawang merah, cincang
1 sdm minyak goreng
1/2 sdm margarin
1 1/2 sdm air
1 bungkus Royco nasi goreng cabe hijau

Cara memasak:

Panaskan minyak dan margarin di dalam wajan, lalu tumis bawang merah dan bawang putih hingga kecoklatan. 


Tambahkan daging ayam, aduk rata. Baru tambahkan telur ayam. 


Larutkan bumbu Royco nasi goreng cabe hijau dengan air. Campurkan beriringan dengan nasi putih. Aduk-aduk dan masak sekitar 2 menit. 

Sajikan hangat bersama ketimun dan irisan tomat. 


Rasanya lumayan enak. Penguat rasa mono natrium glutamat-nya tidak begitu terasa. Walaupun cita rasa cabe hijaunya tidak 'sekuat' seperti racikan saya sendiri, sih. Karena tidak pedas, saya menyantapnya dengan irisan cabe. Baru deh maknyusss... 

Ah, nasi goreng. Bisa-bisa saja ya yang dulu menciptakan resep ini pada tahun 4000 SM. Berawal dari orang-orang Cina yang ingin memanfaatkan nasi "sisa semalam", akhirnya resepnya mendunia. Dijual dimana-mana. Pun saat saya menghadiri resepsi pernikahan, nasi goreng selalu tersaji di hidangan prasmanan yang tersedia.

Ramadan kali ini, baru satu kali saja saya menghidangkan nasi goreng untuk berbuka puasa. Bukan nasi goreng cabe hijau, karena saya khawatir nambah lagi. Bisa gagal diet saya nanti, hehe.

Bagaimana dengan teman-teman? Anda tim pembeli nasi goreng, tim pemasak nasi goreng bumbu sendiri, atau tim pemasak nasi goreng bumbu jadi?


Salam, 
Tatiek Purwanti


#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge

#Day5



May 29, 2019

Resep Soto Betawi: Hangat, Lezat, dan Bernutrisi

by , in

Salah satu hidangan populer di Indonesia adalah soto. Setuju dong, ya? Ini bisa kita lihat dari warung atau rumah makan yang berjajar di pinggir jalan. Sekilas saja, kita akan banyak mendapati soto sebagai salah satu kuliner yang disajikan. Bahkan di sekitar saya saja ada kurang lebih 10 orang yang berjualan soto, bersaing dengan bakso dan rawon. 

Tak heran soto ini tersebar di berbagai daerah di Indonesia dengan sebutan yang kadang berbeda-beda atau ditambah bagian belakangnya. Misalnya: orang Makassar menyebut dengan "coto", orang Pekalongan menamainya "Tauto", dan orang yang lainnya menyebut dengan istilah "Sauto". Mirip-mirip dan yang kuliner yang dimaksud pun sama. 

Coto Makassar
Sumber: resepkoki(dot) id
Sedangkan sebutan soto dengan penambahan nama belakang biasanya karena asal dari soto tersebut. Kita pastinya tidak asing dengan sebutan Soto Lamongan, Soto Kudus, Soto Madura, Soto Bandung, Soto Semarang, atau juga Soto Betawi. Di daerah saya, Malang, menyebutnya cukup dengan "soto" saja, sih. Wujudnya berupa kuah soto bening berisi suwiran daging ayam, kentang goreng, soun, seledri, daun bawang, bawang goreng, plus beberapa percik air jeruk nipis. Yummy... 

Adapun Soto Lamongan dengan kuah kuning itu lumayan populer di sini. Tetangga saya berjualan Soto Lamongan dan laris manis. Sedangkan Soto Semarang, saya belum pernah merasakannya. Padahal dari Semarang lah sejarah soto itu bermula.

Menurut Denys Lombard dalam bukunya "Nusa Jawa Silang Budaya", soto asalnya adalah makanan dari Cina yang bernama " caudo". Kali pertama, kuliner tersebut populer di Semarang, Jawa Tengah. Lambat laun, "caudo" lantas bercampur dengan tradisi lokal dan lahirlah soto yang kita kenal saat ini.

Berkenalan dengan Soto Betawi

Dari pemaparan di atas, soto memang kuliner legendaris yang mengandung sejarah dan percampuran budaya. Pun demikian dengan Soto Betawi yang lagi-lagi saya belum pernah mencicipinya. Hehe... 

Soto Betawi (sumber: bisa masak(dot) com) 
Dari namanya saja kita akan paham bahwa Soto Betawi adalah salah satu kuliner khas Jakarta yang mulai dikenal sejak tahun 1977-1978. Penjual soto di THR Lokasari adalah yang kali pertama mempopulerkan nama Soto Betawi. Bahan baku utamanya meliputi daging sapi dan jeroannya (paru, usus, babat). Kuah Soto Betawi ini berbeda karena menggunakan santan sehingga teksturnya lebih kental. Rasanya pun lebih gurih karena rempah-rempah yang digunakan lebih lengkap. Biasanya soto ini disantap dengan emping melinjo, bukan kerupuk udang.

Wah, ini dia. Cocok! Saya termasuk emping melinjo lover, sih. 

