My Lifestyle, My Journey, My Happiness

6 Catatan tentang Baju Lebaran


Baju baru alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada baju yang lama

Sepatu baru Alhamdulillah
Tuk dipakai di hari raya
Tak punya pun tak apa-apa
Masih ada sepatu yang lama

... 

Cuplikan syair lagu "Baju Baru" yang dinyanyikan Dea Ananda saat saya masih kecil itu masih tertanam dengan baik dalam ingatan saya. Lagunya pas dengan prinsip keluarga saya saat saya masih kecil dulu. Ya, setiap THR tiba, ibunda selalu membelikan anak-anaknya baju baru untuk lebaran. Namun, suatu ketika kami pernah berlebaran dengan memakai baju yang lama. Saat itu ada kesulitan keuangan yang menimpa ayah saya.

Awalnya, saya dan adik-adik bersedih. Maklum masih anak-anak. Walaupun sebelumnya sudah diwanti-wanti tentang baju lebaran yang bukan sebuah keharusan, saat kenyataan itu datang, ternyata ada kekecewaan juga. Hanya sebentar saja, sih. Setelahnya, kami tetap bergembira seperti biasa saat lebaran tiba. 

Kini saat saya sudah menjadi seorang ibu, membeli baju lebaran merupakan salah satu aktivitas yang saya niatkan untuk menyenangkan anak-anak dan suami. Ya, suami saya percaya pada saya untuk urusan membeli baju lebaran yang pas untuknya. Ini salah satu yang saya syukuri karena tidak perlu berdebat ini-itu. 

Nah, inilah catatan saya tentang membeli baju lebaran untuk keluarga:

1. Meniatkan Sebagai Hadiah

Ya, hadiah sebenarnya tidak harus berupa benda. Pujian sebagai apresiasi atau mengajak anak pergi ke tempat yang disukai juga bisa dijadikan bentuk hadiah.


Baju baru yang dipakai saat lebaran adalah bentuk hadiah saya karena anak tuntas berpuasa. Saya mempersilakan si anak memilih baju yang disukainya, dengan batas harga yang saya tentukan. 

2. Membeli Jauh-jauh Hari

Ini yang penting. Saya tidak ingin waktu berharga di akhir Ramadan 'habis di jalan' untuk berburu baju lebaran. Sungguh tidak efektif. Maka saya memilih untuk membeli baju lebaran jauh-jauh hari di bulan Rajab.

Selain tidak perlu berjejalan dengan para pemburu baju lainnya, pilihan bajunya masih banyak, bukan sisa-sisa stok. Saya membeli di toko langsung, sih. Belum pernah membeli di toko online untuk baju lebaran ini. 

4. Berusaha Serasi


Beberapa kali lebaran, saya berusaha menghadirkan keserasian baju di antara anggota keluarga kami. Biasanya sih saya menjahitkan baju, bukan membeli. Prinsipnya sama: saya menjahitkannya jauh-jauh hari. Penjahit langganan saya selalu full booking selama Ramadan, sih. 

5. Berbagi dengan Kerabat

Membelikan baju lebaran untuk para keponakan adalah salah satu kebiasaan saya. Kadang saya memilih baju yang senada sehingga anak saya dan para keponakan bisa tampil kompak. Mereka bergembira, saya pun bersyukur bisa berbagi. 

6. Pesan tentang Hakikat Lebaran

Hari raya Idulfitri
Bukan untuk berpesta-pesta
Yang penting maafnya lahir batinnya

Untuk apa berpesta-pesta
Kalau kalah puasanya
Malu kita kepada Allah Yang Esa


Masih juga pesan dari lagu "Baju Baru"-nya Dea Ananda. Saya menekankan bahwa baju lebaran yang dipakai bukan untuk gegayaan. Itu adalah salah satu bentuk bukti bahwa Allah sudah memberi rezeki yang nilainya cukup sehingga bisa dibelanjakan, salah satunya untuk urusan sandang. 

Hingga hari ini, Allah Swt selalu memampukan kami untuk membeli baju lebaran bagi seluruh anggota keluarga. Tapi prinsip yang saya tanamkan untuk anak-anak tetap sama: tidak harus baju baru dan harus terus bersyukur kepada Allah SWT atas karunia rezeki penuh berkah. 

Bagaimana dengan teman-teman semua? Adalah yang prinsipnya sama dengan saya? 


Salam, 
Tatiek Purwanti



Sumber gambar: dok. pribadi, pexels

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day24

No comments:

Post a Comment