My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Schotel Gembili, Lengkap Penuh Gizi




Kemarin suami saya membeli gembili di pasar tradisional saat beliau iseng berjalan-jalan. Kangen, katanya. Gembili, si umbi yang di Inggris disebut dengan Lesser Yam/Chinese Yam, memang tidak setiap saat dijual di pasar tradisional. Tidak seperti ketela pohon dan ubi rambat yang selalu dijual setiap saat.

Tiba-tiba saja saya jadi teringat sebuah resep masakan yang lama saya simpan. Belum jadi dieksekusi terus, hehe. Nama resepnya Schotel Gembili. Ini adalah resep yang saya peroleh di sebuah rubrik majalah yang diasuh oleh Bapak Agus Sri Wardoyo. Beliau adalah seorang ahli gizi yang pernah meraih Dietetic Awards 2011.

Sumber: echomesteadgardening(dot)com

Resep hasil kreasi Pak Agus itu tentu saja padat gizi, sesuai dengan keahlian beliau. Unik, karena memakai Gembili sebagai bahan utamanya. Mengadaptasi dari resep Macaroni Schotel alias Makaroni Panggang. Sip. Meminimalisir gorengan, dong.

Agar tidak hilang, resepnya saya tuliskan saja di sini sebelum saya praktikkan nanti. Rencananya sih untuk santapan sahur karena praktis. Keluarga saya terbiasa makan sahur dengan menu ringkas, sih. Ini dia resepnya:


Schotel Gembili


Bahan:

500 gram Gembili, rebus dan potong dadu
1/2 kaleng kornet sapi
250 gram daging ayam, potong dadu
4 sdm kacang polong, rebus
1 buah wortel, potong dadu dan rebus
1 buah bawang bombay cincang halus
1 bungkus mentega/margarine sachet
600 ml susu cair (plain)
200 gram keju parut
3 butir telur
garam, merica, pala secukupnya
oregano bubuk, jika tidak ada bisa diganti dengan seledri


Cara membuat:

1. Tunis bawang bombay hingga harum memakai mentega/margarin. Masukkan potongan daging ayam, aduk hingga berubah warna. Lalu masukkan wortel dan kacang polong, aduk rata. Sisihkan 

2. Campurkan tumisan ke dalam susu cair. Bubuhi dengan bumbu, lalu masukkan telur, kornet, dan keju. Aduk rata.

3. Terakhir, campur dengan gembili rebus. Aduk rata lagi. Tuangkan ke dalam pinggan tahan panas dan taburi dengan keju.

4. Panggang dalam oven dengan suhu sedang sehingga matang, padat, dan kecoklatan bagian atasnya. 
(Ssst... Biasanya sih saya tidak pakai oven. Cukup diamond fry pan alias teflon kekinian)

5. Angkat, sajikan hangat dengan says sambal.


Menurut Pak Agus, jika Schotel Gembili ini dipotong menjadi 10 bagian, maka per porsinya memiliki kandungan gizi:

Energi = 235,7 Kkal
Protein = 9,5 gr
Lemak = 11 gr
Karbo = 23,6 gr


Gembili yang dulunya adalah makanan ndeso, bisa juga disulap menjadi makanan kota yang 'berkelas'. Saya sendiri termasuk penyuka schotel, juga kudapan panggang/minim minyak goreng lain seperti pizza, martabak, dan omelet.

Duh, lagi berpuasa kok ngomongin makanan melulu. Hehe...

Sumber: bibitbunga(dot)com

Sepertinya gembili akan terus dikembangbiakkan, walaupun seakan tidak populer di pasaran. Gembili adalah umbi yang bisa dijadikan alternatif pengganti nasi bagi para penderita diabetes. Berbagai penelitian membuahkan juga membuahkan hasil bahwa gembili bisa diolah menjadi etanol.

Wah, sebaiknya suami saya menanam gembili sendiri di belakang rumah. Bukan untuk etanol, sih. Biar saya lebih mudah jika ingin mempraktikkan resep Schotel Gembili setiap saat.

Keep Calm and Eat Schotel Gembili. 
😋




Salam,
Tatiek Purwanti




No comments:

Post a Comment