Mencoba Memasak Soto Betawi

Didorong rasa penasaran, akhirnya saya berkolaborasi dengan ibunda untuk memasak Soto Betawi. Setelah saya tunjukkan resepnya pada beliau, ibu saya berkata, "Oalah ini mirip Soto Santan di Blitar. Tapi bedanya kalau Soto Santan tetap pakai daging ayam."

Ya, keluarga besar kami di Blitar memang sering menghidangkan Soto yang disebut Soto Santan itu. Sedangkan Soto Betawi ala saya yang tidak memakai jeroan, ini dia resepnya:

Soto Betawi

Bahan:

400 gram daging sapi sandung lamur
500 ml santan kental
1 liter air
3 batang serai
3 ruas lengkuas, memarkan
3 cm kayu manis
3 lembar daun salam
5 lembar daun jeruk
3 buah cengkeh
1 sdm garam
1 sdt gula pasir
1/2 sdt merica
Minyak goreng untuk menumis secukupnya


Bumbu Halus:

5 siung bawang merah
7 siung bawang putih
3 cm jahe
5 butir kemiri, sangrai
1/2 sdt jintan
1 sdt ketumbar, sangrai
1/4 sdt pala bubuk
1/2 sdt kunyit bubuk (saya tambah sendiri) 

Bahan Pelengkap:

1 buah tomat, iris kasar 
1 barang daun bawang, iris tipis
Bawang goreng secukupnya
Emping melinjo goreng

Cara Pembuatan:

▪Rebus daging sapi dengan 1 liter air hingga empuk. Sisihkan.


▪Panaskan minyak goreng, tumis bumbu halus hingga harum dan matang. Saya menambahkan kunyit bubuk karena terbiasa dengan soto berwarna kuning. Angkat dan masukkan ke dalam rebusan daging lalu aduk rata.



▪Masukkan serai, lengkuas, kayu manis, daun salam, daun jeruk, dan cengkeh. Tambahkan garam, gula, dan merica. Aduk hingga rata.

▪Tuangkan santan kental. Aduk-aduk agar santan tidak pecah. Masak hingga kuah mendidih dan matang. 

Sajikan Soto Betawi hangat-hangat bersama emping melinjo, irisan tomat, daun bawang, dan taburi bawang goreng. 

Soto Betawi edisi praktis tanpa garnis :P

Rasanya memang lezat dan pastinya bernutrisi. Pas buat anak-anak saya yang sedang dalam masa pertumbuhan yang memerlukan asupan protein. Orang tuanya juga, sih. Nah, daging sapi ini adalah salah satu sumber protein hewani terbaik, pun mengandung zat besi. Ada juga vitamin A, B, dan D yang baik untuk kesehatan mata, gigi, dan tulang serta mendukung kerja sistem saraf pusat. Sip. 

Menurut saya sih sebaiknya Soto Betawi ini dimasak dalam porsi kecil sehingga bisa habis dalam sekali hidang untuk seluruh anggota keluarga. Santannya itu, lho. Kurang bagus buat kesehatan jika dihangatkan berulang kali.

Mungkin lain kali saya akan mencoba memasak Soto Betawi dengan campuran jeroan. Mungkin sesekali saja karena memang saya tidak terlalu suka jeroan sapi. Bagaimana dengan teman-teman? Sudah pernah memasak atau makan Soto Betawi versi asli? 


Salam,
Tatiek Purwanti



#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day4
May 12, 2019

4 Kunci Menjadi Narablog Berdaya: Semua Karena Cinta

by , in


Berjanji kumenjaga sampai mati
Walau berat jalannya aku bahagia
Ku di sini berdiri karena cinta
Bertahan untuk bahagia
Hanya untuk cinta...
(Syahrini, Semua Karena Cinta)

Penggalan lirik lagu di atas adalah salah satu yang saya sukai. Di dalamnya ada gambaran tentang kesabaran dan kegigihan yang menghasilkan kebahagiaan. Ada cinta yang menjadi bahan bakarnya. Hmm... tiba-tiba saya berpikir bahwa penggalan lirik lagu tersebut nyambung jika dihubungkan dengan perjalanan saya sebagai seorang narablog.

Saya mulai intens mengenal blog sejak tahun 2009. Sekadar baca-baca, belum tergerak untuk memiliki blog sendiri walaupun sebenarnya saya suka menulis sejak remaja. Salah satu blog yang sering saya kunjungi saat itu adalah blog milik Mbak Aulia Halimatussadiah alias Ollie a.k.a Salsabeela. Itu tuh, Co-founder-nya NulisBuku(dot)com dan Storial(dot)co.

Barulah di tahun berikutnya, saya mulai membuat blog sendiri dengan platform blogspot gratisan. Semua gara-gara suami; beliau yang mendorong saya plus memfasilitasi dengan laptop baru berikut modemnya. Yeay! Alhamdulillah.

Memulai Tapi Masih Santai

Saya mulai menulis ini-itu, tidak terjadwal, dan kadang-kadang suka copas tulisan orang lain. Saya sebutkan sumbernya, sih. Hehe... Maklum, saat itu saya belum begitu tahu aturan main ngeblog. Santai saja. Toh yang membaca blog saya hanya suami dan teman-teman dekat, pikir saya saat itu.

