My Lifestyle, My Journey, My Happiness

Ramadan di Usia Belia, Terkenang Sepanjang Masa


Bulan Ramadan itu selalu istimewa di hati saya. Kesan itu tertancap kuat sejak saya masih kecil dulu. Orang tua saya memberikan teladan yang cukup baik setiap kali Ramadan akan tiba, apalagi saat bulan istimewa itu hadir di tengah keluarga kecil kami. Lingkungan di sekitar rumah pun cukup mendukung karena kami tinggal di dekat sebuah musalla. Tempat itu selalu ramai jika Ramadan tiba.

Sebagian kenangan masa kecil saya tentang Ramadan telah saya tuangkan ke dalam sebuah buku antologi berisi kumpulan kisah inspiratif Ramadan. Buku antologi saya yang ke-11 itu terbit menjelang Ramadan tahun lalu. Berikut sebagian isinya yang menggambarkan keceriaan Ramadan masa kecil alasan saya:

Niat ingsun ngelakoni poso, tutug-o
Tutug-o sedino sakesuk
Anekani fardhune wulan Romadhon
Ikilah tahun kerono anut
Perintahe Gusti Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Saya mulai mengenal syair berirama di atas -yang oleh masyarakat sekitar saya disebut “pujian”- sejak saya masih kecil. Itu adalah niat berpuasa Ramadan dalam bahasa Jawa. Setiap kali bulan Rajab berakhir dan salat Magrib selesai didirikan di hari itu, “pujian” tersebut dibawakan dengan syahdu, bersahutan dari musala kampung ke musala yang lainnya. Ramadan telah tiba! 

Saya yang saat itu masih duduk di kelas dua sekolah dasar bersorak-sorai dengan gembira. Kata ayah dan ibu, Ramadan artinya belajar tidak makan dan minum. Siapa takut? Walaupun kadang saya berusaha menghirup sedikit air saat mencuci muka di siang hari. Segar! 


Malamnya, saya mengikuti salat tarawih beramai-ramai bersama teman-teman di musala kampung yang jauh lebih ramai dari biasanya. Kami tidak langsung pulang karena ada es buah gratis yang dihidangkan untuk jemaah musala setelahnya. Senangnya... Es adalah minuman mewah saat itu. Lalu kami melanjutkan ‘pesta’ dengan menyalakan kembang api dan petasan yang suaranya memekakkan telinga. Asyik! Begitulah, sebuah gambaran jatuh cinta pada Ramadan ala saya di usia belia. 

Ada anak bertanya pada bapaknya
Untuk apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
Tadarus, tarawih apalah gunanya
Lapar mengajakmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada ilahi


Lirik lagu religi yang dibawakan oleh grup Bimbo di atas mewakili pertanyaan di kepala saya saat saya mulai beranjak remaja. Ayah dan ibu pun menjelaskan hakikat Ramadan secara sederhana, sesuai dengan pemahaman mereka. Saya mengangguk-anggukan kepala dan meneruskan jatuh cinta saya pada Ramadan. 

Ya, saya cinta Ramadan. Buktinya, saya mampu berpuasa tanpa ‘bolong’ sejak duduk di kelas tiga sekolah dasar. Catatan tarawih saya lengkap, terisi penuh oleh tanda tangan imam dan khatib tarawih. Saya tidak pernah bolos setiap kali ada pondok pesantren kilat yang diadakan sekolah saya.

Cuplikan Kenangan Ramadan bersama Kakek dan Ayah

Ramadan untuk keluarga kami adalah sebuah kehangatan yang tak tergantikan. Kebersamaan antara seluruh anggota keluarga jadi terasa istimewa. Maka jika ada anggota keluarga besar yang tidak hadir, rasanya ada yang berkurang. Ya, Ramadan saat ini saya tak lagi bisa menemui kakek dan ayah saya yang sudah pergi menghadap Ilahi. Padahal kenangan kebersamaan dengan keduanya semasa kecil begitu mengesankan.

Ceritanya, selain melaksanakan salat tarawih di musalla kampung, kakek dan ayah juga bergantian salat tarawih di sebuah masjid milik yayasan Muhammadiyah. Keduanya memang anggota Muhammadiyah yang lumayan aktif saat itu. Nah, masjid itu letaknya jauh di kampung sebelah utara. Untuk pergi ke sana, biasanya keduanya memakai sepeda. Kakek memakai sepeda untanya, sedangkan ayah menaiki sepeda motornya.

Saya yang sejak kecil diajak ke masjid itu pun sering ikut ke sana saat salat tarawih. Padahal durasi salat tarawihnya lebih lama dari musalla kampung, tapi saya justru senang. Kalau kata kakek dan ayah, menghadiri salat tarawih di sana lebih tenang rasanya. Tidak terburu-buru. Saya diajari rajin berinfaq di kotak amal masjid juga oleh ayah saya. Kalau kata saya sih: masjidnya bagus, bersih, dan wangi. Apalagi lampu gantungnya, wow! Belum pernah saya melihat lampu seindah itu. Ndeso kali, ya. Hehe... 


Saat tiba di masjid itu, tentu saja saya bergabung dengan jamaah perempuan. Ibu saya dan adik yang masih kecil memang lebih memilih salat tarawih di musalla dekat rumah. Tapi saya tidak merasa kesepian karena beberapa orang teman sekolah saya yang tinggal di dekat situ juga rajin salat tarawih di masjid tersebut. Horee, kadang kami bermain-main sejenak di halaman masjid begitu salat tarawih dan witir selesai.

Nah, ayah saya memilih salat di musalla saat subuh tiba. Namun kakek saya lebih sering pergi ke masjid itu. Saya merengek ingin ikut bersama kakek. Alhasil, saya harus bersiap-siap lebih awal setelah makan sahur. 'Kan saya harus pergi ke rumah kakek dulu, lalu dibonceng beliau dengan sepeda yang jalannya pelan-pelan itu. Oh, sungguh tak terlupakan. 

Sepulang dari salat subuh, biasanya ayah memutar siaran radio yang berisi taushiyah KH. Zainuddin MZ, sang dai sejuta umat. Tentu saja stasiun televisi swasta belum semarak seperti sekarang. Justru itu membuat suasananya syahdu sekali. Kami sekeluarga menyimak isi ceramah Kyai Zainuddin dengan antusias. Yang sezaman dengan saya pasti tahu bahwa beliau adalah muballigh yang cara penyampaian dakwahnya menarik.


Sekarang, saya tidak bisa bersama-sama pergi ke masjid itu bersama kakek dan ayah. Tentu saja. Sungguh rindu... jika mengingat momen itu. Hiks. 

Maka kini saat saya menjadi orang tua, saya ingin menunjukkan pada anak saya tentang betapa berkesannya Ramadan bersama keluarga. Intinya tentu saja berpuasa dan meninggalkan segala yang membatalkannya. Tapi pernak-pernik seputar Ramadan sekecil apapun ingin saya buat istimewa. Ya, agar kelak anak-anak saya pun punya kenangan indah tentang Ramadan mereka.


Bagaimana dengan Ramadan pada masa kecil teman-teman?


Salam, 
Tatiek Purwanti


Sumber gambar: pixabay

#bpnchallenge2019 
#bpnramadhanchallenge 
#BPNetwork 
#bpnblogpostchallenge 
#bpn30dayblogpost 
#bpn30dayblogpostchallenge
#Day17

No comments:

Post a Comment