Alasan sibuknya pekerjaan dan mengasuh anak menjadikan saya masih angin-anginan ngeblog. Apalagi ketika negara api, ehh... jejaring sosial seperti facebook mulai menyerang. Saya lebih merasa nyaman enak chit-chat di sana. Ditambah lagi saya mulai mengenal kompasiana pada tahun 2014. Semakin banyak deh sarang laba-laba di blog saya.

Saya resign dari pekerjaan pada pertengahan tahun 2014 karena ingin menjalankan program hamil anak yang ke-2. Sambil menunggu hadirnya si kecil, saya bergabung dengan sebuah komunitas pecinta Alquran. Lantas saya cukup sibuk secara online dan offline di dalam komunitas itu.


Buku antologi ke-1 dan ke-2 saya

Buku antologi pertama dan kedua saya yang bergenre Islami lahir karena bergabung di komunitas pecinta Alquran tersebut. Beberapa orang anggotanya memang suka menulis seperti saya. Momen berharga itu membuat saya berpikir tentang pentingnya bergabung dengan komunitas penulis. Sebelumnya, komunitas saya 'hanya' yang berhubungan dengan dunia keislaman saja.

Salah seorang teman di dalam komunitas Alquran itu ternyata ada yang lumayan rajin menulis blog berupa resep-resep masakan yang telah diuji cobanya. Dia adalah seorang IRT yang cukup riweuh dengan tiga orang anaknya. Hebat, pikir saya. Apa kabar saya yang baru punya 1 orang anak dan barusan resign pula?

Tiba-tiba saja saya terpikir untuk ngeblog lagi. Saya memutuskan untuk mengubur blog yang lama dan membuat blog baru dengan platfrom wordpress gratisan. Penasaran dengan wordpress yang kata orang agak njelimet. Ternyata asyik juga. Saya mulai ngeblog lagi dengan menulis hal-hal sederhana namun penuh makna di sekitar saya.

Walau Berat Jalannya, Aku Bahagia...

Ngeblog lagi adalah keputusan yang tepat. Alhamdulillah, promil saya berhasil. Tapi saya harus bedrest di awal kehamilan. Saat tidak bisa ke mana-mana seperti itu, saya memilih untuk banyak membaca, diselingi menuliskan resensinya di blog. Ya, ngidam saya saat itu bukan yang aneh-aneh, sih. Cuma ngidam melahap buku.

Terhibur. Itulah yang saya rasakan dengan ngeblog kembali. Walaupun ternyata jalannya cukup terjal. Saya mengalami baby blues saat si kecil yang kedua lahir. Mood sering naik turun, blog pun tidak terpegang lagi. Hanya ada dua postingan pada tahun 2016 itu. Akankah saya mandeg untuk selamanya?

Alhamdulillah, di awal tahun 2017 saya sedikit tersadar pasca ibunda saya pergi ke Pantai Batu Bengkung bersama teman-temannya. Saya yang hanya di rumah menemani si kecil dan kakaknya tiba-tiba terdorong untuk menulis sisi lain dari kisah perjalanan tersebut. Ya, saya menemukan hikmahnya.


Saya pun ngeblog lagi. Pelan-pelan saja. Saya juga mulai mencari-cari komunitas penulis dan komunitas narablog. Alhamdulillah, saya mulai tergerak untuk bergabung dengan dua komunitas itu pada pertengahan tahun 2017. Karenanya, buku-buku antologi saya mulai lahir lagi satu per satu. Disusul dengan lahirnya novel saya yang pertama. 'Hanya' terbit indie tapi saya sangat mensyukurinya.

Begitu juga dengan aktivitas blogging. Setelah berkomunitas, rasanya ngeblog jadi lebih asyik. Mulailah saya migrasi blog ke Top Level Domain (TLD). Saya mengenal narablog lain dan mulai berani mengikuti lomba blog. Baru 5 kali menang, tapi itu cukup untuk memotivasi saya agar terus bergerak stabil. Sebenarnya tidak mudah. Selain harus menomorsatukan si batita dan kakaknya, saat ini saya dan suami sedang menjadi pejuang LDR.

Menyerah lagi? Hohoho... Insya Allah, tidak!

Berkenalan dengan Indonesian Social Blogpreneur (ISB)

Slowly but sure, saya mencoba menambah wawasan tentang dunia blogging secara online dan offline. Khususnya yang offline, itu membuat saya lebih mengenal teman-teman narablog di kota saya, Malang. Event yang diselenggarakan memang tidak sebanyak yang di Jakarta, tapi saya cukup bahagia.

Terakhir, saya dan teman-teman narablog dari Malang mengikuti Workshop bersama komunitas Indonesian Social Blogpreneur (ISB) pada tanggal 5 Mei 2019 yang lalu. Bertempat di Gerai Indosat Ooredoo, Jalan Jaksa Agung Suprapto No. 47, workshop itu mengambil tema "Creates Opportunities from Blogging". Alhamdulillah, saya bisa menghadirinya karena suami saya bersedia menjaga si kecil.



Saya tiba di lantai dua gedung Indosat Ooredoo Malang bersama seorang teman narablog ketika agendanya belum dimulai. Rupanya ada juga rekan narablog dari Sidoarjo dan Surabaya yang ikut bergabung; Mbak Nanik dan Mbak Septi. Wah, akhirnya bisa bertemu muka dengan mereka.

Beberapa saat kemudian, venue mulai penuh sehingga agenda pun dimulai. Mbak Ani Berta, founder ISB, memberi kata sambutan dengan menjelaskan tentang profil komunitas narablog yang baru pertama kali menyelenggarakan agenda di Malang itu. Wah, seperti mimpi. Selama ini saya hanya melihat Mbak Ani Berta melalui gawai yang saya pegang.

Srikandi Blogger Indonesia (IG @ani.berta)

Mbak Ani Berta menjelaskan tentang ISB yang terbentuk pada tanggal 1 Mei 2016 itu. Wah, selamat ulang tahun ke-3 buat ISB, ya.

ISB ini aktivitasnya fokus pada dunia blogging dan menggali sisi entrepreneurship dari narablog. Itu diwujudkan dengan menyelenggarakan workshop/seminar, berbagi tips seperti #ISBNgopi, sharing session, One Day One Post (ODOP), dll. Wah, seru!


Agenda #ISBNgopi di twitter

Ya, setiap narablog punya keunikan sendiri-sendiri yang harus digali. Keunikannya itu seharusnya menjadi daya jual. Misalnya dalam menulis review, narablog jangan mengulas sekadarnya saja tetapi tunjukkan another point of view yang sesuai dengan dirinya.

Saya jadi teringat seorang rekan narablog yang fokus menulis tema parenting. Saat mengulas sesuatu, dia memakai sudut pandang seorang parenting blogger. Unik, sesuai dengan dirinya sendiri.

4 Kunci Menjadi Narablog Berdaya

Setelah perkenalan singkat tentang ISB, satu per satu pemateri workshop pun membagi ilmu dan pengalaman mereka. Ya, Mbak Ani Berta tidak datang sendiri ke Malang. Beliau ditemani oleh 3 narasumber lain yaitu Dama Vara, Riri Restiani, dan Liswanti Pertiwi.

Dalam bahasa saya, ilmu dan pengalaman yang mereka sampaikan itu adalah kunci-kunci untuk menjadi narablog berdaya; berkekuatan dan berkemampuan. Yuk, simak!

1. Narablog Merangkap Karyawan dan Pebisnis, Harus Bisa Eksis!

Sesi pertama disampaikan oleh Mbak Riri Restiani, seorang narablog muda yang mulai ngeblog sejak SMA. Saat itu beliau lebih banyak curhat di blog-nya. Ya, ngeblog itu baginya begitu menyenangkan.

Kini, selain menjadi narablog, Mbak Riri berprofesi sebagai seorang karyawan sekaligus pebisnis. Wah, ini namanya 3 in 1 jalan. Padahal pebisnis dan karyawan itu punya banyak perbedaan, tetapi Mbak Riri bisa menikmati berada pada dua posisi tersebut.


Tidak lain dan tidak bukan, aktivitas ngeblog-nya lah yang menjadi jembatan. Dengan menjadi narablog, Mbak Riri bisa lebih percaya diri. Nah, saya setuju, nih. Bisa menulis dengan style tersendiri di blog membuat kita nyaman dan percaya bahwa kita punya kemampuan menulis yang baik.

Setelah percaya diri didapat, blog pun bisa mendatangkan keuntungan berlipat. Melalui blog-nya pula, Mbak Riri bisa menjalin lebih banyak relasi, membuka peluang bisnis, sekaligus mengembangkan bisnisnya dengan mempromosikan produk yang dijualnya di sana.

Ternyata, Mbak Riri ini menggeluti aksesoris fashion dari kain flanel. Beliau juga sering menerima pesanan boneka wisuda. Kreatifitasnya yang berbuah bisnis itu tidak terlepas dari hobi/passion-nya dalam dunia craft.

So, menurut Mbak Riri, untuk memulai bisnis itu harus memperhatikan:

▪️ Memilih usaha yang tepat dan mengecek sesuai survei tentang tingkat kebutuhan orang/pasar/trend.
▪️Membuka usaha berdasarkan hobi atau passion.


Hmm... Saya pernah mempraktikkan hal-hal di atas secara sederhana. Sesuai dengan passion, saya tertarik untuk menulis fiksi sehingga membuahkan sebuah novel pada tahun lalu. Pun saya mempromosikan novel itu di blog dan akun media sosial saya; facebook, instagram, dan twitter.

Pas dengan apa yang disampaikan oleh Mbak Riri selanjutnya tentang memanfaatkan blog dan media sosial untuk promosi bisnis kita. Pesan utamanya: pisahkan akun sosial media pribadi dengan usaha. 

Wah, hal di atas belum saya lakukan. Saya dulu masih mempromosikan novel di akun facebook pribadi, sih. Secara umum, akun facebook pribadi memang 'lebih akrab' dengan pengguna yang lain. Padahal saya sendiri sering risih jika ada akun facebook pribadi teman yang isinya dagangan mereka melulu. Fiuhh...

Nah, menurut Mbak Riri, ada 4 hal yang harus diperhatikan saat kita berusaha mempromosikan bisnis/mengembangkan bisnis kita melalui blog dan akun media sosial, yaitu:

▪️Promosi di Blog
Buat konten review produk sendiri dan promosikan pada follower untuk membeli. Arahkan dimana bisa membelinya.

▪️Promosi di Facebook
Gunakan akun Facebook Fanpage sebagai media promo, bukan pakai akun pribadi atau grup facebook. Fanpage Facebook bisa menerima lebih banyak fans dibandingkan akun pribadi yang dibatasi hanya 5000 pertemanan.

▪️Promosi di Twitter
Update sapaan pada follower, diselingi update promo dan foto produk.

▪️Promosi di Instagram
Update promo dan produk, juga perbaiki tampilan feed agar menarik. Optimasi tampilan instagram kita sesuai dengan brand dagangan yang kita miliki.

Selain itu, Mbak Riri juga berbagi pengalaman tentang cara meningkatkan penjualan seperti di bawah ini:


Hihi, saya jadi tertohok pada poin ke-2. Saya belum melakukan giveaway novel sebagai perwujudan mengatrol penjualan. Memberikannya secara gratis pernah saya lakukan sih untuk saudara dan kerabat, bukan untuk tujuan komersil. Hmm, memang saya masih perlu banyak belajar dan harus terus mengevaluasi diri, nih.

Lanjuuut...

Mbak Riri dengan murah hati juga berbagi tentang tips meningkatkan kreatifitas dalam berbisnis sebagai berikut:

1. Memiliki motivasi tinggi, bekerja cerdas, kreatif, dan inovatif
2. Tidak takut mencoba hal yang baru
3. Belajar dari pengalaman keberhasilan dan kegagalan orang lain
4. Berada di lingkungan orang baik yang memberi motivasi positif
5. Menjual hobi dan keahlian yang kita miliki
6. Cekatan untuk memulai dan menjalani sebuah peluang usaha
7. Mau menerima kritikan dan masukan dari orang lain
8. Mau bersilaturahmi, bukan hanya lewat kopdar tapi silaturahmi via sosmed juga bisa dilakukan 
9. Jangan pasrah dengan keadaan, berani mengambil risiko dan siap untuk menerima kegagalan
10. Konsisten, ulet, dan tekun

Mantap betul jika kita bisa melakukan kesepuluh tips di atas, ya. Pantas saja Mbak Riri bisa menjalani 3 profesi seperti di atas sekaligus. Sip.

Nah, teman-teman yang ingin berkenalan lebih jauh, bisa mem-follow blog dan akun-akun media sosial Mbak Riri seperti di bawah ini:




2. Blog dan Media Sosial Kita Harus Sedap Dipandang Mata

Pemateri kedua adalah Mbak Dama Vara, seorang Digital Entrepreneur. Sosoknya mungil tapi cerdas. Terbukti beliau pernah kuliah di dua tempat sekaligus yaitu di Universitas Sampoerna dan Universitas Binus. Ya, cara bicaranya pun enak menurut saya.

Pemilik blog www.damavara(dot)com ini pernah mengikuti Workshop bersama Mozilla di Texas, Amerika Serikat. Salah satu yang beliau pelajari di sana adalah tentang persona. Ada yang belum tahu apa itu?


Persona maksudnya adalah sasaran/orang yang akan menjadi customer kita. Jika dihubungkan dengan dunia blogging berarti adalah calon pembaca blog kita. Pastikan kita tahu siapa persona primer dan sekunder; pembaca utama dan kedua postingan kita. Itu akan mempermudah menggolongkan jenis tulisan kita.

Mbak Dama juga memberi tips tentang menampilkan header blog secara cantik dengan memakai aplikasi Canva. Ini mah memang saya pakai sehari-hari. Tapi menurut Mbak Dama, sebaiknya jenis "Twitter Post" yang dipilih karena tampilannya bisa pas saat dibagikan ke media sosial.


Jangan lupa untuk memilih font yang mudah dibaca oleh pembaca blog kita. Juga penerapan filter agar tulisan pada header blog dan background-nya tidak bertabrakan. Jika font-nya gelap, background harus terang. Begitu juga sebaliknya. Bukankah kesan pertama itu sangat penting? 

Selain Canva, Mbak Dama memberi tips tentang pengaturan feed di instagram agar terlihat cantik memakai aplikasi UNUM. Singkatnya, diatur dulu baru diposting. Nah, kalau ini saya belum pernah memakainya. Selama ini saya mengatur tampilan di instagram secara manual. Boleh juga nih dicoba.

Maka Mbak Dama pun berkeliling untuk mengecek pemahaman peserta workshop tentang aplikasi Canva dan UNUM. Suasana jadi lebih rileks dan akrab. Satu lagi, beliau juga merekomendasikan Pinterest jika kita ingin memiliki banyak varian desain gambar untuk blog kita. Ini cukup familiar juga, bukan?


So, menjadi narablog sebaiknya juga mempunyai cita rasa seni yang baik. Insya Allah, siap memperbaiki tampilan blog dan sosial media saya seperti anjuran Mbak Dama yang punya akun instagram @justdamavara ini.

3. Be Freelancer, Be Better!

Setelah sesi istirahat, salat, dan makan, agenda pun berlanjut dengan material dari Mbak Ani Berta tentang tips menjadi seorang freelancer (pekerja lepas) di era digital. Ini adalah materi advance, kata beliau. Karena menurut Mbak Ani tampilan blog dan sosial media narablog dari Malang sudah cukup bagus. Asyiiik... Maka beliau merasa perlu menyampaikan materi lanjutan, bukan lagi tentang dasar-dasar blogging.

Berbicara tentang dunia freelancer, berarti membicarakan kiprah sukses Mbak Ani sendiri. Founder komunitas ISB sekaligus seorang famous blogger ini memutuskan untuk menjadi seorang freelancer pasca keputusan resign-nya dari kerja kantoran sebagai seorang akuntan. Hasilnya? Silakan disimak di bawah ini: 


Jadi, freelancer itu bukan pekerja suka-suka yang bisa seenaknya bekerja dan menganggur kapan saja. Profesi ini tetap punya pengertian tertentu yaitu seseorang yang melakukan pekerjaan tidak terikat penuh waktu dalam satu perusahaan atau bekerja paruh waktu untuk beberapa pekerjaan dengan waktu yang bisa diatur sendiri. Kaitannya dengan dunia blogging, mereka yang memilih menjadi full time blogger, buzzer, influencer, atau content writer termasuk dalam kategori freelancer ini.

A. Persiapan Menjadi Freelancer

Ketika memutuskan untuk resign dari pekerjaannya dan memilih menjadi freelancer, Mbak Ani mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:

a. Mempunyai Tabungan yang Cukup

Cadangan dana cukup (sesuai dengan kebutuhan kita) mutlak diperlukan karena pendapatan di dunia freelancer tidak "sepasti" di dunia kerja formal. Tujuan kita nantinya ingin mendapat hasil yang lebih besar, dong. Tapi untuk pemula, hasil yang besar itu butuh waktu. Makanya tabungan menjadi sangat perlu.

b. Menemukan Potensi Diri

Seperti yang saya sebutkan di atas, setiap narablog itu punya keunikan tersendiri yang seharusnya dia temukan dan dia kembangkan. Jangan menjadi orang lain karena pasti ujung-ujungnya malah menyiksa diri. Just be ourselves!

Alhamdulillah, hingga hari ini saya tidak tergoda untuk memaksakan diri menjadi beauty blogger. Lha karena saya merasa tidak punya passion di sana. Saya lebih nyaman menjadi lifestyle blogger yang juga menyukai dunia fiksi. Alhasil, ngeblog pun menjadi senang rasanya.

c. Mengasah Kemampuan, Mengikuti Workshop Online/Offline, Memperbanyak Portofolio

Menjadi narablog berarti siap menjadi pribadi pembelajar, baik secara otodidak atau melalui workshop/seminar yang sesuai dengan minat kita. Bisa dimulai dengan menulis hal-hal kecil, menerima job dengan fee kecil, bahkan tidak dibayar. Ingat, kita sedang dalam rangka menempa diri.

Ah, saya jadi ingat saat seorang rekan narablog meminta tolong untuk menulis ulasan sebuah produk dengan imbalan produknya itu sendiri. Why not? Saya tetap mau menerimanya karena jadi ada bahan tulisan.

Pun saya beberapa kali mengikuti challenge blogging dengan ngeblog setiap hari yang berhadiah e-certificate. Saya tetap bahagia melakukannya karena sertifikatnya bisa untuk menambah portfolio dan bisa saya pajang di media sosial. Ya, semua karena cinta. ❤️

d. Menjadi Volunteer

Nah, Mbak Ani mengisahkan dirinya yang pernah menjadi volunteer dengan menulis untuk kepentingan sosial dengan fee yang tidak terlalu besar. Semua dilakukan sebagai amal jariyah tapi skill menulis tetap bisa terasah. Misalnya, saat beliau menjadi volunteer dengan menjadi content writer pada web-nya Komisi Perlindungan Perempuan dan Anak Indonesia (KPPAI). 

Wah, ini betul-betul menginspirasi saya. Pantesan rezeki beliau sebagai freelancer yang single mom amat melimpah. Ternyata ada semangat berbagi melalui tulisan yang menjadi pondasi awal Mbak Ani Berta. Salut.

e. Memperluas Networking

Rupanya, Mbak Ani Berta termasuk sosok yang mudah berteman. Saat berada di suatu tempat, beliau memilih untuk menyapa orang-orang di sekitarnya. Saat mengantre di sebuah bank, misalnya. Beliau dengan mudah bisa memperoleh kenalan baru. Sungguh patut ditiru.

Mendapatkan teman-teman baru merupakan salah satu jalan untuk memperluas networking. Jika jaringan pertemanan kita luas, pintu rezeki kita bisa terbuka dari jalan mana saja. Mbak Ani pernah berkali-kali mendapatkan pekerjaan menulis dari orang-orang yang pernah beliau sapa dan ajak kenalan. 

So, mulai sekarang kurangi fokus kita pada ponsel jika berada di tempat umum, yuk. Mulai sapa kanan kiri untuk menambah teman. Siapa tahu ada peluang berharga di sana. ;)


B. Rencana Kerja Seorang Freelancer

Nah, segala persiapan menjadi freelancer seperti di atas sudah dilakukan. Mbak Ani Berta lalu menekankan agar seorang freelancer itu pro aktif untuk menjemput peluang pekerjaan. Kalau pasif dan kita jadi banyak menganggurnya, itu bukan prinsip seorang freelancer namanya. 

Maka, info job dari rekan-rekan narablog saja tidak cukup. Pertama, coba peluang lain dengan mengajukan proposal penawaran pada agensi atau brand yang biasa bekerja sama dengan para freelancer. Duh, jadi tertohok nih saya karena selama ini belum pernah mengajukan proposal seperti yang dimaksud.

Kedua, Mbak Ani Berta menyusun rencana kerja jangka pendek dan jangka panjang seperti layaknya pebisnis. Beliau menerapkan disiplin untuk diri sendiri berupa waktu bekerja selama 8 jam dalam sehari. Duh, apa kabar saya yang saat menulis kadang diselingi dengan menengok dulu hiruk pikuknya dunia maya. Hiks...

Ketiga, Mbak Ani berpesan agar kami tidak terlalu ngoyo mengejar fee tapi di saat yang sama masih minim pengalaman. Asah terus jam terbangnya, maka nanti fee akan mengikuti sesuai dengan kualitas diri.

C. Prinsip Seorang Freelancer

Ada beberapa prinsip yang harus dipegang teguh seorang freelancer agar sukses, yaitu:

▪️Jeli terhadap peluang
▪️Kerja dua kali lebih keras
▪️Pandai beradaptasi
▪️Fleksibilitas
▪️Menjadi bos dan karyawan untuk diri sendiri
▪️Perbanyak kreatifitas dan inovasi
▪️Kuat fisik dan mental
▪️Proaktif

D. Mengatur Keuangan Freelancer

Nah, saat pundi-pundi rupiah mulai mengalir ke kantong kita, jangan lupa untuk mengatur strategi, seperti:

▪️Buat rekening bank lebih dari satu. Rekening yang pertama untuk menampung penghasilan, sedangkan yang kedua untuk menyimpan dana yang akan kita pakai sehari-hari. 
▪️Buat sistim gaji untuk diri sendiri. 
▪️Siapkan dana darurat.
▪️Membayar kebutuhan secara sekaligus.
▪️Jangan lupa berinvestasi

E. Sesi Tanya Jawab

Mbak Ani Berta menyampaikan materi dengan diselingi dialog interaktif sehingga kami terhindar dari rasa kantuk yang terkutuk, hihi. Ada pemberian doorprize pula untuk peserta yang bisa menjawab pertanyaan dan peserta yang aktif bertanya. Seru jadinya.

Ada sebuah pertanyaan tentang peluang seorang narablog di masa depan. Akankah blog bisa bertahan di tengah gempuran konten-konten YouTube yang sepertinya lebih banyak diminati oleh para generasi milenial, generasi Z, bahkan generasi Alfa?

Mbak Ani Berta menjawab dengan optimis bahwa dunia blogging akan tetap cerah. Alhamdulillah. Buktinya, saat dulu blog diramalkan akan redup karena hadirnya media sosial, kini eksistensi blog semakin kuat. Bahkan Indonesia termasuk negara dengan jumlah narablog paling banyak, lho.

Di negara lain, orang yang memiliki blog itu biasanya adalah kalangan politikus, artis, dan pebisnis. So, mereka yang memiliki blog itu dianggap bukan orang sembarangan. Maka jika teman-teman bukan termasuk ketiganya tapi aktif sebagai narablog, berbahagialah. 🙂


Ya, aktivitas menulis yang merupakan inti dari blogging akan tetap ada dan diperlukan sepanjang masa. Mbak Ani bercerita bahwa beliau pernah mengisi pelatihan menulis untuk para karyawan bank. Begitu pentingnya kemampuan menulis itu. Pun kemampuan menulis esai juga menjadi syarat promosi untuk pekerjaan dan jabatan tertentu.

So, tetaplah menulis. Tetaplah menjadi narablog dengan bangga. Ia tidak akan kalah dengan dunia visual yang tampak gemerlapan itu.

Ada juga pertanyaan tentang tips untuk memenangkan lomba. Menurut Mbak Ani, kita harus memperhatikan betul persyaratan lomba. Jangan sampai melanggar salah satu aturannya. Misalnya dengan memperpanjang tulisan di luar panjang yang telah ditentukan. Jangan, ya. 

Lalu, jangan sampai kita melewati batas waktu lomba karena pasti kita dianggap gugur. Lebih baik mengumpulkan di awal waktu. Daaan... Ini jlebb buat saya. Postingan saya kali ini sebenernya untuk keperluan lomba juga, tapi sudah melewati deadline beberapa jam yang lalu. Untuk pertama kalinya saya terlambat menyetorkan tugas dan itu sungguh tidak enak, hiks.

Tiga hari ini si kecil sakit dan waktu saya untuk menyentuh gawai jadi sangat terbatas. Apalagi laptop saya masih bermasalah, jadi saya mengerjakan postingan ini via ponsel. It's okay. Saya tetap harus bertanggung jawab menyelesaikan tulisan ini, dong.

(Sekali lagi) Walau berat jalannya, aku bahagia... Maaf curcol sedikit, hehe

Back to the topic...

Mbak Ani Berta punya pengalaman berharga mengikuti lomba dengan "menyeberang" dari passion-nya. Beliau mengikuti sebuah lomba untuk para beauty blogger yang notabene bukan "bidangnya." Sesekali tidak apa-apa tapi kita harus punya modal percaya diri yang tinggi. Selain itu, maksimalkan konten dan kualitas tulisan. Berani mencoba?

Sesi ketiga ini menjadi yang terlama namun tetap mengasyikkan. Materinya diulas dengan gamblang, pertanyaan-pertanyaan pun dijawab dengan tuntas. Mbak Ani Berta sungguh sosok penuh ilmu namun tetap humble.

4. Atur Keuangan dengan Penuh Kecermatan

Sesi terakhir atau sesi keempat tentang keuangan narablog diisi oleh Mbak Liswanti Pertiwi. Pemilik akun instagram @penaliswanti adalah seorang narablog yang memiliki bisnis Wedding Organizer, juga pengelola sosial media milik beberapa perusahaan. 

Seperti Mbak Ani Berta, saya sering sekali mendengar nama Mbak Lis. Pernah beberapa kali juga membaca blog-nya yang memang berisi konten berkualitas. 


Mbak Lis mengemukakan tentang banyaknya kesempatan bagi seorang narablog di zaman now untuk meraih peluang penghasilan. Mulai dari penghasilan dari Google Adsense, menulis sponsored post (SP) dan Job Review (JR), mendapatkan tawaran Content Placement (CP), menghadiri event/agenda offline, jasa backlink, sampai kepada jasa SEO (Search Engine Optimization). Pokoknya kesempatannya banyak, deh.

Mbak Lis lalu membagikan sebuah kertas kecil berwarna biru untuk para peserta workshop. Kertas itu harus diisi dengan keinginan yang ingin peserta wujudkan dalam tiga bulan melalui pendapatan dari ngeblog. Saya sih mengisi: ingin membeli laptop baru dan berinvestasi emas. Hehe, padahal selama ini jumlah yang saya dapatkan dalam tiga bulan belum pernah bisa untuk membeli laptop baru. Mimpi dulu ah kalau begitu.

Nah, setelah mendapatkan fee dari berbagai sumber seperti di atas, Mbak Lis menyarankan agar kita mencatatnya. Jangan sampai bercampur dengan "uang-uang lain" lalu kita jadi lupa fee tersebut kita pergunakan untuk apa karena tidak ada target.

Secara rinci, 5 cara untuk mengatur keuangan narablog, yaitu:
1.Membuat catatan pekerjaan narablog dan penghasilan yang akan didapatkan. Biasanya, fee dari blogging tidak langsung dibayarkan saat itu. Maka alangkah baiknya dicatat dulu.
2. Membuat catatan pemasukan dan pengeluaran.
3. Menghitung penghasilan per bulan, termasuk penghasilan yang masih pending.
4. Membuat pos keuangan.
5. Mempunyai investasi dan tabungan.

Selain mencatat secara manual, kita bisa memanfaatkan kecanggihan aplikasi di google playstore. Unduh saja aplikasi catatan keuangan yang ada di sana. Mudah dan praktis, bukan?

Hampir sama dengan yang disampaikan oleh Mbak Ani, Mbak Lis menyarankan agar setiap narablog memiliki lebih dari satu rekening tabungan. Beliau sendiri memiliki tiga rekening yang dipergunakan untuk tabungan pribadi, tabungan keluarga, dan fee hasil ngeblog. Tujuannya agar penghasilan dari ngeblog-nya bisa terpisah sehingga terkelola dengan baik.

Wah, saya kira sesi ini membuat para peserta workshop bergairah untuk memperoleh penghasilan semaksimal mungkin. Lha kalau penghasilannya minim, mengatur keuangannya tinggal impian. Hehe... Padahal narablog sekelas Mbak Lis ternyata bisa berinvestasi tanah dari hasil fee ngeblog. Luar biasa!

Bismillah. Berharap kita bisa meraihnya, ya. Lantas, jika penghasilan sudah lancar, jangan lupa untuk mengelompokkannya ke dalam pos-pos keuangan. Untuk para narablog, contoh hitungannya seperti ini:


Setelah sesi keempat berakhir, agenda menarik itu harus diakhiri pula. Duh, begitu cepatnya waktu berlalu. Sungguh, ada banyak sekali yang masih harus saya pelajari. 

Terima kasih, ISB!

Sebelum saling berpamitan dan bersalaman, kami mendapatkan kenang-kenangan atau goodie bag. Dilanjutkan dengan berfoto bersama dengan mengambil tempat di tangga gedung seperti ini. 


Saya berharap suatu hari ISB mengadakan agenda di Malang lagi. Sambil menunggu itu terjadi, saya tadi sudah mendaftarkan diri sebagai anggota dengan mengisi google form. Menyimak fanspage ISB, ada beberapa agenda online yang bisa diikuti.

Alhamdulillah, tak terasa saya sudah menulis sepanjang ini. Sekali lagi, ini menjadi perjalanan menulis postingan yang tidak mudah. Insya Allah, saya akan terus belajar dan berbenah. Saya akan terus menulis, seperti pesan Mbak Ani Berta. Ya, semua karena cinta. ❤️



Salam,
Tatiek Purwanti